PLEASE LOOK AT ME / CHAP 5

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T
WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

.

.

Terima kasih ya buat reviewer yang udah ngasih dukungan, saran, kritik dan ada juga beberapa yang melontarkan hinaan. Resiko author memang seperti ini, menjadi author harus siap dikritik bahkan dihina sekalipun, kalau tak siap ya jangan jadi author hehe. Maaf ya kalau alur ceritanya sedikit lambat karena memang caraku menulis cerita ya seperti ini. Kenapa aku memilih FF ini sebagai FF SASUSAKU karena dimanga asli sikap Sasuke dingin dan tak peduli dengan perasaan Sakura sedangkan Sakura bagaimanapun jahatnya Sasuke ia tetap mencintai Sasuke setulus hatinya. Makanya aku berfikir kenapa perasaan dua insan ini nggak dibuat dalam versi lain hehe. Oh ya buat yang suka FF ini, jangan khawatir aku akan posting FF ini sampai ending walaupun mengalami banyak rintangan ^o^

I LOVE YOU ALL

MENJAWAB PERTANYAAN SEORANG FLAMER

Kenapa kok Sasuke di jadiin brengsek banget? emangnya sakura kegatelan? sasuke udah memperkosa Sakura tapi kok gampang banget setelah lahir minta cerai, waw banget!

Menurutku, Sakura nggak kegatelan tapi cuma dia berada diposisi yang tidak mengenakan. Aku kadang bingung ada orang yang menyalahkan tingkah laku Sasuke disini, ya menurutku Fanfiction yang merupakan cerita fiksi jadi bisa digimanain aja dan fiksi berbeda dengan dunia nyata. Mungkin kalau dalam dunia nyata itu udah laki2 jahat tingkat dewa. Fanfiksi ini bergenre "Drama" seperti kita ketahui bahwa arti genre Drama adalah cerita yang menggambarkan berbagai konflik yang dialami tokoh utama, biasanya melibatkan masalah yang bertubi-tubi dan penyelesaian yang rumit.
Udah jelas bukan kenapa Sakura mengalami hal serumit ini.

Semoga ini bisa menjawab pertanyaan flamer yang ANONYMOUS. Oh ya buat FLAMER ANONYMOUS tunjukin identitas asli, kita bahas yuk sama-sama FF ini di private message biar kalian nggak salah paham dan aku tahu apa yang membuat kalian nggak suka. Diskusi itu lebih baik daripada hanya sekedar Hinaan tanpa Solusi ^_^

.

.

.

==PART SEBELUMNYA==

Hari berikutnya Sakura melakukan aktivitas seperti biasanya. Pergi sekolah dipagi hari. Sakura berjalan dengan santai dan dengan perasaan bahagia pagi ini. Sasuke sepertinya sudah agak baik padanya, walau mungkin dia memakan makanan buatannya karena terpaksa namun setidaknya Sasuke memakan masakannya. Walau hanya sekedar hal sekecil itu tapi Sakura sudah sangat bahagia. Saat dia menuju kekelasnya Sakura merasa aneh dengan cara semua orang memandang kearahnya, bahkan ada yang bisik-bisik di dekatnya. Firasat Sakura tidak enak, dia merasa ada sesuatu hal besar yang akan terjadi padanya. Dengan langkah ragu dia terus menuju ke kelasnya. Semua orang yang tadinya ramai mendadak diam ketika dirinya ada. Sakura semakin bingung dengan kondisi seperti ini. Mata Sakura terarah pada papan yang bertuliskan huruf besar.

"HARUNO SAKURA HAMIL"

ooOOoo

Sakura tak berkutik sedikitpun melihat tulisan dipapan. Hatinya berkecamuk, antara sedih, gugup dan rasa ingin menangis. Bagaimana mungkin berita ini menyebar, padahal Sakura sudah menutup rapat-rapat semuanya. Dia yakin kalau hanya keluarga besar Sasuke dan dirinya serta sahabatnya Naruto yang tahu tentang ini. Semua suara bising dari dalam kelas berubah sunyi ketika Sakura menampakan diri. Tanpa berpikir lagi Sakura menghapus tulisan dipapan dengan penuh amarah. Sakura melemparkan penghapus kelantai dan menatap seluruh temannya dengan pandangan garang.

