Perjalanan : Lihatlah Mereka!


Warning

Hai.. Maaf kalau ficnya ancur..

Bisa di bilang ini Fic pertamaku, hehe..

Yakin deh Typo, OOC, 'dan istilah istilah kesalahan

yang belum aku mengerti' banyak..

Fic buatan bocah! Dan amat sangat membosankan 'mungkin'

Maaf kalau Idenya rada atau mungkin emang gak Kreatif.. hehe..

...

Disclaimer

Masashi-Ojisama

Fic ancur ini Punya Nha yoo

Pair : SasuNaru

Genre : Friendship, Drama, Adventure, Romance(?)

Rate : Mungkin T

.


Happy Reading yak..

Don't Like Don't Read


Chapter sebelumnya..

"Eh?" NaruSasu tercekat mendengar penuturan Itachi.

'Apa aku akan di tunangkan dengan Sasuke? Kenapa Itachi-nii bilang begitu?' Pikir Naruto yang masih menatap horor ke kakaknya dan Itachi.

'Hah.. Aku Stright, kenapa malah di jodohkan kayak gini?' Pikir Sasuke yang tetap menggunakan topeng stoicnya.

Naruto dan Sasuke masih saja berkutat dengan fikiran masing masing..

Haingga beberapa saat kemudian...

"TIIIDDDAAAAAAKKKKKK..." Teriak SasuNaru bersamaan.

.

.


PERJALANAN : Lihatlah Mereka!

.

Naruto dan Sasuke masih berteriakk.. mereka saling pandang satu sama lain. Terdiam lalu berteriak lagi, mereka berdua benar-benar panik. Itachi hanya bisa mengenyrit heran melihat tingkah dua pemuda yang kelihatan jelas banget OOCnya. Ralat, hanya berlaku untuk Sasuke. Itachi menatap ke arah Kyuubi. Kyuubi yang merasa ditatap heran, membuatnya tak nyaman.

"Ada apa Tachi-kun?" Tanya Kyuubi malas sembari menahan tawa melihat tingkah dua pemuda yang lari-lari gak jelas.

"Aku tidak mengerti kenapa mereka lari-lari kayak diuber hantu gitu." Jawab Itachi polos, Ah.. kenapa Itachi jadi polos begini yak hadah..

"Caramu menyampaikan tadi seperti seorang ayah yang akan menikahkan anaknya secara paksa. Kau kan tau mereka Normal, jadi wajar saja mereka lari-lari tidak jelas begitu." Jelas Kyuubi lalu tertawa lagi.

"Hentikan bocah-bocah! Aku tidak akan menikahkan kalian, tenanglah!" Teriak Itachi tegas terlihat berwibawa.

Dua pemuda bodoh yang lari kocar-kacir langsung berhenti gitu aja. Mantra yang hebat mas bro.. Itachi. Kyuubi yang menyadari ending dari kesenangannya hanya mampu menggerutu, ya mau bagaimana lagi Itachi kalau marah juga serem..

Dua pemuda itu berjalan beriringan berjalan menuju tempat Itachi berdiri dengan wajah bahagia, ditemani cengiran khas Naruto dan Seringai khas Sasuke. Itachi yang memandangnya hanya menghela nafas ringan.. Kenapa adiknya bisa jadi sebodoh ini, lari-lari tak beraturan. Bukan Uchiha banget! Pikir Itachi dalam hati.

Kyuubi yang masih duduk di samping belakang Itachi memasang wajah tenang, wajah lain dengan hati. Hatinya yang sebenarnya ingin marah-marah pada Itachi karena telah mengacaukan hiburannya.

"Lalu acara apa yang kalian Maksud?" Tanya Naruto to the point.

"Kalian akan tau nanti. Tunggu saja, kami yakin pasti kalian menyukainya.. ah bukan, sangat menyukainya.." Ujar Itachi dengan ekspresi khas Uchiha, Tenang, dan Datar.

.

Kediaman Uchiha (Di balkon lantai 2 memandang Langit) pukul 22.00

Kini malam semakin larut, bintang-bintang bertebaran di langit hitam. Memamerkan sinarnya pada semua yang memandangnya. Indah, itulah fikirkan pertama Naruto. Naruto hanya tersenyum simpul memandang dua bintang yang lebih Indah dari yang lainnya 'Ayahh.. Ibuu..' Ujar Naruto pelan, tanpa disadarinya air mata menetes dari pelupuk matanya..

