Yossha! Kembali dengan saya di chapter ketiga! Oke-oke, saya merasa imajinasi saya makin liar dan ide terus ngucur. Mungkin karena ini GomxReader? Entahlah, author pun bimbang XP/dor. Yosh, tanpa basa-basi, here comes chapter 3~

Balasan Review:

Hyukie Choco: Makasih! Dan ini dia chapter 3 nya~ :D

ai haikawa XD: Kurang panjang? Sip, ini udah coba dipanjangin lagi :3 AkashixReader! Sudah sedikit kebanyakan, jadi mau di seimbangkan sama yang lain dulu ya, tapi pasti nanti dibuat moment nya kok XD

Kiserucchi: Fangirlingan? Masa sih? Aduh makasih ya X3 Sip, udah di-update :D

akashitetsuya3: Silahkan berguling-guling selagi anda bisa, karena bakalan ada chapter baru lagi XD/jeger Sip, udah di update ya :D

ThiefofStealth: Sip, nanti dibuatkan moment tersendirinya dengan Murasakicchi, ditunggu saja ya XD


Disclaimer: Kuroko no Basuke doesn't belong to me. Fujimaki Tadatoshi-sensei does.

Warning: Judul sama isi cerita gak nyambung, typo dan misstypo bertebaran, bahasa mungkin tidak sesuai EYD, deskripsi rada-rada minim dan kusam, might be Harem, OC everywhere, OOC, Don't Like just press Back button.

Summary: Kiseki no Sedai menjajah rumahmu?! What?! Oh bukan, ternyata ada alasan dibalik itu, tapi tunggu- Mereka itu calon?! Harus pilih?! Waktu berjalan, siapa yang kamu pilih? Tapi bukan saatnya kan? GoMxReader! DLDR!


6 Miracles in School?!

Chapter 2: One of Them?

©Hikaru Tamano

.

.

.

.

-Flashback-

Kamu bersenandung kecil, dan senandungmu berhenti karena kamu melihat 6 tamu tak diundang sedang di ruang tamu mu.

"Ah, -name—san okaeri," kata Kuroko yang menyadari keberadaanmu.

"a-APA-APAAN INI?!"

-Back to Present Time-

Teriakanmu mengagetkan keenam orang itu dan menghentikan kegiatan mereka. Mereka semua menatapmu heran setelah kamu berteriak kencang seperti itu. Kamu yang menyadari situasi, mulai tenang dan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.

"Kenapa kalian bisa ada disini? Kau tahu kan ini namanya penyusupan?!" katamu tegas. Mereka semua celingukan, mencari siapa yang akan menjawab pertanyaanmu itu. Akhirnya, Akashi kembali turun tangan.

"Kamu tidak mendapat pesan dari ibu atau ayahmu?" tanya Akashi. Kamu mengernyit mendengar pertanyaan itu.

"Pesan apa?" tanyamu.

"Kamu belum mendapat pesan itu? Tentang keberadaan kami disini, dan alasan bahwa kami mempunyai hubungan khusus denganmu." Jawab Akashi. Kamu berpikir sejenak. Tiba-tiba..

Hey Mr. Music~ Tsuyoku na i de~ Hey Mr. Music~

Ringtone pesanmu bunyi. Kamu membuka ponselmu, dan mendapat pesan dari ibumu. Mungkin ini yang dimaksud Akashi untukmu. Kamu membuka isi pesan itu.

To: My Sweetest Daughter~!

Subject: 6 Kejutan~!

-name- tersayang.

Bagaimana dengan kejutan ibu dan ayahmu? Cukup menarik bukan? Saat di luar kota, kami menemui 6 orang yang cocok untuk jadi tunanganmu. Tapi kami bingung untuk memilih siapa diantara mereka yang paling cocok menurutmu, jadi kami serahkan pilihan itu padamu. Kami sengaja membuat mereka masuk ke sekolah yang sama dan satu rumah denganmu agar kamu mengetahui sifat-sifat mereka. Kamu bisa kan sama mereka? Semoga kalian saling akrab ya~! ;)

Ibu

P.S Waktumu memilih sampai akhir natal! Jadi cepat putuskan ya!

