PLEASE LOOK AT ME / CHAP 6

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T
WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

.

.

==PART SEBELUMNYA==

"Shion, kau sudah datang rupanya. Hari ini kau cantik sekali" puji Sasuke, namun Shion terdiam menahan amarah. Sasuke merasa aneh dengan sikap Shion malam ini. "Hei Shion kau kenapa?"

"Katakan padaku sejujurnya. Apa yang aku dengar itu kalau kau menghamili Sakura?". Sasuke tertegun. Tubuhnya mendadaka terasa dingin, Jantungnya berpacu tak terkendali. Bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa tahu akan hal ini?. Batin Sasuke. Lidah Sasuke terasa kelu dan sulit untuk digerakkan.

"Kenapa kau diam saja Sasuke? Ayo jawab!".

ooOOoo

Teriak Shion sehingga membuat semua pengunjung café melihat kearah mereka. Shion tak kuasa lagi menahan tetesan air matanya. Sasuke bingung apa dia harus jujur atau berbohong tapi kalau dia bohong sampai kapan dia akan menyimpanya.

"Maafkan aku Shion tapi itu terjadi…".

"Jadi itu benar, eohh kau benar-benar membuatku hampir mati Sasuke. Aku ingin kita putus" ucap Shion sambil berjalan Keluar dari café.
"Hei, Shion tunggu aku. Tolong dengarkan penjelasanku". Sasuke mengejar Shion lalu memegang tangan kekasihnya itu dengan kasar. "Tolong dengarkan aku!".

"Lepaskan aku Sasuke!" bentak Shion sambil menghempaskan tangannya dari cengkraman Sasuke. "Apa lagi yang akan kau jelaskan eoh, semuanya sudah jelas. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Anggap saja kita tak pernah saling kenal. Hubungan kita sampai disini". Saat itu juga sebuah bis datang. Dengan cepat Shion naik ke dalam bis.

" Shion, dengarkan aku".

Sasuke berlari mengejar bis yang dinaiki Shion. Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengimbangi laju kecepatan bis. Sasuke menggedor-nggedor sisi belakang bis sambil terus belrlari berteriak-teriak memanggil nama kekasihnya. "Shion, aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini. Aku bisa menjelaskan semua", Namun semakin lama Sasuke sudah tak bisa mengimbangi laju bis. Kakinya terlalu lemah untuk melaju sejajar dengan kekuatan mesin. "SHION!" teriaknya.

Shion sama sekali tak menjawab panggilan Sasuke, dia hanya bisa menangis, dadanya terasa sesak dan sakit karena menahan semuanya. Terlihat jelas dimata Sasuke, semakin jauh bis itu pergi semakin kecil bayangannya lalu menghilang. Sasuke terduduk lemas di pinggir jalan raya. Kepalanya tertunduk, pelupuk matanya basah karena air mata yang tak bisa lagi di tahan olehnya. Sasuke sangat mencintai Shion, baginya tak ada gadis lain sesempurna Shion dan sebaik Shion. Seluruh hatinya beserta jiwanya untuk Shion tapi kenapa? Kenapa Shion tega membuang hati itu jauh-jauh. Menjerumuskan dirinya dalam lubang hitam. Kenapa orang yang dicintainya harus pergi sedangkan orang yang tak dicintainya selalu ada disampingnya. Sasuke merasa Tuhan tak adil. Tuhan itu terlalu jahat padanya.

"Jangan tinggalkan aku". Ucap Sasuke dalam tangis.

ooOOoo

Sakura berbaring disebuah ruang yang sederhana bercat serba putih. Bola matanya mengikuti kemana sinar berwarna kuning itu bergerak namun cahaya itu menghilang. Didepan matanya sekarang terlihat jelas sosok wajah sang dokter yang tampan, siapa lagi kalau bukan Naruto sahabat karibnya yang berprofesi sebagai dokter. Naruto meletakkan stetoskop di perut Sakura yang sudah semakin besar. Umur kandungan Sakura sudah menginjak dua bulan. Naruto menganggukan kepala lalu memerintahkan Sakura untuk bangun.

"Sejauh ini bayimu baik-baik saja dan terlihat sangat sehat" senyum Naruto padanya.

"Benarkah? syukurlah. Aku benar-benar khawatir dengan kondisinya karena akhir-akhir ini aku melakukan banyak aktivitas" ucap Sakura mengelus-ngelus perutnya.

"Apa kau juga minum susu khusus buat ibu hamil?".

