R&R reply~

Amu : Maaaf.. Se-Rinrin? CX *digiles* Mmm.. gimana yah? Mari kita lihat saja ;) Hyyaa! He'em nih kurang! YOSH UPDATE! XD

Hikari : MAAFF TTATT, He'em.. lama-lama Lenlen saia bikin tambah mesum aja!hmph! byar tau rasa*dihajar*, hya? Kok bego? Yaaa~ YOSH UPDATEE! XDD

Kurara : wkwkwk~ CX ,Ouu.. saia tak tau awalnya! XC maaf! Makasih ya udah ngasih tau ;) YOSH!UPDATE! CXX

Ochibi : Ya! Makasih! CX

Thanks for the supports


In-Chan : Ahh.. PUSING!

Rin : Sakit?

In-Chan : He'em..

Len : Halah paling bo'onkan..

In-Chan : Heh! *nyiapin gergaji listrik*

Len : *Gulp*, um... ehehehe.. beneran?

Rin : ...

In-Chan : DISCLAIMER!

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Rin's POV

"Rinnyy~" Seru Teto saat aku keluar dari pintu depan rumahku. Aku mengunci pintu rumahku dan memasukkan kunci ke dalam tas kecil yang kubawa.

Dengan cepat aku meraih koperku, menariknya dan berjalan ke arah Teto yang sudah menunggu di dalam mobil bersama dengan Ted dan sopirnya.

Yap! Ini hari dimana aku akan pergi ke pulau tropis bersama Teto, Ted dan orang lain yang aku tak tau siapa namanya.

"Yippiiee!" Seru Teto lagi saat aku sudah masuk ke dalam mobil mereka setelah meletakan koperku di bagasi mobil mereka.

"Ow!" Seruku sembari menutup telingaku.

Gendang telingaku!

Tiba-tiba Teto memelukku.

"Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! 7 hari bersama Rin dipulau tropis! Yay!" Seru Teto lagi sambil terus memelukku dengan erat.

Dan maksudku sangat erat..

"Te—to.. ak- .. ta- .. bernaf- .. " keluhku sembari berusaha melepaskan pelukan mematikan Teto itu.

Lalu Teto pun melepaskan pelukannya dan berkata,

"Eheehehe.. maaf~ Aku rindu dengan Rinny kecil yang manis~" Lalu ia mencubit pipiku.

"Aow!" Seruku yang kemudian mencubit pipi Teto.

Hasilnya kami saling mencubit pipi satu sama lain.

"Oi, jangan berisik!" Seru Ted yang duduk disebelah Teto. Menatap aku dan Teto.

Kemudian aku dan Teto berhenti mencubit satu sama lain dan menatap Ted.

"Ayolah Teddy~ aku kan kangen dengan Rinny~" Rengek Teto sambil merangkulku. Dan aku juga merangkul Teto.

"Ya, aku kan kangen dengan Teto juga Teddy~" Tambahku sambil terus menatap Ted.

"Berhenti memanggilku Teddy!" Seru Ted yang kemudian memalingkan wajahnya ke arah luar.

Aku dan Teto saling menatap, menanggapi respon Ted. Aku tertawa kecil, begitu juga Teto.

Kami terus bercanda sementara mobil melaju. Sampai aku menyadari teman yang diundang Ted belum ada di dalam mobil ini.

"Oh,ya Ted. Dimana temanmu? " Tanyaku pada Ted yang menyandarkan kepalanya di jog.

Ted melirikku.

"Ia sudah ke bandara duluan. Nanti kita bertemu dengannya disana." Jawab Ted. Aku mengedipkan mataku dan kemudian mengalihkan pandanganku dari Ted.

Aku penasaran siapa teman yang diajak Ted...

Pikirku dalam hati sembari berharap,

Aku harap itu bukan Len.


Day : 1 (Part 1)

Title : Heck! This guy again?

Event : Gogo! Tropical Island! Here we come!


Len's POV

"Dimana Ted?" Geramku sembari melirik jam tangan yang kupakai.

Kau bertanya?

Kau bertanya aku dimana dan apa yang kulakukan di sini?

Oke, pertama, aku ada di bandara.

Kedua, aku menunggu Ted yang mengajakku pergi ke pulau tropis selama 7 hari.

Sekarang.., kemana si rambut merah menyebalkan itu?

Dan sekarang aku sedang menunggu Ted, Teto dan aku tak tau, pokoknya temannya Teto.

Kemana anak-anak itu?

Pikirku.

