Chapter 2: The Ending
Disclaimer: Semua chara di sini punyanya om Jonathan Stroud
~~~ 3 tahun kemudian ~~~
Nathaniel duduk dengan gugup sambil sekali-kali menengok keluar jendela memandangi kegelapan malam pinggir sungai Thames. Ia berkali-kali menunduk mengelap keringatnya dan memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tak jarang ia bergumam sendiri "masih ada waktu, belum saatnya" lalu ia akan tenang sebentar. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali mengulangi kegugupannya lagi.
"Astaga Nat, apa-apaan kau ini? Lagakmu benar-benar seperti orang yang akan menunggu hukuman mati saja" komentar Bartimaeus ketika untuk yang ke 10 kalinya Nathaniel menengok keluar dan bergumam gelisah. "Diamlah! Lakukan saja tugasmu mengawasi sekitar agar tak ada yang mengganggu. Beberapa menit lagi Kitty akan tiba" bentak Nathaniel galak. "Oooh… galak benar kau kalau menyangkut masalah ini. Tenang saja bos, kan kau sudah menyewa restoran ini tadi. Lagipula malam gelap begini, tidak ada yang mau keluar rumah" jawab Bartimaeus sambil memainkan jari-jarinya (ia sedang berwujud imp sekarang) "Baguslan, pokoknya ingat ya, kalau Kitty tiba kau tidak boleh masuk dan mengganggu kami. Kalau kau lakukan tugasmu dengan baik, kau akan segera kubebaskan" perintah Nathaniel "iya iya, kau sudah mengatakannya berpuluh-puluh kali sejak kemarin"
Beberapa menit kemudian, Kitty membuka pintu restoran itu dan melangkahkan kaki menuju meja yang ditempati Nathaniel. Nathaniel sampai hampir tak berkedip melihat gaun merah muda yang dipakai Kitty dan tatanan rambutnya. "wow Kitty, anggun benar kau malam ini. Kau cantik sekali" puji Nathaniel saat Kitty duduk di hadapannya, membuat pipi gadis itu bersemu "dasar gombal" rutuk Kitty tapi dengan muka berseri "sudahlah katakan saja, ada perlu apa kau mengundangku kesini? Tumben amat, mengajak kencan hari Rabu" mendengar pertanyan Kitty yang to the point, Nathaninel tiba-tiba menjadi gugup. Pemuda itu bergerak-gerak gelisah di bangkunya sebelum beberapa menit kemudian akhirnya berdehem sebelum mulai bicara "jadi begini" ia memulai dan menggenggam tangan Kitty "jadi Kitty, emmmm… kita sudah kenal lama, walaupun dulu kuakui aku sangat menyebalkan dan ehm… membencimu karena kau lebih baik dari pada aku" muka Nathaniel sedikit memerah malu "Tapi lupakan saja, itu kan sudah masa lalu. Intinya…" tangan Nathaniel mengambil sebuah kotak beludru kecil dan mengulurkannya dekat Kitty. Dengan dramatis, Nathaniel membukanya. Isinya sebuah cincin berlian yang berkilauan "astaga, cantiknya" desah Kitty kagum "tapi, apa maksudnya ini?" tanyanya bingung. Nathaniel berdehem lagi "Jadi Kitty, maukah kau menerima cincin ini? Maksudku, maukah kau menjadi istriku dan ibu bagi anak-anakku kelak?" tanyanya akhirnya. Pipi Kitty langsung memerah seperti kepiting rebus mendengarnya "aku…aku…. Aku mau jadi istrimu" jawab Kitty malu-malu. Nathaniel tersenyum lebar dan memasangkan cincin indah itu de jari Kitty. Tiba-tiba…
"DHUARRRR!" sebuah kembang api warna warni meledak tepat di luar jendela di sebelah pasangan bahagia itu. "apa..apa yang?" Kitty sampai tak bisa berkata-kata saking kagetnya "Hei Hei Hei…. Kalian berdua, kalian benar-benar romantis. Hahaha" sebuah suara terdengar dari arah sungai Thames. "Astaga, Bartimaeus!" seru Nathaniel pelan "kau aneh –aneh saja. Mengganggu, menyebalkan" omelnya, sementara itu di langit terlihat pertunjukan kembang api yang spektakuler "indah ya kembang apinya" komentar Kitty sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Nathaniel yang kemudian merangkulnya "tapi terima kasih Bartimaeus" sambungnya. "Hehehe aku dengar bagian terakhir itu Nat.." terdengar lagi suara Bartimaeus bernada riang.
Setengah tahun kemudian, Nathaniel dan Kitty akhirnya melangsungkan pesta pernikahan yang mewah di restoran paling megah di London. Hampir semua orang yang hadir mengakui kalau pesta kebun itu adalah pesta paling unik namun asyik yang pernah ada. Sementara itu, komentar sang perancang pesta mendengar pujian-pujian itu adalah "Dasar manusia, sukanya meributkan hal-hal sepele saja. Benar-benar makhluk yang membosankan"
"Terima kasih Bartimaeus, kau telah menjadi pelayan yang baik. Sekarang aku benar-benar akan melepaskanmu untuk selamanya" ucap Nathaniel sore itu dari dalam pentaclenya "Well, kurasa aku pernah mendengar janji serupa dari seorang anak 14 tahun. Tapi kapan ya? Yang jelas janji itu dilanggar dan kurasa aku tidak akan percaya janji serupa. Apalagi yang diucapkan oleh orang yang sama" komentar Bartimaeus menjengkelkan sembari memasang pose berpikir, membuat Nathaniel menggeram sebal "Waktu itu aku benar-benar membutuhkanmu. Dan kurasa, kalau aku sedang benar-benar butuh jin yang bisa kupercaya, aku mungkin akan memanggilmu lagi. Tapi, kuharap tidak akan pernah, aku tetap berharap aku akan mendapat jin yang lebih sopan. Terutama kalau aku sudah punya anak nanti, bisa-bisa kau mengajari yang tidak-tidak pada mereka. Nah, kau sudah siap?" Bartimaeus mengangguk dan Nathaniel mulai membacakan manteranya "Selamat tinggal Nat" ucap Bartimaeus saat ia mulai menghilang perlahan "selamat tinggal"
