R&R reply~

Fleur d' oranges : Saia tau..., saia tau... pas nulis chapie 6 saia emang lagi kekurangan ide dan jadilah seperti ITU. Tenang aja ntar Rinrin bakal nyanyiin kokoro kok disalah 1 chapie( atau mungkin chapie ini? Saia tak tahu. Saia nulis reply dulu baru story... =3="" )

Len bukan imagenya saia hancurin. Gak ada minat ngancurin imagenya. (dibaca : belum minat.)

Iyaa~ Chapie ini deh kalo bisa. Yosh!

Rii-kun : Enggak papa kok~, ohooohhoo~, ehehe~, waduh saia boleh bantu? *smirk*

Oye~~~ YAY! Bukan 1 tahun yang ia lupakan senpai. Tapi ia lupa ma semua ingatannya dari lahir, terus Cuma butuh 1 tahun buat inget semuanya! ( keren?) IYAAA NIHH! Belum saatnya (mungkin?) YOSHIIE! UPDATE! XDDD (ngomong2 makasih review ke-13~)

-thanks for the support-


In-Chan : Minnaaa~~~ XDDD

Rin : *makan jeruk*

Len : *makan pisang*

In-Chan : YO! Twincest!

Rin&Len : ! *ngelirik In-Chan* apa?

In-Chan : Love ACT! Start again at this chapie!

Rin : Wha-?

Len : YAY! AKHIRNYAAA! *nari-nari strees*

In-Chan : Tapi... DISCLAIMER PLEASE!

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Rin's POV

" Rin! " Seru teman baikku. Bukan... Sahabatku.

" Kenapa?" Tanyaku sambil tersenyum kepadanya.

" Ayo! Cepat! Nanti lampunya akan berubah menjadi merah lagi jika kau tak cepat!" Tambahku sambil berjalan ke seberang jalan.

" Er... tunggu dulu Ri-" Kata-kata sahabatku terhenti bersamaan dengan suara kendaraan yang berhenti mendadak.

Aku memutar kepalaku dan melihat kalau dia...

Dia...

DARAH...

Sahabatku... Ia berlumuran darah...

Tidak... Tidak...

" TIDAK! " Teriakku keTika aku bangun dari mimpiku.

Nafasku terengah-engah dan badanku terasa panas. Aku melihat ke sekeliling kamar, mengambil posisi duduk bersila di atas kasur.

Hanya mimpi? Pikirku.

Akupun melihat jam weker ku yang ada di meja kecil yang letaknya disebelah kasurku.

04.00 A.M.

Sambil mengatur nafas aku berpikir.

Kenapa?

Kenapa mimpi itu?

( Ya, saia tau...saia tau... mimpi lagi.. maafkan saia minna. TTATT)

Aku menarik kakiku dan membenamkan mukaku.

" Semua itu... Salahku ". Kataku lagi.

Air mataku mengalir tanpa henti.

Salahku...

" TIDAK! "

Itulah jawaban yang kuberi tiap kali Len Kagamine menanyaiku hal yang sama; kau tau'kan?

" Ayolah, Rinny~ " Bujuknya lagi padaku.

Hell, NO!

Heck!

Tidak akan Player!!

" Sekali Tidak berarti TIDAK! " Balasku dengan sinis.

" Tapi, Rin... " Ucap Len dengan nada memelas seperti anak anjing. Ew...

Pasti dia berharap aku meleleh dengan sikapnya yang dibuat seperti itu.

1 kata...

TIDAK!

Tanpa merespon Len, aku berjalan ke kelas.

Tadi?

Aku dicegat Len di lorong sekolah dan seperti biasa.. dia mengajakku kencan.

Dan ini KE-25 KALINYA! Untuk hari ini dia menanyaiku!

Sigh..

Kapan anak itu akan berhenti?

Pikirku sambil berjalan ke kelas.

Tiba-tiba saja badanku terasa ringan.

Heck!

" Len! " Seruku saat melihat siapa yang menggendongku.

Lagi-lagi, Len menggendongku dengan bridal style.

" Yo, Princess! " Kata sambil mengedipkan mata kanannya.

" Apa mau mu? " Tanyaku sambil melipat kedua tanganku didepan dada. (jangan lupa~ Rinrin digendong Lenlen~)

Ia menatapku tetapi dia tidak mengatakan apapun. Ia menyingrai.

Pertanda buruk, SANGAT BURUK.

Tanpa peringatan atau apa, dia mulai berlari, dan secara otomatis aku merangkulnya.

Jangan berpikir yang macam-macam!

Aku tak mau jatuh! Itu saja! (ehem...ehem... 7o7 )

Aku mulai menyadari sesuatu..., (Apa itu Rinrin? Apakah anda jatuh cinta ma Lenlen?)

Len tidak berlari ke atap sambil menggendongku, tapi IA BERLARI KE ARAH LAPANGAN!

Dalam hati aku berkata,

Hell?

Mau dibawa kemana aku!

