R&R Reply~
Hikari : Toss! XD.. masa' sih? *dilempar sandal* Mari kita ikuti alurrrnya sajaaa~ Ok~ saia usahakan~ YOSH!UPDATE!XDDD
Rii-kun : He'em(keliatannya saia juga mulai terlalu juga nulisnya..=="" ) Hiks~ Rated M? NOOOOOO!*dibom*Ok Miku!Putus ma Len! Trima kasih senpaii saia tersandjung~ wkwk~YOSH!X3 , sayangnya enggak.. kebanyakan OC saia err... mahluk biasa aja? Ntar dah kalo saia buat OC lagi... *dihajar*
Byaku-chan : YOSH! Hoky~ boleh saja~ ntar In-Chan cek deh~ oke? Tapi mungkin bukan di chapter ini..maaf. Thanks!
Kurara : Makasih X3, Yup saia akan berusaha!
Amu : Makasih! CX , jogging in rated T... blm berani rated M. YOSH UPDATE!
0ooo0- Thanks for the supports -0ooo0
In-Chan : YOHOOOO~~~
Len : ...
Rin : ...
In-Chan :
Rin&Len : !
In-Chan : SILAHKAN FLAME SAIA!*menggila*
Len : *nyiram air*
In-Chan : *sadar*Hah? Kenapa saia yang lucu (silahkan dicoret) ini ELU SIRAM LENLEN!
Len : Byar gak panas..
In-Chan : ?
Rin : ==""
In-Chan : Ok, just do the disclaimer, kay?
Len : Rinrin aja~ aku capaaaaiiek~
In-Chan : Capaaaaaaaiieek? Kamus mana yang elu pake Len ?
Len : Japan-English-Indonesia?
In-Chan : UKHH!HEAD BANG! HENTAI SAMAAAA!*head bang*
Len : ?
Rin : Ok, disclaimer!
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Nb : sedikit saran, siapkan air putih disebelah anda, karena chapie ini akan PANJANG.
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Rin's POV
Pandanganku kabur. Hanya bisa menangkap seberkas cahaya dan warna abu-abu.
Dengan perlahan aku bangun, menegakkan badanku yang terasa dingin.
"Uhm..."
Sambil mengusap-usap mata kananku dengan tangan kananku.
Mataku meneliti sekitarku.
Ah.. benar, ini kamar Len.
Pikirku sembari terus memandang sekitar; memperjelas pengeliatanku.
Aku jadi akan kejadian itu.
Aku memang suka dengan Kaito-sensei. Jadi aku tidak ingin dengan Len yang merupakan Player tersohor sepanjang masa dan catat itu.
Perlahan, setelah aku bisa melihat dengan jelas dan bisa berdiri tegak, aku berjalan ke arah kasur Len dan melihat jam weker yang ada di meja kecil disamping kasur.
Ya. Aku tertidur di lantai. Ada masalah?
05.45 a.m.
Dengan cepat aku berjalan menuju ke pintu dan saat aku memegang pegangan pintu,
Terkunci?
Kemudian aku teringat lagi.
Tadi malam aku mengunci diri di sini.
Sebentar,...!
Kalo aku mengunci diri di dalam kamar Len – yang merupakan satu-satunya kamar yang ada di apartemen ini –
Lalu, Len tidur dimana?
Sembari membuka pintu yang terkunci tadi, aku terus memikirkan di mana Len mungkin tidur.
Paling ia tidur dengan Hatsune,
Atau mungkin Akita?
Aku menebak-nebak dimana Len tidur saat ini mengingat kamarnya aku kunci dari dalam. Sembari berjalan aku terus berpikir.
Yowane?
Tiba-tiba, aku sadar. Kenapa aku perduli?
Akh.. siapa peduli?
Lagi pula, dia tidak menyukaiku!
Saat aku sampai di ruang tengah, aku melihat seseorang tidur di sofa yang ada.