Naruto mulai terisak, menahan rindu itu tidak mudah. Sekuat apapun orang yang menjalani hidup pasti ia pernah menangis karena sesuatu. Orang menangis bukanlah orang yang lemah! Walaupun ada beberapa pendapat orang menangis itu tanda kelemahan. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Naruto seolah ingin memberinya kekuatan saat ini.

Ia berbalik memandang pemuda di belakangnya, pemuda berkulit pucat, dengan manik mata hitam, dan rambut pantat ayamnya. Di balik sifat kasar mereka pada orang-orang sekitar inilah sifat asli mereka. Saling mengisi satu sama lain. Sasuke memberikan senyum kekuatan untuk Naruto. Mereka berdua juga senasib, lahir di kalangan orang terpandang tetapi harus kehilangan orang tua di usia dini.

Jika boleh memilih, mereka pasti akan memilih tetap bersama orang tua mereka walaupun dengan hidup yang amat sederhana. Makan nasi sehari sekali, kerja paruh waktu dll.. Tapi apa daya, inilah suratan yang mereka terima. Inilah jalan yang harus mereka tempuh, tidak mau kalah pada kehidupan dan jatuh sebagai pecundang. Tidak, itu bukanlah Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha namanya.. .

"Baka Otouto! Ayo pulang ah.. udah malem tau." Teriak Kyuubi dari dalam rumah.

Sebelum Kyuubi tau Naruto barusan menangis, buru-buru ia sapu air matanya hingga tidak tersisa lagi.

"Terimakasih Sasuke." Ujar Naruto tulus lalu meninggalkan Sasuke di balkon, sendirian.

Sasuke hanya tersenyum simpul menatap punggung tegap Naruto dan bergumam 'Ya'.

Naruto berlari menuju lantai satu kediaman Uchiha menuju tempat kakaknya. Sekarang ia memasang ekspresi seperti biasa. Cuek, Licik dengan cengiran yang mirip dengan seringai.

"Haah. . . kau menggangguku saja Baka!" Triak Naruto menatap tajam Kakaknya.

"Haah. . . Sudahlah. Ayo cepat pulang! Aku ikut mobilmu!" Kyuubi Tersenyum watados tanpa memandang adiknya yang sudah bersungut-sungut.

Naruto langsung pergi meninggalkan Kediaman Uchiha, maksudnya berjalan keluar rumah menuju mobilnya. Ferari Blue Ocean sudah menunggu di luar rumah. Kali ini Naruto yang menyetir, dengan kecepatan yang lumayan kencang ia menuju rumahnya. Kyuubi heran, hebat juga adiknya ini..

.

..Hari ini adalah hari dimana Rencana Kyuubi dan Itachi dilangsungkan..

Naruto yang masih tertidur merasa terganggu dengan suara benda-benda yang saling beradu, dibuka matanya menampakkan safir indah di matanya. Bayangan kakaknya sedang berdiri menatapnya dengan Seringai yang mengerikan. Apakah ia sedang bermimpi? Karena ia juga melihat barang-barangnya dimasukkan ke dalam Ransel yang lumayan besar. Pikir Naruto yang masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sekarang.

"Bangun Baka Otouto, kau sedang tidak bermimpi!" Ujar Kyuubi yang masih menyunggingkan Senyum mautnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi bodoh?" Maki Naruto.

Kyuubi tidak menjawab, ia berlalu begitu saja meninggalkan adiknya yang masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Buru-buru Naruto bangkit dari ranjangnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk mandi tentu saja. Setelah itu ia berjalan menuju ruang makan keluarganya.

Dan tidak disangka ternyata Sasuke dan Itachi juga ada disana, ia makin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ada Sasuke dan Itachi sebenarnya ada apa.. Pikirannya yang tidak Connect sama sekali pada keadaan yang sekarang ia hadapi.

