Sungmin mengerjapkan matanya pelan-pelan ketika penglihatannya menyadari dia sedang tidak berada di ranjang kamar luas Kyuhyun—suaminya. Sungmin merasakan ia sedang berbaring di ranjang tipis dan lembab yang sangat membuatnya tak nyaman.
Dimana ini? Kenapa Sungmin merasa tidak asing dengan ruangan ini? Apa Sungmin pernah tinggal di ruangan ini sebelumnya?
Banyak pertanyaan dalam benak Sungmin yang membuat dadanya semakin lama semakin sesak. Sungmin ingin berteriak memanggil Kyuhyun, tapi rasa takutnya lebih besar.
Bagaimana jika Kyuhyun berada disini dan merasa terganggu dengan teriakannya? Sungmin merasa sangat bingung—sangat. Sampai sebuah suara membuyarkan lamunan Sungmin dan membuatnya terkesiap kaget.
"Lee Sungmin?!" Suara ini? Sungmin mengenal suara ini.
"Apa yang kau lakukan di kamar?! Bangun anak malas! Menjijikan!"
Ini adalah suara—
Ayah tirinya.
Sungmin baru akan bangun ketika tiba-tiba saja pintu kamarnya di dobrak oleh seseorang. Sungmin menyadari itu adalah ayah tirinya. Sungmin yang kaget hanya bisa mengkeret di sisi tempat tidur.
"Kenapa kau hanya diam saja, hah?! Dasar anak bodoh?!" Ayah tirinya membawa sebuah tongkat pemukul yang terbuat dari besi. Sungmin tahu ayah tirinya ini akan memukulnya lagi.
"Maaf..maafkan aku ayah.." Sungmin yang ketakukan melakukan perlindungan yang tak berguna sama sekali—menyatukan kedua tangan di atas kepalanya.
"Kau seharusnya bekerja! Kenapa malah tidur-tiduran saja, hah?!" Ayahnya memukuli punggung Sungmin yang tak terlindungi oleh apapun—selain baju tipisnya. Sungmin yakin punggungnya akan memar dan berdarah lagi kali ini.
"Ayah, sakit..." Sungmin mencoba membela dirinya. "Ayah..Sungmin baru saja pulang pukul 3 tadi. Dan Sungmin belum mendapat—"
"Memangnya aku peduli?!" Ayah tiri Sungmin memotong perkataannya yang belum sepenuhnya selesai. "Cepat sana cari uang! Dasar anak tidak berguna!"
Sungmin takut—sangat takut saat sang ayah tiri terus saja memukulinya dengan tongkat pemukul itu dan membuat darahnya kembali mengalir.
Darah...
Darah..
.
.
.
Kyuhyun membuka matanya perlahan. Mendengar suara teriakan seperti kata-kata 'Tidak' 'Maaf' dan 'Ayah'. Kyuhyun terkesiap menyadari sesuatu di sisinya meronta-ronta seakan takut sesuatu. Sungminnya sedang bermimpi buruk.
"Sungmin? bangun sayang." Kyuhyun menepuk lembut pipi kenyal Sungmin. "Sungmin-ah, kumohon bangunlah sayang." Kyuhyun sedikit berteriak sekarang. Merasa pias melihat Sungminnya meronta-ronta takut dengan matanya yang masih tertutup.
Setelah beberapa menit Kyuhyun mencoba membangunkan Sungmin, akhirnya gadis itu bangun dengan posisi duduk di ranjang dan langsung menatap Kyuhyun dengan sorot mata takutnya.
Kyuhyun yang tak tahan melihat Sungmin seperti ini dengan gerakan perlahan meraih tubuh Sungmin, mendekap tubuh Sungmin yang menggigil sambil membisikan kata-kata menenangkan.
"Tenanglah, jangan takut. Aku ada disini" Sungmin yang notabenenya masih merasa gugup dengan Kyuhyun—walaupun ia suaminya sendiri hanya bisa diam membeku.
Kyuhyun menangkup wajah manis Sungmin dengan kedua lengannya. "Mau menceritakan sesuatu padaku, hm?" Ujar Kyuhyun.
Sungmin merasa bibirnya kelu. Sungmin hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya. Kyuhyun yang tahu ini bukanlah saat yang tepat untuk Sungmin menceritakan semua padanya, akhirnya memutuskan untuk membiarkan Sungminnya sendiri. Ia berencana akan pindah ke kamar sebelah. Bukankah sama saja bohong, jika ia menenangkan Sungmin sedangkan Sungmin sendiri takut pada laki-laki—itu berarti dirinya.
Kyuhyun sudah akan melangkah menjauhi ranjang ketika lengan Sungmin yang gemetaran meraih lengan kirinya—menahannya.