"Eoh, susu buat ibu hamil? aku belum pernah minum susu semacam itu". Tanpa mengatakan apapun Naruto memberikan sebuah bingkisan pada Sakura. "Apa ini?".

"Ini adalah susu yang aku maksud. Minumlah ini secara teratur setelah sarapan dan makan malam, dengan begini bayimu akan tumbuh semakin sehat" ujar Naruto.

"Terima kasih banyak" ucap Sakura

Naruto tak henti-hentinya memandang sahabatnya sekaligus gadis yang dicintainya. Perih itu yang dia rasakan. Sakit ketika tahu gadis yang ia cintai hamil sebelum waktunya. Naruto merasa kalau Sakura terlihat sangat tertekan bahkan terkesan depresi. Kantung matanya hitam tanda kurangnya dia tidur. Naruto tahu, kehidupan Sakura sekarang tidaklah mudah. Hamil di usia yang belia merupakan tantangan besar bagi gadis remaja. Apakah Sakura bahagia? Apakah Sakura merasa hidupnya tenang? Batin Naruto.

"Oh iya, dua hari lagi adalah upacara kelulusanmu. Setelah ini kau ingin belajar di universitas mana?" tanya Naruto sesekali melihat jam tangannya. Wajah Sakura yang tadinya bahagia seketika berubah menjadi murung.

"Aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi" jawab Sakura lemas.

Naruto menyesal menanyakan hal itu pdanya. Seharusnya dia tahu kalau Sakura pasti tak akan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan keadaan yang seperti ini. Naruto ingat kalau dulu saat kecil Sakura ingin menjadi seorang dokter sama seperti dirinya.

"Maafkan aku Sakura. Aku tidak bermaksud untuk…".

"Aku tahu dan kau tidak salah. Hidupku serasa sangat berat dan sulit untuk meniti masa depan. Aku tidak tahu apakah setelah melahirkan akan dapat meraih cita-citaku. Kehidupan rumah tanggaku delapan bulan kedepan sudah di tentukan. Aku dan Sasuke sepakat untuk mengakhiri pernikahan setelah bayi ini lahir atau warisan dia sudah kembali". Sakura tersenyum kecil. Senyum yang menandakan sebuah luka yang mendalam.

"Bercerai? bagaimana bisa? bukankah kau mencintainya?".

"Iya benar aku memang mencintainya namun apa gunanya cinta kalau hanya salah satu pihak yang merasakannya. Apa gunanya mempertahankan perasaan kita demi orang yang mencintai orang lain. Aku rasa ini lebih baik daripada kita selalu bersama. Aku ingin menghilangkan perasaan ini tapi aku tak bisa. Aku hanya….". Sakura tak kuasa menahan rasa sakit dihatinya. Dia hanya menangis dan terus menangis.

"Sakura, jangan menangis. Hatiku terasa perih melihatmu seperti ini. Tenanglah, ada aku yang akan selalu menemanimu" Naruto mendekati Sakura lalu merangkulnya. "Jangan sedih lagi. Lebih baik kita jalan-jalan untuk menenangkan pikiranmu, bagaimana kalau kita makan malam? Aku akan menraktirmu makanan yang enak".

"Menraktirku makanan enak? dimana?" tanya Sakura antusias.

"Ahahaha dari dulu kalau bicara tentang makanan kamu tak pernah berubah. Kau tidak perlu tahu yang jelas ikutilah aku oke. Ayo berangkat". Naruto melepaskan jas prakteknya lalu keluar dengan menggandeng tangan Sakura penuh kasih sayang.

ooOOoo

Seperti yang dikatakan Naruto, sekarang mereka berdua berada di sentra belanja dan pusat restoran tepatnya di daerah Akibahara. Harga barang yang dijual dipusat perbelanjaan ini juga terkenal miring daripada di pusat perbelanjaan yang lain. Naruto dan Sakura memesan chicken rice yang biasa disebut dengan talkabi. Sakura merasa beban yang ada di pikirannya lama kelamaan menguap dari otaknya seiring dengan hiburan yang ia rasakan. Selain makan malam Naruto mengajak Sakura untuk belanja baju. Baju ini bukan untuk dirinya namun untuk Sakura. Baju yang longgar merupakan baju yang harus dipakai oleh wanita hamil. Awalnya Sakura menolak tawaran sahabatnya itu tapi setelah dipaksa akhirnya Sakura menerima pemberian Naruto. Usai belanja dan makan mereka berdua pulang. Naruto mengantarkan Sakura sampai rumahnya. Sudah tak ada rahasia lagi antara dia dan Sakura jadi Sakura merasa tenang-tenang saja.

