"Bukankah akan menyenangkan jika keluar saat musim panas seperti ini?" Eunhyuk berujar seraya membuka kantong belajaan yang berada di lengannya.
Sebelum Sungmin sempat menjawab, tiba-tiba Eunhyuk mengernyit memandang Sungmin yang berada di hadapannya. "Eh—aku yakin tadi tidak membeli jeruk sebanyak ini?" Lanjut Eunhyuk.
"Itu punyaku Hyukie-ya." Jawab Sungmin lalu menghela nafas berat. "Aku bukannya tidak ingin keluar. Hanya saja—tugas-tugas dari Ibu Park…" Sungmin tidak melanjutkan kalimatnya saat menyadari air mata sudah menggenangi pelupuk matanya. Padahal Sungmin sudah berjanji tidak ingin menangis hanya karena hal ini lagi! "Padahal Kyuhyun…" mulai terdengar nada terisak dalam suara Sungmin.
"Hey hey, tenanglah…kau masih mempunyai waktu saat musim dingin nanti." Ujar Eunhyuk "Aku yakin Kyuhyun akan mengajakmu ke pantai."
Dengan alis sebelah yang terangkat dengan lengan yang masih mengusap lelehan matanya Sungmin mengerjap bingung saat mencerna perkataan Eunhyuk tadi. "Pantai? Saat musim dingin?" Ujar Sungmin bingung.
"Ya, Kyuhyun itu kuno. Dia sangat menyukai laut saat musim dingin." Sungmin mendengarkan dengan cermat hal tersebut dan dengan hati-hati disimpan dalam memorinya. "Kyuhyun pernah bilang, saat salju nanti turun, lapisannya pasti akan tebal. Dia akan menyuruhmu memakai pakaian tebal tapi jangan membawa sarung tangan."
"Eh? Kenapa?" Sungmin mengernyit.
"Supaya dia mempunyai alasan untuk menggenggam tanganmu, bodoh." Ujar sekaligus ejek sadis Eunhyuk pada Sungmin.
.
.
.
.
TUK
TUK
TUK
"YA! Apa yang kau lakukan?! Ini sakit, bodoh!"
"Keluar dari ruanganku, kau berisik Lee Donghae"
Dahi Donghae mengernyit kesal saat mengetahui benda yang dilempar ke kepalanya tadi adalah pulpen.
"Kau punya ruangan sendiri, hyung. Keluarlah" Ujar Kyuhyun.
"Memangnya aku mengganggumu dalam hal apa?" tanya Donghae "Sial, pulpen tadi sakit sekali"
"Pokoknya kau berisik! Keluar saja!"
Kyuhyun—beberapa saat yang lalu sedang berkutat dengan berkas-berkas perusahannya yang harus diselesaikan.
Sampai Donghae yang sejak tadi berada dalam ruangannya mulai meracau tidak jelas dengan apapun-itu-yang-sedang-dikerjakannya.
Setelah Donghae sudah kembali diam sambil masih meringis sakit, Kyuhyun pun melanjutkan perkejaannya.
"Ya, Cho Kyuhyun. Soal istrimu itu..."
"Apa?"
"Hmm, ini hipotesa yang tak penting sih. Tapi aku hanya ingin menyampaikannya saja padamu."
"Lalu?"
"Mungkin trauma yang dialami Sungmin adalah trauma yang dibuat oleh salah satu kerabat keluarganya sendiri." Ujar Donghae bermonolog. Kyuhyun mendengarkan dengan pasti. "Mungkin oleh kakaknya, atau ibunya, atau mungkin juga itu adalah ayahnya."
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, hyung?"
"Apa lagi memangnya? Kau mengetahui tentang keluarganya saja belum pernah."
Kyuhyun mengerjapkan matanya dan memijit dahinya bingung.
"Entahlah, hyung." Kata Kyuhyun "Aku tidak ingin mengetahui informasi itu dengan paksa. Aku ingin Sungmin-lah yang menceritakan sendiri mengenai kehidupannya sebelum bertemu denganku."
"Terserahmu sajalah. Padahal aku bisa membantumu mencari informasinya, lho."
"Tak perlu, hyung." Ujar Kyuhyun cepat.