"Len?"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku dengan bentuk bisikan kecil.
Len?
Ia tidur di sini?
Aku memandang orang itu kemudian mendekatinya.
Sedikit rasa bersalah muncul.
Secara refleks, tanganku bergerak sendiri dan menyentuh pipi Len yang dingin.
Len tidur di sini tanpa selimut, walaupun ini musim panas, pasti dingin – karena di apartemen ini AC ada di setiap ruangan –
Aku menatapnya bulat-bulat dengan kedua mataku.
" Maaf..."
(bisakah anda menciumnya? Ahhh~ typical cliche romance~)
Len's POV
"Len~"
Aku memutar kepalaku dan melihat seorang gadis kecil sebaya denganku berlari kearahku.
Rambutnya blond itu yang dapatku lihat.
Diriku yang berusia 6 tahun menyahut,
" Ap- "
Kataku terpotong saat gadis itu memelukku.
" Aku, Rindu~" Serunya sambil memelukku.
" Aku juga, ..."
" Tapi ..., kita Cuma tidak bertemu untuk 3 hari." Balasku sembari membalas pelukan gadis itu.
" Tetap saja aku rindu denganmu Len! Kau dan aku kan.."
" 1 jiwa'kan?" Aku melengkapi kata-kata gadis itu sambil melepaskan pelukan kami, dan menaruh tanganku di kedua bahunya.
" Yap!"
Jawabnya dengan senyum yang hangat.
Gadis kecil berambut blond itu,...
Siapa namanya?
Day : 4
Title : What? Gotta a problem?
Er…, no ma'am! It's just that.. Are you okay?
Mataku terbuka secara perlahan.
Cahaya matahari membuatku terbangun.
" ..en!"
Suara cempreng dan dengan nada membentak terdengar ditelingaku.
Suara cempreng itu lagi.
Pikirku sambil terus menutupi kedua mataku dengan lenganku.
Sebentar...
Kemudian, aku tersadar siapa yang memiliki suara itu.
Rin?
Dengan cepat aku membuka mataku dan bangun dari sofa. Mataku terkena sinar matahari.
"Akhhh!Mataku!"
Seruku saat mataku terserang oleh sinar matahari di musim panas.
"Ashh! Shut it UP SHOTA! Bangun dan sarapan!" Bentak Rin padaku.
Aku memalingkan wajahku dari serangan cahaya matahari yang mematikan itu.
"Hah?"
"Kau, Baka SHOTA! Jangan kau berani berlagak bego!"
"Er.. maaf?"
Aku melihat Rin menghela nafas kemudian memutar tubuhnya dan kemudian berjalan ke dapur.
Masih berdiri di dekat sofa dan jendela yang merupakan jalan masuknya cahaya matahari mematikan itu, aku beranjak dengan ragu dari posisiku dan mengikuti Rin.
Saat aku sampai di dapur, di meja sudah ada makanan dan juga Rin?
Aku agak terkejut melihat Rin yang biasa saja setelah kejadian kemarin itu.
Dengan was-was, YA, was-was! Kau tau itukan? Kenapa aku was-was? Karena, Rin itu seram dalam suatu hal, SANGAT SERAM.
Ok, kembali ke situasi...,
Aku berjalan ke meja makan dan duduk diseberang Rin.
Aku menatap piring berisikan rice omelet yang ada di hadapanku kemudian menatap Rin.
"Um..er.. Rin?"
Rin mengangkat wajahnya dan melihatku, dengan pandangan sadis.
"Apa?"
Jawabnya sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Kau tak marah?" Tanyaku dengan ragu.
"Marah?"
"Er.. kau tau? Soal kejadian kemarin?"
Seketika, mata Rin melebar dan saat itu juga aku merasa akan ada suara yang amat dahsyat melewati kedua gendang telingaku.
Tapi.., Tidak?
