Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa minna~! Yosh, menuju chapter ke-empat, dan pas ngeliat review.. Kayaknya pada seneng ya, Kiseki no Sedai kubuat jadi tunangan 'kamu'. Yah, saya juga seneng sih XD/dor. Oke, tanpa basa-basi, selamat menikmati~!
Balasan Review:
Ai haikawa: Hohoho, saya memang update kilat kalau ide saya ngucur dan gak kena WB~ Chapter ini mengkhusus-kan moment Akashi lho! Silahkan dibaca ya~ Sampe akhir natal? Waduh, saya kurang tahu apa ide saya berhasil nyampe sana atau nggak, tapi pasti diusahakan chapter nya memang banyak kok :D
Fujoayachan: Meskipun males login tp masih mau review sok-sok aja atuh :*/emotnya. Nanti, bakalan ada chapter tersendirinya, misalnya kamu milih Midorima, nanti ada ending kalau kamu sama Midorima kayak gimana, macam-macam Otome Game gitu lah~/dzig. Sip, ini udah dilanjut~ :D
Gak mau sebut nama: Review terpanjang yang saya dapat! Duh, makasih ya udah mau review~! Ah, saya memang mencoba menyesuaikan plot cerita saya dengan kehidupan sehari-hari, jadi kesan 'Harem' nya berasa~/jduag. Oh, yang itu 'To' nya memang kayak gitu kan artinya 'Untuk my Sweetest Daughter' ya kan? Klo from, malah dari 'kamu' dong? Tapi nanti saya coba check lagi, makasih atas perkataannya. Tenang, meskipun author Fujo, tapi ini tidak ada sho-ai ataupun yaoi. Dan oh yes, ending nanti berbeda-beda dan disiapkan chapter per chapter. So, kamu bisa lihat bagaimana kamu memilih karakter dan ending yang berbeda! Sip, sama-sama~
Unknown Reader: Mimpi mas(?), soalnya Cuma ada di cerita saya doang/jeger. Ada moment khusus bareng Akashi disini, silakan dinikmati~ Kalo ada kesempatan lain, mungkin saya bakalan bikin cerita berbeda dengan main pair AkashixReader, tinggal tunggu tanggal mainnya saja./dikirabioskop
Miyazawa Akane: Review dua kali yang isinya berbeda, seneng deh :*/stop. Ada moment Akashi di chapter ini, enjoy ya~ Dan, school life 'kamu' bakalan penuh dengan full 'Harem' oleh GoM! Dan saya bakalan buat beragam twist disini sebelum cerita benar-benar selesai, jadi nikmati selalu ya~! Dan sip, ini udah dilanjutin~
Disclaimer: Akashi bakalan kubuat jadi penyuka jarum jahit lebih dari gunting kalau Kuroko no Basuke punya saya. Sayang, KnB punya Fujimaki Tadatoshi, bukan punya saya.
Summary: Sudah hampir seminggu sejak perkataanmu itu, dan kamu mulai terbiasa dengan sikap-sikap mereka. Weekend pertama mu dengan mereka, sarapan pagi yang ramai, pertengkaran dan ajakan pergi dari Aomine? GoMxReader! DLDR!
6 Miracles in School?!
Chapter 3: Breakfast Morning and Ask-to-Go-Out from Aomine?
©Hikaru Tamano
.
.
.
.
.
Sekai de Ichiban no Hime-sama! So iu-
Kamu mematikan alarm Handphone mu dan bangun dari kasurmu. Kamu menguap, mengedip-ngedipkan matamu sekali dua kali, dan melihat kalender. 15 Mei. Ah, kamu menyadari sudah hampir seminggu mereka berenam, Kiseki no Sedai, menyusup ke hari-hari normalmu. Dan, tidak lupa, perkataanmu yang membuat mereka Harem besar-besaran terhadapmu.
'Kalau kalian mau menjadi pasanganku nanti... Kalau begitu kalian harus benar-benar membuat aku jatuh cinta pada salah satu di antara kalian!'