Len's POV

Kali ini kau akan menerima ajakanku Rin!Pikirku sambil menggendong Rin dengan bridal style.

Anehnya, Rin tidak memberontak seperti terakhir kali.

Hm... mungkin ia akhirnya mau kencanku?

Dengan mantap, aku berlari ke gudang olahraga sekolah yang berada di taman sekolah yang bisa dibilang seperti hutan.

Hehe, disini aku tidak perlu khawatir akan guru.

Dengan cepat, aku melangkah masuk sambil menggendong Rin dan mengunci pintu gudang itu.

Gudang itu merupakan gedung tua yang hanya memiliki 5 jendela kecil dan berisi alat-alat olahraga yang jarang dipakai.

" Oi! " Seru Rin yang ku gendong.

Aku menatap Rin yang berada dalam gendonganku, dan ia menatapku juga.

" Apa yang kita lakukan disini? " Tanya Rin padaku dengan sebal.

Aku diam saja.

Aku berjalan menuju salah satu kuda-kuda 2 tingkat yang berada disitu dan mendudukan Rin diatas kuda-kuda itu dan mengurungnya dengan kedua tanganku disamping kedua kakinya.

" Kau masih ingin mengajakku kencan? " Tanya Rin padaku. Aku mendongak dan melihat Rin.

Dengan sedikit menyingrai aku berkata,

" Tentu saja ".

" Jawabannya sama Len! TIDAK!" Kata Rin dengan ketus.

Rin's POV

Len mendudukanku di atas kuda-kuda yang ada di gudang tua sekolah, dan tangannya mengurungku.

Ok, ini menyebalkan! SANGAT MENYEBALKAN!

Tanpa basa-basi aku bertanya,

" Kau masih ingin mengajakku kencan? " Tanyaku pada Len.

Ia mengankat kepalanya dan err... kelihatannya, ia menyingrai?

" Tentu saja " Jawabnya.

Sudah kuduga,

Sigh...

" Jawabannya sama Len! TIDAK!" Kataku dengan ketus.

" Kalo begitu, kita akan disini sampai pulang sekolah ". Kata Len dengan menyingrai.

" Terse- APA? " Seruku kaget.

" Yap! " Kata Len yang kemudian tertawa kecil.

Ia berniat untuk mengunci ku dan dirinya DISINI!

SAMPAI PULANG SEKOLAH!

APA DIA GILA!

" Len Kagamine! Kau GILA! " Bentakku pada Len.

" Iya, Rinrin~ aku 'GILA' karena mencintaimu~" Jawab Len dengan ringan.

Hell!

Aku tak akan percaya pada Player seperti Len!

" Bah, Shut Up Shota!" Bentakku pada Len.

Mata Len melebar keTika aku menyelesaikan ucapanku.

Sial!

" Darimana kau tau aku dipanggil shota?" Tanya Len padaku.

Ia mendekatkan mukanya ke mukaku dengan memasang wajah penasaran.

Sial!

Sial!

Rin Bodoh!

" Er... " Aku mencoba untuk mencari alasan.

" Darimana?" Tanya Len lagi padaku. Kali ini muka Len semakin dekat.

" Er... "

Ayo, berpikir RIN!

BERPIKIR!

" Darimana?" Tanya Len lagi.

Kali ini, poni Len menyentuh mukaku. Aku dapat merasakan nafas Len di wajahku.

Nafasku jadi berat dan seluruh tubuhku juga terasa panas.

" Darimana kau tau Rin? " Nada suara Len menjadi serius.

Nafas Len mengenai kacamata yang kupakai.

" Hanya kawan lamaku yang memanggilku seperti itu ". Kata Len sambil menatap mataku.

Ukhh!

Kenapa jadi BEGINI!

Len's POV

" Bah, Shut Up Shota!" Bentak Rin.

Aku kaget! Hanya kawan-kawanku dari SD yang memanggilku seperti itu.

Dan ITU MENYEBALKAN!

" Er... "

" Darimana?" Tanyaku pada Rin sambil mendekat ke Rin. Menatap wajahnya secara dekat.

" Er... "

" Darimana?" Tanyaku lagi.

Aku mendekat lagi, kali ini rambutku menyentuh wajah Rin.

" Darimana kau tau Rin? "

" Hanya kawan lamaku yang memanggilku seperti itu ". Kataku sambil menatap mata Rin dengan seksama.

" Rin?" Ucapku tepat di depan wajah Rin.

" Aku mengatakan itu karena kau memang 'shota', SHOTA!" Jawab Rin dengan... gugup?

Aku diam, dan berpikir,

Memang tampangku masih Shota?

( Er... ini mulai aneh, =="" MAAFIN SAIA!*sembah sujud*)

" AHA! " Seru seseorang.

Sebentar..

BUKANNYA TADI SUDAH KU KUNCI!

Aku memutar kepalaku dari Rin dan mendapati Gakupo- sensei, berada di ambang pintu gudang.

Bagaimana ia bisa menemukan kami?

" Kagamine-san dan Kamine-san, HUKUMAN! " Bentaknya sambil menunjuk keluar.

