PLEASE LOOK AT ME / CHAP 9

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T
WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

.

.

Terima kasih buat para River semua, terima kasih bagi yang udah follow dan Fav FF ini. Aku juga berterima kasih kepada seorang readers yang sudah mengajari aku EYD yang benar. Terima kasih banyak

.

.

"Shion."

Sakura kembali melihat seorang gadis muda berambut panjang yang berjalan diantara kerumunan wartawan bersama dengan actor muda terkenal Sasori.

"Banyak yang beranggapan, kalau hubungan mereka terjalin sudah lama. Namun baik Sasori maupun gadis yang belum diketahui identitasnya tidak menanggapi pertanyaan dari para wartawan."

Terlihat jelas dimata Sakura kalau Sasuke sangat terpukul. Telapak tangannya mengepal, rahangnya gemetar serta mata yang menunujukan sorotan yang tak bersahabat. Sakura segera mematikan televisi, dia tahu kalau Sasuke sangat terpukul dengan berita seperti ini. Sasuke sangat mencintai Shion jadi dia tahu apa yang dirasakan oleh Sasuke sekarang.

"Aisshhh, gossip apa itu? media selalu berlebihan dalam mengemas berita. Mungkin saja Sasori dengan gadis itu berteman baik," seru Sakura sambil melirik Sasuke.

Dia berharap dengan mendengar ucapan darinya raut wajah Sasuke sedikit santai. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Sasuke. Dia bergegas pergi meninggalkan Sakura sendirian. Sakura melihat arah dimana Sasuke pergi. Hembusan nafas pelan keluar dari hidungnya.

ooOOoo

Sasuke berdiri termenung, melihat pemandngan malam dari dalam rumah. Dinding yang terbuat dari kaca memperjelas pemandangan yang ada diluar rumahnya. Pohon-pohon kecil yang dihiasi oleh lampu berwarna kuning menambah semarak malah hari yang gelap. Mata Sasuke tak hentinya melihat kerlap-kerlip lampu itu. Pikirannya menerawang ke masa lalu. Masa dimana Shion masih menjadi kekasihnya. Kerlap-kerlip lampu dipepohonan mengingatkan dia saat pertama kali dia bertemu dengan Shion.

Disebuah toko buku yang tak begitu besar. Sasuke sibuk mencari-cari novel yang dia inginkan sejak lama. Tangannya menyisiri pinggiran buku, matanya tak henti-hentinya membaca setiap judul. Sasuke tersenyum bahagia ketika menemukan buku yang ia cari. Dengan sigap, dia mengambil buku itu namun ternyata ada oran lain yang ingin mengambilnya. Mata Sasuke perlahan melihat seseorang yang ada didepannya yang terhalang oleh rak. Sasuke hanya bisa melihat wajahnya diantara sela-sela rak. Sasuke tertegun dia seperti melihat seorang bidadari yang turun dari langit. Cantik benar-benar sangat cantik.

"Apa kau juga menginginkan buku ini?," tanyanya ramah. Lamunan Sasuke yang terjebak dalam sebuah kekaguman buyar seketika karena teguran gadis itu.

" Ya aku dari dulu sudah ingin membelinya. Tapi jika kau ingin mengambilnya, ambilah," ucapnya. Sasuke tidak tahu kenapa dia menyerahkan sesuatu yang dia inginkan pada seseorang apa lagi seseorang yang tidak dia kenal. Tak peduli pada siapapun Sasuke selalu menang. Kecantikanlah yang meluluhkan hatinya.

"Kalau begitu terima kasih," ujar Shion tersenyum dan bergegas ke kasir.

Sasuke bukannya mencari buku lain tapi dia mengikuti dan mengawasi gadis itu pergi. Shion keluar dari toko buku dan berjalan menuju Halte yang tak jauh dari toko. Sasuke terus mengikuti gadis itu. Dia berdiri agak jauh dari Shion. Sesekali dia melirik gadis cantik yang ada disampingnya. Benar-benar sempurna, batin Sasuke. Shion menunggu bis sambil membaca novel yang baru saja dia beli. Tak lama kemudian, bis datang. Shion memasukan novelnya kedalam tas agak terburu-buru, saat itu juga ada sesuatu yang jatuh dari tasnya. Shion yang sudah naik melaju menjauh bersama bis yang ia tumpangi. Sasuke penasaran. Diapun menghampiri secarik kertas kecil tersebut. Ketika dia melihatnya ternyata itu adalah sebuah kartu nama.