Setelah perkataan itu, semuanya terjadi. Akashi yang selalu tiba-tiba menyerangmu dengan ciuman di seluruh tempat (kecuali bagian bawah dan bibir), Kuroko yang suka memelukmu dan mengelus kepalamu (Yang entah mengapa kamu tidak mempunyai alasan untuk marah kepadanya), Kise yang suka datang ke kelasmu dan menerjangmu dan membuat Fans-fans di sekolahmu marah terhadapmu, Midorima yang selalu memberimu Lucky Item yang katanya harus kamu bawa, Aomine yang selalu nyaris memegang 'bagian' mu (dan tentu saja kamu menendangnya keras-keras begitu dia melakukannya) dan Murasakibara yang selalu memakan bagianmu, dan terkadang melahap apa yang sedang ditahan oleh mulutmu. Dan itu, sangat membuatmu lelah.
Ya, mana bisa kamu melupakan kata-katamu itu? Mereka berenam yang akan menjadi calon tunangan kamu. Dan kamu harus memilih salah satu di antara mereka saat natal nanti. Dan sekarang? Kamu memperhatikan kalender itu sekali lagi. Pertengahan bulan Mei. Sebentar lagi mau musim panas. Kamu menghela nafas, dan ke kamar mandi untuk membasuh mukamu. Mengelapnya dengan handuk, dan kamu turun ke bawah.
Sepi dan sunyi masih ada di rumahmu yang sebelum-sebelumnya ramai dipenuhi oleh teriakan. Teriakan apa saja? Cukup bermacam-macam, mungkin kalau kamu ingin mengingatnya lagi, sudah tidak bisa dihitung oleh jarimu saking banyaknya teriakan di dalam rumah ini.
Kamu turun dari tangga, kamu sempat menduga kalau yang lain belum bangun dari tidur mereka masing-masing, karena kamu sempat mendengar dengkuran keras dari salah satu kamar mereka. Lebih tepatnya di kamar Aomine.
—Yah, setidaknya kamu bangun kedua paling pagi setelah lelaki pemilik mata Heterochrome itu.
"Akashi-kun?" tanyamu melihat si pemilik surai merah itu sedang meminum teh di meja makan. Akashi, yang merasa namanya dipanggil, menghadap ke arahmu dan tersenyum tipis. Tipis sekali kalau kamu tidak melihatnya dengan saksama.
"Ah, -name-. Ohayou," sapanya.
"Ohayou."
"Bangunmu cukup pagi. Padahal ini hari libur."
"Aku memang terbiasa bangun pagi meskipun itu hari libur."
"Ah, souka. Kebiasaan yang bagus, mungkin kau bisa tularkan kebiasaanmu itu ke Daiki atau Ryouta."
"Aku tidak tahu soal itu, tapi akan kucoba."
"Hn."
Kamu mengangguk dan mengambil gelas dari lemari dapurmu. Kamu mengambil plastik kopi instan yang ada di kulkasmu, dan menyeduhnya. Tentu saja, kamu memakaikan kopi mu itu dengan Creamer dan gula dengan perbandingan 2:3. Kamu mengaduknya, membawa kopi itu dan duduk di sebelah Akashi.
"Kopi? Kenapa tidak teh? Teh lebih sehat." Kata Akashi.
"Aku hanya ingin meminum kopi saja. Tidak ada alasan khusus." Jawabmu.
"Gulanya banyak sekali, kau tahu kau bisa kena penyakit kalau kau memakai banyak gula?"
"..Itu karena kopi terlalu pahit. Makanya aku memakai banyak gula."
"Kekanak-kanakan sekali."
"a-Aku tidak kekanak-kanakan!" mukamu sedikit memerah karena malu dan sedikit kesal. Akashi memperhatikanmu sebentar dan kemudian tertawa. Akashi? Tertawa?
"k-Kenapa tertawa?! Ini tidak lucu tahu!"
"Tidak. Aku hanya sedikit kepikiran kalau ke-Tsundere-an Shintarou ternyata bisa menular."
"a-Aku tidak Tsundere!"
"Seorang Tsundere tidak akan mengakui kalau dirinya mempunyai sifat Tsundere –name-"
"..."
