R&R reply~
Kurara : YOSH! UPDATE! XDDD
Rii-kun : makasih senpaaai ~~ XDD , he'em~ YOSH! UPDATE! CX
Fleur d'oranger : Yay! Ohohoo~ *smirk* , ya Len emang OON~*dihajar ma semua Len FC, Vocaloid, UTAUloid, dkk~* YOSH! UPDATE POWER! XDD
-Thanks for the suports –
In-Chan : Yo! Minna-san!
Rin : ?
Len : ...?
In-Chan : Er...?
Rin : Um...
Len : Jadi..? Gimana lanjutan cerita ini?
In-Chan : DISCLAIMER FIRST! *gak nyambung*
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Nb : sedikit saran, siapkan air putih disebelah anda, karena chapie ini akan PANJANG.
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Rin's POV
" Kau, yang menyanyikan lagu meltdown 'kan?"
Pertanyaan Len mengejutkanku.
Bagaimana ia tau?
Maksudku, aku masih dikucir dan memakai kacama-
SEBENTAR!
Ia baru saja mengambil kacamataku!
Damn!
SIAL!
Kataku dalam hati.
Kemudian aku mencoba meraba rambutku, dan ternyata kuciranku lepas!
HELL!
Kuciranku sudah lepas pula!
LEN KAGAMINE!
I'LL KILL! YOU!
Sambil menatap Len dengan kesal, aku berkata,
"Er... bukan?" Kataku sambil menggigit bibir.
Len seperti menyadari kalo aku berbohong.
" Oh,ya? " Katanya dengan alis terangkat.
" Y—ya?" Jawabku dengan masih menggigit bibir.
" Tapi, aku yakin kau yang menyanyi lagu itu Rin~" Balas Len sembari mendekat ke arahku.
" ... "
Aku hanya mematung dan menatap Len yang semakin mendekat.
UKHH!
" Kau yang menyany- "
" YA AKU YANG MENYANYIKAN ITU LEN KAGAMINE!" Teriakku, memotong kata-kata Len.
" Wow! Kau mengaku?" Kata Len dengan nada ½ percaya.
" Ya! Puas?" Balasku pada Len dengan ketus.
" PUAS!" Jawab Len dengan gembira dan kemudian.
...?
DIA MENCIUMKU LAGI!
SIAL!
SIAL!
SIALL!
Day : 1
Title : Rin's COMING!
Rin Kamine disini.
Sekarang aku sedang berdiri di depan sebuah apartemen mewah sambil menenteng 1 koper besar dan tas ransel.
Kau bertanya apa yang kulakukan di sini?
Jika kalian masih ingat taruhan yang ku buat dengan Len, maka itulah alasanku di sini.
Flash back~~
" NO WAY SHOTAAA!" Teriakku sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Len yang kuat.
" Ayolah Rinny~ kau berjanji dan menepati,kay?" Kata Len.
" HUAAAA! TIDAAAK!" Teriakku dengan keras. " Aku akan menelepon polisi jika kau tetap memaksaku LEN KAGAMINE!" Lanjutku dengan sadis.
" Kalo begitu, aku akan bilang kalau kau saudari kembarku yang lari dari rumah dan tak mau pulang." Balasnya dengan tertawa kecil.
Ukhh!
Sial! Kenapa kami harus serupaa!
"..."
" Bagus!" Seru Len senang.
Dammit!
End of Flash Back~~
Dan karena itu aku harus menepati janjiku.
Aku menghela nafas.
Baiklah Rin!
Kataku dalam hati.
Dengan mantap dan sedikit ragu aku melangkah menuju ke gedung itu.
Aku naik lift dan memencet tombol dengan angka 12.
Sigh...
Ketika sampai dilantai yang kutuju, aku disambut oleh seseorang berambut blond dan bermata azure.
Len.
" Ohayo Hime~samaaa~~" Seru Len sembari berjalan menuju arahku.
"Hmph! "
" Aww... Ayolah Rinny~ kau cantik sekali hari ini~" Rayu Len.
" Berhenti merayu player! Itu tak akan bekerja padaku!" Bentakku pada Len dengan sadis.
Iya, jujur saja.
Hari ini aku memang tidak memakai penampilan kuperku di sekolah lagi.
Karena, pertama, dia sudah tau siapa aku.
Kedua, INI LIBURAN MUSIM PANAS!
" Baiklah.. baik! Ayo masuk!" Kata Len sambil menarik tanganku.
