R&R Reply~~

Fleur d'oranger : mari kita saksikan kelanjutan kisah ini~ ;) YOSH! UPDATE! XDD

Kurara : IYAA! YAY~YOSH! UPDATE! XDDD

Amu : Makasih~ XDD Soalnya mereka bukan kembar dicerita ini,..(MAAF! DX) KEREN! XDDD! YOSH ! UPDATE! XDD

Zerina : Makasih~ XDD YOSH!UPDATE! XDD

Rii-kun : Gpp kok senpai... saia juga sibuk bin depresi dengan skulah GAJEE! DXX

Lha lho? Kok? Geretan? Rated M? HUAAA! SAIA TAK BERANI! XDDD Benarkah? *puppy eyes* YOSH!UPDATE! XDDD

- Thanks for the support -


In-Chan : Yay! Minna~saaann~

Rin : Gak belajar?

Len : Gak ngerjain PR?

In-Chan : NTAR AJAA! DXXX

Rin : Ntar nilainya drop lagi bingung..

Len : Yup!

In-Chan : AKHH! SHUT IT UP TWINCEST!

Len&Rin : Fine!

In-Chan : And disclaimer please!

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~

Nb : sedikit saran, siapkan air putih disebelah anda, karena chapie ini akan PANJANG.


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Rin's POV

Dingin...

Sakit...

Dingin...

Itu saja yang dapat kurasakan.

Tapi ada satu yang tak dapat kurasakan..

Hangat..

Aku membuka mataku.

Sepertinya aku masih tersandar di atas lantai.

Lantai yang dingin.

" Ukh.. " Geramku sembari mengambil posisi duduk.

Dengan mata mengantuk dan kepala yang sakit, aku perlahan berdiri.

Perlahan aku berjalan keluar dari ruangan penuh debu tadi.

" Rin? " Seru sebuah suara yang kukenal.

Len..

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat sosok Len.

Len berdiri tepat di depanku.

Bajunya berantakkan, rambutnya juga berantakkan.

Ah.. seperti ia melakukan 'hal' itu dengan Hatsune.

Pikiranku terganggu saat aku melihat wajah Len. Wajahnya sepertinya khawatir.

" Rin? " Seru Len lagi. Kali ini ia berjalan ke arahku.

Pandanganku jadi kabur.

" Ah.. Len? Selamat data-"

Aku tak dapat merasakan badanku.

Semua jadi gelap.

Len's POV

"RIN!" Teriakku.

Dengan cepat aku berlari ke arah Rin yang akan menghantam lantai.

Tepat waktu!

Aku berhasil menangkap Rin.

Aku menatap Rin yang berada dalam peganganku.

Wajahnya pucat.

" Rin ?" Bisikku pelan semari menyentuh pipi Rin yang dingin.

Tak ada respon.

Tiba-tiba aku mendengar suara dengkuran.

Aku mendapati kalo Rin mendengkur.

Syukurlah..

Aku menghela nafas dan kemudian mengangkat sleeping beauty Rinny~ , ke kamarku.

Dengan perlahan aku meletak Rin di atas kasurku.


Day : 3

Title : Say " What is your order master?" , please?


"Mmmm..."

" LEN KAGAMINE!"

Suara yang keras dan cempreng itu membangunkanku dari tidurku.

Rin's POV

" LEN KAGAMINE!" Teriakku pada Len yang tidur dengan pulas.

Len perlahan membuka matanya dan menggeram, " Huaaa~ Rinrin~ kenapa aku dibangunkan? "

" Aku masih mau tiduuuuuur~" Lanjut Len sambil mengusap-usap matanya yang mengantuk lalu menarik seluruh Bed Cover untuk menutupi dirinya.

" Hell! BANGUN PLAYER!" Seruku sambil menarik Bed Cover yang dipakai Len.

Dan saat aku menarik Bed Cover itu Len menggelinding ke bawah dan jatuh.

RASAKAN!

" Ouw…. Itu sakit RinRin!" Seru Len yang terkapar di lantai.

