"Are we already too late?

Is our love over?

Even if it's a lie, please tell me,

It isn't. so I can do better now,

Though we can't meet again."

Tepat disaat kami hampir melakukan hal penting, ponselku berdering. Ada satu pesan yang masuk.

"Hinata-chan~!

Kau dimana?

Ayo bertemu di taman favorit kita.

Aku sangaaaat merindukanmu!

Ku tunggu.

Naruto."

Wajahku memucat begitu membaca pesan itu. Dari Naruto. Tepat saat aku baru saja jadian dengan Gaara. Aku tidak mungkin pergi. Ku tatap Gaara yang mengernyit. Bagaimana ini?


oOoOOoOOOoOOoOo

Ayako Minatsuki

proudly present a GaaHina fiction

Tell Me Goodbye

3rd Chapter

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Tell Me Goodbye © Ayako Minatsuki

Pair:

Gaara X Hinata Hyuuga

Warning:

OOC, typo(s), alur terlalu cepat, diksi jelek, bahasa terlalu biasa,

ide cerita mudah ditebak, slight NaruHina, romance dimana-mana, penuh misteri :p

if you don't like this pair, please leaving this page as soon as you can but if you still want to read and then want to give me flames, please login before and give me good-reason.

A/N:

fict ini masih saya lanjutkan berkat teman-teman ffn

yang setia baca sampai di 2nd chapter.

terima kasih banyak buat:

ainaru-minato4869, Bella 'Hime-Chan' SasuHina, Ms Shalala Bum Bum, Akira Fujikaze, OraRi HinaRa, yuuaja, vaa-chan, Sora Hinase, Arukaschiffer, , Rufa Kha, Shinju Hikari Aozora, mayra gaara, Nerazzuri, Hina bee lover, Haze kazuki, org gla.

maafkan kesalahan saya yg menuliskan warna mata

Gaara-kun. warna mata Gaara-kun itu Emerald atau lebih tepatnya Aqua Marine. Bukan biru ataupun hijau :D

fict ini bukan terinspirasi dari BigBang, meskipun

saya pinjam judul lagu mereka 8DD;;

disini, orang ketiga itu sebenarnya Gaara lho *ditimpuk*

tapi ini GaaHina Fiction, jadi udah tau dong final-pairnya apa? 8DD;;

baiklah, semoga suka chapt ini.

hope you enjoy :]


oOoOOoOOOoOOoOo

Hinata POV

oOoOOoOOOoOOoOo


"Kau kenapa Hinata?" Gaara menatapku bingung.

"E-eh? A-aku, hmm ini Neji-nii mengirim pesan, menyuruhku cepat pulang," dustaku. Aku tak tahu kenapa aku bisa berbohong pada Gaara. Bibirku seolah otomatis mengujar kalimat-kalimat itu.

"Oh," desahnya kecewa. Ia menunduk.

Aku sungguh merasa bersalah pada Gaara. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal.

"Kalau begitu biar ku antar pulang," suaranya. Ia menengadahkan kepala menatapku. Disunggingkannya senyum yang ku tahu dipaksa. Kenapa harus hari ini? Hari baik. Kenapa aku malah mengkhianati Gaara? Kenapa, Kami-sama? Kenapa Kau biarkan Naruto kembali disaat aku sudah belajar menghapus luka-luka masa lalu?

"Hinata?" panggilnya. "Kau melamun."

"Maafkan aku Gaara-kun. Maafkan aku," suaraku parau. Aku kalut. Haruskah aku menemui Naruto? Bagaimana kalau setelah aku melihat dia, kepingan masa lalu itu kembali? Bagaimana bila aku tak bisa menahan diriku dan malah kembali jatuh pada pesonanya?

"Hei," suara Gaara lembut, ia menyentuh pundakku. "Kau kan tidak berbuat salah, kenapa harus minta maaf begitu? Aku tidak apa-apa kok," ucapnya tersenyum. Ia tulus. Baru kali ini aku bebas memerhatikan air muka Gaara. Ia sungguh-sungguh.

