Akhirnya berhasil juga bikin chapter pertama! Untuk para review-ers, arigatou! Oke, tanpa basa-basi terlalu banyak, selamat menikmati chapter kedua 6 Miracles in School!
Balasan Review:
MiyazawaAkane: Sip, udah dilanjutin :D Ceritanya nonton yang season 1, tapi berhubung udah baca manga dan lain-lain, jadi udah kenal Akashi deh :3
Fujoayachan: Ya, itu memang benar. Galau dan nge-fly di saat yang sama. Sip, udah dilanjutin, kalau kurang greget maaf ya :D
Ai haikawa: Aku juga suka GoMxReader!/shoot. Wahahaha, memang, itu juga tempat duduk saya kalau di sekolah, cuman teman sebangku saya nggak pindah. Sip, udah dilanjutin dan salam kenal juga :D
Disclaimer: I'm not own Kuroko no Basuke. Fujimaki Tadatoshi-sensei does.
Warning: OC Everywhere, OOC, typo tersebar, deskripsi kusam(?), Judul sama isi cerita kurang nyambung.
Summary: Kamu masih tidak percaya. Akashi dan Kuroko berada di kelasmu sebagai murid baru? Kiseki no Sedai mengetahui namamu? Dan kenapa tiba-tiba Midorima menanyakan zodiakmu? GomxReader! DLDR!
6 Miracles in School?!
Chapter 1: The Meeting
©Hikaru Tamano
.
.
.
.
-Flashback-
Kamu melihat kedua murid baru yang kau sangat ketahui namanya dan penampilannya itu. Si surai merah maju terlebih dahulu dan menyeringai kepadamu sebelum kembali ke tatapan datarnya lagi.
"Aku... Akashi Seijurou."
-Back to Present Time-
Akashi sempat diam sesaat sebelum berbicara lagi. "Aku dan teman-temanku yang lain pindah dari Kyoto karena urusan orang tua kami yang kebetulan sangat mendadak. Jadi sampai akhir tahun pelajaran nanti, yoroshiku." Akashi membungkukkan badannya sedikit, dan mundur. Sekarang giliran Kuroko.
"Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku." Sepatah kata untuk perkenalan hampir membuat teman-teman di kelasmu kecuali kamu sweatdrop sedikit. 'Singkat sekali' mungkin itu yang ada di pikiran mereka semua.
"Baiklah, ada pertanyaan untuk mereka berdua?" kata wali kelasmu. Hampir semua perempuan yang tunjuk tangan kecuali Kamu. Tentu, kamu sudah tahu hampir semua fakta-fakta tentang mereka. Tapi kamu putuskan untuk diam terlebih dahulu.
"Ikut klub apa di sekolahmu yang dulu?"
"Kok bisa bergerombol begitu pindah-pindahannya? Apa memang sudah rencana?"
"Untuk yang biru!(?) Kenapa kamu seperti hantu begitu?" –Pertanyaan ini sedikit membuatmu ingin tertawa. Semua pertanyaan dengan tenang dijawab oleh Akashi, kalau mereka mengikuti basket dan dia sebagai kaptennya (membuat hampir satu kelas tecengang dengan itu kecuali kamu tentu saja), kalau mereka memang kebetulan sama-sama pindah(yang sempat kamu curigai kebenarannya) dan Kuroko yang menjawab bahwa dari dulu dia memang seperti itu. Sudah hampir semua pertanyaan dijawab oleh Akashi dengan tenang, sampai..
"Nee nee! Tadi kulihat kamu sempat menatap –name—chan, ada apa itu? Apa kalian mempunyai hubungan khusus?" tanya Hori. Pertanyaan ini membuatmu dan satu kelas, termasuk Akashi dan Kuroko terkejut, meskipun mereka tidak terlihat dari wajah mereka berdua itu.
"H-Hori-chan !" katamu. Kamu menatap tajam Hori, tapi sepertinya dia tidak menghiraukanmu. Justru, dia menyengir dan membuat muka polos yang kamu tahu kalau itu hanya buat-buatannya saja.
Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar ke telingamu. Seperti, 'Masa sih? Apa mereka LDR-an?' , 'Aku tidak tahu kalau –name- bisa mempunyai pasangan, suka aja kayaknya gak mungkin' (dan saat kau mendengar ini kau langsung melempar penghapus ke sumber suara) 'Enaknya –name-! Dia itu kan cakep banget!' yang membuatmu semakin malu dengan pertanyaan yang diumbar Hori tadi.
