R&R reply~

Hikari-Chan : gpp~ XD eh? Emang lama banget yah? maaf, Hmm... sebetulnya saia juga bingung (Huaaa! Hancurkan anak ini!*dibom*) YAY! UPDATEE~ CX mm cliche, kalo menurut saia(menurut saia lho~) mm.., melebih-lebihkan, terlalu puitis. *dihajar ma yang lebih tau*

Kurara : Maaf.., :( Yay! YOSH!UPDATE~ XDD

Rii-kun senpai : Ouu~ He'em~ romantis nyee~ wkwkw~ saia aja yang nulis tertawa ndiri *peringatanAnakinimulaikumat! XD* Yah.. *peluk erat* Okay~ XD

Cozartcz : Heheh~ makasih yah~ XD oke~ UPDATE POWEER!

Amu : Yah, ... ehehhe~ ^^"" Kapan-kapan? Masalahnya ini Rate T jadi gak saia deskripsiin kalopun ada =3= maaf~, oke oke~ ntar saia liat deh~ ;) YOSH UPDDATEEE~ XDD

The Lord of Lucifer : wkwk~ XD iya!

Yachan20 : Eheheh.. iya nih..~ CX OKE! XDD eh? Sinyal?

Ruuya : ini~ XD huaaaa! Ampuunn! *Kabur*

Aka-chan : 30? ;D yosh! UPDATE! XDD

-Thanks for the supports-


In-Chan : Yooohhoo~ XDDDD

Rin : Eh, anak strees!

In-Chan : ?

Len : Chapter 17 PAYAH BANGET!

In-Chan : *meratapi dipojok* hiks... aye tau... gak sah dikasih TeWe..TTATT

Len : Benerin gitu lho!*nyuruh*

Rin : He'e! Udah kita dibilang slow lagi romancenya!

In-Chan : Yah..., kalian mau klimaks? Kalo getu ntar ganti rate dunk! =3=

Len : ==""

Rin : Whatever! :P

In-Chan : Tenang aja Rinrin Lenlen~ ntar kita akan membuat klimaks! 3:DDD

Rin : ...?

Len : Siapa yang mulai?

In-Chan : ...?

In-Chan : DISCLAIMER!

Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~


Vocaloid © Yamaha

.

.

.

Way For Love © In-Chan Sakura


Rin's POV

Aku mematung disini. Diatas kasur, memandang Len... YANG MEMELUKKU!

Heck!

Pikirku sembari berusaha melepaskan diri.

Dengan susah payah aku berusaha melepaskan diri dengan cara mendorong diriku menjauhinya, melepaskan tangannya yang merangkulku, tapi hasilnya

AKU TAK BISA LEPAS DARI PELUKAN PLAYER SHOTA YANG TIDUR INI!

Sambil menghela nafas, akupun berkata pada diriku sendiri.

Baiklah, aku menyerah. Anak SHOTA ini terlalu kuat.

Akupun menjadi diam tak bergerak, sekarang aku menyadari, wajahku dengan wajah Len hanya terpaut beberapa mm. Ini saja, aku dapat merasakan nafasnya tepat diwajahku.

Aku memandang Len yang masih tidur. Wajahnya sangat dekat denganku, jika aku bergerak sedikit saja kearah Len, maka bibir kami dapat bersentuhan.

Bibirku dapat bersentuhan dengan bibir Len dan aku dapat meras—

Tidak! BAD RIN!

Bentakku pada diri sendiri.

KENAPA AKU BISA BERPIKIRAN SEMULUK ITU!

Tiba-tiba aku merasakan ada yang menarikku.

"Ua.." Seru saat aku merasakan badanku ditarik kearah depan. Kearah Len.

Akupun memandang wajah Len lagi. Dan ia masih tidur..?

