MY ENEMY IS MY LOVE
Naruto by Masashi Kishimoto
[Hinata H. x Sasuke U. ]
Romance, Drama
AU, OOC, Typos, Rate T, etc.
SASUKE POV
Baka, baka, baka... kemana otak jeniusmu sebagai seorang uchiha selama ini Sasuke? Kenapa kau membuat gadis yang kau cinta semakin membencimu. Merebut ciuman pertamanya? Well, tidak sepenuhnya juga aku menyesal telah merebut ciuman pertamanya, bahkan itu suatu berkah dalam hidupku mendapatkan ciuman pertamanya. Hinata kenapa kau tidak menyadari akan perasaanku selama ini padamu? Kenapa kau malah cinta sama si dobe? Ingin rasanya aku minta maaf karena kekeliruanku mendengar penyebutan namamu waktu itu, tapi setiap kali aku menghampirimu ingin meminta maaf padamu tentang kejadian itu yang ada di otakku tiba-tiba berubah menjadi lain. Setiap kali berada didekatmu aku ingin memelukmu, menciummu serta menjadikanmu milikku.
END SASUKE POV
'Tangan ini, tangan ini telah menyentuh tubuhmu,' Sasuke terlihat memikirkan sesuatu selama pelajaran berlangsung di kelas. Ia mengangkat kedua tangannya sambil menyeringai. Melihat teman sebangkunya terlihat seakan berada di dunianya sendiri membuat Naruto bingung, tidak biasanya Sasuke tidak memperhatikan pelajaran Kakashi Sensei. Naruto menyikut pelan lengan Sasuke.
"Pst, Teme kenapa kau tadi menyeringai dan mengangkat kedua tanganmu?" Bisik Naruto pelan, ia tidak ingin Kakashi Sensei mendengar kalau ia sedang berbicara dan tidak memperhatikan pelajaran.
"Ck, Urusai Dobe," Jawab Sasuke pelan.
"Pasti tentang Hinata."
JLEB
Perkataan Naruto telah tepat sasaran bagi Sasuke. Bagaimana bisa Naruto dapat menebak apa yang saat ini Sasuke pikirkan. Apa dia punya indera ke enam?
"Kau apakan Hinata, Teme?"
DEG
Aih, kenapa perkataan Naruto selalu saja tepat? Apa dia keturunan dukun sehingga tau apa yang sedang Sasuke pikirkan dan lakukan tadi dengan Hinata. Naruto benar-benar berbahaya.
"Bukan urusanmu Dobe."
"Kau tidak bisa membohongiku Teme, semuanya telah jelas dimatamu."
"Kau.."
"Sasuke Naruto jika kalian masih ingin bicara silahkan keluar dari kelas ini," Suara Kakashi telah memotong perkataan yang ingin Sasuke ucapkan pada Naruto. Mereka berdua memandang horor ke Kakashi. Biarpun Kakashi terlihat seperti guru yang tidak peduli pada muridnya tapi dia tidak akan segan untuk menghukum muridnya yang tidak memperhatikan dirinya selama pelajaran berlangsung.
"Tidak sensei, kami memperhatikanmu," Jawab mereka berdua kompak.
"Baiklah kita lanjutkan kembali pelajaran kita," Kakashi melanjutkan penjelasannya lagi. Sasuke dan Naruto menghembuskan nafas lega, takut jika Kakashi sensei menghukum mereka untuk membersihkan toilet yang ada di sekolah ini. Sangat tidak elit kan kalau seorang ketua osis dan wakil osis mendapatkan hukuman untuk membersihkan toilet seluruh sekolah hanya karena ketahuan tidak memperhatikan pelajaran. Hell no, mau ditaruh dimana muka mereka berdua? Di pantat? #oke abaikan tadi.
ISTRIHAT
Di Atap Sekolah
"Well, Teme aku tahu jika kau sangat menyukai tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa kau selalu mengerjai Hinata?" Tanya Naruto dengan memasang wajah polos nan lugunya.
"Hn, Urusai Dobe."
"Hei, aku selalu mendukungmu untuk mendapatkan Hinata," Naruto mengepalkan tangannya ke atas dengan semangat. Heran, sebenarnya yang harusnya semangat demi mendapatkan Hinata itu Sasuke atau Naruto sih? Kok yang semangat malah Naruto? "Tadi pagi juga Hinata mengatakan kalau dia suka padaku."
