R&R reply~
Kurara : Yap~ YOSH!UPDATE! CX
Amu : Eh? Pendek? Hokie~ tapi ada ciri-ciri spesifiknya gak? YOSH!UPDATEE! XDD
Hikari-chan : He'em~ mumpung lagi banyak idee~ ;) Yay! Maafkan In-Chan, Hikari *nunduk*, YOSHIE!UPDATEEE! CCCX
Rii-kun senpai : Gak papa kok~ Oh.. Ayo tingkatin lagi nilainya senpaai~ XDD (gantian nih supportnya~ hehe~) Makasih~ Amiiinn~ :3 hhaaha, Luka tipe keibuan ~ ckck..ckk..~ YOSH! Thanks senpai~ ;)
-Thanks for the supports-
In-Chan : R&R...~uwowow*nyanyi dipojokan*
Len : ...?
Rin : *nyikut Len* Psstt... napa tuh anak?
Len : Tau..
In-Chan : Kokoroo~~
Len : Lagu..
Rin : Kita?
Len&Rin : *kabur*
In-Chan : *nyadar* HEH! DISCLAIMER DULU!
Len : Kay...
Rin : Yo'i, oh,ya sedikit warning~ mulai sekarang hari-hari sebagai maid sudah selesai! YAY!
Len : NOOOOO! MY CUTE MAID! *nangis lebay*
Rin : Shut it SHOTA! *blush*
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Len's POV
Cahaya matahari menembus masuk ke kamarku dan membuatku terbangun.
Perlahan mataku terbuka. Dan saat aku membuka mataku secara penuh, ada sesuatu yang kurang.
Disebelahku untuk beberapa hari kemarin ada Rin yang tidur seperti malaikat kecil dan polos. Badannya yang kecil sangat cocok dan pas untuk kupeluk. Tidak seperti saat aku bangun disebelah Miku-chan, atau gadis lainnya.
Dengan malas aku menutup mataku lagi dan berguling ke sisi lain kasurku. Memeluk bantal yang ada. Dan mencium bau yang ada disana.
Masih bau jeruk. Bau Rin.
Ya, kau boleh mengatakan aku hentai atau apapun seperti kata author sarap bin gaje itu.(Author : EH? )
Tapi aku rindu dengan Rin. Rindu dengan ekspresi marahnya. Rindu dengan masakannya. Rindu dengan Rin. (Ah.. cliche~)
Dan sekarang aku menyadari sesuatu..
Aku tak pernah melihat Rin tersenyum. Sekalipun. Itu aneh'kan?
Maksudku, semenjak aku menjadikannya targetku, dan ia tinggal di apartemenku selama 5 hari, aku tak pernah melihatnya tersenyum.
Masih memeluk bantal yang selama hampir 5 hari digunakan Rin, aku terus berpikir dan bergumam sedikit.
"Rin... aku suka denganmu.."
Tiba-tiba ponselku berdering. Dengan jengkel aku bangkit dari posisi tidurku dan tanpa melepaskan pelukanku dengan bantal beraroma jeruk itu.
Mengambil ponselku yang berada di atas meja kecil yang berada disamping kasurku.
Aku mengecek ID yang tertulis dilayar ponselku.
xxx-3244-xxx-xx
Kasane Ted
Dengan sangat kurang ikhlas aku menjawab telepon itu.
"Halo?"
"Hi, shotacon! " Jawab Ted diseberang sana.
"Berhenti memanggilku SHOTA!" Bentakku pada Ted.
"Ok,ok.."
"Jadi apa maumu Ted?" Tanyaku pada Ted. 1 hal yang harus diingat. Jika Ted menelpon pada pagi/ malam hari, maka ia menginginkan sesuatu.
Dan itu pasti.
"Ah.. kau tau saja~ xixii, shotacon pintar~" Balasnya sambil cekikikan.
Aku menggeram.
Kenapa aku punya teman seperti INI!
Pikirku.
"Jadi?" Tanyaku lagi.
"Ok, begini. 5 hari lagi aku dan Teto tentunya, akan pergi menginap di sebuah pulau tropis." Sahut Ted.
"Hanya itu?"
"Belum selesai! Jadi, karna kami memiliki 2 tiket yang tak terpakai kau mau datang?"
Aku diam.
Ted jadi baik?
Oh, ya aku lupa, dia memang baik.
Dan ketika aku akan menjawab tiba-tiba Ted berkata,
"Dan jangan pikir untuk mengajak siapapun SHOTAcon~ 1 tiket lagi sudah untuk temannya Teto."
"Baiklah..."
Memang siapa yang mau kuajak?
"Bagus. Oke kalo begitu! Akan kukirimkan tiketnya besok." Kata Ted sebelum menutup teleponnya.
Akupun menutup flap ponselku. Dan meletakkannya diatas meja lagi.
"Dasar.." Gerutu sambil memeluk bantal yang masih beraroma Jeruk.
Bah.., baiklah! Panggil aku perv!
