I'M BAAAAACCCCKKKKK/capsjebol Sekarang sudah saatnya 'kamu' mulai masuk ke School Life~! Dan, ada yang mau saya masukin Kagami sama Momoi ya disini? XDa oke, oke~ Saya coba pikirin gimana masukin mereka berdua kedalam cerita ini. Oh, apa perlu masukin Ogiwara juga?/nakudahkebanyakan

Pada suka atau nggak Kuroko yang OOC gitu? Huwaaa maaf kalau gak suka ya ;w;)/ Tapi saya bakalan coba berusaha ngebuat moment bersama Kuroko yang gak terlalu OOC seperti yang sebelumnya XD

Oh iya, untuk sekedar Informasi, disini Kisedai masih berumur 2 SMP~ Jadi, sifat mereka belum terlalu berubah kayak di Manga nya~/gakadayangnanya

Dan beribu-ribu juta terima kasih karena review, favs, dan follow kalian semua! Tanpanya, aku bakalan susah ngelanjutin cerita. I Love you all! Mumumumumu :*/dibacok

Juga, special thanks untuk Misamime-san, yang ngasih PM (meskipun telat juga bacanya/dor) tentang keberadaan fanfic ini! Tenang, cerita masih dilanjut kok! Saya aja yang gak punya waktu dan ide~/ditabok

Oh iya, ada yang udah baca Kurobas chap 240? AkaFuri pair is official now nyahahahaha~!/stab

Sip, selamat menikmati chapter kelima dari 6 Miracles in School~ Happy Reading all~!

Disclaimer: Kalau Kuroko no Basuke, milik saya, gak bakal saya buat Kuroko nangis kayak di chapter Q226 ;w; Tapi sayang, KnB punya Fujimaki Tadatoshi-sensei~

Summary: School Life mu dimulai! Pagi yang ribut dengan acara bertengkar Aomine-Kise-Midorima, pembicaraanmu dengan Hori-chan, dan.. Penggaris karet?/"Aominecchi cepetan ke kamar mandinya!"/"Teme! Kacamataku rusak!"/"Ternyata ada yang kesadisannya mirip Akashi-kun kalau sudah marah."/ ReaderxGoM! DLDR!

6 Miracles in School?!

©Hikaru Tamano

Chapter 5: Broken glasses and.. Rubber Ruler?

.

.

.

Pagi yang tenang. Kamu masih asik di dalam tempat tidurmu, di dalam selimutmu yang sangat nyaman itu. Kamu hendak ingin tetap tertidur di tempat tidurmu, sampai—

GEDUBRAK!

"AOMINECCHI CEPETAN KE KAMAR MANDINYA! INI UDAH KEBELET-SSU!"

"BERISIK KISE! INI JUGA BARU MASUK! SABAR DONG!"

"KALIAN BERDUA BERISIK-NANODAYO! AOMINE, CEPETAN KELUAR!"

"KAMU JUGA BERISIK MEGANE! DIBILANGIN INI JUGA BARU MASUK!

—Yap, pagi yang sempat tenang itu, dihancurkan oleh suara teriakan yang keras dari sebelah ruanganmu. Kamu heran, letak kamar mandi laki-laki itu cukup jauh dari kamarmu, tapi tetap saja suara teriakan itu terdengar.

'Oh iya, ini kan hari senin..' ucap batinmu. Dengan rasa enggan, kamu bangun dari tempat tidurmu, merenggangkan lengan-lenganmu keatas, sebelum membuka tirai jendela di kamarmu. Sinar matahari memang belum terlalu terang, tapi kamu suka pemandangan pagi yang masih ada sisa-sisa malam itu. Tersenyum melihat pemandangan itu, kamu mempersiapkan baju seragam mu, handukmu, dan bergegas ke kamar mandi.

