Akhirnya Fi bisa juga nglanjutin fic abal ini… Hihihi…

Well, Neji bakalan tetep jadi 'pengganggu' SasuHina. Tapi sebenarnya bukan benar-benar mengganggu sih. Dia hanya salah paham aja sama Sasuke

Yosh, R&R please….

Help Me

A Naruto Fanfiction by FV

Naruto itu milik Om Masashi Kishimoto

Perlahan Sasuke mulai membuka kelopak matanya. Ketika mata Sasuke benar-benar terbuka yang terlihat justru sesosok 'makhluk kuning' yang tengah tersenyum lebar padanya, menampakkan sederetan gigi-gigi putihnya yang rapi. Ia rasa sekarang dirinya sedang berada di rumah sakit, karena ia berada di atas ranjang dan ruangan yang berwarna putih.

"Hei, Sasuke! Kau sudah sadar!" teriak Naruto, si 'makhluk kuning' itu, tepat di depan wajah pucat Sasuke. "Hn," jawab Sasuke singkat. Jujur, Sasuke merasa bosan dengan suara cempreng Naruto yang selalu mengganggu telinganya. "Naruto-kun, jangan berteriak-teriak seperti itu. Sasuke-kun kan barusan siuman," tegur Sakura kepada Naruto. "Hehehe, maaf. Aku kan senang Sasuke sudah siuman," kata Naruto tanpa rasa bersalah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sakura mendekati Sasuke. Di tangannya sudah terdapat nampan yang berisi semangkuk sup hangat dan segelas air putih. "Sasuke-kun, makan dulu, ya!" pinta Sakura. "Aku tidak lapar," jawab Sasuke dingin. "Tidak mungkin kamu tidak lapar. Kamu pingsan di tengah hujan dan tidak makan. Sekarang dimakan, ya!" Sakura berusaha membujuk Sasuke. Sasuke tidak menjawab, ia menatap ke depan dengan tatapan kosong.

"Kalau begitu, aku suapin, ya!" sejujurnya Naruto yang melihat hal itu merasa cemburu. Sakura mengambil sesendok sup dan mengarahkannya ke mulut Sasuke. "Sudah ku bilang aku tidak lapar!" Sasuke marah, namun Sakura berusaha untuk tetap sabar. Sakura meletakkan kembali sup tersebut di nampan yang berada di atas meja. "Ya sudah, kalau nanti kamu lapar segera makan saja," kata Sakura lembut. Sebenarnya ia agak sedih juga melihat Sasuke begitu. Ia segera ke luar ruangan tersebut, meninggalkan Sasuke dan Naruto berdua.

"Seharusnya kamu tidak boleh bersikap begitu pada Sakura-chan," kata Naruto seraya menggeser kursi di samping ranjang Sasuke dan segera mendudukinya. Sasuke diam, tidak menjawab perkataan Naruto. Merasa tidak enak terus diam tanpa suara, akhirnya Naruto berbasa-basi saja. "O iya, untung kemarin aku menemukanmu yang sedang pingsan," kata Naruto. "Kenapa kamu bisa menemukanku?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Naruto. "Itu karena Neji memberitahuku," jawab Naruto. "Neji?" Sasuke menatap Naruto.

Flashback

Neji sedang menggendong Hinata menuju ke kediaman Hyuuga. Tiba-tiba Neji berpapasan dengan Naruto. "Neji, kenapa kau hujan-hujanan? Itu.. Hinata-chan ya? Dia kenapa?" Neji dihujani pertanyaan oleh Naruto. "Kau sendiri kenapa hujan-hujanan? Mungkin Hinata-sama kecapekan setelah latihan," sebenarnya yang ada dalam pikiran Neji tentang keadaan Hinata bukan karena Hinata kecapekan, namun Neji berpikiran bahwa yang membuat Hinata pingsan adalah Sasuke. Saat Neji menemukan Hinata sedang pingsan di atas tubuh Sasuke yang juga sedang pingsan, Neji langsung mengambil kesimpulan bahwa pasti Sasuke telah berbuat sesuatu pada Hinata.

"Kalau begitu, kamu segera pulang saja. Kasihan Hinata-chan, semoga dia tidak sakit," kata Naruto. Neji hanya mengangguk dan segera melanjutnya perjalanannya. Namun sebelum benar-benar pergi, Neji memanggil Naruto, "Naruto!" Naruto berhenti dan menoleh ke arah Neji. "Ada apa?" tanya Naruto. "Tadi aku melihat Sasuke, sepertinya keadaannya tidak sedang baik-baik saja. Lebih baik kamu segera mencarinya," kata Neji dan langsung pergi dari hadapan Naruto.

