Tittle : Marvellous Target

Author : Taraufi Cho

Rating : T to M ! Watch Out!

Genre : Romance, action

Pairing : KyuMin only (Genderswitch)

Disclaimer : Mereka milik orang tua masing-masing, tapi story ini milik Tara. Tapi kalo mau nge-bash cukup bash tulisan Tara aja, jangan pair-nya okay? (^^)b

Check This Out !

.

.

.

~ Marvellous Target ~

.

.

Sungmin's Apartement

Oct 13TH 12

08.15 AM

.

Sepasang kaki jenjang itu terlihat berlari-lari kecil diatas sebuah mesin Treadmill. Buliran-buliran keringat keluar secara perlahan-lahan dari pori-pori kulit gadis mungil tersebut yang membuat Hoodie big size berwarna pink itu terlihat sedikit basah. Nafasnya yang memburu tak karuan, serta detak jantungnya yang berdetak dalam tempo yang cukup cepat itu sepertinya tidak mengganggunya sama sekali. Terbukti dengan senandung kecil yang keluar dari mulutnya, mengikuti alunan melodi yang mengalun dari benda melengkung yang terdapat spons di bagian kanan dan kirinya yang kini tersambung dengan IPod berwarna pink yang berada disaku sebelah kanan hoodie-nya.

Ucapan namja bernama Marcus Cho dua hari yang lalu lebih mengganggu fikirannya. Yeah, siapa yang tidak terganggu jika tiba-tiba kau dilamar seorang namja yang baru kau kenal tidak lebih dari satu jam? Dan yang paling Sungmin tidak mengerti adalah, apa namja itu sudah gila? Berniat menikahinya tanpa ada rasa cinta sedikitpun. Bukankah pernikahan adalah suatu hal yang sakral? Dan pria itu bermaksud bermain-main dengan hal yang dianggap sakral tersebut? Dan astaga… menikah? Bahkan kata itu saja tidak ada dalam kamus hidup Sungmin.

Sebenarnya Sungmin bisa saja menolak tawaran bodoh itu, tapi ia juga harus berfikir ulang dan memikirkan baik-baik tentang "simbiosis mutualisme" yang dikatakan pria itu. Lagipula pria itu sendiri yang menawarkan akan memberi apapun yang Sungmin inginkan. Dan bukankah itu menjadi suatu tawaran yang menarik? Well, kasus tentang mafia yang menyelundupkan senjata terlarang atau apapun itu dapat dengan mudah terselesaikan, bukan?

Tapi entah mengapa Sungmin mencium keanehan akan rencana pria itu. Bagaimana tidak? Sudah banyak spy handal dan profesional mencoba menyelesaikan kasus ini, namun bagai mencari jarum di tumpukan jerami mereka bahkan tidak bisa mendapatkan satu titik terang dalam kasus ini. Pria bernama Marcus Cho itu seperti belut yang sangat licin, bagai cheetah yang berlari terlampau cepat. Sulit sekali untuk menangkap pergerakannya. Dan anehnya dengan mudahnya pria itu menyerahkan dirinya kepada Sungmin? Bukankah itu tidak masuk akal?

Tetapi sekali lagi… menikah dengan Marcus Cho? Pria itu seperti replika malaikat yang mempunyai sifat semenggoda dan sememikat iblis yang bisa membuatnya mati secara perlahan-lahan. Salah satu organ vital yang bertugas memompa darah itu selalu berdentum dengan keras, menghentak dadanya. Ada perasaan aneh yang menjalari hatinya. Dan ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengepak secara bersamaan diperutnya, menimbulkan sensasi geli namun menyenangkan ketika berada didekat pria itu. Dan dia merasa… seolah ia mengenal pria itu begitu lama. Merasa seolah ia begitu merindukan pria itu.

Berbicara tentang Marcus Cho, membuatnya mengingat kembali pembicaraannya dengan pria itu. Mengingat kembali sikap bodoh dan idiotnya ketika berada begitu dekat dengan si 'Target Mengagumkan' yang membuatnya begitu kelimpungan.

.

.

-FlashBack-

.

.

"Marry Me, menjadi istriku. Dan aku akan memberi apapun yang kau mau." Tutur pria itu masih dengan seringaian yang terpatri dibibirnya.

Sungmin membulatkan matanya kaget dan dengan gerakan refleks ia langsung menarik tubuhnya kebelakang.