(Ouu~ Lenlen~ Kau cinta Rinrin'kan? C;)
Rin's POV
"Pagi Rinny~" Seru Luka saat aku masuk ke dapur.
"Pagi Luka.." Balasku sambil mengusap-usap mataku yang baru bangun tidur.
Aku berjalan ke kursi makan. Dan Luka menghampiriku dengan membawa 2 piring yang berisi pancake.
Luka meletakkan salah satu piring itu didepanku. Dan kemudian dia duduk di seberangku sesudah meletakan piring lainnya diseberangku juga.
"Makanlah Rinny~" Kata Luka sebelum ia menyantap pancakenya sendiri.
Aku menatap Luka lalu memakan pancake ku. Sudah lama aku tak makan masakan Luka.
Dengan cepat aku melahap pancake itu. Mungkin tak ada 5 menit.. (HAH! O...O) Dan karena hasil perbuatanku itu, aku tersedak.
"Rinny~, pelan-pelan saja. Ini bukan akhir dunia, jadi pelan-pelan jangan buru-buru, kay?" Kata Luka.
Aku yang masih sedikit tersedak mengangkat tanganku dan berkata,
"Aku..uhuk..Baik...uhukk...Baik...uhuuk..Sa- UHUK..!"
"Dan jangan bicara selagi makan." Tambah Luka sembari mengacungkan garpu ke arahku.
Dalam pikiranku,
Aaaahh... Luka seperti ibuku saja! Mamaaaa!
Dan tiba-tiba, ponsel Luka berdering.
Aku menatap Luka yang mulai beranjak dari kursi makan dan berjalan ke pantry, dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas pantry.
"Halo?" Ucap Luka saat menjawab telepon yang masuk.
Aku tak bisa mendengar suara yang menelepon Luka, jadi aku hanya bisa menatap Luka.
"...Hm..YA.. aku pulang- aku pulang!"
Itu yang dikatakan Luka sebelum ia menutup telepon tadi.
Luka menatapku yang menatapnya juga dan berkata, "Maaf Rin, Luki sakit demam. Jadi aku harus pulang.."
"Tak apa.., tapi.. orang mana yang sakit demam pada musim panas?" Tanyaku sembari memasukkan sepotong pancake ke mulut.
"Orang seperti Luki, pembohong kecil itu.." Jawab Luka sembari melangkah kembali ke kursi.
Aku hanya dapat tertawa kecil. Dan aku tersedak lagi. Rin BODOH...
"Dan jangan tertawa saat makan.." Ucap Luka.
13.00 p.m.
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~" Seruku sembari melempar diri keatas sofa. Terbaring. Aku benar-benar bosan!
Luka sudah pulang 2 jam yang lalu. Jadi sekarang aku sendirian.
Aku memutar-mutar badanku diatas sofa. Dan berhenti sejenak untuk menatap langit-langit. Tentunya dengan pandangan yang kosong, aku bosan..
Akhh!
Aku harap ada yang meneleponku...
Aku terus mengeluh didalam diriku sendiri dan menatap langit-langit, sampai ponselku yang ada didalam kantongku bergetar.
Aku merogoh kantong celana pendekku yang hanya sebatas lutut.
Dan menempelkan ponselku ketelinga tanpa mengecek ID penelpon yang tertera dilayar ponselku.
DAN ITU KESALAHAN BESAR.
"~" Seru seseorang diseberang sana dengan suara melengking.
Aku langsung tersentak kaget mendengar suara itu dan membatin,
Auw.. gendang telingakuuu!
Dan aku mengenali suara itu, SUARA MELENGKING ITU!
Teto.
"Um...Teto?" Sahutku.
"Rinnyyy~ apa kabarmu?" Tanya Teto.
"Baik.. kenapa kau menelepon?" Tanyaku sembari menukar posisi ponselku ketelingaku yang satunya.
"Oh,ya Rin. 5 hari lagi aku dan Ted akan pergi ke pulau tropis."
"Dan?"
"Kami kelebihan 2 tiket.., Ted sudah mengajak temannya, tapi aku tak diberi tau siapa. Dan aku ingin mengajakmu Rinny~ kita bisa bermain dipantai!"
Jelas Teto dengan panjang.
"Mmm..."
"Ayolaaahhh~"
"Mmmmmmmmmmmmmm..."
"Auwooww~ Ayolaaahh~"
"Baiklah.." Jawabku dengan ringan. Hei, ini bisa mengusir kesuntukanku. Lagipula orang tua tidak akan keberatan.
"Yay! Akan kukirim tiketnya besok!"
Kata Teto sebelum menutup teleponnya.
Aku hanya bisa menghela nafas sembari menatap layar ponselku. Dan saat itu juga ada yang membunyikan bel rumahku.
Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kepintu.
Aku harap itu Luka~
Harapku sembari berjalan ke pintu.
Tapi harapanku langsung hilang saat aku mendapati siapa yang berdiri di depan pintu rumahku.
Seorang Lelaki yang memakai kaos warna biru laut dan celana Jeans selutut.
