Aku kembali! Maaf lama! Sebenernya saya niat nyelesain chapter ini setelah UKK selesai waktu kelas 8, tapi saya malah ngaret-ngaret sendiri gara-gara keasyikan jadi Silent Reader di fandom ini*author nangis sambil gigit saputangan*/jeger/jorokheh. Tapi, chapter terbaru sudah tersedia! Dan, bagi kalian yang menunggu moment tersendiri bersama Aomine, ini dia! Oh, dan tentu saja, saya selipkan moment kecil dengan seseorang sebelum moment penting! Sip, langsung aja tanpa basa-basi, Happy reading~!

Sebenernya saya kepikiran buat masukin Kagami/Momoi atau dua-duanya disini, kira-kira gimana readers? Tambahin atau nggak~? Saya bakalan masukin konflik kok tenang~ Tidak akan saya buat fanfic dengan doki2 fluff semata, bakalan ada yang bikin seru lagi~! Konflik ada di pikiran saya tentunya kufufufufu~/dor

Saya bahagia banget sudah mendapatkan review sebanyak ini saat saya belum melanjutkan cerita ini. Untuk yang me-review, fav, dan follow, terima kasih banyak! Maaf gak bisa jawab satu-satu, tapi aku sayang sama kalian semua yang nge-review, arigatou~! ;7;


Disclaimer: Kiseki no Sedai sepenuhnya milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanya mempunyai plot ini dan bukan apa-apa lagi.

Summary: Kuroko yang OOC, dan Aomine yang mengajakmu pergi malam ini. Aomine ngatain kamu ge-er?! /JEPRET!/"...Tetsuya"/"Aku yang memungutnya"/"Arigatou, Aomine"/DLDR!


6 Miracles in School?!

Chapter 4: Night-Viewing Sky

.

.

.

.

.

Afternoon, 14.00 PM

Kamu, yang sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu menatap jam dengan tatapan yang tidak sabaran. Kamu merasa kalau waktu berjalan begitu lambat, padahal kamu sudah melakukan banyak hal dari tadi pagi. Seperti memasak untuk laki-laki berambut pelangi, menemani Kuroko ke toko buku, dan menyelesaikan pekerjaan rumahmu.

Kamu menghela nafas. Kamu merasa kalau kamu tidak terlalu memikirkan permintaan Aomine yang mengajakmu pergi malam ini, tapi entah kenapa kamu tidak bisa berhenti melihat waktu dan merasa (sangat)tidak sabaran menunggu malam tiba.

Kamu kembali memikirkan apa yang akan dilakukan Aomine saat kamu dan dia 'kencan' nanti malam. Apa dia akan membawamu ke restoran mahal dan bersikap gentle? Tidak. Aomine tidak akan ke restoran mahal. Dia lebih memilih untuk membuang uangnya untuk membeli majalah 'Mai-chan' itu dibanding mentraktirmu makan. Diajak ke Love Hotel lalu melakukan 'itu'? Kamu menggeleng-gelengkan kepalamu dengan cepat. Tidak. Tidak mungkin. Mereka belum cukup umur dan Aomine tidak semesum itu untuk bertindak. Tapi.. bisa jadi kan? Malam-malam. Kamu disuruh merahasiakannya dari yang lain. Cukup memberikan bukti. Tidak! Hindari pemikiranmu yang sudah diambang batas itu! Aomine tidak akan seperti itu! ..Tapi.. itu mungkin kan?

"Ah mou! Berhentilah berpikir hal-hal bodoh seperti itu! Ahomine itu tidak akan seperti itu!" kamu teriak keras dan head bang ke meja berulang kali. Meskipun sakit, kamu berpikir mungkin itu akan membuat pikiran tentang hal-hal seperti itu menghilang.

Kamu menghela nafas. Kamu memperhatikan jam kembali. Rumah tampak sunyi. Ya, Aomine, Midorima, Akashi, dan Murasakibara sedang keluar entah kemana. Kise, seperti biasa, melakukan part-time job nya sebagai model. Dan Kuroko? ..Dia menghilang. Bahkan kamu heran dia dimana. Yang ada di rumahmu, hanya ada kamu, suara jam berdetik, dan suara seruput orang sedang minum.