"Ini rumahmu ya? rumahmu besar sekali hehehe" gurau Naruto

"Rumah besar tapi sepi" gumam Sakura lirih. Naruto merasa bersalah dengan candaannya. Sakura yang dulu benar-benar berbeda dengan Sakura yang sekarang. "Baiklah aku masuk dulu. Hati-hati di jalan". Sakura melangkah meninggalkan dirinya.

"Sakura!" panggil Naruto dan Sakurapun menoleh kearahnya "Bisakah delapan bulan kedepan kau mencintaiku seperti kau mencintai Sasuke. Setelah bercerai, maukah ku menjadi istriku. Aku berjanji akan menyayangi bayimu seperti aku menyayangimu. Aku akan membuatmu bahagia".

Sakura terkejut, tertegun dengan semua ucapan Naruto. Sekarang dia tahu betapa Naruto sangat mencintainya. Tak mudah menyayangi anak orang lain seperti anaknya sendiri. Sakura tahu kalau seandainya dia hidup bersama Naruto hidupnya akan bahagia dan tenang, tidak seperti sekarang. Tapi apa daya dia tidak mencintainya, Sakura takut dia akan melukai Naruto karena sikapnya. Mulut Sakura terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba ada seseorang bersuara tenor yang memanggilnya.

"Sakura, sedang apa kau disitu ayo masuk, aku ingin bicara denganmu" ucap Sasuke secara kasar dia menggelandang lengan kiri Sakura. Naruto tak terima melihat Sakura diperlakukan seperti itu. Naruto berlari kearah Sakura dan memegang lengan kanannya.

"Jangan bersikap kasar pada Sakura" ucap Naruto gusar. Sasuke memandang sejenak Naruto dengan tatapan yang sangat sengit.

"Memangnya siapa kau? beraninya kau berbicara seperti itu padaku. Sakura adalah istriku" ucapnya

"Kau baru menganggapnya istri kalau dalam keadaan seperti ini. Ehh lucu sekali" ucap Naruto tak mau kalah dengan Sasuke. "Dengar, kalau kau membuat Sakura menangis aku tak akan pernah memaafkanmu".

"Kenapa? kau suka padanya?" tanya Sasuke tegas.

"Iya aku menyukainya. Andai saja Sakura bersamaku dia pasti akan bahagia tidak seperti sekarang".

"Naruto sudahlah" ucap Sakura berusaha untuk melerai mereka.

"Oke ambilah Sakura setelah aku menceraikan dia. Delapan bulan merupakan penantian yang tak lama bukan?". Sasuke menjadi semakin emosi karena berhadapan dengan orang menyebalkan seperti Naruto.

"Aku sudah tahu dan aku memang berencana seperti itu..!". Amarah Naruto semakin membara.

"Naruto lepaskan aku" kata Sakura. Namun Naruto menolak , "Aku bilang lepaskann akuuu!". Sakura berteriak dia juga terbawa emosi melihat dua orang yang bertengkar. Perlahan Naruto melepaskan genggaman tangannya "Naruto, lebih baik kau pulang sekarang".

"Ta-tapi Sakura…!".

"Aku mohon Naruto pulanglah"ucap Sakura memelas.

Mata Naruto tak henti-hentinya melihat kearah Sakura yang semakin menjauh darinya karena Sasuke menggandengnya dan menyuruhnya masuk. Sakura tak mengatakan apa-apa dia hanya memandang Naruto dengan mata basah karena genangan air mata di pelupuk matanya.

"Sakura, aku mencintaimu. Tunggu aku delapan bulan lagi. Aku akan menikahimu!" teriak Naruto yang saat itu juga di barengi dengan suara pintu yang tertutup dengan kasar. Hatinya terasa tersayat dan perih melihat gadis yang di cintainya diperlakukan seperti ini.

ooOOoo

Sesampainya di dalam rumah. Sasuke melepaskan genggaman tangannya dari lengan Sakura. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memejamkan kedua matanya. Sasuke terlihat sangat lelah dan depresi berat karena diputuskan secara sepihak oleh Shion. Menurutnya ini semua salah Sakura. Dia menduga kalau Sakura menyebarkan berita kalau dia yang menghamili didirnya kepada semua murid disekolah. Kalau dia tak menceritakan dan menutupnya rapat-rapat tak mungkin Shion mengetahui hal ini.

"Sasuke-kun kau terlihat sangat lelah. Aku akan membuatkan teh untukmu biar kau lebih merasa fresh".