"Shion," gumam Sasuke pelan.

"Sasuke-kun," panggil Sakura tiba-tiba. Suara Sakura membuyarkan pikirannya. Perlahan Sakura mendekati Sasuke. Dia berdiri tepat disamping Sasuke, matanya melihat dimana Sasuke melihat. Sakura tahu betul bagaimana perasaan Sasuke. Pasti hatinya terasa perih sekali. "Malam hari ini langit begitu indah dengan bintang-bintang yang bersinar."

"Kau menyukainya?," tanya Sasuke singkat dan dingin.

"Aku menyukaninya," jawab Sakura. Ekspresi wajah Sasuke begitu datar. Matanya menatap lurus ketaman rumah yang penuh dengan lampu-lampu. "Apa kau tidak apa-apa?."

"Iya aku tidak apa-apa," ujarnya.

"Jangan bohong, cinta memang seperti itu. Ada saatnya senang ada saatnya sedih, ada saatnya tertawa ada saatnya untuk menangis, ada saatnya kita bertemu lalu mengikat cinta, ada saatnya dimana kita memutuskan tali cinta itu lalu berpisah. Di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk juga cinta." Sakura memandang pemandangan diluar dinding kaca rumah yang penuh dengan cahaya lampu.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke Sakura. Dia seolah tak percaya kalau Sakura memiliki sisi kedewasaan yang luar biasa. Sasuke juga merasa kalau Sakura malam ini terlihat lebih cantik dari biasanya. Sakura tahu kalau Sasuke sedang memperhatikan dirinya namun, dia pura-pura tidak mengerti. Jujur dengan cara Sasuke memandang dirinya seperti itu, membuat jantung Sakura berpacu dengan cepat. Setenang mungkin Sakura berusaha untuk menjaga tingkahnya agar tak kelihatan gugup.

"Jangan terlalu bersedih. Mungkin Tuhan memiliki takdir lain yang lebih baik untukmu. Aku yakin, Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk umatnya. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan mendapatkan lebih daripada yang sekarang." Sakura melihat kearah Sasuke sambil tersenyum manis. Sasuke sedikit terkejut lalu segera mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba tangan Sasuke ditarik oleh Sakura.

"Ada apa?," tanya Sasuke bingung.

"Ayo ikut aku. Aku akan mengajakmu ketempat yang bisa membuatmu merasa bahagia dan lega."

"Ketempat yang membuatku bahagia dan lega? dimana?."

"Sudahlah hehehehe." Sakura mengenakan sebuah syal putih dileher Sasuke lalu menariknya pergi.

ooOOOoo

Sasuke duduk menyilangkan kedua tangannya dengan wajah yang ditekuk. Pandangannya tak lepas dari Sakura. Sasuke benar-benar kesal dan ingin marah. Kenapa Sakura harus mengajak dia ketempat seperti ini. Tempat macam ini bukanlah tempat yang cocok untuknya. Disekeliling meja makannya bersama Sakura, terdapat banyak sekali paman-paman memakan lahap hidangan yang sudah mereka pesan sambil sesekali meminum sake.

"Kenapa kau diam saja ayo makan?," ujar Sakura yang lahap dengan makanan yang ada di depannya. Tangan Sakura tak henti-hentinya untuk membalikan daging diatas tempat pemanggang yang berbentuk bundar.

"Kau ingin aku makan makanan seperti ini?," ucap Sasuke sedikit emosi.

"Memangnya kenapa? usus tak kalah enaknya dengan daging yang sebenarnya?."

"Justru karena usus aku tidak mau memakannya."

"Apa orang kaya selalu seperti ini?."

Sasuke terdiam, tak mengatakan apapun. Dia hanya melihat Sakura yang terus-terusan makan usus matang yang menurutnya terlihat menjijikan. Tak sangka dan diduga, ada seorang pria remaja yang mendekati mereka. Sasuke sama sekali tak mengenalnya. Umurnya setara dengan umur Sasuke. Sakura tersenyum pada remaja itu karena dia tahu, dia adalah temannya waktu masih SMP.