"Siapa yang menulis hal seperti ini tentangku hah" ucap Sakura namun tak ada satupun temannya yang menjawab. "Kenapa diam saja. Apa kalian tidak mendengarku? aku tanya siapa yang menulisnya?". Sakura melihat Sasuke masuk tanpa menghiraukan dirinya yang ada di depan. Sasuke berjalan santai menuju bangku dan meletakan tasnya. "Asal kalian tahu aku tidak hamil". Sakura mengatakan hal itu dengan suara bergetar.

Sasuke mendongakkan wajahnya sambil melihat Sakura. Dia merasa kaget dan bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu di depan umum?. Tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi. Bisa gawat kalau semua orang tahu jika dia hamil. Pasti semua bertanya siapa ayahnya? cepat atau lambat semua teman-temannya akan tahu terlebih Shion dia tidak boleh tahu akan hal ini. Seorang gadis berambut panjang dengan mata tajamnya berjalan kearah Sakura sambil melipat kedua tangannya di dada. Nama gadis itu Temari. Dia sangat membenci Sakura karena dia menganggap Sakuraah perusak hubungannya denngan Shikamaru pacarnya, padahal sebenarnya pacarnya yang mendekati Sakura.

"Kau jangan berbohong lagi Sakura. Aku sudah tahu semuanya?" katanya.

"Memang apa yang kau tahu?"tanya Sakura memandang tajam kearah Temari.

"Saat aku mengantarkan bibiku kedokter, aku melihat kau pergi ke klinik dokter kandungan. Memangnya apa yang kau lakukan disana? Kau hamil, aku tahu itu. Aku juga mendengar semua pembicaraanmu dengan dokter tampan itu. Tapi sayang sekali aku tidak tahu siapa yang menghamilimu" katanya tanpa beban. Suara bisik-bisik seluruh teman kelas Sakura menggema, seolah mereka kaget dan tidak percaya kalau dia hamil. Sakura tidak bisa membantah karena memang kenyataannya seperti itu. Sahabat Sakura yang lain yaitu Ino mendekatinya.

"Kenapa kau melakukan ini padaku? kenapa kau begitu membenciku?".

"Karena kau sudah merebut Shikamaru dariku".

"Apa, merebut Shikamaru darimu? dengar, aku tidak pernah merebutnya darimu dia sendiri yang mendekatiku. Bukankah dia sudah memutuskan hubungan denganmu karena sikapmu. Lalu apa hak mu melarang dia berhubungan dengan wanita lain?" ucap Sakura. Temari merasa ditampar dengan perkataan Sakura yang begitu menyakitkan.

"Sakura, apakah yang dikatakan Temari itu benar?" tanya Ino. Ketika Sakura akan menjawab tiba-tiba sebuah pengumuman menggema diseluruh pelosok sekolah.

"Perhatian, untuk siswa yang bernama Haruno Sakura mohon datang ke ruang guru sekarang". Temari tersenyum bahagia. "Aku yakin setelah ini kau akan di keluarkan dari sekolah" ujarnya senang. Sakura tak menjawab dia hanya menatap Temari. Sekilas matanya melihat kearah Sasuke yang menatapnya dengan tatapan datar. Sakura memalingkan wajah lalu pergi keluar kelas.

"Hei, Sakura, SakuraI" teriak Ino yang berniat untuk menanyakan kejadian yang terjadi hari ini.