Walau pun Neji menyangka Sasuke telah berbuat buruk pada Hinata, namun tetap saja ia tidak tega melihat Sasuke yang sedang pingsan di bawah guyuran air hujan. Naruto pun pergi mencari Sasuke sesuai dengan nasehat Neji.

End of flashback

"Jadi, Neji yang menyuruhmu untuk mencariku?" tanya Sasuke. "Ya. Lagi pula kamu kan belum terlalu sehat, kenapa malah keluyuran?" Naruto balik bertanya. Sasuke tidak menjawab.

Sasuke turun dari ranjang dan berjalan mendekati jendela. Ia menghirup udara pagi dalam-dalam lalu menhembuskannya perlahan. Sasuke kembali bertanya pada Naruto dengan nada serius, "Kenapa kamu membawaku kembali ke desa ini?" Raut wajah Naruto pun berubah jadi lebih serius. "Itu kan janjiku seumur hidup. Aku sudah berjanji bahwa aku pasti akan membawamu kembali. Selain itu, kamu kan sahabatku, jadi aku tidak akan membiarkan sahabatku sendirian." kata Naruto sambil berjalan mendekati Sasuke, lalu ia berdiri disamping Sasuke. "Aku tahu, tempatmu memang di desa ini. Kamu tidak akan bisa meninggalkan desa ini. Dan aku yakin, kamu pasti bisa berubah," kata Naruto dengan tersenyum lalu menepuk pelan bahu Sasuke.

Sasuke mencerna perkataan Naruto, sepertinya yang diucapkan Hinata kemarin lebih kurangnya mengarah pada sosok di sampingnya itu, Naruto. "Naruto, tinggalkan aku sendiri!" kata Sasuke, atau lebih tepatnya Sasuke menyuruh Naruto keluar dari ruangannya. "Hmm, ya… baiklah kalau itu maumu. Tapi kamu harus makan biar cepat sembuh. Ku rasa kamu tidak mau berlama-lama berada di ruangan yang penuh dengan bau obat ini," kata Naruto dengan malas, lalu ia berjalan menuju pintu untuk keluar sesuai permintaan Sasuke.

Sebenarnya Sasuke juga merasa lapar. Tapi melihat sup itu membuat Sasuke kehilangan nafsu makannya. Sepertinya ia memang tidak menyukai sup itu.

.o0o.

Hinata sedang berjalan menuju tempat latihan. Ia juga membawa bekal untuk makan siangnya nanti. Namun tiba-tiba saja ia mendengar suara yang sudah sangat tidak asing lagi baginya. Suara cempreng yang memanggil namanya, rambut kuning jabrik itu, ya, Naruto sedang berlari ke arahnya sambil memanggil-manggil namanya. Setelah Naruto sampai di hadapan Hinata, pipi Hinata mulai memerah.

"Hinata-chan, apa kabar? Kamu tidak sakit, kan?" tanya Naruto. "Umm, a-aku baik-baik saja kok. Aku j-juga tidak sakit, Naruto-kun," kata Hinata malu-malu. "Syukurlah kalau begitu, kemarin aku melihat Neji sedang mengendongmu. Em, ngomong-ngomong kamu mau latihan ya?" tanya Naruto. "I-iya," jawab Hinata singkat.

"Oh iya, kamu belum menjenguk Sasuke kan?" kata Naruto tiba-tiba. Hinata tersentak saat mendengar nama Sasuke. "A-ano.. aku.." Hinata tidak tahu harus berbicara apa. Sebenarnya dia ingin menjenguk, tapi mengingat kejadian kemarin membuat Hinata tidak berani bertemu dengan Sasuke. "Sebaiknya kamu menjenguk dia dulu," saran Naruto. "T-tapi, Naruto-kun. A-aku harus latihan," Hinata mencari alasan agar tidak bertemu Sasuke dalam waktu dekat ini. "Ah, sudahlah, latihannya kan baru dimulai setengah jam lagi. Jenguklah Sasuke sebentar saja," ternyata Naruto tahu kalau latihannya baru dimulai setengah jam lagi. Hinata bingung harus mengeluarkan alasan apa lagi, dia hanya bisa diam. Namun tiba-tiba Naruto menggenggam tangan Hinata dan menariknya.