Oke, lalu bagaimana ia bisa memelukku? Tanpa sadar? Hell, yeah.., like that will happen.(Ou…, Rinrin! STOP SAYING DIRTY WORDS! )XC)

Seketika aku merasakan udara yang hangat didepan mulutku. Aku tau dari mana udara itu datang.

Len.

Itu nafas Len yang masih tidur.

Sesaat wajahku memerah begitu mengetahui kalo bibir kami hampir bersentuhan. Bukan.., sebenarnya ini sudah kena sedikit.

Ukkhh!

SIAALL!

Kenapa harus seperti ini?

Pikirku secara sadis sembari mencoba menjauhkan diriku dari Len yang terus saja memelukku dengan erat sampai-sampai melepaskan diri saja susah sekali.

Len yang masih tidur, masih saja memelukku dengan erat dan sialnya lagi, wajahnya tepat didepan wajahku, ah… berapa kali aku mengatakan ini?

Dan juga…, bibir kami sedikit lagi, jika ia menarikku sekali lagi, kami bisa saja berciuman.

Aku harus menjauhkan diriku dari Len. SEKARANG!

Pikirku lagi.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri dari pelukan Len yang sangat erat ini.

"Mmmm.." Len menggeram dan memelukku lebih erat.

DAMN!

Anak SHOTA ini memang lebih kuat dariku.

Akhir kata kawan.., aku menyerah.

Aku capek berusaha terus. Terserahlah nanti anak SHOTA ini tanpa sengaja menciumku atau tidak. Kalopun iya nanti dia akan terima akibatnya.

Akupun menghela nafas dengan panjang, sampai aku merasakan sesuatu menempel dibibirku.

Jangan bilang…

Akh!

Kenapa aku harus berciuman dengan anak ini seperti ini PULA?

Aku dan Len berciuman secara tak sengaja, yah.., itu menurutku.DAN AKU HARAP ITU ADALAH KETIDAK SENGAJAAN.

Bibir Len memang manis dan ha—

HELL!

Apa yang kupikirkan dan bilang barusan!

BAD RIN! BAD!

"Pagi, Rinirin~" Kata Len saat bibir kami berpisah. Wajahnya polos tapi tetap saja ia menyingrai.

Ini SENGAJA…

S.I.A.L!


Day : 2 (Part 1)

Title : Beach Time! Are you, okay?

Event : Yippie! Sun bath, Swimming and Beach is waitin` US! XDD Let's Enjoy! And?


Len's POV

"Woah.., kenapa wajahmu?" Tanya Ted saat kami sedang berjalan di restoran hotel, mengambil sarapan.

"Tidak apa-apa…" Jawabku ringan. Tapi ouch.. ini memang sakit. Pipiku sakit sekali.

Kau bertanya kenapa?

Rinrin~

Oh?

Itu yang bisa kau katakan?

Pipiku sakit disini! Ditampar oleh Rin tadi saat bangun tidur.

.

.

..

..

.

.

….

.

.

.

.

.

.

Oke, itu memang salahku! Lalu?

Hanya saja, Rinrin imut sekali untuk dikerjai~

Dia manissss!

Sebentar? Apa tadi aku seperti anak perempuan? Eww…

(Ngapa lu eww aeww, =="")

"Kau yakin?" Pertanyaan Ted itu menyadarkanku dari lamunku.

Aku menatap Ted.

"Ya, dan jangan bersikap seperti ibuku." Kataku.

Ted tertawa, "Siapa yang mau jadi ibumu SHOTA?"

"Berhenti memanggilku SHOTA!" Balasku sebelum duduk dimeja yang dimana sudah ada Rin dan Teto yang sudah makan duluan.

Dan saat aku akan duduk aku mendengar seseorang tertawa. ATAU MENERTAWAKAN AKU..

Dengan cepat aku melirik asal suara itu dan itu berasal dari.. Rin?

Oh, bagus sekarang aku ditertawakan oleh gadis yang kukejar-kejar.

Apa?

Tanpa memperdulikan tawa Rin yang mengejekku itu, aku duduk dengan tenang dan menyantap sarapanku.