"ARE YOU CRAZY?!" Teriak Sungmin tak percaya. Astaga… lelucon apa yang akan dimainkan pria itu.

"Sayangnya aku bukanlah orang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Jika aku menginginkan sesuatu, maka aku harus mendapatkannya." Ujar Marcus ambil mengedikkan kedua bahunya. "… dan nona Lee aku tidak suka menerima penolakan." Sambungnya yang membuat Sungmin makin melebarkan mata bulatnya.

"Sayangnya aku tidak seperti budak-budakmu yang lainnya, tuan Marcus Cho. Aku tidak suka dipaksa oleh siapapun. Tidak terkecuali dirimu." Balas gadis itu tegas dengan telunjuk yang mengarah ke wajah tampan Marcus.

Marcus sedikit mendengus pelan. "Terserah. Aku hanya memberikan satu kesempatan padamu. Kau tahu sendiri bukan jika para spy-spy bodoh itu tidak mudah untuk menangkapku. Lagipula… banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu. Dan aku yakin kau akan menyesal melewatkan tawaran ini," Kata pria itu lagi yang membuat Sungmin sedikit bertanya-tanya.

Tetapi kemudian Sungmin mendengus pelan. "Kau fikir aku akan percaya padamu? Tidak. Aku tetap tidak akan menerima tawaran bodohmu itu,"

"Bagaimana jika hal itu menyangkut orang tuamu? Selama ini kau selalu bertanya-tanya siapa pembunuh orang tuamu kan?" balas Marcus lagi dengan seringaiannya yang terlihat menakutkan. Biarlah… biarlah jika nanti Sungmin akan membencinya setelah gadis itu mengetahui semuanya. Tidak apa asalkan hal itu membuat Sungmin menjadi miliknya. Lagipula pria itu masih mempunyai banyak waktu untuk meyakini Sungmin jika ia tidak sama dengannya. Ia berbeda…

Sungmin diam tak berkutik. Membicarakan orang tuanya membuat Sungmin membuka kembali kenangan pahit yang sudah tersimpan dengan rapat dimemori otaknya. Yah… dia memang sudah dari dulu ingin tahu siapa pembunuh orang tuanya. Atas dasar apa pembunuh itu membunuh orang tuanya? Apa salah orang tuanya?

"Aku memberimu waktu untuk berfikir. Tapi seperti yang sudah kubilang, jika aku berkata aku menginginkanmu, maka kau harus menjadi milikku dan jangan berharap kau bisa lolos dariku." Tuturnya yang membuat Sungmin menahan nafas. Merasa pening mendengar rangkaian kata yang keluar dari mulut pria itu yang sulit untuk dicerna oleh otaknya.

Marcus perlahan-lahan mendekatkan tubuhnya pada Sungmin, meminimalisir jarak diantara keduanya. Mengangkat dagu Sungmin perlahan-lahan dengan jari telunjuknya. " Karena secepat apapun kau mencoba untuk berlari dariku, maka secepat itu pula aku berlari mengejarmu dan ketika kau tertangkap… jangan berharap aku akan melepaskanmu lagi. Kau mengerti…" tutur pria itu dengan nada yang terdengar membahayakan bagi Sungmin. "… calon istriku?" tambahnya yang membuat Sungmin membelalakkan kedua matanya.

.

.

-FlashBack END-

.

.

'SIAL !' umpat Sungmin dalam hati. Pasti wajahnya tampak bodoh saat itu. Seorang Lee Sungmin terperangah hanya karena seorang pria bernama Marcus?

Sungmin langsung memencet tombol untuk mematikan mesin Treadmill tersebut, berjalan dengan langkah dipaksakan lalu berhenti disebuah meja, mengambil botol air mineral yang tergeletak diatasnya dan langsung menenggaknya dengan kasar.

Drrrtt..

Drrrtt..

Suara getaran ponsel yang berasal dari saku sebelah kiri hoodie-nya membuat Sungmin menghentikan aksi meminumnya. Dirogohnya saku hoodienya untuk menggapai benda mungil berbentuk persegi panjang tersebut.

