R&R reply~

Kurara : Ehehehe~ mumpung idenya ngalir~ Twincest? Eh? Masa' sih? Ntar saia cek deh typo nya~ YOSHH! UPDATE! XDD (oh,ya makasih ya, komennya di blog~ SAIA BAHAGIAA! XDDD sekarang ada Len no bousou di sana~ silahkan jika ingin lihat~hehe)

Fleur d'oranger : YAY! Aku dukung! XDD dan juga ditunggu~ habis- habisan? Ehehe~ Makasih! YOSH! UPDATE!

Byaku : Makasih~ YOSH! UPDATE! XDDD

- thanks for the suports -


In-Chan : *ngantuk* Rin? Len?

-Dead Silent-

In-Chan : *clingak-clinguk nyari RinLen* *Nemu Len Rin * AH-?

Rin&Len : *twincest*

In-Chan : * Gulp * I'll do it myself then..

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~

Nb : sedikit saran, siapkan air putih disebelah anda, karena chapie ini akan PANJANG.


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Day : 2

Title : Something?


Len's POV

Aku membuka mataku dan menatap ke arah jendela yang bersinar.

Aku akan merenggangkan tubuhku, ketika aku menyadari sesuatu.

" ... "

Aku mendapati Rin masih tidur di pelukanku...?

Baiklah..

Rinny seperti malaikaaatt saat tidur~!

Pikirku dalam hati saat menatap Rin yang masih tidur dengan rambut berantakannya yang terkena sinar matahari.

" Mmmm... " Geram Rin sambil menggeliat di lenganku.

Aku menatap Rin dengan tersenyum kecil, melihat tingkahnya saat tidur.

Kau tau?

Rin kelihatan sangat manis sangaaaat manis saat tidur dan mukanya sangat polos dan tenang.

Dan saat tidur ia hanya memakai kaos putih polos dan celana pendek sebatas paha...!

Ok, katanya aku player..

Jadi kenapa ia berpakaian seperti itu saat tidur?

Apa dia mau ku apa-apakan? (Heh! Len! Ni rated for T not M! *ngampar Len*)

Pikirku sambil menatap Rin.

Sembari menatap Rin aku juga memainkan sedikit rambut yang ada dimuka Rin dan merapikannya.

Semua terasa begitu tenang dan damai sampai Rin bangun.

" Mm... en? " Itu yang dikatakan Rin dengan mata masih mengantuk.

Dan saat dia menyadari aku di depannya persis; hanya berjarak beberapa centimeter, matanya melebar.

Sigh..

" Ohaaaayoo Himeee~saaaann~" Seruku pada Rin yang masih dalam pelukanku.

Rin hanya mematung dengan pandangan kaget.

" Awww...~ Kau terpesona melihatku Rin? " Tanyaku dengan nada merayu untuk menyadarkan Rin.

Kemudian Rin membuka mulutnya dan menutupnya lagi.

Tapi kemudian ia membuka mulutnya lagi dan,

" HELL? LEPASKAN AKU PLAYER! " Teriak Rin sambil berusaha bangkit dari kasur dan melepaskan diri dari pelukanku.

Sepertinya dia sudah menyadari posisi kami.

Tapi percuma saja.

Aku menarik Rin dengan kedua tanganku dan memeluknya erat.

" Aku tidak mau Riinnyy~" Kataku sambil mendekatkan jarak kami berdua dalam pelukanku.

" Auuuggh! " Geram Rin dan kemudian dia mengomel tentang sesuatu..., yang pasti aku tak bisa mendengarnya walaupun sudah sangat dekat.

Tapi ada satu kata yang membuat mataku melebar.

" ...shota..."

Secara reflek aku bangkit dan membuat Rin berada di bawahku dan aku diatasnya.

" Kau berkata apa tadi Rinrin? " Tanyaku pada Rin sambil menyingrai sedikit.

" Hah? Memang aku berkata apa tadi? " Tanya Rin balik padaku.

" Kau tau apa yang kau katakan.." Kataku sambil perlahan menunduk sedikit ke wajah Rin.

Aku bisa merasakan nafas Rin yang berat.