Sasuke melongo dan diam. Dia benar-benar takut, takut kalau semuanya akan terbongkar. Takut kalau semua orang tahu dia sudah menikah bahkan menghamili anak orang. Sasuke tidak mau mencemarkan nama baik ayahnya disekolah. Sudah cukup dia membuat ayahnya marah, kesal bahkan membencinya karena tabiatnya yang buruk. Bagaimana ini. Batinnya.

ooOOoo

Sakura sampai di depan pintu ruang guru. Sebelum memasuki ruangan dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk seraya berkata dalam hati "oke Sakura semua akan baik-baik saja" untuk menyemangati dirinya sendiri. Perlahan namun pasti dia mulai membuka pintu terlihat jelas banyak sepasang mata yang melihat kearahnya. Bagi Sakura pandangan itu terasa aneh dan sangat tak bersahabat. Wali kelas Sakura melihat dirinya dengan seksama. Dengan perasaan takut dia melangkahkan kakinya menuju ibu guru wali kelas.

"Sakura, apa kabar yang kudengar hari ini itu benar?" tanya ibu Guru, namun Sakura hanya diam. Semua guru lain memandang dirinya. Terpancar rasa ingin tahu yang teramat besar di pupil mereka. "Kenapa kau diam saja, ayo jawab!". Sakura berpikir mungkin jalan yang terbaik adalah jujur bukan kebohongan toh lama-kelamaan semua orang juga tahu.

"Iya sensei. Maafkan aku" jawab Sakura sambil membungkukan badannya Sembilan puluh derjat. Wali kelas Sakura yang tadinya berdiri, duduk lemas setelah mendengar pernyataan Sakura. Beliau sangat kecewa karena murid kesayangannya membuat suatu kesalahan yang fatal.

"Kenapa kau melakukan hal ini eoh? apa sebelumnya kau tidak berpikir apa akibatnya?". Sakura hanya bisa dia mendengar omelan wali kelasnya. "Sakura kau membuatku kecewa, kau ini gadis yang pintar kenapa kau menghancurkan masa depanmu sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka".

"Setahuku, kalau ada murid yang hamil diluar nikah pasti akan di keluarkan dari sekolah". Celetuk salah satu guru yang tak lain adalah guru mata pelajaran matematika.

"Bukan setahu anda tapi memang itu benar dan itu aturannya". Ucap kepala sekolah yang baru datang dengan memandang Sakura sinis. "Sayang sekali sebentar lagi kau lulus namun ternyata kau tamat tanpa ijazah".

"Kepala sekolah, apa anda benar-benar akan mengeluarkan Sakura? Satu minggu lagi dia akan lulus tak bisakah anda untuk membiarkan dia sampai lulus. Kepala sekolah aku mohon padamu"ucap wali kelas Sakura.

"Tsunade Sensei, tapi ini adalah aturan sekolah jadi ini tidak bisa di ganggu gugat" ucap kepala sekolah.
Tanpa di duga siapapun Sakura berjalan menuju kedepan semua meja guru. Ibu Han wali kelas Sakura memandang bingung dengan apa yang akan dilakukan Sakura. Mata Sakura berkaca-kaca memandang semua guru yang ada didepannya. Dia kemudian berlutut dihadapan mereka sambil menangis. Tsunade Sensei terkejut dengan perbuatan Sakura. Saat itu juga masuk seorang murid pria mengambil buku tugas diruang guru.

"Sakura, apa yang kau lakukan?" tanya tsunade sensei.

"Sensei aku mhon pada kalian, jangan keluarkan aku. Beri aku kesempatan untuk bertahan sampai aku lulus. Hanya ini satu-satunya yang ingin aku tamatkan, karena aku tahu aku tidak mungkin melanjutkan kuliah dengan kondisi seperti ini. Aku mohon belas kasihan kalian. Tolong jangan keluarkan aku dari sekolah". Sakura menitikan air matanya. Kedua tangannya menggenggam erat rok sekolahnya. Sejenak Sakura merasakan ada seseorang yang menarik bahunya dan menyuruhnya berdiri.

"Apa kalian tega menendang keluar gadis sepintar dia dari sekolah hanya karena kesalahan yang dibuatnya, bahkan mungkin kesalahan itu bukan sepenuhnya karena dirinya. Dia juga seorang manusia biasa yang tak bisa keluar dari lingkaran kesalahan. Tidak bisakah kalian sebagai guru memaafkan dia?". Ucapnya, Sakura terperangah kaget dan diselimuti rasa tak percaya melihat seorang yang ada disampingnya.