"Kemarin? Ah..kemarin ya? Ya, aku marah!" Rin mulai menaikan nada bicaranya.
Aku menelan ludah,
Tamat sudah riwayatku sebagai Len Kagamine!
BODOH!BODOH!BODOH!
Kenapa aku harus mengingatkannya!
Pikirku sembari terus menatap Rin. "Tapi...," Tiba-tiba Rin bicara lagi dengan nada yang sudah agak turun, dan kemudian diam. Suasana jadi hening.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Rin yang masih duduk bersebrangan denganku.
"Tapi? Apa?" Tanyaku dengan penasaran.
"Aku sudah tidak marah. Itu saja." Jawab Rin, yang membuatku heran.
Ok...
Ini aneh..
SANGAT ANEH, maksudku!
Rin Kamine, yang sangat emosian (setauku) tak marah padaku?
Setelah hal-hal kemarin?
Ini hal baru lagi?
"Er.. kau ya- "
"Ya, Len! Atau kau mau aku marah?"
"Tidak! Er... aku, eto – um.. "
Deadly silent...
Rin's POV
"Er.. kau ya- " Kata Len dengan ragu.
"Ya, Len! Atau kau mau aku marah?" Tanyaku dengan sedikit menekan kata-kata yang kuucapkan.
Sudah bagus aku tak marah! GRRRR!
Rasanya aku ingin mencabik-cabik player shota ini!
"Tidak! Er... aku, eto – um.. "
Aku memberi dead glare pada Len.
Suasana jadi hening.
Aku dan Len tak bersuara tapi masih menatap satu sama lain sampai Len menundukkan kepalanya dan makan sarapan yang kubuatkan.
Dan karena itu aku memutuskan untuk melanjutkan sarapanku juga.
14.00 p.m.
"Hei! SHOTA!" Seruku dari depan kulkas.
"Apa Rinrin tercintaaa~?" Jawab Len sembari berjalan ke arahku dengan berjingkat ?
Aku memandang Len dengan pandangan, Hah?
Oh,well
Paling tidak, wajahnya tak suram dan ia sudah mulai menyebalkan seperti biasanya..
Begitu Len berdiri didepanku seperti seorang gadis kecil yang menunggu di beri permen oleh Santa Claus (?), aku berkata,
"Bahan makanan di sini abis semua."
Len kemudian mengintip pintu kulkas yang terbuka dan melihat ke dalamnya. Lalu ia bangkit lagi dan menatapku.
"Rinrin yang belanja yah?"
Aku kaget. Mentang-mentang ia tuan rumah, masa' aku yang beli?
"Hah? Aku? Kenapa harus AKU?" Tanyaku pada Len dengan pandangan bingung.
"Awww~ ayolah~ kau'kan maid ku, Rinny~" Jawab Len.
Ugh..
Aku benci saat ia bilang maid ku.
Itu membuatku semakin sebal dan menyesal menerima taruhan bodoh itu!
GRRRR!
"Yaya, lalu?" Sahutku dengan malas.
"Kau yang akan pergi membeli semua bahan makanan yang dibutuhkan DENGANKU!"
Aku melongo. Ia menawarkan diri untuk menemaniku? SETELAH MENYURUHKU?
"Tidak, terima kasih! Aku tak mau dikira sebagai kekasihmu." Jawabku sambil mengankat tangan kananku.
"Awwww~ Kau yakin Rinny?" Tanya Len, seperti biasa.., dengan menyebalkan dan merayu.
"Ya, dan berhenti memanggilku Rinny, SHOTA!" Balasku sambil melangkah melewati Len.
16.00 p.m.
Dan disinilah aku. Rin Kamine. Menenteng 4 kantong belanjaan. (memories of : Chapter 1~)
"Awas kau Len!" Geramku sambil membawa semua belanjaan. Tanganku jadi merah membawa semua kantong belajaan ini.