Dan sepertinya pertanyaanku baru saja terjawab saat Ted memanggilku.

"YO!" Sapa Ted sembari menepuk punggungku dari belakang.

Aku menatap Ted dengan wajah sebal. Sebal karena sudah menunggu lama di sini seperti idiot.

"Oh, ayolah dude! Kami hanya terlambat 10 menit." Lanjut Ted lagi.

"Ya..ya.. mana Teto dan kawannya?" Tanyaku pada Ted yang kemudian langsung memutar kepalanya ke arah belakang.

Aku mengikuti kemana kepala Ted mengarah.

Dan saat itu juga, aku melihat dikejauhan, Teto dan temannya yang berambut honey blond dan diatasnya ada pita putih besar.

Mataku mengenali orang memiliki warna rambut itu dan juga pita itu.

Rin...?

Rin? Rin Kamine?

Aku tak salah lihat kan?

Maksudku setelah semua itu, dan kata-katanya 5 hari yang lalu, kenapa ia disini?

Jangan bilang Teto kenal Rin.

"Um.. Shota?" Seru Ted sambil melambaikan tangannya didepan mukaku.

Aku mengangkat wajahku dan menatap Ted yang secara teknik lebih tinggi dari aku 10 cm. 10 cm!

"Apa?" Tanyaku pada Ted.

"Kenapa kau menatap Teto dan Rin seperti melihat hantu?" Tanya Ted padaku.

Jadi itu Rin!

Benar-benar bagus!

BAGUS SEKALI!

Awas kau author sarap! (Author:EHH!)

Ini akhir dari hidupku!

"Teto kenal dengan Rin?"

"Tentu saja SHOTA~, mereka'kan teman SDmu juga bodoh! Rin juga sahabatmu daridulu kan?" Balas Ted.

Aku menatap Ted dengan heran.

Ok, Rin kenal dengan Teto dan Ted.

Ted dan Teto kenal dengan Rin.

Teman SDku? Kalo Teto aku ingat ia pernah sekelas denganku..

Tapi Rin.., teman SDku?

Dan dia sahabatku? Sejak kapan?

Aku mulai bingung. Sejak kapan Rin jadi sahabatku?

Maksudku, dari sejak kami pertama bertemu dan bicara ia tak pernah bersikap seperti seorang sahabat padaku..

Kepalaku mulai pusing.

"Um.." Gumamku sembari menatap lantai yang ku injak.

"Teddy!" Seru Teto saat aku melirik Ted kembali. Ia memeluk Ted seperti boneka beruangnya.

Pfftt.. Teddy..

Haha!

Dan saat aku mengalihkan pandanganku dari Ted dan Teto, aku mendapati Rin berdiri didepanku. Tak bergerak.

Ok..

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Menyapa Rin?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nah, dia akan membunuhku.

Pikirku sambil memandang Rin dengan gelisah.

Rin's POV

"Kemana Ted?" Tanyaku pada Teto sembari melangkah masuk ke ruang tunggu.

"Mm..." Teto bergumam.

"Ah! Itu dia!" Seru Teto sambil menunjuk Ted yang berdiri beberapa meter dari kami dan sedang berbicara dengan seseorang.

Aku tak dapat melihat orangnya.

"Ayo kita hampiri mereka.." Ajak Teto.

Akupun mengangguk dan mengikuti Teto yang mulai berjalan menuju Ted dan kawannya.

Dan saat kami sampai di dekat Ted, Teto meloncat ke arah Ted dan memeluknya seperti bonekanya.

Hahaha..!

Aku mengamati Ted yang tidak nyaman dipeluk seperti itu oleh Teto. Kemudian aku memutuskan untuk melirik sedikit kawan Ted.

Tapi, mataku langusung melebar mendapati siapa yang kawan Ted yang akan pergi bersama kami liburan.

Len.

Len Kagamine.

Aku menatap Len dengan kesal bercampur sedih.

Kenapa?

Kenapa? KENAPA?

Pikirku saat menatap Len.

Author! JELASKAN! (Author: Hyyyaa!-kabur-)

Kemudian Len menatapku dan memasang tampang gelisah.

Sial!

Sudah kuduga akan seperti ini!

KENAPA!

RIN BODOOOHH!

KENAPA. KAU. TERIMA. AJAKAN. TETO!

Aku berseteru dengan diriku sendiri.

Betapa bodohnya aku menerima ajakan Teto!

Tiba-tiba saja badanku seperti tertabrak sesuatu dari belakang dan itu membuatku jatuh kedepan.