"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan semua itu" ucap Sasuke galak.

"Ehmm, maafkan ulah Naruto. Dia memang seperti itu. Tempramental itu sifat dominan dari dalam dirinya. Tolong jangan ambil hati ucapannya" ucap Sakura masih berdiri di depan pintu. Tanpa mengatakan apapun Sasuke tiba-tiba berdiri dn berjalan mendekat kearahanya.

"Apa kau pernah menceritakan kepada semua teman sekolah kalau aku menghamilimu". Sasuke terus saja berjalan mendekatinya dengan tatapan yang amat mengerikan. Firasat Sakura tak enak jadi dia berusaha menjauh dari Sasuke dengan berjalan mundur.

"Aku tak pernah menceritakan kepada siapapun sungguh". Kecuali dengan Naruto batin Sakura dalam hati. Pandangan Sasuke semakin mengerikan, Sakura sudah tak bisa berjalan mundur lagi. Tubuhnya terhalang oleh pintu.

"Kau tak pernah mengatakannya eoh. Jangan berbohong padaku Sakura, katakan padaku sebenarnya. Ayo katakan!". Sasuke berteriak. Hal ini membuat Sakura sangat ketakutan.

"Sudah aku bilang aku tidak pernah mengatakan hal itu pada siapapun!".

Sakura juga berteriak untuk menghilangan rasa takutnya. Ini membuat Sasuke tersulut emosinya dan BRAAAAK! Sasuke memukul pintu tepat dikepala sebelah kiri Sakura. Sakura tertegun mendapat perlakuan seperti ini. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Semua tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.

"Karena kau Shion tahu hal ini dan meninggalkanku. Karena kau masa depanku, cintaku dan hidupku hancur. Karena kau aku harus kehilangan segalanya. Semua karena kau, aku sangat membencimu. Kau tahu Haruno Sakura aku sangat membencimu!".

Amarah Sasuke benar-benar meledak. Matanya melotot kearah Sakura. Dagunya bergetar menahan amarah yang ada. Sasuke menangis. Baru pertama kali ini Sakura melihat Sasuke terasa perih dan sedih bukan karena perlakuan Sasuke padanya tapi karena melihat orang dicintainya menitikan air mata. Sakura tahu kalau cinta Sasuke untuk Shion begitu besar. Ini salahnya. Seharusny dia tidak masuk kedalam kehidupan Shion dan Sasuke.

"Maafkan aku Sasuke, maafkan aku" ucap Sakura

Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya dengan berlinang air mata. Sasuke baru sadar dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Sakura. Terlihat jelas di mata Sasuke tubuh Sakura gemetar. Mata sipit Sakura tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Sasuke benar-benar tak sadar dengan tingkah lakunya sendiri. Seolah seperti ada seseorang yang mengendalikan dirinya. Dia benar-benar tak sadar. Tangannya merah dan sakit karena benturan keras antara tulang tangannya dan kayu. Amarah sudah menguasai seluruh sarafnya bahkan akal sehatnya. Sasuke tak mengatakan apapun dia lalu pergi ke kamar meninggalkan Sakura.
"Apa yang sudah kau perbuat Sasuke" batinnya.

ooOOoo

Satu Jam sampai dua jam berlalu. Sakura merenung di dalam kamar. Seharusnya pernikahan ini tidak terjadi. Seharusnya juga dia tidak membiarkan bayi ini hidup. Andai saja dia menuruti perkataan Sasuke untuk menggugurkan kandungannya pasti Sasuke tidak akan tersiksa karena dirinya. Sakura sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan agar Sasuke bahagia. Sakura sudah tahu. Dia berdiri lalu melangkahkan kakinya ke kamar Sasuke dengan membawa peralatan untuk mengobati luka. Perlahan dia membuka kamar Sasuke. Sakura tersenyum melihat Sasuke tidur karena menurutnya dengan tertidur seperti ini wajah Sasuke seperti malaikat kecil. Sakura duduk tepat di depan tangan kanan Sasuke yang bengkak serta memerah. Dengan hati-hati Sakura memegang tangan Sasuke agar tak terbangun dari tidurnya. Pertama Sakura mengolesi tangan suaminya dengan obat merah lalu membalutnya dengan perban serta perekat. Sakura sedikitpun tak marah dengan perlakuan Sasuke. Bahkan dia yang merasa bersalah. Usai mengobati luka Sasuke, dia tersenyum lalu keluar. Sepeninggal Sakura, Sasuke membuka matanya lalu beralih memandang perban di tangannya. Perasaan Aneh muncul dan bergejolak dihatinya. Dia merasa menyesal telah bersikap kasar pada Sakura. Sebenarnya dia sepenuhnya tidak tidur matanya hanya sekadar terpejam. Sakura itu terlalu baik atau bodoh kenapa dia masih saja peduli padaku. Batinnya.

