neR&R Reply~
Amu : Hua? Ntar dah, kita liat perkembangan critanya 'kay? ;) [maaf..TTATT] Boleh-boleh saja! Saia usahakan! Bersama dengan Ocnya byaku-chan gpp kan? YOSHIE!UPDATEEE! XDDD
Hikari-chan : sama kok,Cuma saia nulis nya kadang pake inggris kadang indonesia~ makasihh~ XDD YOSH!
Kurara : Eh?Oh?EH? Tapi'kan ceritanya kurara juga bagus! Saia suka! XDD , *devilish smile* xixixixi~ YOSH!UPDATE! CX
Ochibi4me : masa' sih? Er.. itu Cuma judul untuk hari ke berapa dan apa judulnya , maaf kalo bikin sebel ehehe..*dihajar* YOSH!UPDATE! CX
-Thanks for the supports-
In-Chan : OMG!*lebay bin alay mode : ON* 40 reviews? Yay! *happy~*
Len : Ini berkat aktingku yang bagus~*PeDe*
Rin : Dan jangan lupakan aku!
In-Chan : Dan SAIA! Yang membuat plot gaje ini!*dihajar* Dan saia juga berteeeeerimaaaaaaaaaaaa kaaaaaaaaaaaaaasiiiiihh~ Pada para reader yang rela membakar matanya untuk membaca fanfic gaje saia ini, saia terharuuee~ *ambil tisu* *dilempar sendal*
Len&Rin : LEBAY!
In-Chan : Mending, daripada ALAY!
Len : Yayaya..
Rin : Yayaya...
In-Chan : Now! DISCLAIMER PLEASE!
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Nb : sedikit saran, siapkan air putih disebelah anda, karena chapie ini akan PANJANG.
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Rin's POV
(Ah, yap! Dimulai dari bangun tidur lagi~ tak keberatan bukan? C; )
'Aku suka dengan Rin.'
Suara itu menggema di kepalaku dan membuatku bangun.
Perlahan aku membuka mataku dan mengerjapkannya supaya bisa melihat dengan lebih jelas.
Aku mendapati kalo diriku ada di kamar Len. Diatas kasur Len. Tapi.. Len tak ada.
Aku turun dari kasur. Berjalan menuju ke pintu. Aku merasa aku tau kemana Len tidur.
Ya, seperti kemarin. Di sofa ruang tengah apartemennya.
Aku harap ia ada di situ.
Dan aku benar. Len tidur di sofa yang berada di ruang tengah.
Aku mendekati Len yang tertidur. Menatap Len dengan rasa bersalah.
Entah dari mana rasa bersalah itu datang.
Dengan perlahan aku naik ke atas sofa. Naik diatas Len yang tertidur. Sekarang aku dalam posisi merangkak di atas tubuh Len. (HAYOOO! Jangan hentai mind duluuu!)
Aku menatapnya lagi. Dengan hati-hati, aku mengangkat satu tanganku dan menyetuh pipi Len.
Pipinya terasa dingin. Lagi-lagi rasa bersalah menyerangku.
"Rin! Tunggu ak-"
Tiba-tiba sekilas kenanganku melintas. Aku menggelengkan kepalaku.
Dengan hati-hati, aku mendekatkan wajahku ke wajah Len. Aku bisa merasakan nafas Len yang dingin, seperti pipinya.
Dan saat itu juga, aku mengecup Len dibibir.
Maaf..
"Maaf..."
Day : 5
Title : Runaway
Creaakk...
Aku membuka pintu dengan perlahan sambil menarik koperku dengan satu tangan dan menggendong tasku.
Aku memutar kepalaku, dan mengamati apa yang ada di belakangku, lalu menghela nafas.
Kemudian aku melangkah keluar dan menutup pintu. Pintu dari apartemen seorang Kagamine Len.
Len's POV
Ugh.. Badanku terasa berat.
Dan kenapa di sini panas sekali? Bukannya aku sudah menyalakan AC?