Itulah isi pesan ibumu. Kamu membacanya berulang, memproses semuanya, dan mencernanya di otakmu. Entah apa yang terjadi, kamu berpikir bagaimana murid terpintar di SMP mu itu menjadi bodoh dalam hal-hal seperti ini. Tunggu.. Calon.. Tunangan?

'What?! Aku mau ditunangin?!' teriak batinmu. Kamu menatap mereka dengan pandangan tidak percaya. Kamu menatap mereka, lalu menatap isi pesan itu. Kamu menatap mereka, lalu menatap isi pesan itu. Tidak sengaja kamu melepas ponselmu itu, dan terjatuh tergeletak di lantai. Tanpa aba-aba kamu lari ke kamarmu di lantai atas.

"Tunggu, -name-/-name—san/-name-cchi/-name-chin!" teriak mereka berenam. Tapi kamu tidak menggubris mereka semua dan segera berlari ke kamarmu.

Kamu menutup pintu kamarmu, menguncinya (takut mereka tiba-tiba mendobrak dan entah-apa-yang-akan-mereka-lakukan), dan menjatuhkan dirimu ke kasur. Bukannya kamu sedih akan hal ini, tapi kamu terlalu kaget. Kemunculan mereka semua yang tiba-tiba, perlakuan mereka, dan isi pesan dari ibumu itu. Hatimu masih tak bisa membiasakan hal ini. Kamu menutup matamu sesaat dan tanpa sadar kamu tertidur.

-Sementara Itu-

Tampak mereka berenam terdiam dari posisi mereka. Mungkin bagi perempuan yang mereka bisa dibilang baru kenal itu tiba-tiba dilanda peristiwa-peristiwa abnormal seperti ini tidak kuat. Tapi sungguh, mereka khawatir dengan keadaan gadis berkacamata putih itu.

Hening melanda mereka semua. Bahkan Murasakibara berhenti dari acara memakan makanannya. Tak ada yang memulai pembicaraan, bahkan Kise yang handal dalam situasi seperti ini diam. Keheningan yang tidak nyaman itu mulai dipecahkan oleh Aomine.

"Dia.. tidak nangis kan?" tanyanya. Mereka diam dan menatap pintu di kamar atas itu dan tidak mendengar suara-suara yang menunjukkan kalau dia menangis. Mereka semua mendesah lega.

"Sepertinya dia tidak menangis. Mungkin hanya kelelahan lalu tertidur nanodayo." Kata Midorima sambil membetulkan letak kacamatanya.

"...Aku akan menyiapkan makan malam. Shintarou, Atsushi, bantu aku. Ryouta, Daiki, dan Tetsuya, kalian pikirkan cara apapun untuk membuat –name- keluar dari kamarnya." Ucap Akashi beranjak dari sofa dan menuju dapur. Murasakibara dan Midorima hanya mengikuti di belakangnya. Sedangkan Kise, Aomine, dan Kuroko naik keatas.

"Jadi.. Bagaimana?" tanya Aomine. Yang lainnya tampak berpikir, bagaimana cara membuat perempuan itu keluar tanpa ada rasa dendam.

"Bagaimana kalau kita ketuk saja pintunya-ssu?" usul Kise.

"Nggak deh, kalau itu memang bisa daritadi kuketuk kali."

"a-Aominecchi jangan jutek gitu dong-ssu! Aku kan hanya ngusulin hal yang paling normal!"

"Oi, diamlah! Kalau kau teriak-teriak seperti itu justru –name- bisa marah baka!"

"Ahominecchi juga jangan teriak! Itu sama saja mengganggunya-ssu!" Perkelahian Aomine dan Kise terus berlanjut. Kuroko sempat mencoba untuk meleraikan mereka berdua, tapi apadaya, kekurangan 'keberadaan' membuat Kuroko tidak digubris oleh mereka berdua. Akhirnya Kuroko turun dan membantu Akashi. Kise dan Aomine? Masih bertengkar di depan kamar.

Teriakan dari kedua suara masih terdengar di atas. Akashi yang mulai habis kesabarannya, mengambil gunting terdekat di dapur itu dan naik keatas. Midorima, Kuroko, dan Murasakibara yang menyaksikan Akashi yang mau naik keatas dengan membawa gunting itu hanya mengharapkan agar kedua teman mereka itu masih selamat dan bisa hidup.

