R&R reply~

Kurara : Yay! CX hehe… iya nih.. *smirk*, YOSH!UPDATE! XDD yoshiiwe~ arigatou kurara-san~ XD

Hikari-chan : He'em.. oh,ya? Ooo~ he'em sstt..*clingak clinguk* YOSH! Okey! *mohon doakan saia* CX

Aka-chan : Hehe, iya deh.. tapi ini kan baru mau chapter 17 hehe.. Makasih~ XDD , iya sih.. tapi disini mereka bukan kembar..

Amu : Err.. lagi jogging semua?(? Alasanteranehdidunia!) Saia usahakan.., tapi disini Len masih gak erani ngapa-ngapain Rin..(ingatlah akibatnya, ampe berapa chapie tuh anak marah?), shota,.. emm.. setahu saia, tuh.., tampang yang lebih muda daripada umur sebenernya.., Oke! Saia usahakan!(emang 4.000 kurang yah?)

Ruuya : Makasih! XD oke deh~ ;)

Rii-kun senpai : Saia bilang apa? TTATT, orang yang nulis aja kurang puas.. Iya, senpai.. ini KACAU..TTATT, Yay! Hohooo~*smirk*, Tewe aja…. Er.. Onsen tuh apa yah senpai?*dilempar kelaut* (maklum baru juga 2 bulan aktif jadi author lagi..TTATT), Ohohooo~ saia usahakaann~ C; yap! Ini aja saia kalo nulis sembunyi-sembunyi~ OKE! XDDDD

-Thanks for all the supports!-


In-Chan : Hi! Minna~ XDD

Rin : Happy?

Len : UAS?

In-Chan : Ashh..=..= Shut it up SHOTA! And Rinny? Yap! Saia lagi hepi! XD

Rin : ?

Len : Ya udah..

In-Chan : Lenlen! DISCLAIMER!

Len : What the?

In-Chan : Talk less Do More!(nyolong dari iklan rokok~) CEPET!

Len : Tap-

In-Chan : HAAP! CEPET!*nyuruh*

Len : Fine!

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Day : 1 (Part 2)

Title : Revenge is sweet~ mwaahahha~

Event : Test Courage.. are you daring?


Len's POV

"Jadi…" Kataku perlahan, menatap Rin yang berjalan disebelahku sembari terus berjalan juga.

Kami sedang berjalan di pinggir pantai yang dimana ombaknya tidak terlalu besar dan udara sore ini cukup enak.

Rin mengajakku ke pantai untuk mencari sesuatu,

Kau bertanya apa?

Mencari apa?

Oh.. mm.. coba kuingat.. Rin bilang kami akan mencari sesuatu untuk menakuti… Teto?

Sebentar..

Atau yang lain?

"Apa?" Balas Rin sambil terus berjalan.

"Apa yang kita cari lagi, Rin?" Tanyaku.

Tiba-tiba Rin berhenti. Akupun berhenti.

Rin memutar kepalanya dan menatapku dengan ekspresi yang kurang menyenangkan.

Opps..

Kenapa KAU BERTANYA LEN!

Bentakku pada diri sendiri dalam hati.

Akupun menelan ludah.

"Len, kita disini untuk mencari tempat yang seram. Untuk balasan Teto.." Ucap Rin padaku dengan diikuti senyum yang sangat licik. Maksudku SELICIK SETAN KECIL.

Oke, ini Rinny yang kutahu.

Tapi, Geez.. dia lebih seram dari biasanya.

Aku menatap Rin dengan memasang wajah 'hehehe?', kemudian Rin menggeram dan memutar kepalanya lagi.

Bersiap untuk melangkah lagi.

Aku langsung mengikuti Rin yang melangkah didepanku.

Tiba-tiba aku seperti mendengar suara gadis-gadis yang lewat bicara, aku sempat mendengar beberapa kalimat.

"Hei, Lelaki itu tampan yah?"

"Ah? Iya! Dia imut sekali!"

"Hei, hei, menurutmu dia sudah punya pacar?"

"Hmm.. Mungkin. Tapi aku harap belum! Karena dia akan jadi milikku!"

"Yang benar saja! Dia akan menjadi milikku! Ya.. kalo dia belum punya pacar."