Sasuke langsung mendeathglare Naruto setajam silet, mendengar Naruto begitu gampang mengatakannya jika Hinata suka dirinya. 'Hah, padahal aku susah payah demi mendapatkan perhatian Hinata tapi kenapa malah si Dobe bodoh ini yang mendapatkan rasa suka dari Hinata.' Sesal Sasuke dalam Hati.
"Hahaha, kau tahu Teme Hinata itu sangat manis," sepertinya Naruto tidak menyadari ada aura hitam yang keluar dari tubuh Sasuke saat Naruto sedang membicarakan Hinata dengan semangat '45.
"Andai aku tidak menyukai Sakura aku pasti suka dengan Hina..."
DUK..
"Itaii, kau kenapa sih teme," Naruto mengelus kepala yang terkena lemparan sepatu Sasuke.
"Dobe." Sasuke mengalihkan perhatiannya ke awan. Naruto hanya mengerucutkan bibirnya sedikit, kenapa tiba-tiba Sasuke melemparkan sepatunya saat ia sedang membicarakan Hina...ta, ah kini Naruto tahu kenapa Sasuke bersikap aneh seperti itu.
Naruto menyeringai lebar ke arah Sasuke," Ne, Teme apa kau cemburu?"
SKAKMAT.
Tubuh Sasuke serasa membeku mendengar celetukan yang Naruto keluarkan.
Teng..Teng..Teng
Suara bel berbunyi menandakan jika pelajaran berikutnya dimulai. Naruto dan Sasuke turun dari atap sekolah untuk masuk ke kelas demi mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Sesi pelajaran telah dimulai sejak 30 menit yang lalu hingga ada seseorang yang mengetuk pintu kelas.
TOK..TOK..TOK
Anko sensei yang sedang mengajar kelas 2-1 yaitu kelas Sasuke dan Naruto berjalan ke arah pintu kelas dan membukanya. Dia sedang berbicara dengan seorang guru yang memakai baju olahraga berwarna hijau cerah yang dapat menyilaukan mata akan warnanya.
Guy sensei masuk ke dalam kelas setelah di persilahkan Anko sensei untuk masuk. Guy sensei berdiri di depan kelihatannya ia menyampaikan sesuatu.
"Saya hanya ingin menyampaikan sebuah pengumuman."
"Apa itu pak?," Tanya Naruto pada sang sensei.
"Berhubung kolam renang kita yang di sekolah sedang di gunakan untuk latihan lomba renang tingkat kota, maka pelajaran renang kita akan diadakan di kolam renang umum." Ucap Guy sensei pada murid-muridnya.
"HORE!"
"Akhirnya kita bisa berenang di kolam yang lebih luas dari sini," Ujar salah satu murid.
"Ke kolam renang mana pak?" tanya Naruto yang kedua kalinya. Naruto emang murid yang pinter karena suka bertanya.
"Di Kolam renang Swim dan aku sudah memesan kolam itu khusus untuk hari ini."
"Asik."
"Oh ya dan satu lagi kalian akan berenang bersama adik kelas 1-3, kita akan berkumpul jam 3 sore dan tidak boleh terlambat."
"Wow, dengan adik kelas," lagi-lagi Naruto yang berbicara.
"Baiklah, sekian pengumuman dari bapak. Silahkan lanjutkan pelajarannya." Guy sensei berpamitan pada Anko sensei sebelum ia keluar kelas.
"Baiklah, kita mulai lagi pelajarannya."
Anko sensei memulai menerangkan pelajaran di depan. Naruto menggeser pantatnya mendekati Sasuke.
"Ne, Teme kelas 1-3 bukannya kelasnya Hinata," Bisik Naruto pelan.
"Hn."
Naruto kembali menyeringai senang mendengar dua konsonan tak jelas dari Sasuke. "Berarti disana kau bisa melihat Hinata memakai pakaian renang dong."
Seketika saja Sasuke menghentikan kegiatan menulisnya.
Deg!
Pikiran Sasuke mulai melayang, 'Hinata + Kolam renang = Baju Renang'. Nah Sasuke mulai membayangkan sesuatu yang mesum.
"Hehehe, selamat melamun Teme." Ucap Naruto pelan. Selama pelajaran berlangsung pikiran Sasuke sudah tidak berada di sana. Ia masih terpikirkan akan imajinasinya diatas tadi.
Ckckck, Ternyata Sasuke mesum juga.
Xxxxx
Kolam renang 'Swim'
Pukul 3 Sore.
Semua murid kelas 2-1 telah berada di kolam renang memakai baju renang masing-masing. Mereka menunggu Guy sensei berganti pakaian. Padahal kan laki-laki hanya perlu menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada tapi mengapa guy sensei mengatakan ingin mengganti baju seperti perempuan saja.