" Hmph! "

Aku melipat kedua tanganku di depan dada dan berkata,

" Kau tak bangun sekarang, maka aku tak akan membuatkan sarapan!"

" Aww.. Jangan begitu Rinny~" Balas Len sembari berusaha berdiri.

" Awwww… Aku akan begitu SHOTA! Sekarang bangun!" Perintahku pada Len.

" Baiklah.. aku mengalah.." Kata Len yang kemudian secara tidak di duga menarik tanganku dan membuatku jatuh ke pelukkan Len.

SIAAAALL!

" YOUDAMNSHOTAAAA!" Teriakku dengan penuh amarah sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Len YANG MEMBUNUH TULANG-TULANG BERHARGAKUU!

" Aww… Love you too~" Sahut Len tanpa mempedulikan apa yang barusan ku katakan.

Aku terus mencoba melepaskan diri tapi percuma, ANAK SHOTA INI LEBIH KUAT DARIKU!

DAMMIT!

" Ayolah, Rinrin… diam sebentar saja… kay?" Pinta Len padaku.

" Hell NO! Aku tau kau berencana licik padaku!" Balasku sambil terus mencoba melepaskan diri.

" Aku tidak ". Jawab Len singkat.

" Ya, kau merencanakannya!"

" Rin, percayalah padaku. Aku tak merencanakan apapun, hanya berniat saja ".

" ITU SAMA SAJA SHOTA!"

" Aww.. tidak, itu berbeda. Kalo merencanakan sudah belum tentu diniati, dan kalo berniat itu… "

" SHUT IT UP SHOTASHOTA NO BOUSOU! "

" Baiklah Rin, aku akan diam…"

Seketika aku merasakan leherku dijilat oleh Len. LAGI!

" A-Ah.."

Len terus menerus menjilat leherku dan kadang menggigitnya.

" Enjoy it Rin?" Kata Rin sembari mengangkat kepalanya sehingga sejajar dengan telingaku.

" Heck N.."

Kata-kataku terpotong oleh bibir Len yang membukam bibirku.

Len menjilat bibir bagian bawahku, secara reflek mulutku terbuka, dan Len memasukan lidahnya ke dalam mulut dan menulusuri setiap inci dari mulutku.

Kadang ia juga menjilat lidahku.

Akhirnya bibir kami berpisah.

Dengan nafas terengah-engah aku masih dalam pelukan Len.

Dan sialnya aku sudah tak punya tenaga untuk melawan.

" Kau menikmati ini'kan? " Ucap Len sembari menyingrai.

DAMMIT!

SIAL!

SIAL!

" NO WAY IN 1000 YEARS SHOTA!" Teriakku dengan tenaga yang tersisa.

" Kalo setelah 1000 tahun?" Lanjut Len dengan alis terangkat dan menyingrai, lagi…

" … "

Aku sudah tak ada tenaga lagi untuk menjawab.

" Aku mengangap itu sebagai ' Ya' ". Sambung Len.

DAMMMITT!

Kemudian ia melepaskanku dan aku berdiri dengan pelan.

Tiba-tiba Len berkata,

" SARAPAAAN RINRIINN! "

" BUAT SENDIRI SHOTA!" Balasku yang kemudian langsung pergi ke dapur.

Len's POV

" Riinnyyy~" Seruku saat aku melangkah masuk ke dapur apartemenku.

Rin hanya menatapku dengan pandangan yang seram.

"Aw... Rinny~ Jika kau sangat mencintaiku cium aku saja~ tak perlu menatapku seperti itu~" Ucapku untuk membuat Rin sebal.

Hehe..

Mengerjai Rin itu ASYIK!

" Hell! Kalo aku sampai menciummu dalam keadaan sadar maka kau boleh menciumku setiap sebelum tidur SEPUASMU! " Balas Rin dengan ketus.

" Benarkah?"

" Ya, SHOTA! Tapi itu takkan terjadi!" Lanjut Rin sembari meletak telur goring diatas piring yang ada di atas meja.

Aku melirik telur itu.

Aku lapar, dan juga belum sarapan.

