PLEASE LOOK AT ME / CHAP 7
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
.
==PART SEBELUMNYA==
"Aku sangat berterma kasih kepada semua bapak dan ibu guru yang masih berkenaan memberiku sebuah penghargaan yang terhormat ini walaupun aku dalam sebuah masalah besar. Aku juga sangat berterima kasih kepada semua teman-teman yang selalu memberiku semangat. Kepada kedua orang tuaku yang selalu sabar menghadapiku"
Semua murid, wali murid dan guru mendengarkan baik-baik kata sambutan dari Sakura. Mata Sasuke juga tak henti-hentinya memandang Sakura.
"Tak banyak kata yang ingin aku ucapkan. Aku hanya ingin meluruskan sesuatu tentang berita yang beradar selama ini di sekolah. Memang benar adanya kalau aku hamil dan banyak kabar yang mengatakan kalau Sasuke adalah dari bayi yang aku kandung. Aku ingin mengatakan bahwa…."
ooOOoo
"Kalau kabar itu tidak benar. Sasuke sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Jadi, aku mohon pada kalian jangan sangkut pautkan Sasuke dalam masalahku. Hanya karena dia membantuku lalu kalian menjadikan Sasuke kambing hitam. Itu sama sekali tidak lucu bukan?". Sakura tersenyum dan memandang Sasuke penuh arti. "Aku mohon kepada kalian jangan lagi bawa nama Sasuke dalam masalahku. Aku mohon". Sakura membungkukan badannya.
Sasuke terdiam melihat Sakura. Dia tidak menyangka Sakura berbuat sejauh ini untuk dirinya. Mempermalukam diri sendiri di depan umum untuk menjaga nama baiknya. Sasuke merasa malu pada dirinya sendiri karena perlakuannya pada Sakura selama ini jahat dan kejam. Entah kenapa harga dirinya sebagai laki-laki sudah hilang, pengecut dan seorang pria brengsek yang bersembunyi dibelakang punggung seorang wanita. Dia tidak mau berlindung dibalik penderitaan Sakura. Dia seorang pria, seharusnya ia menjalani masalah ini dengan kepala tegak. Sudah cukup, semuanya sudah cukup. Sasuke berjalan tanpa ragu menuju panggung dimana Sakura berdiri. Semua mata beralih memandang ke Sasuke, mata Sakura tak lepas dari wajah Sasuke yang semakin lama semakin dekat dan akirnya ia sudah ada disamping Sakura. Sasuke sedikit menggeser microfon kecil tepat kearah mulutnya. Bola matanya mulai melihat setiap wajah para undangan dan murid-murid sekolah yang merupakan teman seangkatannya. Para siswa dan para undangan mulai berbisik dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan pria tampan ini. Sasuke tahu resiko yang akan ia terima setelah ini. Dia akan menjatuhkan nama baik ayahnya yang santun dikalangan guru, wali murid bahkan rekan bisnis ayahnya. Rasanya sudah cukup ia membuat Sakura menderita dan menghadapi masalah ini sendirian.
"Bayi yang dikandung Sakura adalah anakku!" ucap Sasuke.
Mendadak suara didalam aula menjadi sunyi, namun itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Setelahnya, suara gumaman para undangan terdengar bergaung diseluruh aula. Semua orang terlihat kebingungan namun bagi ayah Sasuke itu merupakan kebanggaan karena Sasuke mau mengakui kesalahannya. Walaupun awalnya uchiha fugaku berusaha untuk menjaga nama baiknya demi perusahaan. Kedewasaan itu lebih penting dibandingkan hanya sekedar nama baik.
"Sasuke-kun?" ucap Sakura tak percaya. Tak hanya Sakura, sang pembawa acarapun tak percaya. Sebagai pembawa acara yang baik, seharusnya ia bisa menghandel semua rentetan acara yang sudah ada dikonsep sebelumnya.
