-Chapter 3-
Sungmin melangkahkan kakinya ke arah kafetaria dengan wajah menunduk, memegang erat buku-bukunya dan mencoba untuk menulikkan telinganya.
"Dia Lee Sungmin, istri konglomerat Cho Kyuhyun itu."
"Lee Sungmin itu cantik, tapi dia terlalu aneh untuk di dekati."
"Lagipula dia juga sudah punya suami kan"
"Benar, mana suaminya itu menyeramkan lagi."
"Di mata perempuan sih tidak."
Sungmin terus menunduk seolah-olah ia tak mendengarnya.
Kenapa orang-orang di kampus ini terus membicarakannya sih? Memangnya tak ada lagi yang bisa dijadikan topik obrolan? Lagipula namaku kan bukan lagi Lee Sungmin—gerutunya.
Sepertinya orang-orang ini belum bisa menerimaku yang bermarga 'Cho'. Pikir Sungmin sedih.
EH?! Apasih! Kenapa aku berpikiran aku pantas untuk Kyuhyun? –Sungmin menampar-nampar kecil pipinya dan berteriak dalam hati. Ia membelokkan arah langkahnya dari kafetaria menuju ruang auditorium yang sepi.
Sungmin berencana untuk menghubungi Kyuhyun, meminta laki-laki itu untuk menjemputnya. Karena tadi pagi Kyuhyun bilang—beralasan dia ada beberapa rapat hari ini, jadi ia tak bisa menjemput Sungmin tepat waktu, dan Sungmin-lah yang harus menghubunginya terlebih dahulu jika ingin dijemput.
Sungmin tengah duduk di ruangan auditorium yang memang tak ada siapa pun sekarang disana, Sungmin mengeluarkan ponsel di dalam tas nya dan lalu menghela nafas berat.
Ponsel ini diberikan oleh Kyuhyun 2 hari yang lalu, Kyuhyun bilang ini adalah ponsel yang sama dengannya. Padahal saat itu Sungmin mengatakan pada Kyuhyun bahwa ia masih bisa memakai ponselnya yang dulu.
Dan jawaban Kyuhyun? Tentu saja tidak, dan alasan Kyuhyun pun sangat tidak rasional. Dia bilang ponsel Sungmin yang dulu sudah tidak layak dipakai. Kata Kyuhyun bagaimana dia dapat menghubungi Sungmin jika ponselnya sudah tak bisa dipakai?
Tentu saja berhubung Sungmin tak mungkin membantah, tanpa berkata apa-apa Sungmin menerima ponsel barunya itu. Dan Kyuhyun hanya tersenyum puas sambil mengelus kepalanya.
Tapi demi tuhan, Sungmin sama sekali tidak mengerti cara kerja ponsel barunya ini.
Sebenarnya Kyuhyun sudah mengajarkan cara memakai ponsel ini, hanya saja Sungmin tidak mendengarkan dengan baik. Bukan bukan, bukannya Sungmin tidak menghargai ponsel yang Kyuhyun berikan itu. Hanya saja, saat Kyuhyun mengajarkan hal tersebut, dirinya berada dalam jarak yang menurut Sungmin sangat—err intim.
Kyuhyun berada dekat sekali dengan tubuhnya! Dan itu membuat Sungmin sangat-sangat gugup dan rasanya ingin membanting ponsel barunya saja saat itu.
Dan sekarang, Sungmin pun mengutuk dirinya yang dengan bodoh tidak mendengarkan penjelasan Kyuhyun tentang ponsel ini.
Saat Sungmin menyalakan layar ponsel tersebut, terlihat lah wallpaper foto Kyuhyun yang sedang tersenyum. Oh, bahkan Sungmin baru tahu jika wallpaper ponselnya ternyata ini. Sungmin tersenyum melihat foto suaminya yang tampan itu.
Tapi senyum Sungmin dengan cepat memudar saat disadarinya bahwa baterai ponsel tersebut hanya tinggal setengah bar! Bagaimana ini? Sungmin baru sadar bahwa ia tidak mengisi daya baterai ponsel itu sejak Kyuhyun pertama kali memberikannya.
Apa ponsel ini akan mati?