" Dan jangan kau berani MEMENGANG TANGANKU SHOTA!" Bentakku sambil menarik tanganku dari pegangannya.
Len memutar kepalanya ke arahku. Dengan wajah yang memerah marah dan tersipu, mata Len melebar.
" BERHENTI MEMANGGILKU SHOTA!" Teriaknya padaku.
" Bah, tak akan!" Kataku dengan sadis.
Len's POV
" Ayo masuk!" Kataku pada Rin yang berdiri di ambang pintu apartemenku.
Segera Rin masuk dan berkata,
" Wow! Bersih! Aku rasa kau tak membutuhkanku! See yo-"
" Oh! Kau tak boleh pergi Rinny!" Kataku sambil menghalangi jalan keluar satu-satunya.
" Kau sudah kalah dalam taruhan, dan harus menepati janji!" Ucapku pada Rin yang wajahnya sebal.
Hehehe..
Aku akan mengerjaimu Rin!
Pikirku.
" Sekarang, maid ku yang manis~ tolong, masuk~" Kataku pada Rin dengan sedikit menyingrai.
Rin memasang wajah sebal dan berjalan masuk ke ruang tengah.
Hehehe...
Rinrin~ Kau akan ku kerjai..~
Pikirku sambil berjalan di belakang Rin, mengikutinya.
Rin duduk disofa putih yang ada. Aku berdiri didepan Rin.
" Okay! Selamat datang di kediaman Kagamine ". Seruku pada Rin.
Ia menggeram dan memutar matanya.
" Ayolah, Rinny~ gembiralah sedikit~" Kataku pada Rin sambil tersenyum.
" Nah, Never!" Sahut Rin tanpa melirikku.
" Awww~ Rinrin~, kau berada di rumah pemuda tertampan di sekolah dan akan tinggal 10 hari di sini, " Kataku lagi.
" Dan kebanyakan atau bisa dibilang semua... gadis di sekolah ingin seperti dirimu. Jadi gembiralah sedikit~!" Lanjutku lagi dengan nada merayu riang. (NADA APAAN TUH! = ="")
" Tapi..." Kata Rin sambil mengarahkan pandangannya padaku.
Kau tau? Pandangan Rin agak menakutkan. Tapi maniss~
" Aku bukan kebanyakan gadis di sekolah, Bodoh!" Kata Rin dengan ketus.
" Dan aku juga di sini karena terpaksa! Satu hal lagi, kau tidak tampan tapi SHOTA!"
Lanjut Rin dengan menekankan kata 'SHOTA', diakhir.
GRRRR!
BERHENTI MEMANGGILKU SHOTA!
Teriakku dalam hati.
Tapi aku tetap menjaga image ku dengan tersenyum dan berkata,
" Ok, Sekarang Rinrin~ tugas pertama adalah mengganti pakaianmu dengan ini ". Kataku sambil mengangkat se set baju maid yang kudapat dari sepupu yang suka main cosplay.
Aku mendapati Rin melongo dan kaget, ketika aku suruh mengganti pakaian dengan baju maid yang kupilih.
(err... saia tak mendiskripsikan secara spesifik, karena belum kepikiran. Ntar, kalo udah ada ide, saia bakal postin di blog fanfic saia,jadi tungguin~)
Rin's POV
Ukhh..!
SIAL!
SIAL!
SIAL!
" Sudah selesai? " Tanya Len dari balik pintu.
Ini memalukan!
Pikirku sambil melihat ke cermin yang ada di ruangan tempatku berganti baju.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa!
Pikirku sebal. KENAPA AKU HARUS MENEPATI JANJIKU?
Oh, ya..
Tentang saudari kembar dan lainnya...
Dammit!
Hate this guy!
"Rin? " Seru Len lagi.
" Er.. Ya! Aku keluar sebentar lagi!" Sahutku dengan gugup.
"Kau sudah berada di sana, di DALAM KAMARKU lebih dari 1 jam! " Teriak Len dengan halus ...?
" Keluar sekarang juga! Aku hanya ingin melihatmu dengan pakaian maid itu~"
" Tunggu, sebentar! " Sahutku lagi.
Ok, aku harus menyiap mental untuk ini!
Pikirku.
" Kalo, kau tak membuka pintu ini, sekarang juga! AKU AKAN MENDOBRAKNYA!" Kata Len lagi.
(Er... pyscho? Nope. Weird? Yep, that's one.)
Len's POV
Aku terpana melihat seorang Rin Kamine begitu cantik memakai baju maid itu.