Setelah pembicaraan selesai, Donghae dan Kyuhyun melanjutkan pekerjaannya masing-masing dalam keheningan.
.
.
.
.
Sungmin mencoba untuk mengerjakan beberapa soal yang diberikan oleh Ibu Park di perpustakaan, tidak biasanya ia bisa sendirian saat berada di kampus karena Eunhyuk seharusnya menemani Sungmin, tapi Sungmin bilang ia bisa sendiri kok. Lagipula Eunhyuk juga mempunyai urusan yang harus ia selesaikan.
"Aku tahu aku tak bisa menyelesaikan ini tanpa Kyuhyun..." Sungmin mengacak-acak rambutnya yang memang ia ikat asal saat ke kampus tadi pagi. "Bagaimana aku bisa melewati tes nya?!"
Sungmin menggerutu dengan bisikan pelan yang hanya bisa terdengar olehnya, Sungmin tahu ia sedang berada di perpustakaan dan itu berarti tidak boleh berisik. Tapi raut frustasi nya membuat seseorang tertarik untuk mendekati dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu.
"Butuh bantuan?"
"Eh J—Jungmo?" Ujar Sungmin kalut.
"Kulihat sepertinya kau sedikit kebingungan." Jungmin menyeret bangku pelan dan menaruhnya di samping Sungmin sambil melirik buku yang sedang Sungmin pegang. "Bahasa Inggris, huh? Aku rasa aku bisa membantumu, Min."
APA? Apa katanya?
MIN?
MIN?
Sejak kapan dia berani memanggilku begitu! Batin Sungmin kalap.
"A—aku baik-baik saja." Sungmin menundukkan kepalanya dan dengan cepat membereskan buku-buku yang berada di mejanya. "A—aku pergi." Dengan langkah yang tak bisa dibilang pelan, Sungmin pun pergi menjauhi Jungmo.
.
.
.
"Kyuhyun, kau tidak lupa kan?" Donghae yang masih berada di ruangan kantor Kyuhyun akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
"Kali ini dalam hal apa?" Jawab Kyuhyun.
Donghae menghela napasnya sebentar. "Kakakmu."
Mata Kyuhyun seketika langsung melebar saat menyadari hal yang dilupakannya. "Jam berapa sekarang?!"
"3 sore" Jawab Donghae.
Kyuhyun menepuk dahinya kencang dan segera beranjak membereskan apapun yang memang penting untuk dibawanya "Bodoh! Katakan dari tadi!"
Donghae hanya mengangkat bahu tidak peduli dan melanjutkan pekerjaannya, menghiraukan suara grasak grusuk yang ditimbulkan oleh Kyuhyun.
"Aku pergi hyung!"
.
.
.
'Sayang, aku tidak tahu apa kau sedang ada kelas atau tidak. Tapi aku akan menjemputmu sekarang, ada hal yang sangat penting. Akan ku jelaskan setelah sampai. Aku mencintaimu."
Itulah isi pesan Kyuhyun yang sampai ke ponsel Sungmin, jadi tanpa membuang waktu, Sungmin pun melangkahkan kakiknya menuju gerbang kampus, dimana ia biasa menunggu Kyuhyun.
Masa bodoh soal Jungmo tadi! Jangankan diajarkan olehnya, dia mendekat saja Sungmin sudah merinding. Acara pingsan saat tes darah itu tidak masuk hitungan. Sungmin bodoh!—rutuk Sungmin dalam hati.
.
.
.
"Kakak perempuan yang pernah kuceritakan, hari ini pulang ke Korea, Min." Kyuhyun menjelaskan pelan-pelan saat mereka tengah berada di dalam mobil. "Bandara pasti akan sangat ramai. Jadi jangan jauh-jauh dariku, ya." Lanjut Kyuhyun.
Sungmin mengangguk antusias sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil Kyuhyun. Ini kali pertama Sungmin ke bandara! Walaupun Sungmin tahu, bandara hanyalah seperti tempat perhentian bus di Seoul yang biasa ia naiki. Tapi tetap saja ini kali pertamanya! Sungmin senang—tentu.
