Buat seluruh readers cerita saya ini, saya benar-benar minta maaf karena baru bisa meng-updatenya sekarang.

Semoga chapter ini dapat mengobati dan menambah rasa penasaran kalian semua,

Gomen ne,


Chapter lalu :

"Salam kenal. Aku Sai-"

"..."

"Uchiha Sasuke!"


6th Chapter

Sasuke menolehkan kepalanya kearah belakang dengan secepat kilat ketika ia mendengar namanya terlontar dari mulut orang yang sama sekali tidak ia kenal. Wajah Sasuke berubah menjadi pucat, sedangkan pemuda lainnya hanya menunjukkan wajah datar dengan sebuah senyum yang seolah-olah dibuat.

"Ada apa?" tanya Sai balik memandang Sasuke.

Sasuke tidak membuang-buang waktu dan segera berusaha melepaskan diri dari Sai. Setelah ia berhasil melepaskan dirinya, dengan cepat Sasuke meraih sebuah belati yang ia sembunyikan di balik lengannya. Sedangkan Sai tetap berdiri pada tempatnya semula tanpa merubah posisinya sama sekali.

Sasuke melempar belati yang ada di tangannya ke arah Sai. Sebuah senyum tipis terukir di wajah tampannya, ketika dengan yakin bahwa lemparannya akan mengenai sasaran. Namun, senyum itu menghilang dengan cepat, secepat tangan Sai menangkap ujung belati yang Sasuke lempar dengan hanya dua jari.

"Apa hanya ini?" kata Sai dengan suara mengejek.

Tanpa berbasa-basi kini giliran Sai yang melemparkan beberapa belati ke arah Sasuke. Sasuke hanya dapat menghindari beberapa belati yang dilempar Sai. Sebuah belati berhasil menancap di lengan kiri atas Sasuke.

"Ukh," Sasuke berusaha menahan rasa sakit yang mulai menjalar dari luka yang disebabkan oleh Sai.

Tanpa mempedulikan rasa sakit di lengannya, Sasuke berlari menerjang Sai yang hanya bergerak sedikit untuk menghindari pukulan Sasuke. Ketika Sasuke memutar menghadap Sai, dengan cepat Sai menghantam sisi badan Sasuke dengan tendangan kaki kanan. Sasuke yang sudah habis kesabarannya kembali menerjang Sai seperti orang yang kesetanan. Sasuke melayangkan beberapa pukulan kearah wajah Sai.

Sebuah senyum kembali terukir di wajahnya, saat beberapa pukulannya berhasil mengenai wajah Sai. Darah mulai mengalir di sudut bibir Sai. Keduanya terus bertarung, hingga sama-sama kehabisan tenaga. Keringat mengalir di seluruh tubuh kedua pemuda bermata onyx itu. Pakaian keduanya benar-benar basah seolah mereka habis berlari di bawah hujan yang deras.

"Baiklah. Aku akui kau pantas menjadi sainganku." ucap Sai memecah keheningan suasana.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke sambil mengambil nafas.

"Bukan apa-apa." balas Sai yang juga tengah mengambil nafas dalam-dalam.

"Hn?"

Setelah itu Sai berjalan meninggalkan Sasuke, namun ia menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya ke arah Sasuke yang kini masih berdiri di tempatnya.

"Oya. See you again, Uchiha." ucap Sai sambil berlalu dan menghilang dalam kegelapan.

Kediaman Senju,

"Sai...?" sebuah suara feminim menyambut kedatangan pemuda itu.

Sai memandang Sakura dengan datar. Sebuah senyum lalu terkembang di wajahnya yang babak belur.

"Darimana ka-kenapa dengan wajahmu?" tanya Sakura khawatir.

Gadis beriris hijau zamrud itu berjalan ke arah sepupu kesayangannya yang masih berdiri mematung. Diangkatnya tangannya untuk menyentuh pipi kanan Sai yang mulai berubah warna menjadi biru. Diusapnya pelan pipi pemuda itu. Sedangkan Sai hanya menutup kedua matanya dan menikmati belaian dari Sakura,

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang Sakura dan menariknya mendekat.

"SAI." pekik Sakura terkejut.

"Hush," telunjuk Sai menempel di bibir Sakura.

"Darimana kau? Ada apa dengan wajahmu? Kau berkelahi ya?" tanya sakura bertubi tubi.

"Tanyanya satu-satu donk." kata Sai sambil tersenyum.

