R&R Reply~

Kurara : Gak papa kok~ =333, Rinrin kan gak pake kacamatanyaaa~ jadi imuuuutt abisss! XDDD

Fleur d'oranger : eh? YOSH! XDDD , iya saia mengerti~ makasih yaaaa~ XD

Recchii : YAY! Er... saia kebiasaaan jadi ntar saia coba deh.. YOSH! XD

D-kiro : YAY! XDDD YOSH!update coming up!

Rii-kun : huaaa!ecchi! Huaaa! Ampuni saia! Lagi run out romance~ Er,... ntar saia coba cari deh di youtube~ YOSSSHH! XDDD

Yup~

- Thanks for the support -


In-Chan : Minnnaaa~~saaann~ makasih buaanyaak buat reviewnyaaa~ saia terharuu! XDDD

Rin&Len : ...-dead silent-

In-Chan : Rinriiiiinn~

Rin : ?

Len : ?

In-Chan : ?... er...?

Rin : JERUUKK!

Len : PISAAAANG!

In-Chan : Hah?

Len : Kau janji beliin kami pisang! *nodong*

Rin : Dan juga JERUK!*nodong*

In-Chan : Er...well... Disclaimer dulu~

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Rin's POV

" Aku tak akan menemuinya lagi ". Itulah yang kukatakan pada ibu sahabatku.

Sahabatku yang kucintai, lebih dari seorang sahabat.

" Baiklah, Rin ". Jawab ibu sahabatku.

" Jika itu yang kau inginkan. Tapi semua ini bukan sa- "

" INI SEMUA SALAHKU!" Teriakku, memotong kata-kata ibu sahabatku.

Air mataku mengalir..

07.08 p.m.

Itulah yang pertama kulihat saat ku bangun dari tidurku.

Sambil mengusap – usap mataku, aku merasakan sesuatu membasahi kedua pipiku.

Air mata?

Pikirku sambil menyentuh pipiku.

Sambil duduk bersila aku mengusap semua air mataku.

Tiba-tiba saja aku mendengar bel pintu rumahku berbunyi.

Dengan cepat aku turun dari kasurku dan berjalan turun ke pintu depan.

" Rinny~" Seru Luka saat kubuka pintu depan.

" Luka? " Kataku dengan pelan dan heran.

Apa yang Luka lakukan di sini?

Bukannya ia harusnya memasakan makan malam untuk Luki?

" Awwww...~ Rinny~ " Kata Luka sambil memelukku. " Aku ke sini untuk menemuimu~" Lanjutnya lagi.

" ... "

Aku rasa pertanyaanku terjawab??

" Ayolaah~ Rinny~, aku di sini ingin menebus semua waktu makan siang yang kulewatkan ". Jawab Luka.

" Baiklah... Masuk ". Balasku sambil mengajak Luka masuk.

Luka's POV

Aku melangkah masuk ke rumah Rin.

" Kau sudah makan Rin? " Tanyaku pada Rin sambil berjalan ke dapur.

Rin diam dan menjawab, " Belum ".

Aku tertawa,

" Biar ku masakan ". Kata sambil membuka kulkas yang berada di rumah Rin.

Rin kemudian langsung duduk di meja makan.

08.00 p.m.

" Terima kasih atas makanannya ". Kata kami setelah menyelesaikan makan malam.

" Biar aku yang mencuci ". Kata Rin sambil membereskan semua alat makan yang kami pakai.

Aku bangkit dari kursi makan dan berjalan ke arah Rin.

" Hey, Rin? " Seruku pada Rin yang sedang mencuci piring.

" Apa? " Sahut Rin.

" Kau tak ganti baju Rin? " Tanyaku pada Rin.

Rin berhenti sebentar dari mencuci piring dan menatap dirinya sendiri.

" Er... kelihatannya tadi aku lupa... hehe.." Kata Rin dengan gugup.

Aku hanya menatap Rin sambil tersenyum.

' Just Be friends '

Lagu ' Just Be friends' terdengar dari saku celana pendekku.

Aku mengambil handphone- ku.

xxx-xxx-9189

Luki

Aku membuka flap handphone- ku.

" Ada apa? " Tanyaku pada Luki

" NEE~CHAAAAANN!" Seru Luki diseberang sana.

" Aku MATI KELAPARAAAAAAN!" Lanjut Luki lagi.

Ouh-Oh..

Aku melupakan adikku yang tersayang~

" Baik! Baik! Aku pulang sekarang! " Kataku sebelum menutup telepon.

" Luki?" Tanya Rin padaku saat aku selesai menelepon.

" Yap! Dan aku rasa ia sedang kelaparan". Jawabku.

" Kalau begitu, cepat pulang sana! Luki kasian atuh.." Sahut Rin.

" Kau yakin Rin? " Tanyaku pada Rin.

" Yap! Dan terima kasih atas masakan malam ini~ " Jawab Rin.

Rin's POV

Aku melambaikan tangan pada Luka yang berjalan keluar ke arah jalan.