Terdengar teriakan dari kedua orang yang dikenal yang bersumber dari lantai atas. Yang dibawah? Mereka bertiga berdo'a kalau-kalau mereka tidak selamat, nyawa mereka tenang meskipun habis dihabisi oleh gunting Akashi. Aomine dan Kise turun dengan baju compang-camping dan beberapa luka gunting di sana-sini. Midorima, meskipun mengetahui ilmu kedokteran, lebih memilih diam dan tidak melakukan apa-apa. 'Toh, itu juga salah mereka' pikirnya.

Akashi turun ke lantai bawah sambil mengelap gunting yang habis ia pakai dengan saputangannya. Ia meletakkan gunting itu, dan memberikan tatapan tajam dan seringai iblisnya terhadap Kise dan Aomine. Cukup puas melihat reaksi mereka berdua, Akashi menghampiri Kuroko.

"Tetsuya," kata Akashi. Orang yang dihampiri menghentikan memotong-motong bahan itu.

"Ya, Akashi-kun?" sahutnya.

"Bangunkan –name-. Biar aku yang mengurusinya."

"Tapi Akashi-kun, pintu kamarnya dikunci."

"Kalau soal itu.." Akashi membisikkan sesuatu di telinga Kuroko, dan pria itu mengangguk.

"Kalau begitu, aku ke atas dulu. Tolong lanjutkan pekerjaanku tadi Kise-kun." Dan Kuroko naik ke lantai atas.

"Apa yang kau katakan padanya Akashicchi?" tanya Kise. Akashi hanya menyeringai kembali. Kise putuskan untuk tidak jadi menanyakan hal itu.

-Back to Your Room-

Kamu terbangun dari tidurmu itu. Mencoba untuk duduk, kamu melihat jam. Sudah jam setengah 6, wajar saja ada suara ketuk-ketukan orang memotong sesuatu.

Tunggu.. Memotong?

Kamu kembali ingat apa yang terjadi barusan. Mereka berenam, 'calon' tunanganmu itu tinggal serumah denganmu. Kamu harus memilih salah satu diantara mereka paling lambat natal nanti. Sekarang sudah mendekati musim panas, waktu sungguh berjalan cepat bagimu.

Kamu bangkit dari tempat tidurmu dan menyiapkan baju ganti dan mengambil handukmu, lalu masuk ke kamar mandi. Air shower yang hangat itu membuatmu cukup segar dan tenang untuk mempersiapkan apa yang akan terjadi lagi nanti. Kamu berpikir. Dahulu, kamu hanya murid terpintar dengan gaya dan tampilan yang banyak dibilang orang cukup manis. Kamu yang sopan dibilang tidak mengeluarkan emosi secara sering ini membuat kesan keanggunan yang banyak membuatmu menjadi cukup populer. Dan selain itu.. Normal. Tidak ada hal lain selain itu. Dan semua itu mendadak berubah semejak datang keenam laki-laki berambut warna-warni, melakukan Harem secara besar-besaran terhadapmu, yang ternyata itu adalah calon tunanganmu dan kamu harus memilih salah satu diantara mereka paling lambat natal nanti.

Kamu menghela nafas dan mematikan keran shower yang kamu gunakan. Kamu mengeringkan badanmu dan memakai bajumu. Kamu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang kamu pakai tadi mengalungi lehermu agar bajumu tidak terlalu basah. Kamu memakai celana pendek ketat warna merah sampai selutut, dan memakai T-Shirt kuning bergaris biru. Simpel memang, karena kamu tidak suka memakai yang aneh-aneh di rumah, kecuali ada acara formal.

Kamu membuka tasmu, dan mencari buku pelajaran Biologi mu, dan membuka nya. Kamu mencari halaman yang ditandai gurumu kalau itu adalah tugas pelajaran. Hening saat itu, sampai..

"Makan malam sudah siap –name—san, ayo kita turun kebawah." Kamu menjatuhkan bukumu dan menghadap ke sumber suara. Matamu terbelalak karena kamu menemukan Kuroko di kasurmu sambil membaca buku.