~Skip Time~

Setelah merapihkan dasimu, dan memperhatikan dirimu di cermin. Kamu tersenyum. Meskipun sekolah masih satu jam lagi, kamu memang suka bangun pagi dan datang duluan ke kelas. Tipikal murid teladan memang, tapi kamu mempunyai rutinitas seperti itu bukan karena hal itu, tapi karena kamu memang suka udara pagi yang masih dingin dan sejuk itu. Baru kamu mau mengambil kotak kacamatamu, tiba-tiba terdengar suara keras lagi.

"MIDORIMACCHI CURANG! SETELAH AOMINECCHI ITU KAN AKU-SSU! KENAPA KAMU YANG MASUK?!"

"SIAPA SURUH KAMU KELAMAAN-NANODAYO. MENDINGAN MASUK DULUAN."

"TAPI KAN AKU DULUAN-SSU! MIDORIMACCHI AKU INI KEBELET!"

Kamu menghela nafas mendengar teriakan-teriakan itu. Saat akhir pekan memang tidak seperti ini, tapi kalau lagi hari sekolah, beginilah rutinitas mereka. Pertengkaran kamar mandi antara Aomine-Kise-Midorima. Terkadang kalau dalam beberapa hal, Murasakibara bisa ikut-ikutan dalam pertengkaran itu. Tapi biasanya sih, Akashi yang selalu membuat mereka diam.

'Seharusnya Akashi-kun mulai muncul disitu sekitar 3.. 2..

..1'

Hening. Begitu kamu selesai menghitung mundur, teriakan-teriakan di sebelah kamarmu berhenti seketika. Merasa sudah seperti biasa, kamu memakai kacamatamu, memasukkan kotaknya di tas, dan menenteng tas itu dan membuka kamarmu. Kamu turun ke bawah, sudah melihat Murasakibara dan Kuroko sedang memasak di dapur. Kamu lihat, mereka masih memakai pakaian tidur mereka, dan rambut Kuroko yang masih acak-acakan itu. Kamu menghampiri mereka berdua.

"Ohayou.." sapamu.

"Ah, -name—chin ohayou~ Sudah siap sekolah saja seperti Aka-chin~" Murasakibara membalas sapaanmu. Kamu hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Memang, selain kamu, yang selalu sudah siap di pagi-pagi itu memang Akashi. Tipikal orang teladan, Akashi memang sudah tidak perlu ditanya lagi.

"Begitulah. Ohayou k-Tetsuya-kun, rambutmu masih berantakan seperti biasa tuh.." Kamu merentangkan tanganmu ke sekitar rambut Kuroko dan mengelus-ngelusnya pelan, untuk merapihkan rambutnya. Kuroko hanya memperhatikanmu merapihkan rambutnya. Setelah rapih, kamu tersenyum.

"Nah, selesai~" katamu.

"Arigatou... –name-" jawab Kuroko. Kamu hanya tersenyum lagi. Sementara itu, kamu dan Kuroko merasa diperhatikan oleh Murasakibara, dan kalian mengarahkan pandangannya ke Murasakibara.

"Douishite, Murasakibara-kun?" tanyamu dan Kuroko bersamaan. Murasakibara masih menatap kalian berdua.

"Hmm~ Sejak kapan –name—chin memanggil nama depannya Kuro-chin? Apa kalian sedekat itu~?" tanyanya. Sontak, mukamu sedikit memanas dengan pertanyaan itu.

"y-Yah, tidak kenapa-napa. Akulah yang ingin memanggil Tetsuya-kun dengan nama depannya. Y-ya kan?" Kamu berbohong soal alasan yang sebenarnya, dan mengalihkan pandanganmu ke Kuroko untuk mendapatkan kerja sama. Beruntung, Kuroko menyetujuinya.

"Iya. Hanya saja, sebagai gantinya, nanti dia akan mentraktirku Vanilla Milkshake nanti sepulang sekolah." Jawab Kuroko. Tunggu, Milkshake?

Kamu menatap Kuroko heran, sedangkan Kuroko hanya menatapmu dengan tatapan 'sebagai-bayaran-untuk-minta-kerjasama' . Terpaksa, kamu mengangguk untuk menyetujuinya.

