PLEASE LOOK AT ME / CHAP 8
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
.
==PART SEBELUMNYA==
"Aku tidak tahu bagaimana yang jelas tiba-tiba dia menghadang dan melindungiku dari keroyokan preman. Tanpa aku sadari ternyata preman itu berniat memukulku dengan balok kayu tapi balok itu di pukulkan ke tubuh Sakura karena dia tiba-tiba ada di depanku. Aku benar-benar minta maaf".
"Apa hanya ucapan maaf yang kau ucapkan. Hanya itu! Ahahaha lucu sekali. kau tidak tahu bagaimana besarnya Sakura mencintaimu, bagaimana pedulinya Sakura pada kebahagiaan hidupmu. Tapi apa yang kau lakukan padanya. Karena begitu besarnya cintanya padamu, dan betapa inginnya dia melihatmu bahagia. Dia memilih akan mengugurkan kandungannya demi kau! Kau tahu Sasuke demi kau. Demi kebahagiaanmu. Apa kau tahu kalau itu bis merenggut nyawanya. Apa kau tahu itu!". Ujar Naruto penuh emosi.
"A-a-apa mengugurkan kandungan?".
ooOOoo
Mendadak Sasuke lemas mendengar kabar seperti itu. Entah kenapa dia merasa sakit hati luar biasa ketika tahu Sakura akan menggugurkan darah dagingnya. Sakura begitu kejam sampai harus membunuh bayi yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa. Tapi kalau kembali melihat kebelakang bukankah dia yang menginginkan Sakura untuk mengugurkan kandungannya. Seharusnya dia bahagia menerima kenyataan ini, dengan begini dia bisa kembali kepada Shion dan semuanya cepat berakhir. tapi yang terjadi malah berbalik dari yang dulu. Sasuke merasa memang ada yang aneh dari dalam dirinya. Ada dorongan yang sangat kuat dari dalam dirinya untuk mencegah Sakura melakukan hal itu. Tidak itu tidak boleh. Batin Sasuke.
"Iya, mengugurkan kandungannya. Apa kau sudah puas membuat Sakura berani melakukan hal beresiko seperti itu? Apa kau sekarang bahagia?" tanya Naruto begitu sinis.
"Cegah dia agar tidak melakukan hal ini Naruto" ujar Sasuke.
"Apa cegah dia? Apa aku tidak salah dengar?".
"Tidak. Aku ingin kau mencegah dia".
"Kenapa? Kenapa kau ingin aku mencegahnya?"
"Karena aku ingin anakku hidup dan lahir kedunia ini. Aku ingin dia bisa merasakan udara yang sejuk saat musim semi tiba, melihat indahnya dedaunan yang penuh warna saat musim gugur, dan merasakan bagaimana dinginnya salju". Sasuke mengatakan itu tanpa rasa ragu sedikitpun. Naruto terdiam dia heran dengan ucapan Sasuke. Pandangan matanya penuh dengan ketegasan saat mengatakan hal itu.
"Akan lebih baik Jika kau yang mengatakan hal ini padanya".
ooOOoo
Suasana rumah sakit sangatlah sepi. Tak ada seorangpun yang masih terjaga di malam yang dingin ini. Sasuke duduk termenung sambil terus memperhatikan Sakura. Jarinya tak pernah dari telapak tangan istrinya. Wajah Sakura begitu pucat tak berdaya. Saat itu juga Sasuke mengingat kembali awal peretemuannya dengan Sakura. Sasuke menolong Sakura dari keroyokan seorang kakak perempuan senior Sakura. Mereka menganggap Sakura merebut posisi salah satu dari ketua mereka. Sebenarnya hal yang dipermasalahkan sangatlah sepele hanya karena banyak pria yang suka kepada Sakura sehingga membuat kepopuleran kakak senior Sakura meredup dimata para Pria. Sasuke mengakui kalau Sakura memang salah satu gadis tercantik disekolah. Walaupun Shion lebih cantik darinya tapi karena kecerdasan Sakura dan pintarnya dia berbagai bidang olahraga membuat para Pria lebih tertarik untuk mendapatkan Sakura dari pada Shion. Selain alasan kenapa para pria tidak mengejar Shion karena dia sudah menjadi miliknya. Semua murid tahu siapa Sasuke dan begitu tampannya Sasuke itu. Mata Sasuke tak henti-hentinya memandang wajah Sakura yang polos.
