Gomenasai, minna-san… Karena udah lamaaaaa banget Fifi menelantarkan fic ini. Setelah baca review, Fifi jadi nggak enak sama reader yg udah menunggu kelanjutan fic abal ini. Ummm, maafkanlah Fifi yang males ini. *toeng*

Yosh, sekarang udah apdet, tapi mungkin agak mengecewakan..

Selamat menikmati.. *emangnya makanan*

Y o wes lah, Hepi reading wae…

Help Me

A Naruto Fanfiction By FV

Naruto bukan milik Fifi

Setelah sekitar tiga hari Sasuke dirawat di rumah sakit, sekarang ia benar-benar sehat. Ya, benar-benar sehat,karena ia sudah bisa makan minum sendiri, bangun sendiri, ganti baju sendiri *memangnya waktu sakit digantiin?*, jalan sendiri, yang pasti sudah mandiri *eits.. bukan sekedar mandi sendiri loh..*. Padahal sebelumnya Sasuke hanya perlu menjalani rawat jalan saja, tapi gara-gara Sasukenya bandel, masih sakit malah kabur dan hujan-hujanan, Sasuke jadi harus dirawat inap deh selama tiga hari.

Saat ini Sasuke sedang berjalan sendirian, tak tahu mau ke mana. Ia hanya asal jalan saja. Ia begitu bosan karena tidak punya kegiatan. 'Kenapa hari ini begitu sepi? Di mana Naruto?' pikir Sasuke dalam hati. Bukannya Sasuke kangen atau ingin bertemu dengan Naruto, tapi tidak biasanya Naruto tidak menemuinya. Bersyukur sajalah, karena ia tidak harus mendengarkan keberisikan suara Naruto yang cempreng itu.

Singkat cerita, tiba-tiba matanya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berjalan setengah berlari ke arah yang berlawanan dengannya. Semakin lama sosok itu semakin mendekat, hingga jelaslah bahwa gadis itu adalah Hinata. "Kau menangis?" tanya Sasuke begitu Hinata sampai di depannya. Entah apa yang membuat Sasuke menanyakan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban seperti itu. Penasaran? Sepertinya bukan. Perhatian? Untuk apa juga. Yah, yang jelas tiba-tiba saja Sasuke ingin bertanya. Hinata menghentikan langkahnya sejenak, ia tetap menunduk. Tangan kanannya mencoba menahan suara isak tangis yang keluar dari mulutnya. Sasuke menatap tajam Hinata. Hinata pun bingung, kalau untuk menjawab pertanyaan Sasuke tadi rasanya tidak perlu, toh semua orang yang melihatnya seperti ini pasti sudah tahu kalau dia sedang menangis. Mau menceritakan alasan kenapa ia menangis, rasanya tidak perlu juga, memang Sasuke itu siapanya. Jadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hinata langsung saja berlari meninggalkan Sasuke, tanpa jawaban.

Sasuke hanya menatap dingin sosok Hinata yang kian menjauh. Ia pun melanjutkan perjalanannya, lagi pula itu bukan urusannya. Tapi dipikir-pikir lagi, mengenai Hinata dan ia sendiri, sepertinya mulai sekarang ini harus jadi urusannya. Kenapa? Hmm, lihat saja nanti. Tak jauh dari tempatnya bertemu Hinata tadi, Sasuke melihat Naruto yang tengah berbincang asyik dengan Lee dan Shikamaru.

"Kau yakin ini waktu yang tepat?" tanya Lee kepada Naruto. "Haah, entahlah. Jangan membuatku semakin gugup. Menurutmu bagaimana caranya untuk membuat Sakura-chan yakin padaku?" tanya Naruto seraya melemparkan pantatnya di atas kursi taman. Lee tampak sedang berpikir, sedangkan Shikamaru terlihat tidak tertarik dengan obrolan mereka. "Sudahlah, cari saja cara yang tidak merepotkan," kata Shikamaru asal-asalan. "Memang menurutmu, cara apa yang tidak merepotkan?" Tanya Naruto pada Shikamaru. "Yah, bicarakan saja apa yang perlu kau bicarakan, tidak usah bertele-tele, cukup to the point. Beres.." jawab Shikamaru. "Huh, kau benar-benar tidak membantu, Shikamaru," Naruto mengerucutkan bibirnya.