"Ahahahaha, anak-anak ini memang ada-ada saja. Maaf tapi durasi untuk Sakura-chan sudah habis. Dimohon untuk meninggalkan panggung".
Sakura menggelandang paksa Sasuke keluar dari Aula pelaksanaan upacara kelulusan.
ooOOoo
Sakura membawa Sasuke di tempat teratas gedung sekolah ini. Tempat dimana Sakura terkadang menghabiskan kesendirian karena dikucilkan oleh teman-temannya, kecuali satu sahabatnya yaitu Ino. Sakura dan Sasuke duduk dibangku panjang yang sudah tersedia sejak dulu disekolah ini. Mereka duduk berdampingan bahkan berdekatan. Wajah Sasuke terlihat tak bersemangat, seperti ada hal yang membuatnya galau.
"Kenapa kau melakukan hal itu Sasuke-kun?"tanya Sakura.
"Aku tak bisa melihatmu terus seperti ini. Aku tak mau terus bersembunyi dipunggungmu. Aku adalah seorang pria, jadi seharusnya aku mengakuinya sejak awal".
"Jika kau mengakui semuanya, maka keluargamu khususnya ayahmu akan hancur. Nama baiknya dipertaruhkan disini. Sasuke-kun, mungkin kau menanganggapku bodoh karena aku terlalu baik dan sabar menghadapi masalah ini. Aku melakukan ini demi kebaikan keluargaku dan keluargamu" ucap Sakura.
Sasuke memandang Sakura yang tersenyum ramah padanya. Entah kenapa hari ini Sakura terlihat sangat cantik. Tidak, tidak hanya hari ini dia terlihat cantik namun sebenarnya dia memiliki kecantikan melebihi kecantikan Shion. Bukan wajah namun kecantikan hati malaikat yang sakura miliki. Sasuke melihat wajah Sakura secara seksama, sedikit demi sedikit Sasuke mendekatkan wajahnya kearah Sakura. Entah kenapa Sasuke seperti ini, tak hanya sikapnya yang sedikit berubah namun perasaannya pun sedikit terbuka untuk Sakura. Haruno Sakura sedikit demi sedikit sudah berhasil masuk kedalam hatinya. Sakura terdiam, dia tak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini. Cup, bibir merah Sasuke mengecup bibir Sakura yang mungil. Sasuke mencium Sakura lembut dan penuh perasaan. Sakura memberanikan diri untuk membalas ciuman Sasuke. Bukankah hal seperti ini yang Sakura impikan. Bagi Sakura semua ini seperti mimpi.
"Aku akan terus mencintaimu Sasuke-kun" batin Sakura.
ooOOoo
Acara kelulusan pun berlalu, semua murid melanjutkan dengan acara berfoto bersama dengan teman sekelas beserta wali kelas. Orang tua Sakura dan Sasuke sedang berbicara serius sedangkan Sasuke dan Sakura hanya diam melihat teman-teman yang asyik foto. Semua orang sudah melupakan kejadian yang tak disangka oleh mereka semua. Sebagian besar dari mereka percaya bahwa tadi hanya sekelumit candaan kecil dari Sasuke.
"Hei, Sakura maukah kau berfoto denganku?" ajak Ino sahabat Sakura. Dia hanya membalas dengan senyum khasnya. Usai berfoto tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekati Sakura.
"Sakura maukah kau foto denganku?" ujarnya.
"Shikamaru tapi…."
Tanpa mengatakan apapun, Shikamaru yang menyukai Sakura langsung mengambil foto mereka berdua. Mereka semua tak sadar kalau Sasuke melihat dengan pandangan tak mengenakan. Dia lalu berjalan cepat menuju kearah Sakura dan teman-temannya. Dengan kasar Sasuke menarik lengan Shikamaru agar menjauh dari Sakura kemudian dia menarik Sakura dalam rangkulannya. Entah kenapa Sasuke tiba-tiba berperilaku aneh seperti ini.