"Aku ini selalu benar, ya kan?" Kamu menggembungkan pipimu dan menghadap ke arah samping. Kalau kamu tidak memikirkan soal Tsundere nya kamu, mungkin kamu akan menyadari kalau Akashi mengabadikan muka merahmu dan menjadikannya Wallpaper dengan Handphone nya.
Kamu menyeruput minummu dan sekali lagi, melihat kamar-kamar di lantai atas. Mereka masih tertidur, kecuali Akashi. Merasa sebagai satu-satunya perempuan di rumah itu, kamu memutuskan untuk membuatkan mereka semua dan kamu sendiri sarapan. Kamu bangkit dari kursimu dan menuju ke dapur. Akashi memperhatikanmu dengan tatapan datarnya itu.
"Mau kemana?" Tanya nya.
"Aku ingin masak. Sebentar lagi mungkin mereka akan bangun dan pasti meminta sarapan."
"Ah, begitu. Mau memasak apa?"
"Hmm.. Aku tidak begitu tahu. Ada usul Akashi-kun?" Akashi tampak berpikir sejenak. Kamu hanya menatapnya menunggu balasan darinya.
"Bagaimana kalau Pancake?" Usulnya. Kamu tersenyum dan mengangguk. Beruntung, itu makanan yang paling bisa kamu buat.
"Boleh. Pakai sirup Mapple tidak apa-apa kan?" Akashi mengangguk. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan naik ke atas. Kamu menatapnya heran.
"Mau kemana?"
"Membangunkan mereka. Daripada kita menunggu mereka bangun, lebih baik mereka yang menunggumu selesai masak, bukan?" Kamu hanya mengangguk.
Kamu mengambil mentega, telur, tepung, susu, Vanilla Escent, dan sirup Mapple dari kulkas. Kamu memecahkan telur, memasukkan tepung, susu, dan lain-lain ke dalam mangkuk. Kamu mengaduknya, dan menyalakan kompor dan memanaskan mentega.
"Ohayou. Kamu memasak apa –name—san?" Kamu nyaris menjatuhkan mangkuk adonan Pancake mu dan menghadap ke samping.
"K-Kuroko-kun! Jangan mengejutkan ku seperti itu!"
"Tapi aku sudah disini daritadi sejak Akashi-kun naik ke atas."
"l-Lalu kenapa kau tidak bilang daritadi?!"
"Aku sudah berbicara padamu daritadi, tapi karena kamu sedang memasak, aku kira kau tidak ingin diganggu."
"..." Kamu menghela nafas. Kamu memperhatikan Kuroko sekali lagi. Rambutnya yang berantakan dikarenakan entah-apa-dan-bagaimana-alasannya itu membuatmu nyaris tertawa, kalau tidak ada orangnya.
"Rapihkan rambutmu dulu, nanti kita sarapan bersama setelah itu." Kuroko mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Kamu melanjutkan memasakmu. Membolak-balikkan Pancake nya, dan kalau sudah matang, menambahkan adonan baru lagi.
"-name—chin sedang masak apa?" kamu mendengar namamu disebutkan seperti itu dan menghadap ke arah suara. Murasakibara dengan muka mengantuknya menatapmu sambil tersenyum polos.
'Benar-benar seperti bayi...' batinmu.
"a-Ah, aku memasak Pancake, tidak apa-apa kan?"
"Pancake? Wah, porsiku nanti yang banyak ya –name—chin.."
"Tentu saja Murasakibara-kun, porsimu yang paling banyak." Ucapmu tersenyum. Murasakibara duduk di tempatnya, dan membuka bungkus maiubo kesukaannya.
"Ah! Bisakah kau membantuku mengambil 7 piring?" Murasakibara mengangguk dan mengambil piring dari lemari. Dia memberinya kepadamu, dan kamu menaruhnya di meja sesuai dengan urutan. Tentu saja Akashi yang paling pertama (Karena kamu tahu kamu akan diberikan gunting melayang darinya kalau bukan piring dia yang 'memimpin'), lalu Kuroko, Kise, Aomine, Midorima, Murasakibara, dan paling terakhir kamu sendiri. Masing-masing piring terdapat tiga tumpuk Pancake (Kecuali Murasakibara kamu beri dia 7 tumpuk).
