R&R reply~
Ruuya : Eh? OKAY! XD
Miracle : Kelihatannya? :3 mungkiiinn~ ;D berubah? Hokei! XD
Hikari-chan : *cough*tw*cough*in*cough*cest~ XD YOSH! UPDATE! XD
Rii-kun senpai : (Yay! Login! X33) alhamdulillah~ *plaak* :D Yak! TedTeto! X3 yes.. memang.. OKE! X33
AkaiChouNoKoe : YOSH! UPDATE! XD
..?(gak ada namanya) : Lol~
Kurara-san : wehehe.. rencananya mulus banget~ *plaak* YOSH! UPDATE! XD
Amu-senpai : Okey! Weh.., saia gak jamin itu OwwwO"
Cozartcz : Hehehe.. makasih! C: YOSH! UPDATE! XD
- Thanks for all the supports -
In-Chan : Bwahahahahah~ hehey! XD
Rin : Chapter terakhirkah ini?
Len: YES!
In-Chan : =="" *jitak Len* siapa bilang?
Rin : Lha kemaren?
In-Chan : saia kan bilangnya "Kalian akan segera melihat epilog cerita ini", bukan "chapter berikutnya cerita ini akan tamat" ya'kan?
Rin&Len : *nod*
In-Chan : Good! Nah, DISCLAIMER!
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Len's POV
"Ou~ lihat siapa yang sudah berbaikaaan~.. " Seru Teto saat aku dan Rin berjalan bersama, berpegangan tangan, saat kamu keluar dari onsen dan menuju ke kamar. Aku hanya bisa tersenyum puas, sekarang aku dan Rin sudah berbaikan, dan aku senang!
Rin juga kelihatannya senang, sedari tadi ia tertawa dan tersenyum terus. Tapi.., wajahnya juga menunjukkan sedikit rasa.. sedih?
Mungkin itu perasaanku saja.
"Mm.. ya.. kami berbaikan." Ujar Rin pada Teto dan Ted.
"Dan kelihatannya ini bagian rencana kalian?" Tambahku sembari menatap Teto dan Ted yang bergandengan tangan.
Ted dan Teto menatap satu sama lain dan kemudian berkata, "Berhasil, bukan?" secara bersamaan.
Aku tersenyum lagi dan menatap Rin yang menatapku balik dengan tersenyum.
"Ya, ini berhasil.." Kataku. Kemudian aku mencium dahi Rin.
Rin's POV
Katakan yang sebenarnya atau tidak.. Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan yang sebenarnya atau tidak.. Katakan yang sebenarnya atau tidak.. Katakan yang sebenarnya atau tidak.. Katakan yang sebenarnya atau tidak.. Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan yang sebenarnya atau tidak..
Katakan y—AKRGH!
Aku harus berhenti! SEKARANG!
Kepalaku mulai pusing. Ah? Aku sedang berpikir kawan!
Tentang apa? Uh.. apa aku harus mengatakannya? Baik, aku sedang berpikir, apakah aku harus memberitahu Len tentang masa lalunya yang ada aku?
Aku ingin memberitahunya, tapi aku takut ia pingsan. Ah.. aku jadi ingat saat ia meminum obat di rumahnya...
Aku harap ia tak perlu meminum obat-obat seperti itu lagi.
"Rin?"
Seketika aku tersentak dari pikiranku yang kacau balau saat mendengar suara Len.
Dengan cepat aku memutar kepalaku ke arah Len.
"Ya?"
Perlahan Len naik ke atas kasur dan menghampiriku yang duduk di atas kasur, tepatnya bagian tengah kasur.
"Kau tak apa?" Tanya Len padaku saat ia sudah berada di sampingku.
"Aku baik-baik saja.." Jawabku pada Len sembari tersenyum. "Dan aku yakin Len.." Lanjutku sebelum Len sempat membuka mulutnya untuk bertanya apakah aku yakin atau tidak. Dia mudah ditebak. Seingatku.. tapi kalo sudah bagian dari jiwa playboy nya, aku tak dapat menebak dia.