"Sasuke"ucap Sakura pelan.

"Tapi ini adalah aturan sekolah"ucap kepala sekolah.

"Aturan sekolah? Aku rasa tidak ada aturan seperti itu disekolah ini. Aku sudah membaca semuanya. Yang lebih tepat itu adalah aturan yang anda buat sendiri. Sebentar lagi adalah upacara perpisahan jadi aib ini akan cepat hilang karena sebentar lagi dia tak ada disini. Tsunade Sensei atau ibu guru yang lain. posisikan kalau kalian semua adalah Sakura, bagaimana perasaan kalian?". Semua guru hanya terdiam dan menundukan kepala. "aku yakin kalian akan melakukan hal yang sama seperti Sakura".

"Ini sudah keputusan dari kami jadi tidak ada yang bisa merubahnya!" ucap kepala sekolah tegas.

"Kalau begitu, kalian seharusnya juga mengeluarkanku dari sekolah ini. Apa kalian lupa kalau aku adalah murid yang selalu bikin onar disekolah, mencemarkan nama baik sekolah karena terlibat pekelahian dengan sekolah lain dan parahnya lagi itu diberitakan oleh berita-berita dimedia. Apa yang aku lakukan untuk membanggakan sekolah ini? Tidak ada. Beda dengan Sakura yang tiap tahunnya selalu membuat sekolah ini bangga atas prestasi yang ia raih, baik dibidang akademik dan non akademik. Kenapa kepala sekolah tidak mengeluarkan aku dari dulu?" ucap Sasuke. Pertanyaan semacam ini membuat kepala sekolah gelagapan untuk menjawab.

"Itu..itu karena kau…!".

"Karena aku anak dari penyumbang dana terbesar di sekolah ini, iya kan?" semua guru terdiam "Aku sudah tahu alasan kenapa kepala sekolah mempertahankan aku untuk tetap sekolah disini walaupun banyak guru yang mengajukanku untuk di keluarkan. Apa menurut kalian ini adil untuk Sakura?".

"Menurutku apa yang dikatakan Sasuke benar. Biarlah Sakura menikmati bangku sekolah menjelang acara perpisahan. Biarkan anak pintar ini mendapatkan keadilan. Aku mohon". Tsunade sensei berjalan kearah Sakura lalu mengenggam tangannya.
Semua guru mengangguk serta melihat kearah kepala sekolah. Si kepala sekolah tak bisa berkutik sedikitpun dia kalah telak dengan pendapa guru lainnya.

"Baiklah. Sakura kau bisa terus berada disekolah ini.". ujar kepala sekolah.

"Terima kasih sensei, terima kasih". Sakura membungkuk sembilan puluh derajat sampa lima kali sambil terus meneteskan air mata.

Sasuke tersenyum senang lalu membawa Sakura keluar dari ruang guru dengan genggaman erat di tangan Sakura. Tapi perasaan Sakura bukan senang namun semakin sedih dan sakit. Sedih karena nasib buruk ditakdirkan Tuhan untuknya. Seharusnya Sakura tidak memikirkan hal serumit ini di usianya yang masih sangat muda. Jujur Sakura sudah tidak sanggup menanggung beban yang ada di pundaknya. Teman-teman yang mulai sekarang akan selalu mencibirnya, masa depannya yang hancur dan terlebih lagi sikap dingin seorang Sasuke kepada dirinya. Lebih baik dia mati daripada harus hidup seperti ini.

"Semua sudah terlewati jadi jangan khawatir lagi kau tidak akan dikeluarkan dari sekolah". Sasuke berkata pada Sakura dengan senyuman bahagia. Namun Sakura memandangnya tajam dan tangisnyapun makin menjadi-jadi.