Dan itu saja yang kudengar saudara-saudara~

Aku bukan penguping. Aku Player.

Seketika, aku merasa ada tangan seseorang dibahuku. Dengan perlahan, aku memutar kepalaku dan mendapati seorang gadis berdiri disana.

"Hai!" Sapa gadis yang berdiri didepanku.

"Hai." Sapaku.

"Boleh aku berkenalan?" Tanyanya padaku.

"Tentu. Len Kagamine.." Kataku sembari memberikan senyuman yang hangat kepada gadis itu.

"Tei Sukone." Jawab Sukone dengan wajah memerah.

Mudah. Terlalu mudah.

(Ooo… jiwa Player telah kembali =="")

"Kau sendirian?" Tanya Tei padaku dengan wajah masih merah merona.

Akupun memutar kepalaku ke arah belakangku sejenak.

Rin tak ada?

Seketika perasaan sedih melandaku. (aah~ cliché~)

Maksudku, baru beberapa jam yang lalu kami berbaikan dan sekarang.., ia hilang? Salahku?

Baiklah..

"Um?"

Dengan cepat aku memutar kepalaku lagi untuk menatap Sukone.

"Ah..maaf. Iya aku sendiri." Jawabku sembari tersenyum.

"Kalo begitu kau mau menemaniku untuk jalan-jalan?" Balas Sukone padaku.

"Ten-"

Ketika aku akan menjawab, sebuah suara memotong kata-kataku,

"Nii-san!"

dan kemudian tanganku seperti dipeluk seseorang.

Dengan cepat aku mencari sumber suara itu.

Tapi mataku langsung melebar saat aku menatap orang yang memeluk lenganku.

R-

Ri—

Rin?

Apa aku tak salah lihat?

Aku mendapati Rin lah yang memotong kata-kataku dan sekarang ia memeluk lenganku dengan gaya seorang imuto yang manja.

Seketika, aku merasakan badanku menjadi kaku dan panas.

Rin's POV

"Nii-san!" Seruku yang kemudian memeluk lengan Len dengan gaya ter manis ku.

Gadis yang berdiri didepan Len pun menatapku dengan heran.

Hahaha….

Ini berhasil~

Apa yang berhasil? Kau bertanya?

Aku sedang membuat Len bingung setengah mati dengan tingkah lakuku.

Kenapa?

Hmph! Anak shota itu tadi menghilang entah kemana, sampai aku mendapatinya sedang merayu seorang gadis –yang sekarang berdiri didepanku- .

Jadi aku putuskan untuk mengganggu ketenangan mereka sedikit~ hehe~ evil aren't i? 3=)

Ok, kembali ke situasi.

"Ne, nii-san!" Seruku lagi pada Len yang menatapku dengan mata yang shock.

Akupun memberinya senyum dengan sedikit death glare yang amaaaat~ tenang. Atau bisa dibilang silently killing..

Lenpun tersentak. Ha, dia mengerti juga death glare ku.

"Ah.. uh.."

"Nii-san! Kenapa kau meninggalkan aku sendirian? Aku takut!" Ucapku sembari memeluk lengan Len lebih erat.

Jangan salah! Aku melakukan ini, supaya anak SHOTA itu merasa bingung.

Hah? Cemburu?

Yang benar saja! Kenapa aku harus cemburu terhadap Player SHOTA ini?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BAIK!

Aku akui, sedikit.

Aku sedikit cemburu.

Bah, kenapa aku selalu dipaksa untuk mengaku?

Baik, kembali ke keadaan.

"Um.. ini adikmu?" Tanya gadis itu pada Len.

Sebelum Len sempat menjawab, aku berkata,

"Mm! Ya! Aku adiknya!" Jawabku pada gadis itu.

"Ne, Nee-chan~ apakah nee-chan suka pada nii-san?" Tanyaku dengan nada suara yang kubuat seperti anak kecil yang polos.

Dan jika kau bisa menebaknya, gadis itu tersipu. Dengan perlahan aku memutar kepalaku kearah Len dan menatapnya.

Ah.. dasar player.. dia akan jadi mangsamu kan?