"Jangan pergi...kumohon" Ujar Sungmin.
.
.
.
.
.
"Jangan tersenyum terus seperti orang gila" Suara Lee Donghae—manager perusahaan Kyuhyun memecah keheningan di ruangan luas kantor Kyuhyun "Kau tahu? Kau membuatku takut."
Kyuhyun masih saja tersenyum. "Ya ya. Maaf" Kyuhyun merasa sangat bahagia tentang kejadian tadi malam, mengingat ketika Sungmin menahan lengannya untuk tidak pergi.
"Apakah ada yang terjadi dengan Sungmin?" Donghae bertanya.
"Ah ya. Begitulah" Kyuhyun tersenyum menatap Donghae.
"Cho Kyuhyun, kau benar-benar membuatku takut sekarang." Donghae bergumam. "Aku tidak menyangka kau sangat-sangat serius dengan gadis itu."
"Tentu saja. Aku mencintainya, sangat." Kyuhyun mengalihkan tatapan tulusnya ke arah lain, tidak mungkin kan memberi tatapan tulusnya pada Donghae.
"Cho Kyuhyun yang kukenal sudah dewasa sekarang." Donghae tertawa "Biasanya tindakan yang lebih berhati-hati datang dengan usia, dan kebanyakan memang perlu kedewasaan," ucap Donghae. Sengaja dengan nada menggurui untuk mengganggu Kyuhyun.
Kyuhyun mendelikkan pandangannya ke arah Donghae. "Siapa bilang aku tidak dewasa?"
"Soalnya, laki-laki yang sudah dewasa itu tidak akan beli mobil yang hanya punya dua pintu, bukankah akan sulit jika harus membawa bayi..."
"Siapa bilang aku tak bisa bawa bayi dengan mobilku yang sekarang?" Kyuhyun mencoba membela diri."Lagipula aku juga punya mobil SUV kok." Kyuhyun tidak tahu kenapa bicaranya jadi melantur seperti ini.
Donghae mengangkat bahu, sudah akan beranjak ketika urusannya selesai di ruangan Kyuhyun. Sampai ia teringat akan sesuatu. "Oh ya, pertemuanmu dengan Tuan Tung akan diadakan besok." Ujar Donghae. "Kau memang belum dewasa Kyuhyun-ah. Mau membeli mall lagi? Belilah perusahaan jika kau merasa sudah dewasa."
Kyuhyun membela dirinya lagi. "Aku tak mau. Satu perusahaan saja sudah merepotkan. Lebih baik mall."
Donghae tertawa "Terserah kau saja. Ajak saja Sungmin bertemu dengan Tuan Tung. Dia juga pasti membawa istrinya."
"Mungkin akan lebih mudah jika istri Tuan Tung menyukai Sungmin." Lanjut Donghae.
"Aku tahu." Jawab Kyuhyun
.
.
.
.
Tidak ada hal yang dapat dilakukan Sungmin hari ini, singkatnya yah tidak ada kerjaan. Kuliahnya sedang tidak ada jadwal dan Kyuhyun menyuruh Sungmin untuk berada dirumah saja. Tidak boleh keluar, kecuali dengan izin Kyuhyun.
Sungmin sebenarnya ingin keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan. Tapi, dia terlalu takut hanya untuk sekedar menelepon Kyuhyun. Biasanya Kyuhyun-lah yang meneleponnya, sekedar menanyakan ia sudah makan atau belum, atau hal-hal tak penting lainnya—tapi penting bagi Kyuhyun.
Sungmin dengan rileks meregangkan tubuhnya di sofa depan televisi ruang tamu. Tak ada gunanya memikirkan mimpinya semalam—batin Sungmin. lebih baik dilupakan. Benar bukan?
Sungmin meraih kumpulan jeruknya di kulkas dan meletakannya di atas meja ruang tamu. Mengupasnya satu persatu dan menikmati jeruknya pelan-pelan.
Sungmin melirik sedikit ke arah televisi yang menyala butuh perhatian itu.
'Oh, aku menonton berita rupanya.' Kata Sungmin dalam hati.
'Eh? Bukankah itu Kyuhyun?'
Sungmin membaca sedikit running text pada tayangan headline itu. Kebanyakan bahasa inggris.
'Business week: We Shop in Mall, Cho Kyuhyun shops a Mall.'
Sungmin mengerti kok bahasa inggris. Ia sedikit menganga mengenai kenyataan itu. Sungmin tak tahu sama sekali seberapa kaya suaminya itu. Sebulan yang lalu, ya sebulan yang lalu saja Sungmin tidak percaya bahwa dia dilamar secara paksa oleh Kyuhyun—pria yang rajin membeli beberapa cookiesnya di pinggir jalan selama beberapa minggu.