Bagus!

Dasar SAMURAI-FREAK!

Rin's POV

Tik...

Tik..

Tik...

Tik...

Ukhh!

Aku ingin melempar jam menyebalkan itu!

Pikirku dalam hati.

Aku? Dimana?

AKU ADA DI RUANG HUKUMAN DENGAN PLAYER JELEK ITU! (wow, sabar Rinny~)

Semua ini gara-gara anak itu!

Aku dihukum lagi!

Orang tuaku tidak akan suka dengan ini. Batinku.

" Rin? " Seru seseorang yang duduk disebelahku; kau bisa tebakkan?

Len.

Aku tak akan merespon.

" Rin? "

Tak akan.

" Rin? "

Never!

" Rinny~"

Lalalala~ Aku tak mendengarmu~

" Rinrin~ "

" Rin? Kau tak ingin pulang? Ini sudah jam pulang sekolah ".

Lalalalaaall- Hah?

Sudah?

" Sudah waktunya pulang sekolah? " Tanyaku pada Len. Ia mengangguk.

Aku melihat jam terkutuk yang bertengger di dinding, dan menyadari kalo sudah hampir 6 JAM!

6 JAM!

AKU TERJEBAK DI KELAS INI BERSAMA PLAYER INI!

GRRR!

I CURSE YOU LEN!

Kataku dalam hati.

" Rin? Kau pulang atau tidak? " Tanya Len dengan baik. Dengan... Baik?

Tanpa menjawab aku meraih tasku dan meninggalkan Len.

" Er... Rin? " Kata Len yang berjalan dibelakangku.

" Apa? " Jawabku dengan ketus.

Len's POV

" Kau mau pergi makan denganku? " Tanyaku pada Rin.

" Dan membuat semua orang mengira aku mengencanimu? HELL NO LEN!" Jawab Rin yang menambah kecepatan jalannya.

Aku berusaha menyusul Rin.

Kenapa susah sekali mendapatkan Rin!

Pikirku sambil berjalan di belakang Rin.

Tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu yang lebih pendek dariku dan hangat.

Aku tersentak, dan melihat apa yang kutabrak. Rin?

" Kenapa berhenti Rinny~?" Tanyaku pada Rinrin tercintaaa~

" Len," Ucap Rin dengan pelan tapi tegas.

Ia memutar badannya dan menatap ke wajahku.

" Berhenti mengikutiku, Player!" Bentak Rin. Ouch..~

Masih dengan pandangan sebal dicampur marah - mungkin karena masalah hukuman hari ini- , Rin menatapku.

" Aku tak mengikutimu, Rinny~" Kataku pada Rin.

" Arah rumahku juga ke sini~ " Lanjutku lagi. Dan aku tidak bohong. " Jadi jangan ke Ge'eRan ya~" Kataku lagi sambil tertawa kecil.

" Hmph! " Hanya itu yang kudengar dari Rin sebelum ia berjalan lagi. Meninggalkanku, tentu saja aku langsung menyusulnya.

Rin's POV

" Len Kagamine, " Kataku pada pemuda yang berdiri di belakangku.

Aku menarik nafas dan berteriak,

" SAMPAI KAPAN KAU MAU MENGIKUTIKU!"

" Wow! Rinrin~ Aku tak tau kau tinggal hanya beberapa blok dari rumahku~" Katanya sambil melihat ke sekitar.

" Bah, kembali ke rumahmu FREAK!" Bentakku pada Len sambil memutar kunci rumahku, tidak memperdulikan apa yang barusan dikatakan Len.

" Aw... Tidak bisakah aku mampir?" Bujuknya padaku.

HELL, NO WAY!

" NO WAY!" Seruku sambil menatap Len yang masih berdiri di depan pintu rumahku.

" Aw.. ayolah Hime~sama~"

" Yang benar saja! Sangatlah tidak mungkin aku membiarkan Player sepertimu masuk ke rumahku!" Bentakku lagi.

" Aw.. Baiklah~" Jawab Len sembari berjalan pergi.

Aku bernafas lega, tapi Len berhenti di pintu gerbang.

" Aku boleh main ke sini'kan?" Tanyanya sambil menyingrai.

Ini seram...

"..."

Aku tak merespon.

" Aku akan menganggap itu sebagai 'Ya' ". Kata Len sebelum ia pergi.

"IN YOUR DREAM SHOTA!" Teriakku sebelum ia sempat berjalan jauh.

Akupun menutup pintu dan melepas sepatu, kemudian berjalan ke kamarku.

Saat sampai dikamar aku langsung melempar diriku ke kasur.

Aku tak mau membuatmu celaka lagi...

Air mata mengalir dari kedua mataku.


In-Chan : Yay! Chapie 7~

Rin : Er...?

Len : KURAANG MENARIK!

In-Chan :*shock* saia tau...*mojok*

Rin :*sigh* R&R please!

Len : R&R please~

In-Chan : Untuk semangat saia dalam melanjutkan crita nih, please... REVIEW! XDDD