Chapter lalu :
"Apa maumu?" balas Sakura, berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.
"..."
"Hey, apa maumu?" bentak sakura tidak sabar.
"..."
"Kalau kau tidak menjawab, kumatikan saja." kata Sakura akhirnya.
"Aku tau-" akhirnya ada jawaban dari sebrang.
"Tau apa, heh?" potong sakura cepat.
"Aku tau siapa pembunuh Hyuuga Hiashi." jawab Sasuke.
5th Chapter
Mendengar apa yang baru dikatakan Sasuke hampir membuat Sakura membanting telepon ditangannya. Dia sadar bahwa jika ia melakukannya, maka tuduhan secara tidak langsung dari Sasuke akan terbukti. Sakura segera menghela nafasnya dalam-dalam.
"Apa maksudmu, Uchiha? Lagipula darimana kau dapat nomor rumahku, heh?" kata sakura dengan nada tenang.
"Kau sudah tau maksudku kan. Dan kau tidak perlu tau darimana aku tau." balas Sasuke.
"Kalau kau tau siapa pembunuhnya, kenapa meneleponku? Telepon saja polisi." ejek Sakura yang mulai tau rencana Sasuke.
"Hn?"
"Jangan menggunakan bahasa yang tidak ku mengerti."
"Hn,"
"Sudahlah aku malas berbicara dengan orang tuli sepertimu." tutup sakura pada akhir pembicaraan.
Kakashi yang sedari tadi memperhatikan Sakura akhirnya mengeluarkan suara,
"Apa mau Uchiha itu?"
"Dia berkata bahwa dia tau siapa pembunuh Hyuuga Hiashi." jawab Sakura masih jengkel.
"Aa,"
Pagi hari,
Konoha University,
"Sakura, aku dengar tentang paman Neji-senpai yang dibunuh." kata Ino saat Sakura memasuki kelas.
"Apa kau sudah bertemu dengannya pagi ini?" cerocos Ino tanpa henti.
"Ino!" kata Sakura, sukses membuat temannya yang cerewet itu diam seribu bahasa.
"Aku tidak ingin kau tanya apa-apa untuk hari ini." kata sakura.
"Em, baiklah." jawab Ino pelan.
Tiba-tiba seorang pemuda mendekati kedua gadis itu, kemudian menarik tangan Sakura dengan kasarnya.
"Haruno, ikut aku sekarang juga." ucap pria itu.
"Apa maumu, Uchiha?" bentak Sakura.
"Kau mau apa Sasuke?" tanya Ino heran.
"Ikut saja." Sasuke menarik lebih keras tangan Sakura dan membawanya keluar kelas.
Keduanya terlihat berjalan menuju kebelakang kampus. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Naruto dan Shikamaru.
"Hey, Teme. Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan?" teriakan Naruto tidak digubris oleh Sasuke. Dia tetap menarik Sakura dengan kasar.
"Naruto, sebaiknya kita beritahu Sasori dan Gaara." usul Shikamaru.
"Kau benar juga. Ayo!" kata Naruto setuju.
Mereka berdua lalu berusaha mencari dua bersaudara berambut merah tersebut. Mereka menemukan keduanya di kantin kampus. Naruto dan Shikamaru berjalan menhampiri keduanya.
"Ada apa, Naruto?" tanya Gaara heran melihat sepupunya yang ngos-ngosan.
"Ak-aku tadi melihat Sakura dibawa oleh Sasuke ke arah belakang kampus." jelas Naruto, lalu merebut minuman yang dibawa Gaara.
Setelah mendengar penuturan Naruto, kedua bersaudara itupun akhirnya berlari menuju ke belakang kampus.
Belakang kampus,
Sasuke memojokkan Sakura. Tubuh pemuda itu mengurung tubuh Sakura.
"Apa maumu, Uchiha?" bentak Sakura berusaha membebaskan diri.
"Apa hubunganmu dengan pembunuhan semalam?" tanya Sasuke tak kalah keras.
"..."
"Jawab!" bentak Sasuke menghantamkan kepalan tangan kearah tembok dibelakang sakura.
"Apayang harus kujawab, hah?" balas Sakura.
"Sudah ku bilang, jangan berbohong." bentak Sasuke lagi.
Ketika Sasuke hendak menampar Sakura, seseorang memegangi tangannya. Dia menoleh ke belakang, dan terjatuh oleh sebuah pukulan yang dilancarkan Gaara.
"Beraninya kau lakukan itu pada Nee-sanku." bentak Gaara mencengkeram kerah baju Sasuke yang kini dari sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar.