"... "

" Ayolah, Rin, " Bujuk pada Rin sembari sedikit mengubah posisi kepalaku ke arah leher Rin.

" Kau tak mau kan ada bekas di sini? " Lanjutku sambil sedikit menjulurkan lidahku ke arah leher Rin.

(HUAAA! APA INI! *dihajar*)

" ...ta ".

Aku mengangkat kepalaku sedikit dan menjajarkannya tepat di sebelah telinga Rin.

" Apa itu Rinny? Kau berkata sesuatu?" Ucapku.

" SHOTASHOTASHOTAAA! " Seru Rin.

Aku kaget dan langsung berteriak,

" Berhenti MEMANGGILKU SHOTAA!"

Dan langsung menyerang leher Rin dengan menggigitnya.

Saat menggigit leher Rin, rasanya manis dan jeruk?

"Ouch!" Seru Rin kesakitan.

Aku tetap melanjutkan menggigit leher Rin dan menjilatinya.

Leher Rin, sangat manis..

Berbeda dengan gadis lain..

Pikirku sambi terus menjilat serta menggigit leher Rin. (Vampire!)

Sampai akhirnya Rin mendorongku.

Aku rasa, aku terlempar dari tempat tidurku sendiri dan mendarat di lantai.

" LEN KAGAMINE! " Seru Rin dari atas kasur.

Saat aku melihat Rin, ia memiliki wajah yang sangat marah sembari melipat kedua tangan di depan dada.

" Kau akan membayar apa yang baru saja kau lakukan! " Kata Rin yang kemudian turun dari kasur dan mulai mendekatiku.

Dan kemudian tangan Rin mulai menggelitik seluruh badanku.

" AHAHAAHAHHA! "

Aku tak kuat kalo dikelitiki.

" Hahaha~ Ini pembalasanku LEN!"

Kata Rin sambil tersu menggelitikiku.

1 jam kemudiaaann~

Tubuhku lemas.

Ini karena Rin terus menggelitikiku tanpa henti selama 1 jam.

Dan sekarang kami terbaring di lantai kamarku.

" Kau lapar? " Tanya Rin padaku.

Aku menoleh ke arah Rin.

" Er...? Ya? " Kataku pada Rin.

" Kalau begitu, aku akan buat sarapan ". Balas Rin sembari mulai berdiri dan beranjak keluar dari kamarku.

Mataku mengikuti kaki Rin yang kemudian menghilang di balik pintu.

Rin's POV

Sambil berjalan ke dapur, aku memegang leherku yang digigit oleh Len.

" Auoch! " Seruku ketika aku menyentuh bagian leherku yang digigit oleh Len.

Kemudian aku mencoba meraba bagian leherku lagi dengan pelan.

Saat sampai di dapur, aku berjalan menuju ke kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang ku butuhkan untuk memasak.

" Rinny~" Seru Len.

Aku memutar kepalaku dan mendapati Len berjalan dengan riang menuju ke arahku.

Ukhh...

Dan tiba-tiba saja ia memeluk lagi; seperti aku bonekanya saja!

" Lepaskan aku, Player!" Ucapku dengan ketus sembari berusaha melepaskan tangan Len yang merangkulku dari belakang.

" Kau mau ku gigit lagi? " Bisisk Len di telingaku dengan pelan.

SIAL!

THIS GUY!

Aku hanya diam dan tiba-tiba Len mulai menjilat leherku lagi.

" B—berhenti ... " Kata denganku dengan terengah-engah.

Len tetap melanjutkan menjilat leherku dan perlahan ia menggigitku lagi.

" LEN! " Teriakku dan kemudian aku tidak lagi merasakan lidah Len yang menjilatku tadi.

" Ehehe.. Riinny~ , Kau sangat manis~" Bisik Len di leherku sambil masih merangkulku.

Aku merasa suhu tubuhku jadi sangat panas dan mukaku juga ikut memanas.

SIAAALL!

Kemudian aku merasakan kalo Len melepaskan rangkulannya padaku dan berkata,

" Ayo, makan di luar ". Ajaknya sambil menoleh padaku dengan wajah tersenyum seperti anak kecil.