"Apa yang kau lakukan Sasuke?" tanya Sakura terbata-bata.
"Aku ingin berfoto denganmu. Ino tolong foto kami berdua" perintahnya.
Ino kaget kenapa tiba-tiba Sasuke meminta foto bersama Sakura bahkan dia tidak pernah tahu kedekatan sahabatnya dengan Sasuke. Dengan tawa Ino mulai memfoto mereka berdua. JEPRET!. Bagi Sakura hari ini benar-benar hari terindah dalam hidupnya. Sasuke sekarang sudah mulai sedikit mau berbaur bahkan berteman dengannya. Bukan hanya sekedar berbaur namun kejadian diatas gedung sekolah antara ia dan Sasuke membuat Sakura malu namun senang. Hal ini membuat Sakura semakin yakin kalau langkah atau keputusan yang diambil itu benar. Sakura ingin hadirnya dia membuat Sasuke bahagia dalam hidupnya bukan membuatnya terpuruk seperti ini. Dalam foto itu Sakura terlihat bahagia sekali sambil membawa rangkaian bunga. Tak ada Shion di acara perpisahan, karena dia sibuk dengan trainee modelnya.
"Hei, Sasuke, sedang apa kau disana kemarilah" teriak teman satu genk Sasuke. Tanpa basa-basi dia menghampiri teman-temannya. Terlihat jelas Ino melirik Sakura dengan senyuman jail.
"Sakura apa benar yang dikatakan Sasuke bahwa anak yang kau kandung ini adalah anaknya?" tanya Ino penasaran. Sakura tak menjawab, ia hanya menunduk sedih. Ino paham bahwa memang itulah yang terjadi. Sebagai sahabat Ino member sebuah pelukan penyemangat untuk Sakura.
ooOOOoo
Sepulang dari upacara perpisahan kelulusan, Sasuke langsung mengunjungi salah satu café terkenal dikawasan elit yaitu Erito. Banyak juga artis-artis yang biasanya nongkrong disini. Sasuke memakan brownies kacang kesukaannya sedangkan temannya asik bermain laptop karena di dalam café itu menyediakan wifi gratis. Seluruh sahabat Sasuke yang tergabung dalam gengnya sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya antara sahabatnya dan Sakura. Namun, hal itu tak membuat sahabt Sasuke meninggalkannya. Bagaimanapun keadaan Sasuke, mereka harus tetap mendukungnya. Teman-temannya juga berjanji akan tutup mulut tentang hal ini. Sasuke bingung setelah lulus sekolah dia harus kuliah di mana, dia juga bingung jurusan apa yang harus ia ambil. Sama sekali tak ada gambaran di otaknya tentang masa depan yang ada malah dia menggendong seorang bayi laki-laki yang sangat lucu dan berjalan santai dengan Sakura di taman kota. Tanpa sadar mata Sasuke melihat sosok seorang Shion berjalan menuju kerumunan genknya.
"Hai, maafkan aku terlambat" ucapnya santai.
"Akhirnya kau datang juga. Bagaimana kabarmu?" tanya salah satu teman Sasuke berperawakan kurus dengan rambut pirang.
"Kabarku baik". Senyum Shion tipis lalu pandangan matanya beralih ke Sasuke. "Aku ingin bicara berdua dengan Sasuke. Bisakah kalian meninggalkan kami sebentar?" Perintahnya.
"Hmm, tentu saja. Sebelum kau menyuruh kami. Kami juga akan pergi. Ayo kita menari". Ajak teman gendut Sasuke pada temannya.
Merekapun menjauh dari Shion dan Sasuke. Sasuke terus saja diam tak mengatakan apapun. Jujur dia merasa sakit hati karena diputus sepihak dengan Shion. Memang dia salah tapi sehrausnya dia mendengar penjelasan Sasuke walau hanya sedikit. Hatinya sakit melihat Shion. Sakit karena dia sudah tidak bisa memiliki gadis yang sangat dicintainya. Tapi anehnya perasaan sakit itu tak sesakit dulu. Bahkan semua sakit itu sekarang sudah hampir tak rasa lagi. Shion meneguk jus jeruk yang sudah ia pesan. Seperti biasa dia terlihat sangat cantik sekali.