Tiba-tiba badanku terasa berat dan sesuatu atau seseorang menyentuh pipiku. Dan rasanya hangat.
Dan kemudian ada yang menempel dibibirku. Rasanya hangat dan manis, tapi kemudian hilang.
(nb: Ehem... mari kita katakan Len berpikir ini mimpi tapi sebenarnya dia bangun tanpa sadar.*digampar*)
Mataku terbuka secara perlahan. Dan kemudian aku bangkit dari posisi tidurku.
Menatap ke sekeliling.
Ah.. ya. Rin. Aku disini karena Rin berada di kamarku.
Sembari membetulkan rambutku yang acak-acakan – padahal aslinya emang acak-acakan - , aku turun dari sofa dan berjalan ke kamarku.
Dengan lunglai dan menguap sesekali, aku berjalan ke kamarku dan membuka pintu.
Dalam hati, aku berharap melihat Rin masih tidur. Seperti malaikat kecil yang polos.
Tapi ia tidak ada disitu.
Aneh..
Batinku sambil melangkah masuk, membiarkan pintu kamarku terbuka.
Seharusnya ia masih tidur disini..
Tapi kenapa Rin tak ada?
Aku memutar kepalaku, meneliti sekitar kamarku.
Semuanya tertata rapi, tapi ada 1 hal yang tidak ada. Aku memutar otak untuk mengingat apa yang seharusnya ada di dalam kamarku.
Kemudian pertanyaanku terjawab saat aku ingat kalo seharusnya koper Rin ada di sini.
Tapi koper itu tidak ada.
Aku mencoba mencarinya lagi. Tapi hasilnya nihil.(achachachaa~ *india mode :ON* *dilempar ke jurang*)
Kemudian ini yang melintas di kepalaku,
Kemana Rin?
Kopernya tak ada! Rin juga tak ada?
Kemana Rin?
Jangan-jangan..
Aku langsung memutar tubuhku dan berlari ke pintu depan.
Saat aku sampai di pintu depan, dugaanku benar. Sepatu Rin juga tak ada. Rin pergi.
"..."
Aku menundukkan kepalaku. Rin pergi. Ini salahku.
Rin's POV
Rin Kamine. Baru saja sampai dirumah, dengan keadaan sehat sentosa.(HORAS!)
Aku sekarang sedang duduk atau bisa dibilang bersandar di sofa yang ada di rumahku.
Yap, aku baru saja lari dari apartemen player itu.
"Akhirnya! Bebas!"
Seruku sambil menghempaskan tanganku ke udara. Kemudian aku diam.
Ya, aku melarikan diri, lalu kau mau protes?
Proteslah dan temui Tuan RoadRoller, ia pasti akan senang bertemu dengan orang yang suka protes, - sepertiku, tapi Tuan RoadRoller tunduk padaku,so.. BAD LUCK FOR YOU -.
'Ring..ring'
Ponselku berbunyi, aku meraih ponselku dalam saku celana jeansku.
Aku membuka flap nya dan mendapati ada pesan masuk. Dengan cepat aku membuka pesan itu dan melihat pengirimnya.
To : Kamine Rin
From : Megurine Luka
Subject : Apa kabar?
Rinny~ Bagaimana kabarmu? Maaf aku tak bisa meneleponmu dan bertemu denganmu.
Kau sehat saja kan selama liburan ini? Kau makan teratur?
Oh,ya nanti sore aku akan kesana, menemanimu! Jangan khawatir, malam ini aku akan menginap di sana,ok?
Luka?
Kenapa ia jadi seperti ibuku? Oh,ya itu kebiasaannya.. salahku.
Kemudian aku mengetik balasan untuk Luka.
To : Megurine Luka
From : Kamine Rin
Subject : Kau seperti ibuku saja...
Baik Luka. Tak apa. Ya dan ya.. geez.., kau terdengar seperti ibuku.