Daripada memikirkan hal itu, dengan cepat Sungmin menuju menu dan mulai mencari tempat untuk membuat pesan singkat. Sungmin tak ingin menelefon Kyuhyun—takut mengganggu. Dengan susah payah Sungmin terus mencoba. Sungmin sempat menggerutu sedikit-sedikit karena jarinya tak mau diajak kompromi dengan ponsel layar sentuh seperti ini.
'Oh, ayolah. Kenapa ponsel ini harus berbahasa inggris juga' Sungmin ingin menangis saja rasanya. Jarinya terus saja terpeleset, menyebalkan sekali.
'Aku emang bodoh, begini saja masa tidak bisa'
'Bagaimana ini, batereinya sudah hampir habis...'
'Ah! Akhirnya!'
Batin Sungmin terus berseru-seru heboh hanya karena ponsel menyebalkan itu—bagi Sungmin. Sungmin dengan segera berusaha mengetik dengan cepat meski jarinya masih terpeleset.
'Argh...ini mulai menyebalkan'
Sampai tiba-tiba...
"AAAAAA"
Teriakan Sungmin pun menggema di seluruh ruangan auditorium yang kedap suara.
.
.
.
Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri koridor kampus Sungmin sambil bertanya orang-orang di kampus kata-kata seperti "Apa kau melihat Sungmin?"
Hampir seluruhnya menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan gelengan kepala. Dan Kyuhyun pun semakin frustasi. Sampai akhirnya...
"Tadi kulihat dia berjalan ke arah auditorium."
Kyuhyun pun melesat dan segera merutuki kebodohannya mengapa ia tidak menyadari satu tempat pasti favorit Sungminnya itu—Bodoh—gumamnya.
.
.
.
BRAK
Pintu auditorium terbuka—terrbanting cukup keras, membuat satu-satunya seseorang yang berada di dalam ruangan itu tersentak kaget.
Belum sempat menoleh sepenuhnya dan menyadari siapa sosok yang membanting pintu masuk auditorium, Sungmin malah kaget merasa dirinya diterjang oleh sosok tersebut. Sungmin mengerjapkan matanya. Sosok ini Kyuhyun! Dan ia sedang berada dalam pelukan laki-laki tersebut.
"K—Kyu?"
Kyuhyun melepas pelukannya dan dengan cepat meraih bahu Sungmin dengan kedua tangannya. Bertanya tergesa-gesa.
"A—apa yang terjadi? Kau terluka? Ada yang menyakitimu? Dimana yang sakit?" Kyuhyun berbicara terbata-bata tanpa memikirkan pola kalimatnya.
Sungmin mengerjapkan matanya bingung, dan beberapa detik keudian menyadari kesalahannya. "A—aku minta maaf." Sungmin menjawab.
"Ada apa Min? Katakan padaku!" Kyuhyun mulai meninggikan sedikit suaranya.
Bukannya menjawab Sungmin malah menatap topaz Kyuhyun dengan sirat ketakutan di dalamnya. Kyuhyun yang menyadari ia tadi telah membentak Sungmin dengan cepat meraih lagi Sungmin ke dalam pelukannya.
'Tahan air matamu Sungmin bodoh'—batin Sungmin.
Setengah bergetar, Sungmin mencoba menjawab pertanyaan Kyuhyun. "P—ponselnya mati, K—kyu"
"Lalu?" Kyuhyun menatap mata Sungmin dengan sirat kecemasan.
Sungmin melanjutkan. "A—aku belum selesai mengetiknya..." Sungmin berhenti "T—tapi malah terkirim"
Kyuhyun diam, sedikit-sedikit mencoba mencerna pernyataan Sungmin yang terputus-putus itu.
"A—aku tidak mengerti...ponselnya a—aneh" Sungmin menertawai miris dirinya yang sangat bodoh berkata seperti itu.
"Apa ada yang menyakitimu?" Kyuhyun menekankan setiap kalimatnya.
"Tidak, tidak ada K—kyu"
.
.
.
"Jangan-pernah-membuatku-hampir-mati-lagi-Cho Sungmin" Sungmin memejamkan matanya dan mengangguk kaku, Kyuhyun sepertinya marah, ia menekan setiap kata-katanya.
"A—aku benar-benar minta maaf."
Kyuhyun semakin mengeratkan pegangan tangannya pada jari-jari Sungmin di sepanjang koridor kampus yang sudah sepi menuju tempat parkiran mobilnya.