"Sa-Sasuke, kau ada dimana?" ucap Sakura dibawah alam sadarnya.
"Sakura, kau sudah siuman. Syukurlah". Spontan Sasuke bahagia dan mengecup tangan Sakura. Dia tahu kalau Sakura memanggil namanya dibawah alam sadar tapi setidaknya dia tahu kalau Sakura kondisinya sudah membaik.
Sudah hampir sekitar sepuluh jam lebih Sasuke menunggu Sakura dirumah sakit. Tadi orang tua Sakura datang menjenguk namun sekarang mereka sudah pulang karena besok harus berjualan direstoran mie mereka. Sasuke yang memilih untuk menjaga Sakura dan menyuruh orang tua Sakura untuk beristirahat. Dia melakukan ini karena merasa sangat bersalah padanya. Sasuke ingin membalas budi pada Sakura atas segala yang sudah dia lakukan demi dirinya. Untuk mengisi kebosanan Sasuke keluar membeli sesuatu. Dia yakin Sakura masih akan tertidur sampai besok pagi. Sasuke hanya membeli satu pack kertas origami dan satu botol air mineral karena dia merasa sangat haus. Di taman rumah sakit, Sasuke duduk santai dikursi panjang sambil memandang bintang yang menghiasi malam. Sasuke meneguk minuman yang ia beli detik berikutnya matanya memandang tumpukan kertas origami yang masih belum tersentuh. Perlahan jari jemarinya yang lentik mulai membuat lipatan-lipatan di kertas itu. Sasuke membentuk sebuah burung. Banyak yang bilang jika kita memberi seribu burung kertas kepada orang yang sakit maka ia akan sembuh. Sasuke sebenarnya tidak percaya akan hal seperti itu tapi entah kenapa dia ingin membuat burung kertas untuk Sakura.
ooOOoo
Perlahan Sakura membuka mata. Pancaran sinar matahari yang menembus kelopak matanya membuat dirinya terbangun. Kepalanya terasa amat pusing dan sangat sakit. Tepat di depan matanya terdapat langit-langit berwarna putih. Bentukanya berbeda sekali dengan langit-langit yang ada dirumahnya. Sakura sama sekali tak tahu dimana dia berada sekarang. Terlihat Infus yang persang di tangan kananya, piama biru khas rumah sakit juga di kenakan olehnya. Sakura bingung dengan situasi yang ada. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Katanya dalam hati. Saat Sakura menggerakan jemari tangan kirinya dia merasakan ada sesuatu yang menindih tangannya. Sakura terkejut mendapati Sasuke tertidur dengan posisi duduk sambil mengenggam erat tangan kirinya. Sakura berusaha untuk duduk, dia juga baru sadar kalau kepalanya diperban. Bergeraknya Sakura membuat Sasuke terbangun. Segera mungkin Sasuke melepaskan genggaman tangannya dengan tampang malu.
"Ternyata kau sudah bangun"ucapnya dengan nada sedikit kasar.
"Kenapa aku berada di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi?".
"Gara-gara kau menyelamatkanku. Kepalamu terluka dan berdarah makanya kau dirawat disini".
"Ahhh, aku sekarang ingat. Aduh kepalaku!" ujar Sakura sambil memegang kepalanya.
"Hei, Jangan banyak bergerak, kau belum sembuh total" ucap Sasuke karena khawatir. Sakura melihat Sasuke penuh arti sambil tersenyum nakal. Sasuke merasa risih dengan cara Sakura memandangnya "Apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?".
"Apa kau menjagaku semalaman, saat aku bangun, tak sengajaa aku melihat tanganmu mengenggam tanganku. Apa kau begitu khawatir ehmm hehehe"goda Sakura.
"A..Apa? hei, siapa yang menjagamu. Aku baru saja datang. Tadi aku menggantikan ibumu. Aku mengantuk makanya aku tertidur, masalah tanganku memegang tanganmu aku tak tahu" ucap Sasuke malu.