" Riinnyyy~" Seru pada Rin yang mulai menyantap telur gorengnya.

" Apa? " Jawab Rin sembari berhenti sebentar dari menggigit telur itu.

" Aku tak kau buatkan?" Tanyaku dengan puppy eyes.

" Er… tidak SHOTA!" Jawab Rin sebelum ia mulai makan.

" Kenapa?"

Rin menggunyah makanannya dan menelannya, lalu berkata,

" Pertama, "

Ahh… Kuliah pagi oleh Rin Kamine….

Dimana sumbatan telingaku?

" Kau tak mau kubangunkan ". Kata Rin sambil menunjukku menggunakan garpu yang ada potongan telur gorengnya.

" Kedua, kau sudah berani melakukan HAL ITU lagi terhadapku!"

" Hal itu ? " Kataku menggulangi kata-kata yang ditekan Rin tadi.

Rin tak menjawab pertanyaanku.

Ia sibuk melanjutkan makannya.

Akupun memutar kepalaku untuk mencari jawabannya, dan muncul lah jawaban itu.

"OHHH…" Ucapku sambil membentuk huruf 'O' dengan mulutku saat aku mengetahui alasannya.

Rin yang sepertinya heran, mengangkat kepalanya dan menatapku dengan muka penuh tanya.

" Apa? "

" Aku tau apa yang kau maksud dengan HAL ITU…" Kataku sambil menatap Rin balik.

" Yang kau maksud pasti lehermu yang kujilat tadi dan ci- "

Kata-kataku terpotong dengan seiris telur yang masuk kemulutku.

" SHUT UP!" Bentak Rin padaku sambil tersipu. Sebentar.. TERSIPU?

Oke, ini hal baru!

Aku tak tau kalo Rin akan seimut ini jika tersipu dan cantik..

Aku terus menatap Rin sembari memikirkan seribu pikiran betapa lucu Rin jika tersipu lagi.

Tiba-tiba saja pandanganku terusik oleh Rin yang bangkit dari kursi.

Rin's POV

Ukhh...

BERHENTI MEMANDANGIKU!

Teriakku dalam hati dengan sangat tersiksa.

Kau bertanya kenapa?

ITU KARENA LEN MENATAPKU TERUS TANPA HENTI!

"OHHH…" Seru Len secara tiba-tiba yang mengakibatkan aku menatapnya dengan heran.

" Apa? " Tanyaku pada Len yang mulutnya membentuk 'O'.

" Aku tau apa yang kau maksud dengan HAL ITU…" Kata Len sambil menatapku.

" Yang kau maksud pasti lehermu yang kujilat tadi dan ci- "

Segera aku memasukkan potongan telur yang tertancap di garpuku.

AKU TAK MAU DENGAARR!

Pikirku sambil terus memegang garpu itu.

" SHUT UP!" Bentakku .

Dan setelah itu Len terus menatapku.

INI MENYEBALKAN!

Kemudian aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke tempat cuci piring.

(Oke, mari kita percepat! SAIA SEDANG INGIN KE KLIMAKS!*dihajar*)

20.00 p.m.

" RINRIIIIIIIIINNN~" Seru Len yang malas-malasan di atas sofa sementara aku membersihkan debu yang ada.

" Apa? " Tanyaku dengan sadis tanpa melihat atau melirik Len.

" Awww..~ bisakah kau ke sini sebentar? " Pinta Len.

Aku mengankat alisku.

Aku heran saja.

Seketika aku menghampiri Len yang rupanya sudah duduk di sofa.

Sambil menempuk-nepuk pahanya Len berkata,

" Duduk di sini ". Perintahnya.

HELL NO WAAAAYY!

" Er.. No!" Balasku.

" Aw.. Ayolaaahh~ kau kan sudah menjadi maidku~ jadi menurutlaahh~ ".

KENAPA?

KENAPA?

KENAPA AKU TERIMA TARUHAN ITUU!

Aku jadi ingin membenturkan kepalaku ke tembok!

Dengan menggeram, aku melangkah menuju Len dan duduk dipangkuannya dengan posisi wajahku menghadap wajahnya.