"Sakura halo apa kabar?," sapa salah satu diantara mereka.

"Oh Shino, sedang apa kau disini? kau terlihat lebih tampan sekarang." Sasuke memandang Sakura sejenak, ada perasaan tak suka dari dalam hati Sasuke saat Sakura terang-terangan memuji orang lain.

"Hmm kau terlalu memuji. Sakura-chan kau daftar di universitas mana?," tanyanya.

"Aku tidak mendaftar ke universitas manapun," ucap Sakura lemas.

"Benarkah? kenapa?." Sakura tak menjawab pertanyaan Shino. Namun Shino juga tidak memaksa Sakura untuk menjawab pertanyaannya. Mata Shino sekarang terpaku pada seorang laki-laki berwajah tampan, namun angkuh yang duduk tepat dihadapan Sakura. "Pria ini, siapa?,"

"Dia temanku," jawab Sakura singkat sambil terus makan. Shino mengulurkan tangannya kepada Sasuke namun, Sasuke hanya memandang sinis tanpa membalas uluran tangannya. "Waahh, siapa kau sombong sekali," ujarnya penuh emosi.

"Memangnya kenapa? aku adalah anak dari pengusaha terkaya dinegeri ini," ucap Sasuke emosi. Luapan emosi Sasuke semakin menjadi-jadi setelah mendengar pengakuan Sakura yang mengatakan bahwa dia adalah temannya. Padahal, dia adalah suaminya.

"Ahh benarkah? kalau begitu aku anak dari perdana menteri di negeri ini. Orang sombong sepertimu tak pantas berteman dengan Sakura dan hidup di dunia ini. Kau hanya pantas hidup di kutub utara," Shino mulai meninggikan suaranya.

Sasuke hari ini begitu sensitive. Dia berdiri seolah menantang Shino untuk berkelahi dengannya. Sakura bisa membaca situasi seperti ini dan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau tak ada seorangpun yang mencegah mereka.

"Sudah, jangan bertengkar. Shino-kun maafkan tingkahnya. Dia memang seperti itu," ujar Sakura.

"Aku benci orang sepertinya," jawabnya. Sasuke tiba-tiba keluar meninggalkan mereka.

"Hei, Sasuke-kun kau mau kemana?." Sakura bergegas membayar makanannya lalu menyusul Sasuke. "Shino-kun maafkan aku dan temanku. Aku pergi dulu." Sakura berlari kearah Sasuke yang sudah jauh darinya. "Sasuke-kun, tunggu!."

"Tolong jangan ikuti aku!" Kata Sasuke sedikit marah.

"Kenapa?," tanya Sakura. Sasuke tidak menjawab, dia hanya berbalik melihat Sakura dengan tatapan menyeramkan yang keluar dari dua bola matanya. Sakura tak berkutik, dia takut dengan tatapan itu. Sakura memilih diam sambil terus mengikuti kemana Sasuke pergi.

ooOOoo

Sasuke berjalan perlahan sambil menatap langit malam. Tak sekalipun dia melihat bahkan melirik kearah Sakura yang ada disampingnya. Kedua tangan Sasuke ada didalam saku celananya begitu juga dengan Sakura kedua tangannya berada di dalam saku jaketnya. Malam ini begitu dingin, sehingga syal tebal masih tak mampu mencegah dinginnya angin yang berhembus. Selangkah demi selangkah Sakura mengikuti Sasuke. Perlahan dia menatap penuh arti kearah suaminya Sasuke.

"Sasuke, memang benar-benar pria sempurna. Alis tebal itu, mata yang tajam itu, bibir yang seksi itu dan hidung yang mancung itu. Kapan jari jemariku ini menggapai mereka?. Tak heran banyak gadis yang menyukainya dan mengidolakannya. Aku sadar semakin hari aku semakin mencintainya sangat mencintainya. Walaupun dia tak mencintaiku namun dengan sikap pedulinya padaku itu lebih dari cukup. Sasuke-kun maafkan aku selama beberapa bulan terakhir membuat hidupmu menderita. Delapan bulan kedepan aku akan menghilang dalam kehidupanmu," ucap Sakura dalam hati. Karena dia begitu terbawa oleh lamunannya, Sakura sama sekali tidak sadar jika Sasuke melihat kearahnya.