Setelah beberapa saat, Midorima turun kebawah sambil membawa boneka Hello Kitty ukuran besar(Yang kemungkinan itu adalah Lucky Item untuk ramalannya hari ini). Kamu merasa semuanya sudah turun, kecuali Aomine, Kise, dan Akashi. Kamu menaikkan sebelah alismu, kenapa Akashi, Kise, dan Aomine bisa lama seperti itu.
"Murasakibara-kun, Aomine, Kise-kun, dan Akashi-kun masih di atas ya? Kok lama?" tanyamu. Murasakibara berhenti memakan Maiubo nya dan menatap ke arah samping.
"..Aka-chin membutuhkan teknik khusus yang paling terakhir kalau mau membangunkan Kise-chin dan Mine-chin." Jawabnya.
"Tekhnik khusus?" Sebelum Murasakibara atau Midorima sempat menjawab, kamu mendengar suara dan terdapat getar-getaran dari lantai atas. Lalu, kamu mendengar teriakan.
"AAAAAAHHH! BAIKLAH AKU BANGUN! AKU BANGUN! AKASHICCHI JANGAN LEMPARKAN GUNTING LAGI AKU SUDAH BANGUN-SSU!"
Hening sesaat, terdengar suara pintu terbuka dari atas. Kise turun dari lantai atas, dengan muka pucat seakan-akan nyawanya hampir habis.
"Kise-kun? Mukamu seperti habis dibunuh." Tanyamu.
"..Aku memang hampir dibunuh –name-cchi. Sudahlah.. jangan tanya itu lagi-ssu."
"Uhh... Yasudah." Kamu melihat Kise duduk di kursinya sambil bergumam sesuatu yang tidak dapat kamu dengar. Dan kemudian, kamu mendengar suara pintu terbuka lagi, dan disusul oleh teriakan.
"AKU MENGERTI! AKU BANGUN! AKU BANGUN! AKASHI JANGAN! APAPUN SELAIN GUNTING YANG AKAN MENANCAP ITU!"
—Dan kamu mulai mengerti teknik khusus Akashi.
Aomine turun duluan dan disusul oleh Akashi yang sedang membersihkan guntingnya dengan saputangan. Kamu sweatdrop melihat pemandangan itu. Kamu putuskan untuk menghiraukannya dan membuka sirup Mapple. Tapi, tutup botolnya itu susah untuk dibuka.
'k-Kok susah ya...' batinmu. Kamu mengambil pisau untuk membukanya. Kamu mencoba mengiris tutup botol itu, tapi..
!
"a-Ah!" kamu tidak sengaja menjatuhkan pisaumu. Dan tanpa ditunggu (Dan kamu memang tidak menunggunya juga) selama beberapa detik, Akashi datang menghampirimu sambil membawa gunting yang terus dimain-mainkannya.
"Ada apa? Ryouta mengagetkanmu? Atau Aomine yang mau menyentuh 'bagian'mu?" Kamu sempat memerah saat Akashi mengatakan 'bagian' mu. Ya, kau tahu maksud dan rasa kekhawatiran dibalik suara datarnya, tapi tetap saja perkataan itu memalukan menurutmu.
"t-Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya keiris pisau saja." Ucapmu tersenyum dan menunjukkan jarimu yang berdarah. Akashi memperhatikan jarimu yang berdarah itu sesaat. Kamu membalikkan badanmu dan membuka salah satu lemari dapur.
"Aku akan mengambil plester, tunggu sebent-" perkataanmu terhenti karena pergelangan tanganmu ditarik oleh Akashi dan membuat muka mu dekat dengannya beberapa inci. Mukamu berasa panas, kau ingin memalingkan mukamu dari hadapannya, tapi mata Heterochrome nya yang menatapmu lurus seolah-olah memerintahkan matamu untuk tidak berpaling darinya. Akashi mengangkat jarimu yang berdarah, menatapnya sekali lagi, dan menjilatnya. Mukamu merasa semakin panas lagi ketika kamu merasa lidah Akashi yang dingin itu sedikit menari-nari di sekitar lukamu itu. Lalu ia melepaskan mulutnya, mengambil plester, dan membalutkannya ke jarimu.