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu menjenguk Sasuke," kata Naruto seraya menarik Hinata menuju rumah sakit tempat Sasuke dirawat. Wajah Hinata memerah, selain karena Naruto yang kini sedang menggenggam tangannya, tapi juga karena itu berarti bahwa sebentar lagi dia akan bertemu Sasuke.

.o0o.

Sasuke kembali berbaring setengah duduk di ranjangnya. Sejujurnya ia sangat amat bosan berada dalam ruangan yang menyesakkan itu. Untuk mengusir kebosanannya itu, dia membaca buku yang dibawakan oleh Sakura saat dia belum siuman.

Di tengah keseriusannya membaca, tanpa diduga si makhluk kuning itu datang lagi ke kamar Sasuke. Naruto membuka pintu dengan tiba-tiba. "Kenapa kamu ke sini lagi? Aku sudah memintamu untuk pergi," kata Sasuke dengan bosan. Sebelum Naruto menjawab, Hinata akhirnya ikut masuk juga. Hinata hanya diam menunduk mengikuti Naruto. Sasuke juga cukup kaget meskipun raut wajahnya tampak biasa saja.

"Hehe.. Aku hanya mengajak Hinata-chan untuk menjengukmu," kata Naruto tanpa rasa bersalah. Sasuke diam, Hinata juga diam. Sasuke menatap Hinata, Hinata terus menunduk. Sasuke menutup buku dan meletakkannya di meja yang berada di sebelah kanan ranjangnya, di samping sup yang kini sudah dingin dan terlihat tidak berkurang sesendok pun. Hinata kikuk dan gugup, dia memegang ujung jaketnya untuk mengurangi kegugupannya.

Naruto jadi heran melihat kedua temannya hanya diam saja. Sasuke sih tenang-tenang saja, tapi Hinata sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Akhirnya Naruto berinisiatif untuk memecah keheningan tersebut. "Hey, kenapa kalian diam saja?" tanya Naruto, tetapi tidak ada yang mau menjawab Naruto. "Apa aku mengganggu kalian? Hmm oke, baiklah, aku pergi saja," kata Naruto. "J-jangan Naruto-kun," Hinata akhirnya mengeluarkan suaranya, Hinata tidak tahu apa jadinya kalau dia kembali 'berduaan' dengan Sasuke. "Kalian ngobrol-ngobrol saja dulu, aku masih ada urusan. Jaa.." Naruto melangkah keluar dari ruangan itu, menyisakan Sasuke dan Hinata.

Hinata benar-benar malu, ia menggigit bibir bawahnya. Lama-lama Sasuke kasihan juga melihat Hinata terus diam berdiri di depannya. "Duduklah," kata Sasuke singkat. "Eh?" Hinata terkejut. Sasuke hanya memberi isyarat dengan matanya agar Hinata duduk di kursi di samping ranjangnya. Dengan ragu-ragu, Hinata melangkahkan kakinya menuju kursi tersebut, dan dengan hati-hati ia menggesernya agar tidak terlalu dekat dengan Sasuke lalu mendudukinya.

Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah Hinata. "Maaf atas kejadian kemarin," Sasuke memulai pembicaraan. Namun tidak disangka, Sasuke akan mengucapkan kata maaf. "Saat itu, aku tidak sadar," lanjut Sasuke. Wajah Hinata memerah. Ternyata Sasuke masih mengingat kejadian itu. Kenapa Sasuke malah membahasnya? Padahal Hinata berharap Sasuke melupakannya dan tidak akan pernah mengatakan kejadian atau lebih tepatnya insiden itu.

Ternyata Hinata tidak enak juga dengan Sasuke jika ia terus diam. Bukankah lebih baik mengatakan sesuatu sehingga ia bisa cepat keluar dengan alasan untuk latihan. Hinata melirik meja di sampingnya. Dilihatnya sup yang ia tebak adalah untuk Sasuke terlihat tidak berkurang. "Em.. A-ano, sepertinya U-uchiha-san belum m-makan," kata Hinata. "Panggil aku Sasuke," kata Sasuke dingin. "B-baiklah, S-sakuke-san. Aku membawa b-bekal, sebaiknya Sasuke-san m-makan saja," kata Hinata seraya memberikan bekalnya kepada Sasuke.