"Hei, Haruno Sakura, kenapa kau melihatku seperti itu? apa kau begitu terpesona dengan ketampananku?," goda Sasuke. Wajah Sakura memerah seketika.

"Ti-tidak. Oya, di sana ada es krim aku mau membelinya." Sakura bergegas pergi. Sasuke tersenyum senang karena bisa membuat Sakura merasa malu.

Acara makan malam bersama gagal total, karena Sasuke tidak mau makan usus ditambah lagi bertemu dengan teman Sakura yang begitu meyebalkan, sehingga membuat Sasuke semakin kesal. Hal seperti itu tak membuat Sakura patah semangat agar Sasuke kembali ceria lagi. Sekarang dia membawa Sasuke ke tempat karaoke. Sasuke duduk santai sambil melihat-lihat hal yang ada disekelilingnya sedangkan Sakura, sibuk mencari daftar lagu yang akan mereka nyanyikan.

"Hei, Sasuke, kenapa kau diam saja. Lagu apa yang kau suka? ku akan mencarikannya untukmu."

"Kenapa kau membawaku ketempat seperti ini?," tanya Sasuke polos.

"Aku jamin kau akan kembali ceria setalah keluar dari tempat ini." jawab Sakura.

"Kembali ceria? Apa aku terlihat sangat menyedihkan?."

"Iya, kau terlihat sangat menyedihkan." Sakura menekan remote lalu mulai play lagu yang sudah dia masukan di daftar lagu. "Ayo sekarang kita mulai menyanyi, Yeahhh."

Terdengar alunan musik rock diseluruh ruangan kecil yang berukuran tiga kali empat meter. Sakura bernyanyi dengan gembira dan menari sesuai dengan video yang diputar. Linkin park-New devide merupakan lagu pertama yang dipilih oleh Sakura. Sakura menari sesukanya. Sasuke sedikit terhibur dengan suara dan gerakan dari Sakura namun dia juga khawatir karena Sakura sedang dalam keadaan hamil.

"Hei, Sakura, jangan banyak bergerak. Kau itu sedang hamil," ucap Sasuke khawatir.

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun ayo menari." Sakura menarik paksa Sasuke lalu mengajaknya menari. Perlahan Sasuke ikut menari dan menyanyi. Sasuke juga melakukan gerakan-gerakan konyol yang membuat Sakura tertawa terbahak-bahak. Sakura tak mau kalah disaat lagu beraliran hip-hop, ia memakai kostum berwarna merah dan berkilauan. Tingkah Konyol Sakura menjadi-jadi, Sasuke tertawa tanpa henti sambil sesekali memegang perutnya.

"Sakura-chan, kau lucu sekali ahahahaha. Kau benar-benar bikin aku tak bisa berhenti tertawa ahaha."

Sakura hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Sejenak dia berhenti dan memandang Sasuke. Dia merasa bahagia, puas dan terharu melihat Sasuke kembali ceria dan bahagia. Ternyata usahanya selama beberapa jam terkahir ini sukses total. Tawa khas Sasuke membuat Sakura semakin ingin melucu di depan Sasuke. Sambil terus bernyanyi dan menari Sakura berkata dalam hati.

"Sasuke, jangan bersedih dan menangis lagi."

ooOOoo

Malam ini benar-benar malam yang indah. Mereka berdua sengaja pulang tidak naik bis namun berjalan kaki. Keputusan ini mereka ambil karena jarak tempat karaoke dan rumah mereka lumayan dekat. Raut wajah Sasuke jauh lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Jalan yang mereka ambil adalah jalan pintas dan kebetulan sekali taman terdekat di daerah itu sekarang ada pasar dadakan. Kesempatan ini tak mereka sia-siakan, mereka berdua melihat barang-barang yang lucu. Pandangan Sakura terfokus pada sebuah boneka teddy bear lucu yang berwarna putih coklat. Ukurannya agak besar. Ketika dia melihat harga boneka itu Sakura mengurungkan niatnya lalu pergi. Sasuke yang sedari tadi memperhatikan Sakura bergegas membelikan boneka itu untuknya. Secepat mungkin Sasuke berlari kecil menyusul Sakura sambil membawa boneka.