Pikirku sambil menatap Len yang masih menatapku dengan art of death glare. Tapi dengan cepat aku memutar kepalaku lagi dan menatap gadis itu.

"Ne, Nee-chan? Nee-chan tau tidak?" Kataku sambil terus memeluk lengan Len dengan erat dan memasang senyum yang hangat tapi seram..

Gadis itu menatapku.

"Tau apa?" Tanyanya sambil terus menatapku.

"Nee-chan tau? Nii-san ini adalah player dan ia sudah punya banyak pacar di rumah~" Lanjutku masih tersenyum.

Seketika, kelihatannya gadis itu tersentak dan mengangkat alisnya.

"Dan, nee-chan tau? Pacar nii-san kira-kira ada 7 orang dan semuanya tak ada yang tau kalo mereka di umm… apa kata itu?"

Aku pura-pura berpikir.

"Ah.. ya! Mereka semua diselingkuhi oleh nii-san~"

Dan gadis itupun memiliki tampang kaget yang tak terhingga.

Aku hampir saja tertawa karena itu, tapi untungnya kau bisa menahannya.

Wajahnya..

Pfftt!

Gadis bodoh~

Kau begitu percaya?

Ya, itu kenyataan~ tapi sayangnya, aku bukan adiknya~ :P

Pikirku secara sadis sambil melihat gadis itu pergi tanpa mengucapkan apapun.

Dengan senyum lebar yang kejam, aku menatap Len yang sekarang kelihatannya lebih shock dari sebelumnya.

Oh, Rin Kamine~ kau memang jahat~ wkwkw~ (Um.. earth to Rinrin! HECK! What happen to you!)

Len's POV

"Nee-chan tau? Nii-san ini adalah player dan ia sudah punya banyak pacar di rumah~" Lanjut Rin, masih tersenyum.

EH? Rin!

Ada apa dengan Rin? Dia mengatakan aku player? Aku tidak terima!

Ok, baik..

Aku memang player, so? What's the big idea?

Masih dengan keadaan kaku dan ¼ shock, aku melirik Sukone yang kelihatannya tersentak dan mengangkat alisnya.

"Dan, nee-chan tau? Pacar nii-san kira-kira ada 7 orang dan semuanya tak ada yang tau kalo mereka di umm… apa kata itu?"

Lanjut Rin. Akupun menatap Rin lagi.

Rin?

Aku tak punya pacaaarr!

AKU SUDAH PUTUS DENGAN MEREKA SEMUAAA! Terutama Miku!

Hah? Ah? Eh?

Hehe, lupa bilang ya?

Kau ingat saat Rin kabur dari apartemenku?

Nah, 2 hari setelah itu, aku menelepon semua gadis yang menjadi mangsa ku dan yang sudah lengket denganku, dan…

Memutuskan mereka semua.

SMS / Langsung?

Er…

Karena mereka ada banyak, aku SMS saja.

"Ah.. ya! Mereka semua diselingkuhi oleh nii-san~" Ucap Rin dengan polos!

Polos! Polos! AKU TAK PERCAYA INI!

Dan.. HECK! RIN!

Tiba-tiba, Sukone sudah pergi saat aku akan meliriknya lagi. Pergi tanpa mengucapkan apapun.

Dengan senyum lebar yang kejam, Rin menatapku.

Aku bisa merasakan aura yang seram disini.

"Er.. Rin?"

"Apa nii-san~?" Jawab Rin dengan nada yang jahil.

"Kenapa kau memanggilku nii-san?" Tanyaku dengan heran dan agak risih, mengigat lenganku dipeluk erat oleh Rin dan mengenai d—kau tau kan?

"Hihihi…. Tak ada alasan." Balas Rin dengan singkat. Dan belum melepaskan pelukannya dilenganku.

"Uh-huh. Dan apa maksudmu dengan 'Mereka semua diselingkuhi oleh nii-san', hah?" Tanyaku lagi pada Rin.

"Oh, ayolah SHOTA, kau kan memang player.." Sahut Rin, memutar matanya.

Aku menggerakan lenganku yang dipeluk oleh Rin. Dan tiba-tiba Rin melepaskan pelukannya dari lenganku.