"Len, Ted! Kita akan pergi kepantai hari ini!" Seru Teto secara tiba-tiba. Akupun menatap Teto.

"Hah?"

"Jangan kau berani meng – 'Hah?' ku!" Sahut Teto dengan sedikit memberikan glare .

"Oh, baik…" Aku menelan ludah.

Teto sama seramnya dengan Rin.

Pikirku sambil sedikit meringis kearah Teto yang masih men death glare aku.

Kemudian Teto memalingkan wajahnya yang seram dan berkata,

"Hari ini kita kepantai! Jadi siapkan barang-barang kalian!"

Eh? Pantai?

Rin's POV

"Ayo Rin!" Seru Teto yang sudah bermain di pinggir pantai dengan senangnya.

Aku yang berdiri di bawah payung pantai, hanya bisa tersenyum dan memegang jaket yang kupakai untuk menutupi tubuhku erat-erat.

Menutupi tubuhku yang memakai baju renang.

Apa?

Hah? Kau bertanya kenapa aku menutupi tubuhku dengan jaket?

Eer.. emm.. kau pasti tau kan kalo aku… flat?

Nah, itu alasannya aku memegang jaketku erat-erat supaya tak ada yang bisa melihat badanku.

Kadang aku iri dengan Teto..

Ia cantik, badannya seperti kebanyakan orang diusia kami..

Sigh…

"Kamine Rin! Lepaskan jaketmu itu dan bakar kulitmu disini untuk bermain bersamaku!" Seruan Teto membuyarkanku dari lamunanku.

Teto berjalan kearahku dengan badan yang masih basah.

Akupun memasang puppy eyes.

"Tapi Teto~" Keluhku seperti anak kecil. "Aku tidak ingin.."

Teto berhenti selangkah didepanku.

"Ayolah Rinny~ , tadi pagi kau bilang kau mau bermain dipantai bersamaku." Katanya sembari meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Ya, aku memang ingin Teto..

Tapi..

"Iya, tapi.."

"Tapi?" Teto mengangkat alis, menatapku dengan heran.

"…."

"….?"

"Hei, Teto! Rin!" Seru sebuah suara dari belakang kami. Aku memutar kepalaku dan mendapati Len dan Ted berjalan ke arahku dan Teto sembari membawa 4 buah es krim.

"Ini.." Kata Ted sembari memberikan es krim vanilla kepada Teto. Teto menerima es krim itu sambil tersenyum.

Len yang berjalan di belakang Ted mulai berjalan kearahku.

"Ini, hime-saaan~" Kata Len sembari mengacungkan sebuah es krim cone dengan rasa jeruk. YAY! JERUK! XD

Akupun mengambil es krim itu dari tangan Len dan langsung menjilatnya.

OHHHH~ Jeruuk~ Aku cintaaaa kauu!

"Jadi kau tak cinta aku Rinrin?" Tanya Len tiba-tiba. Opps.. keliatannya aku meneriakan pikiranku yah?

Wajahku memerah seketika.

"Kenapa aku harus mencintai PLAYER seperti kau!" Balasku, memalingkan wajah dari Len.

Oke, aku bohong, AKU CINTA KAU SHOTA!

DAMN!

"Ouch.. itu sakit~" Sahut Len.

"Hmph."

"Ouu~ Rinny mukanya meraahh~" Kata Teto tiba-tiba sambil tertawa kecil.

Dengan cepat aku menatap Teto dengan pandangan Shut Up or DIE!.

Dan itu cukup untuk menutup mulut Teto.

Len's POV

Aku sekarang duduk dibawah payung pantai kami sambil menatap ke arah Teto, Ted dan Rin yang sedang bermain dipinggir pantai.

Hah?

Aku malas saja ikut bermain disana.

.

.

..

.

.

.

..

.

Baik, aku tak bisa berenang! Puas?