Segera ia duduk, mereka makan bersama. Dan berjalan tanpa ada percakapan sedikitpun. Berjalan menuju mobil Mazda Evo merah darah milik Itachi. Naruto masih saja bingung sedangkan Sasuke tetap memasang tampang datar yang menjadi Trademarknya.

Mobil yang tadinya melaju kencang kini berhenti di pinggir Jalan.

"Kami punya tantangan untuk kalian berdua!" Ujar Kyuubi memecah keheningan.

"Hn." Jawab Sasuke.

"Apa kalian itu bisa hidup tanpa bantuan kami?" Ujar Itachi melanjutkan kata-kata Kyuubi.

"Bisalah! Menghina sekali kalian!" Ujar Naruto marah.

"Tanpa membawa apapun, hanya membawa tas Rensel ini." Giliran Kyuubi angkat bicara sembari menyodorkan Ransel pada Sasuke dan Naruto.

"Bodoh, hah itu hal yang mudah!" Ejek Sasuke sombong masih dengan wajah Stoicnya.

"Oke Deal!" Ujar Itachi dan Kyuubi bersama-sama.

Naruto dan Sasuke hanya mengangguk dan turun dari mobil, ya mereka memang harus turun disitu..

"Ah iya pesanku! Dunia ini keras, jaga sikap kalian kalau tidak ingin celaka. Dan jangan sebut nama Marga kita kalau kalian tidak ingin kehilangan nyawa! Karena musuh perusahaan kita banyak. . Jaa nee. . ." Pesan Itachi lalu pergi dengan mobilnya.

Naruto dan Sasuke berjalan beriringan pergi meninggalkan tempat tadi, mencari penginapan adalah hal yang harus didahulukan. Karena sebentar lagi sepertinya mau hujan. Mereka berjalan di trotoar dengan mengangkat tas rensel yang diberikan tadi. Capek.. Haus.. Itu yang mereka rasakan, berjalan sejauh 876m terasa berat.

Mereka memang jarang jalan jauh, palingan juga pas Joging aja tapi tidak membawa ransel yang terasa sangat berat itu. Mereka istirahat bentaran di sebuah toko kecil.

.

Naruto Pov

Haah.. perjalanan ini sangat melelahkan, kenapa harus begini sih.. enakan juga di rumah kan dingin. Kalau disini terasa panass.. Ku rogoh sakuku mencari dompet, eh ternyata dompetku tidak ada, ku buka saja Ranselku siapa tau uangku disana. Akhirnya ketemu juga, aku buka dompetku. Uangku? Kenapa hanya ada 50.000, aku pikir kemarin masih ada 500.000. Aku yakin aku tidak mungkin salah menghitung!

Tapi syukurlah kartu ATMku masih ada, segera ku ambil uang itu dan ku belanjakan 1 kaleng Orange Juice, 1 Tomato Juice, dan beberapa makanan ringan. Haaah.. uangku tinggal 30.000. Ku sodorkan Jus Tomat itu pada Sasuke. Kami istirahat melepas lelah untuk sementara.

Beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan, Yah.. betapa bahagianya diriku saat melihat ada hotel di seberang sana. Tanpa basa-basi lagi kami berjalan menuju Hotel itu.

"Pesen 1 kamar dengan dua kasur. Ada?" Tanya Sasuke.

Resepsionis itu mengangguk dan memberikan kuncinya, di sodorkannya ATM milik sasuke pada Penjaga Resepsionis itu.

"Maaf, ATM anda tidak bisa digunakan." Ujar Reseps itu sembari mengembalikan ATM Sasuke.

Sasuke mengambi ATMnya yang satunya lagi dan Nihil. 5 ATM milik Sasuke tidak bisa di gunakan. Ah mungkin kebetulan.. Aku ambil ATM milikku, Nihil juga udah 5 ATM aku coba tidak bisa semua. Apa yang sebenarnya terjadi.. Lalu kami harus tinggal dimana?

Dengan langkah Gontai kami berjalan keluar, ini bencana besar. Bagaimana aku bisa hidup, uang Cuma ada 30.000 aja. Sasuke juga sama, di dompetnya Cuma ada 50.000. Aku pikir ini bukan sebuah kebetulan. Tapi memang rencana yang sudah disusun dengan rapi, bukan tapi sangat Rapi!