"Maaf," ulangku. "Aku mengacaukan hari jadi kita, Gaara-kun," desahku pelan.

"Tentu saja tidak. Kau telah membuat hari ini sempurna, Hina-chan. Aku yang salah, karna mengajakmu pergi tanpa membiarkanmu meminta ijin terlebih dahulu. Maukah kau memaafkanku?"

Aku menatap Gaara kaget. Betapa ia sangat manis. Ia meminta maaf padaku. Bukan.. Ini bukan salahmu Gaara-kun. Andai kau tahu aku berbohong demi menemui laki-laki lain, apakah kau masih akan tersenyum seperti ini? Maaf.. Maaf.. Maafkan aku..

oOoOOoOOOoOOoOo

Aku menatap mansion rumahku. Gaara.. Ya Gaara-kun mengantarkanku sampai disini. Aku tidak menerima pesan apapun dari Neji-nii. Pesan itu dari Naruto. Sabahatku semasa kecil. Sahabat. Itukah kata yang tepat menggambarkan hubungan kami?

Ia memintaku datang ke taman favorit kami. Taman favorit. Ku rasa kami sahabat. Sahabat boleh punya taman favorit, kan?

Dengan penuh rasa bersalah aku melangkahkan kakiku menuju taman itu. Letaknya tak jauh dari rumahku, hanya beberapa blok. Awalnya aku melangkah dengan malas, namun entah kenapa kini aku sedikit berlari, seolah-olah tak sabar menemui seseorang disana. Rasa berdebar-debar saat ingin bertemu sahabat lama, tidak salah kan?

Tepat di hadapan taman itu, aku berhenti. Ku amati tempat itu, tak ada siapapun. Kursi berwarna pelangi di sudut taman. Kotak pasir. Hanya ada ayunan yang berdecit, tanda ada orang yang baru saja menaikinya.

"Dia sudah pergi.." gumamku. "Sekali lagi, dia pergi begitu saja.." Aku kecewa. Tahu bahwa aku sia-sia mengorbankan kekasihku demi orang ini. Terbuat dari apa hatimu, Naruto-kun? Kenapa kau mengulangi kesalahan ini?

"Hina-chan?" Tepat ketika sebulir air mataku jatuh, ku rasakan sepasang lengan yang mengait di pundakku. Ia meletakkan dagunya di pundak kiriku, membuatku bisa merasakan deru nafasnya menyapu leherku.

"Eng, ng.. Naruto-kun?" panggilku. Bolehkah sahabat memelukmu dengan posisi seperti ini?

"Aku merindukanmu," suaranya lembut.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Celaka. Aku lepas kendali. "Naruto-kun?" panggilku lagi. "Ja-jangan begini." Ku lepaskan diriku dari pelukan Naruto. Ini salah. Ini bukan tindakan yang dilakukan seorang sahabat.

"Hehehe, kau malu ya?" tanyanya. Ia cengengesan.

Ku perhatikan lelaki yang berdiri dihadapanku. Ia sudah banyak berubah. Rambut pirangnya sudah ditata lebih baik. Raut wajahnya dewasa. Tak lagi menampilkan kesan bodoh seperti dulu. Matanya lebih tajam. Ia bahkan jauh lebih tinggi dariku. Naruto-kun, kau sudah berubah."Belum. kau tak sepenuhnya berubah ternyata," suaraku dalam hati. Aku tergelak melihat dia menampilkan senyumnya. Guratan dipipinya masih ada. Senyumnya masih seperti dulu. Ia masih Naruto-ku.

Eh? Mendadak senyumku hilang. Apa yang baru saja ku pikirkan? Naruto-ku? Ku? Aku menggeleng kuat. Mengacuhkan tatapan penasaran Naruto. Ini salah Hinata. Kendalikan dirimu.

"Kenapa ekspresimu begitu Hina-chan?" tuntutnya cepat. "Huh, kau bahkan tidak memeluk temanmu ini," katanya lagi. Ia kembali tersenyum.