Kakak perempuan Kyuhyun yang Sungmin dengar dari Kyuhyun sendiri itu bernama Cho Ahra. Kyuhyun memanggilnya 'noona'. Dari cerita Kyuhyun, Sungmin mengetahui bahwa Cho Ahra menetap di Jerman sana untuk belajar.
Sungmin baru menyadari jika Cho Ahra datang dalam pernikahannya dengan Kyuhyun, walaupun hanya datang menyapa sebentar, tapi Sungmin pernah melihatnya. Kyuhyun pun mengatakan, dia melangkahi kakak perempuannya dalam soal pernikahan. Padahal Cho Ahra sangat cantik—pikir Sungmin.
Ketikasampai di bandara, Kyuhyun melepas seatbelt Sungmin dan membuka pintu mobil Sungmin—menggandengnya keluar. "Tunggu sebentar." Kyuhyun kembali masuk ke mobil dan mengambil salah satu topi baseball yang memang ada di dalam mobilnya.
Dengan sedikit merapikan rambut Sungmin yang agak acak-acakan, Kyuhyun memakaikan topi tersebut dan menyingkirkan sedikit poni yang menghalangi pandangan Sungmin. "Ikat saja rambutmu, hanya di depanku kamu boleh mengurai rambutmu, Min." Kyuhyun menatap Sungmin dengan intens dan memberikan senyum hangat padanya.
Sungmin pun balas tersenyum dan setelahnya ia mengerjapkan mata bingung ketika Kyuhyun melepas jas kerja hitam mahalnya dan menyampirkannya di bahu Sungmin. "Pakai ini, sayang." Ujar Kyuhyun, dan Sungmin pun mematuhinya. "Jangan lepaskan genggamanku, ya."
Ini bukan kali pertama Kyuhyun mengajak Sungmin ke tempat yang ramai. Hanya saja... ya hanya saja Kyuhyun bisa dibilang sedikit phobia jika Sungmin-nya akan-kenapa-kenapa di tempat ramai itu.
Bagi Kyuhyun, sebisanya ia harus melindungi Sungmin dari laki-laki yang tak sengaja akan menyentuh Sungmin-nya. Dan sebisa mungkin menjauhkan Sungmin dari semua laki-laki yang menatapnya.
"K—kyu bagaimana caranya kita tahu Ahra eonni berada dimana?" Tanya Sungmin ingin tahu.
Kyuhyun mempererat genggaman lengannya dan tersenyum menatap Sungmin "Tetap berada di sampingku."
.
.
.
Yup, untuk kedua kalinya Sungmin melihat Ahra—noonanya Kyuhyun. Tubuhnya indah, seperti yang dapat kalian lihat di sampul majalah fashion edisi pakaian mewah, sosok yang membuat setiap perempuan di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Rambutnya keemasan, tergerai lembut di punggung. Dan wajahnya—benar-benar mirip Kyuhyun!
Lama Sungmin mengagumi Cho Ahra, sampai ia tak menyadari jika sekarang Cho Ahra sedang memeluk erat tubuh mungil Sungmin. Membawanya berputar-putar dan pelukannya semakin mengerat. "A—aah aku benar-benar merindukan adikku ini!"
Kyuhyun memutar bola matanya sebal dan mencoba melepaskan pelukan sang noona pada istrinya. "Ya, noona! Dia tidak bisa bernafas tahu."
"Yah! Kau ini berlebihan sekali!" Ahra segera melepaskan pelukannya dan berganti merangkul tubuh Sungmin. "Kau menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan hal-hal yang tidak penting dan membuatnya menjadi seperti teroris bandara! Untuk apa memakaikannya topi, bodoh!" Ujar Ahra sambil memukuli kepala Kyuhyun berkali-kali.
"Noona! Berhenti memukulku!"
Sungmin tertawa melihat tingkah kakak beradik itu. Ahra sepertinya mewakili sifat humoris Kyuhyun.
.
.
.
.
"Untuk apa kau kembali ke Korea? Masih ingat kota kelahiranmu ternyata, huh?" Kata Kyuhun sadis.
Mereka bertiga sekarang tengah berada di salah satu restoran mewah sebuah mall. Mengobrol sambil melihat-lihat menu makanan yang ada. Sungmin duduk di sebelah Ahra dengan Kyuhyun di depannya.