'1 message received', kata tersebut terpampang di layar ponselnya.

|From :

Sungmin-ssi, Aku menunggumu di gedung FKI sekarang juga.|

Sungmin langsung memasukkan kembali haptic-nya kedalam saku hoodie-nya. Yah… sepertinya ia harus mendiskusikan hal ini kepada Mr. Shindong, lagipula mungkin saja pria paruh baya berbadan tambun itu memiliki jalan keluar untuk masalahnya. Karena jujur, Sungmin sudah tidak dapat berfikir jernih dalam mencari solusi untuk masalahnya kali ini.

.

.

*** Marvellous Target ***

.

.

FKI Building

Seoul, South Korea

11.06 AM

.

.

'Duarrrrr'

Sebuah peluru yang baru saja dilepaskan dari sebuah senjata api itu meluncur dengan bebas. Membuat seorang yeoja yang baru saja menekan pelatuk senapan tersebut menggigit bibir bawahnya. Berharap semoga bidikannya kali ini tidak meleset seperti yang dilakukannya sebelumnya. Ayolah… dia adalah salah satu anak asuh FBI, organisasi rahasia pusat dinegara yang terkenal dengan patung Liberty-nya itu. Apalagi ia termasuk murid senior di organisasi tersebut. Mau ditaruh dimana wajahnya jika membidik saja ia masih sering meleset?

Namun nampaknya Dewi Fortuna sedang tidak ingin memberikan sedikit keberuntungannya pada yeoja bergummy smile itu. Peluru tersebut melenceng dari papan kayu berbentuk bulat yang berdiri sejauh 50 meter yang ada dihadapannya.

"SHIT!" umpatnya cukup keras sambil menghentakkan kaki kanannya. Sepertinya ia memang harus berguru pada Sungmin, mengingat kemampuan yeoja itu dalam membidik yang sangat mengagumkan dan tidak diragukan.

"Nona Lee.." Suara lembut itu sontak menghentikan aksi kesal yeoja yang dipanggil Nona Lee itu. Ia langsung menolehkan kepalanya dan pemandangan yang ia lihat adalah seorang pria tampan yang baru dilihatnya kemarin, ketika berbincang dengan Sungmin dan . Pria yang sedikit banyak sudah merusak kinerja otaknya entah apa sebabnya.

"Donghae-ssi?" gumamnya yang membuat pria tersebut mengulum senyumnya.

"Kelihatannya kau sedang kesal? Apa karena bidikanmu tadi… meleset?" tanya pria itu ragu-ragu sekaligus to the point yang menimbulkan rona merah di kedua pipi Hyukjae.

Gadis itu mengusap tengkuknya, mengalihkan rasa malunya. "Yah… seperti yang kau lihat. Sepertinya menembak memang bukan keahlianku." Jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.

Jawaban pasrah yang diberikan gadis itu membuat Donghae makin melebarkan senyumnya. "Mungkin tekhnik yang kau gunakan saja yang salah. Mau aku ajarkan bagaimana cara membidik dengan tepat? Yah… sebenarnya ini metode yang kubuat sendiri. Tapi meskipun begitu aku selalu tepat membidik sasaranku. Dan… mungkin ini bisa membantumu, hm?" tawarnya yang membuat gadis itu melebarkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Pria yang mempunyai senyuman yang begitu mempesona itu akan mengajarkannya menembak dengan tepat?

Tanpa menunggu jawaban dari Hyukjae, dengan semangat Donghae langsung melangkahkan kakinya dan berhenti tepat dibelakang tubuh gadis itu, mengangkat kedua tangan gadis itu dengan telapak tangan yang berada tepat diatas telapak tangan Hyukjae yang kini menangkup senapan. Diarahkannya senapan tersebut tepat pada papan kayu yang berada sejauh 50 meter yang ada dihadapannya.

Hyukjae sedikit kesusahan untuk menelan air liurnya sendiri. Jantungnya berdetak dengan kecepatan diatas normal. Pria itu kini seperti sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Dan hembusan nafasnya yang beraroma mint itu terasa menggelitik telinganya dan mengganggu penciumannya.

'Aku mana mungkin bisa fokus jika begini caranya' erangnya dalam hati.

"Fokuskan matamu pada papan yang berada dihadanmu. Anggap saja jika papan tersebut adalah sebuah hal yang paling kau benci dan kau ingin segera menghilangkannya dari hidupmu…" Petuah yang diberikan Donghae bagai sugesti yang membuat gadis itu memfokuskan pandangannya. Hal yang paling dibenci? Yang ingin dihilangkan dari kehidupannya? Hanya satu… kemampuan membidiknya yang bodoh.