"Gaara, sudah." teriak sakura berusaha menahan amarah adik bungsunya itu.
"Tapi-"
"Hentikan!" potong Sakura mendorong Gaara menjauh dari Sasuke.
Gaara pun melepaskan kerah baju Sasuke dengan terpaksa. Naruto segera mendekati Sasuke dan membantunya berdiri.
"Aku akan membawanya ke UKS." kata Naruto diikuti oleh Shikamaru yang berjalan dibelakangnya.
"Gaara, sudah." kata Sakura, lalu memeluk Gaara.
"Kau tidak apa-apakan?" tanya Gaara semakin mempererat pelukannya.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melepas pelukannya dan mengacak-acak rambut merah darah Gaara.
"Sudahlah, ayo pulang." ajak Sasori.
Sesampainya di tempat parkir, Sakura melihat Ino berlari-lari sambil membawa tasnya.
"Huh, Sakura ini tasmu." katanya lelah.
"Terima kasih, Ino." balas Sakura.
Merak bertigapun meninggalkan area parkir kampus. Di tengah perjalanan, ponsel milik Sasori berbunyi. Di layarnya tertera nama Kaa-san.
"Ada apa, Kaa-san?" tanya Sasori yang dengan masih berkonsentrasi menyetir.
"Segera ke bandara." kata Tsunade.
"Memang ada apa lagi?" balas kembali bertanya.
"Sai pulang!" hanya dengan dua kata itu mampu membuat Sasori berputar arah dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Gaara heran.
"Satu kata. Sai." jawab Sasori membuat Gaara membelalakkan mata.
Konoha Airport,
"Hey, arah kedatangan disana." kata Gaara pada sasori yang berjalan ke arah yang salah.
"Sasori. Gaara." sebuah suara dingin berhasil menarik perhatian keduanya.
Sakura yang juga mendengarnya, berbalik arah. Di depannya kini berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi, berkulit pucat, berambut dan bermata hitam sehitam malam. Sebuah senyum palsu tersungging dibibirnya.
"Sai," kata Sakura tersenyum.
Si pemuda yang bernama Sai itupun berjalan mendekati Sakura dan langsung mencium bibir munggil melik gadis berambut pink itu dengan kasar. Entah kerasukan setan apa, namun kedua pria berambut merah itu hanya diam tanpa melakukan apapun.
Setelah beberapa lama, karena kebutuhan akan udara membuat keduanya saling melepaskan diri.
"I miss u so much, my love." ucap pemuda bernama Sai itu.
Sakura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pipinya merona karena perlakuan Sai barusan.
"Ayo pulang." Sai mengandeng tangan Sakura.
Perjalanan, dalam mobil,
Sai duduk di bangku belakang dengan Sakura yang kini dalam pelukannya. Kepalanya ia benamkan di rambut pink panjang milik Sakura. Perlahan tapi pasti,bibir pemuda itu turun keleher putih mulus milik gadis dalam pelukannya. Dicium dan dijilatnya leher sakura, sesekali digigitnya sehingga meninggalkan beberapa tanda merah yang mulai terlihat disana sini.
"Bisa kau hentikan hal itu sebentar saja?" pinta Sasori yang mulai risih dengan kegiatan Sai dibelakang.
"Memangnya kenapa?" tanya Sai balik.
"Kalian itu bersepupu," jelas Sasori yang tidak mau mengalah.
"Lalu?" balas Sai lagi.
"Huhf, aku malas bicara dengan orang aneh sepertimu itu." jawab Sasori malas.
Kediaman Senju,
"Sai. Bagaimana kabarmu?" tanya Tsunade ketika melihat keponakannya berdiri didepan wanita itu.
"Baik-baik saja, Ba-sama." jawab Sai dengan senyum palsunya.
"Kau sudah besar ya, Sai." suara Kakashi terdengar dari belakang Tsunade.
"Kau juga semakin tua, Nii-sama." kata Sai bercanda, namun nadanya sama sekali tidak seperti orang yang tegah melakukan lelucon.
"Ah, SAI." teriak Naruto dari arah pintu.
"Nice to see u again, Dickless." balas Sai datar.
"Apa kau bilang? Coba sekali lagi katakan." handik Naruto.
"Dickless." balas Sai tanpa merasa bersalah.
"Kau-"
"Sudah!" potong Tsunade, membuat semua yang ada terdiam seribu bahasa.
"Sai, biar kutunjukan kamarmu." kata Kakashi pada akhirnya.
Sai hanya menurut dan mengikuti Kakashi menaiki tanga dan menghilang dari pandangan orang-orang yang ada dibawah.