"Doumo." Katanya

"K-Kuroko-kun! Sejak kapan kamu disini?! Bagaimana bisa, aku kan mengunci kamarku!"

"Aku sudah disini semenjak kamu keluar dari kamar mandimu. Aku sudah memanggilmu berulang kali, tapi kamu nya tidak sadar."

"Bagaimana kamu bisa masuk kesini?! Kau kan tahu kamar ini dikunci?!"

"Akashi-kun memberi tahu letak kunci cadangan kamarmu yang berada di kamar orangtuamu."

"Hah?! Dan bagaimana Akashi-kun bisa tahu?!"

"Kalau itu aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa bertanya. Kau tahu kan Akashi-kun bagaimana kalau ditanya."

"K-kau benar juga.." Kamu terdiam dan melihat ke arah samping, merasa awkward di depan Kuroko. Kamu ingin membicarakan sesuatu, tapi kamu tidak tahu pasti apa topik pembicaraannya.

Kuroko menatapmu, berdiri, dan melangkah ke arahmu. Kamu sempat bingung apa yang ingin dia lakukan, dan dengan wajah stoic nya tangannya seakan meraih sesuatu di kepalamu. Tentu kedekatan mukamu dengan muka Kuroko membuatmu menahan nafas sejenak dan kamu merasakan mukamu memanas. Kamu menutup matamu, dan merasakan nafasnya di mukamu.

Dan tiba-tiba kamu merasa kalau kepalamu sedang digoyang-goyangkan. Kamu membuka matamu, dan kamu menatap ke arah Kuroko. Dan dia ternyata sedang mengeringkan rambutmu dengan handuk yang kau pakai. Kau menghela nafas lega entah mengapa, dan mencoba diam agar tidak mengganggu Kuroko.

"Rambutmu bagus –name—san." Kata Kuroko.

"Eh?"

"Rambutmu bagus. Hitam dan panjang. Rambutmu juga halus."

"a-ah, begitu ya. A-Arigatou." Katamu menundukkan kepala. Meskipun kamu tak melihat Kuroko, kamu merasa kalau Kuroko tersenyum padamu.

Kuroko melepas handuk yang kamu pakai. Kamu merasa rambutmu sedikit lebih kering. Kamu berterima kasih terhadap Kuroko, dan dia hanya mengangguk. Kamu putuskan untuk turun ke bawah dengan Kuroko, karena katanya, makan malam sudah siap.

"-name-cchi! Makan malam sudah siap-ssu!" kata Kise yang menurutmu kelewat kencang.

"Oi, suaramu terlalu kencang. Para tetangga bisa protes ke kita nanti." Kata Aomine sambil menjitak pelan Kise. Kise hanya menggembungkan pipinya.

'k-kawaii...' batinmu melihat Kise menggembungkan pipinya seperti itu.

"Kalian berdua sudahlah-nanodayo. Justru kalian berdua yang akan membuat para tetangga protes sama kalian." Kata Midorima sambil membetulkan posisi kacamatanya. Aomine dan Kise menatapnya kesal, menarik kedua lengannya, dan pergi keluar. Terdengar suara-suara yang kamu putuskan untuk tidak mengetahuinya.

"-name—chin, ayo kita makan. Aku sudah lapar~" kata Murasakibara yang mukanya sudah seperti bayi besar itu. Kamu tersenyum.

"Baiklah, ayo kita makan. Apa menunya?" Kamu menghampiri meja makan dan memperhatikan makan malammu dengan sedikit sweatdrop. Kamu melihat kare, stew daging dan ada sedikit sayuran, Strawberry Juice (Yang merupakan minuman kesukaanmu dan kamu tidak tahu bagaimana mereka bisa tahu), Mash Potatoes, dan banyak lagi.

"Ini.. Bagaimana.." Kamu speechless. Belum lagi suara perutmu yang berbunyi karena kamu tidak memakan makan siangmu dengan benar (Karena Murasakibara mengambil setengah dari jatahmu) yang membuatmu sedikit malu karena didengar mereka semua.