" Er... Len? "
Suara Rin membawaku kembali ke kenyataan.
Rin..
Terlalu..
MANIS! (OMG!*plaaaakk* Lenlen! Kliatannya obat anda abis yah? *digampar*)
Pikirku dalam hati. Dan kurasa mukaku memerah.
" HOI! SHOTA! " Seru Rin, yang dimana sekali lagi membawaku ke kenyataan.
" Berhenti memanggilku shota!" Balasku.
" Kalo begitu berhenti memandangku dengan mata mesum milikmu itu!" Jawab Rin dengan marah-marah.
" Awww.. ayolah Rinrin~ kau tau'kan aku suka padamu?" Kataku pada Rin sambil memegang wajah Rin.
" Hell! Aku tak akan percaya terhadapmu PLAYER!" Balas Rin dengan kasar.
" Love you~" Sahutku tanpa memperdulikan apa yang barusan di katakan oleh Rin.
" Jadi, apa yang harus kulakukan?" Tanya Rin tiba-tiba.
" Hm... tugas pertama Rinny~ adalah.."
Aku mulai berpikir. Dan aku ingat kalo aku belum sarapan.
" Membuatkanku sarapan yang special!" Lanjutku dengan senyum licik terpampang di wajahku.
" Baiklah.." Jawab Rin singkat sambil mulai melangkah, tapi tiba-tiba Rin berhenti dan memutar kepala.
" Dimana dapurnya?" Tanya Rin dengan wajah yang polos.
Awwww..~~~
Manis sekali~
" Disana ". Kataku sambil menunjuk ke arah kanan dari tempat kami berdiri.
Lalu tanpa mengatakan apapun Rin berjalan menuju ke dapur.
09.30 a.m.
"Ini!" Kata Rin sambil menyodorkan sepiring penuh nasi goreng buah, yang memakai buah... PISANG! Yay! PISANG!
Sebentar...
Bagaimana Rin tau aku suka nasi goreng buah, dan PISANG!
Pikirku sambil menatap piring yang berisi nasi goreng buah.
" Kau mau makan atau tidak? " Tanya Rin sambil menatapku sebal.
" Er..." Aku bingung harus berkata apa.
" Kalo kau tak mau, aku akan memakan makan favoritemu ini SHOTA~" Ucap Rin dengan nada mengancam, tapi saat aku meliriknya wajahnya tersenyum..
Rinrin~tercinta juga bisa jadi seram..
Tiba-tiba saja piring itu diangkat oleh Rin.
"Hei! Rinny! Aku ingin memakan itu! " Kataku sambil menunjuk piring yang diambil Rin barusan.
" Kupikir kau tak ingin memakan, makanan favoritemu ini~" Kata Rin sambil tersenyum dengan licik ...?
" Sebentar.. darimana kau tau itu adalah makanan favoriteku? " Tanyaku pada Rin dengan penasaran.
" Er..." Rin kelihatannya bingung.
" Darimana Rin? " Tanyaku lagi sambil menatap Rin.
Rin memutar matanya.
" Er... Tebakan yang beruntung? " Sahut Rin dengan nada ragu.
Ini mencurigakan..
Pertama ia tau ejekanku saat SD.
Dan sekarang makanan favoriteku!
" ... "
Tiba-tiba Rin meletakkan piring tadi di depanku lagi dan berjalan menuju ke ruang tengah.
Aku menatap piring yang berada di depanku dan Rin yang berjalan ke ruang tengah.
Kemudian aku memutuskan untuk makan nasi goreng buah tadi.
19.00 p.m. (CEPET! O.O)
"Oi, Len! " Seru Rin kepadaku.
" Ya, hime~sama? " Jawabku sambil duduk dikursi makan sambil mengamati Rin yang sedang mencuci piring.
" Berhenti, memanggilku seperti itu! " Bentak Rin.
" Baik..baik.. jadi apa yang ingin Rinny~ tanyakan?" Tanyaku pada Rin yang masih mencuci piring.
" Kemana orang tuamu?" Tanya Rin sembari mengelap tangannya yang basah dengan celemek yang dipakainya.
" Luar negeri ". Jawabku singkat. " Kenapa memang? " Tanyaku balik.
" Tak apa ". Sahut Rin.
Kemudian Rin mengambil kursi yang berada di seberang meja.
" Kalo kau, Rin?" Tanyaku pada Rin sambil bertompang dagu.
" Luar negeri,juga. Sepertimu ".
Mataku melebar.
" Kau juga?"