Sai lalu meletakkan kepalanya pada bahu kanan Sakura, sambil mempererat pelukannya pada gadis pink itu. Sakura berganti membelai rambut hitam Sai dengan lembut.

"Sakura...?" ucap sai tiba-tiba.

"Hn?"

"Temani aku malam ini," pinta Sai dengan suara pelan, yang hanya dapat didengar oleh Sakura.

"Hn." balas Sakura singkat.

Mereka berdua berjalan menuju kamar Sai yang berada di lantai dua. Sesampainya di kamar Sai, Sakura mendudukkan Sai di atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sakura keluar dari kamar mandi dengan sebuah kotak P3K di tangan. Ia lalu duduk di samping Sai, dan mulai mengobati luka-luka juga lebam-lebam di wajah Sai. Ketika Sakura membersihkan luka-luka Sai, pemuda itu berusaha menahan sakit akibat kulitnya bersentuhan dengan cairan antibiotik.

Setelah beberapa lama, akhirnya Sakura selesai mengobati luka-luka Sai. Sakura meletakkan kotak P3K di atas meja disamping ranjang.

"Kau tidur sekarang." perintah Sakura yang nada bicaranya seperti seorang ibu yang tengah menghadapi anaknya yang sulit tidur.

"Aa." balas Sai singkat, lalu menarik tangan Sakura, hingga membuat gadis itu jatuh tepat di atas dadanya yang bidang.

Sakura sedikit menggerskkan tubuhnya agar dapat berpindah disamping Sai. Ia memeluk erat pemuda disampingnya. Sai pun membalas pelukan Sakura dengan pelukan yang lebih erat.

Esok hari,

Bunyi pintu sebuah kamar dibanting dengan keras terdengar mewarnai kediaman Senju pagi hari itu. Suara itu berasal dari kamar milik Sai. Diambang pintu itu terlihat sesosok pemuda dengan rambut pirang yang bergaya seperti buah durian. Ya, pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah Uzumaki Naruto.

Kakashi, Sasori, Gaara, Shizune dan Tsunade berlari menuju tempat asal arah suara. Tsunade segera menjewer telinga keponakannya itu, saat tahu siapa pembuat keributan di rumahnya pagi-pagi begini.

"Au, au sakit Ba-san." kata Naruto sambil memeganggi telinganya yang tadi dijewer oleh Tsunade.

"Kenapa pagi-pagi begini kau sudah membuat keributan dirumahku, Naruto?" tanya Tsunade dengan wajah galak.

"Ampun, Ba-san. Itu karena Sai." jelas Naruto tak berani memandang bibinya yang sedang marah besar itu.

"Memangnya ada apa dengan Sai, hah?" Tsunade balas tanya.

"Berani-beraninya dia tidur dengan SakuraKU." kata Naruto dengan menunjuk kearah tempat tidur.

"Lalu apa urusanmu?" balas Tsunade.

"Ti-tidak ad-" kata-kata Naruto terpotong oleh Tsunade yang mulai mereda emosinya.

"Tidak ada kan." ucap Tsunade lalu berlalu meninggalkan kamar Sai.

"Ku kira ada apa, dasar bocah bakka." kata Sasori dengan sewotnya, dan ikut meninggalkan kamar Sai.

"Hn," ucap Kakashi sambil menahan kantuk.

Sementara Gaara hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun tentang kondisi ini. Dia lalu berjalan ke arah tempat tidur dan sedikit mengguncang-guncang tubuh Sakura. Saat ia melihat wajah Sai ada sedikit raut wajah heran.

'Kenapa dengan wajahnya?' tanya Gaara dalam hati.

Sakura membuka matanya saat tahu siapa yang membangunkannya. Segera ia lepaskan tangan sai yang tengah memeluk tubuhnya.

"Merek sudah pergi?" tanya Sakura sambil menguap.

"Hn." balas Gaara.

"Arigato ne, Otouoto." kata Sakura pelan.

Konoha University,

Seorang dosen pria berambut putih-panjang memasuki sebuah kelas. Sebuah cengiran terpampang jelas diwajah dosen yang tidak mau dianggap tua itu.

"Selamat pagi semuanya!" kata dosen itu kepada seluruh murid-muridnya.

"Selamat pagi, Jiraiya-sensei!" balas seluruh muris di kelas itu serempak.