Donghae tersenyum miring, tahu bahwa Hyukjae sudah menuruti perintahnya dan sudah menemukan hal yang paling dibencinya. Terbukti karena saat ini gadis itu sudah mulai fokus pada papan tersebut. "Sekarang tutup satu matamu… jika kau sudah yakin, tekan pelatuknya pelan-pelan…" Instruksi pria itu lagi yang membuat Hyukjae langsung menutup salah satu matanya. Ditekannya pelatuk tersebut secara perlahan-lahan, lalu…

.

'Duarrrrr…'

.

BRAVO! Lubang cukup besar yang terdapat di papan kayu itu membuktikan jika kali ini ia berhasil. Berhasil membidik dengan tepat sasaran.

"AKU BERHASIL !" Pekiknya. Karena saking senangnya, yeoja itu tanpa sadar langsung memeluk tubuh namja yang ada dibelakangnya. Membuat Donghae langsung menegang karena gerakan refleks yang dilakukan yeoja anchovy itu. Namun itu hanya berlangsung sebentar, karena beberapa detik kemudian Donghae membalas pelukan gadis itu.

"Yeah… kau berhasil, Hyukie…" balas Donghae yang membuat senyuman Hyukjae langsung redup seketika. Dengan cepat gadis itu langsung melepaskan pelukannya dari tubuh atletis Donghae. Merasa malu sendiri terhadap apa yang baru saja dilakukannya terhadap pria itu. Memeluknya, eh?

Rona merah muda itu dengan tidak sabarnya langsung mewarnai pipi Hyukjae. Jantungnya juga seolah sedang dalam mood yang benar-benar baik sehingga memompa darah dengan begitu semangat. Membuat dadanya sedikit sakit karena ulah jantung itu sendiri yang berdetak diatas normal. Akhirnya kini ia dapat menarik satu kesimpulan mengapa pria ini sudah merusak sistem kerja otaknya. Jangan bilang bahwa pria bernama Lee Donghae ini sudah mengalihkan dunianya. Jangan bilang jika pria itu sudah mengenalkannya pada sebuah perasaan yang sama sekali tidak pernah hinggap dihatinya. Perasaan yang disebut dengan… Love. Cinta…

.

.

*** Marvellous Target ***

.

.

FKI's Park

01.00 PM

.

"Sungmin-ssi…" Suara lembut seorang pria menginterupsi kegiatan yeoja mungil yang saat ini sedang asyik menutup matanya menikmati semilir angin musim gugur yang kini juga berpartisipasi dalam melepaskan daun-daun maple yang sudah menguning dari dahan-dahan pohon yang mengelilingi tempat Sungmin duduk kini.

Sontak Sungmin langsung membuka kedua matanya dan ia hanya tersenyum untuk membalas sapaan Donghae.

"Bukannya kau disuruh untuk menemui ?" tanya Donghae.

"Aku hanya ingin menikmati angin musim gugur. Aku akan menemuinya nanti." Jawab Sungmin.

Donghae langsung menjatuhkan tubuhnya tepat disamping gadis itu. "Kudengar Marcus menawarkanmu untuk menikah dengannya?" Tanya pria itu tiba-tiba membuat Sungmin menolehkan kepalanya ke arah pria itu. Sedangkan pria itu sendiri tetap mengarahkan pandangannya kedepan, menatap hamparan langit biru yang saat itu terlihat cantik, kontras sekali dengan hatinya yang kini diselimuti oleh warna hitam.

Sungmin menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, dan mungkin aku akan menerimanya." jawabnya singkat.

"Tapi mengapa? Kau sudah terlalu banyak berkorban untuk masalah ini. Apa tidak ada jalan lain selain menikah dengan pria itu?" tanyanya. Terselip nada terluka dari kalimat yang ia lontarkan. Pria itu hanya tidak menyangka, baru saja ia merasakan jatuh cinta tetapi disaat itu pula ia harus merasakan hal yang menurutnya konyol, patah hati. Ternyata seperti ini rasanya, menyesakkan. Seperti kau baru saja ditimpa oleh godam yang sangat berat. Seperti kau ditusuk ribuan pisau yang sangat tajam. Pantas saja beberapa orang menangis hanya karena alasan konyol itu, bahkan ada yang sampai menyia-nyiakan nyawa mereka sendiri.