Naruto bangkit kembali dari kursi, ia berjalan mondar-mandir sambil mencari ide. "Oi, Teme. Kenapa kau berdiri saja di situ?" Naruto menghentikan kegiatannya saat melihat Sasuke sedang bersandar di pohon tak jauh darinya dan menatap ke arahnya. Sasuke tidak menjawab, ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Shikamaru.

"Kau pasti sudah mendengar pembicaraan kami kan? Bantu aku mencari cara untuk meyakinkan Sakura-chan tentang perasaanku padanya ya.." pinta Naruto. Hei, tidak salah Naruto menanyakan hal ini kepada Sasuke? Padahal ia tahu sendiri bahwa Sakura saat ini –mungkin- masih menyukai Sasuke. Lagi pula rasanya ini di luar bidang keahlian Sasuke, kalau pun Sasuke punya cara, sepertinya tidak akan cocok jika yang melakukannya Naruto. Sasuke tidak punya niat untuk menjawabnya, jadi ia hanya diam saja. Tapi ia ingat dengan Hinata, pasti hal ini yang menyebabkan Hinata tadi menangis. "Apa tadi Hinata lewat sini?" tanya Sasuke tiba-tiba. "Dari tadi tidak ada orang di sekitar sini," jawab Naruto. 'Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Hinata tadi,' kata Sasuke dalam hati. "Kenapa kau mencari Hinata-san?" tanya Lee sambil melempar pandangan ke arah Sasuke. "Tak apa. Aku harus pergi," kata Sasuke sambil bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan mereka. "Haah, perempuan memang merepotkan," kata Shikamaru dengan malas.

.o0o.

Hinata duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang cukup rindang. Dia sudah tidak menangis lagi, tapi matanya masih terlihat sembab. Saat ini hatinya benar-benar kalut. Ia tahu bahwa suatu saat ia akan mengalami hal ini, sehingga jauh-jauh hari sebenarnya ia sudah berusaha menyiapkan dirinya untuk menerima kenyataan ini. Tapi ternyata tetap saja ia masih tak sanggup mendengar berita ini. Buktinya ia menangis saat mendengarnya.

"Hinata-sama," sapa Neji yang kini sudah berada di samping kanan Hinata. Hinata agak kaget, ia segera mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. "Eh, Neji-nii-san," jawab Hinata. "Aku tidak akan bertanya kenapa kau menangis, tapi kumohon jika hal ini membuatmu sedih, jauhilah dia sementara waktu. Atau setidaknya kau tidak usah membantu memberi dukungan padanya untuk menyatakan perasaannya pada Sakura," kata Neji. Hinata menoleh ke arah Neji, "Neji-nii-san, aku..aku akan t-tetap mendukung Naruto-kun. Nii-san t-tidak usah khawatir d-denganku," jawab Hinata senormal mungkin. "Tapi, Hinata-sama," kata-kata Neji dipotong oleh Hinata, "Tidak apa-apa. Naruto-kun juga temanku, jadi aku juga harus mendukungnya. " Hinata mencoba meyakinkan Neji. "Kalau begitu baiklah. Aku berjanji akan selalu melindungimu," kata Neji mencoba memberi ketenangan pada Hinata. Ia bergeser agar lebih dekat dengan Hinata, kemudian merangkul bahu Hinata. Hinata hanya tersenyum simpul sambil menyandarkan kepalanya di bahu Neji, ia benar-benar beruntung mempunyai Neji. Neji mengelus lembut rambut Hinata, mencoba memberi ketenangan padanya.