"Ah, selamat pagi, Ino-chan. Sakura-chan." sapa dosen yang ternyata bernamaJiraiya itu kepada Ino dan Sakura di sertai senyum genit dan kedipan sebelah mata. Namu, kedua gadis itu tidak mempedulikan sikap senseinya yang genit itu.

"Baiklah, murid-murid kesayanganku sekalian." lanjutnya. "Hari ini kita akan kedatangan seorang murid baru."

"Siapa, Sensei?" tanya seorang gadis yang berambut coklat pendek. Gadis itu bernama Ten Ten.

"Cowok ato cewek?" tanya murid wanita yang lainnya.

"Tenang-tenang semuanya. Murid baru, silahkan masuk." ucap Jiraiya sembari memendang kearah pintu yang tiba-tiba terbuka.

Seorang pemuda berambut hitam dan bermata onyx berjalan masuk ke dalam kelas. Kelas yang tadinya tenang kini menjadi sangat ribut. Apa lagi hampir seluruh murid wanita di kelas itu berteriak-teriak saat melihat Sai.

"Perkenalkan namaku Sai." ucap pemuda itu sambil sedikit membungkukkan badan di depan kelas. Sesaat kemudian badannya kembali ia tegakkan. Pandangan matanya langsung beradu dengan mata onyx lainnya yang ada di sana.

'Dia,' batin Sasuke saat melihat Sai.

"Baiklah, Sai. Kau duduk di-" Jiraiya melihat keseluruh kelas. Banyak tangan yang teracung menawarkan tempat duduk di sampingnya.

"Em, terserah kau sajalah." kata Jiraiya akhirnya.

Sai berjalan menuju bangku disamping Sakura yang kebetulan kosong. Tanpa meminta izin, dia langsung duduk ditempat itu.

"Hai, Sai. Namaku Yamanaka Ino." Ino mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Sai.

"Salam kenal juga, Ino-san." balas Sai dengan senyum palsu andalannya.

"Apa benar kau saudara Saku-"

"Ino-chan." Jiraiya memotong pembicaraan Ino dan Sai.

"Gomen ne, Jiraiya-sensei." balas Ino dengan suara yang dibuat-buat.

"Baiklah semuanya." kata-kata Jiraiya kembali membuat seluruh perhatian murid-murid tertuju padanya. "Kalian ku beri tugas membuat laporan secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang."

Setelah beberapa saat, akhirnya semua sudah kebagian kelompok yang sudah ditentukan. Entah malang atau beruntung, Sakura harus berkelompok dengan Sasuke. Anggota kelompoknya yang lain adalah Ino dan Sai.

"Baiklah kerja kelompoknya di rumahku saja ya." kata Ino dengan riang. Bagaimana tidak riang, jarang-jarang dia bisa berkelompok dengan dua orang pemuda tampan. Apa lagi tugasnya tidak bisa dikerjakan dalam sehari saja, jadi Ino bisa bersama keduanya lumayan cukup lama kan.

"Ya, ya, ya." ucap sakura.

" Hn." kata Sasuke datar

"Terserah kau, Ino-san." balas Sai masih dengan senyumnya.

"Ano, panggil aku Ino saja." pinta Ino malu-malu.

"Aa."

Kamar Sakura,

Didalam kamar yang lumayan luas dengan cat tembok hijau muda pada keempat sisinya. Seorang gadis berambut pink tengah menatap cermin sambil memoleskan bedak tipis pada wajahnya yang putih tanpa cacat. Gadis itu mengenakan tank top berwarna merah darah dengan hot pant berwarna hitam. Kemudian ia poles bibir merah merekanya dengan lip gloss warna bening. Setelah ia merasa semuanya sudah beres, gadis itu beranjak meninggalkan kamar. Namun, tidak lupa ia membawa tas yang berisi buku yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

"Sakura! Sudah siap belum," teriak Sasori dari arah pintu.

"Ya, aku turun." balas suara feminim dari lantai atas.

Sakura berlari menuruni anak tangga. Setelah berpamitan pada Kaa-sannya, dia berjalan ke arah Sai yang sudah menunngunya sambil duduk di sepeda motor Ducati berwarna Hitam metalik.

"Maaf membuatmu menunggu." kata sakura lalu naik dibelakang Sai. Setelah mengenakan helm yang juga berwarna hitam, keduanya melaju meninggalkan halaman kediaman Senju.