Murid-murid dari kelas 1-3 juga mulai memasuki kolam renang, jika kelas 2-1 berada di sebelah kanan kolam maka kelas 1-3 berada di sisi sebelah kiri. Pandangan Sasuke dari tadi telah tesorot ke arah rombongan adik kelas, dia sedang mencari seseorang. Siapa lagi yang ia cari di kelas 1-3 jika bukan Hinata.
Sasuke mulai melihat Hinata keluar dari ruang ganti. Kini mata Sasuke sedetik pun tidak dapat berpindah dari Hinata. Sebenarnya pakaian renang yang Hinata pakai amat sangatlah sederhana dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Hanya saja jika dilihat dari sudut pandang Sasuke yang notabanenya menyukai Hinata, baju renang yang Hinata pakai sangatlah 'sexy'. Hah memang susah jika orang sedang jatuh cinta, baju renang sederhana dibilang 'sexy'.
Tak lama berselang Guy sensei keluar dan menyuruh kelas 2-1 dan kelas 1-3 berkumpul dan merapat menjadi satu. Saat Guy sensei menerangkan gerakan renang pada murid-muridnya ada salah satu murid yang kelihatannya tidak nyaman dengan baju renang yang ia pakai.
"Sa-sakura apa ini ti-tidak terlalu te-terbuka?" Hinata mencoba menutupi bagian tubuhnya yang tidak tertutupi baju renang dengan tangannya.
"Tidak Hinata, ini baju renang yang paling sederhana, bukannya kau ingin Naruto senpai melihatmu memakai baju renang," Sakura mencoba menyingkirkan kedua tangan Hinata yang menutupi tubuhnya.
BLUSH
Muka Hinata kini merona hebat mendengar perkataan Sakura. Yah, memang benar Hinata ingin agar Naruto senpai melihatnya memakai baju renang. Hinata akhirnya menyerah dan menurunkan kedua tangannya ke dua sisi tubuhnya ia juga mulai memperhatikan penjelasan Guy sensei di depan.
Selama Hinata memperhatikan Guy sensei, ia tidak sadar ada aura gelap pekat dan dingin sedang terpancar untuknya. Aura gelap, pekat dan dingin keluar dari seorang laki-laki tampan bergelar Ketua Osis siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.
'Jadi, kau memakai baju renang 'sexy' itu agar Si Dobe bisa melihatmu? Cih, aku tidak ingin 'propertiku' dinikmati oleh orang lain,' Batin Sasuke yang tenggelam dalam kecemburuan.
'Kau sangat 'sexy' Hime aku ingin segera memakanmu,' Kini pikiran Sasuke kembali melayang entah kemana.
"Nah Baiklah, mari kita mulai pelajarannya," Suara Guy sensei telah mengembalikan pikiran Sasuke yang sempat melayang tadi.
"Ha'i Sensei," Seru seluruh murid.
Pelajaran renang pun telah dimulai.. kita skip saja ya.
SKIP TIME
Tak terasa 2 jam telah berlalu, kini giliran murid-murid mengantri di kamar mandi untuk mandi. Di 3 kamar mandi bagi wanita dan 4 bagi laki-laki setiap kamar mandi hanya boleh diisi satu orang saja.
Kini hanya Hinata yang terakhir tersisa untuk masuk kamar mandi karena Sakura dan Ino telah pulang terlebih dahulu. Hinata memang menyuruh kedua Sahabatnya pulang terlebih dahulu karena ia akan di jemput oleh Neji.
Namun, sebelum ia sempat masuk ke dalam kamar mandi sebuah tangan menariknya dan menabrakan punggungnya ke tembok.
"Auh," Hinata meringis sakit saat punggungnya menabrak tembok meskipun tidak keras tapi Hinata masih merasa sakit. Ia menatap seseorang yang telah menunda acara mandinya, dan begitu ia tahu siapa seseorang itu Hinata langsung merasa takut.
Ditatapnya terus sepasang mata hitam itu, didalam mata hitam itu terpancar sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang er...seperti pandangan cemburu.
"Halo Hime," Sapa Sasure.
"U-uchiha-San."
"Hari ini kau 'sexy' sekali hime." Sasuke mulai mendekatkan mukanya ke muka Hinata.
"Ja-jaga omonganmu U-uchi..." Perkataan Hinata terpotong oleh sebuah bibir yang membungkam bibirnya.