"Uaa..." Seruku ketika tubuhku oleng kedepan dan jatuh.

Bruukk!

"..."

Aku berharap,

Aku mohon!

Aku mohon!

JANGAN BILANG AKU JATUH DIATAS LEN.

Dan parahnya...

Saat aku membuka mataku, aku mendapati diriku menatap sepasang mata biru azure seperti miliku.

Dan itu bukan pertanda yang bagus. Mata biru azure itu milik Len, yang tadi berdiri didepanku. Dan sekarang aku jatuh tepat di atas Len.

"OMG! Rinny!" Suara Teto terdengar dari belakangku. Ketika aku akan menjawab suara Teto, aku mendapati bibir dan suaraku tak mau keluar, kemudian aku merasakan bibirku menempel dengan sesuatu yang lembut.

Aku... mencium Len?

LAGI!

Tebakku dan sialnya tebakanku benar.

Aku mencium Len dengan tidak sengaja. Dan sialnya lagi, INI DI KAWASAN PUBLIK! Perlu kukatakan lagi? Tidak? BAGUS!

Aku harap tidak ada melihat kami berciuman seperti ini.

Dengan cepat aku mengangkat kepalaku dan juga tubuhku dari atas Len dan menutup mulutku dengan tangan kananku.

Kemudian mengambil posisi duduk, aku berkata

"Maaf." Lalu aku berdiri dan berjalan ke samping Teto yang hanya menatapku.

"Kau tak apa Rinny?" Tanya Teto begitu aku berada di depannya.

"Mmm.." Jawabku singkat.

"Baiklah.." Balas Teto yang kemudian tertawa kecil? Apa yang ia tertawakan?

Grrrr! Pati kejadian tadi!

Akan kubunuh kau Teto!

Pikirku secara sadis.

"Ayo, kita makan dulu, pesawatnya masih 1 jam lagi." Ajak Ted pada kami semua.

Aku dan Teto mengangguk sebelum kami menyusul Ted yang sudah berjalan dahulu didepan kami. Dan tentunya si Len juga berjalan didepan kami.

Len's POV

Tubuhku terasa tertimpa sesuatu dan bibirku juga menempel ke sesuatu juga.

Aku membuka mataku dan mendapati sebuah mata azure yang menatapku.

Rin?

Mati aku!

Itulah yang terlintas dalam pikiranku setelah mengetahui bahwa..

Aku mencium Rin..

Lagi..

Tiba-tiba saja rasa lembut dari bibir Rin hilang dari bibirku dan berat badan Rin yang menimpaku juga mulai meringan.

Aku bangun berusaha bangun dari posisiku, dan menatap Rin yang sudah duduk, menutupi mulutnya dengan tangan kananku.

"Maaf." Itu yang kudengar dari mulut Rin yang ditutupi oleh tangannya sebelum ia berjalan menuju ke Teto.

Aku menundukan kepalaku.

"Ayo, kita makan dulu, pesawatnya masih 1 jam lagi." Kata Ted yang tiba-tiba datang. Aku segera bangun dari lantai dan berjalan cepat kearah Ted. Menyusulnya.

Saat kami sudah berada didalam cafe yang ada di bandara, aku dan Ted mengambil duduk didekat jendela.

Dan saat Rin dan Teto datang, Teto mengambil kursi yang berada disebelah Ted dan duduk dengan cerianya.

Sebentar.., Teto duduk disebelah Ted.

Kursi yang ada hanya 4, 2 dikiri dan 2 dikanan.

Rin masih berdiri dan hanya ada 1 kursi lagi. Di...sebelah..ku?

Dan seketika aku sadar, Rin akan duduk disebelahku perasaaan seram dan takut menyelubungiku.

Heck!

Sejak kapan aku jadi kucing penakut?

Pikirku sembari memperhatikan Rin yang terus men- death glare ku.

Sekarang aku ketakutan..

"Pesan apa?" Tanya pelayan yang berdiri di pinggir meja kami.

"Aku Sandwich ala French~ dan juga milkshake vanila" Kata Teto pada pelayan yang kemudian menulis pesanan Teto.

"Buat punyaku sama." Kata Ted sambil menutup buku menu yang dipegangnya.

"Orange smoothie.."

Aku menoleh ke arah Rin yang duduk disebelahku.

Apa? Ya, Rin duduk disebelahku dengan tampang sebal. Dan dengan tampang itu, bisa saja kalo aku bergerak salah sedikit ia akan membunuhku.