"Aihhh, Sasuke-kun jangan berbohong padaku. Ayo jujurlah hehe".
"Sudah aku bilang aku bukan seperti itu!". Nada Sasuke meninggi karena kesal dan malu.
Tiba-tiba seorang perawat datang membawa beberapa obat dan sarapan untuk Sakura. Ini merupakan kesempatan Sasuke agar bisa keluar dari pertanyaan maut Sakura. Jangan sampai Sakura tahu kalau semalaman dia menjaga dan begitu mengjhawatirkannya. Andai saja Sakura tahu, Sasuke tak bisa membayangkan betapa malunya dia. Perawat itu memasang tensimeter di lengan Sakura lalu mengukur tekanan darahnya. Sejauh ini tekanan darah Sakura normal. Perawat yang memeriksa dirinya seumuran dengan ibu Sakura, tersenyum padanya penuh arti.
"Apa laki-laki muda itu adalah kekasihmu?" tanya perawat itu tiba-tiba
" Bukan bibi, dia itu adalah temanku" senyum Sakura sedikit berbohong perihal statusnya dengan Sasuke.
"Benarkah? aku pikir dia kekasihmu. Semalaman dia menjagamu selain itu, kemarin malam tanpa sengaja aku melihat dia membuat burung kertas ditaman. Ternyata burung kertas itu untuk kau". Bibi perawat itu melihat kesebuah meja yang letaknya dekat sekali dengan Sakura. Dia baru sadar kalau ada benda semacam ini.
"Benarkah dia yang membuat semua ini bibi?".
"Iya benar. Dia yang membuat itu semua. Ternyata dia masih percaya dengan mitos. Kata orang jaman dulu kalau kita memberikan seribu burung kertas pada orang sakit maka orang itu akan cepat sembuh. Dia benar-benar polos sekali. Padahal itu hanyalah perkataan orang dulu".
Sakura megambil sebuah toples yang penuh berisi dengan burung kertas kecil. Sakura yakin jumlah burung kertas ini tidak mencapai seribu tapi baginya itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah kalau semalaman Sasuke menjaganya bahkan membuatkan sesuatu untuknya. Apa mungkin Sasuke sudah sedikit membuka pintu hatinya untukku? Ahh itu sama sekali tidak mungkin. Batinnya.
"Bibi perawat apa aku boleh jalan-jalan sebentar. Aku bosan didalam kamar terus?".
"Tentu saja boleh tapi jangan jauh-jauh kondisimu belum sembuh total. Aku akan menemanimu".
"Tidak usah bibi. Aku ingin sendirian".
"Kalau begitu pakailah kursi roda. Itu akan membuatmu lebih nyaman". Saat itu juga Sasuke datang dengan membawa bingkisan yang berisi camilan dan air minum mineral. " Kebetulan kau sudah datang. Ajaklah kekasihmu ini jalan-jalan dia bosan dikamar hehehe". Bibi perawat itu menepuk bahu Sasuke lalu menjauh dari mereka sambil tersenyum.
"Bibi dia bukan kekasihku" teriak Sasuke. Detik berikutnya dia memandang Sakura dengan tatapan tak mengerti. Sakura hanya bisa mengangkat kedua bahunya karena dia juga sedikit bingung dengan semuanya.
ooOOoo
Hari ini adalah hari dimana musim gugur tiba. Dedaunan berubah menjadi berwarna merah, kuning bahkan orange. Musim Gugur merupakan musim yang Sakura sukai karena dia merasa hidup di musim ini menjadi lebih berwarna. Sakura duduk anteng di kursi Sakura sedangkan Sasuke mendorong santai kursi roda itu. Taman rumah sakit amatlah luas jadi jalan-jalan disini sama saja dengan jalan-jalan di luar. Taman ini juga tidak kalah dengan taman pusat kota. Ada sebuah danau buatan yang atasnya ditumbuhi oleh bunga teratai dan ada beberapa ekor angsa yang berenang disana benar-benar Indah. Sasuke mengajak Sakura berhenti tepat didepan danau, dia duduk dikursi panjang yang diikuti juga oleh Sakura. Tangan Sakura membawa sebuah wadah yang berisikan burung kertas. Hening, sunyi tak ada perkataan apapun dari mulut mereka hingga Sakura memutuskan untuk berbicara.