" Apalagi? " Tanyaku dengan sadis.

" Rinnyy~ Tolong katakan ' Apa perintahmu tuan? ' , ya?" Pinta Len padaku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.

"…. "

Aku hanya diam dan menatap Len dengan perasaan benci yang amat dahsyaaaat~,

Apa perintahmu TUAN?

Apa dia gila!

AKU TAK AKAN MENGATAKAN ITUU!

AKU TAK AKAN!

TAK AKAN!

TAK AKAN!

" Ayolaaahh~ jangan diam saja Rinny~" Seru Len sembari mendekat jarak tubuh kami berdua.

Ukhh…

( AUTHOORRRR!)

" Atau kau mau aku menggi- "

" OKE!"

Dengan terpaksa aku harus mengatakan itu,

" A-apa.. "

Aku memulai.

" Hah? Aku tak dapat mendengarmu Rinny~"

Kata Len sembari menatapku tepat di mata.

" Apa p—perintah—mu… t—tua—tuan?"

Kataku dengan terpatah-patah.

" Tolong sekali lagi ".

" Apa perintahmu tuan?"

Akhirnya dengan ragu, aku dapat mengucapkan itu.

DAMN YOU LEN!

" Ahahah~" Tawa Len setelah aku menyelesaikan kalimat MEMALUKAN ITU!

" HEI!" Bentakku pada Len yang masih melingkarkan tangannya di pinggangku.

" Aku sudah menuruti maumu! SEKARANG LEP-"

" Aww.. tapi aku belum mengatakan perintahku'kan Riinnyyy~ ?"

Len mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Membuat kami begitu dekat.

SIAL!

SIAL!

SIAL!

" Perintahku adalah.. "

Len mendekat wajah kami.

" Rin Kamine, harus rela dicium Len Kagamine dengan sepenuh hati, dan tak boleh DITOLAK!"

Mataku melebar saat Len mengatakan itu dan menekankan kata TAK BOLEH DITOLAK!

" Er..."

Aku tak mau mencium Len!

AKU SUDAH CINTA DENGAN KAITO SENSEI!

" Aku tak ma- "

Kata-kataku terpotong oleh bibir Len yang menempel di bibirku.

Len menjilat bibirku.

Aku tak akan!

TAK AKAN!

TIDAK SEPERTI KEMARIN-KEMARIN!

AKU TAK AKAN!

Itulah yang ku katakan dalam batinku sambil berusaha mendorong Len dariku.

Len terus menerus menjilat bibirku.

Aku terus menahan geraman yang dapat memberi akses pada Len memasukan lidahnya ke dalam mulutku.

" -L—en!"

Kataku dengan terengah-engah karena dipotong oleh lidah Len yang terus berusaha masuk ke mulutku.

Ia tak merespon.

Dan sialnya, Len berhasil memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Seketika, aku merasakan kalo aku jatuh.

Dan dugaanku tepat. Aku jatuh. Di sofa, dengan Len berada diatasku sambil terus menciumku dan menulusuri setiap inci dari mulutku.

Aku mencoba untuk mendorong Len lagi.

Tapi percuma, ia terlalu kuat dan lebih lagi, ia berada diatasku.

Grrr...!

Akhirnya dengan sekuat tenaga aku menendang perut Len dan melempaskan diri dari Len.

Dan menukar posisi kami.

Aku berada di atas punggung Len, mendudukinya. Sementara Len aku duduki dengan kedua tangannya kuikat ke belakang dan kunci menggunakan tanganku.

Untung saja aku ahli karate.

" Ouch!Rinrin~"

" Ini balasannya LEN! Karena ku telah melakukan hal seperti itu SELAMA AKU DISINI!"

" Tapi.. aku benar-benar suka p-"

" KAU PLAYER DAN PEMBOHONG! AKU TAU ITU!" Bentakku.

" Aku sudah suka pada orang lain! " Bentakku lagi.

Aku ingin menangis.

Dadaku sesak, aku hanya ingin menangis.

Tapi bukan di hadapan player ini.