"Bagaiman upacara perpisahannya?"tanya Shion santai.
"Tak ada yang special" jawab Sasuke singkat.
"Bagaimana dengan keadaan Sakura?". Sasuke yang tadinya menunduk sambil melihat minumannya sekarang mendongak melihat Shion. "Aku juga sudah tahu kalau kalian menikah diam-diam. Ini benar-benar membuatku hampir gila Sasuke. Aku sama sekali tak menyangka ternyata selain menjalin hubungan denganku kau juga berhubungan dengan Sakura?. Aku juga mendengar kalau kau mengakui hal itu didepan para undangan kelulusan".
"Bagaimana kau tahu? dengar, aku tidak pernah berpacaran dengannya".
"Itu sama sekali tidak penting. Kalau kau tidak menjalin hubungan special kenapa kau sampai bisa menghamili dia?"mulut Shion bergetar menahan amarah.
"Itu terjadi tanpa sengaja. Saat itu aku dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku mabuk. Aku terlalu banyak minum. Aku tergeletak di lantai lalu dia datang menolongku dan…".
"Dan akhirnya kau melakukan hal itu dengannya".
"Aku melakukan itu tanpa sadar" ucap Sasuke namun Shion mengabaikannya dan menerima telfon dari seseorang.
"Moshi-moshi honey, ada apa?". Shion mengucapkan kata honey dengan intonasi yang ditekan dan sedikit lebih dikeraskan. Dia tersenyum sinis kearah Sasuke seolah dia menunjukan pada mantan kekasihnya kalau dia sudah punya pacar. Sasuke melihat Shion penuh arti. "Iya honey—baiklah tunggu aku". Shion pun menuntup ponselnya.
"Hon..Honey?" tanya Sasuke.
"Ya honey kenapa? Apa aku tidak boleh punya kekasih lagi setelah kita putus. Kalau kau punya istri kenapa aku tidak iya kan?. Baiklah kalau begitu aku pergi. Sasori sudah menungguku". Shion mengambil tasnya lalu berjalan menjauh dari Sasuke.
Ada perasaan lega ketika Sasuke mendengar kalau Shion sudah mempunyai kekasih. Sasuke memang berniat untuk melepas Shion. Dia akan berusaha memulai lembaran baru bersama Sakura. Ciuman diatas gedung sekolah itu membuat Sasuke benar-benar terkesan. Dan rasa sayang kepada Sakura sudah sedikit tumbuh dihatinya.
ooOOoo
Sore harinya Sakura memberanikan diri pergi ke kantor ayah Sasuke. Pasca upacara kelulusannya, berita perihal skandal Sasuke yang merupakan putra dari pemilik terbesar di Tokyo menghiasi media elektronik, cetak bahkan online. Sudah banyak wartawan yang berusaha menelpon bahkan bertemu dengan ayah Sasuke namun keluarga besar sasuke dan Sakura memilih untuk bungkam demi kebaikan bersama. Hari ini Sakura membawa bekal makan malam untuk Uchiha fugaku. Ada yang ingin dia bicarakan. Setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang sangat panjang, Sakura sudah memtuskan untuk mengakhiri penderitaan yang ia tanggung khususnya Sasuke. Sakura berharap semoga semuanya lancar dan cepat berakhir. Sakura melihat-lihat sekitarnya. Dia begitu kagum dengan bangunan yang ia masuki sekarang. Walaupun hanya sebatas kantor namun terlihat sangat mewah dan megah. Dengan langkah pasti, Sakura berjalan menuju resepsionis.