"Selain itu, kalian berdua belum mandi kan? Gih sana mandi, keburu dimarahi Akashi-kun lho.." katamu.

"Lalu, sarapannya~?"

"Nanti kubuatkan!"

"Roger~" Dengan begitu, Murasakibara dan Kuroko keatas untuk ke kamar mandi. Sementara kamu, menggulung lengan seragam mu sedikit keatas untuk melanjutkan apa yang akan mereka masak.

"Hmm.. Telur, dan nasi.. Mereka mau buat Omelette ya? Baiklah.." Mengambil beberapa telur, kamu bersiap untuk memasakkan Omelette untuk sarapanmu, dan yang lainnya.

Kamu memanaskan wajan, lalu melelehkan mentega diatasnya. Sementara itu, kamu memecahkan dan mengocok telur sambil menunggu lelehan mentega. Aroma mentega sudah tercium, kamu mulai menuangkan kocokan telur ke wajan. Dengan gampang kamu mengangkat wajan ke atas, dan melipat telurnya.

"Pagi seperti biasanya ya." Kamu terkejut, dan mengarahkan pandanganmu ke belakang, yang ternyata adalah Akashi.

"Mou, Akashi-kun.. Kau mengagetkan ku.." Katamu. Akashi tertawa pelan.

"Begitukah? Maafkan atas ketidaksopanan ku kalau begitu."

"Tidak apa-apa kok. Tidak usah berminta maaf seperti itu."

"Baiklah kalau begitu.." Kamu kembali melanjutkan masakanmu. Sementara Akashi tetap disitu memperhatikanmu sambil meminum teh yang ia buat sendiri. Tidak perlu tahu apa yang dilakukan yang lain diatas, karena teriakan-teriakan masih terdengar di lantai atas.

"Pagi yang ramai ya.." katamu tiba-tiba, masih melanjutkan masakanmu. Kau mendengar Akashi menghela nafasnya pendek.

"Padahal sudah kuberitahu untuk diam. Apa itu mengganggumu –name-? Aku bisa membuat mereka diam lagi kalau kau mau." Meskipun tidak melihat, kamu merasakan kalau Akashi sedang memegang guntingnya dan mengeluarkan aura-aura yang berbahaya. Kamu hanya tersenyum kecil sambil mematikan kompor. Sementara itu, kamu melihat Midorima sudah turun kebawah dan menyalakan televisi, untuk melihat acara ramalan Oha-Asa itu sepertinya.

"Tidak apa-apa kok. Kurasa asyik saja mempunyai suasana ramai di pagi hari."

"Oh, begitukah?" Kamu mengangguk.

"Habis, Okaa-san dan Otou-san sering kerja keluar kota sih, jadi rumah terasa sepi sekali.. hanya ada diriku sendiri di rumah." Kamu mengatakan hal itu sambil mengambil piring dengan santainya seolah itu adalah hal biasa. Padahal, Akashi, bahkan Midorima sedikit tertegun mendengar hal itu.

"...Memang Tuan dan Nyonya segitu seringnya pergi-nanodayo?" tanya Midorima tiba-tiba. Kamu meletakkan Omelette ke masing-masing piring.

"Gak sering-sering amat sih.. Tapi kalau sudah dinas lama, paling cepat mereka pulang 3 bulan.." Jawabmu.

"Kau tidak keberatan?" tanya Midorima.

"Nggak sih.. Aku merasa biasa-biasa saja kok. Toh aku tidak terlalu suka sikap Okaa-san yang benar-benar memperlakukanku seperti anak kecil yang manja. Lebih baik sendiri.." katamu sambil tertawa kecil. Kamu meletakkan piring-piring itu di meja makan. Hampir seperti kode, serempak Aomine, Kise, Kuroko, dan Murasakibara turun dari lantai atas begitu piring diletakkan.

"Ara~ -name—chin tahu aja kita mau buat Omelette~" kata Murasakibara saat memperhatikan makanan yang kau masak.