"Lee Sungmin, Aku mencintaimu. Aku harus menikah denganmu dan hidup denganmu. Aku akan melindungimu. Aku tak tahu apa-apa soal pernikahan dan diri kita satu sama lain, tapi kita bisa belajar sama-sama."
Sungmin seketika itu juga langsung ketakutan—berpikiran bahwa pria ber-jas rapi ini akan menculiknya karena Kyuhyun menggunakan kata "harus" daripada "mau", yang terdengar seperti suatu paksaan daripada ketulusan.
Sungmin ingin menolaknya, ingin sekali. Memangnya siapa laki-laki ini? Tapi rasa takutnya lebih besar. Dengan kata lain, Sungmin tak bisa melawan. Akhirnya ia sadar jika hari itu juga dirinya diseret menuju gereja.
Bagaimana dengan orang tua Kyuhyun? Kyuhyun memberitahu Sungmin—padahal Sungmin tidak tanya. Bahwa orang tua Kyuhyun adalah orang yang fleksibel. Orangtuanya membiarkan Kyuhyun memilih jalan hidupnya sendiri. Dan Kyuhyun mengatakan jika orangtuanya sekarang sedang berada di luar negeri untuk waktu yang lama.
Selama satu bulan Sungmin menikah dengan Kyuhyun, ternyata Kyuhyun adalah orang yang menepati janjinya. Ia benar-benar berusaha membuat Sungmin nyaman dengan dirinya dan rumahnya yang luas ini. Dan Sungmin pun tak memungkiri jika ia merasa lebih terlindungi berada di dekat Kyuhyun, lepas dari rasa gugupnya pada laki-laki itu.
Kyuhyun pernah membawa Sungmin menemui seorang terapis. Kyuhyun mencarikannya dokter perempuan. Dan dokter tersebut mengatakan Sungmin memiliki penyakit yang muncul tidak sejak dirinya lahir, dan penyakitnya itu adalah suatu trauma terhadap laki-laki bukan suatu phobia yang entah disebabkan oleh sesuatu hal buruk yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Entah sudah berapa kali Kyuhyun meminta—memohon agar Sungmin menceritakan apa yang terjadi terhadapnya dulu, tapi Sungmin merasa bibirnya kelu dan ia tak mampu menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya saat ia berusia 10 tahun.
Sungmin bertekad menceritakannya pada Kyuhyun, itu harus. Tapi ia tidak tahu kapan ia mampu menceritakannya. Ia ingin terbebas dari penyakit ini dahulu, ia ingin sembuh. Dan Kyuhyun mengerti keinginan Sungmin, maka ia dengan rajin membawa Sungmin menemui dokter terapis selama tiga kali seminggu sepadat apapun jadwalnya.
Oke, cukup sudah pikiran Sungmin berkelana ke satu bulan yang lalu sambil menghabiskan lima buah jeruknya, Sungmin pun mematikan televisi dan ia lebih memlih membereskan rumah saja, setelah itu ia akan merasa capek dan dengan dapat tertidur dengan cepat sebelum Kyuhyun pulang.
.
.
.
.
09.00 PM
Sungmin sedikit melirik jam tangannya. Ia sudah lumayan mengantuk sekarang, tapi sangat tidak mungkin jika ia berkata ia ingin pulang sekarang pada Kyuhyun lagipula Sungmin juga tidak berani.
Terbangun pukul 6 sore tadi ternyata Kyuhyun sudah sampai dirumah, Sungmin tahu Kyuhyun sudah pulang sekitar pukul 5 sore karena Kyuhyun sepertinya baru saja mandi. Yang membuat Sungmin bertanya-tanya adalah kenapa Kyuhyun sudah rapi dengan kemeja yang beda dari tadi pagi? Memangnya Kyuhyun mau kemana lagi?
Dengan mata setengah mengantuk ia bersiap-siap merapikan diri saat Kyuhyun mengatakan ada makan malam dengan client pentingnya.
Kyuhyun bilang Sungmin tidak usah ikut jika lelah, tapi Sungmin tahu jika Kyuhyun mengajaknya berarti ia dapat menjadi sedikit berguna untuk laki-laki itu.
Dan disinilah Sungmin sekarang. Ruangan VIP sebuah restoran mewah. Sungmin belakangan mengetahui bahwa clientnya Kyuhyun bernama Tuan Tung. Dan yang berada di sebelahnya adalah istrinya Tuan Tung. Istri Tuan Tung sangat baik dan ramah, selalu mengajak Sungmin berbicara saat ia hampir mati kebosanan mendengar obrolan Tuan Tung dan Kyuhyun.