"Terima kasih Sasuke-kun kau sudah menjagaku semalaman". Ujar Sakura.
"Sudah aku bilang aku sama sekali tidak menjagamu". Elak Sasuke.
"Kau jangan berbohong lagi. Bibi perawat itu yang memberitahuku. Dia juga mengatakan kalau kau membuat seribu burung kertas ini untukku. Berkat doamu lewat burung kertas ini kondisiku sudah jauh lebih baik".
"Aku membuat burung kertas itu bukan untukmu. Hal itu aku lakukan untuk mengisi kebosananku". Untuk kedua kalinya Sasuke mencoba mengelak tapi sepertinya Sakura sama sekali tak percaya padanya..
"Musim gugur merupakan musim yang paling aku sukai karena di musim ini seolah aku bisa melihat Tuhan sedang melukis. Dedaunan yang hijau berubah menjadi merah, kuning, dan orange. Melihat dedaunan yang berguguran di musim gugur sama dengan melihatku saat ini. Rapuh dan tak bisa apa-apa. Kalau boleh tahu musim apa yang kau tunggu kedatangannya Sasuke-kun?".
"Aku suka musim dingin" jawab Sasuke singkat.
"Oh pantas saja sama dengan watakmu yang kasar dan dingin hehehe" gurau Sakura. Pandangan matanya kembali menatap danau begitupula dengan Sasuke. "Gomen Sasuke".
"Untuk apa kau meminta maaf padaku?".
"Karena aku, kau menderita dan berpisah dengan Shion. Seharusnya aku menurutimu dari awal. Seharusnya juga aku mengugurkan kandunganku. Hidupmu hancur karena aku. Mulai sekarang aku akan mengembalikan semua kebahagiaanmu seperti dulu jadi jangan khawatir. Kalau kau ingin mengugurkan kandungan ini, akan aku lakukan sekarang bahkan kalaupun kalau kau ingin bercerai denganku sekarang tak apa". Sakura mengatakan itu dengan tersenyum. Senyum kepasarahan yang terpancar dibibirnya.
"Apa kau gila ? Kau sendiri yang bilang kalau itu sama saja membunuh orang yang tak berdosa".
"Iya benar aku memang pernah mengatakan itu. Tapi aku tak mau melihatmu tertekan seperti ini. Kalau aku sembuh. Aku akan segera melakukannya".
"Bagaimana kalau aku tak mengijinkanmu melakukan hal itu? Apa kau akan terus berusaha untuk menggugurkan bayi yang kau kandung" ucap Sasuke sedikit malu. Sakura sontak menoleh kearah Sasuke. Dia tak percaya dengan yang didengarnya. "Masalah perceraian bukankah disurat tertulis aku akan menceraikanmu ketika bayi ini lahir bukan saat kau mengugurkannya".
"Bukankah kau sudah menerima kembali hak warismu?" ucap Sakura asal.
"Iya aku sudah menerima itu kembali. Aku sangat berterima kasih padamu Sakura. Jadi aku ingin meminta maaf padamu atas perlakuanku selama ini. Aku benar-benar minta maaf".
"Sebelum kau meminta maaf padaku. Dari dulu aku sudah memaafkanmu. Tapi bukankah di surat perjanjian itu kau juga menulis jika kau sudah mendapatkan hak waris maka kau akan menceraikanku".
"Tolong jangan ungkit perjanjian itu" ucap Sasuke sedikit frustasi. Ia merogoh saku celananya. Disana ia menemukan sebuah kertas yang berisi surat perjanjiannya dengan Sakura. Sasuke kemudian merobek surat perjanjian itu menjadi sobekan-sobekan kecil, "Aku tak akan mengijinkanmu mengugurkan bayiku" ujarnya.
Sasuke berdiri, dia berjalan mendekat ke danau sambil melihat angsa-angsa yang berenang. Sesaat dia berbalik dan melihat kearah Sakura. Sasuke merentangkan kedua lengannya seolah ia sudah membuka lebar hatinya untuk sakura. Sakura bingung dan tak tahu maksud Sasuke merobek surat perjanjiannya itu.