"Sungmin-ah kau mau makan apa?" Tanya Ahra menghiraukan pertanyaan Kyuhyun barusan.
"Aku sama saja denganmu, eonni." Jawab Sungmin tanpa ragu-ragu. Kedua kakak beradik ini benar-benar membuat Sungmin merasa nyaman di dekat mereka.
"Baiklah. Hm, haruskah aku mencoba fried rice?" Kyuhyun mendelik kesal menatap noona-nya yang tidak menjawab pertanyaannya tadi. "Aku belum pernah mencobanya." Lanjut Ahra, dan Sungmin pun hanya bisa mengulum senyum menatap wajah cemberut Kyuhyun.
"Excuse me. Two fried rice and black bean noodles, please!" Ujar Ahra pada pelayan yang berada agak jauh di depannya.
"Kau tahu aku tidak suka—"
"Apa yang kau mau?" Tanya Ahra memotong ucapan Kyuhyun.
"Aku mau sup ikan." Ujar Kyuhyun.
Ahra tersenyum sebelum kembali sedikit berteriak "Dan tiga apricot orange tea, please~"
"Ya baiklah terserah, lakukan saja apa yang kau mau. Terserah saja." Pasrah Kyuhyun.
Hidup dengan Kyuhyun selama beberapa bulan ini membuat Sungmin tahu jika Kyuhyun tak suka dengan sesuatu yang bernama 'bean' itu. Biasanya saat mereka makan berdua, Kyuhyun akan menyingkirkan sang 'bean' dan menaruhnya di piring Sungmin.
"Asal kau tahu aku kembali ke Korea untuk melihat Sungmin, bukan kau!" Ujar Ahra.
"Terserahmu saja, terserah." Tanggap Kyuhyun "Kemarikan kedua tanganmu, Min." Sungmin hanya menuruti, dan menjulurkan kedua lengannya pada Kyuhyun yang ternyata hampir setengah lengan Sungmin tenggelam di jas hitam Kyuhyun. "Kuberitahu, akan sulit bagimu menikah jika kau terlalu tua, noona." Sungmin tidak berani untuk mengikuti atau menyanggah obrolan mereka, ia hanya memperhatikan Kyuhyun yang sangat perhatian meggulung jas hitamnya pada Sungmin sampai sebatas siku.
"Aku bisa serahkan pada adikku yang tampan ini mengenai jodohku." Ujar Ahra mengacak-acak kasar rambut Kyuhyun. "Ini mall apa? Sepertinya aku baru pertama kali kesini. Mewahnya~"
Pelayan datang membawa pesanan mereka dan mereka pun menghentikan obrolan sementara untuk mencicipi hidangan yang di sajikan.
Kyuhyun dengan cepat menyingkirkan benda yang bernama 'bean' itu satu persatu ke piring Sungmin, dan melanjutkan pembicaraan. "Namanya COEX mall. Ini mall yang kubeli beberapa hari yang lalu." Ujar Kyuhyun enteng.
"Oh, jadi seperti ini pekerjaanmu ya." Ujar Ahra sambil mengulum senyum memperhatikan Sungmin yang dengan lahap memakan fried rice pesanannya.
Kyuhyun seperti biasa, mengusap pelan sisi wajah Sungmin yang sedikit banyak terkena saus—membersihkannya "Aku baru sekali beli mall. Dulu Appa bisa beberapa kali melakukannya, tapi belakangan ini tidak lagi. Mall bukan kacang goreng, noona."
"Kuharap kau bisa membeli Lotte World. I love that place" Ujar Ahra.
Kyuhyun mendelik kesal melirik kakaknya "Jangan ngawur."
Dan mereka pun melanjutkan acara makan di sore menjelang malamnya dengan Sungmin yang masih terus mengulum senyum dan beberapa kali tertawa mendengar ocehan humoris dari kedua kakak beradik itu.
.
.
.
"Hari ini menginap saja di apartemenku. Lebih baik setidaknya daripada kau sendirian, noona." Kata Kyuhyun memecah keheningan saat mereka tengah berada dalam mobil SUV milik Kyuhyun.