"Ma-maafkan aku Naru-kun," desahku. "A-apa kabar?"

"Bagaimana aku terlihat, hehe." Ia menggaruk kepalanya.

"Kau terlihat sehat," jawabku. Aku tersenyum.

"Dan kau terlihat tidak sehat," candanya. "Kau sakit?"

"Ng, tidak kok. Mungkin aku cuma kelelahan saja."

"Kalau begitu, ayo." Ia menarik tanganku dan membawaku memasuki area taman bermain itu. Kami berdua duduk di atas ayunan yang tidak bergoyang.

"Sudah lama sekali ya kita tidak berayun-ayun disini," ia memulai.

"Iya."

"Hmm."

"Na-naruto-kun?" panggilku ragu. Ada yang harus ku tanyakan.

"Saya?" balasnya. Aku kembali tersenyum.

"Kenapa dulu saat kau pergi kau tak pernah mengatakan apapun padaku? Siang itu aku terus menunggumu sendiri disini, berpikir kalau kau akan segera datang, seperti biasa. Meski hari beranjak gelap aku tetap duduk disini, yakin kau pasti datang. Tapi bahkan sampai malam tiba pun kau tak kunjung muncul. Aku tetap bertahan sampai Neji-nii datang menjemputku. Menceritakan kalau kau sudah meninggalkan Jepang," jelasku panjang lebar. Air mataku sudah mulai mengalir. "Kenapa kau melakukan hal itu? Pergi begitu saja," isakku.

"Hi-hinata-chan? Kau menangis?" Naruto bertanya dengan nada cemas. Ia bangkit berdiri. Pelan menyentuh kedua pipiku. Menyapu air mata yang jatuh.

"Itukah yang dilakukan sahabat?" tuntutku. Air mataku semakin deras.

Naruto tersenyum sekilas. Senyum itu bukan yang dulu. Berbeda. Ia berlutut di depanku, menggenggam tanganku. Ku tatap langsung bola mata birunya. Menuntutnya menjawab pertanyaanku.

"Hinata," suaranya. Ia terlihat berpikir. "Itulah mengapa aku kembali," sambungnya. Aku mendengarkan. "Dulu aku pergi begitu saja, bukan karena aku tak menganggapmu sahabat. Bukan karena itu. Kau sendiri tahu kan aku begitu sayang padamu?"
"La-lalu kenapa?"
"Aku masih anak-anak saat itu. Umur kita 10 tahun, iya kan?" Aku mengangguk. "Aku sungguh tak ingin pindah saat mendengar kabar itu dari Ayah. Tapi aku pun tak sanggup membantah. Hari keberangkatanku begitu mendadak. Aku kalut. Tidak berani mengatakan semua padamu. Aku tidak bisa begitu saja datang padamu, tertawa-tawa, lalu dengan cengiran mengucapkan aku akan pergi jauh dan tidak tahu kapan kembali."

Kini raut wajah Naruto berubah. Ia terlihat tersiksa.

"Tapi, kau.. Kau bisa mengatakan sesuatu. Aku hampir beku kedinginan menunggumu Naru-kun."

"Itulah kesalahanku. Aku tidak memberikanmu hari perpisahan yang benar. Aku menyesal Hinata-chan. Selama ini aku selalu memikirkanmu. Masihkah kau menungguku, Hina-chan? Bencikah kau padaku?" Suaranya parau. Ia menahan tangisnya.

"Naru-kun.."

"Hei, jangan menangis lagi Hina-chan! Kau bisa membuat taman ini banjir," katanya. Ia tertawa. Terpaksa.

"Maaf," balasku. Ku seka air mataku.

"Dan disinilah aku sekarang." Ia berhenti sejenak. "Payah!" serunya mendadak. Aku tercengang.

"Ke-kenapa?" tanyaku.

"Kakiku sakit," jawabnya. "Hehe, maaf merusak momen ini. Ternyata berlutut itu tidak baik bagi kesehatan," ia mengucapkan kata-kata yang tidak ku duga. Naruto. Kau masih sama seperti dulu.