"Yah, aku tahu kalau kamu akan kelaparan setelah setengah jatah makan siang kecilmu itu diambil Atsushi dan kamu tertidur di kamar. Jadi, wajar saja kamu lapar." Kata Akashi yang menghampiri dirimu.

"Yah.. Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Aku ini absolut. Dan aku ini selalu benar. Kau tahu itu –name-" Ah.. Kamu hampir lupa wataknya memang seperti itu.

"Kalau begitu, ayo makan semua." Kata Kuroko. Kamu hanya mengangguk dan duduk di kursi meja makan. Kamu putuskan untuk mengambil nasi kare dan Juice kesukaanmu itu. Kamu mengambil sesuap, setengah yakin akan rasanya, kamu memasukkan makanan itu ke mulutmu.

"...Enak." kamu terkejut. Kamu meminum Juice mu, dan rasanya sama. Enak. Kamu memakannya lagi, dan sedikit lebih lahap dari biasanya. Mungkin, bagi mereka berenam, kamu seperti anak kecil yang baru dikasih mainan yang kamu idamkan.

'k-Kawaii...' kata mereka berenam. Kuroko hampir meremas gelas Vanilla Milkshake nya(Entah kapan atau bagaimana dia membeli minuman itu) sampai hancur, Murasakibara sempat berhenti memakan, kacamata Midorima retak, Kise mengeluarkan arwahnya dari mulutnya, Aomine mimisan, dan Akashi hanya menutup setengah mukanya dengan tangan kirinya.

"a-Ada apa?" kamu menghentikan acara memakanmu dan menatap mereka semua. Kamu sempat sweatdrop karena melihat retakan kacamata Midorima, darahnya Aomine, arwah Kise, dan remasan gelas Vanilla Milkshake nya Kuroko.

"t-tidak apa-apa. Ayo semuanya, kita makan." Kata Akashi yang sudah kembali ke sifat biasanya dan duduk. Semuanya mengikuti perkataan (baca: titah Iblis *Gunting menancap di kursi sebelah kanan Author*)dan mulai makan.

"Oh, ini memang enak." Kata Aomine. Dia makan dengan rakusnya melahap daging-daging yang ada di stew.

"Ahominecchi jangan habisin dagingnya! Aku juga mau –ssu!" Ucap Kise sambil melempar sayuran yang masih panas itu ke Aomine. Bukannya ketimpuk, yang ada sayuranya itu masuk ke dalam lubang mulut Aomine.

Kamu makan dengan diam. Yah, mempunyai suasana yang sedikit ramai seperti ini tidak buruk juga. Kamu yang terbiasa makan sendiri karena kedua orang tuamu lebih suka keluar kota atau negeri. Kamu tersenyum memperhatikan mereka semua. Kamu mau memakan lagi, tapi mulutmu tiba-tiba dihalangi oleh sayuran seseorang. Kamu menghadap ke kanan, dan ternyata itu Midorima.

"Midorima-kun? Ada apa?" tanyamu.

"Makanlah ini. Kau tahu kalau tinggi mu ini sedikit lebih pendek dari Kuroko. Kebetulan Lucky Item Taurus hari ini adalah brokoli. Jadi, makanlah ini nanodayo." Katanya. Kamu merasa sedikit mendengar nada kekhawatiran dari nada datarnya itu.

'Yah, dia memang Tsundere sih..' batinmu. Kamu membuka mulutmu dan kamu disuapi brokoli oleh Midorima. Kamu mengunyahnya, dan menelannya. Itu terus berulang-ulang sampai brokoli dalam porsi makan Midorima habis.

"Midorima-kun, aku ini menghabiskan brokoli mu. Apa tidak apa?"

"Aku ini tidak terlalu suka dengan rasa brokoli nanodayo. Lagipula, kau lebih membutuhkan brokoli ini daripadaku."

'Oh, jadi dia gak suka brokoli toh.. Bilang aja dari awal..' batinmu sambil sweatdrop. Kamu menyeruput minumanmu sampai habis, dan mengelap bekas-bekas makanan tadi dengan sapu tangan.

"Makanannya enak. Makasih ya, yang udah masak." Katamu tersenyum. Hening.