Ok, aku tunggu. ;)
"Dan kirim!" Seruku sembari menekan tombol send.
Lalu aku melempar ponselku ke sebelahku dan kemudian aku merenggangkan sedikit tubuhku lalu memandang ke langit-langit.
Dan kemudian 1 kata terlintas dalam kepalaku,
Len..
"Len.."
Aku tersadar setelah mengatakan itu dan melepaskan pandanganku dari langit-langit.
Damn!
Kenapa aku harus mengingat player shota itu?
"Kenapa?" Tanyaku pada diri sendiri.
Karena kau menyukainya..
Tiba-tiba sebuah suara bergema dalam diriku, menjawab pertanyaanku.
Tidak..
Aku tidak boleh menyukai Len.
Tapi kau memang sudah menyukainya.
Aku...
Sejak sebelum kalian bertemu, sebelum ini.
9 tahun yang lalu...
Aku...
Ya.., aku menyukai Len.
Bukan.., aku mencintai Len.
Ya, aku akui, aku mencintai Len. Sebelum aku dia membujukku untuk berkencan dengannya. Sebelum aku bertemu denganya. Sebelum masuk SMA.
Baiklah aku akan ceritakan. Kau ingin tau'kan?
Baik..,
Dulu, aku dan Len teman baik,.. bukan, lebih tepatnya sahabat abadi.
Kami selalu bersama. Dari lahir.
Ya, ini juga karena ibu kami bertemu di rumah sakit dan kebetulan melahirkan kami di hari dan waktu yang sama, hanya saja aku lebih tua 6 menit dari Len.
Sejak kami lahir, kami selalu bersama - setidaknya itu kata ibuku -.
Kami tumbuh bersama. Pergi ke sekolah yang sama. Mandi, pergi, makan, tidurpun kami selalu bersama, dan ibu kami selalu mengijinkan untuk menginap dirumahku atau rumah Len.
Seiring waktu, aku merasakan perasaan aneh saat disekitar Len.
Dan aku mulai merasakan hal itu pada saat 7 tahun dan saat umurku 9 tahun aku menyatakan perasaan itu pada Len.
Aku masih ingat kejadian itu,
Musim dingin 9 tahun lalu...,
"Aku suka dengan Len!" Kataku dengan tegas dan lantang di hapadan Len.
Len hanya menatapku dengan mata melebar dan muka yang mulai memerah, seperti aku.
Kemudian, aku meraih tangan Len dan berkata, "Len?" Aku menatapnya dengan polos.
Seketika warna lampu jalan yang daritadi kami tunggu berubah. Aku menyadari itu dan melepaskan peganganku pada tangan Len.
"Ayo!" Ajak ku, aku langsung berlari kecil menyebrangi jalan.
" Rin! " Seru Len dari belakang. Aku berhenti sejenak, menatap Len.
" Kenapa?" Tanyaku sambil tersenyum kepadanya. Kemudian aku berbalik lagi.
" Ayo! Cepat! Nanti lampunya akan berubah menjadi merah lagi jika kau tak cepat!" Tambahku sambil berjalan ke seberang jalan.
Dan kecelakaan itu terjadi..,
" Er... tunggu dulu Ri-" Kata-kata Len terhenti bersamaan dengan suara kendaraan yang berhenti mendadak.
Aku memutar kepalaku dan melihat kalau Len...
Len masuk rumah sakit. Ibuku dan ibu Len meyakin aku bahwa itu semua bukan salahku. Tapi aku tau, itu salahku.
Dan karena rasa bersalah, aku meminta ibuku untuk pindah ke luar negeri dan ia menuruti itu.
Aku baru kembali ke sini saat masa-masa masuk SMP. Lalu aku bertemu Luka di kelas 1, dan sayangnya, takdir memang kejam, aku bertemu dengan Len lagi.
Aku bersyukur ia baik-baik saja setelah kecelakaan itu dan sekarang ia seperti anak normal lainnya. Sayang, ia berubah.