"Aku akan sangat senang bila kau menelefonku Min." Ujar Kyuhyun "Kumohon, hubungi aku kapanpun kau butuh bantuanku. Jangan pikirkan aku sedang sibuk atau tidak, hanya hubungi aku. Mengerti?"
"Ya, aku mengerti" Sungmin menjawab sambil menundukan kepalanya kembali ke bawah.
Kyuhyun meraih dagu Sungmin dan menarik tubuh gadis itu mendekat. Sekali lagi Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam dekapannya. Menyerah melihat mata Sungmin yang menyiratkan ketakutan itu.
"Jangan takut padaku, jangan membenciku, jangan alihkan pandanganmu dariku. Kumohon. Kau hidupku Sungmin" Ujar Kyuhyun dengan tulus dan terdengar lirih.
Dan Sungmin pun membalas pelukan Kyuhyun, merasa bahwa gugup dan rasa takutnya lenyap entah kemana.
.
.
.
Hari Minggu pagi Sungmin dan Kyuhyun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit tempat terapi Sungmin. Sungmin sih sudah siap, hanya tinggal menunggu Kyuhyun yang masih sibuk sedikit dengan beberapa pekerjaannya. Maka Sungmin memutuskan untuk membuat camilan pancake saja sambil menunggu Kyuhyun selesai.
TING
Sungmin yang mendengar bel rumah yang berbunyi segera saja melangkah mendekati pintu dan membukanya, merasa sedikit aneh kenapa tiba-tiba ada yang berkunjung ke rumah Kyuhyun pagi-pagi.
"Hai?"
"Erm...nuguseyo?" Ucap Sungmin tanpa memandang lawan bicaranya.
"Ah, kau pasti istrinya Kyuhyun kan? Aku manager perusahaannya. Lee Donghae, perkenalkan~" Donghae berujar ceria sambil menjulurkan tangan kanannya, bermaksud berjabat tangan dengan Sungmin.
Tapi karena Sungmin yang memang baru melihat Donghae, ia pun tak berani menjabat tangannya dan memilih menundukkan kepalanya dalam dalam sambil berujar "M—masuk saja ke dalam."
.
.
.
"Hari minggu pagi kau masih saja berkutat dengan laptop kesayanganmu itu Kyuhyun-ah" Ucap Donghae sembari mendudukkan dirinya di sofa besar ruang tamu Kyuhyun.
"Diam saja, kau bawa data-datanya kan?" Kata Kyuhyun menanggapi.
"Tentu tentu," Donghae menyerahkan beberapa lembar map dan menyerahkannya pada Kyuhyun. "Rumahmu bagus juga, tak seperti apartemenmu dulu yang seperti tempat bordil"
Kyuhyun terbatuk-batuk sengaja takut Sungmin yang saat itu menaruh minuman dan beberapa camilan di meja mendengar perkataan Donghae.
"Sungmin-ah, duduklah dulu disini?" Ujar Donghae menepuk ruang di sofa sebelahnya yang kosong.
"Jangan langsung sok akrab dengannya begitu Lee Donghae" Ujar Kyuhyun dingin. "Tak apa, duduklah di sampingku. Hm?" Kyuhyun berujar pada Sungmin dengan nada lembut yang sangat berbeda sambil tersenyum.
Sungmin pun mengkeret di sisi Kyuhyun—daripada di sebelah Donghae—pikir Sungmin.
.
.
Tawa Donghae tiba-tiba terdengar "Kau bisa apa tanpa aku, Kyu."
"Berisik, lakukan saja pekerjaanmu." Jawab Kyuhyun. Sungmin menatap Kyuhyun yang serius dengan laptop di depannya dengan tatapan bingung. Kyuhyun yang menyadari itu segera memalingkan tatapannya pada Sungmin.
"Ada beberapa urusan kantor yang belum kuselesaikan, dan Donghae disini untuk membantu." Kyuhyun menatap Sungmin yang mengangguk pelan dengan tersenyum dan mengalihkan pandangannya lagi ke laptop. "Setelah selesai baru kita berangkat, oke." Lanjut Kyuhyun.
Hening sebentar. Mereka sangat serius sepertinya—batin Sungmin. Donghae yang memang tak nyaman dengan keheningan, dengar segera memecah suasana itu dengan berujar tiba-tiba.