Akashi hanya terdiam di tempatnya saat melihatmu tampak malu. Menyeringai sedikit, dia maju ke arah meja yang kau duduki, mengambil tanganmu dan mencium punggung belakang tanganmu itu.
Hening. Tampak sangat hening. Kamu masih belum sempat memproses apa yang Akashi lakukan terhadapmu sampai dia menatapmu kembali dengan mata heterochrome nya itu. Dan disusul oleh teriakan-teriakan perempuan yang ber-fangirling ria. Bahkan kamu sempat melihat ada yang pingsan karena mimisan besar-besaran yang membuatmu heran.
"Aku ini mempunyai.. Hubungan khusus dengan –name-. Bisa kau katakan seperti itu, Amamiya Hori." Jawab Akashi sambil mengeluarkan seringai andalannya itu. Hori sempat terkejut karena Akashi tahu nama lengkapnya. Tapi dia kembali seperti biasa dan tersenyum ke arahmu, seolah mengatakan 'kau-harus-berbagi-cerita-padaku-nanti' kepadamu. Kamu mereka ulang apa jawaban Akashi barusan.
"Aku ini mempunyai.. Hubungan khusus dengan –name-." Kata-kata itu terus berngiang-ngiang di kepalamu, memprosesnya bolak-balik, dan secara berulang-ulang.
'Hubungan? Tu-tunggu, hubungan?!' Mukamu sempat memanas setelah berhasil mencerna jawaban yang Akashi berikan. Kamu yakin mungkin mukamu sudah memerah daritadi sejak Akashi mencium tanganmu itu.
"Akashi-kun, kau terlalu membuat –name—san malu. Hentikan." Kuroko menghampirimu dan Akashi yang masih memegang tanganmu itu. Kuroko melepaskan genggaman Akashi dan memegang tanganmu.
'Ini kenapa jadi pada gantian pegang tanganku?!' teriak batinmu. Kuroko memperhatikan mukamu sebentar dan menatap Akashi kembali.
"Lagipula.. Siapa bilang hanya kamu saja yang mempunyai hubungan khusus dengan –name—san?" Kuroko melontarkan kata itu dengan mudah dan tatapan datarnya seolah-olah itu hal biasa.
"K-Kuroko-kun! Jangan mengatakan hal yang memalukan dengan muka sedatar itu!" katamu keras. Kuroko hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke kanan seolah dia tidak tahu apa-apa. Sedangkan teman-temanmu yang lain..
"Apa?! –name- mendua?!"
"Kenapa dia bisa beruntung begini?!"
"Mempunyai dua hubungan LDR, bisa jadi bahan cerita nih!" ..Tunggu, apa perkataan itu barusan.
"Sialan! Padahal kukira hanya aku saja yang menyukai –name-!" ...Eh?
Mukamu semakin memanas mendengar komentar-komentar yang dilontarkan oleh teman-teman kelasmu. Semuanya gaduh sampai Wali Kelasmu mengetukkan sesuatu di mejanya.
"Cukup apa yang kalian katakan barusan. Akashi-kun, kau duduk dengan –name-, dan Kuroko-kun, kau duduk di belakang Kinoya. Kinoya-san, tunjuk tanganmu agar Kuroko-kun tahu dimana kamu berada." Kinoya mengangkat tangannya dan Kuroko pun menghampiri meja di belakangnya itu. Sementara Akashi, duduk di kursi meja sebelahmu dan mengeluarkan buku pelajarannya. Kamu membetulkan kacamata mu lagi ke arah posisi dengan benar dan mengambil buku pelajaran. Kamu sedikit melirik ke arah Akashi dan kembali menatap ke arah papan tulis.
Semuanya tampak hening memperhatikan pelajaran bahasa yang disampaikan Wali kelasmu itu. Tidak semuanya memperhatikan kalau menurutmu. Kamu sempat melihat-lihat teman-teman kelasmu itu. Ada yang sibuk mencatat, menguap lebar-lebar, diam-diam mendengarkan musik, bahkan ada yang sudah tidur ditemani meja belajarnya sebagai bantal tidurnya. Kamu kembali menatap ke arah papan tulis. Memang, bahkan menurutmu pelajaran bahasa itu membosankan dan terkadang sulit dimengerti, tapi kamu tetap memperhatikan pelajaran.
Kamu memain-mainkan alat tulis yang sedang di genggamanmu, sampai kamu menerima sebuah kertas lipatan dari arah kiri. Kamu melirik, Akashi masih memperhatikan pelajaran, tapi tatapan matanya seolah-olah mengatakan padamu 'baca-dan-jawab-kertas-itu-sekarang'. Kamu menghela nafas dan membuka lipatan kecil itu.
