MY ENEMY IS MY LOVE
Naruto by Masashi Kishimoto
[Hinata H. x Sasuke U. ]
Romance, Drama
AU, OOC, Typos, Rate M , etc.
Pagi hari ini membuat Hinata berjalan gontai, raut muka yang pucat seperti mayat hidup. Tadi malam ia tidak dapat tidur semalaman sebabnya adalah kejadian hampir 'diperkosa' oleh Sasuke di kolam renang.
FLASHBACK
Sepulang dari kolam Hinata langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi lagi, berkali-kali ia menggosok tubuhnya yang telah di sentuh tangannya Sasuke. Hinata menghabiskan waktunya di kamar mandi selama satu jam hanya untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sentuhan Sasuke. Sikap Hinata yang mengurung diri di kamar sampai tidak ikut makan malam bersama Neji membuat Neji khawatir, ada masalah apa lagi dengan adik perempuannya di sekolah.
Dengan langkah mantap Neji berjalan menuju kamar Hinata, Neji akan memaksa Hinata menceritakan masalahnya. Dia tidak mau jika ayahnya pulang mendapati kalau Hinata bertambah kurus, ayahnya pasti akan menggantungnya di pohon karena tidak becus menjaga adiknya.
TOK..TOK..TOK
Neji mengetuk pintu Hinata pelan, lima menit belum mendapat jawaban dari Hinata. Neji mengetuk sekali lagi tapi tetap tidak ada jawaban dari Hinata.
"Aku akan mendobrak pintu ini kalau kau tidak membukanya Hime."
Clek
Hinata membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Neji masuk kedalam kamarnya. Neji segera duduk di tepi tempat tidur Hinata, ia menatap Hinata tajam dan menyuruh Hinata untuk duduk di depannya. Merasa tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membantah perkataan kakaknya mau tidak mau Hinata duduk di hadapan Neji sesuai dengan keinginan kakaknya.
"Ada masalah apa?" satu pertanyaan dari Neji membuat Hinata menundukkan kepalanya kebawah. Neji sudah menduga kalau Hinata sedang ada masalah.
"Ti-tidak ada apa-apa Neji-nii."
"Jangan Bohong!"
"A-a-aku tidak bo-bohong Niisan." Jawab Hinata lebih gagap dari biasanya. Neji tersenyum sinis kepada adiknya, memangnya sudah berapa tahun mereka menjadi adik kakak untuk Neji tidak mengetahui segala gelagat adiknya.
"Jujur padaku atau ku adukan pada Tousan," ancam Neji.
"Hiks..Hiks..Hiks.. Ja-jangan Niisan, A-a-aku mohon ja-ja-jangan adukan pada Tousan," kali ini Hinata menangis memeluk Neji, sedikit rasa bersalah bersarang dihati Neji melihat adiknya yang menangis setelah ia mengancam akan mengatakan pada tousan mereka.
Neji memeluk balik Hinata dan mencoba menenangkan Hinata dengan cara membelai lembut punggung dan rambut Hinata. "Makanya ceritakan pada Niisan Hime."
"A-a-a-aku..." nampaknya Hinata ragu untuk menceritakan kejadian 4 jam lalu di kolam renang.
"Hm?"
"Hiks..Hiks..Hiks.. Sa-sa-sasuke telah me-me-menyentuhku Niisan.. Hiks..Hiks..." Hinata menenggelamkan kepalanya pada dada Neji, gadis malang itu malu bertatap muka dengan Kakaknya.
"Kurang ajar! Apa belum cukup ia mengganggumu!," saat Neji beranjak dari duduknya sebuah tangan mencegahnya untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Ni-Niisan mau ke-kemana?"
"Menghajar cowok brengsek itu!"
"Ja-ja-jangan Niisan," Hinata mengelengkan kepalanya cepat begitu tahu maksud Neji. Neji menjambak rambutnya frustasi melihat tingkah adiknya.
"Kau membelanya!"
"Bu-bu-bukan, a-a-aku tidak ingin urusannya menjadi panjang."
Sesaat Neji merutuki kebodohannya, kenapa dia tidak berfikir sejauh itu. Menghajar orang akan membuatnya terlibat urusan dengan polisi. Tidak! Dia tidak pernah mau mempermalukan martabat keluarga Hyuuga di hadapan masyarakat. Tapi, apa yang bisa di lakukan untuk adiknya. Neji murka mengetahui kalau adiknya telah di'pegang-pegang' oleh seorang laki-laki.
"Su-sudahlah Niisan, a-a-aku mohon lu-lupakan saja."
"Tidak bisa! Tangannya harus dipotong karena berani menyentuhmu."
"Jangan Niisan, te-tetap saja kita yang kalah. Ke-keluarga Uchiha be-berada diatas keluarga Hyuuga."