Aku sedang berjalan di jalan sepi dekat sebuah taman. Suasananya hening. Aku memilih berjalan lewat sini - walaupun rutenya lebih jauh daripada jalan yang biasa kulewati - karena suasananya yang hening dan jarang orang lewat disini.
Tiba-tiba, aku mendengar suara yang lumayan keras di jalan sesepi ini.
"Miku!"
Telingaku tidak asing dengan suara itu.
Aku mencari sumber suara itu. Memutar kepalaku. Sampai aku menangkap sekilas bayangan berwarna..., Biru?
Tepat di bawah lampu jalan yang belum menyala, terdapat 2 orang yang keliatannya sedang bertengkar.
Aku berjalan mendekat. Orang yang berambut biru memegang wanita yang berambut tosca, di ikat menjadi 2.
Langkahku terhenti begitu tau siapa yang ada disana.
Mataku melebar.
Kaito-sensei? Dan Hatsune Miku?
Mataku bertambah lebar saat melihat apa yang tengah mereka lakukan.
Mereka.. Berciuman?
Aku tak tau.
Aku tak tau. Badanku terasa berat. Dunia terasa berputar. Mataku menjadi buram, air mataku mengalir tanpa henti di kedua pipiku.
Dan kaki langsung membawaku pergi dari tempatku berdiri. Tanpa perduli, aku menimbulkan suara atau tidak.
Len's POV
Tik... Tik... Tik...
Aku menatap jam dinding yang bertengger di dinding ruang makan. Sambil menghela nafas, aku bertanya-tanya, kenapa Rin lama sekali?
Dia keluar sekitar 2 jam yang lalu dan sekarang belum kembali.
Aku menghela nafas lagi.
Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu terbuka.
Rin!
Pikirku yang kemudian bangkit dari kursi yang tadi ku duduki dan kemudian aku berjalan ke pintu depan.
Saat aku sudah didepan pintu, aku melihat Rin.
Aku berharap melihatnya sebal karena aku menyuruhnya berbelanja. Tapi bukan itu yang kulihat dan dapat.
"Rin?" Kataku sambil mendekati Rin yang berdiri di depanku masih menenteng kantong belanjaan yang kira-kira jumlah 4.
"..."
Rin diam saja. Sampai aku mendengar sedikit suara orang menangis.
"Rin?"
"..." Ia tak merespon lagi. Rin hanya diam dan kemudian ia menjatuhkan semua kantong belanjaannya ke lantai dengan keras.
Aku berharap tak ada telur dalam kantong-kantong itu.
Tiba-tiba tubuhku seperti dihantam sesuatu. Kaos yang kupakai terasa basah.
Aku menatap ke bawah, dan mendapati Rin memelukku.
"Rin...?" Kataku sambil menatap Rin dari atas.
Hanya tangisan Rin yang dapat kudengar. Tanganku mengelus rambut Rin dan memeluknya dengan erat.
Tangisan Rin makin keras dan ia memeluk lebih erat. Kami berdiri di dekat pintu.
Karena aku khawatir, aku bertanya,
"Kenapa kau menangis, Rin?"
Kemudian aku mendengar Rin menjawab.
"...nsei...Hatsun...ku.."
...nsei...Hatsun...ku..?
Sebentar!
Siapa yang dimaksud Rin? ..nsei? Sensei? Hatsun? Hatsune?
Wait!
Sensei mana yang bisa membuat Rin menangis?
Aku berpikir. Masih memeluk Rin yang terus menangis.
Kaito-sensei?
Pasti laki-laki biru itu.
Lalu? Hatsune? Miku-chan?
Ada apa dengan mereka berdua?
"Rin, bisa kau katakan sekali lagi?" Pintaku pada Rin yang masih menangis.
Dengan terisak-isak ia menjawab,
"KAITO-SENSEI DAN HATSUNE MIKU BERCIUMAN!"
Seketika aku merasa tubuhku kaku.
Miku-chan dan Kaito-sensei?