"Bahan-bahannya mudah ditebak begitu sih.." Jawabmu tersenyum. Yang lain mulai duduk di kursinya masing-masing dan mulai menyantap sarapannya masing-masing.

~Skip Time~

Kamu berjalan pelan menuju kelasmu, berdampingan dengan Akashi yang kebetulan berangkat pagi bersamamu. Dari rumah sampai sekarang, Akashi terdiam setelah mendengarkanmu bercerita tentang orangtuamu. Kamu merasa risih dengan suasana hening seperti itu, hendak mengajak Akashi untuk berbicara sesuatu.

"Akashi-kun, kamu kenapa ti—"

"-name—chaaaaaaaaannn!"

Tiba-tiba badanmu tertabrak dengan badan yang lain dan kamu merasa kamu dipeluk dengan sangat erat (meskipun tidak seerat Kise) oleh seseorang. Ya, kamu tahu itu siapa. Itu adalah sahabatmu, Hori.

"Mou, Hori-chan jangan memelukku seperti ini... sesak.." perkataanmu membuat Hori melepaskan pelukannya sambil cengar-cengir terhadapmu. Kamu sempat kontak mata dengan Akashi saat itu, dan kamu mengibaskan tangan kananmu meng-isyaratkan untuk pergi duluan. Sepertinya Akashi mengerti apa yang kau maksud ketika ia melanjutkan jalannya ke kelas meninggalkan kamu berdua dengan Hori.

"Nah. Kenapa kamu tiba-tiba memelukku seperti itu Hori-chan?" tanyamu. Hori menggandeng tanganmu pelan, mengajakmu pergi ke kelas bersama. Dengan muka sedih yang dibuat-buat, dia menjawab.

"Lagian waktu akhir pekanmu digunakan sama mereka. Aku kan kesepian~" Kamu tertawa saat dia berkata seperti itu. Kemudian kamu menepuk kepalanya pelan sambil tersenyum.

"Mau mereka menyita waktuku bagaimana pun, kamu tetap merupakan perhatian utama ku Hori-chan." Katamu. Kemudian, mata Hori berkaca-kaca dengan sangat –alay- dan kemudian memelukmu lagi dengan erat.

"Huwaaa! –name—chan daisuki! Daripada kamu nikah sama mereka, kamu nikah sama aku aja deh!"

"a-Apa maksudmu Hori-chan?! Aku masih normal!"

"Huwaaa! Kalau begitu aku akan cosplay jadi laki-laki saja!"

"Bukan itu urusannya!" Kemudian kamu dan Hori saling tatap, lalu tertawa bersama. Hori memang begitu. Hanya dirinya saja yang untuk pertama kalinya mengajakmu berteman meskipun kamu selalu sendirian dan tidak ada yang mau berteman denganmu karena kepintaranmu. Hanya Hori saja, selain seseorang yang kamu kenal dari dulu.

"Oh iya, bukan hanya itu yang ingin aku bicarakan." Perkataan Hori menarik kembali perhatianmu terhadapnya. Hori tersenyum, kemudian menunjukkan layar Handphone nya terhadapmu. Terpampang di layarnya sebuah pesan. Kamu membacanya sejenak, kemudian senyummu melebar karena senang.

"Ini—"

"Hmhm~ Dia memberiku pesan! –name—chan, dia akan kembali!"

-Meanwhile in the Other Place-

Seorang Kuroko Tetsuya sedang terdiam membaca novelnya. Kemudian ia mendengar suara pintu kelas terbuka, dan mendapati Akashi masuk ke kelas. Kuroko heran, Akashi berjalan bersamamu pagi tadi. Kenapa yang datang ke kelas hanya Akashi seorang? Kuroko menutup bukunya dan menghampiri meja Akashi dan milikmu. Berbeda dengan yang lainnya, Akashi dengan mudah menyadari keberadaan Kuroko dan mengarahkan pandangan ke arahnya.

"Tetsuya... Ada apa?"

"Bukankah kau berangkat bersama –name-? Dimana dia?"