Sebuah motor sport hitam melaju membelah jalanan yang ramai. Pada speedometernya tertera angka 180km/jam. Motor itu sedikit menurunkan kecepatannya saat memasuki halaman sebuah rumah yang bercat kuning-putih.

"Sai. Sakura, ayo masuk." sapa Ino dari pintu rumah.

Mereka berdua pun masuk kedalam rumah Ino. Ino mengantar mereka ke ruang tamu. Disana semua sudah di siapkan. Bahkan sampai makanan dan minuman pun juga sudah tersedia.

"Dimana Uchiha?" tanya Sai pada Ino.

Tet – Tet

"Mungkin itu dia." balas Ino, lalu meninggalkan mereka berdua.

"Sakura." ucap Sai sembari memeluk Sakura dari belakang.

"Hentikan, Sai!" kata Sakura keras.

"Sasuke datang..." teriak Ino sambil menggandeng tangan Sasuke.

Saat Sai melihat Ino dan Sasuke, dia segera melepaskan Sakura dari dekapannya. Sai kembali memasang senyum palsunya.

"Hai, Uchiha." sapa Sai basa-basi kepada Sasuke.

"Hn." balas Sasuke datar.

Mereka berempat pun langsung mengerjakan tugas dari Jiraiya-sensei. Beberapa kali Sasuke dan Sakura terlibat adu mulut. Suasana yang sepi akhirnya berakhir ketika ponsel milik Sai berbunyi.

"Halo." Sai membuka pembicaraan dengan si penelefon.

"Baiklah, aku paham. Hn," lanjutnya beberapa detik kemudian.

"Ya, sampai jumpa disana." tutup Sai.

Ketiga orang yang ada disana berpaling kearah Sai, saat ia baru akan berdiri.

"Ada apa, Sai?" tanya Ino heran.

"Maaf, sepertinya aku harus pulang terlebih dahulu." ucap Sai, dan mendekati Sakura. 'Kakashi membutuhkanku sekarang.' Bisik Sai di telinga Sakura.

Setelah mendengar penjelasan Sai, Sakura menganggukkan kepala tanda mengerti. Sai pun meninggalkan rumah kediaman Yamanaka.

"Ada apa memangnya, Sakura?" tanya Ino pada Sahabatnya itu penasaran.

"Tidak ada apa-apa." jawab Sakura singkat.

"Baiklah." lanjut Ino masih penasaran.

Setelah 2 jam mengerjakan tugas, akhirnya Ino memutuskan untuk mengakhiri kerja kelompok hari ini dan melanjutkannya esok hari.

"Sakura, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang." kata Ino menyesal saat mengantarkan sahabatnya ke depan pintu.

"Tidak apa." geleng Sakura.

"Oya! Sasuke kau tolong antar Sakura pulang ya?" pinta Ino saat Sasuke hendak memakai helmnya.

Sasuke memandang Ino dan Sakura secara bergantian. Lalu menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Ayo." kata Sasuke datar pada Sakura. Mau tidak mau Sakura pun hanya menurut saja, dia tidak mau membuat Ino curiga.

"Berpengangan eratlah padaku. Aku akan ngebut, sebentar lagi akan turun hujan." kata Sasuke setelah Sakura naik di belakangnya.

Sakura mendongak ke arah langit. Memang benar apa kata Sasuke, langit yang tadinya biru cerah lambat laun berubah warna menjadi kelabu. Hanya beberapa saat setelah mereka meninggalkan rumah Ino, tetes-tetes air langit mulai turun membasahi jalanan dan orang-orang yang tengah berlari mencari tempat untuk berteduh.

Sasuke mengurangi kecepatan sepeda motornya, dan berhenti di depan sebuah rumah tua yang tak terurus dan tak berpenghuni. Keduanya turun untuk berteduh, karena hujan semakin deras.

Sasuke melirik sedikit ke arah Sakura yang tengah mengosok-gosokkan kedua tangannya. Seluruh pakaiannya basah kuyup.

"Kau kedinginan." kata Sasuke membuyarkan keheningan keduanya.

"Bukan urusanmu." balas Sakura dengan nada jengkel.

"Mendekatlah." kata Sasuke lagi. Namun, Sakura tetap tidak bergerak dari tempatnya.

Entah karena kasihan atau kesabarannya sudah habis. Sasuke berjalan ke arah Sakura dan memeluknya dari belakang. Sakura yang terkejut berusaha melepaskan diri dari dekapan Sasuke.