...Tunggu. Orang minum?

Kamu mengarahkan pandanganmu ke depan. Laki-laki yang hanya tinggi beberapa cm darimu duduk di depanmu sambil menyeruput Vanilla Milkshake nya. Kamu nyaris jatuh dari kursimu karena kaget dengan keberadaannya yang tiba-tiba.

"Doumo." Sapanya yang dibilang seperti biasa.

"k-Kuroko-kun! Sejak kapan kau disitu?!"

"Beberapa menit sebelum kamu berteriak tentang Aomine-kun. Aku sudah menyapamu tapi kamu tidak sadar."

"A-ah souka... m-Maaf baru sadar."

"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa."

Kamu hanya mengangguk kecil dan diam. Sejujurnya, dari antara semua, kamu masih kurang bisa beradaptasi dengan Kuroko. Kamu dengannya memang yah, sama-sama dicalonkan untuk menjadi tunangan. Tapi, kamu merasa hubunganmu dengannya hampir mirip dengan teman biasa. Sahabat malah. Kamu belum bisa merasakan debaran kencang seperti Akashi dan yang lain. Bahkan, kamu saja masih belum bisa membuat dirimu lebih menyadari dengan keberadaannya Kuroko. Dia bisa saja muncul dan menghilang tiba-tiba. Kamu menghela nafas. Kamu tidak bisa memikirkan topik yang bagus untuk berbicara dengan Kuroko.

"-name—san." Lamunanmu berhenti dan mengarahkan pandanganmu ke Kuroko.

"Ya?" tanyamu. Kuroko menatapmu lurus. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah tempat duduk di sampingmu. Dan entah kenapa, dia merentangkan tangannya di sekitar kepalamu dan membuatmu bersenderan di pundaknya. Kamu sedikit kaget. Kamu ingin kembali duduk seperti biasa tapi karena tangannya yang lebih besar darimu itu menahanmu, kamu tidak bisa apa-apa lagi dan mengikuti kemauannya. Diam-diam, kamu merasakan kalau posisi seperti ini nyaman.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku Kuroko-kun. Ada apa?" tanyamu. Kuroko diam sejenak. Lalu dia menghela nafas dan menyenderkan kepalanya diatas kepalamu.

"-name—san... Nanti malam kamu akan pergi dengan Aomine-kun kan?" Kamu terkejut dengan hal ini. Kuroko tahu? Bagaimana bisa?

"b-Bagaimana kau bisa tahu?" tanyamu pelan.

"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua kemarin malam." Jawabnya singkat.

"a-Ah, Souka.. Umm.. Kuroko-kun, bisakah kau merahasiakannya dari yang lain?" tanyamu. Kuroko mengangkat kembali tangannya dan kamu bisa duduk seperti biasa. Kamu menatapnya lurus ke matanya.

"Bukannya kenapa-kenapa, tapi.. Aku sudah berjanji untuk merahasiakannya. Jadi.. bisakah?" kamu sedikit memohon terhadapnya. Kuroko menatapmu dengan diam. Dadamu sedikit berdetak dengan kencang menunggu jawaban dari Kuroko. Tiba-tiba, Kuroko memegang tanganmu dan kepalanya berada di pundakmu. Mukamu memanas karena kamu dapat merasakan nafas dan bibir tipis Kuroko di pundakmu.

"K-Kuroko-kun?"

"..Tetsuya." Katanya.

"e-eh?"

"Panggil aku Tetsuya. Aku tidak akan mengatakan apa-apa dengan yang lain asalkan kamu mau memanggilku dengan nama depanku." Kuroko mengatakannya langsung kearah telingamu. Nafasnya yang terasa geli itu membuat mukamu semakin memanas.

"b-Baiklah.. Kuro—t-Tetsuya-kun." Kamu menjawab dengan pelan. Entah kenapa, meski kamu tidak melihatnya, kamu merasa kalau Kuroko tersenyum karena jawabanmu.