Datang ke lantai atas nanti saat jam makan siang. Jangan menolak. Ini perintah.
-Akashi
Kamu menaikkan alis sebelahmu saat membaca isi pesan itu. Kamu baca itu berulang-ulang, dan menghela nafas.
'Mau apa ya.. Daripada kena gunting melayang iya-iya aja deh.' Kamu menulis jawabanmu di balik kertas pesan Akashi tadi, dan memberikannya kembali ke mejanya. Akashi membuka lipatan kertasmu itu, dan melirik kearahmu. Kamu berpura-pura tidak melihat lirikan Akashi dan memperhatikan papan tulis sekali lagi. Akashi menyeringai(Kayaknya Akashi menyeringai mulu dah –"/authordilempar) dan membuka handphone nya. Mengetik dengan cepat, dan menutup ponselnya dengan muka puas.
-Skip Time to Lunch Break-
Bel makan siang sudah berbunyi daritadi. Akashi dan Kuroko sudah keluar, dan kini tinggal kamu dan beberapa murid yang masih berada di kelas. Kamu merapihkan peralatan tulismu, meletakkan buku untuk pelajaran berikutnya di laci meja, dan ke kantin untuk membeli dua potong sandwhich dan susu kalengan dingin dari mesin pembeli minuman kaleng otomatis. Sudah merasa cukup puas akan apa yang kamu beli, kamu segera ke lantai atas, tak ingin membuat Akashi-dan yang lain mungkin, menunggu lebih lama.
Kamu membuka pintu lantai atas dan melihat ada 6 pria berambut warna-warni tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kamu melihat Akashi dan Kuroko di antara mereka semua, dan kamu menutup pintu lantai atas itu. Cukup keras, yang mungkin membuat mereka berenam menyadari keberadaanmu. Baru saja kamu berbalik badan, kamu diterjang oleh laki-laki berambut kuning.
"-name-cchi! Tahukah kau betapa ingin aku menangis di tengah pelajaran karena aku tidak sekelas denganmu-ssu!" lelaki yang kamu ketahui adalah Kise Ryouta.
"...se..sak.." Kamu berusaha untuk keluar dari pelukan maut Kise tapi apa daya, dia lelaki kamu perempuan. Membuat dirimu tidak terlalu kuat untuk melepaskan diri. Kamu sudah cukup pasrah kalau kamu mungkin akan mati di dalam pelukannya. Yah, itu memang perkiraanmu sampai..
"Oi Kise! –name- sudah seperti diambang maut, lepaskan dia!" teriak lelaki berkulit lebih tua dari mereka semua, dan kamu ketahui itu adalah Aomine Daiki. Kise melepaskan pelukannya dan cengar-cengir meminta maaf padamu. Entah berhalusinasi atau apa, kamu sempat melihat ekor dan telinga anjing di belakang tubuh bersurai kuning itu.
"Apa sih? Bilang saja kalau Aominecchi juga sesedih diriku karena tidak bisa satu kelas dengan –name-cchi atau Kurokocchi!" sahut Kise. Kamu entah kenapa sedikit bingung kenapa mereka semua bisa mengetahui namamu.
"A-Apa?! Bilang saja kalau kau memang tidak suka satu kelas dengan Midorima!"
"t-Tidak kok! Midorimacchi masih sedikit memperhatikanku meskipun dia lebih suka memarahiku-ssu! Memangnya Aominecchi gak ini gak itu tapi gak diladenin sma Murasakicchi?!" Kamu bingung akan topik mereka kenapa nyambung-nyambung ke dua orang yang nggak bersalah.
"Hari ini memang hari penuh kesialan untuk yang bintang Virgo dan Gemini. Meskipun Cancer juga termasuk tiga yang paling bawah, tapi aku membawa lucky item ku kali ini, jadi aku tidak akan terlalu bernasib sial nandodayo." Kata laki-laki berkacamata-Midorima Shintarou, sambil membetulkan letak kacamatanya dan mendekap kotak yang kamu ketahui adalah Jack-in-the-Box.
"...Aku kehabisan makanan." Kata lelaki yang paling tinggi di antara mereka semua-Murasakibara Atsushi, yang tampak membuka kemasan snack nya yang paling terakhir. Kuroko tampak diam menikmati Vanilla Milkshake nya, dan Akashi yang meminum kopi kalengnya.