"Lain kali hati-hati. Bukankah kamu tidak seceroboh itu?" Tanyanya.
"a-Aku hanya ingin membuka sirup Mapple ini, tapi karena tutupnya terlalu kencang, aku memakai pisau, dan tanganku tergelincir dan tidak sengaja mengiris jariku." Katamu sambil mengangkat pisau dan botol sirup mapple itu. Akashi menghela nafas, dan menggunakan guntingnya (dengan sangat handal seperti yang kamu ketahui) untuk membuka botolnya. Dan memberikannya lagi padamu.
"A-Ah.. Arigatou..." katamu sambil menerima botolnya lagi. Kamu menuangkan sirup mapple di piring berisi Pancake-Pancake itu, lalu dengan bantuan Akashi, kamu membawa piring-piring itu ke meja makan.
"Sarapan siap." Ucapmu dengan tersenyum kecil. Yang lain menatapmu dengan muka berbinar, menerima piring yang kamu berikan, dan disantap dengan lahap.
"Aku merasa di surga, rasa Pancake buatan –name-cchi lebih enak dari semua masakan yang diberikan oleh fans-fans ku-ssu~!" Ucap Kise disela-sela suapannya.
"Oi Kise, kamu nyaris menyipratkan ludahmu ke makananku! Itu jorok tahu!" Ucap Aomine sambil menyingkirkan piringnya dari 'serangan' Kise.
"Lucky Item untuk Cancer hari ini adalah masakan buatan Taurus. Jadi, jangan harap aku memakannya karena senang-nanodayo." Padahal, dalam hatinya, Midorima senang bukan main memakan makanan buatanmu. Masakan buatan Taurus? Isi ramalan Oha-Asa mu tidak berkata itu Midorima. Dan bukankah kamu sudah membawa boneka Hello Kitty ukuran besar sebagai Lucky Item mu hari ini? Tsundere memang tidak bisa ditebak (*Author dilempar boneka*)
"Masakan –name—chin memang yang paling enak.." katanya sambil melahap Pancake 7 tumpuk itu. Kamu hanya tersenyum dan mengelap sisa-sisa makanannya dengan serbet di meja makan.
Kamu memakan Pancake mu tanpa bersuara. Di otakmu masih teringat jelas saat Akashi menjilat lukamu itu. Kamu merasakan mukamu masih memanas lagi. Belum lagi orang yang daritadi kamu pikirkan itu berada di samping kananmu makansarapannya dengan tenang. Kamu meliriknya sedikit, dan merasa diperhatikan, Akashi mengarahkan pandangannya ke kamu. Kontak mata terjadi, dan segera kamu mengalihkan pandangan matamu dan memakan sarapanmu lebih cepat. Tidak menyadari Akashi sempat menyeringai kepadamu.
-Skip Time-
Kamu mengganti-ganti Program-Program di TV secara malas. Kamu tidak mempunyai kerjaan. Kise sedang ada pekerjaan, Kuroko pergi ke Toko Buku dengan Akashi, Midorima dan Murasakibara ke toko 24 jamyang berhubungan Midorima memang sedang mencari Lucky Item dan Murasakibara sedang mencari snack nya, seperti biasa. Dan kamu? Dia di rumah, bersama Aomine di ruang tamu. Dan bosan.
'Jam segini.. Oh iya! Drama cinta itu!' kamu mengambil Remote TV yang ada di meja. Dan tanganmu bersentuhan dengan tangan yang lain. Bukan, bukan tanganmu. Tanganmu tidak segelap itu warnanya. Kamu melirik ke arah samping, dan sesuai dugaanmu, Aomine yang menyentuh Remote itu.
"Kamu mau ngapain?" Tanyamu.
"Ada acara yang lagi kupengen tonton. Jadi, mau kuganti." Jawabnya.
"Acara apa?"
"Miss World 20xx. Ada banyak cewek-cewek berdada besar jadi aku pengen tonton."
"d-Dasar mesum! Dan tidak, aku mau nonton Under the Falling Leaves yang sekarang adalahEpisode terbarunya!"
"Ha? Drama cinta itu? Tontonan anak kecil ditonton."