Malam harinya,
Diruang makan kediaman Senju, terlihat seluruh anggota keluarga itu termasuk Sai yang duduk disamping Sakura tengah meniknati hidangan yang tersaji diatas meja makan.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita datang tergopoh-gopoh menghampiri tempat duduk sang nyonya rumah, Tsunade. Pelayan itu mendekat dan membisikan sesuatu pada telinga Tsunade, yang diikuti oleh anggukan kepala tanda mengerti.
Setelah si pelayan berlalu, Tsunade memutuskan untuk segera menghabiskan makanan. Lalu pergi meninggalkan meja makan, yang diiringi tatapan heran pada setiap pasang mata yang ada disana.
"Memangnya ada apa?" tanya Sasori berbisik pada Kakashi yang ada disampingnya.
"Aku juga tidaka tau, Baka." kata Kakashi memandang Sasori dengan tatapan jengkel.
"Aku selesai." kata Gaara dan Sakura bersamaan.
"Aku juga sudah selesai." lanjut Sai dengan senyum palsunya(lagi). "Eh, Sakura, mau menemaniku jalan-jalan sekarang?" tanya Sai menghentikan langkah Sakura.
"Ehm, maaf, Sai. Hari ini aku malas untuk keluar." sahut Sakura dan memberi senyum semanis mungkin pada Sai.
"Baiklah." balas Sai sedikit kecewa.
"Gaara, ikut aku ke kamar." perintah Sakura pada Adik bungsunya.
Gaara hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Mereka berdua pun menghilang dibalik pintu ruang makan, yang hanya meninggalkan Kakashi dan Sasori.
Kamar Sakura,
"Ada apa, Nee-san?" tanya Gaara ketika pintu kamar Sakura ditutup.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." terang Sakura, yang ikut duduk disamping Gaara di atas kasurnya yang empuk itu.
"Sesuatu? Apa?" tanya Gaara tak mengerti arah pembicaraan Nee-sannya ini.
"Ini mengenai Uchiha Sasuke." kata Sakura lirih, tidak ingin membuat adiknya kembali marah.
"Uchiha?" kata Gaara dengan sedikit tinggi.
"Kita harus lebih berhati-hati terhadapnya." kata Sakura.
"Aku tau."
"Baguslah kalau begitu." kata Sakura lega.
"Nee-san?" Gaara memandang Sakura yang ada disampingnya.
"Hn?"
"Aku-"
"Hn?"
"Malam ini aku tidur denganmu, ya?" pinta Gaara sedikit berharap.
"?"
"..."
"Tentu saja." Sakura tersentum kearaha Gaara.
"Arigato."
"Hn,"
Taman Kota Konoha,
Sai berjalan dengan santai mengelilingi tempat bermain kecil yang berada di sisi taman kota itu. Setelah beberapa saat dia duduk disebuah bangku panjang, yang berada dibawah sebuah pohon pinus besar. Sesekali dia melihat kearah layar ponsel yang ada ditangannya.
Rasa hening yang Sai rasakan tidak bertahan lama, ketika seorang pemuda seumurannya berbadan tinggi, berkulit putih dan berambut hitam kebiruan berdiri didepannya. Sai mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang telah menghancurkan kesenangannya malam ini. Dua pasang mata onyx saling beradu satu sama lain. Sorotan mata keduanya sama-sama dingin dan aura disekitar mereka berubah drastis menjadi hawa saling bunuh.
"Itu temapatku." kata Sasuke datar.
"Lalu?" tanya Sai juga dengan nada datar.
"Menyingkirlah dari tempatku." balas Sasuke tak mau kalah.
Sai melihat ke kanan dan kiri bangku itu, lalu sekali lagi memandang Sasuke dengan datar. "Tidak ada namamu disini."
Sasuke yang sudah cukup bersabar, hendak menghantamkan kepalan tangan kanannya kearah Sai. Namun, Sai dengan gesit dapat menghindari pukulan yang dilayangkan oleh Sasuke. Tanpa Sasuke sadari, Sai sudah berada dibelakangnya. Sai mengunci kedua tangan Sasuke kebelakang punggung. Didekatkannya bibir Sai pada telinga Sasuke dan membisikan sesuatu yang mampu membuat wajah Sasuke berubah pucat beberapa saat.
"Salam kenal. Aku Sai-"
"..."
"Uchiha Sasuke!"
Tambahan buat readers,
Status Sai adalah Keponakan dari Tsunade. Gampangnya, dalam Fic saya ini Tsunade adalah anak dari Senju Hashirama. Dan ayah dari Sai adalah anak dari Senju Tobirama, adik dari Hashirama.