"Hmm, tapi karena ini salahku aku akan tetap berlutut." Ia menatapku serius. Aku tahu ini adalah puncak pembicaraan kami. "Aku menyukaimu Hina-chan," desahnya. Ku tatap wajahnya, mencari-cari aura kebohongan tapi nihil. Ia terlihat jujur. "Aku selalu menyukaimu. Sebagai teman kecil, sahabat, adik dan sebagai wanita yang ingin selalu ku jaga. Bahkan setelah aku bertemu banyak orang baru di Inggris, perasaanku padamu tak pernah pudar. Aku menyukaimu. Aku selalu ingin kembali ke Jepang, berlutut di hadapanmu, meminta maaf darimu. Tapi, Ayah tak pernah mengijinkanku. Ia bilang kita tidak hidup untuk masa lalu. Jangan lihat ke belakang lagi. Ia selalu mengatakan hal itu. Setiap kali aku merindukanmu, ia menasehatiku seperti itu. Aku jadi merasa bersalah. Bersalah padamu, bersalah pada Ayah."

"Ta-tapi sekarang kau pulang," kataku.

"Hehe," ia kembali tertawa pelan. "Aku kabur," katanya. Ia menyipitkan matanya seolah berusaha bilang 'Ini rahasia. Jangan adukan, oke?'

Aku tersenyum.

"Selama ini kita sudah melewati banyak hal. Lima tahun terakhir aku tidak mendengar kabarmu. Aku bahkan lupa bertanya apakah sahabatku ini sudah punya kekasih." Ia menerawang. "Jadi?"

"Apa?" tanyaku pura-pura.

"Kau sudah punya pacar?" ulangnya.

Aku mengangguk. Aku ingat Gaara yang ku bohongi. Sedari tadi kepalaku hanya di penuhi oleh Naruto.

"Bagus!" serunya mantap. Ia tersenyum. Berbeda. Bukan senyum Naruto yang biasa. Terasa asing sekali. "Dengan begini aku akan tenang."

"Tenang? Apa maksudmu?"

"Berarti kau sudah bahagia Hina-chan." Ia menoleh ke arah gerbang taman. Ada seorang wanita tua yang menatap kami dengan tatapan aneh. Seolah bertanya-tanya sedang apa kami berdua. Namun wanita itu cepat-cepat berlalu.

"Harusnya aku mengucapkan salam perpisahan saat itu. Apakah kau memaafkanku?" Aku mengangguk.

"Kau mencintai pacarmu?" Pertanyaan kali ini mengagetkan.

"Jawab aku Hina-chan." Aku mengangguk mantap. Ya, aku mencintai Gaara. Cuma Gaara.

"Kau bahagia melihatku kembali?" Ia kembali bertanya.

"Naru-kun, kenapa kau bertanya hal-hal seperti ini?"

"Ku mohon jawab saja, Hina-chan. Ini sangat berarti bagiku."

Aku mengangguk lagi.

"Aku mencintaimu."

Ku tutup mulutku dengan telapak tangan. Kaget. Ku tatapi Naruto. Ia tersenyum.

"Jangan kaget begitu," cibirnya mengejek. "Masa sih kau tidak tahu? Kau tidak peka, Hina-chan!"

"Kenapa baru sekarang kau katakan Naru-kun?" aku menatap Naruto yang perlahan terlihat kabur. Bukan Naruto yang mengabur. Matakulah yang berembun.

"Aku mencintaimu. Aku kembali untukmu. Aku pulang untuk mengatakan semua ini. Apakah kau pernah mempunyai perasaan yang sama untukku?"
"Naru-kun, a-aku selalu menantikanmu mengucapkan ini. A-aku tentu saja. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Aku bangkit dari tempatku. Ku peluk dia. Dingin.

"Terima kasih, Hina-chan.." ucapnya dengan nada senyum. Ia membelai rambutku.