"Permisi, bisakah aku bertemu dengan Tuan Uchiha Fugaku ?". Ujarnya.
"Apa anda ada janji dengan beliau sebelumnya?".
"Belum, tolong katakana padanya kalau Haruno Sakura ingin menemuinya".
"Baik, tunggulah sebentar". Resepsionis itu kemudian menekan tombol angka satu . "Halo, pak presedir ada seorang gadis yang ingin bertemu anda dengan nama Haruno Sakura—iya baik pak".
"Baiklah, nona Haruno Sakura ikutlah dengan saya".
Sakura mengikuti pegawai resepsionis yang cantik itu. Selama perjalanan menuju ruang ayah Sasuke, Sakura diam saja tak sekalipun dia mengobrol dengan pegawai cantik ini. Sepertinya kantor ayah Sasuke terletak di lantai atas karena harus menaiki lift. Tak lama kemudian sampailah didepan kantor Uchiha Fugaku. Pegawai cantik itu menunujuk sebuah ruangan padanya sambil tersenyum.
"Ini adalah ruang pak presedir" ucapnya
"Baik terima kasih banyak"ujarnya sambil membalas senyuman pegawai itu.
Dengan ragu Sakura mengetuk pintu kantor ayah Sasuke. Terdengar suara dari dalam dan menyuruhnya untuk langsung masuk kedalam. Sakura dengan hati-hati memutar kenop pintu. Ayah Sasuke tersenyum ramah padanya, Sakurapun juga demikian.
"Sakura, ada apa kau datang kesini? Bagaimana kabarmu? duduklah"tanya ayah Sasuke ramah. Sakura duduk tepat di depan ayah Sasuke.
"Kabarku baik. Bagaimana dengan tuan? Oh ya aku juga membawakan makan malam untuk anda".
"Jangan panggil aku tuan tapi panggilah aku ayah karena kau adalah menantuku".
Sakura membuka bekal makanan yang sudah dibuatnya Ayah Sasuke tersenyum sambil terus memandangi wajah menantunya yang cantik. Baginya Sakura itu sangatlah baik, sebaik ayahnya yang merupakan sahabat fugaku waktu sekolah menengah.
"Wah sepertinya masakanmu enak. Kau memang menantu yang baik". Ayah Sasuke memakan telur gulung. "Ehm enak, benar-benar enak. Kau pintar sekali memasak hehehe. Kalau boleh tahu ada perlu apa?".
"Aku ingin membicarakan masalah Sasuke" ucap Sakura. Hal ini membuat ayah Sakura berhenti memakan bekal buatan menantunya.
"Memang masalah apa lagi yang telah dia perbuat? Apa dia berperilaku kasar padamu?".
"Bukan sama sekali bukan itu. Ini masalah hak waris Sasuke".
"Apa yang kau maksudkan menantuku?" tanya Ayah Sasuke penasaran.
"Aku tahu paman menyerahkan semua hak waris yang dulu atas nama Sasuke kepadaku. Sasuke tak punya hak warisan dari paman sepeserpun. Ini sangat tidak adil baginya. Aku adalah orang luar bagi keluarga paman jadi aku merasa tidak enak. Aku datang kesini untuk memohon agar semuanya kembali menjadi milik Sasuke. Aku tidak pantas dengan semua pemberian dari paman. Aku tahu niat paman baik karena ingin menebus kesalahan Sasuke tapi bukan seperti ini caranya".
"Apa Sasuke menyuruhmu dan mengancammu untuk melakukan ini?".
"Sama sekali tidak. Aku sendiri yang memikirkan ini paman. Bukan kebahagiaan yang aku dapat tapi tekanan hati dan mental. Jadi aku mohon pada paman, kembalikan semua milik Sasuke".
"Aku tidak bisa memberi jawaban sekarang. Aku perlu waktu untuk berfikir" ucap Ayah Sasuke.