"Ah... –name- tadi dicegat dengan sahabatnya. Tadi ia menyuruhku untuk duluan."

"Souka.."

"Ngomong-ngomong Tetsuya.."

"Ada apa Akashi-kun?"

"...Tumben sekali kau memanggil orang langsung tanpa akhiran."

"...Selalu tahu seperti biasanya ya."

"Aku memang begitu. Bisa kau jelaskan kenapa?"

"..."

Suara pintu kelas terbuka terdengar kembali di telinga Kuroko, dan begitu pula Akashi. Kemudian masuklah kamu dengan Hori yang sedang bercakap-cakap ria, kemudian kamu ke tempat dudukmu bersama Akashi. Tapi sebelum ia duduk di tempatnya, kamu sempat menyapa Kuroko.

"Ohayou, Tetsuya-kun~!"

"...Ohayou?" Kuroko heran dengan sifatmu yang lebih ceria dari yang tadi pagi saat di rumah. Kuroko sempat ingin bertanya, tapi bel sudah berbunyi dan terpaksa ia mengurungkan niatnya.

'Hmm.. Dia kenapa ya..' Tanpa sadar, isi pikiran Akashi dan Kuroko bertanya hal yang sama persis.

Akashi bosan. Sungguh, hanya beberapa hal di dunia ini yang membuat ia merasa tertarik. Pertama, permainan Shogi nya. Kedua, permainan basket bersama yang lain. Ketiga, -yang baru-baru ini ia tambahkan—membuat dirimu merona merah. Tanpa sengaja Akashi menyeringai kecil. Kalau ia kembali mengingat merah yang berada di pipimu, di dalam diri Akashi seakan melayang. Padahal belum sebulan ia dan anggota Kiseki no Sedai yang lain bertemu denganmu, tetapi Akashi selalu merasa kalau selama kamu belum membuat keputusan, Akashi tidak akan main-main untuk mendapatkanmu. Dan ia tahu, teman-temannya juga pasti akan berpikiran seperti itu.

Tapi sekarang.. Akashi bosan. Sekaligus masih memikirkan alasan dibalik sosokmu yang tiba-tiba tersenyum seakan mendapat hadiah besar. Sempat terpikirkan kalau alasan dibalik senyumanmu itu adalah bukan lain sahabatmu. Tapi dengan segera Akashi lenyapkan pikiran itu. Mana mungkin hanya bertemu dengan sahabatnya kamu bisa tersenyum bahagia seperti itu.

...Padahal memang karena Hori-chan lah kamu tersenyum seperti itu. Setidaknya, kabar yang Hori-chan berikan padamu.

Kuroko membaca novel nya seperti biasa. Entah kenapa, guru pelajaran Matematika saat ini tidak masuk. Hal yang tidak biasa bagi guru pemberi Ulangan 'gampang' itu. Karena itulah, kelas benar-benar riuh. Yang laki-laki sibuk bermain bola (Salah satu dari mereka ada yang membawanya) di depan kelas, dan perempuan sibuk bergosip dari hal artis sampai orang yang disukai. Kuroko menghela nafas. Ia tidak terlalu suka dengan kondisi riuh seperti ini. Kuroko lirik meja yang Akashi dan kamu duduki, dan sejenak, Kuroko sempat tersenyum tipis. Bagaimana kamu memanggil nama depannya, membuat pipi Kuroko memanas. Kalau Kuroko adalah Kise, mungkin ia bisa saja lompat-lompat bahagia sambil memeluk dan menggesekkan kedua pipi mereka dengan gemas.

Hal yang benar-benar tidak mungkin Kuroko lakukan bukan?

Kuroko memperhatikan dengan sejenak para murid laki-laki yang lain yang sibuk dengan bola yang mereka oper lalu mereka tendang dengan keras. Sempat terdengar suara pantulan bola itu ke arah meja perempuan, atau bahkan meja guru. Terkadang Kuroko heran, bagaimana kamu bisa tahan dengan kericuhan yang dilakukan para murid itu.