"Ini untukmu," katanya singkat. "Aku lihat kau sangat menginginkan boneka ini." Sakura tertegun dia tidak bisa mengatakan apapun. Ada angin apa Sasuke begitu baik padanya. Sasuke merasa risih karena Sakura terus memandangnya "Jangan memandangku seperti itu."

"Arigatou, Sasuke-kun hehehe." Sakura tersenyum manis padanya. Senyuman itu membius Sasuke untuk tak berpaling melihat Sakura. Detik berikutnya, Sasuke sadar lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hsshh, jangan tersnyum seperti itu padaku," protes Sasuke melanjutkan langkahnya.

"Kenapa? ppa aku terlihat cantik kalau tersenyum seperi itu?,"

"Aku tidak tahu, tidak tahu," jawab Sasuke uring-uringan. Sakura hanya bisa cekikan di belakang Sasuke.

Beberapa menit berlalu sekarang Sasuke dan Sakura duduk dibangku panjang yang ada di taman kota. Suasana taman semakin malam semakin ramai, ditambah lagi adanya pasar dadakan. Sakura mengeluarkan mp3 dari dalam sakunya. Sakura menempelkan headset satunya ditelinga kiri Sasuke. Saat itu, Sakura memutar soundtrack film favoritnya,"Christina perri – secret garden." Sasuke sedikit terkejut karena Sakura tiba-tiba memasukan sesuatu dikupingnya. Bagi Sakura, lagu ini merupakan gambaran perasaannya untuk Sasuke.

"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa kau merasa lebih baik?," Sakura mengatakan hal itu sambil menatap langit yang penuh bintang.

"Iya, aku sudah merasa jauh lebih baik. Terima kasih kau sudah menghiburku," ucap Sasuke.

" Sasuke-kun, menurutmu diantara semua bintang mana yang sinarnya paling terang?,"

"Disana, Itu merupakan bintang yang paling terang." Sasuke menunjuk bintang itu "Kenapa?."

"Itu adalah bintangku. Aku kurang bisa bergaul dengan banyak orang, karena aku dulu lebih suka belajar daripada keluar dengan teman-teman. Teman satu-satunya yang aku punya adalah Ino namun, sekarang dia meninggalkanku karena dia sibuk dengan kuliahnya. Aku merasa kesepian. Setiap aku sedih, aku selalu mecurahkan isi hatiku kepada bintang itu. Entah kenapa aku merasa lega setelah mengungkapkan semuanya. Ini terlihat sangat konyol tapi itu yang aku rasakan. Aku ingin menemukan bintang itu di kehidupanku. Aku ingin menemukan seorang pria yang kelak akan menjadi seperti bintang itu. Yang selalu mendengarkan kesusahanku dan kebahagiaanku," Sakura tersenyum. Dia masih terus melihat dimana bintang itu berada.

Sejenak Sasuke melihat Sakura dengan tatapan penuh arti. Sasuke meneliti Sakura dengan seksama. Cantik dan manis tak kalah dengan Shion. Sasuke mulai sadar kalau dia memang sudah mulai mencintainya tapi disisi lain dia juga masih menyukai Shion. Sasuke terlalu gengsi untuk mengatakan kalau cinta itu sudah tumbuh dihatinya. Walaupun sedikit demi sedikit perasaannya terhadap Shion semakin memudar.

" Ada anak kecil yang berjalan kesini." Sakura berlari menghampiri anak laki-laki kecil itu lalu menggendongnya. "Adik kecil siapa namamu? Kenapa kau sendirian?,"

"Siapa dia? kenapa anak kecil berjalan sendirian ditaman?,"

"Aku tidak tahu. Lihat Sasuke-kun, dia tampan dan lucu sekali. Dimana ibumu?," tanya Sakura namun lagi-lagi dia tidak menjawab. Tiba-tiba anak laki-laki itu menangis dan sedikit memberontak. "Jangan menangis sayang . Lihat ini Nee-chan punya permen apa kau mau?"