00.43 a.m.

" Tak apa, sayangku ". Kataku ibuku padaku yang sedang menangis di dalam pesawat.

Pesawat yang kami tumpangi terbang ke America.

Tapi tetap saja aku menangis.

Sahabatku kecelakan...

Sahabatku terluka...

Sahabatku koma...

Dan dia seperti itu karena KESALAHANKU...

Aku tersentak kaget, terbangun dari mimpi burukku.

Semenjak pesta yang di adakan Teto dan Ted, aku mengalami mimpi seperti ini terus.

Padahal pesta itu diadakan 3 minggu yang lalu..., DAN KENAPA ITU MASIH BEREFEK PADAKU!

Teto!KAU AKAN MEMBAYAR INI!

Pikirku sambil memegang kepalaku.

" Lebih baik aku tidur lagi..." Bisikku pada diri sendiri sembari menarik bedcover.

KRRRRIIIIIIIIIINGG!

" Ukhh..." Geramku sambil memukul jam weker menyebalkan yang berbunyi itu.

" Sekolah..." Lanjutku sembari beranjak dari kasur.

Aku berjalan menuju kamar mandi yang terletak di luar kamarku untuk mandi.

Setelah mandi, aku memakai baju sekolahku. Dan seperti biasa, aku tidak lupa memakai pita putih besar, 4 jepitan rambutku, dan juga mengucir rambutku menjadi dua kebawah.

Setelah bersiap-siap, aku langsung turun ke dapur untuk membuat sarapan sambil menenteng tas sekolahku.

Sambil bersenandung kecil, aku mengolesi roti tawar gandum dengan selai jeruk. (MANTAAAABB~)

Kemudian memakannya.

Segera setelah itu aku langsung memakai sepatuku dan membuka pintu.

Dan sesuatu yang menyebalkan, muncul.

" Pagi~ Rinnyy~" Sapa seseorang yang berdiri di depan pintu rumahku.

Heck!

Hell!

" LEN!" Seruku pada orang yang berdiri di depan pintu rumahku.

" Kau merindukanku? " Tanyanya sambil mengedipkan mata kirinya.

Okay,...

1 kata..

Ewwww...

" Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku dengan kasar.

" Aku? Aku menjemputmu Rinrin~" Jawabnya dengan Ringan.

" Aku tak butuh kau jemput Len! " Balasku dengan nada tersadisku sambil mengunci pintu rumahku dan berjalan melewati Len.

Dimana Len langsung mengikutiku dari belakang.

" Hey, Rin~ " Ucap Len dari belakang.

"..."

Aku Tak Akan meresponmu Len!

" Rinnyy~~~" Ucapnya lagi.

" Awas di depanm-" Kata-kata Len berhenti seketika saat aku menabrak sesuatu yang sepertinya TIANG LISTRIK!

Ouccchh!

TIANG LISTRIK SIALAN!

Aku terjatuh gara-gara itu.

" Kau tak apa Rin? " Tanya Len sembari menundukkan kepalanya ke arahku.

Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Lagi...

Aku bisa merasakan nafas Len di wajahku. Tangannya yang dingin menyentuh pipiku.

" Rin ?"

Aku tak bisa bergerak.

Mendapati Len sangat dekat denganku, pagi-pagi begini... Rasanya ada yang membuat jantungku berdebar. ( IT'S LOVE! XDDD)

Tidak! Aku tak boleh seperti ini!

Aku tak boleh jatuh cinta pada Len!

Tegurku pada diri sendiri dalam hati.

" ... "

Aku ingin membentak Len, tapi mulutku tak bisa bergerak.

" Rin? Dahimu sakit? " Tanya Len padaku sambil menempelkan dahinya ke dahiku dan karena itu mata kami bertemu.

" ... "

Aku tak mampu berkata apa-apa.

Sampai tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu di dahiku.

Len... dia... MENCIUMKU DI DAHI!

" WHAT THE HE-" Teriakanku berhenti ketika Len menutup mulutku dengan mulutnya! ( HERE WE GOO! RATED T for this! *dihajar*)

Len menciumku di bibir, DI BIBIR!

Ia menciumku sambil memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang dingin.

Ukhh!

Beberapa detik kemudian, dia melepaskan ciuman untuk menghirup oksigen. (YAIYALAH!)

Wajahku memerah karena itu.

SIAL!

SIAL!

KAU LEN KAGAMINE!

PLAYER JELEEEKK!

Pikirku.

Aku melihat Len dengan samar-samar.

Dia...

Menyingrai...?

Len's POV

" Rin? Dahimu sakit? " Tanyaku pada Rin yang tertabrak tiang listrik sembari menempelkan dahiku ke dahi Rin.

" ... "

Tak ada jawaban.

Aku memutuskan untuk mencium dahi Rin.

" WHAT THE HE-" Teriak Rin. Tapi dengan cepat Dan sepertinya juga reflek... Aku membungkam Rin dengan mulutku.