Akupun menjatuhkan diriku ke belakang dan menghela nafas.
"Kenapa?" Tanya Len tiba-tiba.
Aku membuka mataku dan menatapnya. "Tak ada apa-apa.."
Lalu Len mengecup dahiku. Mukaku terasa panas seketika.
"Wha..?"
"Kalo punya masalah katakan saja Rin." Kata Len padaku. Menatap Len lagi, rasanya.. aku ingin menangis.. tak tau kenapa.
"R-rin?"
Aku ingin menangis..
Aku.. aku...
"Kau menangis?"
Aku tersentak. Aku.. menangis.. lagi..
Tanpa menjawab Len, dengan perlahan aku bangun. Lalu menatap Len yang duduk disebelahku sedari tadi.
Lalu aku mengusap air mataku. "Mm..ya.. aku menangis... lagi." Kataku lirih.
Tiba-tiba saja Len maju dan mendekapku. "L-len?" Ucapku saat itu juga.
"Aku ingin tau apa masalahmu?" Bisik Len padaku. "Bolehkah?" Lanjutnya sebelum ia menarik dirinya dari mendekapku dan menatapku tepat di mata.
Akupun menatap Len juga, lalu menarik nafas.
"Apakah kau ingat sesuatu saat kau kecil?" Tanyaku pada Len. Len menatapku dengan bingung.
"Aku ingat semuanya." Jawab Len dengan nada yang girang. Seketika aku merasa, kalo Len mungkin sudah ingat tentangku, tapi mungkin ini hanya perasaanku saja.
"Semuanya?"
"Ya, tapi ada 1 yang tak bisa ku ingat selama ini.. satu.. dan kurasa itu penting.." Balas Len. Harapanku mulai melambung. Aku ingin sekali Len ingat padaku. Pada masa kecil kami. Semuanya. "Atau tidak?" Lanjutnya.
".."
Tapi, jika ia tidak ingat.., aku tak tau..
"Rin?"
"Ya?"
Lalu ia diam. Sudah kuduga. Ia tak mungkin ingat, kenapa aku berharap? Bodoh sekali.., aku bodoh.
Kenapa aku naif sekali? Kenapa aku harus berharap?
Kemudian realita menyadarkanku sedikit. Tapi kalo dia ingat, dia pasti membenciku'kan? Maksudku, aku yang membuatnya kecelakan. Aku...
"Rin.."
Lagi-lagi, aku menatap Len yang memanggilku. "Ya?" Balasku dengan tenang.
Aku harap aku tak menangis diluar kesadaranku lagi...
"Kau tau?" Kata Len sembari mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Apa?" Tanyaku sembari tetap duduk dengan tenang, tanpa bergeser sedikitpun.
"Aku mengingat sesuatu.." Kata Len. Wajah kami sangat dekat, aku bahkan bisa merasakan nafasnya di mulutku.
"Dan apa itu?"
"Kau.."
"Wha-" Sebelum aku bisa bertanya maksud Len, ia menciumku lagi dan kami berdua jatuh ke kasur.
"Apa maksudmu Len?" Tanyaku saat Len melepaskan ciuman kami.
Bukannya dia menjawab, ia malah membuka sedikit baju kemeja yang kugunakan untuk tidur, dan mulai mencium leherku.
"Ah—Le—n...anhn.." Geramku. Dan aku dapat mendengar Len tertawa kecil. Lama tak mendengar itu.
"Aku ingat Rin.." Bisik Len sembari terus menjilat leherku.
"Ah- mak—sud—ah—mu?" Tanyaku dengn nafas yang terengah-engah.
Perlahan Len mulai menggigit leherku sembari menjilatnya. Aku benci kalo dia melakukan ini, tapi entah mengapa, aku menyukainya juga..
"Aku ingat Rin.. sebagai temanku, sahabatku, kawanku, belahan diriku.."