"Kyuhyun itu tak bisa melakukan apapun tanpaku, Sungmin-ssi." Ujar Donghae bernada formal.
Kyuhyun mencibir "Dia mengarang bebas."
Donghae tertawa. "Aku benar kok." Donghae melanjutkan. Sungmin yang merasa aneh kenapa dua laki-laki itu dapat mengerjakan pekerjaan kantor sambil ngobrol sih hanya mendengarkan saja. "Saat sekolah menengah pertama saja dia masih butuh bantuanku untuk mengikat sepatu." Ujar Donghae.
Kyuhyun menatap Donghae garang. "Aku dapat melakukannya seminggu setelah itu."
Donghae mecibir—gantian "Kau bahkan tidak hafal nomor jaminan sosialmu" Lanjut Donghae.
Sungmin menatap Kyuhyun yang memberikan jeda sebentar pada obrolan mereka berdua, sebelum menjawab "Lima."
Donghae terbahak-bahak. "Ya, kau benar. Hanya kehilangan 13 digit lainnya."
Sungmin mengulum senyum malu-malunya, demi tuhan Kyuhyun lucu sekali! Sungmin menunduk takut kalau-kalau Kyuhyun atau Donghae dapat melihatnya.
Beberapa menit kemudian Kyuhyun dan Donghae menyelesaikan pekerjaannya dan berbasa-basi sebentar, setelah itu Donghae pamit pulang. Kyuhyun dan Sungmin pun ikut menuju keluar rumah dan mengatakan alasannya pada Donghae bahwa mereka ada janji dengan seorang dokter hari ini. Donghae sih 'iya iya' saja, lebih tepatnya tak mau tahu.
Setelah memasuki mobil masing-masing, mereka saling melambaikan tangan dan berpisah di persimpangan jalan.
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu beberapa hari ini, hm?" Dokter Kim—seorang wanita cantik dan pintar—bertanya lembut pada Sungmin yang kini duduk rileks di ruangan prakterknya.
"Aku baik-baik saja. Benar-benar baik."
Kyuhyun berada diluar, beralasan ingin mencari udara segar. Padahal sebenarnya Kyuhyun hanya ingin memberi privasi pada mereka berdua—Dokter Kim dan Sungmin.
Dokter Kim memandang gadis mungil di depannya dengan tersenyum. "Aku tahu kau sekarang pasti sudah merasa nyaman berada di dekat Kyuhyun."
Sungmin mengangguk dengan semangat. "Ya, Kyuhyun sangat—sangat—eurm" Sungmin bingung mengekspresikan perasaannya selama satu minggu ini. Ya, satu minggu yang menyenangkan buatnya.
"Aku tahu, aku tahu. Kyuhyun pasti memperlakukanmu dengan sangat baik bukan. Dia anak yang hebat."
Sungmin tersenyum tulus. "Kyuhyun sangat melindungiku."
"Mau menceritakannya, eum?"
Hampir dua puluh menit Sungmin berbicara pada Dokter Kim. Mendengarkan Sungmin menceritakan Kyuhyunnya dengan semangat, membuat Dokter Kim senang, 'Aku berhasil. Kyuhyun-ah' batin Dokter Kim.
Sungmin menyelesaikan ceritanya tepat saat Kyuhyun kembali, ia berujar "Lanjutkan saja. Aku tidak akan mendengar." lalu tertawa.
Sungmin tersenyum menatap Kyuhyun yang mengambil posisi berbaring di sofa ruangan Dokter Kim. Sampai Dokter Kim melanjutkan obrolan mereka.
"Apakah hanya pada Kyuhyun?" Dokter Kim bertanya. "Laki-laki lain? Hm?"
Sungmin mengangguk mengiyakan. "Dan pada Kyuhyun itu belum sepenuhnya Dokter Kim. Aku masih gugup kok di depannya."
"Tak apa, ini perkembangan hebat kau tahu." Ujar Dokter Kim. "Kejadian sepuluh tahun yang lalu—"
Sungmin memotong "A—aku tidak ingin membahasnya Dokter Kim, bisakah?"
Dokter Kim tersenyum menanggapinya. Ia tak ingin mengganggu Sungmin yang menunjukan perkembangan bagus hari ini.