Bola terpantul-pantul dengan keras. Dan Kuroko masih memperhatikannya. Sempat terlihat oleh Kuroko kamu melepaskan kacamata mu untuk sekedar melepas pegal yang berada di tulang hidungmu setelah membaca buku terlalu lama. Saat itulah firasat buruk Kuroko datang.

Dan benar saja, tendangan bola yang cukup kencang, membuat bola itu melambung keras, dan mengenai meja yang salah satu penghuni nya adalah si surai merah yang sudah dikenal sisi gelapnya kalau sedang marah, dan..

PRAK!

.

.

.

Suara apa itu? Kuroko melihat ke belakang, dan membulatkan matanya. Ternyata firasat buruknya benar-benar terjadi. Kacamata mu yang kau letakkan di meja, hancur karena bola yang mendarat dengan cukup kencang. Kuroko melihat orang yang melakukan tendangan tadi. Panik. Ketakutan. Itulah yang ia bisa simpulkan saat itu. Tapi ia sedikit merasa aneh. Untuk panik masih bisa ia tahu alasannya. Tapi.. takut? Memang sih, ada Akashi disana, tetapi arah ketakutannya bukan bersumber dengan si surai merah, melainkan sosok teman sebangku nya. Kenapa ia harus takut dengan mu? Belum Kuroko sempat memperkirakan apa alasannya, terdengar suara keras dari belakang—tepatnya, suara yang berasal dari meja tempat dirimu dan Akashi. Oh, sepertinya Akashi-kun mau mengamuk, batinnya. Tapi, bukan suara itu yang Kuroko dengarkan.

PLAK!

.

.

.

Eh? Kenapa bukan suara 'Snip' yang berasal dari gunting?

Kuroko membulatkan matanya. Ia tidak menyangka kalau sosokmu yang agak keras, datar, dan pemalu (kalau disekitar Kiseki no Sedai) itu mengeluarkan aura yang ganas, gelap, dan.. Bahkan Kuroko masih lebih memilih melihat Akashi yang marah. Meskipun senjata yang digunakan lebih menyakitkan milik Akashi, tapi senjata yang kamu gunakan cukup sakit kalau mampu menggunakannya.

BRAK!

Kamu menggebrak meja, dan berjalan pelan menuju pelaku yang membuat kacamata mu rusak itu. Akashi hanya diam, matanya terpancar sinar penasaran atas apa yang akan kamu lakukan. Pelaku yang membuat kacamata mu rusak itu, jelas panik gak karuan, karena berhasil membuat dirimu marah. Dengan segera kamu mengayunkan senjata mu dengan cepat dan memukul meja yang kau lewati.

PLAK!

"...tak tahukah kau, tanpa kacamata itu pandanganku akan buram.." Dua meja lagi. Para murid perempuan sontak diam ketakutan, kecuali Hori yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas.

PLAK!

"...berisik boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan..." Satu meja lagi. Para murid laki-laki yang lain sontak segera ke meja mereka masing-masing, kecuali pelaku utama yang menghancurkan kacamata mu itu.

PLAK!

"...Ne, Kazuo-'kun'... mau berapa tamparan untuk perlakuanmu ini?" Kamu berdiri di depan pelaku itu –Kazuo—sambil menatap matanya dengan tajam. Meskipun kamu beberapa senti lebih pendek darinya, itu tidak membuat Kazuo merasa berani. Karena sudah berkali-kali ia melihat temannya kena senjata 'itu' dan kali ini ia lah mangsanya.

"TEME! KACAMATA KU RUSAK KARENA KAMU!"

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

"n- -name—san, aku minta maaf! A-Aku tidak sengaja dan—Wadaw!"

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

"MINTA MAAF GAK ADA GUNANYA BAKA! RASAKAN INI!"

"Wadaw!"

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

.

.

.

PLAK!