Kuroko kembali duduk seperti semula—meskipun masih memegang tanganmu. Tangan kanannya menyentuh pipimu dan mengelusnya pelan. Lalu, tanpa kamu duga, dia mencium dahimu pelan. Mukamu kembali memanas karena perlakuan Kuroko yang menurutmu sudah Out of Character saat ini.

"Muka –name- memerah. Manis deh." Katanya tiba-tiba. Kamu yang kaget karena kamu tidak mendengar embel-embel '–san' darinya membuatmu berteriak malu.

"m-Mou, jangan frontal seperti itu!"

"Tapi untuk apa aku berbohong. Menyenangkan lho, melihat muka –name- yang sedang merah tambah memerah seperti itu."

"t-Tetsuya-kun!"

-Skip Time-

Kamu bersiap-siap untuk jalan bersama dengan Aomine. 20 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Aomine sudah berangkat 10 menit yang lalu. Sore tadi, dia bilang padamu kalau rencananya dia akan pergi duluan agar kamu dan dia tidak ketahuan oleh Akashi—setidaknya untuk saat itu. Kamu hanya mengangguk setuju dengannya.

"Tumben Aomine bisa berpikiran seperti itu." Katamu sambil membenarkan pita yang berada di sekitar dadamu dan selesai. Kamu mencoba untuk berpose di depan cermin untuk memastikan apa bajumu sudah rapi atau belum.

Malam ini, kamu menggunakan baju model One Piece biru muda yang panjangnya di atas lututmu. Di sekitar dadamu, ada pita renda berwarna biru tua yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Kamu juga memakai celana putih selutut yang ujungnya ada motif bunga-bunga kecil. Meskipun hampir musim panas, malam ini cukup dingin. Makanya kamu memakai cardigan warna putih yang modelnya seperti jaket. Rambutmu kamu dibiarkan digerai. Yah, cukup simple, tapi kamu (meskipun tidak mau mengakuinya) ingin terlihat manis di depan Aomine. Kamu mengambil tas kecilmu lalu turun kebawah.

Saat kamu turun, Akashi, Kuroko, Murasakibara, Kise, dan Midorima. Karena kamu melihat mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, kamu berencana untuk pergi diam-diam dan hanya meninggalkan pesan di meja makan.

.

.

"Kenapa kamu mengendap-ngendap seperti itu –name-cchi?"—Tapi sepertinya rencanamu hancur lebur karena pertanyaan polos dari Kise.

"a-Ah, aku tidak mengendap-ngendap. Hanya perasaanmu saja Kise-kun." Jawabmu tenang sambil menyembunyikan rasa panikmu di dalam hatimu. Akashi memperhatikanmu yang membuatmu begitu risih. Dia tidak akan mengetahui nya begitu saja kan? Dan lagi pula, Kuroko sudah berjanji denganmu akan tetap diam dengan satu syaratnya tadi.

"Kau mau kemana malam-malam seperti ini –name-?" tanya Akashi.

"Tadi Hori-chan mengajakku untuk makan malam bersama diluar. Boleh kan?" kamu membuat-buat alasan agar Akashi tidak mencurigaimu untuk pergi malam-malam dengan Aomine.

"..." Akashi diam. Dia masih menatapmu dengan mata Heterochrome nya. Kamu merasakan keringat dinginmu mengalir. Akashi menghela nafas.

"Jam 10." Kamu mengedip-ngedipkan matamu seakan tidak yakin mendengar perkataan Akashi dengan benar.

"m-Maaf, tapi apa?"

"Kau boleh keluar, tapi kau harus sampai rumah paling malam jam 10." Kamu mau tidak mau mengeluarkan senyuman lebarmu. Kamu segera memakai sepatu dan membuka pintu rumah.

"Jaa, Ittekimasu!"

BLAM!

Akashi memperhatikan sekali lagi pintu yang baru saja ditutup oleh dirimu. Menghela nafas, lalu menatap Kuroko. Kuroko yang merasa diperhatikan menatap Akashi. Akashi menyeringai.