"Cintai pacarmu lebih daripada kau mencintaiku."
"Ke-kenapa?" tanyaku. Aku hendak melepaskan pelukanku ketika Naruto malah semakin memelukku dengan erat.

"Aku kedinginan," katanya. "Biarlah tetap begini." Ia mencium pucuk kepalaku. "Hina-chan, jangan pernah lupakan aku ya? Aku sahabatmu, kan? Kau tidak membenci aku, kan? Aku sudah pulang. Tapi maaf aku tak lagi bisa menjagamu seperti dulu. Maafkan sahabatmu ini. Ku serahkan kau pada Gaara. Aku yakin dia anak yang baik. Ia tulus Hina-chan. Jangan sia-siakan. Setelah ini kau harus minta maaf karena telah berbohong. Seterusnya hiduplah dengan bahagia, jangan berbohong lagi. Maka aku pun akan bahagia."

Ia melepaskan dekapannya. "Ini hari perpisahan, kau tahu?" Ia tersenyum. "Jangan pernah menangis karenaku. Lanjutkan hidupmu. Jangan menyesali masa lalu terus menerus. Janji, tetap tersenyum untukku. Hiduplah untuk masa depan. Tersenyumlah untuk hari esok. Maukah kau berjanji?" Ia mengacungkan kelingking kanannya.

Tanpa pikir panjang ku kaitkan kelingkingku. Aku menangis. Kenapa kau mengucapkan semua ini padaku?

"Hei, kau sedang berjanji lho. Jangan curang! Kau tidak boleh menangis." Ia menatapku lembut. Menebar senyum.

"Maafkan aku Hina-chan," ujarnya. Ia menggenggam tanganku. Mencium punggung tangan kiriku.

"Na-naruto-kun!" seruku panik. "Ta-tanganmu begitu dingin, kau sakit?"

"Jangan panik begitu," ia menjawabku. "Masa sih dingin? Padahal aku merasa sangat kepanasan lho," tambahnya. Ia bercanda. Tangan Naruto begitu dingin.

"Selamat tinggal, Hina-chan.." Ia melepaskan tanganku. Bergerak begitu lambat meninggalkanku yang masih dengan mulut setengah terbuka. Tatapan penuh tanya.

oOoOOoOOOoOOoOo

"Bahagialah Hina-chan.."

"Hiduplah untuk masa depan.."

"Aku kedinginan,"

"Biarlah tetap begini."

"Hina-chan, jangan pernah lupakan aku ya?"

"Aku sahabatmu, kan?"

"Kau tidak membenci aku, kan?"

"Aku sudah pulang. Tapi maaf aku tak lagi bisa menjagamu seperti dulu. Maafkan sahabatmu ini. Ku serahkan kau pada Gaara."

"Aku yakin dia anak yang baik. Ia tulus Hina-chan. Jangan sia-siakan."

"Setelah ini kau harus minta maaf karena telah berbohong."

"Seterusnya hiduplah dengan bahagia, jangan berbohong lagi. Maka aku pun akan bahagia."

Suara Naruto berputar-putar di kepalaku. Ku sentuh dahiku yang terasa pusing. Aku pusing. Ku lihat bayangan Naruto yang menghilang. Ia sudah pergi.

"Ini hari perpisahan, kau tahu?"

"Jangan pernah menangis karenaku."

"Naruto-kun…." Desahku. Mataku berat.


oOoOOoOOOoOOoOo

End Of Hinata POV

oOoOOoOOOoOOoOo


"Ng.." Gadis itu menggerakkan kelopak matanya. Perlahan ia membuka mata yang sedari terpejam.

"Hinata!" Lelaki tua yang sedari tadi duduk di samping kasur gadis itu berseru senang. Puterinya sudah sadar. Ia tersenyum lega.

"A-ayah?" Gadis itu bingung. Bertanya-tanya kenapa dia bisa ada disini. Di kamarnya. Di liriknya jam dinding yang menunjuk angka 8 dengan sadisnya. 8 malam, pikir gadis itu.