Aku hanya mengangguk.

" Ayo cepat ganti baju Rinny~" Kata Len padaku yang masih berdiri di depan kulkas yang terbuka.

" Ah-Iya " Jawabku sembari mulai berjalan menuju ke arah Len.

" Awww..." Seru Len ketika aku melewatinya.

" Apa? " Tanyaku dengan sadis sambil melirik Len sebentar.

" Kau menurutiku~" Balas Len sambil menutup mulut dengan tangan.

Dan gaya yang Len pakai mirip gadis penggosip..==""

" Aku menurutimu karena kita akan makan di luar dan berhenti memakai gaya itu. Itu menjijikan ". Sahutku sambil mengankat alisku.

"Aww...~" Balas Len " Kau mencintaiku~ " Lanjut Len.

" HELL!" Seruku saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Len.

" Love youu~~ " Sahut Len tanpa memperdulikanku dan aku meninggalkan anak itu untuk berganti baju.

10.00 a.m.

" Jadi kita kemana? " Tanyaku pada Len saat kami sedang menunggu lampu jalan berubah.

" Rinny~ mau kemana? " Tanya Len balik.

" Terserah kau saja ". Balasku.

" Kalau begitu, kita makan di kafe langgananku ". Sahut Len.

" Ah.. " Mataku mendapati lampu sudah berubah menjadi hijau.

" Ayo!" Kata Len yang tiba-tiba saja mengandeng tanganku dan menarikku.

Aku kaget dan hanya bisa mengikuti Len.

DAMN!

SIAAAL!

Pikirku ketika tanganku di gandeng oleh Len.

Tiba-tiba kami berhenti di sebuah kafe kecil.

' VOCAUTAU '

Itulah nama yang tertera di bagian atas atap kafe itu.

" Er...? "

"Ayo, masuk~" Ajak Len sambil terus menggandengku dan menyeretku masuk ke kafe itu.

Aku hanya bisa pasrah.

Aku sedang tidak memberontak.

" Pesan apa?" Tanya pelayan yang menghampiriku dan Len di meja.

" Spageti, dan banana split ". Sahut Len dan pelayan itu mencatatnya.

" Aku, Sandwich dan orange smoothie ". Kataku dan pelayan itu juga mencatatnya.

" Baiklah, tunggu 15 menit!" Kata pelayan itu sebelum beranjak pergi.

"Jadi, Rinrin suka jeruk?" Tanya Len yang duduk di depanku secara tiba-tiba.

" Ya. Kenapa?" Jawabku.

" Tidak apa~ " Balas Len yang kemudian bertompang dagu dan melihatku terus.

" Er...?"

Kemudian aku memutar kepalaku ke arah lain sehingga aku tidak perlu melihat Len.

Tapi bukannya mendapat pemandangan yang sunyi, aku mendapati kalo banyak lelaki yang melihatiku.

EKKK!

Ini menyeramkan!

Aku seperti daging steak yang siap di santap!

Pikirku dalam hati.

Kemudian aku memutar kepalaku ke arah Len dan menyandarkan kepalaku di meja.

" Silahkan~" Kata pelayan yang mengantarkan makan yang aku dan Len pesan.

Seketika aku mengangkat kepalaku.

Pelayan itu langsung meletakkan makanan-makanan itu di meja dan pergi.

Aku memandang makanku dan kemudian memandang ke arah Len.

Len's POV

Aku sedang menyatap spageti yang ku pesan tadi, ketika aku mendapati Rin menatapku.

Aku memakan seutas spageti dan bertanya pada Rin,

" Kenapa Rinrin? " Tanyaku dengan sedikit tersenyum.

Rin hanya diam, kemudian menunduk ke arah makannya.

Lalu mulai memakannya.

Aku kemudian mempunyai ide. Ide yang membuat Rin menciumku lagi.

Ehehehe...

Tawaku dalam hati.

Kemudian aku langsung mengambil seutas dari spagetiku dengan garpu dan kemudian mengancungkannya ke arah Rin.

" AAAA~" Seruku pada Rin sambil menyodorkan garpu yang aku pegang.