"Aku ini tahu segalanya Tetsuya. Aku bahkan tahu kalau alasan –name- tadi itu sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat untuk bertemu Daiki malam ini." Kuroko nyaris menjatuhkan minuman kesukaannya karena terkejut.

"...Lalu kenapa Akashi-kun membiarkannya pergi?" tanyanya pelan. Akashi masih memakai seringainya di mukanya.

"Aku hanya membiarkan Daiki untuk bersenang-senang malam ini sebelum menu latihannya akan kutambahkan dua kali lipat." Kuroko merinding mendengar kata menu latihan yang akan dilipat gandakan. Sedang Akashi hanya menyeringai dan melihat jam.

'Lagipula.. Bukan kompetisi namanya kalau diriku terus me-monopolinya.' Batin Akashi dan dia berdiri untuk kembali ke kamarnya.

-Other Place, Near Maji Burger Restaurant-

Kamu berlari kecil ke tempat tujuanmu, Maji Burger. Saat kamu sudah sampai, kamu mencari sosok laki-laki yang berkulit tan itu. Tidak sulit menemukannya, karena rambutnya yang biru tua itu yang paling mencolok diantara kerumunan orang-orang. Kamu berjalan mendekatinya. Aomine yang menyadari keberadaanmu hanya melambai ke sosokmu. Kamu mempercepat langkah mu.

"Osoi na. Berdandan itu kan tidak perlu lama-lama." Kata Aomine saat kamu sudah berada di sampingnya. Kamu menggembungkan pipimu.

"Aku tidak berdandan sama sekali Aomine. Dan yang membuatku lama itu karena aku berhasil dicegat oleh Akashi-kun." Dan terimakasih juga karena Kise-kun yang menghancurkan rencanaku untuk pergi diam-diam. Kamu menambahkan kalimat terakhirmu itu di dalam batinmu. Kamu menghela nafas dan memperhatikan Aomine. Dia hanya memakai jeans hitam, jacket biru tua yang hampir sewarna dengan rambutnya, dan sebuah t-shirt polos berwarna putih dibaliknya. Dan, dia memakai sepatu olahraganya entah mengapa.

"...Ada apa? Apa aneh dengan caraku berpakaian seperti ini?" Aomine merasa risih karena diperhatikanmu sejak tadi. Kamu hanya menatapnya dan mengeluarkan senyuman kecil.

"Tidak kok. Menurutku cukup keren." Aomine sedikit terkejut karena perkataanmu. Kalau ini bukan malam-malam dan kulitnya yang kecoklatan itu, mungkin kamu bisa melihat semburan merah tipis yang ada di sekitar mukanya.

Aomine berdeham sedikit dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Lalu, tanpa diduga, dia menepuk-nepuk kepalamu, meskipun beda dengan yang biasa dilakukan oleh Kuroko, kamu menganggap kalau caranya yang keras itu menyembunyikan rasa malunya.

"Kau juga manis kok... Lumayanlah untuk seseorang yang berdada kecil." Entah mengapa, kamu tahu kalau dia mengataimu 'dada kecil' lagi untuk menyembunyikan rasa malunya. Kamu tertawa kecil dan menarik ujung jaket Aomine. Aomine yang ditarik menghadap ke arahmu lagi.

"Kau yang mengajakku untuk jalan-jalan, jadi kita mau kemana?" tanyamu tersenyum. Bukannya menjawab pertanyaanmu, kamu malah dipegang pergelangan tangannya dan ditarik oleh Aomine. Kamu nyaris kehilangan keseimbanganmu karena tempo jalan Aomine yang lumayan cepat, tapi kamu berhasil menyeimbangkan kembali dirimu.

"Mou, Aomine, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kita mau kemana?" tanyamu. Kamu dapat melihat seringai kecil tertempel di mukanya. Dan tiba-tiba terjadi. Aomine menarik badanmu dalam pelukannya. Mukamu memanas. Dadamu berdebar keras. Kamu sempat khawatir kalau debaranmu itu bisa dirasakan Aomine dengan jarak sedekat ini.