Siang telah berganti malam, kami masih belum bisa menemukan Tempat tinggal. Di jalan tepatnya di sebuah gang, kami bertemu dengan berandalan. Mereka sedang mabuk-mabukan.

"Hey kalian kemarilah!" Ajak berandalan itu.

"Cih.. untuk apa?" Balasku sengit. Aku tak menyukai mereka Humbh..

Piyaaar. . . Botol minuman keras yang ia bawa pecah, botol itupun diacung-acungkan kearah kami..

"Berani juga kau rambut durian. Hahaha.. Berikan semua harta kalian!" Teriak Preman itu mendekat.

"Ck.. Bodoh, manusia seperti kalian itu tidak pantas hidup." Uajar Sasuke yang berhasil membuat berandalan tadi marah.

"Bocah sombong!" Teriak Brandalan itu lagi, dan berlari menyerang kami.

Kami melawan mereka yang awalnya dua lawan dua, jadi dua lawan sepuluh, teman mereka banyak sekali. Gaah.. Lenganku terkena pecahan kaca.. Ugh. . . Darah mengalir perlahan dari lenganku. Sasuke terkena pukul, ah kami kalah telak.

Kami terdesak dan lari pergi, ku lihat Sasuke yang kepalanya terkena pukulan kaca karena melindungiku. Darah.. darah mengalir melewati tengkuknya.

.

Sasuke Pov

Sial! Kepalaku terkena Kaca, sakit. Aku merasa cairan hangat melewati tengkukku. Apa itu, ku pegang tengkukku.. Ternyata itu darah.. Astaga! Perlahan pendanganku buram.. dan gelap!

.

.

Ku buka perlahan mataku menyesuaikan diri dengan cahaya sekitar yang sangat minim, ku tatap Sahabatku yang memangku kepalaku dengan pahanya. Wajahnya terlihat sangat khawatir..

"Tenanglah dobe! Aku tidak apa-apa." Coba menenangkan Sahabatku.

"Hah.. Teme! Kau bodoh ya, kenapa harus melindungiku? Kepalamu jadi berdarah begini kan!" Omelnya padaku.

"Haha.. kau gila dobe? Di tempat keras ini kita harus kerja sama, kita tidak punya siapa-siapa lagi disini!" Jawabku sedikit lebih lembut.

Ia kelihatan terkejut dengan perkataanku barusan. Haha dobe! Aku coba duduk, tapi sial kepalaku makin pusing.

"Sudahlah, kau tidur dulu saja Teme. Kita ada di tempat yang cukup aman, bahkan aku baru tau ada tempat yang seperti ini." Ujarnya lembut.

Aku hanya membalas dengan senyum kecil yang hampir tidak terlihat. Aku mulai memejamkan mataku.

.

Normal Pov

Sasuke mulai memejamkan matanya, Naruto menatapnya dengan tatapan lembut. Ya Naruto sangat menyayangi Sasuke, hanya Sasuke yang tau semua tentangnya. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Sasuke juga tau alasan Naruto bersikap bandel dan kasar pada orang lain dengan alasan yang sama seperti alasan Sasuke yang bersikap tidak peduli pada sekitar. Tapi itu tidak berlaku pada Naruto..

Kepedulian Sasuke pada Naruto melebihi kepeduliaannya pada kakaknya, entah karena apa ia seperti itu. Dan akan menjadi bencana besar kalau mereka sampai dipisahkan. Mereka bagai Siang dan Malam, mereka saling melangkapi satu sama lain..

Tanpa disadari dua pemuda Siang dan Malam itu, ada seseorang yang menatap mereka dengan seringai mengerikan, terlihat licik, kejam, dan beberapa definisi lain.

"Khu.. khu.. khu.. akhirnya aku menemukan mereka!" Seringai seseorang yang sedeng menatap Sasu Naru.

.

Whooah.. Pagi hari telah tiba, cahaya matahari menyilaukan mata Naruto. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya sekitar. Sudah pagi, itulah yang ia fikirkan. Ia menatap Sahabatnya yang masih tidur di pangkuannya, di usapnya rambut Raven itu dengan lembut. Senyum tulus tersungging di wajahnya..

Naruto coba mengangkat kepala sahabatnya lalu di pindah berbantal Ransel, Naruto berdiri dan berjalan pergi.