Yap, Len menjadi player. Aku mengetaui hal itu, dan agak kecewa. Anak polos itu sudah berubah dan lihatlah dia sekarang.
Saat lulus dari SMP, aku dengan sengaja memilih sekolah yang sama seperti Len. Untuk mengawasinya, dan inilah hasilnya. Aku jadi targetnya.
Selama ini aku berusaha mencari cinta lain. Ya, aku memang masih cinta dengan Len tapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan itu, karena... Aku tak boleh. Itu adalah 'Sin'.
Dan aku mendapatkannya, Kaito Shion. Salah satu guru di sekolahku dan Len. Aku benar-benar jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengannya.
Dan semua itu berakhir kemarin.
(Yohoooo~ bersenang rialah saia membocorkan masa lalu RinLen~ *dilempar rumah*)
Ok, itu lebih dari cukup'kan? Bagus!
Sekarang aku mulai berpikir, darimana suara yang tadi menjawab pertanyaanku tadi?
Len's POV
Tap..tap..
Dengan cepat aku melangkah, menuju ke rumah Rin.
17.00 p.m.
Itu yang tertera pada jam tangan yang kupakai saat aku melirik jam tanganku.
"Aku harap ia ada dirumahnya.." Gumamku pelan sembari melangkah lebih cepat lagi.
Dan saat aku sampai didepan rumah Rin,
"Kau?"
Aku menatap gadis berambut pink yang juga berdiri di depan rumah Rin.
"Em..? Apa aku mengenalmu?" Tanyaku sambil menjejalkan kedua tanganku ke saku celana.
"Apa yang kau lakukan disini, Len Kagamine - Player tersohor ?" Tanya gadis itu padaku dengan sadis?
Wow.., aku rasa ia 1 sekolah denganku?
Menatap gadis itu dan menjawab, "Wow, kau tau aku?"
Gadis itu menghela nafas, "Itu pasti, kau'kan paling terkenal 1 SMA."
"Ouh.."
"Jadi, apa yang kau lakukan di depan rumah Rin?" Tanya gadis itu lagi.
"Kau sendiri?" Tanyaku balik.
"Aku kesini untuk mengurus Rin. Dan kau?"
Jadi Rin ada dirumah
"Aku ingin menemui Rin." Jawabku singkat.
Tiba-tiba gadis itu memandangku dengan aneh. Dengan cepat aku bertanya,
"Kenapa?"
"Kau memanggilnya Rin?"
"Ya?"
"Apa hubunganmu dengan Rin? Apa yang kau sudah lakukan pada Rin? Jawab!"
Owwie..
Gadis ini lebih seram daripada Rin.
"Aku tak melakukan apapun pada Rin." Jawabku dengan cepat. Dan tentu saja aku berbohong.. sedikit..
"Lalu kenapa kau memanggilnya Rin? Bukan Kamine?"
"Karena aku temannya!"
Lalu terjadilah... dead silent~
Tiba-tiba gadis itu melangkah masuk ke rumah Rin. Aku langsung mengikuti gadis itu dari belakang dan ia tak keberatan.
Saat gadis itu membuka pintu dan masuk, aku juga mengikutinya.
Seketika terdengar suara cempreng yang khas,
"Luka!"
Aku yang sedang melepas sepatuku mengangkat kepala sedikit dan mendapati Rin berdiri di depanku disamping gadis yang dipanggilnya 'Luka'.
Jadi kurasa nama gadis pink itu Luka?
Rin menatapku seperti ketakutan. Lalu pergi masuk ke dalam lagi.
Rin's POV
"Luka!" Seruku saat melihat Luka dari ruang tengah.
Aku langsung berlari kecil ke arah Luka dan memeluknya. Dan saat aku melihat ke belakang punggung Luka, aku mendapati Len ada di sini.
Aku langsung melepaskan pelukanku dengan Luka dan menatap Len. Kemudian aku berjalan masuk ke ruang dapur. Menghindari Len.