Sakura hanya bisa menghela nafas dan berdoa semoga ayah Sasuke menyerahkan semua harta warisan kepada anaknya sendiri bukan kepada orang asing atau lebih tepatnya dirinya.
ooOOoo
Sepulang dari kantor ayah Sasuke. Sakura menuju tempat atau klinik dimana Naruto bekerja. Ini kesempatan bagus bagi Sakura karena malam seperti ini suasana ditempat Naruto sangatlah sepi. Sebelumnya dia sudah memberitahu Naruto kalau dia akan datang ketempat klinik karena ada hal yang ingin dia bicarakan. Sekitar sepuluh menit kemudian dia sampai di tempat praktek Naruto.
"Hai, Sakura. Senang sekali kau mengunjungiku. Sepertinya kau tahu kalau aku merindukanmu hehehe" gurau Naruto. Senyum manis Naruto membuat matanya hilang.
"Bagaimana kabarmu? Apakah pekerjaanmu lancar? Apa bibi-bibi itu masih menggodamu? hehe". Dulu Naruto pernah bercerita pada Sakura kalau pasienya sering menggodanya. Bagi Sakura itu bukan hal yang mengejutkan karena Naruto itu adalah dokter tampan.
"Bibi-bibi itu semakin gencar menggodaku. Memang pesona dokter tampan Naruto tak bisa di pungkiri hehehe" ucapnya. Sakura juga ikut tertawa mendengar celoteAkimoto sahabatnya. "Oh ya, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?".
"Apa hamil dengan umur dua bulan masih bisa untuk di gugurkan?" tanya Sakura serius. Naruto sangat terkejut mendegar hal itu dari mulut Sakura. Senyumnya sekejap menghilang.
"Apa maksudmu Sakura? Kau tidak akan menggugurkan kandunganmu kan?" tanya Naruto namun Sakura hanya tersenyum tipis.
"Karena aku Sasuke menderita, karena aku Sasuke kehilangan segalanya dan karena aku Sasuke menangis. Aku hanya membuat hidupnya penuh kepedihan dan penderitaan. Andai saja sejak awal aku mengugurkan kandungan ini mungkin orang yang aku cintai akan terus tersenyum bahagia. Aku lebih suka melihat dia bahagia dengan orang lain daripada hidup bersama denganku tapi dia menderita".
"Apa kau serius dengan semua ini? Apa kau tahu kalau resiko mengugurkan kandungan itu-".
" Aku akan mati. Aku tahu itu Naruto" ucap Sakura santai.
" Kenapa kau tidak bercerai saja sekarang daripada kau melakukan hal ini?".
" Kalau aku becerai dan anak ini masih hidup pasti dia akan menuntut siapa ayah kandungnya. Aku tidak mau anak ini juga akan merusak kehidupan ayahnya seperti ibunya".
"Lebih baik bercerailah. Lalu menikahlah denganku, aku yang akan berperan menjadi ayah kandungnya nanti". Naruto ingin sekali menangis namun dia berusaha menahan tangisannya sebisa mungkin.
"Tidak bisa Naruto. Keputusan untuk menggugurkan kandungan ini sangat bulat. Aku ingin kau melakukan ini untukku" kata Sakura masih dengan senyumnya.
"Aku tidak mau Sakura. Aku tidak mau!" ucapnya dengan sedikit berteriak.
"Baiklah kalau begitu aku akan mencari dokter lain". Sakura melangkahkan kakinya beranjak untuk pergi. Sama sekali tak ada rasa takut sedikitpun dari dalam dirinya. Kalau dia berhasil melakukan hal ini maka dia akan mengajukan perceraian dan menghilang dari kehidupan Sasuke selamanya.
"HARUNO SAKURA APA KAU GILA !". Emosi Naruto sudah tak bisa di bendung lagi.