"Humm.. mau kemana Dobe?" Tanya Sasuke yang masing setengah sadar.

"Cari kerja, yah kita tidak mungkin diam begini kan. Dunia ini keras Teme. Kita bisa mati ditelan Takdir kalau kita hanya diam saja." Ujar Naruto yang tumben sedikit ada Nada bijak di dalamnya.

"Kenapa tidak membangunkanku eh? Kau mau bekerja sendiri? Kau kan Dobe, mudah dibohongi.." Ejek Sasuke.

Naruto hanya mendengus kesal, pukulan telak pada Naruto.. Memang benar kalau ia mudah dibohongi dalam keadaan seperti sekarang. Karena sifatnya yang dulu mulai sedikit mengilang..

"Hah.. baiklah. Ayo.. Tapi bagaimana kepalamu?" Ajak Naruto Malas.

"Tak apa, udah mendingan."

Mereka berdua berjalan beriringan mencari tempa kerja. Mereka tau, mencari kerja yang enak mana mungkin bisa. Ijasah di rumah, kalau ijasah kuliyah juga belum punya. Mereka saja kuliyah malas-malasan, bagaimana bisa selesai itu kuliyahnya.

Mereka hanya bisa merutuki kelakuan mereka berdua dalam hati, andai saja mereka tidak malas-malasan mungkin hidup mereka lebih mudah kan? Naruto mendekat ke sebuah bangunan belum jadi. Sasuke menatap Naruto dengan penuh tanda tanya sedangkan Naruto yang sekarang ditatap Sasuke malah cengir-cengir gak jelas.

Naruto menarik Sasuke menemui mandor disana.

"Pak, bolehkan kami bekerja disini? Kami kuat kok bener deh.. kami janji tidak akan ada kesalahan." Pinta Naruto dengan jutsu andalannya.

Sasuke menginjak kaki Naruto dengan keras. Naruto benar-banr gila! Mau ditaruh kemana wajah tampannya nanti. Uchiha Sasuke si Prince Kampus jadi tukang kuli bangunan. Ah.. sama sekali tidak keren! Pikir Sasuke.

"Baiklah.." Jawab mandor itu.

Disitu hanya Naruto yang bekerja sedangkan Sasuke enak-enakan duduk di bawah pohon. Sesekali ia menatap wajah Naruto yang terlihat kesal. Mungkin karena Sasuke tidak mau membantu, Ah ternyata rasa sayangnya pada Naruto juga kalah dengan gengsinya, harga dirinya.

Naruto jadi sering dimarahi mandor karena marah-marah terus. Naruto pun kembali bekerja tentu dengan Konsentrasi penuh. Peluhnya menetes hingga sekarang bajunya basah karenanya. Sasuke yan melihatnya jadi tidak tega, ia ikut membantu Naruto angkat berat. Satu fakta lagi, ternyata gengsinya kalah dengan hati kecilnya. Haha..

Hari demi hari mereka lalui dengan bekerja sebagai kuli, capek, berat, dan semua efek dari pekerjaan mereka sudah tidak ada apa-apanya lagi. Mungkin mereka sudah mulai terbiasa dengan lingkungan keras di dunia ini. Sikap Sasuke dan Naruto sedikit lebih baik dari sebelum mereka turun ke jalanan.

.

Sekarang adalah waktunya mereka gajian. Mereka berdua terlihat senang sekali awal mendapat gaji alias uang hasil keringat mereka sendiri bukan uang saku dari kakak mereka.

"Hah.. saatnya kita gajian Teme haha. Aku pikir semua ini tak menyenangkan hahah.." Ujar Naruto, auranya kini berubah menjadi lebih cerah.. Sasuke hanya tersenyum pada sahabatnya itu.

"Ini gaji kalian selama 2 minggu. 20.000 untukmu dan 20.000 untukmu!" Ujar mandor mereka yang setelah memberikan uang langsung pergi gitu aja.

Naruto dan Sasuke hanya menatap lembaran uang di tangan mereka. Haaah.. memangnya kalian pikir berapa besar uang yang akan kalian terima. Jangan bermimpi terlalu tinggi.. Ini dunia yang keras kalian tau itu kan?