" Yap ".
Rin menyandarkan kepalanya di meja.
Aku menatap Rin.
Selama beberapa menit, keheningan terjadi.
" Um.. Rin?" Kataku, memecahkan keheningan.
" Apa? " Jawab Rin sambil mengangkat kepalanya sedikit dari permukaan meja.
" Kapan ulang tahunmu? "
Aku tak tau.
Aku tak tau.
Kenapa aku menanya'kan hal tak penting seperti itu?
" Kenapa kau ingin tau?" Tanya Rin.
" Aku hanya ingin saja ". Jawabku sambil menatap Rin.
" 1+3+5+7+9+2 Desember ". Jawab Rin dengan malas.
" Hah? " Jawabku dengan nada bingung.
Bagaimana tidak?
Dia mengatakannya dengan cepat! Sangat cepat!
" Hitung! " Seru Rin.
Akupun mulai mengingat apa yang di katakan Rin dan mulai menghitung.
"...9...18.."
" Akh! Kau lama, SHOTA! 27 Desember! " Seru Rin dengan kesal sampai-sampai ia mengangkat kepalanya sepenuhnya dari permukaaan meja.
" Um..? "
" Geez.., kau player, tapi kau sangat lamban dalam hal seperti ini ". Kata Rin sembari menghela nafas.
" Aku lemah di matematika, kau tau? " Jawabku dengan jujur.
Iya, nilai tak pernah terlalu bagus saat masuk ke matematika, tapi di mapel lain nilaiku bagus.
" Ya, Tuan Kagamine, aku tau. Jadi ulang tahunku pada tanggal 27 Desember ". Kata Rin yang kemudian menyandarkan kepalanya di meja lagi.
27 Desember?
Itu sama dengan ulang tahunku..
" Ada lagi?" Tanya Rin sambil melirikku.
" Ulang Tahunmu sama sepertiku? " Kataku dengan nada penasaran.
" Sepertinya.." Sahut Rin sambil memutar matanya.
Kenapa kami hampir seperti anak kembar?
Warna rambut sama,
Warna mata sama,
Ulang tahun kami juga sama..,
APA INI!
Pikiranku jadi beraduk.
Akhhh!
Tiba-tiba kepalaku jadi sakit.
Dengan tenaga yang tersisa, aku berjalan menuju ke kabinet dapur dan membuka salah satu kabinet.
Mengambil botol obatku dan meminumnya.
Rin's POV
Mataku mengikuti Len yang berjalan menuju ke kabinet dapur.
Seketika aku mengangkat kepalaku dan memutar badanku.
" Len?" Tanyaku saat mendapati Len yang berdiri di pantry dapur dengan lemas.
Len tak menjawab. Karena agak khawatir, aku bangkit dari kursi yang tadi ku duduki dan menghampiri Len.
" Kau tak apa? " Tanyaku sambil memegang bahu Len.
Len tak menjawab.
Tapi aku merasakan ada yang ganjil.
" Len? " Tanyaku lagi.
Serius, aku jadi khawatir.
Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan suara tawa yang sangat ku kenal.
Len?
" Awww... Rinny~ kau mengkhawatirkan ku? Itu maniss~" Kata Len sambil perlahan berdiri tegak.
Aku hanya menatap Len dengan bingung.
Kemudian aku sadar, dan berkata, " HELL! IN YOUR DREAM SHOTA!"
" Terserah kau saja Rinny~" Jawab Len diikuti dengan tawa kecil khasnya.
Sigh...
22.30 p.m.
" Jadi aku tidur dimana?" Tanyaku pada Len saat aku akan membawa koper dan ranselku.
Len memutar kepalanya ke arahku dengan pandangan heran.
Lalu menyingrai.
" Rinrin akan tidur, " Kata Len sembari mendekatiku.
Tolong! Jangan 1 kasur dengan player ini!
AKU MOHON!
(AUTHORR!)
" Di..." Lanjut Len.
" Kamarku, bersamaku ". Itulah akhir kata dari kalimat yang diucapkan oleh Len.
Di bibirnya terukir senyum licik yang bisa dibilang sangat licik!
Aku hanya melongo sambil melihatnya tersenyum licik.
KARMAA!
HATE IT!
Kenapa?
(Author! Lihat saja kau nanti!)
" Ayo, Rinrin~" Ucap Len sembari menyentuh pipiku.
Aku menatap Len dengan death glare ku, tapi ku rasa, ia tak akan mengerti.
AKHH!