"Akhirnya kau sadar," kata lelaki itu. Ia membelai rambut puterinya.

"Kenapa aku ada disini?" Ia bertanya linglung. "Oh iya!" serunya seperti melupakan sesuatu. "Mana Naruto?" Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar, mencari-cari. Ia melihat Ayahnya. Ibunya. Kakaknya. Lalu bola mata lavendernya bertubrukan dengan sebuah iris aqua marine yang teduh. Kekasihnya.

"Ka-kau bicara apa Hinata?" Kali ini kakaknya menatap Hinata bingung. Sedikit marah karena mendengar pertanyaan adiknya. "Kau mengigau," lanjutnya.

"Tapi tadi aku bersama Naruto di taman," ia mengaku ragu. Takut menatap lelaki berambut merah itu.

"Hinata sayang," Ibu si gadis buka suara. "Jangan begini." Wanita tua itu menatap iba ke arah puterinya. Ia menangis.

"Ibu kenapa kau menangis?" Gadis itu menatap orang-orang yang mengelilinginya. Bingung.

"Relakan dia, Hinata." Wanita yang dipanggil Ibu itu memeluk puterinya sambil terisak.

Gadis itu mencerna. 'Relakan?' ulangnya dalam hati.

"Dua hari lalu," kakaknya memulai. Gadis berambut indigo itu menatap kakaknya melalui bahu Ibunya. "Dua hari lalu Naruto," lelaki beriris unik itu terdiam, seperti terlalu berat untuk bercerita. Ia menunduk tak yakin.

Satu-satunya orang yang memiliki warna rambut berbeda di antara keluarga itu menyentuh pundak lelaki bernama Neji itu. Berusaha menyemangati.

"Dua hari lalu, Naruto ditemukan di sekolahnya.." Ia diam. "Dia sudah tak bernyawa…" lanjutnya mengakhiri.

Gadis itu tersentak. Begitu kagetnya. Kedua bola matanya melotot tanda tak percaya.

"Kakak bohong!" teriaknya.

Ia meronta.

"Tenanglah, Hinata.." Lelaki bernama Gaara itu bersuara.

Gadis itu diam. Tak bergeming. Dirasakannya tubuhnya seperti ditusuk beribu jarum.

"Naruto.." suaranya. "Kalian bohong.."

Ia menatap semua orang yang ada disitu. Mencari kebohongan. Mata demi mata ditatapnya. Ia tidak percaya siapapun saat ini.

Terlambat ia bendung. Air matanya mengalir deras. Ia acuhkan buliran-buliran itu.

"Hei, kau sedang berjanji lho. Jangan curang! Kau tidak boleh menangis.

"Hina-chan.."

"Hina-chan.."

"Hina-chan.."

Suara riang seseorang menggema di kepalanya. Bergema semakin keras. Pandangannya kabur. Gelap.


oOoOOoOOOoOOoOo

to be continued

oOoOOoOOOoOOoOo


tidakkkk!

apa ini, kenapa jadi kaya sinetron?

maaf maaf maaf

m(_)m

saya ga memperkirakan akan seperti ini lho.

ga tahu kenapa kok mendadak Narutonya dibuat udah meninggal ya? O.o7

maafkan saya kalau chapt ini jadi aneh.

terlampau aneh kah?

saya sudah berusaha untuk ngebaca berulang-ulang, tapi kok tetep ngerasa agak aneh -,-"

yang lebih aneh lagi saya nangis lho *ngaku*

ga iya banget nih, masa author nangis ngebaca ceritanya sendiri TAT"

huweee =3=

chapt kali ini malah penuh NaruHina, maaf yaa.

chapt depan mungkin yang terakhir, full GaaHina *janji*

adakah yang masih sudi memberi review supaya saya semangat melanjutkan fict yang tak seberapa ini?

maaf buat yang kecewa,

saya cuma author biasa

kritik, saran, cacian, peluk-cium lewat review sangat diterima readers-chan! ^^

cup basah,

xoxo.


[2010, Dec 30th]