Sasuke menatap dingin bekal Hinata tersebut. Dia pun mengambilnya. "Bukankah ini bekal untuk makan siangmu?" kata Sasuke sambil menatap Hinata. "Ah t-tidak apa-apa, kok," jawab Hinata. Akhirnya, Sasuke mau memakan bekal Hinata. Saat dia membuka kotak bekal tersebut, tampak beberapa sayuran di samping onigiri buatan Hinata, ada selada dan juga tomat. "Kamu suka tomat?" tanya Sasuke. "T-tidak juga. Aku selalu m-membawa bekal dengan sayuran y-yang berbeda setiap hari. K-kebetulan saja h-hari ini aku membawa tomat," jawab Hinata sambil memainkan kedua ujung telunjuknya.

Sasuke hanya mengangguk kecil. 'Kebetulan ya?' gumam Sasuke dalam hati sambil menyeringai kecil. Sasuke melanjutkan makannya. Sepertinya Sasuke begitu menikmati makanan tersebut. "B-bagaiman rasanya, Sasuke-san?" tanya Hinata malu-malu. "Lumayan. Setidaknya ini lebih baik dari sup itu," jawab Sasuke sambil menunjuk semangkuk sup di sampingnya.

.o0o.

Hari ini Neji juga sedang menuju tempat latihan. Ia hanya berangkat seorang diri. Tapi tiba-tiba suasana sunyi yang sedari tadi Neji rasakan kini mulai terganggu. "Oi, Neji," sapa Naruto. Lagi-lagi Naruto kembali bertemu dengan salah satu anggota keluarga Hyuuga setelah tadi dia bertemu dengan Hinata. "Naruto? Sedang apa kamu disini?" tanya Neji. "Aku dari rumah sakit, menjenguk Sasuke. Oh ya, terima kasih karena kemarin kamu memberitahuku," kata Naruto. "Apa kamu sedang mencari Hinata?" Naruto kembali bicara, dia benar-benar sok tahu saja dengan urusan Neji. Mendengar nama Hinata, Neji langsung menyimak perkataan Naruto. "Eh, memangnya sekarang Hinata-sama di mana?" tanya Neji. Yah, sebenarnya sih tujuan Neji berjalan-jalan di situ bukan untuk mencari Hinata, tapi ya sudahlah. "Tadi aku mengajaknya menjenguk Sasuke. Sekarang Hinata-chan pasti masih di rumah sakit," jelas Naruto.

Ya Tuhan, kenapa Naruto justru membawa Hinata ke hadapan Sasuke. Bagaimana kalau Hinata sampai disakiti oleh Sasuke? Bagaimana kalau Sasuke berbuat sesuatu yang buruk pada Hinata. 'Aku harus segera ke sana' pikir Neji. Tanpa banyak bicara Neji langsung bergegas menuju rumah sakit. Naruto yang ditinggal dan tidak digubris hanya heran melihat sikap temannya yang satu itu.

.o0o.

Sasuke sudah menghabiskan makanannya, sebenarnya sih bukan makanannya, tapi bekal Hinata. "Terima kasih," kata Sasuke sambil merapikan kotak bekal Hinata. "Eh, sama-sama," kata Hinata yang sedang mengupas buah untuk Sasuke. Alasan kenapa Hinata mengupaskan buah untuk Sasuke adalah agar Hinata punya kegiatan saat menunggu Sasuke selesai makan, setidaknya untuk mengalihkan perhatiannya dari Sasuke.

Sasuke meletakkan kotak bekal Hinata di atas meja, lalu ia mengambil air minum yang tadi dibawakan Sasura dan meminumnya. "Hinata?" panggil Sasuke. "Ada apa Sasuke-san?" jawab Hinata. "Kamu… menyukai Naruto?" tanya Sasuke. Hinata benar-benar kaget mendengarnya, wajahnya memerah. Hinata meletakkan apel yang sudah dikupasnya beserta pisaunya ke atas piring. Dari tadi Sasuke berkata tentang sesuatu yang membuat Hinata merasa tidak enak. Kemudian ia berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar di samping kiri ranjang Sasuke. "A-aku.. emm, kenapa Sasuke-san bertanya seperti itu?" Hinata tidak jadi menjawab Sasuke dan justru bertanya.