"Tenang saja. Kau akan tahu. Tapi tidak sekarang. Ini kejutan." Aomine membisikkan kata-kata itu tepat di telingamu. Mukamu semakin memanas. Aomine menyeringai dan menepuk-nepuk kepalamu. Lagi. Tunggu, sejak kapan Aomine mempunyai kebiasaan Akashi yang selalu menyeringai?

"Buahahahaha, mukamu kayak udang rebus tuh. Kau begitu tertarik padaku ya?!" Aomine tiba-tiba ketawa, bahkan dia malah mengacak-ngacak rambutmu. Kamu menggembungkan pipimu.

"k-Kalau aku membawa penghapus-penghapusku, aku sudah melemparkannya padamu, jangan salah sangka kalau aku tertarik padamu ya!" dan tawa Aomine semakin kencang dan kamu menginjak kaki nya kuat-kuat. Aomine sempat meringis karena kesakitan sebelum kamu dan Aomine akhirnya berjalan.

Kamu dan Aomine sudah jalan berdampingan selama beberapa lama. Kamu sadar kalau kalian berdua sudah menjauhi daerah yang kalian tinggali. Entah apa atau kenapa kakimu masih belum mengeluh karena kecapaian padahal kamu sudah jalan begitu jauh dan begitu lama.

"...Aomine, sampai kapan kita jalan seperti ini?" kamu bertanya padanya. Tapi dia hanya diam dan terus berjalan di depanmu. Kamu menghela nafas dan tetap mengikutinya.

Suasana hening. Kamu mulai tidak tahu daerah yang saat ini kamu lewati. Bahkan, daerah nya mulai tidak berpenghuni, hanya ada beberapa rumah disana. Kamu melihat ke sana kemari, tidak mengetahui kalau Aomine berhenti di tempat dan membuatmu menabraknya.

"h-Hey! Bilang-bilang kalau berhenti!" katamu sambil mengelus hidungmu yang kesakitan karena sempat menempel ke punggung Aomine. Kamu bingung karena Aomine yang mendadak berhenti. Pandangan depanmu terhalangi olehnya. Begitu kamu mau mencoba melihat arah depan dari arah samping, Aomine menutup matamu dengan salah satu tangannya, dan yang satu lagi seakan mengikat kedua tanganmu.

"e-Eh?! Aomine, apa yang kau lakukan?!" Kamu berusaha melepaskan tanganmu dari genggaman tangannya, tapi tetap saja kau tidak bisa. Kamu merasa Aomine menyeringai meskipun kamu tidak bisa melihat. Aomine mendekatkan mulutnya ke daun telingamu. Kamu bisa merasakan nafasnya yang geli itu.

"Ikuti saja arahanku oke? Kau hampir sampai ke kejutanmu." Katanya. Meskipun kamu masih bingung, tapi kamu putuskan untuk mengangguk dan percaya padanya. Aomine dengan pelan menuntunmu ke arah yang kurang kamu ketahui dengan pasti. Saat berjalan, kamu sempat merasa kalau perjalananmu itu sedikit menanjak. Kamu merasa Aomine berhenti dan mengangguk (meskipun kamu tidak melihatnya).

"Nah. Sudah sampai." Aomine melepaskan tangannya dari matamu, kamu sempat mengedip-ngedipkan matamu untuk membiasakan diri setelah pandanganmu ditutupi oleh Aomine, kamu melihat ke depan, lalu kau membulatkan matamu dengan takjub.

"i-Ini..."

"Heh. Keren kan?" Yang kamu lihat adalah pandangan langit malam dicampur dengan lampu-lampu kota, langit itu sendiri tampak cerah hingga menampilkan beragam bintang yang tersebar di seluruh pelosok bintang itu. Di sekitar bukit (menurutmu) itu terdapat satu pohon besar, yang daun-daun nya berguguran yang melengkapi pemandangan yang kamu lihat itu. Kamu begitu takjub sampai tak bisa berkata apa-apa.