"Sebelumnya, aku sangat berterima kasih padamu tapi sekarang tolong lepaskan aku" ucapnya. Sakura menarik tangannya dari genggaman Sasuke dengan kasar lalu berlari sejauh mungkin. Sasuke merasa agak sakit hati mendapat perlakuan seperti itu.

ooOOoo

Sakura berlari, terus berlari sambil sesekali mengusap air matanya. Lebih baik Tuhan mencabut nyawanya sekarang dan berada disisi Sasuke karena Sakura merasa ada disisi Tuhan akan membuat dirinya hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian. Semua pasang mata baik murid yang ada di dalam kelas maupun yang berjalan di koridor melihat dirinya. Tanpa sengaja dari dalam kelas, Ino sahabatnya melihat Sakura berlari. Ino berlari keluar mengikuti Sakura tanpa ijin dari guru yang mengajarnya pada saat itu.

"Sakura, hei, Sakura kau mau kemana?". Suara Ino melengking namun Sakura tak menjawab.
Ino tak menyadari kalau ada seseorang yang ikut berlari di belakangnya. Ino bisa melihat Sakura menaiki tangga yang menuju lantai atas gedung sekolah. Ino khawatir dengan kondisi Sakura sekarang. Dia mengambil sebuah bangku tak terpakai lalu naik ke pinggiran pembatas gedung itu. Sakura melihat kebawah, ada rasa takut yang luar biasa namun rasa takut dikalahkan oleh nafsu yang ingin cepat-cepat mengakhiri hidupnya sendiri. Sedikit demi sedikit kaki mungil Sakura melangkah.

"Hei, yang akan kau lakukan?" teriak Ino dengan nafas yang tersengal-sengal. Sakura melihat Ino dengan berlinang air mata. "Sakura, jangan lakukan ini aku mohon".

"Aku sudah tidak sanggup menanggung ini semua Ino!".

"Ingat Kau tidak sendirian. Ada aku disini. Aku akan membantumu keluar dari masalah ini. Bunuh diri tidak menyelesiakan semunya".

"Kenapa Tuhan menakdirkan hidupku seperti ini. Apa Tuhan membenciku?".

"Tuhan tidak pernah benci pada umatnya. Tuhan itu sayang pada makhluk ciptaannya yakinlah kalau ada suatu kebahagiaan tak terhingga yang ada dalam hidupmu. Kalau kau bunuh diri sama saja kau membunuh bayimu yang tak berdosa. Walaupun aku tak tahu siapa ayahnya tapi Apa kau mencintai ayah dari bayi yang kau kandung?" tanya Ino Sakura pun mengangguk.

"Aku sangat mencintainya walaupun dia tak mencintaiku. Caraku mencintainya dengan merawat bayi yang aku kandung walaupun dia sebenarnya tak menginginkan bayi ini".

"Benar sekali. Ingat Sakura kau adalah satu-satunya anak dari orang tuamu. Apa kau bisa membayangkan bagaimana sedihnya ibumu kalau kau meninggalkan mereka". Sakura menggeleng lemas, "Kalau begitu turunlah Sakura jangan lakukan hal konyol seperti ini lagi. Aku mohon". Ino mengulurkan tangan pada sahabat kecilnya. Agak sedikit ragu Sakura menerima uluran tangan Ino dan turun dari pinggiran gedung. Mereka berpelukan serta menangis.

"Terima kasih Ino kau sudah peduli padaku" Sakura terus menangis tanpa henti.

"Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi Sakura". Perintah Ino Sakura hanya mengangguk.

Baik Ino maupun Sakura tak tahu sama sekali kalau Sasuke dari tadi melihat gerak-gerik mereka. Sasuke bersandar lemas di dinding. Entah kenapa dia merasa bersalah telah memperlakukan Sakura seperti itu. "Aku sangat mencintainya walaupun dia tak mencintaiku. Caraku mencintainya dengan merawat bayi yang aku kandung walaupun dia sebenarnya tak menginginkan bayi ini". Kata-kata ini yang membuat dia merasa bersalah. Ingin sekali dia minta maaf. Sasuke berjalan lunglai meninggalkan Ino dan Sakura dia baru tahu kalau beban, tekanan batin yang di tanggung Sakura itu sangatlah berat. Tentu dia sebagai pria tidak pernah mempedulikan cibiran orang-orang. Ponsel Sasuke tiba-tiba bergetar dengan cepat dia mengambil ponselnya.