Oke, kembali ke keadaan.

Aku masih menatap Ted,Teto dan Rin yang bermain dipinggir pantai.

Mereka saling melempar air ke satu sama lain. Tapi, mataku hanya tertuju kepada Rin..

Kaki yang halus,

Kulit yang putih…,

Dan dada Rin ya—

Seketika aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

Tidak! Dan Tidak ! Len!

Kau tak boleh berpikir seperti itu terhadap Rin!

Bentakku pada diriku sendiri.

Ya, aku suka dengan Rin. Ya, aku cinta dengan Rin. Masalah?

Tidak?

Bagus!

Tapi, apa Rin suka padaku?

Sekarang kalo dipikir, sejak aku menggangunya atau saat ia mulai jadi targetku.., ia selalu kejam padaku, menolakku, - yang merupakan player yang paling keren didunia ini - , tapi kadang ia baik padaku, seperti saat ia di apartemenku, kadang ia juga sangat manis dan sangat menyenangkan untuk dikerjai..

Dan juga saat aku menciumnya, ia tak pernah berusaha melepaskan atau memberontak. Oh, tunggu… Rin pernah beberapa kali memberontak saat kucium.

Tapi akhir-akhir ini, ia tak memberontak lagi, kurasa?

Kalo dipikir-pik—

"Len?" Sebuah suara membuyarkan semua lamunanku.

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Rin membungkukkan badannya ke arahku, tangan dilutut.

Dan seketika aku menyadari, da—

Sh**!

Tiba-tiba aku merasa pusing.

Hal terakhir yang kuingat adalah suara Rin yang berkata, "LEN!" dan semua jadi gelap.


Perlahan aku membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit berwarna putih.

Apa yang terjadi?

Pikirku selagi memutar otakku untuk mengingat apa saja yang terjadi.

"Ah! Kau sudah bangun?"

Aku memutar kepalaku ke arah suara itu dan mendapati Rin berjalan sambil membawa sebuah baskom.

"Baguslah." Kata Rin sebelum duduk dipinggir kasur.

Akupun mengambil posisi duduk dan mengamati sekitar.

Kamar hotel.

"Err? World to SHOTA?" Seru Rin yang membuatku sadar dan langsung menatap Rin.

"Ya?" Kataku pada Rin.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Rin kepadaku dengan tatapan yang khawatir.

Whoa, apa mataku tak salah lihat?

Rin? Khawatir?

Oh, Tuhan…

Seketika aku merasakan wajahku memerah. Untuk menjawab pertanyaan Rin aku mengangguk.

"Bagus. Kau tau? Tadi kau hampir saja membuatku khawatir saat kau tiba-tiba mimisan.." Ucap Rin.

Ha?

Aku mimisan?

Oh, pasti karena melihat da-

Ack! Berhentii!

Bisa-bisa aku mimisan lagi kalo begini terus!

Pikirku.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di hidungku. "Aow!" Seruku karena kaget.

"Diamlah shota, ini supaya darahmu berhenti." Kata Rin sambil terus memegang kantong es yang baru saja kusadari keberadaannya sekarang.

Akupun diam tak bergerak, hanya memandang Rin. Dan aku jadi teringat sesuatu.

"Rin?"

"Hmm?"

"Kenapa kau, selalu memanggilku Len bukan Kagamine?"

Dan kemudian hening…

Aku tau ini pertanyaan bodoh, tapi hei, selama ini, seingatku Rin tak pernah memanggilku dengan nama keluarga, selalu dengan nama depanku.

Dan, sekarang kalo dipikir-pikir, kenapa dari pertama aku tak pernah memanggil Rin dengan Kamine?

Kenapa rasanya begitu biasa dan tidak aneh saat kami memanggil nama depan kami bukan nama keluarga kami, padahal kami belum terlalu mengenal satu sama lain lebih dari 1 tahun?

Kenapa rasanya kami sangat dekat? Seperti sahabat?