Setelah memberi penjelasan pada Kyuhyun sebentar mengenai keadaan Sungmin yang sekarang. Dokter Kim memberikan beberapa wejangan agar Kyuhyun tak akan membahas masalah-masalah kejadian sepuluh tahun itu. Kyuhyun tentu saja setuju. Ia ingin menunggu Sungmin yang menceritakannya.
Setelah semua beres, Kyuhyun dan Sungmin pun akhirnya pamit pulang. Memasuki mobil dan berencana menghabiskan waktu Minggu nya dengan seharian berdiam diri dirumah.
.
.
.
.
"Cho Sungmin. Kau pasti sudah tahu kan kenapa aku panggil?" Sungmin mengangguk kaku di hadapan Ibu Park, seorang Dosen bidang study bahasa inggrisnya. Sungmin sedang berada di dalam ruangan Ibu Park sekarang.
"Cho Sungmin, kau—" Ibu Park menghela nafasnya sebentar. "Nilai bahasa inggrismu tak mengalami peningkatan sampai sekarang. Aku sampai hampir menangis melihatnya. Kau tahu jurusan seni juga membutuhkan keahlian bahasa inggris, nyonya Cho."
Sungmin mendengarkan dengan patuh. Ibu Park lebih terlihat seperti seorang diktator dibandingkan seorang dosen. Sungmin jadi meringis mengetahui alasan mengapa pelajaran bahasa inggris tak pernah mampu masuk otaknya.
"Tahu terjemahannya saja tak cukup, Sungmin-ssi. Kau harus mengerti pola kalimatnya." Ibu Park melanjutkan.
"Maafkan saya, saya memang kurang mengerti." Sungmin berpikir tak ada gunanya berdebat.
"Hari senin, selasa, dan kamis kau ada pelajaran tambahan denganku setelah kelasmu selesai. Mengerti?" kata Ibu Park final.
Sungmin mengerjapkan matanya bingung. Ia ingin menolak, memangnya ia anak SMA yang harus diberi pelajaran tambahan? Tapi mengetahui Ibu Park meluangkan waktu untuknya, Sungmin jadi tak enak. Ia pun menjawab "Ya, saya mengerti."
"Targetnya nilai bahasa inggrismu semester depan adalah 3.9 saja. Kau boleh pergi."
Dan Sungmin pun melongo.
.
.
.
"Apa perutmu tidak sakit makan jerus sebanyak itu, Sungmin-ah?"
Sungmin menggeleng mendengar pertanyaan Eunhyuk yang sekarang tengah berada dirumah Kyuhyun yang sepi. Ya—Sungmin masih menyebut ini adalah rumah Kyuhyun, bukan rumahnya.
"Aku tak percaya akan melewatkan musim panas dengan buku pelajaran tambahan bahasa inggris, Hyukie-ya." Sungmin meringis sambil tetap memakan jeruk yang telah dikupasnya.
Eunhyuk tertawa "Orang yang mengikuti pelajaran tambahan adalah bodoh. " Ejek Eunhyuk.
"Kyuhyun pintar dalam pelajaran bahasa inggris kok. Kau bisa meminta bantuan padanya."
Sungmin memberi jeda sebentar sebelum menjawab. "Ya, mungkin. Kapan-kapan"
"Kau memang membuat orang menangis melihat nilaimu itu. Bagaimana kau bisa maju ke semester berikutnya, huh?" Ujar Eunhyuk tega.
Sungmin merasakan matanya telah berkaca-kaca sekarang "Jangan mengejekku terus." Sungmin memandang Eunhyuk dengan memelas.
Eunhyuk pun tertawa lagi dan membawa Sungmin ke dalam pelukannya.
.
.
.
"L-laut? Sekarang?" Suara Sungmin terdengar di hari Sabtu pagi itu di rumah besar Kyuhyun.
"Ya, sekarang musim panas kan?" Tanya Kyuhyun mengusap lembut helai rambut Sungmin. "Akan menyenangkan jika kita pergi kesana."
"K—kyu tidak ke kantor?" Tanya Sungmin tidak sinkron.
Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum menatap Sungmin.
"A—aah tapi" Jeda Sungmin.
Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kau tak suka laut?"
"B—bukan begitu. Aku suka, bahkan sangat menyukainya." Sungmin ingin menangis saja saat mengatakannya. Ia akan dengan cepat mengatakan 'Ya' jika saja tugas-tugas pemberian Ibu Park selama musim panas ini tak menghantuinya.
