Chapter minggu lalu…

Aku diam. Dia kelihatan tidak berniat mengobrol denganku, dan lagi aku pun sudah mau pingsan. Apa aku pergi saja? Harus bagaimana?

"Aku melihatmu kemarin," mulainya. Ku urungkan niatku untuk pergi meskipun kedua kakiku sudah bergetar karena gugup. "Saat itu hujan dan ku pikir kau akan menerobosnya seperti hari sebelumnya, tapi kau masuk ke dalam toko itu."

"Eng, itu..itu k-kau melihatku?" ku beranikan bertanya.

"Hn. Saat kau keluar, aku mendekati toko itu dan masuk." Berarti yang kemarin ku lihat itu memang Gaara. Dan dia menunggu sampai aku keluar dari toko? "Anehnya, aku bertanya pada penjaga apa yang baru saja kau beli disana. Dia menunjukkan sebuah iPod padaku dan menjelaskan kalau kau tidak membeli earphone sebagai pasangan iPodmu. Aku juga tidak tahu kenapa aku membeli itu," jelasnya sambil menunjuk earphone digenggamanku. Kupikir mungkin saja kau akan suka."

Ini mimpi. Mimpi. Kami-sama, ini mimpi kan? Aku sedang berdua dengan Gaara sekarang. Mengobrol. Benar-benar mengobrol. Kalau ini mimpi, jangan biarkan aku bangun. Kumohon.

"Aku suka," jawabku malu. "Tapi kenapa kau meninggalkannya di loker? Kenapa tidak langsung memberikannya kepadaku?"

"Eh?" Ia terlihat kaget mendengar pertanyaanku. Ini kedua kalinya aku melihat ekspresi bingung Gaara. Ia kelihatan tidak siap kutanya begitu.

"Itu mungkin karena aku sudah lama..." ragu ia menggantung kalimatnya.

Aku menunggu sambil menunduk. Takut kalau-kalau dia menyadari bahwa selama ini aku selalu memata-matainya.

"…aku sudah lama memperhatikanmu," sambungnya.

Sedetik kemudian, aku mengangkat kepalaku, menatapnya tak percaya.

oOoOOoOOOoOOoOo

"Sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini, aku selalu merasa melihat bayanganmu. Seolah kau mengawasi setiap gerak-gerikku, tapi aku belum pernah melihat kau yang sebenarnya. Kemarin saat aku melintasi perempatan itu, aku melihatmu didepanku, mencoba menerobos hujan. Itu hari pertama aku melihatmu, kau dan bukan bayangan."

Deg!

"Tapi saat kau berdiri di bawah hujan, sosokmu menjadi kabur. Aku jadi sulit mengenalimu, dan tanpa sadar ku putuskan mendekatimu, ku jadikan tumpangan payung sebagai alasanku. Meski sudah didekatmu, aku tetap sulit melihatmu dengan jelas. Hmm, mendadak kau terlihat sakit. Aku benar-benar bingung karena sebelumnya belum pernah ada bayangan sakitmu dibelakangku."

"Aku saat itu," kata-kataku terputus. Gaara yang selama ini jarang bicara mengungkapkan semua ini dihadapanku. Meskipun ekspresinya datar tapi aku sangat senang.

"Saat itu kakakmu datang dan kau jatuh pingsan dipangkuannya. Pertemuan pertama kita begitu saja. Jujur aku sedikit kecewa. Tanpa alasan."

Kami berdua kini terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa, bahkan lututku sudah bergetar. Baka-Hinata! Katakan sesuatu, ayolah.

Setelah memutar otak, aku tetap tidak menemukan kata yang tepat. Pasti Gaara menganggapku aneh sekarang. Ia berdiri tepat dihadapanku. Ia lebih tinggi dariku, kulitnya putih, mata Emeraldnya tajam dan rambut merahnya terlihat berkilau. Mimik wajah Gaara datar, tapi justru disitulah pesonanya. Saat sedang sibuk meneliti wajah Gaara, tanpa sadar kedua mata kami bertemu.

Deg!

"Aku tidak pernah begini sebelumnya. Maksudku, ya aku tidak pernah merasa perlu untuk mengenal orang asing."

Meskipun ia mengatakan hal seperti itu, tatapannya menghangat. "Terima kasih," ucapku pelan.

"Jadi, ehm apa kau mau berteman denganku?" tanyanya ragu. Gaara menyusupkan telapak tangan kanannya ke dalam saku celana. Ia menungguku. Tentu saja aku mau. Menjadi teman Gaara? Bukankah itu ide terbaik yang pernah ada?