Sasuke terus menyentuhkan bibir Hinata dengan bibir atasnya sambil mendesah penuh godaan. Sasuke terus memaksa Hinata agar membuka bibirnya dia menjilati bibir bagian bawah Hinata serta sudut-sudutnya. Tapi, Hinata tetap tidak mau membuka bibirnya untuk Sasuke.
Merasa keinginannya tidak terpenuhi akhirnya Sasuke sedikit menggigit bibir Hinata, Hinata yang merasa bibirnya digigit secara reflek ia membuka bibirnya tanpa membuang kesempatan lidah Sasuke masuk ke dalam rongga mulut Hinata dan di sana lidahnya menjelajah ke mana-mana sesukanya. Mula-mula lidah menelusuri langit-langit mulut dan kemudian berputar mengajak lidah Hinata bermain bersama.
Hinata tidak mau bertarung lidah di ciuman ini dengan Sasuke. Ia tidak menginginkan ciuman ini. Hinata hanya ingin berciuman dengan Naruto, laki-laki yang ia sukai. Meskipun Sasuke adalah pangeran di sekolahnya tapi Hinata sangat membenci Sasuke.
Sasuke marah karena permainan lidahnya tidak di tanggapi oleh Hinata, perkataan Hinata mulai terngiang olehnya kalau Hinata memakai baju renang ini agar Naruto melihatnya membuat Sasuke terbakar cemburu.
Sasuke membelai paha depan dan paha belakang Hinata. Merasa tangan Sasuke sudah mulai kurang ajar membuat Hinata takut akan kejadian di tangga dekat atap akan terulang dimana Sasuke dengan seenaknya menyentuh dadanya.
Hinata mulai berontak melepaskan kekangan Sasuke pada tubuhnya, ia juga berusaha melepaskan ciuman menyesakkan ini. Hinata membutuhkan asupan oksigen untuk paru-parunya. Terpaksa Sasuke melepaskan ciumannya tapi bukan berarti ia melepaskan kekangannya pada tubuh Hinata.
Sasuke membiarkan Hinata menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dia tetap melihat Hinata dengan tatapan datarnya, didalam hatinya Sasuke mulai tidak tahan untuk 'memakan' Hinata saat ini dan detik ini juga.
Tangan kanan Sasuke mulai berada di pinggang Hinata berjalan ke atas dan berhenti di dada Hinata. Sasuke juga menumpukan kepalanya ke bahu kiri Hinata. Nafas Hinata terasa sesak saat menyadari sebuah tangan telah menyentuh dadanya 'lagi'.
Rontaan Hinata agar terlepas dari kekangan Sasuke semakin kuat. Merasakan rontaan Hinata seperti ini semakin membuat Sasuke tak tahan. Ia pun mulai meremas dada Hinata secara bergantian. Setelah tangannya puas meremas-remas dada Hinata secara bergantian kini tangan Sasuke mulai meluncur ke bawah ke arah tempat sensitiv bagi wanita.
Sasuke menyentuh bagian 'itu' dengan sigap Sasuke segera melepaskan celana dalam Hinata. Saat ini Hinata sedang mengenakan baju renang yang bawahnya berupa rok pendek. Jari-jari Sasuke mulai menyibak bibir vagina Hinata. Sasuke juga mulai membelai bagian 'itu'. Jari Sasuke juga mengusap klirotis Hinata dengan sedikit memberi tekanan, membuat bagian itu membesar akan sentuhan jari Sasuke.
Sasuke menghentikan kegiatannya sejenak memandang raut wajah Hinata seperti apa saat dirinya menekan titik klirotisnya yang ada di pandangan Sasuke saat ini adalah Hinata memejamkan matanya dengan kuat dan wajah merah secara keseluruhan "Cantik".
Ia lanjutkan tekanan pada klirotis Hinata dengan cepat dan kuat. Hinata bergerak-gerak gelisah, dia berusaha memendam suranya agar tidak mengeluarkan desahan.
Jari-jari Sasue semakin giat menggoda bagian luar lubang Hinata. Saat Hinata akan mengalami klimaks karena reaksi tubuhnya, Sasuke menghentikan usapannya namun dia masih membelai klirotis Hinata menggunakan jarinya.
'Sebentar lagi,' ucap Sasuke dalam hati. Dan akhirnya itu pun terjadi. Orgasme pertama Hinata selama hidupnya. Nafas Hinata terengah-engah, dengan perlahan tangan kiri Sasuke mulai menuju ke atas baju renang Hinata dan menurunkan baju renang Hinata hingga sampai perut.