"Aku hanya menganggap ini sebuah kesempatan yang sangat berharga. Dia, Marcus sendiri yang menawarkannya padaku. Lagipula aku rasa pernikahan ini hanya sementara, aku yakin setelah dia bosan dan aku mendapatkan apa yang aku butuhkan… kami akan berpisah. Lagipula aku tidak suka terikat." Jawab Sungmin. Ya… pasti begitu. Setelah Sungmin mendapatkan informasi tentang orang tuanya, Setelah pria bernama Marcus itu bosan padanya, pasti dia akan melepaskan Sungmin. Dan Sungmin akan kembali ke kehidupan normalnya lagi.

"Kau yakin begitu? Bagaimana jika ia benar-benar tertarik padamu? Bagaimana jika ia tidak berniat untuk melepasmu sama sekali? Kau mau mengorbankan masa depanmu yang terlalu berharga hanya untuk pria seperti Marcus? Lagipula dia itu mafia, pasti nanti kau ikut terseret dalam masalahnya." Balas Donghae dalam satu tarikan nafas. Biar saja jika Sungmin menganggapnya pemaksa, Donghae benar-benar tidak terima dengan kenyataan ini.

Benar juga, bagaimana jika Marcus memang tidak berniat melepasnya sama sekali? Dan bagaimana jika ketakutannya selama ini akan menjadi kenyataan yang harus diterimanya. Sungmin tidak bisa membayangkannya jika itu benar-benar terjadi.

"Apa karena kau mulai terpesona padanya jadi kau menerima tawarannya untuk menikah denganmu?" Tanya pria itu lagi yang membuat Sungmin tersulut emosi.

"Ada apa denganmu, Donghae-ssi? Ini hidupku, kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Lagipula aku mempunyai alasan mengapa aku melakukan ini. Dan aku ingin agar masalah ini segera selesai." Balas Sungmin dengan nada sedikit berteriak. "Aku harus menemui Mr. Shindong. Aku permisi…" Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya. Melangkahkah kakinya meninggalkan Donghae yang menatapnya dengan tatapan sendu.

.

.

*** Marvellous Target ***

.

.

Sungmin's Apartement

04.00 PM

.

Sungmin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur miliknya yang dilapisi sprei berwarna pink, warna kesukaannya. Ia memijat kepalanya yang terasa pening. Gadis itu baru saja dari gedung FKI dan bertemu dengan Mr. Shindong, menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin malam, juga tentang tawaran yang diberikan Marcus kepadanya. Dan pria paruh baya itu berpendapat jika sebaiknya Sungmin menerima tawaran itu. Lagipula tawaran yang diberikan oleh Marcus merupakan kesempatan emas yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi pria itu sendiri yang memintanya dan sekaligus akan mengabulkan apapun yang diinginkan Sungmin.

Well, sepertinya menikah dengan seorang Marcus Cho tidaklah semenyeramkan dengan apa yang Sungmin bayangkan, hanya mungkin mulai saat itu ada yang berbeda dengan hidupnya. Bahwa ia tidak lagi hidup sendiri. Akan ada seseorang yang tinggal bersamanya nanti, menemani hari-harinya. Akan ada seseorang yang merangkap sebagai kakak, ayah, sekaligus suami yang harus dihormatinya. Hanya sesederhana itu. Tapi entah mengapa membuat Sungmin sangat amat ketakutan. Takut pada satu kenyataan jika nanti ia akan terjerumus kedalam pesona pria itu dan dia tidak bisa memikirkan cara untuk bangkit dan mencari jalan keluarnya. Atau malah dengan bodohnya mengikuti arus dan membiarkan dirinya terperosok terlalu dalam pada pesona pria itu sehingga membuatnya tidak dapat keluar lagi.

Sungmin menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sedikit menolehkan wajahnya pada dinding apartement-nya yang terbuat dari kaca transparan sehingga ia bisa melihat dengan jelas hiruk pikuk kota Seoul dari lantai apartement-nya kini. Dan tidak sengaja matanya terfokus pada sebuah kotak berwarna gold yang dihiasi dengan pita berwarna perak yang terletak diatas sofa.