Sahabat?

Itu mengingatkanku tentang apa yang dikatakan Ted kemarin…,

"Tentu saja SHOTA~, mereka'kan teman SDmu juga bodoh! Rin juga sahabatmu daridulu kan?"

Aku akan melupakan bagian Shota, tapi sekarang yang membuatku penasaran adalah bagian terakhir kata-katanya.

"Kenapa kau bertanya?" Kata Rin tiba-tiba sembari menyingkirkan kantong es yang tadinya ia pegang di hidungku.

"Karena aku ingin tau saja?" Jawabku.

"Kalo begitu tak usah tau saja." Sahut Rin.

"Kenapa aku tak boleh tau?"

"Karena itu tak penting."

"Bagaimana itu bisa tak penting?"

"Bagaimana itu bisa penting?"

"Rin, aku yang bertanya disini dan kau yang menjawab."

"Len, kenapa kau ingin sekali tau?"

"Hanya penasaran saja."

"Kalo begitu jangan penasaran."

"Kenapa?"

"Karena.." Kata-kata Rin terputus. Rin menundukan kepalanya.

Karena?

Apa Rin?

Rin mengangkat kepalanya. "Itu tak penting."

Dan kemudian ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Aku hanya dapat memandang Rin dari atas kasur.

Kemudian aku mendengar isak tangis diikuti dengan "Bodoh!"

Dan dengan itu aku berjalan ke kamar mandi.

Rin's POV

Menatap diriku dikaca, akupun menghela nafas. Kedua tanganku mencengkram pinggir wastafel.

Pikiranku melayang ke pertanyaaan Len barusan, sebelum aku meninggalkannya.

"Kenapa?"

"Karena.."

Akupun memejamkan mataku.

"Karena.."

Kita sahabat..

Tapi kau tak ingat..

"Kau tak ingat Len, kau tak ingat. " Bisikku pada diriku sendiri.

Perlahan aku membuka mataku dan menatap diriku di cermin.

"Semua.. berubah'kan?" Kataku pada diri sendiri.

Aku tersenyum tipis pada refleksiku di cermin.

Semua berubah, Ia tak akan ingat padaku. Temannya. Sahabatnya.

Ia pasti akan menemukan gadis yang lebih baik dariku.

Gadis yang tak akan mencelakannya.

"Kenapa…"

Gadis yang akan selalu menyayanginya.

"BODOH!"

Gadis yang akan selalu disisinya..

Gadis ya—

"Rin?"

Seketika aku memutar kepalaku ke arah pintu kamar mandi dan mendapati Len berdiri disana.

"Rin?" Seru Len lagi selagi berjalan ke arahku.

Tolong.., jangan kesini..

Aku mohon.., aku bisa jatuh sekarang juga kalo kau berjalan kesini..

"Apa?" Tanyaku pada Len yang sudah berdiri beberapa langkah dariku.

"Kau kenapa?"

"Aku kenapa?"

"Kenapa.." Perlahan tangan Len menyentuh pipiku. Tangan yang besar dan hangat. Tangan Len mengusap-usap pipiku.

"Kau menangis?"

Akupun menatap Len dengan heran.

"Apa maksudmu? Aku ti-"

"Ya, kau menangis Rin!" Potong Len.

Kedua tangannya menyentuh pipiku dan mengusapnya.

"Aku tidak.." Aku berbohong.

Aku dapat merasakan air mataku mengalir dengan deras sekarang. Menuruni pipiku, tapi berhenti ditangan Len.

Perlahan aku menatap Len. Len juga menatapku. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran.

"Rin…" Ucap Len dengan pelan dan halus.

Len memegang wajahku dan membuatku menatapnya dimata.

"Apa kau menyukaiku?" Tanya Len padaku.

Aku dapat merasakan jantungku berhenti berdebar dan nafasku tercekat saat itu juga.

Ya, aku menyukaimu..