"Moshi-moshi—eoh Shion kemana saja kau? Aku khawatir beberapa hari ini ponselmu tak bisa kuhubungi—Kapan, nanti malam? Baiklah, aku mencintaimu" tanpa mendapat jawaban, Shion keburu menutup ponselnya
ooOOoo

Dirumah yang besar nan mewah terlihat Sasuke sedang asyik membaca komik di depan TV. Tak ada tanda-tanda kehidupan didalam rumah kecuali dari Sasuke sendiri. Biasanya menjelang malam seperti ini Sakura sudah sibuk berkutat di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Namun untuk hari ini Sakura mengurung diri di kamar. Sasuke tahu sekali kalau dia terpukul dengan kejadian yang terjadi di sekolah. Dia merasa aneh dengan suasna sepi seperti ini biasanya Sakura selalu mengajaknya ngobrol walaupun dia tidak pernah menanggapinya dan entah kenapa Sasuke rindu akan hal itu. Rindu akan Sakura yang selalu berusaha untuk mendekatinya.

"Aduhhh, kenapa aku jadi terpikir olehnya?". Sasuke berusaha membuyarkan pikirannya dengan menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Lebih baik aku siap-siap untuk berkencan dengan Shion". Sasuke menutup komiknya dan melangkah menuju Kamar.

Tepat di depan kamarnya Sasuke melihat kamar Sakura yang sama sekali tak ada tanda kehidupan. Jujur Sasuke sedikit khawatir. Dengan ragu dia berjalan di depan pintu kamar Sakura. Ingin sekali dia mengetuk pintu lalu menanyakan keadaanya. Tak disangka pintu terbuka sehingga membuat drinya terperanjat, terlihat jelas sosok Sakura yang wajahnya belepotan dengan cat lukis.

"Sasuke, sedang apa kau disini?".

"Aku…aku…hanya….". jawab Sasuke gelagapan.

"Kenapa kau mengkhawatirkanku ya?".

"Kau jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh. Aku ada janji dengan seseorang" Ucap Sasuke. Terlihat Sakura terdiam dan berpikir sesuatu.

"Kau akan bertemu dengan Shion?" tanya Sakura tanpa ragu.

Sasuke merasa aneh, dia tidak tega untuk jujur pada Sakura. Entah kenapa perasaan itu muncul dan membuat Sasuke merasa bersalah. Sasuke mengangguk membalas pertanyaan Sakura lalu masuk kedalam kamar.

Sakura memang sudah tahu pasti. Sasuke tidak akan keluar rumah kalau tidak ada janji dengan Shion. Jujur ini membuat hatinya sakit namun bagaimana lagi, ini adalah konsuekensi yang harus dia tanggung. Beginilah rasanya berumah tangga dengan seorang pria yang mencintai wanita lain. Dirumah bagaikan di neraka untuk Sasuke. Sakura terus-terusan berdiri sambil memikirkan keadaan dirinya sendiri. Sakura melihat Sasuke keluar dari kamar dengan kaos lengan panjang tanpa mengenakan jaket dimalam yang dingin ini. Sasuke hanya melihatnya sejenak lalu melangkah menjauh dari istrinya.

"Tunggu"seru Sakura. Sasukepun berhenti dari langkahnya sedangkan Sakura bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang tak lain adalah sbuah syal berwarna putih. Tanpa ragu dia mendekati Sasuke lalu mengenakan Syal itu. "Di Luar sangatlah dingin, kalau kau tak mmemakai jaket setidaknya pakailah syal biar tubuhmu lebih hangat".

Sasuke sema sekali tak menanggapi ucapan memandang wajah Sakura secara seksama dan itu sempat membuat wajahnya memerah. Secepat mungkin dia membuang pandangannya dari istrinya. Usai Sakura memakaikan syal, Sasukepun pergi. Beberapa langkah berjalan dia merasa kalau Sakura memanggilnya.