Tapi untungnya sampai detik ini aku masih hidup. Yay! Go ME! 8D

"Um.. SHOTA?"

Aku tersentak dan menoleh ke arah Ted.

"Hah? Apa?" Tanyaku sambil memegang buku menu dengan kaget.

"Kau pesan apa?" Tanya Teto. Dengan cepat aku membaca daftar menu itu lagi.

"Banana milkshake." Kataku pada pelayan.

"Mohon tunggu 20 menit."

Kemudian pelayan itu pergi.

Akupun menyandarkan kepalaku di atas meja, menatap Ted yang sibuk membaca buku.

Dan tanpa sengaja melirik Rin yang duduk sebelahku sambil.. tersenyum?

Itu baru..

Ia sedang berbicara dengan Teto yang duduk diseberangnya dengan sedikit tersenyum.

Tersenyum..

Kalo dipikir.. Rin memang tidak tersenyum saat disekitarku..

Tapi jika ia tersenyum..

Ia seperti malaikat kecil.

Pikirku sambil terus melirik Rin.

11.00 a.m.

Hi, Len yang ganteng telah kembali~ (PEDE!)

Ok, jadi kami sekarang sudah menaiki pesawat. Perjalanan ke pulau tropis yang kami tuju, kira-kira 7 jam.

Kami berempat duduk bersebelahan. Ted berada disebelah Teto, sebelah Teto ada Rin. Dan aku.. um..

Er..

Um...

Ehehe.. itu tak perlu kukatakan.

Hah? Kenapa?

ITU URUSANKU!

Eh? Kok maksa?

Ok..

Aku...

Emm... Disebelah...

R- ..

Rin..

Wow.. aku jadi takut?

Kenapa denganku? Takut dengan anak perempuan?

(Author: =="" Payah lu SHOTA!)

Ya, Rin duduk disebelahku. Disebelah kananku untuk lebih tepatnya, dan aku duduk di dekat jendela.

Sigh..

Akupun menatap langit melalui jendela.

Ini akan menjadi perjalan yang panjang.

Rin's POV

"Hah!" Seruku saat mendengar apa yang barusan Teto katakan setelah memberikan kunci kamar yang akan kutempati.

Yap, kami sudah sampai dipulau tropis dan sekarang berada di lorong hotel yang akan menjadi tempat kami menginap selama 7 hari disini.

"Maaf Rinny~ Teddy yang suruh~" Balas Teto.

What? WHAT THE DAMN HELL!

"Tidak! Dan tidak Teto! Ini tidak adil! Aku tak mau 1 kamar dengan DIA!" Kataku sambil menunjuk Len yang berdiri dibelakangku sambil terus menatap Teto.

"Ouw.. Rinny~ berbahagialahh~" Sahut Teto sambil mengedipkan salah satu matanya.

"Mana bisa TemanKu TerSayang!" Kataku dengan sadis. Memberi death glare kepada Teto dan juga pada Ted yang tiba-tiba saja datang.

Ted menatapku dan menyadari ekspresiku.

"Wow! Easy Rinny~" Kata Ted padaku sambil mengangkat kedua tangannya didepan dadanya.

"Grr.. Kasane Ted! KENAPA AKU HARUS 1 KAMAR DENGAN ANAK MENYEBALKAN INI!" Tanyaku dengan sadis dan aura killer yang menyebar.

"Well.., aku ingin tidur dengan Teto?" Jawab Ted sambil melirik kearah lain.

Alisku terangkat.

Aku menatap Ted dengan tatapan heran dan berkata,

"Bukannya Teto dan KAU sudah terlalu tua untuk tidur bersama?" Tanyaku pada Ted.

Kemudian aku melirik Teto yang sekarang mukanya memerah, lalu memandang Ted lagi.

"Walaupun kalian saudara, dan 'Kembar', apa itu masih wajar? Di usia ini!" Lanjutku.

Kemudian terjadi situasi yang aneh. Ted dan Teto menatap satu sama lain, dan kemudian muka mereka berubah menjadi merah tomat.

Ted tersipu?

Itu baru..

Pfftt.. tak kusangka..

Dan kemudian mereka memutar kepala mereka ke arahku lagi dan menunduk.

"Er.. mmm" Kata Teto yang kulihat sedikit gelisah, begitu juga Ted.

Aku mencium dan melihat sesuatu yang mencurigakaaann~

"..."

"..."

"..."

"..."

Dan Deadly silent is happening...