" Atau... "
Len melanjutkan kata-katanya.
" Kau ingin ku gendong? " Katanya dengan santai, tepat di depan wajahku.
" HELL. NO! Aku bisa jalan sendiri, shota!" Bentakku pada Len sambil menenteng semua bawaanku ke kamar Len.
Tadi pagi saat pertama ke sini aku memang sudah ke kamar Len untuk ganti baju.
Tapi aku tak sempat mengamati kamar Len dengan baik, karena terlalu depresi harus memakai baju maid itu..
Grrr..!
Ketika aku sampai di depan pintu kamar Len, aku berhenti sejenak.
Aku menelan ludah dan memantapkan hati untuk masuk ke kamar Len.
Saat membuka kamar Len, aku terkejut. Kamarnya bersih dan rapi.
Tidak seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya.
Ditambah lagi ia tinggal sendiri.
Aku melangkah dengan ragu sambil mengamati setiap sudut kamar Len.
" Kenapa Rinny?" Seru Len dari belakangku.
Aku terkejut karena itu dan hampir saja meloncat.
" Tenang saja, Rinny~ " Kata Len sembari menjejalkan tangan ke saku celananya yang hanya sebatas lutut.
" Hah? "
" Kau tak perlu khawatir, aku tak akan melakukan apapun padamu.." Lanjut Len dengan menyingrai.
"Uh-huh. Aku tak yakin." Kataku sambil menatap Len.
" Percaya saja padaku...untuk sekarang ". Lanjut Len yang kemudian berjalan ke kamar mandi.
Aku hanya diam saja, kemudian menjatuhkan diriku ke kasur yang ukurannya king size.
Sambil menghela nafas, aku menatap ke langit-langit.
" Oi, Rin! Kau mau mandi sekarang? " Tanya Len tiba-tiba.
Aku bangkit dari posisiku dan menatap Len.
" Bersamamu? " Kataku dengan anda bertanya.
" Tidak. Tapi jika kau mau, aku bisa.." Jawab Len dengan menyingrai lagi dan kemudian tertawa kecil di ambang pintu kamar mandi.
Mukaku terasa panas.
Kenapa aku harus bertanya pertanyaan bodoh seperti itu!
" Tidak terima kasih Len. Lebih baik aku mandi sendiri ". Balasku dengan cepat.
Kemudian aku membuka koperku dan mengambil semua yang kubutuhkan untuk mandi.
Dan kemudian masuk ke kamar mandi.
23.00 p.m.
Sekarang aku sudah berbaring di kasur Len, dan disebelah Len.
Sigh...
Mandi dengan air hangat pada malam hari memang menyenangkan.
Aku memutar posisi badanku.
Aku tak bisa tidur. Kemudian aku merasakan sesuatu menempel di belakangku.
" Mmmm... "
" Len? " Bisikku pelan untuk memastikan Len bangun atau tidak.
Tidak ada jawaban.
Aku menyimpulkan kalo Len sudah tidur dan tadi hanya imajinasiku saja.
Tapi, tiba-tiba badanku serasa ditarik ke belakang oleh sesuatu.
Sepasang tangan melingkar dipinggangku.
Sial!
Len.
" Oi, Len! BANGUN KAU PENIPU!"
Tak ada respon.
" PLAYER!"
Tak ada respon lagi.
" SHOTA!"
" Berhenti memanggilku SHOTA!" Teriak Len dari belakangku, sambil terus memelukku.
" Kalo begitu lepaskan aku, Tuan-pencari-kesempatan-dalam-kesempitan!" Bentakku sambil berusaha melepaskan tangan Len yang melingkar di pinggangku.
Daripada menjawab, Len memeluk lebih erat.
Aku bisa merasakan panas tubuh Len yang berada di belakangku.
" Aku tak ingin ". Hanya itu kata-kata Len yang terakhirku dengar sebelum ia tertidur lagi.
Aku hanya pasrah dan berharap ia tidak melakukan hal yang aneh selama aku tidur.
In-Chan : CHAPTER 10 FINISH~ *sleppy*
Rin : HECK!
Len : Awww..~ Aku ingin mencium Rin~
In-Chan : Belum saatnya..*kucek-kucek*
Rin : *sigh* R&R please~ for the next chapter.
Len : R&R please~ untuk adegan romance lainnya~
In-Chan : R&R please~ for the next chapter, my energy to countinue this story til the end. *tepar*
Rin&Len : *ngelirik In-Chan yang tepar seketika* R&R please~