Ia kemudian bangkit dari posisi berbaringnya lalu melangkahkan kakinya ke arah sofa. Mengambil kotak itu dari sana. Ternyata diatas kotak itu terdapat setangkai bunga mawar putih dan secarik surat, membuat Sungmin bertanya-tanya siapa pengirimnya dan siapa yang menaruh kotak ini dikamarnya. Sungmin langsung membuka lipatan surat itu dan langsung membelalakan matanya lebar mengetahui siapa pengirimnya, terlebih pada serentetan kalimat yang tertulis di surat tersebut.

'ini adalah gaun pernikahanmu. See, aku tidak main-main dengan ucapanku kan? Aku tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Pernikahan kita berlangsung dua hari lagi. Dan ingat, aku hanya memberikan kesempatan padamu satu kali. Dan aku yakin jika kau pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Oh iya, Kau harus datang sendiri. Akan ada seseorang yang nanti akan menjemputmu. Pakai gaun itu. Dan Nona Lee, aku benar-benar sudah tidak sabar untuk segera mengubah margamu menjadi Cho–Marcus Cho-'

.

.

*** Marvellous Target ***

.

.

2 days later…

Kyuhyun's Home

Nowon, South Korea

.

"Kau mandilah terlebih dahulu, lalu kau boleh beristirahat. Aku tahu jika kau lelah." Ujar Marcus pada Sungmin yang saat ini sedang duduk diam dipinggir ranjang.

Ya… tepat dua jam yang lalu mereka sudah mengucapkan ikrar suci dihadapan tuhan. Telah disahkan dalam sebuah ikatan pernikahan.

Sungmin tahu jika ia pasti sudah gila. Dengan bodoh, ia mengikuti kata-kata yang ditulis oleh Marcus.

Ternyata benar, pagi tadi ada sebuah mobil yang menunggunya didepan apartemen. Dan mobil itu membawanya ketempat pertama kali ia bertemu dengan Marcus.

Sungmin juga menggunakan gaun berwarna putih gading yang diberikan pria itu untuknya yang entah bagaimana sangat pas ditubuhnya. Gaun itu melebihi mata kakinya menyisakan sebuah untaian cukup panjang dibagian bawah yang melambai dengan anggun setiap kali yeoja mungil itu melangkahkan kakinya. Leher gaunnya membentuk huruf V yang memotong bagian dada dan menyempit ke arah pinggangnya yang ramping. Rambutnya yang ikal ia biarkan tergerai dan ada sebuah mahkota kecil yang tersemat di atas kepalanya. Sungguh, kecantikan Sungmin saat itu tidak dapat didefinisikan. Bahkan mungkin malaikat sekalipun merasa tidak percaya diri ketika bersanding dengannya.

Sedangkan Marcus sendiri terlihat begitu… menyilaukan sekaligus mematikan. Membuat Sungmin mendadak kehilangan fokusnya. Membuat nafasnya tiba-tiba tercekat. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam dari atas hingga bawah. Membuatnya terlihat seribu kali lebih tampan. Dan Sungmin paling tidak kuat menerima tatapan pria itu ketika ia memasuki ruangan dan melangkah ke arahnya. Tatapan pria itu begitu menghunus, Sungmin merasa seperti ditelanjangi hanya dengan sebuah tatapan, tetapi Sungmin juga merasa pria itu seolah mengaguminya. Entahlah… pria itu seperti malaikat pencabut nyawa yang begitu menggoda.

Upacara pernikahan entah mengapa berlangsung dengan hikmat, meskipun dijaga dengan pengawalan yang begitu ketat. Terdapat pria-pria bebadan besar yang berjejer disepanjang halaman, juga berdiri disetiap sudut ruangan. Dan pernikahan itu sendiri hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Hanya ada pendeta, beberapa anak buah Marcus termasuk Changmin, dan juga wali dari Kyuhyun yang Sungmin tidak tahu siapa.

Namun yang membuat Sungmin terkejut, ayahnya –Mr. Jordan- hadir di pernikahannya. Menjadi walinya. Tetapi belum sempat Sungmin meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ayah angkatnya itu, Mr. Jordan sudah pergi entah kemana. Sejenak Sungmin bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang tengah terjadi dan apa yang direncanakan oleh Marcus?