"Daripada bengong kayak apaan tahu gitu, mending duduk deh." Kamu sadar dari lamunanmu dan melihat Aomine sudah duduk di bawah pohon, menepuk-nepuk tempat di sebelahnya mengisyaratkanmu untuk duduk di sebelahnya. Kamu mengangguk, dan segera duduk disebelahnya.

Kamu, masih belum puas, memperhatikan pemandangan langit itu dengan berbinar-binar. Mukamu sedikit merona karena dinginnya malam itu, sambil tersenyum lembar. Kamu tidak menyadari, kalau Aomine sedari tadi memperhatikanmu. Aomine teringat sesuatu, dan mengambil barang yang ada di sakunya dan menusuk pipi kirimu untuk mendapatkan perhatianmu. Kamu menengok ke arahnya.

"Kenapa?" Tanyamu.

"Nih." Aomine meletakkan sesuatu di tanganmu, dan setelah kau menerimanya, kau sadar kalau itu Handphone mu, yang baru kau ingat kau sempat menjatuhkannya saat para Kiseki no Sedai ada di rumahmu. Sungguh, kamu benar-benar lupa dengan mesin elektronikmu itu.

"Bagaimana kau bisa—"

"Aku yang memungutnya." Aomine memotong pertanyaanmu.

"Saat itu terjatuh, aku memang sempat mengambilnya, dan menge-check apa alat itu masih hidup atau tidak. Karena masih, jadi aku menyimpannya dan berniat untuk mengembalikannya padamu." Lanjutnya panjang lebar.

"Kamu nggak ngeliat apa-apa yang ada di Handphone ku kan?"

"Idih, ngapain! Aku tidak tertarik dengan isi Handphone mu!"

"Masa? Gak percaya ih.."

"..Dibilangin malah gak percaya. Ya udah sini balikin hape nya, buat aku aja."

"Ih, apa-apaan! Nggak! Iya, iya aku percaya!"

"Nah gitu dong.."

Kamu terdiam sebentar dan memperhatikan Handphone mu. Permukaannya masih mulus, dan saat kamu mencoba menyalakannya, batre Handphone mu penuh, yang menandakan sudah di re -charge ulang. Memang, seingatmu, Aomine mempunyai Handphone dengan merek yang sama denganmu. Makanya, batre Handphone mu bisa diisi ulang olehnya. Itu menandakan kalau Aomine memang menjaga barangmu itu sampai ia mengembalikannya padamu. Kamu tersenyum kecil, memasukkannya ke dalam tas sebelum mengarahkan pandanganmu ke Aomine.

"Arigatou, Aomine.." katamu sambil tersenyum ke Aomine. Aomine sedikit kaget dengan perlakuanmu yang satu itu, mengingat kalau kamu tidak pernah seperti itu padanya. Dan tiba-tiba..

JEPRET!

Kamu mengerjapkan matamu. Kamu melihat Aomine memegang Handphone nya, dengan posisi sedang memotret. Mukamu memanas, karena sepertinya kamu merasa kalau Aomine memotret dirimu yang tersenyum barusan. Tapi firasat mu hilang seketika ketika kamu melihat Aomine menjulurkan lidahnya dan berbicara dengan nada mengejek.

"Ih, ge-er masa, kebetulan pemandangan langit yang dibelakangmu ada bintang jatuh, makanya kufoto."

"a-Apa?!"

"Kamu ngerasa aku nge-foto kamu?! Sori, tapi gak. Buahahaha!"

"i-Ih, siapa yang ngerasa! Ahomine!"

JDUK!

"Wadaw! Oi –name-! Kau tidak perlu memukulku tahu!"

"Hmph. Siapa suruh. Baaaaka."

"t-Teme..." Kamu berdiri dari tempat dudukmu, melihat pemandangan malam itu sekali lagi, lalu menengok ke arah Aomine yang masih duduk dan memperhatikanmu yang sedang berdiri. Kamu mengulurkan tanganmu, dan membuat Aomine sedikit bingung. Kamu menghela nafas sebentar.