Aku menggelengkan kepalaku, aku berjalan menuju ke pintu yang berada disebelahku dan berkata,

"Tak apalah."

Memasukan kunci kamar yang berupa kartu elektrik dan membuka pintu.

"Tapi ingat, Teto~"

Aku menatap Teto dan sebuah senyum devil terukir. Teto menelan ludah.

Dan dengan itu aku masuk ke dalam kamar, tentu saja diikuti oleh player jelek itu dibelakangku.

Wow!

Seruku dalam hati saat aku masuk ke dalam kamar.

Kamar yang akan menjadi tempat menginapku ini SANGAT BESAR!

Kamar mandi juga luas dan juga kasurnya! Kasurnya King size!

Sebentar?

King size? DOUBLE!

Bukan Twin Bed?

Oh.., jangan bilang!

Jangan bilang!

JANGAN BILANG!

(Author : 1 kasuuur~ *sing*)

Aku bilang jangan bilang AUTHOR JELEK!

(Author: Eh? Jelek! Saia bakal bakar semua jeruk didepan mata anda!)

Bagus! Bagus! Sudah amat sial aku 1 kamar dengan Len! Dan sekarang! SEKARANG!

1 KASUR!

Ya?

Hah?

Ya..yah.. memang kami pernah tidur sekasur dulu!

Kapan?

Waktu kami kecil! Yang tentunya Len tidak akan ingat.

Dan juga saat aku menjadi maidnya. Dimana ia akan selalu ingat.

Akh! Ini menyebalkan!

Tiba-tiba telepon yang berada di salah satu meja kecil yang ada didalam kamar berdering. Akupun segera mengangkat telepon itu.

"Halo?" Ucapku.

"Hi, Rinny~" Balas orang yang menelepon.

Ukh.. aku tau siapa ini..

"Apa lagi TemanKu TerSayang!" Tanyaku pada Teto.

"Ehehe..~ jangan marah Rinny~, lagipula kamar kita bersebelahan~ jadi jangan khawatir~ " Jawab Teto sambil terkekeh-kekeh.

"Yaya.. terserah kau.. tapi yang pasti kau akan membayar ini Teto~" Balasku dengan tersenyum licik.

Tentu saja Teto tak dapat melihatnya. Tapi aku yakin dia bisa merasakannya.

Kemudian aku menutup telepon itu tanpa menunggu balasan dari Teto.

Aku kemudian memutar badanku. Dan saat itu juga aku mendapati Len menatapku.

Ukh.. SHOTA boy.

Sambil melipat kedua tangan didepan dada, "Apa?" Tanyaku pada Len yang kemudian memberikan ekspresi kaget.

Dan seperti kataku, ia memang kaget.

"Er... kau bicara denganku?" Tanya Len balik sambil menunjuk dirinya sendiri.

Aku memutar mataku.

"Tentu saja.., siapa lagi?" Sahutku dengan kesal.

Dan kemudian hening...

Ya, setidaknya begitu sampai Len bersuara.

"Um.. kau masih marah?" Tanya Len padaku.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Tak memperdulikan Len.

Jujur, aku tak marah padanya. Maksudku, kenapa aku harus marah?

Ah, aku jadi ingat..

Ya kelakuannya.. dan juga itu..

Akupun memejamkan mataku lalu menghela nafas.

"Um... Rin?"

Dengan cepat aku membuka mataku saat aku mendengar suara Len lagi.

Masih berbaring, aku menyahut, "Apa?"

"Kau masih marah?"

"Tentang?"

"Kau tau? Saat kau diapartemenku?" Kata Len. Nada suaranya terdengar gelisah. Untuk Player yang Shota, itu hal yang jarang..

"Umm.. bisa kau ingatkan yang mana?" Jawabku sambil mengangkat tangan kiriku ke udara dan menatapnya.

"Er... saat aku menciummu, menggigit lehermu, dan membuatmu cemburu?" Balas Len, masih dengan nada suara yang gelisah.

"Aku tak ingat apapun, jadi maaf disini tak diperlukan."

"Tapi..tapi.."

Akh.. cukup! SHOTA BOY! Kau menyiksaku!

Pikirku saat mendengarkan Len berkata 'Tapi..tapi..'

Dengan cepat aku bangun dan turun dari kasur. Menghampiri Len yang berdiri dipinggir kasur.

Aku menatap Len dan berkata,

"Pertama, kau SELALU menciumku saat ada kesempatan! Dan yang paling parah kau menggigit leherku, ya AKU INGAT!"

Len menatapku dengan tampang shock.