Tapi…, ini tidak benar.. jadi.. maafkan aku..

"Tidak.." Jawabku, mengalihkan pandanganku dari mata Len. Tapi, Len dengan sikap membuatku memandang matanya lagi.

"Jujur.." Kata Len lagi dengan nada suara dan wajah yang lebih serius.

"Aku tidak menyuka-" Kata-kataku terpotong oleh Len yang mendorongku ke tembok dan juga menggengam kedua pergelanggan tanganku dengan erat.

"Rin.."

Aku menatap Len yang berada di depanku, hanya berjarak kurang dari 1 cm. Wajah Len sangat serius.

Aku dapat merasakan nafas Len yang hangat di wajahku.

"A…. ak… aku.."

"Cium aku."

Mataku melebar saat itu juga.

"Ha?"

"Cium aku…, aku ingin tau kebenaran.. darimu"

Kebenaran?

"A..ku.."

Kata- kata yang ingin kuucapkan terputus dan terpatah-patah.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu berada disampin telingaku. Membuatku merasa geli dan risih.

"Aku cinta denganmu.., apakah kau merasakan hal yang sama?" Itulah yang kudengar dari mulut Len yang berada disamping telingaku.

"A…ku.."

Saat aku akan menjawab lagi, leherku serasa dijilat.

"A..ha…aha.. Le—n..aaah!" Geramku, sementara Len terus menjilat leherku dan menggigitnya di beberapa tempat.

"Apa kau mencintaiku Rin?" Tanya Len lagi sembari terus menjilat leherku.

"Aku.. ti.." Dan Len menggigit leherku lagi. "Ahh!"

"Tolong jujur.." Kata Len sebelum menjilat leherku lagi.

Len menjilat leherku dari kanan kemudian ketengah.

"Ah…Le..Len…" Akupun memejamkan mataku. Tak bisa menahan sensi yang mengalir didalam tubuhku.

"Rin.."

Len kemudian menjilat bagian kiri leherku.

"Cium aku.. Rin.." Kata Len tepat ditelinga kiriku.

Perlahan aku membuka mataku dan menatap Len yang sudah tak menjilat leherku lagi.

"Cium aku Rin.."

Jantungku berdebar kencang..

Perlahan aku mencondongkan tubuhku ke arah Len, untuk menciumnya.

Aku tak tau.. kenapa aku menolak Len. Kenapa aku sekarang mencondongkan tubuhku ke arahnya.

Kenapa…

Kenapa…..

Kenapa?

Baru saja bibirku bertemu dengan bibir Len, aku mendengar suara barang yang jatuh. Mataku dengan cepat melebar.

Akupun mencoba melihat siapa atau apa yang menjatuhkan barang. Dan aku melihat Teto.

"Oopps.." Kata Teto sambil mengambil langkah mundur.

"Maaf telah menggangu kalian.." Dan Tetopun pergi.

Aku hanya bisa mematung.

Kemudian aku menyadari sesuatu. Len memintaku untuk menciumnya, tapi karena aku tak ingin, ia mulai menjilat leherku dan bilang ia cinta padaku, lalu akhirnya aku menyerah dan aku…, dengan cepat aku menyadari apa hampir saja kulakukan. Sekarang aku sadar kalo Len masih berada didepanku, dan masih memegang erat kedua pergelangan tanganku.

..

Oh, DAMN!


In-Chan : Bwahahah~ Finiiishh! XDD maaf update yang lama minna.. saia kena author block..

Len : Nih, cerita kagak selesai-selesai! Kapan selesai nih?

In-Chan : Ahh! DIEM!

Rin : ….? Emm..?

In-Chan : ?

Len : Parah.

In-Chan : DIEEM!

Rin : R..&R… please..

In-Chan : ? Rinrin?

Len : Bagus.. sekarang dia blank lagi..R&R please~

In-Chan : R&R please! DAN CERITA INI AKAN TERUS BERLANJUT! XD