"Jangan bingung gitu, besok kita sekolah. Dan kalau kita tidak pulang sebelum jam sepuluh, Akashi-kun bisa marah lho.. Ayo cepat kita pulang!" katamu. Aomine mengerjapkan matanya sekali sebelum menerima uluran tanganmu. Kamu membantunya berdiri, lalu kamu dan Aomine pulang bersama.

~Skip Time~

Late Night, 23.00 PM, Aomine Daiki's Room

Aomine belum tidur. Kedua tangannya berada di bawah kepalanya, dan pandangan matanya masih menghadap ke atap kamarnya. Ia mengedipkan matanya berulang kali, sebelum membuka Handphone nya, dan tersenyum melihat Wallpapernya yang baru-baru ini diganti itu.

"Cih. Bisa-bisanya dia percaya sama perkataanku tadi. Dasar.."

Ia menutup Handphone nya, dan meletakkannya di meja samping tempat tidurnya. Dan mengarah ke arah kanan, dan tertidur.

.

.

Yang kamu tidak tahu adalah..

.

.

Kalau Wallpaper di Handphone saat ini, adalah potretan tadi saat kamu tersenyum ke arahnya, yang didampingi oleh pemandangan langit malam bercampur lampu-lampu kota.

.

.

To be Continued


Hai hai! Huwaaa, maaf banget udah lama gak update! Sumpah, saya sempet galau gara-gara gak bisa buat fanfic pas dengan ulang tahun Kise sama Midorima. Makanya, mumpung hari ini ulang tahunnya Aomine, sekalian aja saya update chapter khusus moment Aomine hari ini (meskipun telat dan ini udah malem/dor) Jadi, Happy Birthday Aomine~! Makin dim ya~/ditimpukbolabasket Oke, chapter berikutnya akan saya coba tulis lebih cepat, dan silahkan nikmati Omake nya~


Omake

Kuroko hendak berjalan menuju toilet, yang letaknya bersebelahan di kamarmu. Saat ia melewati kamarmu, ia mendengar musik yang cukup keras sehingga terdengar oleh Kuroko dari luar.

'-name- kalau mendengarkan lagu tidak terlalu suka memakai earphone nya ya.. Kalau sekencang itu kan, Akashi-kun bisa marah..' batin Kuroko. Ia hendak ingin lewat dari kamarmu, tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar suara yang tak asing dari kamarmu.

Kimi no hikari ga tsuyoi hodo boku wa jiyuu ni nareru
Hikidashiaeru chikara de koko de koko de tashika ni

Kimi ga jiyuu ni naru hodo boku no kage ga kiwadatsu

Sore wa kiseki ni mo makenai tsugi no tegakari to...yoberu

Kuroko terkejut. Dia yakin sekali kalau itu suaranya. Belum selesai dari rasa terkejutannya, Kuroko mendengarmu teriak.

"Suaranya.. Aaah suara Tetsuya-kun itu selalu yang terbaik!"

DEG!

PRAK!

Ketika kamu mendengar Character Song nya Kuroko, kamu mendengar suara yang cukup keras dan dekat dari kamarmu. Kamu mematikan lagunya, dan berjalan ke arah pintu. Saat kamu membukanya, kamu melihat Kuroko kesakitan dan mengelus-ngelus tangannya.

"Tetsuya-kun? Kenapa?" tanyamu. Kuroko melihatmu dengan tatapan datarnya.

"Ah tidak, hanya tidak sengaja kena tembok kok.." Jawabnya. Kamu menatapnya heran, tapi memutuskan untuk menghiraukannya.

"Ya sudah.. Lain kali hati-hati ya Tetsuya-kun.." Lalu kamu menutup pintu kamarmu lagi dan menyisakan Kuroko sendirian di depan kamarmu lagi.

.

.

Yang kamu tidak tahu adalah kalau Kuroko sempat tidak sengaja meng- Ignite Pass tembok sebelah kamarmu... Dan alasannya? Sayang kamu tidak bisa melihat rona merah yang muncul di mukanya setelah kamu masuk kamarmu.