Tampak hening sejenak. Aomine dan Kise sudah selesai bertengkar semenjak tadi, meninggalkan keheningan yang cukup awkward bagimu di lantai atas itu. Kamu hendak melontarkan kata untuk memecah keheningan, tapi niatmu didahului oleh Midorima.
"-name-," dia memanggilmu.
"h-hai'?" jawabmu.
"Zodiakmu." ...tunggu, apa barusan yang kamu dengar?
"m-Maaf, apa?" kamu bertanya kembali.
"Zodiakmu apa, dan golongan darah. Beritahu aku." Kata Midorima singkat.
"Eh.. Taurus. Dan untuk golongan darahku, O." Katamu. Midorima mengangguk dan melanjutkan bermain-main dengan Lucky Item nya itu. Kamu sempat mendengar gumaman yang tak jelas darinya, tapi kau putuskan untuk tidak menghiraukannya.
"Baiklah, mungkin kita semua tahu siapa kamu, tapi lebih baik kita memperkenalkan diri kami." Kata Akashi. Kau ingin sekali bilang 'aku-sudah-tahu-nama-kalian-semua' tapi kamu memutuskan untuk diam.
"Seperti yang tadi, Aku Akashi Seijurou, dan ini Kuroko Tetsuya." Lanjut Akashi sambil menunjuk Kuroko. Orang yang dimaksud hanya mengangguk.
"Doumo." Katanya. Kamu hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Aomine Daiki. Tch, untuk perempuan sepertimu, ukuran dadamu cukup kecil." Kamu setengah sweatdrop setengah marah karena dikomentari seperti itu. Tapi kau hanya menghela nafas dan diam.
"Midorima Shintarou. Zodiakmu berada di urutan ke tiga yang paling beruntung dan Lucky Item mu adalah-" kata-kata Midorima sempat terhenti karena diberi tatapan tajam dari Akashi.
"Kise Ryouta desu! Senang bertemu denganmu –name-cchi!" ucap Kise riang.
"Murasakibara Atsushi. –name-chin, boleh aku minta sandwhich nya? Kelihatannya enak.." Kamu sempat sweatdrop dengan perkenalannya Murasakibara, tapi kau hiraukan dan memberi salah satu sandwhich mu.
"Ini. Kebetulan aku tidak lapar." Kamu tersenyum kepadanya, dan kamu memperhatikan dia makan. Dan entah mengapa, kamu dipangku oleh Murasakibara yang sedang makan itu. Kamu melihat ke arah atas dan membersihkan remah-remah roti di sekitar mulutnya dengan saputanganmu.
Yang lain, yang tidak kamu sadari, memperhatikan pemandangan kamu yang sedang membersihkan remah-remah lelaki bertubuh tinggi itu. Aomine yang sempat menendang besi penghalang, Kise yang menangis dengan air mata 'palsu', Kuroko yang meremas gelas Milkshake nya, Midorima yang sempat membanting kotaknya, dan Akashi yang tampak memain-mainkan gunting yang entah-darimana-dia-dapatkan.
"Murasakicchi, tak baik untuk bertindak curang seperti itu-ssu!" Kise menarikmu dan memelukmu dari belakang. Mukamu memanas sedikit karena perlakuan Kise terhadapmu.
"Kamu juga sudah memonopoli tubuhnya dua kali Kise, itu juga dibilang curang." Aomine menekankan kata dua kali itu dan kamu ditarik lagi oleh lelaki berkulit tan itu dan dipeluk pinggangnya. Mukamu semakin panas sekarang.
"Kalian berdua terlalu berisik. Kalian berdua yang membuat muka –name- memerah itu justru yang curang nanodayo." Kamu ditarik(lagi) oleh Midorima dan membetulkan letak kacamatamu itu, dan menatapmu lurus. Kamu semakin panik dan dadamu semakin berdegup kencang.
'Ini kenapa jadi pada tarik-tarikan dan melakukan begini-beginian sih?!' teriak batinmu itu.
"Yamete Kudasai. Tahukah kalian kalau kalian membuat –name—san malu seperti ini?" Kuroko menarikmu, mendekapmu, mengelus rambutmu. Kamu sedikit merasa lebih nyaman saat kamu merasakan rambut hitam mu itu dibelai dari belakang. Mungkin Kuroko mempunyai aura yang berbeda dari yang lain, itu pikirmu.
Tapi sebelum kamu benar-benar menikmati ketenangan yang diberikan Kuroko, kamu kembali ditarik oleh si surai merah. Tangannya yang satu memegang pinggangmu, dan yang satu nya lagi memegang tangan kananmu. Dan kamu merasakan sesuatu yang dingin, namun lembut menempel di sekitar pelipismu. Kamu memperhatikan yang lain mempunyai tatapan tak percaya dan cemburu, setelah kamu sadar dan menengok ke atas, kamu terkejut.