Neji hanya dapat menghela nafas mendengar penuturan Hinata, memang benar apa yang dikatakan oleh Hinata kalau keluarga Uchiha berada di puncak ururan teratas dalam jajaran keluarga elit di jepang. Keluarga Hyuuga berada di urutan kedua.
"Baik, kau benar tapi Niisan tidak menjamin kalau Niisan bertemunya maka aku akan menghajarnya Hime," selesai mengatakan itu Neji segera berjalan keluar dari kamar Hinata. Sedangkan Hinata hanya tersenyum melihat kakaknya, disaat ia terpuruk kakaknya selalu ada di sampingnya. Dia merasa beruntung di berikan Niisan seperti Neji oleh Kami-sama.
END FLASHBACK
XXXXX
Hinata berjalan gontai di koridor, ia selalu berangkat pagi. Tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya dan menabrakan tubuhnya kearah tembok. Hinata melihat siapa pelaku yang melakukan ini pada dirinya. Yang dilihat Hinata adalah Sasuke. Kenapa dari sekian banyak siswa yang bersekolah disini selalu bertemu dengan Sasuke.
"Le-lepaskan aku!" Hinata mencoba melepaskan kekangan erat Sasuke. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya," Ti-ti-tidak a-a-aku mo-mohon jangan..A-a-aku mohon jangan..."
Sasuke menatap Hinata dengan sorotan mata terluka, sebegitu takutkah Hinata terhadapnya? Mati-matian Sasuke menekan nafsu dalam dirinya untuk 'menyerang' Hinata yang saat ini berada dalam kekangannya.
'Sasuke please kendalikan hormon bresengsekmu' Sasuke memarahi dirinya sendiri. Hanya melihat Hinata dalam kekangannya seperti ini membuat Sasuke merasa tidak nyaman dengan celananya sendiri.
"Hime, Gomen ne," Akhirnya Sasuke bisa mengatakan maaf pada Hinata. Mendengar permintaan maaf dari mulut Sasuke membuat rontaan Hinata terhenti.
"Kau berlaku kurang ajar padaku Uchiha," Hinata menatap mata hitam Sasuke.
"Aku menyesal, maaf."
Tidak, Hinata masih belum siap memaafkan perlakuan Sasuke terhadap dirinya. Setiap melihat Sasuke, rekaman kejadian kemarin di kolam kembali terulang seperti sebuah kaset yang di putar kembali.
"Aku masih belum memaafkanmu," dengan kekuatannya yang dibilang tidak terlalu besar Hinata melepas paksa kekangan Sasuke dari tubuhnya dan segera berlari menjauh dari Sasuke.
Sasuke menundukkan kepalanya melihat jarak Hinata semakin jauh darinya dan tak terjangkau lagi olehnya. Kalau saja Sasuke tidak melakukan hal itu kemarin pada Hinata mungkin hubungannya dengan Hinata tidak akan serumit ini. Kemarin Sasuke tanpa sadar telah terbawa oleh nafsu dan hormon yang tidak terkendali dalam dirinnya.
"Gomen..Gomen..Gomen.. Hime, aku akan terus berusaha agar kau memaafkanku Hime," ucap Sasuke mantap, kini ia meyakinkan dirinya untuk mendapatkan maaf dari Hinata apapun akan ia lakukan agar mendapatkan maaf dari Hinata.
Selama jam sekolah Sasuke selalu mengikuti Hinata kemanapun dan mengatakan maaf berkali-kali pada Hinata. Kelakuan Sasuke yang mengikuti Hinata kemanapun seperti anak ayam yang mengikuti induknya mengundang tanya bagi seluruh murid sekolah. Ada apa ini, kenapa sang pangeran sekolah mengikuti gadis biasa seperti Hinata sambil mengucapkan kata-kata maaf berkali-kali?
Naruto juga bertanya pada Sasuke kenapa dia bertingkah aneh hari ini, tapi pertanyaan Naruto tidak digubris Sasuke, ia terlalu konsentrasi meminta maaf pada Hinata. Sikap Sasuke terus berlangsung hingga jam pulang sekolah usai. Bukannya Hinata tidak mau memaafkan Sasuke tapi, dia belum siap untuk memaafkan Sasuke.
Kelakuan Sasuke kemarin sudah benar-benar kurang ajar karena Sasuke berani memegang bagian tubuh Hinata yang paling sensitiv bagi wanita. Sepolos polosnya Hinata dia masih tahu apa yang di sebut dengan 'klimaks' karena dia mempelajari ini di sekolah sebagai bimbingan seks untuk anak usia remaja.
Hinata menunggu Neji di gerbang sekolah, suasana sekolah sudah sepi dari setengah jam yang lalu. Neji menyuruh Hinata menunggunya di gerbang sekolah, dia sedikit terlambat karena macet.