"Sasuke-kun, aku berterima kasih sekali kau telah membantuku untuk menyelesaikan masalahku di sekolah. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas budi padamu tapi yang jelas aku sangat berterima kasih padamu dan akan menjadi istri yang baik selama delapan bulan sampai perceraian kita tiba"ucap Sakura.

Sasuke terdiam sesaat. Iya benar perceraian. Sebentar lagi atau sekitar delapan bulan kedepan. Dan yakin semua mimpi buruknya akan berakhir. In the End dia bisa menjalani hubungan dengan Shion tanpa ada yang mengusik mereka.

ooOOOoo

Shion menatap dirinya didepan cermin dengan senyum penuh kepuasaan. Dia begitu bahagia karena Tuhan memberikan wajah yang sempurna padanya. Berkat wajah ini Shion memiliki seorang kekasih yang tampan. Kekasih yang menjadi idola oleh semua gadis remaja di sekolah bahkan diluar lingkungan sekolah. Tapi ketampanan itu tidak membuat Shion merasa bisa menjaga cintanya. Akhir-akhir ini perasaannya terhadap Sasuke sangatlah biasa. Tak ada getaran seperti dulu, mungkin kearena dia jarang bertemu dan menemukan teman sekaligus lingkungan baru sehingga lupa akan kekasihnya Sasuke. Di balut syal merah dan dengan rambut dikuncir seperti ekor kuda, walau sederhana Shion masih terlihat sangat cantik dengan make up polosnya. Shion berjalan menuju tempat yang dituju karena dekat dengan rumahnya. Sebelumnya dia ke supermarket dulu untuk membeli sesuatu. Saat antri untuk membayar di kasir, Shion tak sengaja mendengar ucapan dua orang gadis yang tak bukan adalah teman satu sekolahnya.

"Eh, apa kau dengar kejadian tadi disekolah katanya Haruno Sakura anak kelas 3-5 hamil?" Ucap gadis berambut pendek.

"Iya, aku mendengar kabar itu. Sebenarnya pihak sekolah akan mengeluarkannya saat itu juga tapi Sasuke membela Sakura dan membuat semua pemikiran guru berubah. Apa kau tidak merasa hal ini sangatlah aneh?". Tanya gadis berambut panjang.

"Ini memang benar-benar aneh. Aku juga dengar kabar kalau Sasuke yang menghamili Sakura".

"Apa yang kau katakana tadi? Sasuke menghamili Sakura?"ucapnya. Si dua gadis itu kaget karena tiba-tiba saja Shion kekasih Sasuke ada di hadapan mereka. Mereka berdua tak menjawab apa-apa.

Shion bagaikan disambar petir mendengar kebar ini. Jantung beserta paru-parunya seperti berhenti berfungsi. Semua tubuhnya mati rasa. Shion tak percaya, tidak mungkin Sasuke seperti itu karena Sasuke sangat mencintainya. Sulit baginya untuk berpaling dari dirinya. Agar lebih tepatnya Shion berinisiatif untuk bertanya pada Sasuke secara langsung malam ini juga. Shion berjalan lebih cepat menuju sebuah café. Dari luar dia melihat Sasuke bermain-main dengan ponselnya.

" Shion kau sudah datang rupanya. Hari ini kau cantik sekali" Puji Sasuke namun Shion terdiam menahan amarah. Sasuke merasa aneh dengan sikap Shion malam ini. "Hei, Shion kau kenapa?"

"Katakan padaku sejujurnya. Apa yang aku dengar itu kalau kau menghamili Sakura?". Sasuke tertegun. Tubuhnya mendadaka terasa dingin, Jantungnya berpacu tak terkendali. Bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa tahu akan hal ini?. Batin Sasuke. Lidah Sasuke terasa kelu dan sulit untuk digerakkan.

"Kenapa kau diam saja Sasuke? Ayo jawab!".

TO BE CONTINUE

Waah ternyata Shion, sudah mengetahui perihal kehamilan Sakura yang melibatkan Sasuke. Bagaimana hubungan Shion dan Sasuke, terus berlanjut atau berakhir?
Tunggu Chapter selanjutnya ^o^