Dengan heran aku menatap Rin.

"Rin?"

"Ka—kau! PLAYER SHOTA!" Teriak Rin tiba-tiba dengan muka memerah sambil menutupi dadanya dengan kedua tanga-.

Oh…

Opps..

My fault..

"Er.. maaf?" Kataku sembari berjalan menuju Rin yang mundur 100 langkah dariku.

"Gya! Jangan dekat-dekat perv!" Teriaknya lagi.

"Wo.. Rinny~ aku bukan perv! Aku player! Ok?" Balasku sambil terus berjalan ke arah Rin yang semakin berjalan mundur, sampai akhirnya…

"Aouw!" Seru Rin yang terjatuh ke pasir.

Akupun menghela nafas dan menghampiri Rin yang jatuh itu.

"Lain kali, lihat dulu arahmu berjalan Rinny~" Kataku dengan sedikit menyingrai. Kemudian aku mengulurkan tanganku untuk membatu Rin bangun.

"Whatever shota.." Jawab Rin sembari meraih tanganku.

Akupun menarik Rin supaya ia bisa bangun. Dan dengan sengaja… memeluknya.

"What the!" Seru Rin yang kaget karena aku peluk secara tiba-tiba.

Rin berusaha untuk melepaskan diri dari pelukanku, tapi tentunya tak akan semudah itu.

Hehe.. aku suka mengerjai Rin.

Oh, tapi kali ini aku tak boleh kelewatan seperti kemarin-kemarin..

Kataku pada diri sendiri.

Apa? Aku takut kalo Rin marah padaku lagi?

Ya.., aku takut. Tapi mari kita lihat, apakah Rinrin~ tercinta akan meng- karate ku lagi kali ini.

Aku mendekatkan tubuh kami dengan memperat pelukanku.

"Oh.. ayolaaah~ diam sebentar, kay?" Bisikku ditelinga Rin.

"Hell! No way! LEPASKAAAANN!" Seru Rin. Masih berusaha melepaskan diri.

"Awww~"

Rin's POV

Dengan pelan aku melangkah dan mengetuk pintu kamar hotel yang ditempati Teto dan Ted.

Aku mengambil beberapa langkah mundur setelah mengetuk.

Tak lama, Teto membuka pintu itu mengenakan tank top dan rok.

"Tetoo~~" Ucapku sembari mendekati Teto yang ada di ambang pintu kamarnya.

"Rinny~" Seru Teto yang kemudian memelukku. Akupun membalas pelukannya.

"Teto~" Seruku sambil memeluk Teto.

"Ada apa? Kau menghampiriku?" Tanya Teto sembari melepaskan pelukan kami.

Dengan menatap Teto, aku berkata,

"malam ini aku punya rencana untuk kita menghabiskan malam!" Kataku pada Teto.

"Oh!Oh! Apa itu Rinny?" Tanya Teto yang sepertinya mulai sedikit kegirangan.

"UJI NYALI."

Dan kegirangan Teto pun langsung sirna saat aku menyelesaikan kalimatku.

2 kata. Uji dan Nyali.

1 Hal yang paling dibenci atau bisa dibilang takuti.. oleh Teto.

Mwahahahaha~

Aku kejam! 3=)

Aku bilang apa Teto?

Ini pembalasanku, karena engkau MEMBUATKU SATU KAMAR DAN KASUR DENGAN PLAYER ITU LAGII!

Hah? Eh?

Len?

Ah.. anak shota itu yah?

Apa? Kejadian tadi?

Oh.., yang itu..

Saat ia terus memelukku dengan paksa, aku menghajarnya, setelah itu kami mencari lagi tempat yang kucari. Tentu saja dengan menyeret Len.

Dan aku menemukannya! XD

Oh, dan tentu saja player itu aku biarkan dikamar setelah pencarian kami. Aku baik bukan? ;)

"Oh, tidak Rinny! Tidak!" Kata Teto sambil menatapku dengan sangat ketakutan.

Oh~ aku suka jadi kejam kadang~ ;)

"Oh,ya Teto! Ya!" Jawabku dengan senyum yang lebar dan juga –kalo perlu kusebutkan- licik..