Itu yang membuat Rin menangis?
"Rin..."
Aku memeluk Rin dengan erat.
"Aku menyukai Kaito-sensei! Tapi kenapa? Kenapa?" Ucap Rin dengan terisak-isak.
Dadaku terasa tercabik-cabik mendengar perkataan Rin tadi.
Aku juga menyukaimu Rin!
Dan yang ini sungguhan!
Pikirku dalam hati.
Seketika, aku melepaskan pelukanku dari Rin dan mendorong Rin ke tembok.
Kedua tanganku mengunci pergelangan tangan Rin di tembok.
Rin yang terkejut dan masih menangis berkata padaku, masih dengan nada terisak-isak karena menangis,
"Le-"
Tapi aku memotong kata-kata Rin dengan bibirku yang kutempelkan ke bibirnya.
Aku menjilat bibir Rin meminta jalan masuk. Dan saat mulut Rin terbuka sedikit, aku langsung memasukan lidahku kedalam mulutnya. Merasakan setiap inci dari mulut Rin.
Tapi, aku dalam kondisi tak bisa merasakan apapun, karena Rin... Rin membuat hatiku sakit.
Rin's POV
Tubuh terdorong ke tembok. Kedua pergelangan tanganku digenggam dengan kasar dan erat oleh Len.
Aku terkejut, dan kemudian berkata pada Len,
"Le-"
Tapi kata-kataku yang belum selesai itu, terpotong oleh bibir Len yang menempel di bibirku.
Aku terkejut, ia mencium dengan kasar dan kemudian menjilat bibirku dengan kasar pula. Saat mulutku terbuka sedikit, aku bisa merasakan lidah Len masuk ke mulutku dan menelusuri mulutku dengan kasar.
Tapi sesuatu merasuki ku dan membuatku membiarkan Len menciumku dengan kasar.
Saat Len melepaskan ciumannya, aku hanya bisa bernafas berat, menatap Len yang juga bernafas dengan berat.
"Aku suka dengan Rin."
Itulah yang dikatakan Len sebelum ia menarikku kedalam pelukan yang erat dan hangat.
Aku hanya diam seperti patung. Ia baru mengatakan kalo ia menyukaiku tapi.., perasaanku mengatakan untuk tidak menyukainya.
Len's POV
20.00 p.m.
Aku menatap Rin yang sedang tidur di atas kasurku. Ia tertidur setelah kejadian tadi.
Dan tadi aku juga mengatakan sesuatu yang mungkin aku sendiri tak percaya bahwa aku mengatakannya tadi.
Aku bilang kalo aku menyukainya.
Entah apa yang merasukiku sehingga aku bisa mengatakan itu dan juga menyiumnya sekasar itu.
Aku tau.. aku tau...
Aku memang kasar tadi. Hanya saja, perasaanku terasa akan meluap dan tak dapat ditahan lagi. (aahh~ kliseee~)
Tapi, aku memang menyukai Rin.
Sambil masih bertompang dagu di pinggir kasur. Mengamati Rin yang tidur. Aku mulai sedikit menyesal menciumnya seperti tadi.
Rinny pasti akan membenciku mulai besok..
Pikirku.
Kemudian aku berdiri dari posisiku. Berjalan ke ruang pencucian dan mengambil selimut bersih yang tersimpan di lemari penyimpanan.
Aku akan tidur di sofa. Aku tidak mau melihat Rin bangun dengan ekspresi shock..
In-Chan : YAY! CHAPTER 13 FINISH!*jingrak2*
Len : ?
Rin : Hell? WHAT IS THI- *dibungkem*
In-Chan : *mbungkem Rin* Jaga sikap Rinrin! *devilish smile*
Rin : *sweatdrop*
Len : Er... R&R please~?
Rin : R&R pleaseee!
In-Chan : R&R! CERITA INI MASIH BERLANJUT! XDDD