"Sebenarnya aku tidak peduli dimana tempatnya." Ujar Kyuhyun "Hanya saja aku ingin menghabiskan waktu yang banyak bersama denganmu, Min."
Sungmin tak tahan lagi! Tiba-tiba dengan deras air matanya mengalir melihat wajah tampan Kyuhyun yang sangat tulus mengatakan hal tadi.
"A—aku" Sungmin tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Kyuhyun panik! Kenapa Sungmin tiba-tiba menangis? Entah sudah berapa pertanyaan yang Kyuhyun keluarkan sambil mengusap lelehan air mata Sungmin yang mengalir, tapi Sungmin tetap menangis.
Sungmin yang tidak sanggup melihat raut muka Kyuhyun yang panik pun mencoba berbicara pelan-pelan. "Ibu Park memberiku pelajaran tambahan hiks." Ujar Sungmin akhirnya.
.
.
.
"Kau tak bisa menggunakan sebuah kata infinitif setelah preposisi, gerund adalah kata benda sehingga kau tidak bisa menggunakan itu." Ujar Kyuhyun perhatian.
Jeda sebentar "Ini pelajaran SMA bukan?" Kyuhyun mengerutkan kening.
"Beberapa kata verbs 'v-ing dan to-v memiliki arti yang berbeda. misalnya, remember, forget, dan lain-lain." Lanjut Kyuhyun menjelaskan.
Sungmin belum menanggapi satupun kalimat yang Kyuhyun ucapkan. Sampai akhirnya.
"K—kyu, kenapa—" Suara Sungmin yang mencicit pelan terdengar. "Kenapa harus dekat-dekat seperti ini?"
Sumpah Sungmin tak medengar apapun penjelasan dari Kyuhyun tadi. Sungmin hanya terpaku pada posisinya dengan Kyuhyun saat ini, Kyuhyun mengurung Sungmin dalam pelukannya dengan sebuah buku di hadapan mereka. Mereka belajar di depan ruang televisi. Tidak ada sofa ataupun meja. Hanya sebuah karpet tebal mahal yang menjadi alasnya.
"Apa kau merasa tidak nyaman, hm?" Tanya Kyuhyun. Sungmin diam tidak menjawab. "Aku akan menjauh kalau begitu." Lanjut Kyuhyun sambil tersenyum.
"Tidak, tidak apa-apa." Sungmin menahan lengan Kyuhyun dan menatap mata topaz Kyuhyun yang berada di belakangnya. "Aku harus terbiasa denganmu, Kyu."
Kyuhyun merutuki dirinya sendiri yang ternyata tidak dapat menahan diri melihat wajah Sungmin yang berada dekat dihadapannya. Dan bibir M-shape menggoda itu benar-benar menarik dirinya dari dunia nyata.
Kyuhyun mengusap pipi Sungmin dengan tangannya yang bebas, dan tak sadar bahwa tangannya kini sudah beralih pada tengkuk Sungmin. Mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi pada wajah Sungmin. Dekat—sangat dekat. Hampir.
Sungmin mengalihkan wajahnya tiba-tiba dan membuat Kyuhyun melepaskan tangannya dari tengkuk Sungmin. "M—maaf, Kyu." Ujar Sungmin
Kyuhyun tersenyum mengerti dan memeluk tubuh Sungmin dari belakang lagi. Mengecup pipi Sungmin sekilas sambil mengatakan "Aku akan sangat menunggu saat-saat kita dapat berciuman."
Sungmin menoleh ke samping melihat wajah Kyuhyun yang tersenyum sangat hangat padanya.
"Aku—' Ujar Sungmin "Aku pasti akan berusaha, Kyu."
.
.
.
TBC
Maaf, masih belum panjang ya? T_T
Maaf cuma bisa ngasih segini, gatau masih ada yang mau baca atau engga. Nggak papa, namanya juga usaha /?
Iya! Di fic ini banyak banget scene yang ku ambil dari miss pesimis nya alia zalea, saya lupa nyantuminnya :((
Rencananya fic ini gamau ada konfliknya, pengennya yang manis manis aja. Tapi diusahain ch depan ada konfliknya deh.
Thanks buat yang udah baca. /kayaknya gabakal ada yang baca lagi sekarang/
RnR?