"Sakura, maafkan aku" gumamnya pelan.

ooOOoo

Esok paginya merupakan upacara perpisahan kelas tiga di sekolahnya. Pagi-pagi sekali Sakura sudah memasak sarapan untuk Sasuke dan dirinya. Masakan kesukaan Sasuke di pagi hari adalah pasta. Dari dapur Sakura mendengar suara derap langkah yang turun dari tangga. Terlihat Sasuke hanya memakai kaos dalam putih beserta celana panjang. Wajah Sakura memerah melihat Sasuke seperti itu. Sasuke melihat Sakura lalu berjalan mendekatinya. Namun ketika Sasuke mendekat Sakura mundur dengan kaki yang tahu Sakura merasa ketakutan karena ulahnya tadi malam. Melihat hal seperti itu Sasuke menghentikan langkahnya dan mengambil jarak agak jauh dari Sasuke. Dia benar-benar menyesal telah membuat Sakura ketakutan seperti ini.

"Sakura, terima kasih kau telah mengobati luka di tanganku" ucap Sasuke. Sakura hanya menunduk dan menggangguk. Dia sama sekali tak berani menatap Sasuke. "Sakura, maafkan aku atas perlakuanku kemarin malam. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah aku lakukan. Maafkan aku". Sasuke berjalan cepat lalu memeluk Sakura. Hati Sasuke yang tergerak untuk memeluknya. Entah kenapa dia ingin sekali memeluk Sakura dengan kondisi dia yang seperti ini

"Aku benar-benar takut" ucap Sakura.

"Ya, aku tahu. Aku berjanji untuk tidak seperti itu lagi maafkan aku" kata Sasuke. Ada perasaan aneh saat dia memeluk Sakura. Perasaan sejuk dan nyaman. Ini benar-benar aneh. Tanpa sengaja Hidung Sasuke mencium sesuatu. "Bau apa ini?". Tanyanya dengan masih memeluk Sakura.

"Astaga pastanya!".ujar Sakura melepaskan pelukan Sasuke dari tubuhnya. Sakura gugup "Aduh kenapa jadi hangus seperti ini". Kalau seperti ini Sakura terlihat sangat lucu. Sasuke tak tahan untuk tidak tertawa.

"Ahahahahah Sakura kau lucu sekali".

"Jangan tertawa ayo bantu aku ".

"Ahahaha iya..iya aku bantu"

ooOOoo

Hari ini Sakura sangat bahagia karena dia merasa kalau hubungannya dengan Sasuke mengalami kemajuan walaupun itu bukan kemajuan pesat. Yang membuat Sakura bahagia adalah ketika Sasuke memeluknya. Walaupun hubungan mereka lebih baik namun dia dan Sasuke saling menjauh saat upacara perpisahan. Orang tuanya dan orang tua Sasuke juga hadir. Sakura mendapat sebuah penghargaan dari sekolah karena prestasinya. Walapun dia dalam masalah besar bahkan masalah yang membuatnya malu namun dia tetap tampil tegar di hadapan semua murid dan wali murid. Kali ini Sakura member sebuah sambutan.

"Aku sangat berterma kasih kepada semua bapak dan ibu guru yang masih berkenaan memberiku sebuah penghargaan yang terhormat ini walaupun aku dalam sebuah masalah besar. Aku juga sangat berterima kasih kepada semua teman-teman yang selalu memberiku semangat. Kepada kedua orang tuaku yang selalu sabar menghadapiku".

Semua murid, wali murid dan guru mendengarkan baik-baik kata sambutan dari Sakura. Mata Sasuke juga tak henti-hentinya memandang Sakura.

"Tak banyak kata yang ingin aku ucapkan. Aku hanya ingin meluruskan sesuatu tentang berita yang beradar selama ini di sekolah. Memang benar adanya kalau aku hamil dan banyak kabar yang mengatakan kalau Sasuke adalah dari bayi yang aku kandung. Aku ingin mengatakan bahwa…."

TO BE CONTINUE

Heemmm apa yang akan dikatakan Sakura? apa dia mau mengakui didepan umum kalau Sasuke benar-benar terlibat dalam hal ini?