Kamu mendenguskan nafasmu, lalu berbalik badan dan meninggalkan sosok Kazuo yang sudah mempunyai banyak bekas merah karena tamparan dari bahan plastik senjata mu itu. Lalu kamu duduk dengan angkuh sambil menggembungkan pipi mu. Bisa-bisa nya ia merusak kacamata bersejarah itu!

Hori menghampiri sosok Kazuo yang sudah lemas dipukul-pukuli. Ia hanya bisa tersenyum kasihan karena serangan sahabatnya yang satu itu. Iseng, ia menusuk-nusuk pipinya dengan ujung jarinya.

"Makanya, jangan sampai kena marah.. Penggaris karet dia kan sakit.."

Kuroko menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Ada-ada saja dengan sifatmu yang baru-baru ini ketahuan. Pantas saja si pelaku panik dan ketakutan. Selain marah, ia juga bisa mengeluarkan senjata nya.

"...Aku tidak menyangka ada yang bisa sesadis Akashi-kun kalau lagi marah." Katanya pelan.

Akashi tersenyum. Tersenyum! Selain tidak menggunakan tangan dan senjata nya untuk menyerang pelaku yang telah merusak kacamata mu itu, Akashi juga dapat melihat muka ngambek yang bagi Akashi, sangat imut itu. Tertawa kecil, tangannya menggapai kepala mu dan—

Puk!

"Sudah, jangan ngambek lagi –name-." Kata Akashi pelan, menepuk dan mengelus kepala mu.

"..."

"..Kalau kau diam aku cium kamu di depan kelas."

"a-Apa?!"

"Aku hanya bercanda."

"Tidak lucu! Huft!" Akashi tertawa kecil.

"Jangan menjadi anak kecil seperti itu. Lagian, kacamata itu kan bisa kita beli lagi."

"..Tapi, kacamata itu.." Kamu menghela nafas dan bergumam sebentar. Akashi, yang berada di dekatnya, tentu saja mendengarnya. Mata Akashi sesaat sempat memicing saat mendengarnya. Tapi kamu tidak melihatnya karena terlalu sibuk dengan pikiranmu itu.

'Harus ganti ya.. Haruskah kuajak Midorima-kun setelah pulang sekolah?'

.

.

.

To be Continued..

Gyaaa! Sumpah, absurd, aneeeeh! *mukul2 meja* Ekhem, seputar info, kejadian di kelas dimana –name- mukul-mukul orang pake penggaris, itu memang asli kejadian. Tapi, bukan karena kacamata. Melainkan, hape saya kena bolanya. Tahu penggaris karet yang bisa dilipet segala macem dengan merk Map*d? Nah, itulah senjata –name- XD pas bikin chapter school life, saya pengen sekalian masuk-masukin kejadian di kelas saya, dan yang pertama kali terlintas adalah dimana saya mukul temen pake penggaris karet itu xD

Oh iya! Kalau sempat, kemungkinan aku bakalan bikin fanfic baru yang masih dalam tahap pengetikan tentang Twin!Kurokoxfem!Kuroko yang berada di Seirin~ Oke, dibawah ini adalah Omake~

Omake

Mari kita kembali dimana kamu sedang mau mengamuk terhadap Kazuo. Saat itu, kamu tidak sadar kalau Handphone mu terjatuh. Akashi yang melihat itu, sontak memungutnya.

'Jadi.. ini Handphone nya –name-..'

Menjadi manusia yang agak 'kepo' , Akashi membuka Handphone mu dan memperhatikan layar Wallpaper mu sejenak.

"..." Dengan segera, Akashi segera menaruh Handphone mu itu di laci mejamu. Lalu, Akashi memainkan guntingnya sesaat dengan aura yang mencekam.

"Bisa-bisanya ada orang yang mengontaminasi isi otak –name-. Aku harus mencari pelaku itu."

Tahukah kamu, Wallpaper yang Akashi lihat adalah..

Neko!Akashi yang mau menggigit telinga Neko!Kuroko sambil memegang tangannya.

.

Last Word, Review~?

-Hikaru Tamano