Tereksposlah tubuh Hinata yang masih terbalut bra berwarna ungu. Tangan kiri Sasuke menggenggam kuat kedua tangan Hinata ke atas kepala Hinata. Sasuke memundurkan tubuhnya melihat tubuh Hinata di depannya.
Sasuke juga mulai menurunkan bra ungu Hinata hingga pemandangan yang ada saat ini adalah dada besar nan penuh telah terpampang di depan mata Sasuke.
"Indah," disaat saat Sasuke akan menyentuh dada kanan Hinata dia mendengar sebuah tangisan lirih berasal dari depannya.
"Hiks..Hiks..Hiks.. A-aku mohon he-hentikan," Hinata mulai menangis, matanya yang berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata memandang mata kelam Sasuke dengan tatapan memohon.
Sadar telah membuat gadis pujaannya menangis telah mengembalikan kesadaran Sasuke dari nafsu sesaatnya. Kini ia merasa seperti laki-laki bejat yang ingin memperkosa seorang gadis.
"Ma-maafkan aku Hinata." Sasuke kembali memasangkan bra ungu Hinata dan membantu memakaikan celana dalam Hinata kembali seperti semula.
Hinata kembali memandang Sasuke, "Apa maumu sebenarnya!" baru kali ini Hinata membentak seseorang. Hey, kemana sikap Hinata yang lemah lembut biasanya?
"Ma-maaf kan aku Hinata," tangan Sasuke ingin menyentuh pipi Hinata tapi sebelum terlaksana tangan Hinata telah menepis tangan Sasuke agar tidak menyentuhnya.
"Aku membencimu, aku membencimu!" Teriak Hinata dengan kencang. Saat ini keadaan kolam renang benar-benar sepi dan hanya ada Sasuke dan Hinata.
"A-aku minta ma-maaf."
"Pergi!"
"Tidak."
"Aku bilang pergi!"
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku jika kau tidak pergi secepatnya dari sini!" Sorotan mata Hinata tajam menatap mata Sasuke.
Sasuke sadar kalau ia telah melakukan kesalahan yang fatal tapi mendapatkan kata-kata 'benci' dari orang yang kau cintai amat sangat menyakitkan.
"Baik, aku pergi," Sasuke segera pergi meninggalkan Hinata sendirian di kolam. Melihat Sasuke telah menghilang dari hadapannya membuat Hinata merasa lega. Tubuhnya merosot kebawah dan ia mulai menangis.
Selang beberapa menit setelah kepergian Sasuke datanglah Neji ke area kolam, Neji melihat Hinata duduk berjongkok di dekat kamar mandi wanita. Ia pun segera mendatangi adik perempuannya.
"Hinata," Mendengar suara yang tidak asing untuknya Hinata segera mengangkat kepalanya melihat sosok kakak laki-lakinya.
"Kenapa kau menangis? Apa ada yang menyakitimu?" Tanya Neji protektif.
"Ti-tidak apa-apa Neji-nii aku hanya takut sendirian di kolam"
"Jangan bohong," Neji tidak percaya dengan ucapan Hinata.
"I-iya, aku tidak bohong. Aku ingin mandi dulu kakak tunggu ya." Hinata segera bangun dari posisinya dan masuk ke dalam kamar mandi mengabaikan tatapan Neji yang mengarah padanya.
Neji yang tidak ingin memaksa adiknya bercerita membiarkan Hinata masuk ke dalam kamar mandi. 'Toh, nanti Hinata akan menceritakannya sendiri.' Pikir Neji.
To Be Continue.
A/N : Tolong jangan bunuh saya karena ngebuat Sasuke semakin dibenci sama Hinata. Gomen memang aku buat seperti ini dulu dan nanti ada adegan saat Hinata mulai memaafkan Sasuke sedikit demi sedikit. Tenang aja jangan panik.
Bagaimana? Apa ceritanya memuaskan atau tambah jelek? Terima kasih atas review dari para readers.. *nangis lebay dimulai..
Bagi para reader yang ingin memberikan saran juga gak papa, karena saya juga lagi butuh saran untuk cerita ini selanjutnya... Oke saatnya membalas review. Yang memakai akun akan saya balas menggunakan PM
Balasan Review :
Mamoka : hehe, ini sudah saya panjangin smpk 3000 kata gak terasa ya.. makasih atas reviewnya.
N : disini si Sasu mulai gak tahan buat ngegrepe Hina... Huh, si Sasu emang mesum *di chidori Sasu. #Gosong.
Mohon Di Review