(uuuu… Rinrin jadi sereem~*snicker*)

11.30 p.m.

"HUAAA!"

"Diamlah Teto!" Seru Ted pada Teto yang memeluk lengannya dengan erat dan mau melepaskannya.

"Ya, Teto, tenanglah.." Tambahku sambil melipat kedua tangan didepan dada.

Kenapa Teto berteriak?

Mwahahaaha~

Uji nyali kawan! Uji nyali!

Itu membuatnya takut. Dan sekarang itulah yang sedang akan kami lakukan.

Kami akan melakukan uji nyali itu ditempat yang tadi kutemukan tentu saja bersama Len.

Kau bertanya tempat apa yang kutemukan?

Gua..

GUA KERAMAT..

Dan tempat seperti gua, sangat cocok untuk uji nyali, iya'kan? ;)

"Se—sendirian?" Tanya Teto padaku dengan gelisah.

Oh~ sweet revenge~

"Yap!" Jawabku dengan ringan. "Ada yang keberatan?" Tanyaku.

Tetopun mengankat tangannya.

Ted hanya diam, begitu juga si SHOTA BOY.

Akupun mengangkat alis.

"Yang lain?" Tanyaku lagi.

Tiba-tiba Ted mengangkat tangannya.

"Kau keberatan Ted?" Tanyaku pada Ted yang mengangkat tangannya.

Ted mengangguk. "Teto ketakutan." Jawabnya.

Akupun mengeram.

"Oke, jadi?"

"Kita buat berpasangan." Sahut Ted. Akupun berpikir.

Sendiri..

Berpasangan..

Sendiri..

Berpasangan..

Sendiri..

Berpasangan..

Sendiri..

Berpasangan..

Sendiri..

Berpas- akh! Kepalaku sakit! Baik Teddy! Berpasangan!

Aku malas berpikir keras untuk saat ini.

Kau menang!

(=wwww="")

"Ok, kita akan berpasangan memasuki gua ini." Kataku sembari menatap Ted yang lengannya masih dipeluk oleh Teto dengan erat. Maksudku ERAT sekali.

Dan juga si SHOTA BOY yang berdiri disebelahku sambil memegang 4 buah senter.

Ou.. 2 senter tak akan terpakai.

DAMN! HATE IT!

Pikriku sembari melirik senter-senter yang berada ditangan Len.

"Aku dengan Ted!" Seru Teto dengan tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku.

Akupun mengangkat alis.

"Baik. Jadi aku dengan.."

Sebentar!

Tunggu dulu!

Jangan bilang..

AKH!

Ini payah! Kenapa harus dengan DIA lagi!

Dengan satu tangan aku melakukan face palm.

"Kenapa Rin?" Tanya Len padaku. Akupun menatapnya dengan pandangan death glare dan iapun ketakutan.

Sama saja seperti dulu.

Pikirku sembari tertawa kecil didalam hati.

Dengan cepat aku meraih satu senter dari tangan Len.

"Ini." Kataku sembari melempar senter tadi kearah Ted dan Teto. Ted menangkapnya.

"Ada 3 aturan harus yang harus diikuti." Ucapku.

Ted, Teto dan Len langsung menatapku. Lalu aku melanjutkan.

"Pertama, Senter yang dipakai pergroup hanya 1. "

"Kedua, ini.."

Dengan cepat aku menyerahkan sebuah kain merah kepada Ted dan Teto. Teto yang memegangnya, tentunya masih berpelukan dengan lengan Ted.

Dan kain warna kuning pada Len.

"Letakan kain tadi untuk tanda kau sudah sampai diakhir."

"Ketiga, kalo ada yang belum kembali, harus dicari sampai ketemu."

"Kay?"

Lalu, Ted, Teto dan Len mengangguk.

"Bagus!" Ucapku dengan tersenyum. "NOW BEGIN!" Seruku.

Ted's POV

"Teto.., jangan jadi penakut." Kataku pada gadis berambut merah magenta sepertiku yang memeluk lenganku dengan ERAT.

Teto, kembaranku, menatapku dengan mata berkaca-kaca dan berkata,

"Aku takut Teddy!"

Kenapa, saudara kembarku penakut sekali!