"Hinata," sebuah suara yang berasal dari belakangnya membuat Hinata membalikkan tubuhnya ke belakang.
"U-u-uchiha," belum sempat Hinata beranjak dari tempat ia berdiri tadi Sasuke sudah menahan lengan Hinata agar gadis itu tidak kabur darinya.
"Tolong maafkan aku Hinata."
"To-tolong jangan ganggu a-aku Uchiha-san."
"Berhentilah memanggil aku Uchiha-san, panggil namaku seperti kau memanggil Naruto." Tanpa sadar Sasuke mencengkram kuat lengan Hinata.
"Le-lepas."
"Tidak! Sebelum kau memaafkanku dan memanggil namaku."
"To-tolong le-lepaskan aku," Hinata mencoba menarik lengannya dari cengraman tangan Sasuke.
"Ti-.."
BUK...
Sebuah pukulan tiba-tiba menghantam pipi kanan Sasuke, dia pun tersungkur ke samping. Sasuke melihat pelaku yang memukul pipinya, seorang laki-laki berdiri tegap di hadapannya melindungi Hinata di belakangnya.
Neji menghampiri Sasuke yang masih terduduk di bawah dan mencengkram kerah seragam Sasuke.
"Apa kau belum puas menyakiti adikku."
BUK..
"Apa yang kau mau dari adikku."
BUK..BUK..
"Apa salah adikku padamu."
BUK..
Neji terus memukuli Sasuke tanpa henti, melihat Neji memukuli Sasuke tanpa ampun seperti itu membuat Hinata menangis. Sasuke bisa mati kalau di pukuli oleh Neji terus menerus. Hinata maju ke dua pemuda didepannya dan menarik tubuh Neji menyuruhnya berhenti memukuli Neji.
"Stop Niisan berhenti.. dia bisa mati.." Sekuat tenaga Hinata menarik tubuh kekar kakaknya dari Sasuke. Neji masih terus berusaha melepaskan pelukan Hinata yang mencegahnya memukuli Sasuke.
"Lepas, Hime.. Biar aku pukul sampai puas."
"Hiks..Hiks..a-a-aku mohon hentikan Niisan." Suara tangisan Hinata langsung membuat Neji terdiam. Neji kembali memeluk Hinata dan menenangkan Hinata seperti kemarin malam. Sasuke berusaha berdiri sebisa mungkin menatap mereka berdua. Neji menatap tajam Sasuke seakan-akan ia ingin menguliti Sasuke.
"Berhentilah menyakiti adikku," Desis Neji pada Sasuke. Sasuke hanya membalas perkataan Neji dengan senyum pedih.
"Aku mencintainya."
Hinata dan Neji menatap Sasuke tak percaya. " setelah apa yang kau lakukan pada Hinata kau mengatakan kalau kau mencintai Hinata? Jangan bercanda!"
"Aku tidak pernah bercanda, aku mencintainya sejak pertama kali bertemunya."
"Kau hanya mempermainkan Hinata."
"Tidak, aku akui setiap berada didekat Hinata aku tidak dapat mengendalikan hormon dan nafsuku. Tapi, aku bersungguh-sungguh mencintai Hinata." Hinata hanya terdiam mencerna setiap untaian kata yang diucapkan Sasuke.
"Kau dan Hormon bresengsekmu Uchiha."
Sasuke tidak mempedulikan perkataan Neji, dia menatap Hinata dengan lembut dan tersenyum kecil," aku mencintaimu Hime."
DEG
Jantung Hinata terasa berhenti sejenak melihat ekspresi Sasuke yang tersenyum tulus kepadanya dan mengatakan cinta padanya.
'Perasaan apa ini?,' Pikir Hime dalam hati ia merasa tidak siap dengan pernyataan cinta Sasuke.
"Omong kosong, ayo kita pergi Hinata," Neji menarik tangan Hinata menuju mobil, Neji membukakan pintu untuk Hinata dan menyuruhnya masuk. Hinata menatap Sasuke dari dalam mobil, begitu juga dengan Sasuke yang menatap Hinata. Sampai Neji memulai menjalankan mobilnya membuat pandangan Hinata dan Sasuke yang saling menatap terputus.
Sasuke hanya tersenyum pedih melihat mobil yang ditumpangi Hinata semakin menjauh dari Sasuke.
"Mau menjelaskan sesuatu padaku Sasuke?" sebuah suara baritone yang dikenal Sasuke terdengar ditelinganya. Sasuke membalikkan tubuhnya kebelakang menghadap laki-laki yang tak lain adalah sahabatnya, Uzumaki Naruto.
"Tentu Dobe."
To Be Continue
A/N : Maaf gak bisa cuap-cuap lama-lama dan bales review karena waktu terbatas silahkan tinggalkan review untuk cerita ini... Tolong koreksi juga kalau ada typo karena saya gak edit lagi...
...Mohon Di Review...