"Sasuke-kun".
"Hiduplah bersama denganku Sakura".
Sakura berlari kecil menuju Sasuke. Ia memeluk erat Sasuke tanpa rasa takut maupun ragu. Akhirnya Sasuke menerimanya, walaupun Sakura tak yakin Sasuke mencintainya atau tidak. Walaupun hanya perasaan simpati dan empati yang Sakura dapatkan dari Sasuke, ia sudah sangat bersyukur. Ia juga tak pernah berharap jika Sasuke suatu saat akan mencintainya.
ooOOoo
Tiga hari sudah Sakura di rawat dirumah sakit. Dan hari ini tepatnya hari sabtu Sakura sudah boleh kerumah mengingat kondisinya sudah membaik. Tak ada lagi perban di kepalanya. Suasana rumah tinggal mereka sedikit menyeramkan karena sudah tiga hari berturut-turut di tinggal. Sasuke mengantarkan Sakura ke kamarnya dan menyuruhya istirahat.
"Sudah lama aku tidak tidur di tempat yang empuk seperti ini ahhh". Sakura merebahkan Tubuhnya di ranjang sedangkan Sasuke sibuk menata barang-barang Sakura di almari.
"Hei, Sakura jangan terlalu banyak bergerak kau belum sepenuhnya sembuh". Ujar Sasuke. Sakura terkejut dan langsung berdiri mendapati Sasuke yang memasukan semua bajunya di lemari.
"Sasuke-kun jangan lakukan ini. Aku bisa menatanya sendiri". Sakura bergegas menuju Sasuke
"Jangan cerewet. Sekali-kali biarkan aku berbuat baik padamu" bentak Sasuke. Selain itu Sasuke juga memindahkan beberapa bajunya ke lemari Sakura. Hemm, Sakura sedikit bingung dengan ulah Sasuke yang satu ini.
"Sasuke-kun, kenapa kau memindahkan semua pakaianmu kesini?" tanya Sakura.
"Mulai sekarang aku akan tidur dikamar ini" jawab Sasuke enteng.
"Lalu aku tidur dimana?"
"Tentu saja kau tidur denganku".
"Apa?". Blush! Wajah sakura memerah karena malu namun ada perasaan bahagia yang sangat luar biasa dihati Sakura.
"Kenapa? bukankah kita sepasang suami istri hehehe" goda Sasuke.
Sakura diam dan tak mau menjawab pertanyaan Sasuke karena malu. Tangannya mengambil remote TV, dia merasa bosan dan ingin sekali lihat Televisi karena selama tiga hari dia buta informasi apapun. Kebetulan sekali acara kesukaan Sakura gossip tentang artis tayang. Bagi Sakura menjadi artis itu tidak enak. Hidup penuh dengan tuntutan dan kontrak serta tak bebas. Tak ada waktu istirahat bahkan waktu untuk keluarga pun tak ada. Baginya menjadi rakyat biasa itu lebih bermakna dan tahu arti hidup sebenarnya. Sakura dengan santai dan focus terus melihat layar TV.
"Pemirsa, artis muda yang lagi naik daun Sasori sepertinya sekarang sudah memiliki sepasang kekasih. Banyak kabar yang beredar bahwa kekasih Sasori adalah seorang model. Saat ditemui di lokasi, Sasori dan gadis itu diam tak mengatakan apapun. Mereka….".
"Sepertinya gadis itu mirip sekali dengan Shion" ujar Sakura.
Sasuke sontak melihat kearah TV , dia terkejut, tangannya mengenggam dan bergetar. Dia melihat jelas Shion ditelevisi sedang bergandengan mesra menuju sebuah restoran. Baju yang dikenakan oleh Shion sama dengan baju yang digunakan saat bertemu.
"Shion…!".
TO BE CONTINUE
Aku gag menyangka kalau FF ini akan tembus 100 lebih reviewer karena FF ini adalah FF aku yang terkena flame. Bukankah FF yang terkena flame biasanya FF yang buruk. Aku berterima kasih banyak pada kalian semua yang udah Review, Fav dan Follow FF ini ^o^