Dengan sedikit bergumam lagu 'kokoro', aku mengambil sebuah jeruk di mangkuk yang terletak di atas pantry.
Lalu duduk di kursi makan untuk memakan jeruk manis imut ~ yang enak itu dengan santai.
"Rin?" Suara itu mengejutkanku yang sedang makan jerukku (yang awalnya) dengan tenang. Aku memutar kepalaku dan mendapati Luka yang memanggilku. Untung saja itu Luka, kalo player shota itu yang memanggilku, akan kucincang dia.(Wow,...0_0 apakah ini yang namanya Tsundere?)
"Ya, Luka?" Tanyaku sembari menepuk-nepuk dadaku sedikit.
Luka berjalan ke arahku dan bertanya,
"Apa hubunganmu dengan Kagamine?"
Mataku melebar seketika. Luka sekarang sudah duduk dikursi makan yang berada di sebelahku.
"Apa hubunganmu?" Tanya Luka lagi sembari melipat kedua tangan diatas meja dan memiringkan kepalanya menghadap ke arahku.
"Tak ada." Jawabku ringan sambil memasukan sepotong kecil jeruk kedalam mulut.
Aku sudah menganggap tak ada hubungan atau urusan dengan Len.
"Rin Kamine, tatap aku dimata." Perintah Luka padaku.
Dengan cepat aku menatap Luka, meyakinkannya bahwa aku tak ada hubungan dengan Len.
"Tak ada." Kataku lagi.
"Tapi matamu berkata lain Rin." Balas Luka sembari menyentuh pipiku dan menatapku lekat-lekat.
Entah mengapa, dadaku terasa sesak dan mataku serasa ingin menangis.
"Rin?" Suara Luka menyadarkanku.
"Apa?" Tanyaku pada Luka yang sudah tidak menyentuh pipiku lagi.
"Kenapa kau menangis?"
Pertanyaan Luka membuatku terkejut.
Aku tidak menangis..
Aku..
Begitu aku menyentuh pipiku, cairan panas mengalir.
Air mataku mengalir.
"Kenapa..." Bisikku pada diri sendiri. Jari-jariku menyentuh pipiku, merasakan air mataku yang terus mengalir.
Luka's POV
Aku menatap Rin yang tiba-tiba saja menangis saat kutanya apa hubungannya dengan Len Kagamine, Player di SMA ku dan Rin.
Kenapa Rin menangis?
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya,
"Baiklah, Rin. Jika kau belum bisa bilang, akan kutunggu sampai kau bisa,kay?"
"Tapi, sambutlah dulu tamu yang satu itu." Tambahku sambil bangkit dari kursi yang kududuki.
Aku melihat Rin masih duduk. Dan menundukkan kepalanya.
"Katakan aku tak ingin menemuinya..." Kata Rin tiba-tiba.
"Kau tak ingin menemuinya?" Tanyaku dengan bingung.
Rin mengangguk. Aku tak akan bertanya lebih jauh, kalo apa yang kutanyakan akhirnya membuatnya menangis lagi.
"Baiklah.. akan kukatakan."
Lalu aku langsung pergi ke ruang tengah, dimana Kagamine duduk di sofa
"Rin tak ingin bertemu denganmu." Ucapku pada Kagamine.
Kagamine mengangkat kepalanya dan menatapku.
"..."
Dia diam saja. Kemudian raut wajahnya berubah menjadi kecewa dan ia menundukan kepalanya lagi.
Lalu ia berdiri dari sofa dan berkata, "Maaf atas gangguannya, dan tolong katakan maaf pada Rin."
Dan ia berjalan keluar ke arah pintu.
Aku hanya bisa menatapnya dan kemudian berjalan ke dapur lagi.
Saat berjalan ke dapur, aku berpikir,
Maaf?
Apa yang sudah ia lakukan terhadap Rin?
Rasa penasaran menggerogotiku. Tapi aku harus bisa untuk tidak bertanya pada Rin.