"Aku mengerjakan tugas rumah dulu ya. Selamat malam." Kamu segera mencoba kabur dari mereka berenam. Yah, rencanamu mungkin akan berhasil kalau Aomine tidak segera lari dan menghadangmu.

"Duduk." Kata Akashi. Kamu ditatap oleh kedua mata heterochrome nya yang sekarang lebih tajam dari biasanya itu. Kamu merasa sedikit takut ketika kamu ditatap oleh kedua mata nya itu.

'Jadi ini ya, kekuatan Emperor Eyes.. Ternyata bikin ketakutan juga ya..' batinmu. (Author: Ingat kan, kalau 'kamu' disini kaget karena Kiseki no Sedai di Anime itu mendadak muncul? Jadi wajar ya kalau 'kamu' disini tahu Emperor Eyes nya Akashi XD/authorditendang)

"...Kalau aku menolak bagaimana?" katamu kurang yakin. Akashi menatapmu sesaat, dan dengan jentikan jari, Aomine mengangkatmu dengan cara bridal-style, dan menaruh di atas pundak Murasakibara. Kamu malu dengan apa yang mereka lakukan padamu, dan takut terjatuh, kamu memegang kepala Murasakibara.

"t-Turunkan aku!"

"Tidak. Maaf –name—chin."

"Akashi-kun! Buat dia untuk turunkan aku!"

"Kali ini tidak –name-. Kami ingin bicara padamu." Kamu menghela nafas.

"..Baiklah. Tapi bisakah kau turunkan aku dulu? Duduk disini kurang nyaman." Katamu. Yah, sebenarnya kamu masih mau niat kabur, kalau-kalau Akashi memang mau nurunin kamu dari Murasakibara. Kamu hanya tinggal menunggu peluang.

"Baiklah. Atsushi, turunkan dia." Kamu diturunkan oleh Murasakibara, dan begitu kaki mu menyentuh lantai, kamu segera mengambil langkah 1000 dari situ. Mereka berenam sempat terkejut, yang membuatmu semakin yakin kalau kau akan berhasil karena kamu sudah hampir sampai ke tangga.

—Yah, nyaris berhasil kalau Kuroko tidak menghalangmu dan menarik badanmu ke ruang tamu lagi.

"Oi oi, kamu cari ribut ya.." kamu melihat 3 urat menonjol di ujung kepala Aomine sambil mengangkatmu di ujung bajumu.

"Lepaskan aku."

"Tidak."

"Lepaskan aku. Ini sesak. Aku nyaris tercekik."

"Sekali tidak ya tidak –name-. Kamu kabur lagi nanti."

"Tidak akan. Lagipula aku sudah gagal dua kali, memang aku masih punya kesempatan?"

"Meskipun begitu, tetap tidak."

"Tapi aku mau turun!"

"Tidak! Baka-name-!"

"Ahomine-kun!"

"Baka-name-!"

"Ahomine!"

"Tanpa embel-embel?! Oh k-"

"Daiki, -name-. *snip* Bisakah kalian menghentikan-*snip*-perdebatan kecil kalian berdua itu? Kita masih membicarakan hal yang lebih penting disini." Ucap Akashi sambil memain-main kan guntingnya. Kamu dan Aomine merasa sedikit ketakutan karena 'gunting-yang-bisa-diapa-apa-kan-sesuai-hatinya' dan memutuskan untuk diam. Aomine menaruhmu di sofa, dan kamu tertunduk kalah.

"Kenapa kalian sangat pemaksa? Dan bagaimana bisa Kuroko-kun menghadangku secepat itu?" tanyamu.

"Aku ini pemilik Misdirection saat aku masih mengikuti basket di Teikou –name—san. Tentu saja bisa." Kamu hanya menghela nafas. Kamu menatap mereka semua.

"Bisakah kamu jelas-"

"..Aku hanya terkejut." Kamu cukup mempunyai keberanian untuk memotong perkataan Akashi. Yah, sekali-kali mempunyai tekanan bagus kan? Itu yang ada di pikiranmu.