Dan Sungmin masih ingat nada pria itu yang mengucapkan janji pernikahan dengan begitu tegas dan yakin. Mengingat dengan jelas sikap pria itu yang begitu berwibawa ketika mengatakan "Aku Bersedia". Mengingat bagaimana ketika pria itu menyematkan cincin dijari manisnya. Mengingat juga bagaimana ciuman pertama mereka yang meskipun hanya saling menempelkan bibir dalam beberapa detik begitu menimbulkan efek yang begitu mematikan. Seperti… seluruh tubuhmu terkena aliran listrik. Dan entah kenapa Sungmin yakin jika pria itu juga merasakannya. Entahlah mengapa Sungmin merasa pernikahan ini terasa begitu nyata. Seolah pernikahan ini bukanlah sebuah permainan belaka.

"Cho Sungmin, kau mendengarku?" Tanya Marcus ketika Sungmin tetap diam tidak menjawab ataupun melakukan apa yang diperintahkannya tadi.

"Hm?" Sungmin langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk. "Iya aku mendengarmu. Nanti aku akan mandi." Jawabnya.

"Baiklah, aku masih harus mengurus beberapa hal. Aku kebawah dulu." Balas Marcus sambil berniat membalikkan badannya.

"Tunggu!" Namun belum sempat pria itu melangkahkan kakinya, Sungmin sudah terlebih dahulu menginterupsinya. "Apa kita akan tidur berdua… dikamar ini?" tanyanya ragu-ragu.

Marcus terkekeh pelan, namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius. "Kau lupa jika kita berdua sudah menjadi suami istri? Lalu apa yang kau harapkan? Tidur dikamar yang berbeda dengan alasan menyesuaikan diri? Tidak. Kau istriku. Ini rumahku. Jadi kau harus mentaati semua perintahku, Kau mengerti?" ujar pria itu dengan tegas.

Marcus memang langsung membawa Sungmin ke rumahnya ketika upacara pernikahan itu selesai dilangsungkan. Dan Sungmin sempat ragu apa bangunan berlantai tiga itu pantas disebut dengan rumah? Rumah yang dimaksud adalah sebuah bangunan yang lebih mirip seperti istana dinegeri dongeng. Rumah itu bergaya klasik modern dan begitu elegan. Berdiri angkuh ditengah-tengah padang rumput yang luas. Bahkan pria itu mempunyai lapangan udara sendiri. Jangan lupakan garasi yang luasnya tiga kali lipat dari rumah Sungmin yang ada di America. Pria itu pengoleksi mobil-mobil mahal. Dari mulai ferrari, mercedes benz, limousin, lamborghini, porsche, audi dan masih banyak lagi. Apa pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu memang sekaya itu?

"Lalu…" ketika Marcus akan membuka pintu kamar, lagi-lagi suara Sungmin menghentikan pergerakannya. "Apa kita juga akan melakukan hal seperti pasangan suami istri lainnya? Maksudku… em… first night?" tanyanya dengan hati-hati. Mendadak ia mengutuk dalam hati apa yang tadi diucapkannya.

Marcus menyeringai. Perlahan-lahan berjalan menghampiri Sungmin yang membuat gadis itu memundurkan badannya hingga menyentuh kepala ranjang. "Tadinya aku berfikir kau pasti belum siap. Jadi aku berusaha untuk menghormatimu. Menunggu sampai kau siap untuk menerimaku. Tidak. Aku tidak akan memberimu waktu yang terlalu lama. Aku tidak sebaik itu. Dan kau juga tidak bisa menghalangiku untuk tidak menyentuh isteriku sendiri. Tapi sekarang… kau mencoba meruntuhkan pertahananku, eh? Kau benar-benar menginginkan aku menyentuhmu?" tanyanya disertai senyuman jahil yang membuat Sungmin ingin sekali melempar wajah menyebalkan itu dengan heels-nya yang tingginya sekitar 12 cm.

"Jangan harap kau bisa menyentuhku, Marcus Cho." Ucapnya disela-sela nafasnya yang memburu akibat jarak antara wajahnya dengan wajah pria itu yang begitu minim.

"Oh ya? Aku bisa. Kau mau bukti?" sebelum Sungmin membuka mulutnya untuk memprotes pria itu, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir pria itu. Dan entah kenapa Sungmin hanya diam ketika pria itu makin melumat bibirnya dengan intens. Ciuman pria itu seperti wine, begitu memabukkan. Dan Sungmin membenamkan tangannya dihelaian rambut pria itu, berada dalam dua pilihan, mendorong pria itu menjauh atau malah menariknya agar semakin mendekat ke arahnya.