Tanpa memperdulikan itu, aku melanjutkan apa yang baru saja aku mulai.

"Kedua, Cemburu? YANG BENAR SAJA, PLAYER! Siapa yang mau cemburu dengan mu? Aku? Tidak untuk 1000 tahun!"

Seketika aku menggigit bibir setelah mengatakan itu semua. Menundukan kepalaku.

Aku tak membenci ciuman dari Len.

Aku tak membenci Len saat dia menggigitku.

Aku cemburu? Sangat.

Pikirku. Dan apa yang baru saja kukatakan berbeda dari apa yang dipikiranku.

Entah mengapa, mengatakan apa yang ada dihati sangat sulit untuk saat tertentu.

"Maaf.."

Akupun mengangkat kepalaku. Memandang Len yang berdiri didepanku.

"..."

"Hanya itu, maafkan aku Rin.." Kata Len.

"Aku.."

Aku terus memandang Len.

"Aku suka padamu.."

Dan dengan itu, aku merasa detak jantungku berhenti. Tapi aku harus menutupi perasaanku.

Dosa ku.

Dengan cepat aku berkata,

"Dan aku tidak." Memalingkan wajahku dari wajah Len.

Dan hening lagi.

Serius, berapa kali deadly silent harus terjadi di chapter ini?

Tapi tiba-tiba Len bersuara, "Ah.. maaf.." Dan "Kau mau ganti baju duluan Rin? Aku akan keluar jika kau mau.." Akupun memutar kepalaku dan menatap Len yang sudah memunggungiku. Lalu ia berjalan keluar.

Len's POV

"Ah.. maaf.."

Kataku pada Rin yang masih tak menatapku.

Aku harus mengganti subjek..

"Kau mau ganti baju duluan Rin? Aku akan keluar jika kau mau.." Kataku lagi, sembari memutar posisi badanku dan bersiap untuk keluar dari kamar.

Tapi saat baru beberapa langkah, aku menghentikan langkahku.

Seketika aku tersentak. Sesuatu merangkulku dari belakang.

"..."

"Rin?"

"Permintaan maaf diterima.." Kata Rin.

Dengan reflek aku langsung memutar badanku dan memegang pundak Rin, supaya aku dapat menatap wajahnya.

"Apa?" Tanya Rin.

"Kau yakin?"

"Ya, Len."

"Kau benar-benar yakin?"

"Ya! Dan kalo kau bertanya lagi, aku akan berubah pikiran."

"Baik!" Akupun memeluk Rin.

"Hei, SHOTA!" Seru Rin yang ada dalam pelukanku. Seketika itu juga aku langsung melepaskan pelukanku dari Rin.

"Maaf..." Kataku.

"pfft.."

"Hah? Apa yang lucu?" Tanyaku pada Rin sembari menatapnya dengan tampang heran.

"Kau!" Jawab Rin sambil menahan tawanya.

"Aku?"

"Ya, kau SHOTA boy! Untuk seorang player meminta maaf pada seorang gadis.. itu baru. Pfftt!"

Ouch..

Memang salah? Aku hanya ingin minta maaf..

Ok..

Kalo dipikir, sepanjang sejarah memang tak ada player yang minta maaf kepada seorang gadis?

"Er.."

"Baik.. baik.. aku berhenti.." Kata Rin yang kemudian berjalan ke arah kasur.

Aku mengikuti Rin yang sudah berhenti tertawa dari belakang. Dan duduk dipinggir kasur, tepat disebelah Rin.

Aku menatap Rin yang duduk disebelahku. Diwajahnya terpasang senyum yang lebar.


In-Chan : Finnaaaallyyy~~~! CHAPTER 16 FINISH!*smirk*

Len : =="" WHAT THE?

Rin : INI GAJENESS!

In-Chan : Ya..ya.. =="" anyway, maaf untuk update yang lama, maklum writer block..

Rin : Bilang aja kehilangan ide!

In-Chan : LHA YA ITU RINRIN!

Len : Er... bukannya ente masih UAS yah?

In-Chan : Sssstt! DIEM! Update nya diem-diem nih!

Rin : Dasar murid gak patut dicontoh...ckk..

In-Chan : Apa yang mau dicontoh dari saia?

Rin : Tau! :P

In-Chan : ?

Len : R&R pleasee~ ;)

Rin : R&R~ or R&R...

In-Chan : *gulp* R&R! CERITA INI AKAN TERUS BERLANJUT! XD


Nb: maaf kalo kurang memuaskan hati TTATT