"Bukannya aku tak suka. Aku hanya terkejut saja tiba-tiba 6 bocah warna-warni datang ke sekolahku dan meng-Harem i ku secara besar-besaran. Terus, kalian yang tiba-tiba mesti tinggal di rumahku, dan pesan dari ibuku yang ternyata kalian itu adalah.. 'calon' ...pasanganku."

"Tapi selain itu.. Yah, aku bisa memaklumi kalian semua deh." Kamu mengakhiri kata-katamu itu. Dan seketika kamu diterjang Kise dan dipeluk dengan erat, Aomine yang mengacak-ngacak rambutmu, Midorima yang membetulkan kacamata, Murasakibara yang tetap santai memakan snack nya, dan Kuroko dan Akashi yang tampak tersenyum kecil apabila kamu perhatikan dengan seksama.

"Tapi!" kata-katamu membuat hening sesaat. Kamu menggunakan kesempatan ini untuk lepas dari pelukan 'maut' Kise dan berdiri di depan mereka semua.

Kamu menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya. Perkataanmu selanjutnya mungkin akan membuatmu didatangi oleh rasa malu terus-terusan, hati yang selalu berdebar-debar, dan lain-lain yang kamu tidak ingin ketahui. Tapi, kamu putuskan untuk tidak mundur sekarang. Kamu yang murid terpintar di SMP mu mundur hanya karena di Haremi besar-besaran? Harga dirimu cukup tinggi untuk tidak kabur dari masalah itu.

"Kalau kalian mau menjadi pasanganku nanti... Kalau begitu kalian harus benar-benar membuat aku jatuh cinta pada salah satu di antara kalian!"

-To Be Continued-


Oke.. Cliffhanger? Ya, saya ini author yang sangat suka memberi cerita yang berkesan cliffhanger untuk para pembacanya *evil grin*/seketikaauthorditendang. Saya baru sadar setelah membaca ulang chapter sebelumnya.. Kalau.. Saya terlalu banyak membawa kesan ReaderxAkashi (Yah, itu memang character kesukaan saya sih xP/dilempar), dan karena ini 'kamu' di 'sasar' secara besar-besaran, jadi saya ingin mencoba untuk menyeimbangkan Lovey-Dovey mereka semua, dan jadilah chapter 14 halaman ini (Dalam hitungan di Ms. Word)! Yosh, saya ingin coba ngasih babak tambahan di akhir cerita biar terkesan kalau 'kamu' ini sempat 'fanatic' sama anime Kuroko no Basuke.


Omake

Saat kamu dan Kiseki no Sedai sudah tinggal serumah selama seminggu..

"Kau tahu, -name-cchi suka teriak-teriak sendiri di kamarnya akhir-akhir ini. Dan setiap kutanya, pasti dia hanya geleng-geleng sambil mengatakan 'Ini hanya urusan perempuan yang sulit dikendali' begitu-ssu." Kata Kise sambil mengganti-ganti channel TV yang menurutnya cukup membosankan.

"Aku juga sempat mendengar dia teriak-teriak sih, tapi begitu kutanya dia pasti jawab 'Ahomine terlalu bokep untuk tahu' dan dia langsung nutup pintunya keras-keras. Rasanya ingin nabok dia habis-habisan.." balas Aomine.

"Dia perempuan Aominecchi. Dan lagipula, meskipun kita calon tunangannya, kita harus membiarkan dia mempunyai privasi nya sendiri."

"Iya juga sih." Hening dapat dirasakan oleh kedua laki-laki yang sedang berada di ruang tamu itu. Yah, hening, sampai..

"Kyahahaha! Itu.. Oh my god~! Bisa-bisanya Aomine ngomong gitu kyaa~!" teriak perempuan itu di kamarnya.

"...Apakah tadi dia menyebut namaku?"

"Kise.. Kamu itu Uke sekali nak!"

"...Uke?"

Aomine dan Kise menatap sesaat. Dan menatap kembali ruangan yang kamu pakai.

"..Kau tahu, lebih baik kita tidak usah memasalahi nya sama sekali."

"i-Iya, aku setuju-ssu."

Dan kamu harus tahu, saat itu juga, untuk meredam teriak-teriakan fangirling mu kalau sedang membaca Yaoi fanart mulai dari hari itu juga.

-End-

Last Word, Review?

Hikaru