Pikirku sambil terus menelusuri gua yang kami masuki.

Sambil mengibas-ngibaskan cahaya lampu senter yang dipinjamkan oleh Rin, aku menghela nafas.

Aha!

Seruku dalam hati. Aku menemukan ujung dari gua yang kami telusuri.

Dengan cepat aku meletakkan kain berwana merah yang tadi diberikan Rin di kuil kecil yang ada.

Setelah itu, aku menatap Teto yang masih memeluk erat lenganku.

"Kenapa Teddy?" Tanya Teto padaku.

"Tak ada apa-apa." Jawabku dengan santai.

Tiba-tiba Teto mengecup pipiku. Akupun menatap Teto dengan wajah tersipu. Untungnya gelap, jadi ia tak akan tau.

"Hehe.." Hanya itu respon Teto sebelum menciumku dibibir.

Mataku melebar dan dengan cepat aku mendorong Teto.

"T—Teto!" Seruku sambil memegang bahu Teto dan menatap wajahnya yang sekarang berekspresi sebal.

"Aku hanya ingin menciummu Ted!"

Akupun menghela nafas.

"Aku juga Teto. Tapi jangan disini." Balasku.

Teto kemudian menatapku lalu memiringkan kepalanya.

Lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Aku hanya bisa menatapnya dengan bingung.

Seketika, Teto menarikku. Ia menarikku ke dalam sela-sela gua yang tersembunyi.

"Tet-" Kata-kataku dipotong oleh bibir Teto yang bertemu bibirku.

Ya, saudara-saudara.., kami kembar dan kami jatuh cinta satu sama lain. Ada masalah?

Len's POV

Aku menatap Rin yang terus menatap jam tangan yang dipakainya.

Rin hanya memakai kaos putih berlengan pendek, celana jins sepaha dan juga jangan lupakan pita besarnya dan jepitan-jepitan rambutnya yang membuat rambutnya teratur itu.

Rin, sangat s-

Tunggu! BAD LEN!

Tak boleh berpikiran seperti itu tentang Rin!

Yah, aku harus mengakui, Rin sangat snexxxy! Dengan baju yang dipakainya.

"Len?"

Seketika aku tersentak.

"Ah.. i-iya?" Sahutku, menatap Rin yang menatapku dengan sebal.

"Ayo! Ini giliran kita." Kata Rin sembari berjalan didepanku, tapi kemudian berhenti dan memutar badannya kearahku.

"AYO! Kau'kan yang membawa senternya SHOTA." Ucap Rin.

"Ah.. iya.. hehe.." Balasku sambil memasang senyum gugup. Aku baru sadar kalo aku yang membawa senter yang akan kami pakai.

Dengan cepat aku menghampiri Rin dan berjalan bersebelahan dengannya.

Kamipun memasuki gua yang jadi tempat uji nyali itu.

Hawa lembab dan dingin langsung menusuk kulit saat masuk ke gua itu.

Bahkan aku yang mengenakan jaket saja masih merasakan itu.

"Takut?" Suara Rin menusuk telingaku dan akupun langsung merinding.

Aku mendengar Rin tertawa saat aku merinding.

"Kau, takut?" Tanya Rin lagi. Akupun memutar kepalaku dan menatap Rin yang berjalan disampingku.

"Aku tidak. Siapa bilang Rinrin?" Balasku menatap Rin sambil menyingrai. Dengan segera Rin memberi death glare.

"Ehehe.."

Dan dengan itu aku menatap ke arah depan lagi. Dengan melirik sedikit ke arah Rin.

Yah, sampai aku tertangkap basah oleh Rin.

"Apa yang kau lihat SHOTA Boy?" Tanya Rin dengan menekan kata SHOTA, lagi. Seperti biasa.

Aku berhenti. Begitu juga Rin.

Aku dapat merasakan wajahku memerah karena tertangkap basah oleh Rin.

"Er.. ar.. emm.. aamm.. umm.."

Dan aku berakhir kehabisan kata-kata untuk menjawab Rin.

"Jadi?"

Aha, kesempatan!

"Jadi?"

Dengan cepat aku memutar balikan pertanyaan pada Rin.

"Jadi?"

"Jadi?"