"Jangan berontak. Kau tidak mau terkena hipotermia kan." kata-kata Sasuke sukses membuat Sakura menghentikan gerakannya untuk melepaskan diri.

'Huh, dia memang benar.' Runtuk Sakura dalam hati.

'Kalau dilihat dari jarak sedekat ini dia cantik juga ya.' batin Sasuke.

'Apa yang baru aku pikirkan' kata Sasuke lagi.

Sakura yang memandang Sasuke sejak tadi merasa aneh dengan pemuda ini.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan macam-macam ya." ucap Sakura.

"Siapa juga yang mau macam-macam dengan gadis aneh sepertimu." balas Sasuke.

Beberapa saat kemudian,

"Sepertinya hujan sudah mulai reda," kata Sasuke akhirnya.

"Ayo, pulang." lanjutnya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang, walau gerimis masih deras. Saat Sasuke mengambil arah yang bukan menuju ke arah rumahnya Sakura mulai panik.

"Hei, kau mau bawa aku kemana?" teriak Sakura yang berlomba dengan suara angin.

Sasuke sama sekali tidak menjawan pertanyaan Sakura. Dia tetap berkonsentrasi mengendarai motornya. Lalu, pemuda itu memasuki halaman sebuah rumah yang luas.

"Ayo turun. Ini rumahku." kata Sasuke.

"Untuk apakau bawa aku ke rumahmu?" tanya Sakura heran juga marah.

"Kau basah kuyup. Dan lagi pula sekarang sudah malam. Besok saja kau ku antar pulang." jelas Sasuke panjang.

"Kalau memang tidak mau mengantar ku pulang bilang dari tadi. Aku bisa menyuruh orang untuk menjemputku." kata Sakura sembari berjalan di belakang Sasuke yang berjalan memasuki rumah besar itu.

"Ganti pakaianmu dengan ini." perintah Sasuke sambil memberikan sebuah kaos dan celana pendek. "Itu kamar mandinya." lanjutnya, lalu berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di atasnya.

Sakura dengan muka masam berjalan ke dalam kamar mandi, dan menganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang diberikan Sasuke.

Setelah beberapa saat, Sakura keluar dari dalam kamar mandi dengan kaos yang lumayan kebesaran. Sehingga membuat bahunya terbuka untuk umum.

"Hei, Uchiha." panggil Sakura pada Sasuke yang sedang merebahkan diri di atas ranjang. Namun, orang yang bersangkutan sama sekali tidak memberikan tanggapan atau pun membuka matanya.

Sakura yang penasaran berjalan ke arah ranjang dan mendekati Sasuke. Dengan lembut gadis itu menyentuh dahi pemuda yang ada di sampingnya itu.

'Panas sekali.' batin Sakura.

"Sepertinya kau demam." ucap Sakura entah pada siapa.

Gadis itu pun meninggalkan pemuda yang tengah sakit itu. Sesaat kemudian dia kembali dengan baskom sedang yang berisi air hangat dan handuk kecil. Di letakkannya baskom itu disamping ranjang. Setelah membasahi handuk dengan air di dalam baskom dan memerasnya. Sakura meletakkan handuk basah itu dahi Sasuke.

Di lihatnya pakaian pemuda itu juga basah kuyup. Entah niat darimana, Sakura lalu menganti pakaian Sasuke yang basah dengan pakaian yang kering.

2 jam kemudian,

Sakura terbangun dari tidurnya saat mendengar Sasuke mengigau.

"Jangan, aku mohon jangan." kata Sasuke dalam keadaan tak sadar.

"Uchiha. Hei, Uchiha." Sakura memanggil Sasuke dan mengoncang-goncangkan tubuh pemuda itu.

"Ah. Maaf," ucapnya saat ia melhat Sakura yang panik.

"Hn," jawab Sakura dengan sedikit lega.

"Sakura?" kata Sasuke perlahan.

"Apa?"

Secepat kilat tanpa disadari Sakura, Sasuke menarik tangan Sakura. Hal itu membuat Sakura jatuh ke dada Sasuke.

"Uchiha." teriak Sakura.

"Sasuke." ucap Sasuke lemah.

"Apa?" tanya Sakura tak mengerti.

"Panggil aku Sasuke." lanjut Sasuke sembari memejamkan mata.

"Ap-"

Kata-kata Sakura terpotong oleh bibir Sasuke yang mengunci bibirnya.

Pwease, review-review-review!