Untuk kedua kalinya dia tersentuh dengan sikap Sakura yang begitu suka dengan anak kecil. Sasuke bisa membayangkan betapa sayangnya nanti Sakura terhadap darah dagingnya. Sakura adalah gadis sempurna, dia pintar, baik, penyanyang, cantik. Tak heran kalau banyak sekali pria di sekolah yang menyukainya. Entah kenapa Sasuke berpikiran andai dia bisa memutar waktu kembali. Dia ingin bisa mencintai dari dulu dan memiliki gadis yang ada di hadapannya sekarang.

"Aduh ternyata kau ada disini" Suara mendadak seorang bibi membuyarkan lamunan Sasuke. Bibi itu mengambil anak laki-laki itu dari gendongan Sakura. "Terima kasih kau sudah menjaga anakku. Tiba-tiba dia menghilang, aku begitu gugup dan takut tapi untung ada gadis cantik sepertimu yang tidak membiarkan anak kecil berkeliaran dan menjaganya."

"Iya bibi, tidak apa-apa. Aku senang bisa menjaga anak anda."

"Sekali lagi terima kasih banyak. Daichi, kenapa kau membuat ibumu panik?." Bibi itu menjauh sambil berbicara dengan putranya dari mereka berdua. Anak kecil itu melihat Sakura lalu melambaikan tangan padanya. Sakura tersenyum bahagia dan membalas lambaian itu. Sasuke masih terus melihat Sakura tanpa henti.

"Adik kecil hati-hati. Jangan berpisah dengan ibumu lagi ya," t eriaknya. "Anak kecil itu lucu sekali" Sakura melihat jam yang ada ditangannya "Sudah malam ayo kita pulang." Tiba-tiba Sakura merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Sekarang dia berada di dalam pelukan Sasuke.

"Jangan bergerak, diamlah,"

"Ke-kenapa?,"tanya Sakura gugup. Jantungnya berdegup kencang.

"Entah kenapa malam ini aku ingin sekali memelukmu."

ooOOoo

Sasuke dan Sakura melanjutkan perjalanan pulang. Sakura sepenuh hati memeluk boneka yang dibelikn oleh Sasuke. Tapi sikap Sasuke berubah mejadi dingin kembali, beda sekali dengan kejadian saat ditaman tadi. Sakura bingung, kenapa Sasuke secepat itu moodnya berubah. Sakura tak mengatakan apapun dan dia tak mau membahas kejadian yang ada di taman itu. Dia takut, kalau Sasuke marah. Mungkin Sasuke melakukan itu padaku karena dia sekarang sedih makanya dia mencari pelampiasan untuk itu, tidak apa-apa yang penting Sasuke bahagia, batin Sakura. Tiba-tiba Sakura sangat kehausan.

"Sasuke-kun aku haus. Aku akan membeli minuman ditoko itu. Tunggu aku disini," ucap Sakura. Sasuke mengangguk santai dan menunggu dia dibawah pohon.

Dari kejauhan Sasuke melihat jelas ada seorang nenek yang berjalan mendekat kearahnya. Pandangan nenek itu sedikit menakutkan. Tangan keriput nenek itu memegang pipi mulus Sasuke. Sasuke menelan ludah karena ketakutan.

"Anak muda, kau akan menyesal. Rasa penyesalanmu ada karena rasa gengsimu, keangkuhanmu dan hatimu yang tak mau menerima sesuatu yang baru. Kau berusaha mejaga sesuatu yang lama. Kelak kau akan menangis, menangis sehingga kau ingin mati karena kehilangan sesuatu itu," ucap Nenek. Sasuke katakutan setengah mati. Setelah mengatakan hal yang aneh, nenek itupun menjauh pergi. Sasuke mencerna semua perkataan yang baru saja dia dengarkan.

"Hei, Nenek sesuatu a ... ?." Sasuke berhenti berucap.

Nenek itu sudah tak ada di jalan lagi. Ini begitu aneh, terlalu aneh jika seorang nenek tua secepat itu berjalan dan menghilang. Sasuke tak mau ambil pusing, mungkin itu hanya perkataan nenek tua yang ngelantur. Sasuke merasakan ponselnya bergetar. Dia kemudian mengambil ponsel itu dari sakunya.

"Moshi-moshi—Iya sekertaris Akimoto—Apa? ayah jatuh pingsan?."

TO BE CONTINUE