" Hah? " Kata Rin dengan tampang maksudmu?

" Ayolaaahh~ Rinrin~ buka mulutmu~" Balasku sambil terus menyodorkan garpu yang kupegang.

" Kenapa aku harus membuka mulutku?" Jawab Rin dengan alis terangkat.

" Karena aku akan menyuapimu?"

" Tidak terima kasih! Aku bukan anak kecil, dan aku bisa makan sendiri ".

"Awww~ Rinny~" Kataku sambil terus menyodorkan garpu yang kupengang.

" Tidak Len! " Bentak Rin yang mulutnya membuka sangat lebar.

Ini kesempatanku!

Seketika aku memasukan garpu yang ada spagetinya itu ke dalam mulut Rin.

Dan kemudian aku menggigit ujung lain dari spageti-spageti itu.

Rin's POV

SIAAAALL!

Aku hanya dapat mematung sambil menggigit spageti yang baru saja dijejalkan Len.

Dan SEKARANG LEN MULAI MENGGIGIT UJUNG SATUNYA! (saia harap para reader mudeng maksud akan adegan yang sedang terjadi..)

Semakin dekat...

Semakin dekaaat...

Sekarang bibir Len tepat ada di depan bibirku dengan jarak beberapa centi saja.

Aku harus bergerak!

Aku harus ber..

Seketika bibir Len bertemu dengan bibirku.

KAMI BERCIUMAN LAGI!

KURANG AAAAJAAAAAR!

Seketika Len langsung melepaskan ciuman itu dan duduk lagi di kursinya.

(nb : Len Cuma berdiri dari tempat duduknya yang di seberang Rin.)

" Sweet..." Kata Len sembari mejilat bagian bibirnya.

AKHHHH!

" Terima kasih atas ciumannya HIME~SAAMAA~~" Seru Len dengan menyingrai.

" Damn YOU, SHOTA!" Balasku sambil mengenggam garpu dan pisau makan yang kupegang.

" Love you too~" Sahut Len tanpa memperdulikan apa yang kukatakan. Lagi...

12.30 p.m.

" Kau mau kemana lagi Rinrin?" Tanya Len padaku saat kami baru berjalan di perempatan jalan.

" Pulang ". Jawabku dengan tegas.

Aku senang, aku dapat keluar dari kafe tadi.

TAPI AKU MASIH SEBAAALL DENGAN SEMUA LELAKI YANG MENATAPKU SAAT DI KAFE!

Dan JUGA LEN YANG MENCIUMKU!

GRRR!

" Kau yakin Rin?" Tanya Len sekali lagi padaku.

" Ya, LEN KAGAMINE! Ada masalah?" Balasku dengan ketus.

" Baiklah.." Jawab Len.

Kemudian kami berjalan pulang ke apartemen Len.

Tapi di tengah perjalan pulang, kami bertemu dengan seseorang.

" Lennyy~~~ " Seru seseorang yang berambut tosca yang dikucir dengan twin tail.

Hatsune Miku.

Hatsune langsung berlari ke arah Len dan memeluknya.

Aku yang berada di sebelah Len hanya menatap mereka, tak berkata apapun.

Lagi pula, apa urusanku dengan Hatsune?

" Hi, Miku~Chan~" Kata Len sambil menatap Miku yang sudah melepaskan pelukkannya dari Len tapi tetap dalam jarak yang dekat dengan PLAYER SHOTA itu.

" Kenapa kau susah di hubungi?" Tanya Hatsune dengan gaya seperti anak kecil yang ingin tau segala hal.

" Ah.. maafkan aku Miku-chan. Aku sibuk dengan semua PR yang beri guru ". Kata Len pada Hatsune dengan santai.

Aku tau Len berbohong pada Hatsune.

Ia tidak sibuk mengerjakaan PR apapun.

Bagaimana aku tau?

Pertama, aku sekelas dengannya.

Kedua, IA SELALU MENGGANGGUKU SETIAP SAAT!

" Aw~" Sahut Hatsune.

Kemudian Hatsune mengecup pipi Len, dan berkata,

" Nanti malam kau bisa?" Tanya Hatsune sambil memainkan rambut Len.