"Te-tentu saja," balasku.

Ia tersenyum.

oOoOOoOOOoOOoOo

13 Oktober 2008

Tadi siang aku bicara banyak hal dengan Gaara. Ia bahkan menghadiahiku sebuah earphone. Manis bukan? Aku saja tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi. Selain hal itu, ia memintaku menjadi temannya, aku tidak tahu persis 'teman' seperti apa yang Gaara maksudkan. Tapi kurasa itu hal yang baik.

oOoOOoOOOoOOoOo

Malam ini bulan tidak bersinar terlalu terang. Ia terlihat malu-malu dan bersembunyi dibalik awan. Aku memerhatikan bulan sambil mengenang kejadian tadi siang. Bukan mimpi.

"if you're gone I'll move on,

but it only would have taken two seconds

to say goodbye.."

Ku lirik ponsel yang ku letakkan di atas meja. Ponsel itu bergetar-getar. Siapa yang menelepon semalam ini?

Ku lihat Identity Callernya, nomor yang tidak dikenal. Ahh, aku tidak akan mengangkatnya. Kuletakkan kembali ponsel biru itu. Bahkan belum sempat aku melangkah menuju kasurku, ponsel itu kembali berdendang nyaring.

"Halo?" sapaku akhirnya.

"Halo. Ini Hinata?" aku mendengar suara diseberang. Mirip.. Naruto?

"Iya benar. Ini siapa?" tanyaku bingung.

"Ini aku, Hina-chan!" balasnya ceria. Naruto? Kaukah itu?

"Na-naru-kun?"

"Iyaaa!" jeritnya. Suaranya terdengar begitu bersemangat. "Apa kabarmu, Hina-chan? Apakah kau merindukanku?" lanjutnya bertanya.

"Naru-kun.." panggilku. Aku tidak menyangka ia akan menelepon. Ia sudah lama meninggalkan Jepang. Sudah lima tahun yang lalu.

"Iya? Kenapa? Sudah tidak sabar mau bertemu ya?" godanya. Mau tidak mau, aku merona mendengar itu.

"Bu-bukan. Hanya saja, kenapa kau tiba-tiba menelepon?"

"Oh itu," suaranya mendadak parau. Ia menangis? "Sebenarnya ada hal penting yang ingin ku katakan kepadamu."

"A-ada a-apa Naru-kun?"

"Sebenarnya aku.." ia menghela nafasnya. "Aku, sebenarnya AKU SUDAH DI JEPANG lho!" jeritnya riang.

Aku kaget mendengar hal itu. Bukan, bukan karena Naruto berteriak tetapi fakta bahwa ia disini. Di Jepang. Naruto kembali.

"Hina-chan? Kau baik-baik saja?" panggilnya khawatir.

"I-iya," jawabku. "Jadi, kau kembali?"

"Hina-chan, kau tidak senang?" tanyanya bingung. Bisa ku bayangkan ekspresi Naruto sedang kebingungan.

"Bukan itu," balasku gugup. "Aku senang kok."

"Hehe. Baguslah."

"Kapan kau sampai?"

"Baru saja lho. Aku langsung meneleponmu. Sekarang aku sedang diperjalanan menuju rumah nenekku."

"Kau pasti capek, Naru-kun. Istirahatlah," ucapku lembut.

"Hehe, capekku hilang kalau mendengar suaramu," cengirnya.

"Kau ini," jawabku malu. Naruto. Dia sahabatku sejak kecil. Lebih tepatnya ia tetanggaku. Sejak kecil kami selalu bersama. Ia juga selalu melindungiku, menjadi sosok teman yang juga menyerupai kakak. Tapi lima tahun yang lalu ia terpaksa pindah ke Inggris karena Ayahnya harus mengurus perusahaan mereka yang mengalami peningkatan. Naruto pergi begitu saja. Ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Selama ini, ku pikir ia tidak peduli terhadapku. Apa yang pernah terjalin antara kami pastilah tidak berarti apa-apa baginya. Namun, saat ini dia kembali. Kenapa semudah itu?

"Yaa, aku becanda kok. Oh ya, besok kita akan bertemu kan?"

"Tentu. Sudah dulu ya, Naruto-kun. Konbanwa."

"Oyasuminasai, Hinata-chan. Sleep tight," salamnya.