'C-c-c-Cium?! Apa-apaan ini?!' batinmu teriak semakin kencang. Ya, pelipismu itu tadi sempat dicium oleh Akashi. Makanya kamu merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel. Bibir Akashi lah pelakunya. Mukamu semakin memanas dan berdegup kencang.
"Hei hei, kalian terlalu banyak berulah. Kalian tahu kalau –name- itu milikku, dan aku ini absolut." Seringainya masih ada di mulutnya itu sejak tadi. Kepalamu berasa berputar-putar akan apa yang mereka lakukan untukmu.
Krriiing!
Beruntung, jam makan siang berakhir. Kamu segera melepaskan diri dari pegangan Akashi dan mengambil langkah 1000 ke kelasmu. Mukamu masih panas dan dadamu masih berdegup kencang. Kamu memutuskan untuk ke toilet untuk cuci muka dan menenangkan diri.
"Apa-apaan ini.. Kenapa mereka melakukan ini semua terhadapku.. Satu hari aja udah begini.. Apalagi seterusnya? ...Hatiku yang malang." Kamu berbicara pada dirimu sendiri. Kamu membasuh mukamu sekali lagi, dan mengeringkannya dengan saputangan. Lalu kau bergegas ke kelas.
Masuk ke kelas, beruntung guru tidak masuk, sehingga kamu tidak kena omelan karena telat masuk pelajaran, dan seperti biasa, kelasmu ramai. Kamu menghampiri kursi mejamu dan melihat Akashi sedang membaca buku. Kamu menatapnya sesaat, terlintas ingatanmu saat kamu dicium oleh Akashi, kamu pura-pura untuk menghiraukannya dan duduk di kursimu dan membenamkan wajahmu ke dekapan tanganmu. Tidak kamu ketahui, Akashi memperhatikanmu sejak tadi dan kembali kedalam bacaannya.
-Skip Time When School Ends-
Kamu memasukkan barang-barang kedalam tasmu, dan mengingat kembali apa saja yang harus dilakukan nanti malam.
'Hmm.. Makan malam, lalu PR Biologi dan Bahasa Inggris, ulangan Matematika, lalu.. Sepertinya untuk besok itu saja..' di dalam batinmu. Kamu mengambil tasmu, mengucapkan "Sampai jumpa besok," ke teman-temanmu, kamu pulang ke rumah.
Saat di jalan, jujur kamu merasa sedikit aneh. Semuanya berjalan lancar sekali, bahkan 6 kurcaci warna-warni itu tidak terlihat sehelai pun. Cukup bagus menurutmu, tapi kamu merasakan hal yang janggal. Kamu putuskan untuk menghiraukannya dan pulang.
Kamu sampai rumah yang bisa dibilang cukup besar itu, mengambil kunci, dan membukanya. Saat kamu membuka pintu, lampu ruangan nyala disana-sini. Kamu menaikkan sebelah alismu. Seingatmu, kamu sudah mematikan lampu sebelum berangkat sekolah. Mungkin kamu lupa atau apa, kamu masih kurang tahu.
"Tadaima." Ucapmu. Meskipun tidak ada siapapun di rumahmu, kamu entah mengapa sudah terbiasa mengucapkan itu, meskipun tidak ada jawaban dari orang lain. Kamu menutup pintunya, melepaskan sepatu mu dan menggantinya dengan sandal rumah, dan ke ruang tamu. Kamu bersenandung kecil, dan senandungmu berhenti karena kamu melihat 6 tamu tak diundang sedang di ruang tamu mu.
"Ah, -name—san okaeri," kata Kuroko yang menyadari keberadaanmu.
"a-APA-APAAN INI?!"
-To be Continued-
Nyahahaha, entah kenapa saya suka sekali bikin continue di saat-saat tanggung seperti itu/dilempar. Ini chapter yang terpanjangan yang pernah saya tulis, jadi bahagialah!/gak. Untuk reviewer, minna arigatou~! Chapter 3 masih tahap penulisan, dan kalau kalian mau momen khusus dengan salah satu karakter Kiseki no Sedai, cukup review saja! Nanti akan saya buatkan momennya menjadi salah satu chapter di cerita ini. Kritik dan Saran selalu diterima lho! Tapi jangan sampe nge-flame ya hehe../dibuang.
Last Word,
Review Minna?
Hikaru Tamano