Ketika aku sampai didapur, Rin sudah tidak menangis dan sedang memakan jeruknya lagi.
Aku bernafas lega, setidaknya ia tidak menangis.
Dengan perlahan aku mendekati Rin, dan Rin yang menyadari itu memutar kepala dan menatapku, masih mengunyah jeruknya.
"Ia bilang maaf." Kataku pada Rin.
Rin menatapku dengan ekspresi datar.
"Mm.."
Kemudian ia melanjutkan memakan jeruknya.
Aku bersumpah..., aku ingin sekali tau apa hubungan mereka! Tapi aku tak bisa menanyakannya pada Rin untuk sekarang.
Len's POV
Sekarang aku sedang duduk di sofa ruang tengah rumah Rin.
Aku menunggu dengan sabar. Dan sesekali meneleti sekitar. Aku memutar kepala dan meneliti lagi.
Aku seperti mengenal tempat ini...
Pikirku sambil terus mengamati, tapi aku berhenti saat aku mengingat apa yang seharusnya aku lakukan.
Minta maaf.
Maaf...
Aku menundukkan kepalaku. Sampai aku mendengar suara.
"Rin tak ingin bertemu denganmu." Kata seseorang dan kemudian aku mengankat kepalaku dan menatap orang yang mengatakan itu, yang namanya Luka?
"..."
Aku diam dan kemudian rasa kecewa datang. Aku menundukkan kepalaku lagi. Kemudian aku memutuskan untuk pergi dari sini.
Tak ingin menggangu Rin.
Aku berdiri dari sofa dan berkata pada gadis yang bernama Luka,
"Maaf atas gangguannya, dan tolong katakan maaf pada Rin."
Dan dengan begitu, aku meninggalkan rumah Rin dengan sedikit kecewa.
Nb : Minum air putih dulu, kucek-kucek mata, baca lagi! XDDD , orang saia yang nulis aja berhenti bentar!Yay~
Rin's POV
23.00 p.m.
Menatap langit-langit kamarku. Aku menatapnya dengan kosong, tak ada yang bisa kupikirkan. Semuanya kosong.
Tiba-tiba sesuatu melintas dikepalaku.
"Usagi-Rin-rin!" Seru seorang anak laki-laki berambut blond. Ya, ini Len.
Len menarik-narik pita besar yang ada dikepalaku, yang diberikannya padaku untuk ulang tahunku yang ke 6.
"Berhenti Banana-Len-len!" Seruku sembari mencubit pipi Len supaya ia melepaskan aku.
"Auwie.." Len mengeluh. Salah siapa ia menarik-narik pitaku yang sudah ia berikan selama 1 tahun?
"Hah! Rasakan!" Aku mengejeknya.
Lalu ibuku, Lily, datang dan melerai kami. Dan disusul ibu Len, Meiko.
"Ayolah.., kalian kan seharusnya bersahabat bukan seperti ini.." Kata ibuku mengelus kepalaku dan Len.
Aku menggembungkan kedua pipiku dan menatap Len. Len juga menatapku.
Lalu kami tertawa.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Tak mau mengingat itu. Walaupun itu kenangan yang manis, tapi sekarang itu tak berarti lagi, Len tak mengingat masa lalu kami, lalu kenapa aku harus?
Dan dengan itu aku pergi tidur. Berusaha tidak mengingat semua kenanganku.
In-Chan : Yay! Chapter 14 FINISH!~~~ *happyy~*
Rin : ...
Len : ...
In-Chan : Quick update nih saia! Ehehe~ maafkan saia minna~san~
In-Chan : No comment?*ngelirik twins*
Len : Bingung mau ngomong apa... *garuk-garuk kepala*
Rin : Sama.. *ngelirik Len*
In-Chan : *sigh* Ya,udah.. R&R please~
Len : R&R please~
Rin : R&R please~~
In-Chan : R&R dan cerita ini akan berlanjuuutt! ;)