Aku masih menempelkan ponselku ditelinga padahal telepon itu sudah terputus lima menit yang lalu. Kenapa dia kembali ketika aku sudah melupakannya? Kenapa dia kembali saat aku tidak mengharapkannya? Kami-sama, bantulah aku.

oOoOOoOOOoOOoOo

14 Oktober 2008

Aku masih belum bertemu Naruto. Dia tidak muncul pagi ini, seperti yang ku duga. Kenapa aku mengharapkanmu menjemputku? Apa perasaan itu kembali? Padahal itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah punya Gaara-kun disisiku. Kalau memang aku sudah menghapus rasa itu, lalu.. kenapa aku kecewa ketika kau tak jua muncul?

oOoOOoOOOoOOoOo

"Hinata-san, ada yang mencarimu," panggilan Sakura menghentikan candaanku bersama Tenten.

"Siapa Saku-chan?" tanya Tenten penasaran. Ia mengabaikanku.

"Liat aja," jawab Sakura santai kemudian berlalu.

Siapa yang mencariku ke kelas?

Aku beranjak dari mejaku menuju ke arah pintu. Tenten mengekor dibelakang.

"Eh? Gaara-san?" panggilku kaget. Dia mencariku.

Ku lirik Tenten yang sedang pura-pura menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tersenyum kikuk.

"Oh maaf mengganggu," katanya. Lebih tepat ia tujukan itu pada Gaara. "Aku masuk dulu, Hina-chan" bisiknya sebelum ia masuk kembali.

"Ada apa Gaara-san?"

"Hn. Aku ingin mengajakmu pergi siang ini. Kau sudah ada janji?"

"Tidak kok, aku bisa."

"Hn, kalau begitu ku tunggu nanti siang di taman," balasnya. "Aku balik ke kelas dulu." Setelah ia pamit, aku masih terpaku menatap punggung Gaara yang pelan menjauh. Aku tersenyum, ku rasa siang ini akan menjadi hari terbaikku.

oOoOOoOOOoOOoOo

"Hai…"

"Ah kau datang!"

Aku menatap Gaara yang sedang tersenyum saat ini. Dia kelihatan riang. Tanpa ku sadari aku terbawa atmosfer Gaara dan ikut tersenyum.

"Iya."

"Hn, kalau begitu ayo kita pergi," ajaknya. Ia meraih tanganku dan menggandengnya.

Gaara-kun, ada apa denganmu? Aku jadi malu kalau begini. Semua orang seperti sedang menatap ke arah kita, kau tahu? Apakah kau merasakan hal yang sama?

Kami berdua berjalan bergandengan dalam diam. Aku hanya menurut pada Gaara yang menuntunku, entah menuju kemana. Kira-kira lima menit kami berjalan, dia berhenti. Ku perhatikan sekelilingku. Ini perempatan itu. Tempat dimana pertama kali aku dan Gaara bertemu langsung. Tempat yang menjadi saksi saat kami berlari bergandengan menerobos hujan. Ia mengambil posisi berdiri tepat dihadapanku. Saat ini kami berdiri di depan Toko Musik tempatku membeli iPod kemarin.

"Ada apa, Gaara-kun?" tanyaku cemas.

Ia tersenyum sambil menarik tangan kananku, dan mendekapnya. "Hinata-chan, tahukah kau kalau aku belum pernah begini sebelumnya?" Ia menatapku lekat. "Aku menyukaimu," lanjutnya.

Aku terlalu kaget sampai menarik tanganku yang didekap Gaara dengan sekali hentakan. Kini ia terlihat sama kagetnya denganku. Astaga, apa-apaan kau ini Hinata? Kau baru saja merusak saat terpenting dalam hidupmu!

"Ma-maafkan aku," suaraku dengan nada bersalah. "Aku tidak bermaksud begitu."

"Oh tidak apa," balasnya lembut. Ia kembali mendekap tanganku. Kali ini ia meletakkannya didadanya. Gaara-kun.

"Hinata-chan, aku menyukaimu," ulangnya. Kali ini aku tak lagi shock seperti sebelumnya. "Apakah kau juga?" tanyanya. Aku cuma bisa diam. Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan?

"Hina-chan?" panggilnya.

"Ya Gaara-san?" responku.

"Bagaimana perasaanmu padaku?"

Aku tidak bisa begitu saja mengatakan hal ini secara gamblang. Atau aku boleh?