Seketika mataku melebar saat aku mendengar kata-kata terakhir Len.
Itu'kan..
"Ah...—Le—n.." Dan kemudian Len berhenti menjilat leherku.
Akupun membuka mataku untuk melihat Len, dan aku mendapatinya di atasku, menatapku dengan lembut.
"Len..?"
"Maaf.." Kata Len tiba-tiba. Aku bingung.
"Hah?"
"Maaf.. maafkan aku Rin.. aku.."
Ah..., aku benci kalo dia sudah begini. Dari kecil sama saja.
Dengan cepat, aku menarik Len ke arah ku dan memeluknya.
"Rin?"
"Permintaan maaf diterima.."
Day : 4
Title : Love will repair anythings.
Event : I remember, you remember too, right?
Len's POV
Badanku terasa hangat. Dan ini karena ada yang memelukku dari semalam. Yap, Rin.
Perlahan aku membuka mataku, dan apa yang pertama kali kulihat adalah Rin yang tidur sembari memelukku.
Rin memang seperti malaikat kecil kalo sedang tidur. Wajahnya terlihat begitu tenang. Dan aku menyukai itu. Ukuran badannya entah mengapa pas sekali denganku.
Akupun menutup mataku lagi dan meletakkan daguku diatas kepala Rin, mencoba mencium rambutnya dan seperti dugaanku, jeruk.
Rambutnya beraroma jeruk, seperti biasanya.
Seperti saat kami kecil.., tidur bersama-sama.. selalu.
Ah? Apa aku lupa memberitahu lagi?
Baik, akan kuberitahu. Setelah Teto memberi tau semuanya kepadaku, seperti yang aku minta, tiba-tiba saja kepalaku jadi sakit dan kata mereka aku sempat tak sadar sekitar 20 menitan, dan anehnya setelah itu, aku jadi ingat semuanya dan ya.., aku ingat Rin lagi.
Sepertinya aku juga belum bilang pada Rin.. kalo dia bangun akan kuberitahu dia.
Tiba-tiba aku merasakan Rin bergerak-gerak dalam pelukanku.
"Mmm.."
"Bangun hime-samaa~" Seruku pada Rin yang menggeliat-geliat terus.
Perlahan Rin membuka matanya dan saat matanya menatapku ia tersenyum.
"Pagi Shota." Seru Rin padaku. Kenapa dia hobi sekali memanggilku itu? Oh, iya.. saat dulu sekolah.. ah.. lupakan.
Aku memasang muka sebal. Rinpun menatapku dengan aneh.
"...?"
"Apa Rinny?"
"Uh... Tak apa..?" Balas Rin yang kemudian menciumku dibibir.
"Kau sedang senang?"
Rinpun mengangguk. "Ya.."
"Kenapa?"
"Karena.. sahabatku sudah kembali."
Aku tersenyum kepada Rin yang tersenyum kepadaku juga dalam pelukanku.
"Senang untuk kembali.."
"Ya.."
"TUNGGU!" Teriak Rin sembari meloncat dari pelukanku dan duduk dengan wajah yang kaget.
"Ada apa R-"
"Tunggu dulu! Tunggu! Kau ingat?" Tanya Rin padaku. Aku memberinya tampang 'ya?'
"Ya?"
"Kau ingat aku? Yang dulu?"
"Ya, aku ingat.."
Tanpa peringatan Rin meloncat ke arahku dan memelukku.
Aku tersentak. "Rin?"
"Aku bahagia!" Seru Rin ditelingaku. Dan dengan itu aku memeluknya dengan erat.
Author's POV
Bwahahahah~ misssion complete!
Batin saia dalem hati sembari ngeliatin si anak dua gaje itu peluk-pelukan di momen gaje ini dari langit-langit kamar mereka.
"Ok.. epilog time.."
In-Chan : Eheheehe.. kekeekkee.. *smirk*
Len : Selesaikah?
Rin : ?
In-Chan : R&R! :D
Len&Rin : ?