Naruto penuh dilemma. Dia takut kalau dokter lain yang menanganinya, takut kalau dokter itu tak mempertimbangkan tingkat keselamatan nyawa Sakura. Hal ini membuat dirinya ingin melakukan hal keji ini demi Sakura. Tapi tetap saja kalaupun dia yang menangani belum tentu Sakura bisa selamata.
"Baiklah aku akan melakukannya untukmu. APA KAU PUAS!". Naruto berkata sambil menitikan air mata. Air mata yang kesekian kalinya untuk Sakura.
"Terima kasih Naruto-kun. Kalau begitu lakukanlah besok". Ucap Sakura sambil tersenyum.
ooOOoo
Sejak kejadian dimana dia melihat Sasuke depresi, menangis dalam menjalani hidupnya. Sakura membuat sebuah keputusan ini untuk mengembalikan semua hak waris Sasuke, mengugurkan kandungannya lalu kemudian mengajukan cerai. Ini semua dia lakukan demi kebahagiaan Sasuke. Usai dari tempat praktek Sakura langsung menuju ke rumah untuk memasak makan malam. Dia berjalan santai menuju rumahnya. Tiba-tiba di depan gang, dia melihat segerombolan orang yang menghajar seseorang. Tanpa rasa takut sedikitpun Sakura menghampiri kerumunan preman itu. Dia terkejut melihat orang yang dikeroyok oleh mereka.
"Sasuke, hei, kalian menjauh dari dirinya". Teriaknya dari jarak yang lumayan dekat.
Sasuke sudah terkapar dengan luka memar di pipinya. Preman itu hanya tersenyum sinis kearahnya. Salah seorang dari mereka membawa sebuah balok kayu besar yang siap untuk dipukulkan kearah Sasuke. Sakura berlari mendekat. BRAAAK! Saat itu juga balok besar itu berbenturan dengan tubuh mungil Sakura. Seketika dia tak sadarkan diri. Para preman itu melarikan diri karena takut dan mengira Sakura sudah mati.
"Sakura, Sakura bangunlah" teriak Sasuke. Tanganya memegang kepala belakang Sakura yang terasa Akimotogat. Dan ternyata darah segar mengalir dari kepala Sakura. "Astaga, bagaimana ini? Sakura bangunlah!" ucap Sasuke gugup. Dia mengambil ponsel dari sakunya. "Hallo—ambulan tolong cepat kemari aku butuh bantuan"!.
ooOOoo
Sekarang Sasuke berada di sebuah ruang yang tidak terlalu luas. Bau khas obat tercium di hidungnya. Sakura terbaring lemah di ranjang dengan perban yang melilit di kepalanya. Sasuke benar-benar khawatir dengan kondisi Sakura sekarang. Sasuke terus mengenggam tangan kiri Sakura sambil berdoa akan agar Tuhan memberikan dia kesadaran. Dia juga sudah menghubungi orang tua Sakura dan orang tuanya. Tapi sayang malam ini orang tua Sasuke pergi keluar Negeri untuk urusan bisnis. Dreett..dreeettt! ponsel yang ada di dalam tas Sakura bergetar. Sasuke melihat layar ponsel Sakura. Tertera sebuah tulisan "Naruto" yang menghubunginya. Dengan lancang Sasuke menerima telfon itu.
"Hallo Sakura, bisakah kau memikirkan keputusanmu itu" ujar Naruto dari seberang.
"Maaf Sakura sedang sakit. Ini aku Sasuke" katanya Tegas.
"Sakura sakit? Bagaimana bisa, baru saja dia berkunjung di tempat praktekku dan dia baik-baik saja"
"Dia di keroyok preman untuk menyelematkanku".
"Apa! Katakan padaku dimana dia dirawat".
"Di Tokyo Hospital nomor 15 A" ucap Sasuke lemas. Tuuuuttt Naruto langsung memutus. sambungan telfonnya. Sasuke tidak sadar kalau dari tadi ada seorang berjas menunggu dirinya. Sasuke mendekat ke pria setengah baya tersebut.