"Itu tontonan anak kecil! Daripada nonton cewek-cewek yang jalan mondar-mandir!"
"Tapi dadanya besar, jadi tidak apa."
"Itu bukan 'tidak apa' Ahomine!"
Pertengkaran sempat terjadi antara kamu dan Aomine dikarenakan acara favorit kamu dan dia bentrokan (bahasanya.. ==") satu sama lain. Dan kamu terbesit ide yang menurutmu lumayan cemerlang untuk saat ini.
"Bagaimana kalau kita pakai cara damai?" katamu. Aomine menatapmu.
"Haa? Cara damai? Ini aja kita gak damai."
"Cara damai, dengan Jan-ken-Pon!"
"Itu? Tch, mainan anak kecil. Pantas saja dadamu tidak pernah besar."
"A-Apa?! Dasar mesum! Dan lagipula, apa itu berarti.. kamu takut aku mengalahkanmu?" muka Aomine mengerut.
"Heh. The one who can beat me is me. Meskipun ini bukan tentang basket, pasti tetap saja aku yang akan menang. Menyerah sajalah." Kamu menyeringai.
"Lihat saja dulu." Ucapmu menyeringai. Aomine dan kamu mengambil posisi.
"Jan-!"
"Ken-"
"PON!"
...
"AKU MENANG!" Kamu loncat-loncat kegirangan karena kamu berhasil meng-'gunting' 'kertas' nya Aomine. Aomine tertunduk pasrah karena dia mengeluarkan kertas.
"'The one who can beat me is me'? But you lost to me. Don't speak so high for yourself.." Ucapmu menyeringai.
"Aku ini nggak terlalu bisa bahasa inggris. Mentang-mentang menang suit doang bangga."
"Yang penting aku bisa nonton. Wee!" Kamu menjulurkan lidahmu mengejek Aomine lagi. Aomine yang kesal hanya ikut menonton acaramu sampai habis, dengan sedikit komentar-komentar yang membuatmu melempar penghapus ke arahnya.
"Tokoh utama ceweknya dadanya rata amat. Kasian yang jadi cowoknya." Kamu melemparkan penghapus.
"Ini apa coba gara-gara ngeliat cowoknya bareng sama cewek berdekatan gitu tokoh utamanya jadi nangis? Cengeng amat." Lemparan lagi.
"Apaan nih, katanya gak mau maafin, tapi tadi tokoh utama peluk dia dan—Graah! –name-! Kau tidak perlu melemparkanku penghapus! Dan dapat darimana penghapus sebanyak itu?!" Aomine berhasil menangkap penghapus yang kamu lemparkan untuk yang ketiga kalinya.
"Hmph. Habisnya, kamu terlalu banyak komentar. Dan itu... rahasia pribadi." Kamu memberikan seringaian mu (dan sedikit mencoba gaya Akashi) ke Aomine. Aomine yang melihatmu malah tertawa.
"ke-Kenapa malah tertawa?!"
"Ahahahaha, kamu seperti ingin menjadi seperti Akashi tapi kau tidak bisa! Dan lagipula, kamu tidak mempunyai aura yang mengintimidasi seperti dia! Akashi itu Oni tahu, menyeramkan, sadis, te-"
SYUUT! JLEB!
Kamu dan Aomine dengan cepat dan refleks menyingkirkan muka kalian dari sesuatu yang dilemparkan. Rambutmu sedikit terpotong, dengan sedikit rasa takut kamu dan Aomine menatap bersamaan, dan melihat tembok belakang kalian berdua. Terdapat gunting berwarna merah, mengkilap yang menambah kesan kesadisannya, tertancap di tembok itu. Kamu dan Aomine mengarahkan pandangan kalian berdua ke depan, dan melihat Kuroko dan Akashi yang sedang menyeringai sambil memegang gunting yang lain di salah satu tangannya.
Bener-bener deh. Berapa gunting yang dimiliki Akashi untuk melakukan ini dari tadi pagi sih? Kalian berdua memikirkan hal itu.