"Tidak, aku akan menengok rumahku terlebih dahulu." Kata Ahra "Kecuali kau mengizinkan Sungmin yang menginap di rumahku malam ini."
"Tidak" Jawab Kyuhyun cepat.
Sungmin tidak terlalu ambil pusing mengenai perdebatan yang terjadi di antara mereka—memperebutkan dirinya. Yang ada dalam pikirannya adalah terserah mau tidur dimana, toh kedua Cho bersaudara ini dapat membuatnya nyaman.
Setelah sampai dirumah Ahra, Kyuhyun dan Sungmin sepakat untuk singgah sebentar di rumahnya—Kyuhyun saja sih sebenarnya.
Sungmin yang baru pertama kali melihat rumah Ahra pun hanya bisa menganga lebar, dan beberapa pertanyaan pun memenuhi kepalanya. Untuk apa tinggal di luar negeri jika mempunyai rumah semegah ini di Korea?
"Rumahku ada yang menjaganya kok, Sungmin-ah. Jadi tidak seperti rumah hantu." Ahra tertawa saat salah mengartikan wajah terperangah Sungmin.
"E—eh?" Sungmin baru akan menanggapi perkataan Ahra saat merasakan lengan Kyuhyun menyeret nya dengan lembut memasuki gerbang rumah Cho Ahra.
Rumahnya terlihat sangat hangat, sepertinya orang yang dititipi rumah ini oleh Ahra dapat menjaganya dengan baik.
Sungmin melihat ruang garasi Ahra yang dibiarkan terbuka dan memperlihatkan sebuah mobil Jeep yang terparkir disana. Punya siapa? Apakah yang mengurus rumah ini adalah seorang laki-laki?
.
.
.
.
"Paman Lee! Aku merindukanmu!" Ujar Ahra sembari memeluk seorang lelaki yang sudah berumur di depannya. "Apa kau menjaga rumah ini dengan baik?" Lanjut Ahra sambil tertawa.
"Tentu saja, Nona. Aku menjaganya dengan baik, kau bisa melihatnya sendiri kan?" Orang yang diketahui bernama Paman Lee itu juga membalas pertanyaan Ahra dengan tawa.
"Kenalkan ini Cho Kyuhyun, Paman Lee." Kata Ahra seraya menunjuk Kyuhyun, Kyuhyun pun dengan cepat mengulurkan lengan kanannya dan menjabat tangan Paman Lee.
"Oh! Ini adik tampan yang sering Ahra ceritakan." Kata Paman Lee tertawa "Aku jadi seperti sudah mengenal dekat denganmu saja." lanjut Paman Lee
"Ya, adik yang tampan, iya kan noona?" Ujar Kyuhyun melirik Ahra.
Paman Lee menyadari seorang perempuan yang berada di sisi Kyuhyun belum mengenalkan dirinya. "Ah, dan ini? Tentu istri Tuan Cho bukan?" Tanya Paman Lee.
"Ya. Ini adalah Cho Sungmin. Bukankah dia sangat manis, hm?" Jawab sekaligus tanya Ahra.
"Tentu tentu! Sangat cantik." Kata Paman Lee seraya mengulurkan tangannya berniat untuk menjabat Sungmin. Tapi beberapa detik setelah itu, Sungmin dengan cepat melepaskan genggaman Kyuhyun dan beringsut di belakang Kyuhyun, mengerat serta meremas lengan kemeja Kyuhyun sambil menggeleng takut. Kyuhyun dapat merasakan itu, Sungmin tahu.
Kyuhyun pun memberikan senyum maklum pada Paman Lee dan segera berbalik memeluk Sungmin yang sedikit ketakutan itu, membawanya menjauh dari Paman Lee, dan Ahra yang memang sudah tahu dengan segera membalas uluran tangan Paman Lee.
"Paman, bantu aku membawa barang-barangku ya?"
Dan Paman Lee tanpa banyak bicara segera bergegas mengikuti kemana Ahra menuntunnya sambil memberikan senyum rindu yang mendalam pada anak sulung keluarga Cho itu.
.
.
.
"Sayang? Kau baik-baik saja?" Tanya Kyuhyun yang saat itu masih memeluk Sungmin sambil mengelus pucuk kepalanya.