"Ada apa tuan Akimoto kesini? biarlah aku yang mengurus Sakura, kau tidak perlu ikut campur" .Tuan Akimoto merupakan tangan kanan ayah Sasuke bahkan juga menjadi pengawaas Sasuke.
"Tuan muda aku kesini bukan untuk Nona Sakura. Aku kesini karena ingin memberikan ini pada anda. Sebelum berangkat keluar negeri pak presedir memerintahkan saya untuk memberikan ini pada Tuan".
"Apa ini?" tanyanya. Sasuke membuka map berwarna biru yang berisikan berkas-berkas penting.
"Pak presedir ingin anda menyimpan ini baik-baik. Beliau berpesan untuk sementara ini anda menggantikan beliau untuk memimpin perusahaan" ucap tuan Akimoto penuh santun.
Sasuke terkejut, tak biasanya ayahnya percaya pada dirinya. Kenapa ayah tiba-tiba berubah seperti ini? Batin Sasuke. Tentu saja Fugaku bukan tanpa alasan mempercayakan perusahaannya kepada Sasuke, ia yakin bahwa putranya sudah dewasa. Hal itu terlihat dari tindakan yang ia lakukan diupacara kelulusan.
"Selain itu beliau juga mengatakan kalau seluruh hak waris kembali ataas nama anda".
"Apa, atas namaku, bagaimana bisa? bukankah semua atas nama Sakura?".
"Nona Sakura meminta pak presedir untuk mengembalikan semua hak waris itu kepada putranya. Dia merasa bersalah telah mengambil semuanya dari anda dan dia juga ingin anda memiliki apa yang seharusnya anda miliki". Sasuke tak bisa mengatakan apapun. Dari jarak sedikit jauh Sasuke memandang Sakura penuh arti.
"Sakura!" teriak sesorang yang langsung masuk begitu saja kedalam ruangan dimana Sakura dirawat.
"Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu tuan muda".
"Iya terima kasih tuan Akimoto".
Sasuke melihat bayangan tuan Akimoto lalu beralih memandang Naruto duduk di samping Sakura yang terbaring lemah. Terlihat jelas kepedihan yang dirasakn Naruto. Dia benar-benar pria jahat. Selama ini Sakura selalu memperhatikan dirinya, menyiapkan makan, mencuci bajunya bahkan mempersiapkan seragam sekolah yang akan dia kenakan dan yang lebih membuat dirinya bersalah adalah tanpa memperdulikan nyawanya, Sakura menyelamatkan dirinya dari para preman tapi apa yang telah Sasuke lakukan padanya hanya amarah yang ia dapatkan darinya.
"Ceritakan padaku bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Aku tidak tahu bagaimana yang jelas tiba-tiba dia menghadang dan melindungiku dari keroyokan preman. Tanpa aku sadari ternyata preman itu berniat memukulku dengan balok kayu tapi balok itu di pukulkan ke tubuh Sakura karena dia tiba-tiba ada di depanku. Aku benar-benar minta maaf".
"Apa hanya ucapan maaf yang kau ucapkan. Hanya itu, ahahaha lucu sekali. Kau tidak tahu bagaimana besarnya Sakura mencintaimu, bagaimana pedulinya Sakura pada kebahagiaan hidupmu. Tapi apa yang kau lakukan padanya. Karena begitu besarnya cintanya padamu, dan betapa inginnya dia melihatmu bahagia. Dia memilih akan mengugurkan kandungannya demi kau! Kau tahu Sasuke demi kau. Demi kebahagiaanmu. Apa kau tahu kalau itu bisa amerenggut nyawanya. Apa kau tahu itu!" ujar Naruto penuh emosi.
"A-a-apa mengugurkan kandungan?".
==TO BE CONTINUE==
Hemmmm gimana ya reaksi Sasuke, apa dia mendukung keputusan sakura untuk mengugurkan kandungan atau malah melarangnya? :D