"Sepertinya mengataiku seperti itu menyenangkan ya Daiki. *snip* Bisa aku dengarkan kalimat *snip* selanjutnya?" kata Akashi sambil memain-mainkan gunting di tangan kanannya. Aomine menggeleng cepat. Akashi berjalan ke arah tembok dan mengambil gunting yang tertancap disitu. Lalu dia berjalan kearahmu. Takut apa yang akan dilakukan Akashi yang sedang dalam 'Angry-Mode'nya, kamu menutup matamu. Tapi, hal yang kamu duga tidak terjadi. Malahan, kamu merasa ada tangan yang menyentuh kepalamu dan mengelus-ngelus rambutmu. Kamu membuka matamu, dan mendapati Akashi yang mengelus rambutmu dengan muka sedikit-datar-sedikit-khawatir nya yang sangat jarang.
"Aku hanya ingin menyakiti Daiki. Tapi tadi aku sempat memotong beberapa helai rambutmu. Aku minta maaf untuk itu." Akashi meminta maaf? Bahkan Aomine dan Kuroko yang disitu sedikit terkejut atas permintaan maaf dari Akashi. Karena Akashi yang justru suka membuat orang-orang meminta maaf kepadanya, malah meminta maaf terhadapmu.
"Ah... tidak apa-apa kok. Hanya beberapa helai saja." Ucapmu sambil tersenyum. Akashi masih menatapmu dengan muka datarnya itu. Lalu, ia mendekati mukanya ke arah dirimu. Kamu yang terkejut menutup matamu. Mukamu memanas karena kamu merasakan mukanya semakin dekat dan nafasnya mulai terasa. Jantungmu berdebar-debar. Dan kamu merasa sesuatu menempel di atas dahimu. Kamu membuka matamu, melihat ke atas, dan melihat Akashi mencium dahi mu.
"hu-Huwaaa! Kenapa tiba-tiba menciumku lagi?!"
"Agar aku bisa melihat mukamu yang Tsundere itu." Ucapnya menyeringai. Mukamu semakin memanas.
"t-Tsundere janai!"
Aomine dan Kuroko memperhatikanmu dengan saksama. Mereka sedikit menatapmu dan Akashi dengan cemburu (Meskipun Kuroko dapat menutupinya dengan tampang datarnya itu). Aomine tampak memikirkan sesuatu lalu pergi ke kamarnya. Setelah itu, yang lain pun datang secara bergiliran.
-Night Time-
Sudah hampir tengah malam. Kamu yang tiba-tiba bangun karena merasa haus, turun ke lantai bawah dan ke dapur. Gelap dan sunyi, ya wajar saja. Yang lain pasti sudah tidur, dan hanya kamu yang terbangun sendiri. Saat kamu sampai di lantai bawah, kamu melihat lampu dapur menyala. Kamu menaikkan sebelah alis matamu. Seingatmu, setelah makan malam dan berkumpul-kumpul di ruang tamu, Akashi sudah meminta(memerintah) Kise untuk mematikan lampu dan sudah Kise lakukan. Kalau begitu, kenapa menyala? Apa ada seseorang disana? Kamu mengintip sedikit kedalam.
Aomine duduk di kursi meja makan membelakangimu dengan segelas air putih di mejanya. Tampak seperti memikirkan sesuatu. Kamu menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan dan Aomine menghadap ke arahmu.
"-name-"
"Konbanwa." Ucapmu sambil tersenyum, kamu mengambil gelas di lemari, menuangkan air, dan duduk di sebelahnya. Kamu meminum sebentar, dan Aomine tampak memperhatikanmu. Kamu yang merasa diperhatikan sedikit merasa risih.
"Umm.. Ada apa?" Kamu bertanya ke Aomine. Sempat terkejut dengan perkataanmu, dia hanya menggeleng sebentar sebelum menjawab pertanyaanmu.
"Uhh.. tidak. Dan ngomong-ngomong, kenapa kau disini? Ini sudah malam tahu. Akashi bisa saja memarahimu karena belum tidur."
"Aku bisa menanyakan hal yang sama denganmu. Dan lagipula, aku hanya kehausan."
"Memang tidur bisa haus apa? Manusia aneh."
"Kamu yang aneh, Ahomine."
"Tch, masih suka ngejek ya."
"Kau sendiri juga begitu."
"Hah? Memangnya aku ngejek apa coba ke kamu?"