Dengan cepat aku turun dari atas punggung Len dan berlari ke kamar Len.

(KOK! JADI GINI! TTATT)

Len's POV

Aku bangun dari sofa.

Ternyata Rinrin bisa karate juga..?

Sama denganku lagi?

Oke.. ini aneh dengan SEKALI!

Maksudku, dia dan aku memiliki ulang tahun yang sama, wajah yang hampir mirip, mata biru dan rambut blond, dan SEKARANG IA JUGA BISA KARATE?

Apa yang terjadi pada hidupku?

( NASIBMU Len!)

Itulah hal yang berjumbel ria mengelilingi sel- sel otakku sembari menatap kosong ke arah lorong yang menyambungkan ruang tengah dan dapur.

Aku hanya berpikir, berapa banyak lagi ke samaan yang kami punya?

Oh,ya.. Rin.

Dia marah?

Dengan cepat aku bangkit dari sofa yang ku duduki dan berjalan menuju ke kamarku.

Saat aku mencoba memutar peganggan pintu,

Hah?

Terkunci?

Pikirku sambil terus memutar peganggan pintu untuk membukanya.

Seketika aku mendengar suara tangisan yang terisak-isak.

Rin?

" Rin? " Kataku sembari berhenti memutar peganggan pintu dan mendekat telingaku pada papan pintu yang ada di depanku.

" ... "

Tak ada jawaban, yang ada hanya suara tangisan yang terisak-isak.

" Rin? "

" Pergi! " Teriak Rin dari dalam kamarku.

Hah!

Ini kamarku tau!

K.A.M.A.R.K.U!

Pikirku saat mendengar perkataan Rin tadi.

" Tapi, Rin? "

" PERGI!" Nada suara Rin berubah menjadi membentak.

Karena aku tidak tega (dan tak kuat~) mendengarkan seorang gadis menangis, maka aku memutuskan untuk kembali ke ruang tengah dan merebahkan diriku diatas sofa.

Sambil menutup mata, aku menarik nafas dalam-dalam.

Mungkin aku sudah mulai keterlaluan..

Rin baru 3 hari di sini, dan selama itu aku selalu menciumnya secara acak. Mungkin itu membuatnya sebal?

Hm...

Mungkin aku memang keterlaluan?

Ia suka dengan Kaito-sensei, dan karena suatu hal..., aku tidak menyukai hal itu.

Apa mungkin aku memang sudah benar-benar jatuh cinta dengan Rin?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sepertinya, aku memang sudah jatuh cinta dengan Rin.

Rin's POV

Aku benci!

Aku benci!

Aku benci!

Aku benci Len!

Aku benci Len!

Itulah yang ada dalam pikiranku selama aku menangis di kamar Len.

Air mataku bercucuran ke pipiku.

Ia selalu melakukan hal menyebalkan!

Aku sudah suka dengan Kaito-sensei.

" hiks...hiks.."

Aku mencoba menahan air mata yang terus mengalir dari kedua mataku.

Tapi percuma saja.

Aku terus menangis dan menangis sampai akhirnya aku air mataku habis dan sepertinya semuanya jadi gelap..., lagi..


In-Chan : Moooeeekiii~ Chapter 12 FINISH!

Rin : ==""

Len : GAK MUTU!

In-Chan : *mojok* saia tau...saia tau..

Rin : Lagian, lebay banget sih pake acara nangis pula aku!

Len : He'e

In-Chan : Masalahnya, saia sekolah, lagi banyak PR, dan lagi bikin Kokoro no Kiseki. (based on : Kokoro and Kokoro kiseki song by Len K. And Rin K.)

Rin : HUUUUU!

Len : HUUUUU!

In-Chan : * ngelirik Twincest adolescene* Kalian mah, enak! KAGAK SEKOLAH kalo gak di bikin plot!

Rin : EMANG! :p

Len : terus?

In-Chan : HMPH! R&R , cerita ini akan terus berlanjuuutt~

Len : R&R~

Rin : R&R~ atao kalian akan ku R&R~ *devil*

In-Chan & Len : *Gulp* Please~ R&R!