" Aku tak tau, Miku-chan ". Jawab Len yang kemudian pandangan matanya melirikku yang berdiri di sebelahnya dari tadi mengamati mereka.

Len menyingrai saat melihatku.

Paling ia pikir aku cemburu.

Jujur saja, TIDAK SAMA SEKALI.

Dan aku tidak bohong.

Maksudku.., kenapa aku harus cemburu?

Lihat? TAK ADA ALASAN UNTUK CEMBURU!

" Ayolah, Lenny~! Aku sangat ingin menghabiskan malam bersamamu~" Bujuk Hatsune.

" Baiklah Miku-chan. Jam 7 aku akan ke sana ". Jawab Len sambil menyingrai kepada Hatsune.

" Baiklah Lenny~, aku akan menunggumu~" Kata Hatsune sebelum ia pergi.

Aku menatap Len yang tersenyum pada Hatsune sebelum ia pergi.

BAGUSS!

Akhirnyaaa~ Tak akan ada yang menjahili atau melakukan hal yang aneh padaku nanti malam!

YAY!

Pikirku.

Tiba-tiba Len menghampiriku dan berkata,

" Cemburu?" Tanyanya dengan menyingrai.

" Kenapa harus?" Balasku sambil menatapnya.

" Kau tidak cemburu Rinrin?" Tanya Len. Kali ini ekspresi wajahnya berubah jadi kecewa.

" Tidak. Kenapa harus? Lagi pula jika kau akan pergi malam ini tidak apa ". Balasku sambil melipat kedua tanganku di depan dada.

" Kau yakin?" Tanya Len yang sepertinya menggigit bibirnya.

" Ya. Dan jangan khawatir, apartemenmu akan aman bersamaku ". Balasku.

" ... "

Len diam saja.

Dan tiba-tiba ia meraih tanganku dan mulai berjalan sambil menggandengku.

Aku hanya dapat melihat punggung Len, karena Len berjalan di depanku.

Hmm..?

Kenapa dengan Len?

Saat kami tiba di apartemen Len, Len hanya diam terus dan tak menyuruhku melakukan apapun. DAN ITU ANEH!

Sejak aku datang ke sini ia selalu menjahiliku.

Ok, aku khawatir sekarang.

" Len? " Seruku pada Len yang tiduran di sofa ruang tengah.

Len tak merespon.

" Oi! SHOTA!" Seruku lagi.

Tak direspon.

Ok, ini membuatku semakin khawatir!

Biasanya ia akan merespon kalo aku panggil ' SHOTA'.

Aku memutuskan untuk menghampiri Len yang ada di sofa.

" Len ?"

Aku mendapati Len ternyata tidur.

Pantas saja ia tidak marah saat ku sebut ' SHOTA'.

Aku menghela nafas.

Len's POV

Sekarang aku sedang berjalan menuju ke tempat Miku.

Kau bertanya apa yang aku lakukan di sana?

Well,..

Kalian pasti tau'kan? (Hentai mind~ jika ingin tau jawabannya~)

Bagus. Aku tak akan menjelaskan hal itu jika kalian tau.

20.00 p.m.

Saat aku melihat jam tanganku, itulah yang tertera di sana.

Aku menghela nafas.

Ini malam musim panas yang tidak dingin dan juga tidak panas.

Dengan cepat aku berjalan menuju gedung apartemen Miku.

Tapi pikiranku memikirkan Rin.

Jam segini, Rin pasti sedang mandi..

Badan yang kecil dan putih itu...

Pikirku sambil terus berjalan

.

Rambutnya yang honey blond..

Basah setelah mandi..

Bau jeruk...

Dan d-

AKHH!

BERHENTI!

Pikiranku mulai kacau.

Len Kagamine, kau tak boleh berpikiran yang kotor tentang Rin!

Bentakku pada diri sendiri.

Entah mengapa kalo sudah menyangkut Rin aku tak bisa berpikiran yang kotor.

Tidak seperti saat memikirkan gadis lainnya yang selalu kencan denganku.

Apa karena aku benar-benar cinta dengan Rin?

Len Kagamine, seorang player tak boleh jatuh cinta terhadap mangsanya!