Sungmin mengangguk dalam diam tanpa membalas pelukan Kyuhyun. Merasa nyaman bukan berarti dapat dengan mudah membalas perlakuan lembut Kyuhyun, Sungmin masih belum bisa terbiasa, itu saja.
Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menundukkan dirinya dan Sungmin di sofa rumah Ahra.
"Paman Lee adalah orang terpercaya keluarga kami, saat kami masih tinggal bersama-sama di Seoul." Kata Kyuhyun menjelaskan "Paman Lee adalah orang yang sangat baik."
"M—maafkan aku, Kyu."
"Tidak, tidak apa-apa." Jawab Kyuhyun cepat "Apa kau mau minum? Kau menginginkan sesuatu?"
Sungmin menggelengkan kepalanya cepat, tak ingin terlihat merepotkan.
Kyuhyun menghela nafas "Hm. Tunggu disini sebentar."
Kyuhyun berjalan ke arah dapur rumah Ahra yang sudah sangat ia hafal, karena ia pernah tinggal lama dirumah ini bersama Ahra ketika kedua orang tuanya sibuk di luar negeri.
Sungmin memerhatikan ruang tamu Ahra yang berdesain minimalis, ada banyak foto-foto tergantung di dinding warna soft itu. Tetapi jarang sekali berisi foto Ahra atau Kyuhyun ataupun keluarganya, kebanyakan hampir seluruh foto yang tergantung berisi gambar tempat-tempat yang mungkin gadis itu—Ahra pernah kunjungi.
Kyuhyun datang setelah Sungmin selesai memerhatikan ruang tamu elegan milik Ahra. Sungmin melihat Kyuhyun membawa sebuah bungkusan yang belum ia ketahui apa isinya itu. "Ahra noona selalu mempunyai persedian buah jeruk yang lumayan banyak." Ujar Kyuhyun "Jadi kurasa kau harus mencicipinya. Jeruk-jeruk ini beda dari yang lain, sayang." Lanjut Kyuhyun.
Sungmin dengan mata berbinar-binarnya menunggu Kyuhyun membuka bungkusan itu dan menyodorkan jeruk-jeruk itu pada Sungmin. Sungmin pun tanpa menunggu lama lagi, ia segera mengupas satu persatu jeruknya dan memakannya perlahan.
Kyuhyun tersenyum puas sekaligus senang mengetahui mood Sungmin dapat cepat kembali membaik setelah bertemu dengan Jeruk.
"Kyu. Apa kau mau?" Tanya Sungmin yang hampir terdengar seperti bisikkan, tapi Kyuhyun dapat mendengar itu.
"Tidak. Habiskanlah, sayang." Jawab Kyuhyun sambil mengelus pipi Sungmin.
.
.
.
.
Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangannya dan menyadari sudah pukul 10 malam, jadi tidak aneh jika seseorang yang sangat dicintainya itu kini telah berada di alam mimpi. Kyuhyun tersenyum melihat Sungmin yang tertidur pulas dalam perjalanan pulang mereka dari rumah Ahra.
Kyuhyun segera meraih Sungmin ke dalam pelukannya, menggendongnya dengan sayang menuju apartemen mereka.
Kyuhyun membaringkan tubuh mungil Sungmin dan membuka satu persatu barang yang dapat mengganggu tidur Sungmin-nya. Lalu Kyuhyun ikut berbaring di sebelah Sungmin, memeluknya dan mengecup dahi Sungmin.
'Mungkin satu kecupan di bibir tidak akan membuatnya bangun'
Kalian tahu apa yang akan terjadi bukan?
Dan Kyuhyun pun dapat tertidur sangat nyenyak malam itu.
TBC
Maaf untuk update yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaat telat ini. Karena traumatic yang lebih mendapat banyak respon, jadi saya memutuskan untuk melanjutkan traumatic dulu, maaaaf :((
haruskah ada flashback? saya sendiri kalau baca ff paling males baca flashback /plak/
kalau nanti ada ch khusus flashback adakah yg mau membaca?
saya sebenernya pingin flashback sedikit dikit aja, tapi bikin bingung ya? aah maaf :(
Apakah masih ada yang membaca?
RnR?