Sasuke mengambil apel tadi dan juga pisaunya. Ia duduk di tepi ranjang menghadap Hinata sambil memotong apel tersebut. "Aku hanya menebak saja," kata Sasuke datar, lalu ia melahap sepotong apel. "Tapi Naruto-kun sangat mencintai Sakura-chan," kata Hinata lirih. Ia mencoba untuk tetap tersenyum, tapi dari nada bicaranya ia terlihat sedih. Mereka kembali diam. Hinata diam menatap ke luar jendela, Sasuke masih memakan apelnya.

Sasuke berdiri mendekati Hinata. "Hm, begitu ya.." kata Sasuke, lalu ia memakan potongan apel yang terakhir. Sasuke masih berada di belakang Hinata, ia mulai berjalan menuju Hinata. Setelah ia rasa cukup dekat, err mungkin sangat dekat, Sasuke menyibak pelan rambut panjang Hinata dengan tangan kanannya, lalu mendekatkan wajahnya ke samping wajah Hinata. Hinata tersentak begitu mengetahui Sasuke kini berada di dekatnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke. Wajah Hinata memerah, tenggorokannya tercekat, ia hanya mematung di tempat. "Aku.. bisa membantumu," kata Sasuke lirih, tepat di samping telinga kiri Hinata. Hinata bingung dengan pernyataan Sasuke. Padahal Hinata tidak berkata bahwa ia membutuhkan bantuan, tapi Sasuke malah menawarkan diri untuk membantunya. Tapi.. membantu apa?

"Hinata-sama!" Neji membuka pintu dengan keras. Ia melihat Hinata sedang berada di dekat jendela, sedangkan Sasuke berada di belakang Hinata, bahkan sangat dekat, dengan pisau yang masih digenggam di tangan kirinya. Pikiran Neji sudah mengarah kepada sesuatu yang tidak-tidak. Sontak Hinata dan Sasuke menoleh ke arah Neji.

"Neji-nii-san," kata Hinata heran, tapi ia bersyukur bisa terlepas dari suasana 'mengerikan' tadi. Neji berjalan mendekati Hinata, ia sedikit mendorong Sasuke agar menjauh dari Hinata dan langsung menarik tangan Hinata. "Sebaiknya kita pulang," kata Neji. "Ada apa, Nii-san?" tanya Hinata yang masih heran. "Kau mau menyelakai Hinata-sama?" Neji berkata sekaligus bertanya pada Sasuke. Sasuke hanya menatap Neji dingin. "Apa maksudmu?" tanya Sasuke. "Kau pasti akan melukai Hinata-sama dengan pisaumu itu, kan!" kata Neji yang masih memegang tangan Hinata seraya melirik pisau di tangan Sasuke. "Neji-nii-san, Sasuke-san tidak berbuat seperti itu, kok," kata Hinata. Tanpa harus menjawab Neji, Sasuke sudah dibela oleh Hinata. Toh kalau pun Sasuke menjawab sendiri, mungkin Neji tidak akan percaya dengannya. Sasuke hanya tersenyum penuh kemenangan dan menatap Neji. Sasuke mengambil kotak bekal Hinata lalu mengembalikannya. "Terima kasih," kata Sasuke seraya menyodorkannya kepada Hinata. Hinata menerimanya, "Sama-sama, Sasuke-san. Semoga cepat sembuh."

Neji mendeathglare Sasuke sebelum menarik Hinata ke luar dari ruangan tersebut. Neji dan Hinata kini berjalan menyusuri lorong rumah sakit. "Kenapa Nii-san kasar seperti itu?" tanya Hinata. "Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk denganmu," kata Neji. Hinata tersenyum mendengarnya. Hinata tahu bahwa Neji menyayanginya, ia juga tahu bahwa Neji ingin melindunginya, tapi Neji salah paham mengenai Sasuke. Ia rasa Sasuke tidak seburuk itu. Walau pun begitu, ia bersyukur mempunyai Neji yang selalu melindunginya. "Oh iya, aku kan harus latihan bersama Kiba-kun dan Shino-kun," kata Hinata. "Hm, baiklah. Aku akan mengantarmu," kata Neji sambil menatap Hinata dengan senyum yang terukir lembut di bibirnya. "Arigatou," balas Hinata. Akhirnya Neji mengantar Hinata ke tempat latihan. Sepertinya hari ini tidak terlalu buruk untuk Hinata.

~TBC~

Ceritanya kurang greget yach? Fi minta kritik dan sarannya ya... Tentu saja lewat Review... (_ _)