Ciuman itu berlangsung cukup lama. Bahkan mereka sudah menjatuhkan diri di atas tempat tidur dengan posisi Marcus yang berada diatas tubuh Sungmin. Hingga ketika Marcus menarik resleting gaun Sungmin, pria itu sadar jika ini bukanlah waktu yang tepat. Sungmin kelelahan. Masih banyak malam-malam yang bisa ia lewatkan bersama isteri barunya. Maka bukannya melanjutkan, Marcus malah menghentikan ciuman liarnya, menggantinya dengan kecupan-kecupan ringan sebelum akhirnya benar-benar melepaskan pagutannya dari bibir ranum Sungmin. Ia kemudian tersenyum miring ketika melihat keadaan Sungmin dibawahnya. Berantakan. Dengan bibirnya yang memerah dan agak membengkak, rambutnya yang sedikit acak-acakan, juga gaunnya yang sudah tidak pada tempatnya akibat ulah nakal tangannya.

"Aku bisa kan?" ucap Marcus yang menimbulkan rona kemerahan dipipi chubby Sungmin. "Aku masih berbaik hati padamu malam ini. Ingat, jangan pernah meruntuhkan kendali diriku lagi. Sekarang mandilah lalu tidur." Tambahnya lagi sambil mengecup dahi Sungmin sekilas, Lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.

Sungmin memegangi dadanya yang berdebar. "Aku bisa gila… aku bisa gila…" gumamnya terus-menerus sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.

.

.

*** Marvellous Target ***

.

.

FKI Building

Oct 16TH 2012, 09.00 AM

Seoul, South Korea

.

"Silakan Kim Jong Woon-ssi, kau boleh melaporkan pengamatanmu." Titah .

"Kasus ini sebenarnya adalah kasus lama yang belum sempat kami tangani. Ia adalah pembunuh berdarah dingin. Aku rasa ia termasuk dalam salah satu jajaran mafia penjual organ tubuh manusia. Tetapi aku sama sekali tidak mengerti teka-teki apa yang tengah ia rencanakan. Ia hanya membunuh sepuluh hari sekali. Tepat pada jam sepuluh malam. Dan hanya beraksi pada tanggal kelipatan sepuluh. Anehnya ia mengambil organ vital yang berbeda setiap kali ia membunuh. Dari mulai otak, lambung, paru-paru, hati, pankreas, empedu, usus, ginjal, dan yang terakhir adalah sumsum tulang belakang." Lapor salah satu anggota FKI, Kim Jong Woon. Selain Donghae, ia juga salah satu anak emas FKI. Instingnya yang tajam dalam menghadapi suatu kasus sudah tidak dapat diragukan.

Saat ini para anggota FKI sedang mengadakan pertemuan untuk menganalisis suatu kasus yang sudah lama terbengkalai. Sungmin, Hyukjae dan Donghae juga hadir dalam pertemuan itu. Dan Sungmin menyimak dengan antusias, sangat merasa tertarik dengan kasus yang satu ini.

"Terakhir kali ia membunuh ketika tanggal sepuluh dan mengambil sumsum tulang belakang korbannya, dan aku yakin jika ia akan beraksi lagi tanggal 20 nanti. Dan organ tubuh yang akan dia ambil kali ini adalah Jantung, organ vital yang tersisa. Dan aku mendapat kabar bahwa semua korbannya adalah wanita, ia membunuh istri-istri para pengusaha yang pernah bertransaksi dengan…" Yesung –nama lain Jong Woon- menghentikan penjelasannya, matanya tepat mengarah ke gadis mungil yang balas menatapnya dengan bingung. "… suamimu, Lee Sungmin-ssi" lanjutnya yang membuat Sungmin menegang ditempatnya duduk kini. Juga membuat semua orang yang hadir dalam ruangan itu menoleh ke arah Sungmin.

"Aku rasa jika pembunuh itu mempunyai masalah dengan suamimu. Entah apa itu. Dan yang pasti semuanya berhubungan dengan angka sepuluh. Dan… entah kenapa aku yakin jika yang menjadi santapan terakhir adalah… kau. Mengingat saat ini kau adalah istri Marcus."

.

.

.

.

*** To Be Continued ***