"...'dada kecil'." Kamu memberikan tatapan tajam sejenak ke Aomine dan menghela nafas. Kamu dan Aomine selalu terbiasa saling bertengkar dan diakhiri dengan salah satu di antara kalian terdiam atau bahasa gaulnya adalah.. 'kicep'. Kamu sedikit penasaran, bagaimana cara kamu bisa mungkin sedikit saja akrab dengan Aomine.
"Hei, -name-." Perkataan Aomine sempat mengembalikanmu dari lamunanmu.
"Ya?"
"Besok malam."
"Haa?"
"Besok malam. Kau tidak sibuk kan?"
"Besok malam? Nggak sih, kalau pekerjaan rumahku udah dikerjain siang-siangnya. Memang kenapa?"
"Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau bisa?"
"Kemana? Tumben banget ngajakin."
"Dih, jawab aja susah amat. Kamu mau apa nggak?" Kamu memikirkan ajakan Aomine sejenak. Mungkin, ini salah satu cara Aomine untuk mendekatkan dirinya padamu. Mungkin, ini bisa berhasil. Kamu menatap Aomine dan mengangguk.
"Oke. Jam 7?" Aomine menyeringai.
"Jam 7. Dan jangan ngomong ke yang lain. Terlebih Akashi." Kamu mengangguk.
"Oke." Meskipun kamu sedikit bingung kenapa Aomine memintamu untuk merahasiakannya, tapi menurutmu tidak masalah. Toh, Akashi dan yang lainnya masih tidur kan? Apalagi kamar mereka di lantai dua. Pasti tidak akan kedengaran.
—Kecuali kalau ada seseorang yang memang tidak mempunyai keberadaan yang kuat datang di saat yang salah dan mendengar pembicaraanmu dan Aomine.
"Melakukan langkah yang besar sendirian itu tidak baik lho.. Aomine-kun."
-To be Continued-
Oke! Here's the chapter 4! Yak, menurut kalian, siapa yang nguping pembicaraan 'kamu' dan Aomine? Pasti pada tahu dong ya? Ya kan? Ya kan?/authormaksa. Oke-oke, sepertinya chapter hari ini sedikit lebih pendek dari yang kemarin, tapi gak masalah kan ya? Hehehe, kemungkinan chapter depan akan muncul di hari yang sama. Saya bakalan berusaha untuk ngupdate ini seminggu sekali, itu kalau memang saya lagi gak WB. Pokoknya, pasti bakalan update deh! Oke, yang bawah adalah Omake, dan sekian dari chapter 4~!
Omake
Kejadian saat siang setelah pertengkaranmu dan Aomine..
Murasakibara berjalan pelan di sekitar lantai dua hanya sekedar untuk iseng-iseng. Melewati ruangannya Akashi, ruangnya Midorima, ruangnya Kise, ruangnya Aomine, dan terakhir, ruangan yang kamu tempati. Murasakibara menghentikan jalannya dan memakan cemilannya ketika dia mendengar suara kecil yang terdengar dari kamarmu.
'itu suara apa ya? Kok kayak suara nangis gitu?' Murasakibara menempelkan telinganya di pintu ruanganmu.
"Huhuhu..." isakan tangismu terdengar pelan di telinga Murasakibara.
'-name—chin kok nangis? Kenapa ya?'
"Huhuhu... Sumpah itu Kise nya jahat bener.. Katanya dia cinta, itu kenapa... Huwaaaa..." tangisanmu semakin terdengar di telinga Murasakibara. Terdiam sejenak, Murasakibara menjauh dari ruangan yang kamu tempati dengan aura yang pekat mengelilinginya.
'Kise-chin buat –name—chin nangis. Gak bisa dimaafin.'
-Sementara Itu-
'Itu fanfic bagus bener.. ternyata kesalahpahaman nya si fem!Kuroko toh.. Ampe nangis aku..' kamu mengambil tisu di sebelah laptopmu dan tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong yang asalnya dari Kise. Kamu menaikkan sebelah alismu karena heran.
—Kamu tidak tahu, kalau tangisanmu tadi membuat Murasakibara salah paham.
Last Word!
Review? :3