Sambil memegang kedua pipi Rin yang hangat – Tak tau kenapa - dengan kedua tanganku.

Bibir Rin terasa manis.

Beberapa detik kemudian, aku melepaskan ciuman untuk menghirup oksigen. (YAYALAH!)

Aku menatap Rin sambil bernafas dengan terengah-engah.

Untung saja kami ada di perempatan jalan yang sepi...

Pikirku.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku.

Sambil sedikit menyingrai, aku langsung mengangkat Rin dengan bridal style.

" HU - HUAAAA!" Teriak Rin saat menyadari aku menggendongnya lagi.

Sigh...

Aku menghela nafas dan mulai berjalan menenteng tasku sambil menggendong Rin.

" Tu-turunkan aku Len!" Seru Rin sambil berusaha turun dari gendonganku.

" Ayolah Rinny~, jangan bergerak-gerak seperti itu. Kau ingatkan akibatnya terakhir kali kau bergerak-gerak ketika ku gendong?"

Kataku pada Rin sambil tersenyum.

Rinpun jadi diam.

Dan secara mengejutkan, dia merangkulku.

Rin's POV

Aku diam sepanjang jalan selama Len menggendongku.

Ini bukan karena aku sudah jatuh dalam perangkapnya tapi karena ..., er...?

" Rin? " Seru Len padaku.

Aku menatap Len yang menggendongku dengan bridal style.

" Kau mau turun di sini? " Tanya Len dengan baik. Baik...?

" Atau di sekolah?" Lanjutnya lagi dengan menyingrai.

Okay! Aku tarik kata ' Baik' tentang cara bicara Len barusan.

" Di sini ". Jawabku dengan cepat.

Lenpun menurunkanku dari gendongannya tepat di salah satu jalan menuju sekolah.

Aku merapikan penampilanku dan berjalan pergi dari Len.

" Oi, Rin tunggu ak- " Seru Len, tapi aku memotongnya, " Jangan mengikutiku PLAYER!" Bentakku tanpa memutar badan atau kepalaku.

Aku terus berjalan tanpa memperdulikan Len.

Ouw...!

Gerutuku dalam hati ketika aku merasakan sesuatu mendarat dengan sukses dikepalaku dan jatuh ke mejaku.

Rinny~

Ayo buat taruhan~

Len.

Alisku terangkat sebelah setelah membaca tulisan itu.

Aku melihat ke arah bangku yang ditempati Len, dan mendapati Len tersenyum licik, sangat licik.

Lalu aku mengalihkan pandanganku ke kertas itu lagi dan menulis balasan di bawah pesan Len.

Hell!

Ok, apa taruhannya?

Rin.

Aku melemparkan kertas itu pada Len, dengan target, kepalanya. 3=D

Dan...

Yap! Tepat sasaran!

YES!

Len merasakan kertas itu dan membacanya, kemudian menulis balasan dan melemparnya padaku lagi.

Karena kami duduk bersebelahan ( UKHHH! ), guru yang mengajar tidak tau kalo kami melempar surat ke satu sama lain.

Taruhannya, Riinny~

Jika dalam 1 minggu ini aku dapat mencium lagi seperti tadi pagi,

Maka kau akan menjadi maid pribadiku selama 10 hari di apartemenku.

Dan jika tidak, yaaa~

Aku tak akan mendekatimu lagi.

Bagaimana?

Len.

Aku terkejut melihat taruhan yang di minta Len.

Pertama, aku terkejut karena ia INGIN MENCIUMKU SEPERTI TADI PAGI!

Memangnya tidak ada gadis lain yang bisa kau cium?

Kedua, yang membuatku tertarik adalah bagian dimana ia akan menjauhiku kalo ia tidak bisa menciumku.

Hmm..

Mungkin harus kucoba...

Pikirku.

Kemudian aku menulis balasan dan melemparnya pada Len.

DEAL!

Tapi kau tak akan semudah itu menciumku lagi, SHOTA!

Rin.

Setelah itu, aku mencatat apa yang ditulis oleh guru di papan tulis.

Tiba-tiba sebuah kertas mendarat di mejaku.

Aku membaca kertas itu,

BERHENTI MEMANGGILKU SHOTA!

" Pfftt..."

Aku mencoba menahan tawaku saat membaca itu.

Sesaat kemudian aku menyadari Len menatapku dengan sebal seperti anak kecil.

Aku mengeluarkan lidahku sedikit dengan eksperi mengejek.


In-Chan : Yay! Chappiieeee 8~~~

Rin : Eh!

Len : Yay! Kisss! Kiss Rin! *seneng*

Rin : *nge- death glare Len*

Len : Er...*shivers*

In-Chan : Akhirnyaaa... saia sempet deg-degan juga pas nulis adegan itu~

Len : R&R please~

Rin : R&R pleaseee~~~

In-Chan : R&R maka akan banyak adegan romantis! XD (gak janji lhoo~ *dibakar*)