"A-aku.. Aku juga Gaara-kun," balasku. Tak pedulilah soal hal lain. Hari ini hariku.

"Lalu, maukah kau menjadi, ehm maukah kau menjadi pacarku?"

"APA?" jeritku kaget. Gaara terlihat bingung. Ia memandangku dengan tatapan aneh. Matilah kau Hinata! Kali ini hancurlah sudah impianmu. Kau dan Gaara sudah selesai sekarang, bahkan sebelum kalian memulai sebuah hubungan. Ia sudah pasti ilfeel padamu. Ini sudah kedua kalinya kau merusak moment romantis kalian.

"Kau kaget?"

"Hm, ke-kenapa kau memintaku?"

"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat buatmu dan mungkin kau bingung tapi aku sungguh-sungguh."

"Gaara-kun, aku.. tolong bilang ini bukan mimpi. Berjanjilah kalau ini mimpi sekalipun, katakan padaku kau tidak sedang mengerjaiku kan?" tanyaku gugup. Bagaimana kalau dia hanya mempermainkanku? Tapi.. Gaara bukan orang seperti itu. Aku mengenalnya.

"Tentu saja tidak."

Deg!

Ia memelukku. Aku bisa merasakan deru nafasnya di leherku. Apa ini?

"Ga..Gaara-kun?" panggilku kikuk.

"Bagaimana?" tanyanya.

"Aku.." ku gigit bibir bawahku, cemas.

"Jawablah Hinata," pintanya.

Aku mengangguk sebagai gantinya. Aku tidak yakin masih bisa bicara setelah ini. Kepalaku pusing. Kuharap Gaara melihat anggukanku.

"Arigatou Hinata," suaranya. Ia menatapku, tersenyum bahagia.

Deg!

Bohong! Semua ini bohong! Aku dan Gaara? Kami pacaran sekarang? Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Bahkan memimpikannya saja aku tidak berani.

"Senyumlah," pinta Gaara mengaburkan lamunanku. Bukan mimpi. Ini nyata.

Ku sunggingkan senyumku. "Terima kasih Gaara-kun."

"Are we already too late?

Is our love over?

Even if it's a lie, please tell me,

It isn't. so I can do better now,

Though we can't meet again."

Tepat disaat kami hampir melakukan hal penting, ponselku berdering. Ada satu pesan yang masuk.

"Hinata-chan~!

Kau dimana?

Ayo bertemu di taman favorit kita.

Aku sangaaaat merindukanmu!

Ku tunggu.

Naruto."

Wajahku memucat begitu membaca pesan itu. Dari Naruto. Tepat saat aku baru saja jadian dengan Gaara. Aku tidak mungkin pergi. Ku tatap Gaara yang mengernyit. Bagaimana ini?


oOoOoo To Be Continued ooOoOo


Whoaaaaaaaaa :D

Gimana cerita kali ini? Adakah yang mau protes?

Maafkan saya, banyak OOC -_-"

Saya udah usaha buat karakter yang ga OOC tapi percayalah itu susah *alasan*

Semoga masih ada yang mau nunggu chapter 3 yaaa.

Atau sebaiknya fict ini berhenti sampai disini saja? OAO

Tell me readers XD

Maka dari itu review lha fict ini karena itu sangat berarti buat saya.

Jangan jadi silent readers yaa XD

Please?

Akhir kata, saya mau haturkan terima kasih buat yang udah luangin waktu buat baca xDD

Mau flame? Boleeeh banget!

Tapi login yaa terus klik yang biru-biru dibawah.

Cup basah,

xoxo.

oOoOOoOOOoOOoOo


Balasan Review :D


Bella 'Hime-Chan' SasuHina

Makasih ya udah review :D

Ini udah saya update, semoga suka.

Moe chan

Makasih ya udah review :D

Ini udah saya update, kurang panjang ga nih?

Hehe. Semoga semakin cinta GaaHinaa :D

Mayra gaara

Maaf ya ga bisa update petir(?) ;P

Gimana chapter ini?

Masih suka kah?

Makasih udah review.

Hina bee lover

Ini udah di update. Semoga suka :')

Lollytha-chan

Boleh dong ^0^?

Makasih udah favoritin fict ini :*

Salam kenal juga~~

Nerazzuri

Mau? Sini sini, saya jual kok :P

Hehe. Makasih.

Ekha

Ini dia lanjutannya xDDD

Yuuaja

Ini update-annya :D

Gimana? Gimana?


Buat yang login, pasti saya PM kok :D