Itulah semboyanku sebagai seorang player. (Hah? =="")


Nb : Berhenti sebentar... minum air putih dulu, baru baca lagi.

Rin's POV

" BOSAAAAANN!" Teriakku sembari mengangkat kedua tanganku ke udara.

Karena tak ada Len, aku tak kerjaan.

Benar-benar tanpa kerjaan.

Sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja makan di apartemen Len, aku memikir sesuatu yang bisa mengusir kebosananku ini.

Mandi?

Sudah.

Makan?

Sudah.

Hmm...

Kemudian di dalam benakku terlintas sesuatu.

" Kenapa aku tak menjelajahi apartemen ini? " Tanyaku pada diri sendiri.

YOSH! Aku akan menjelajahi apartemen PLAYER ini!

Pikirku.

Kemudian aku bangkit dari kursi yang ku duduki dan memulai menjelajahi apartemen Len yang lumayan besar ini.

Di apartemen Len terdapat ruang tengah yang juga ruang keluarga, dapur, 1 kamar mandi ukuran sedang, serta ruang cuci.

Tapi anehnya, Cuma ada 1 kamar tidur.

Tapi, seharusnya orang tuanya juga punya kamar tidur di sini kan?

Aku mulai menjelajahi seluruh bagian ruangan yang tadi kusebutkan, sampai aku di lorong yang letaknya di antara dapur dan ruang cuci.

Disana terdapat sebuah pintu yang belum pernah kulihat saat ku disini.

Yang dimana baru 2 hari, aku di sini.

Tapi seingatku, saat aku melihat-lihat di apartemen ini tak ada pintu itu.

Dengan ragu aku berjalan ke pintu itu.

Dan saat aku membuka pintu itu, aku mendapati kamar yang kecil dan ada kasur dengan ukuran single bed yang penuh debu.

Perlahan aku berjalan masuk dan menghampiri kasur yang ada di sana.

Tiba-tiba kakiku menatap sesuatu di lantai kamar itu.

Aku menunduk, dan melihat sebuah buku berdebu di bawah situ.

Aku pun mengambil buku itu dan berjalan ke kasur.

Sambil duduk di kasur, aku perlahan membuka buku berdebu yang kutemukan.

Buku Album?

Aku terkejut saat membuka halaman pertama buku album yang kutemukan tadi.

Di dalamnya terdapat foto sepasang anak kecil berusia 3 tahun yang bermain di taman.

Keduanya seperti anak kembar.

Ini...

" Fotoku dan Len.." Bisikku lirih pada diri sendiri sambil menyingkarkan debu yang terdapat di atas halaman tersebut.

Aku membuka halaman kedua,

Disana terdapat Fotoku dan Len saat kami berusia 5 tahun.

Halaman ketiga,

Fotoku dan Len saat berusia 6 tahun, kami makan 1 porsi eskrim besar di sebuah toko eskrim.

Halaman keempat,

Fotoku dan Len saat berusia 7 tahun, kami berpegangan tangan bermain di pantai saat musim panas tahun itu.

Aku terus membuka lembaran-lembaran yang ada dan tanpa sadar air mataku mengalir,

Mengenai halaman-halaman yang kubuka.

Len!

Len!

Sahabatku...

Sahabatku sejak lahir...

Sahabatku satu-satunya..

Sahabatku yang ku celakai..

Pada halaman terakhir, aku mendapati fotoku dan Len saat kami di sebuah jalan, saat musim dingin.

Kami berdua memakai mantel coklat.

Air mataku mengalir semakin deras..

" ..en... "

Hal terakhir yang kuingat adalah aku jatuh ke lantai yang keras.


In-Chan : Chapter 11 FINISH!

Rin : Gak masuk akal!

Len : ...

In-Chan : maafkan typo, dan alur cerita yang ancur ini.

Rin : R&R~

Len : R&R~

In-Chan : R&R please~

Rin : Oh, ya.. In-Chan?

In-Chan : ?

Rin : ROAD AND ROLL! *naik road roller*

In-Chan : HUAAAAA! *kabur*

Len : GO~ RINRIN!