Sungmin melirik Kyuhyun yang berada di seberang meja lingkaran restoran itu. Laki-laki itu tampak asyik mengobrol dengan laki-laki lain yang Sungmin tahu adalah seorang konsultan finansial terkemuka di negara mereka.
Lawan bicaranya jauh lebih tua, tetapi Kyuhyun mampu membawa diri dengan baik. Kyuhyun membuat Tuan Tung tidak berhenti tersenyum selama makan malam berlangsung. Beberapa kali Tuan Tung tertawa lepas, terkadang sambil menepuk bahu Kyuhyun.
"Suami-mu pernah mengakuisisi COEX Mall yang berada di seoul dalam sebuah dinner seperti ini juga," Bisik istri Tuan Tung yang berada di sisi Sungmin.
Sungmin mengetahui berita itu dari majalah-majalah dirumah Kyuhyun yang ia baca. Belum lama ini, Kyuhyun membeli salah satu mall terbesar di Seoul. Hal yang tidak bisa Sungmin bayangkan, apalagi jika dilakukan sambil makan malam.
"Benarkah? Kyuhyun membeli mall sambil makan steik, unnie?" Sungmin balas berbisik.
Istri Tuan Tung menjawab dengan ringan, "Tidak. Seingatku, waktu itu mereka pesan lasagna."
'Hah?!' batin Sungmin melongo.
.
.
.
.
"Maaf sudah membuatmu lelah" Kyuhyun berujar sembari membuka pintu samping kemudi mobil untuk Sungmin.
"T-tidak Kyu," Sungmin berujar gugup, ia masih tercengang soal mal-mal itu "A-aku senang, aku berguna."
Kyuhyun diam sebentar, "Jangan berkata seperti itu." Kyuhyun mengelus puncak kepala Sungmin.
.
.
.
.
Kyuhyun sedang melakukan presentasi bisnis nya dalam meeting penting kali ini. Sudah pukul lima sore dan Kyuhyun menyadari bahwa ia akan sedikit telat menjemput Sungminnya.
Kyuhyun penasaran apakah Sungmin akan menghubunginya? Ia ingin menggoda Sungmin sedikit, Kyuhyun ingin sekali jika Sungmin dapat bergantung padaya, bukan hanya ketakutan padanya.
Setelah beberapa menit terlewat, Kyuhyun tetap melanjutkan sedikit lagi pembicaraan bisnisnya. Dan menyerah, mengingat jika sudah pasti Sungmin akan menunggunya di kampus sampai Kyuhyun datang. Padahal Kyuhyun mengharapkan ia di hubungi—atau jelasnya diminta untuk menjemputnya.
Kyuhyun menghela nafas melihat layar ponsel nya, berharap Sungmin akan menghubunginya.
Satu menit, dua menit, tiga menit...
PIP
PIP
Ada sms masuk! Kyuhyun tahu itu Sungminnya, karena nomor ponsel ini hanya Sungmin yang tahu. Dan itu khusus untuk Sungmin.
Dengan tergesa-gesa Kyuhyun membuka sms yang masuk. Dan seketika itu juga Kyuhyun tercekat. Tanpa memperdulikan rekan bisnisnya yang merasa aneh dengan reaksi Kyuhyun, Kyuhyun melesat keluar dari ruangan dan bergegas pergi.
Ada apa?
Kyuhyun masuk kedalam mobil dan melempar ponselnya ke sembarang tempat lalu kemudian dengan kecepatan tak normal ia melesat menuju suatu tempat—kampus Sungmin.
Layar ponsel yang dilempar sembarang tempat itu masih menyala, dan dapat dilihat Kyuhyun belum mengeluarkan menu sms ke semula.
Dengan jelas kita dapat melihat sms dari Sungmin yang hanya berisikan beberapa kalimat.
'Kyuhyun, tolong'
.
.
.
.
.
Jujur aja, sebenernya yang kemarin itu Cuma oneshoot. Beneran deh, eh saya kaget pas ternyata reviewnya hampir 50. Astagaaaaa
ARIGATOU GOZAIMASUUUU /salah bahasa/
Ohya, Sungmin disini emang bener2 trauma sama laki-laki. Kenapa? Itu udah dijelasin kan~ terus kenaoa bisa ga ada luka di tubuh Sungmin? kan kejadian itu berlangsung waktu Sungminnya berumur 10 tahun. Jadi ya kita anggap saja udah kering ya (?)
/nanya sendiri/ /jawab sendiri/
Ah yaudah deh bacotnya.
Jadi gimana? Lanjut nggak?
Di posting di rate M bukan berarti ada NC yah. Gabisa buat NC /nangis/
Yang nunggu summer desire. Lagi diketik.
Terakhir. Min to RnR? Patut dilanjutin ga? Butuh pendapat hehe