Len's POV
Sekarang aku sedang berdiri didepan pintu rumah Rin.
Kau bertanya apa yang kulakukan disini?
Minta maaflah!
Dengan ragu aku menekan bel rumah Rin.
Aku berharap ia mau memaafkan aku...
Dan seketika pintu yang berada didepanku terbuka. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Rin berdiri didepanku, dengan mengenakan tank top putih dan celana pendek selutut yang berwarna biru laut, dan jangan lupa pita dikepalanya.
Aku merasakan pipiku menjadi panas secara instant. Tapi saat aku menatap wajah Rin, aku jadi takut. Wajahnya menunjukkan ekspresi shock dan marah.
"Um.."
"Apa maumu Len Kagamine?" Tanya Rin sambil menyandarkan diri di kusen pintu.
Ekspresi diwajahnya datar. Tapi nada suaranya tidak.
"Aku mau minta maaf." Jawabku.
"Minta maaf? Soal apa?" Tanya Rin lagi.
Aku menggigit bibirku.
Susah sekali untuk minta maaf..
"Tak ada yang perlu dimaafkan Len Kagamine." Sahut Rin tiba-tiba. Aku menatap Rin.
"Tapi yang kemarin itu.."
"Yang kemarin mana? Kita tak pernah menjalin hubungan apapun, iyakan?" Ucap Rin dengan ringan.
Kata-kata Rin barusan membuat hatiku sakit.
"..."
Aku menundukkan kepalaku.
"Hei, Len." Kata Rin tiba-tiba, memanggilku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Rin lagi.
Rin melangkah maju sedikit. Mendekatiku. Aku agak kaget mendapati Rin mendekatiku setelah ia berbicara dengan dingin seperti itu.
Kemudian ia berbisik.
"Jangan pernah, menemui, memanggilku, ataupun mengingatku Len." Ucap Rin dengan nada yang rendah dan lirih.
Seketika mataku terbelalak.
Dan kemudian suara pintu tertutup terdengar.
Rin's POV
Saat itu juga aku tersentak. Len berdiri didepan pintu rumahku.
Rin, kau harus tenang dan bersikap dingin. Sedingin es.
Aku menatap Len yang berdiri dihadapanku, dan Len juga menatapku juga.
"Um.."
"Apa maumu Len Kagamine?" Tanyaku sambil menyandarkan diri di kusen pintu. Berusaha membuat ekspresi muka yang datar dan nada suara yang datar pula. Tapi nada suaraku tak dapat kukendalikan.
"Aku mau minta maaf." Jawab Len dengan nada suara yang tak pernah kudengar sebelum ini.
Dia? Minta maaf?
Yang benar saja!
"Minta maaf? Soal apa?" Tanyaku lagi kali ini dengan lebih dingin.
Aku menatap Len yang diam. Dan aku memutuskan untuk berbicara.
"Tak ada yang perlu dimaafkan Len Kagamine."
Len menatapku.
"Tapi yang kemarin itu.."
"Yang kemarin mana? Kita tak pernah menjalin hubungan apapun, iyakan?" Ucapku dengan ringan.
Tiba-tiba dadaku terasa seperti tertusuk pisau yang tajam.
"..."
Len menundukkan kepala.
"Hei, Len." Kata Seruku. Len mengangkat kepalanya dan menatapku lagi.
Aku memberanikan diri melangkah maju sedikit. Mendekati Len yang berdiri didepan pintu rumahku. Dengan jarak beberapa centimeter, aku membisikkan ini pada Len,
"Jangan pernah, menemui, memanggilku, ataupun mengingatku Len." Selesai mengucapkan kalimat itu aku merasa ingin menangis.
Dengan cepat aku menutup pintu rumahku dan memunggungi pintu.
Satu persatu air mataku mengalir, menuruni pipiku.
"Len tak perlu mengingatku, tak perlu.." Kataku pada diri sendiri "Tak perlu.., "
Karena ia tak membutuhkan memori dari orang yang membuatnya celaka.
Ia tak perlu aku..
Aku tak perlu Len..
Len tak perlu aku..
Melihat air mataku yang mengenai telapak tanganku, tanpa sadar aku bertanya pada diri sendiri,
"Kenapa.. "
"Kenapa air mataku tak mau berhenti? Kenapa.." Badanku menggigil.
Karena..
Aku..
Butuh Len.
Aku cinta dengan Len.
In-Chan : Ahh~ Chapter 15 finishh~
Len : Dasar author sarap! Aku dibikin mesum!
Rin : ...
In-Chan : Yaya.. terserah kau Lenlen *mengabaikan*, No comment Rinrin?
Rin : Gak ada,..
In-Chan : Oke then.., maaf minna~saann~ ini chapie ancuerr bin pendek! Maklum lagi hancur suasana hati saia...TTATT
Rin : ...==""
Len : R&R please~
Rin : R&R please~
In-Chan : R&R please~ CERITA INI AKAN BERLANJUT! C;