"Jadi?"

"Jadi?"

"GAH! Berhenti!" Teriak Rin kepadaku. Yang dimana teriakan itu bergema keseluruh gua.

Aku hanya bisa menatap Rin yang menutup telinganya dan men- death glare ku.. lagi..

"Berhenti, mengulangi perkataanku SHOTA!" Bentaknya padaku.

Aku akan mengambil ini sebagai lelucon kecil.

Akupun menyingrai.

"Oh, ayolah Rinrin~" Kataku dengan masih menyingrai.

Respon hanya melipat kedua tangannya didepan dada dan memutar bola matanya.

Akupun tertawa kecil.

"Lama tak mendengar kau tertawa." Kata Rin tiba-tiba.

"Kau merindukannya?" Tanyaku dengan menyingrai. Dan aku dapat wajah Rin memerah sedikit.

"Tentu saja tidak!"

"Ou…~ wajahmu berkata lain~" Kataku menyentuh pipi Rin. Mendekatkan wajahku dengan wajah Rin.

Dan tanpa sadar, aku mencium Rin.

Rin's POV

"Ou…~ wajahmu berkata lain~"

Kemudian, Len menyentuh pipiku.

Mendekatkan wajahku dengan wajahny.

Dan tiba-tiba aku merasakan bibir Len menempel dibibirku.

WHAT THE!

ANAK SHOTA INI MENCIUMKU LAGI!

Aku ingin mendorong Len, tapi aku menyukai ciuman dari Len. (Rinrinn~!)

Seketika, aku merasakan lidah Len menjilat bibir bawahku, meminta jalan masuk yang secara otomatis kuberikan.

Sial!

Kenapa kau harus sangat ahli dalam hal seperti ini!

Pikirku sembari melingkar tanganku dileher Len.

Len pun juga melingkarkan tangannya kepinggangku selagi menulusuri setiap bagian mulutku. Membuatku menginginkan lebih.

Tapi, kami harus melepaskan ciuman kami untuk, oksigen! OKSIGEN! UKHH!(Ouu~Rinrin kecewa :D that's sweet~ ;D)

Seutas saliva menghubungkan mulut kami selagi aku menatap Len tepat dimata dengan nafas yang berat. Len juga menatapku dengan mata biru azure nya yang mirip dengan milikku, tapi lebih indah.

Dengan cepat aku melepaskan tanganku yang melingkar dileher Len dan berusaha tak menatap Len yang baru saja menciumku, dan yang sialnya lagi.. AKU MENYUKAINYA!

Oh, Rin!

KAU. TAK. BOLEH. JATUH. CINTA. PADA. LEN!

Pikirku dengan niat ingin melakukan headbang, tapi aku tak mungkin melakukan itu.

Nanti kepalaku akan bocor jika aku melakukannya, dan kita tak mau'kan cerita ini selesai sebelum waktunya ? ;)

Seketika aku mendengar sesuatu.

Suara petir.

HECK!

MUSIM SEPERTI INI HUJAN!

AKH! PETIR! AKU BENCI KAU!

Dengan 1 kali hentakan dari petir sialan itu.

Aku meloncat kaget dan memeluk apapun yang ada disekitarku.

Ya, aku memang takut dengan petir. Mereka selalu menganggetkanku.

Oke, kembali ke situasi.

"Hyaaa!" Teriakku sambil memeluk erat benda yang ada didekatku. Aku juga menutup rapat kedua mataku.

Benda itu terasa hangat dan lembut.

Dan beraroma..

Pisang…?

Dengan cepat aku membuka mataku dan aku mendapati kalo ternyata,…

Len yang kupeluk.

Dengan cepat, aku langsung melepaskan pelukanku dari Len, tapi kawan.. ia memelukku dan mengelus kepalaku.

"Shh.., kau takut petir?" Kata Len sambil memeluk dan mengelus kepalaku.

Aku hanya diam. Tak bergerak dalam pelukan Len.

"Rin? Rin? Kau masih disana?"

"Mm.. ya.. aku takut.. petir." Jawabku. Perlahan aku memeluk erat Len.

"Kau mau membatalkan uji nyali ini?"

Aku berpikir.