"Hah.. yaudahlah dobe, ayo kita pergi. Tak masalah kok kalau uang ini cuma dikit. Yang penting kita udah usaha.." Ujar Sasuke menenangkan Naruto yang kelihatan kecewa.

Naruto hanya mengangguk, mereka sudah mendapat kontrakan buat tidur. Walau besarnya cum 2. Setidaknya mereka mempunyai tempat untuk berteduh.. Mereka berjalan mau cari roti dan air putih buat di makan di kontrakan. Di jalan mereka melihat dua orang bocah berlari larian.. tiba-tiba salah seorang anak bermbut coklat menabrak seorang pemuda berambut hitam, bisa di bilang dia orang kaya. Memukul bocah tadi.

'Hei, kalian bodoh atau apa ha? Kalau main jangan disini! Kalian kira ini jalan nenek moyang kalian apa?' maki pemuda kaya tadi.

'Ma. . . ma. . . maafkan kami tuan. Hikss.. sakit..' jawab bocah tadi terisak.

'Cih.. kau hanya mengotori bajuku dengan bau tubuh kalian yang sangat busuk!' maki pemuda kaya itu lagi.

Sahabat bocah itu hanya bisa menatap sedih sahabatnya diperlakukan seperti itu. Naruto tidak bisa tinggal diam melihat semua ini. Ia berlari mendekati pemuda sombong itu. Diikuti Sasuke dari belakang.

"Hentikan! Sudah cukup kau memaki bocah tidak bersalah ini, dia kan sudah minta maaf. Apa salahnya memaafkannya hah?" Teriak Naruto yang tangannya mulai mengepal ingin segera melayangkan pukulan pada pemuda sombong itu.

"Hah.. kau hanya orang miskin bisa apa ha?" Maki pemuda sombong tadi.

Hampir saja Naruto membuka kedoknya, tapi untunglah Sasuke datang dan mengingatkannya.

"Sudahlah Naruto! Jangan emosi begitu. Maaf tuan!" Ujar Sasuke seraya membungkuk hormat.

"Cih.. lebih baik aku pergi saja!" Ujar pemuda sombong itu. Ia melangkah pergi dengan sedikit seringai.

Naruto, Sasuke, dan dua bocah tadi pergi ke rumah bocah yang kena marah barusan. Hmm.. rumahnya kecil hanya ada kamar yang tersambung dengan dapur dengan ukuran 3x2 meter.

"Terimakasih kak.." Ujar anak berambut coklat itu.

"Hn. Namaku Sasuke dan dia sahabatku Naruto, siapa namamu?" Tanya Sasuke 'HALUS'.

"Konohamaru, dan ini sahabatku Udon(?) salam kenal.. hehe.." Jawab Konohamaru. Cengirannya mirip sekali dengan Naruto. Naruto balik nyengir..

"Kayaknya kami harus pulang dulu konohamaru-chan." Ujar Naruto sambil nyengir.

Konohamaru nyengir sembari mengangguk..

"Jaa.." Pamit Naruto.

"Jaa ne, Naru-nii, Sasuke-nii.."

Naruto dan Sasuke terdiam lalu tersenyum... Belum pernah ada orang yang mengatakan –nii, dan terlihat bahagia saat bersama mereka. Perasaan yang langka.

..Dikediaman Uchiha..

"Apa? Kau tidak bercanda kan? Jadi dia kembali. Ini akan jadi sulit!" Ujar Itachi dengan wajah panik.

Tut.. tuuuut..

"Ada apa Tachi-kun?" Tanya Kyuubi.

"Dia, dia kembali.." Jawab Itachi dengan suara sedikit bergetar.

"Menarik,, tapi sepertinya akan sulit. Tenanglah Tachi-kun!" Kyuubi menyeringai.

"Hai' Kyuubi-chan." Jawab Itachi.

.

.

TBC


Entah kenapa Kyuubi dan Itachi terkesan Yaoi yak? Hadah keseringan.. = =

Tolong Reviewnya ya..

Maaf kalau banyak yang salah...

Hehe aku lanjut aja deh..

Kalau boleh minta Kritik dan Saran hehehe...

.

Salam Author

Anaatha Namikaze