Batalkan..atau lanjut?

Teto sudah ketakutan saat aku bawa kesini..

Mungkin batalkan?

Tapi..

Hmm..

Ah..

"Mm.. batalkan. Lagipula cuacanya keliatannya akan bertambah buruk.." Jawabku, sembari memendam wajahku ke tubuh Len.

"Kalo begitu akan kutelepon mereka." Kata Len sebelum ia melepaskan tangannya dan merogoh kantong celananya.

Tapi, tiba-tiba kami mendengar suara dering yang menggema.

Aku langsung membuka mataku dan mencoba melihat ke sekitar.

"Apa itu?" Tanyaku pada Len yang masih mencoba menelepon Ted dan juga memelukku.

Sebentar..

Aku dipeluk Le..

Dengan cepat aku memisahkan tubuhku dari tubuh Len dan menundukan kepalaku.

Hua! Dasar Rin BODOH!

Kenapa kau mau dipeluk!

Bentakku pada diri sendiri.

Aku dapat merasakan wajahku memanas.

Damn!

Len's POV

"Kalo begitu akan kutelepon mereka." Kataku sembari melepaskan salah satu tanganku yang memeluk Rin untuk mengambil ponselku.

Akupun men dial nomor telepon Ted.

Tapi, tiba-tiba kami mendengar suara dering yang menggema.

Aku

"Apa itu?" Tanya Rin padaku.

Tiba-tiba saja Rin melepaskan pelukannya. Akupun menatap Rin yang menundukan kepalanya.

"Kenapa?" Tanyaku. Masih menunggu Ted mengangkat teleponnya.

Rin hanya menggelengkan kepalanya.

"Kau yakin?" Tanyaku lagi.

Kali ini Rin mengangguk.

"Baiklah."

(Maafkan saia! SKIP TIME! XD)

02.00 a.m.

Aku melempar diriku keatas kasur kamar hotel yang menjadi tempat inap kami. Kami sudah kembali dari acar 'uji nyali' itu. Karena cuacanya agak seram, Rin minta untuk kembali.

Dan benar..

Sekarang diluar, sedang hujan yang luamayan deras.

Kenapa pulau tropis juga hujan di musim ini?

Apa?

Hah? Ted dan Teto? Mereka sudah dikamar mereka.

Dan? Suara tadi yang menggema?

Aku tak tau..

Ah…

Aku lelah.

Pikirku.

Aku memutar posisiku, untuk lebih nyaman. Kemudian aku sadar.

Rin, tidur disebelahku dengan lelapnya.

Mataku langsung melebar saat aku menyadari betapa dekat jarak kami berdua.

Dengan cepat aku langsung mengambil posisi duduk bersila dan menatap Rin.

Kenapa ia harus sangat manis saat tidur?

Rin masih memakai pakaiannya yang tadi dipakainya saat uji nyali.

Badannya yang kecil, terbentuk dengan indah dengan pakaian yang dipakainya..

- Tunggu! Tidak! Tidak! Aku tak boleh berpikir seperti itu!

Aku menggelengkan kepalaku. Mencoba mengusir semua pikiran kotorku terhadap Rin.

Menatap Rin lagi, aku jadi ingin memeluknya.

Perlahan, aku membaringkan tubuhku lagi diatas kasur.

Kemudian, aku menarik tubuhku mendekat ke tubuh Rin dan memeluknya.

Aku harap ia tak akan membantaiku besok..

Itulah yang kupikirkan sebelum aku tertidur.

Tertidur sembari memeluk Rin.


In-Chan : YAAAHHO~ XDD chapter 17 FINISH!*tepar*

Rin & Len : WHAT THE DAMN HELL!

In-Chan : *bangun lagi* SHUT ITU UP! Ini usaha terbaik saia untuk chapie ini!

Rin : Tapi masa' GINI!

Len : Aku sih tak keberatan.. =3=

Rin : Len…

Len : *gulp*

In-Chan : Whatever..

Rin : R&R please~ ingat akibatnya~ 3;D

Len : R&R please~ jika tak ingin diratakan oleh Tuan Road Roller..

In-Chan : R&R dan CERITA INI AKAN BERLANJUT! XDDD *tepar*