'Ini akan jadi hal yang menarik,' kata Sasuke dalam hati yang sedari tadi memperhatikan perbincangan Hinata dan Neji, tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Tapi sejak kapan Sasuke ada di situ? Sejak kapan pula Sasuke jadi mata-mata? *Emm, terserah Fifi dong. Haha..*. 'Tenang saja Hinata, aku pasti akan membantumu, dan nanti kau yang akan membantuku,' Sasuke menyeringai tipis, lalu pergi dari tempat itu.

.o0o.

"Sakura-chan, temui aku di taman. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

Naruto."

Sakura membaca surat yang baru ia terima dari Tenten. 'Ada apa lagi dengan Naruto? Surat macam apa ini, pendek sekali,' kata Sakura dalam hati. Sakura yang sedang berada di rumah sakit pun segera menyelesaikan urusannya dan bergegas menuju tempat di mana Naruto suda menunggunya.

.o0o.

Sementara itu, Naruto sedang duduk dengan perasaan tidak tenang di kursi taman. Kakinya terus bergerak tidak nyaman. Ia benar-benar gugup, ia takut kalau Sakura tidak datang.

"Menurutmu, apakah Sakura-san akan datang?" Tanya Lee pada Shikamaru. "Entahlah, mungkin saja," jawab Shikamaru. Mereka berdua bersembunyi di atas pohon untuk memberi dukungan pada Naruto, dan tentu saja untuk melihat momen bersejarah (?) ini. Tidak hanya Lee dan Shikamaru yang berada di sana, Chouji dan Ino bersembunyi di semak-semak di bawah Lee dan Shikamaru. Sementara di pohon lain ada Hinata, Neji, dan Sai, di bawah mereka ada Kiba dan Akamaru, Shino, dan Tenten.

"Kenapa Sakura lama sekali ya?" kata Chouji sambil melahap keripik kentangnya. "Hei, Chouji, berhentilah makan, apa kau tidak tahu kalau sekarang ini situasinya sedang menegangkan?" kata Ino. "Heh, seperti ini kau bilang menegangkan?" sahut Shikamaru dengan nada sinis. "Grrh, apa kau bilang?" jawab Ino yang hampir marah, kalau tidak dihentikan oleh Lee. "Kalian diamlah, lihatlah Sakura-san sudah datang," seru Lee. Mereka pun langsung diam dan fokus kepada objek mereka, Naruto dan Sakura. "Kau juga berhenti makan, Chouji! Berisik," kata Ino pada Chouji. "Hmm, baiklah," jawab Chouji yang langsung menghentikan aktivitas makannya.

Naruto berdiri membelakangi Sakura yang tengah berjalan mendekatinya. Naruto hanya diam mematung, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku, ia tengadahkan wajahnya ke langit sambil menutup mata, mencoba memberikan sedikit ketenangan. Sementara Sakura terus mendekati Naruto,hingga jarak mereka tinggal sekitar 1 meter Sakura menghentikan langkahnya. Sakura menundukkan kepalanya, ia bingung akan mengatakan apa.

"Sakura-chan, kau datang,"

"Em, ada apa?" tanya Sakura

"Kau pasti ingat dengan janjiku dulu. Saat itu sambil menangis kau memintaku untuk membawa Sasuke pulang kembali ke Konoha,"

"Ya," raut wajah Sakura tiba-tiba lesu seketika.

"Aku akui saat itu aku merasa cemburu, karena kau begitu memperhatikan Sasuke, kau begitu menginginkan Sasuke. Tapi karena Sasuke juga temanku, aku berjanji, tidak hanya kepadamu, tapi juga kepada diriku sendiri, kepada Sasuke, dan kepada semua warga Konoha bahwa aku akan membawa Sasuke kembali ke Konoha,"

Sakura ingat betul saat-saat itu, saat dimana ia meminta tolong kepada Naruto untuk membawa Sasuke pulang. Memang, Sakura sempat melihat wajah Naruto saat itu. Naruto terlihat aneh, tapi dengan cepat Naruto segera mengucapkan janjinya itu, di depan Sakura, di depan senseinya, juga di depan teman-temannya pada saat akan berangkat menjalankan misi.

"Sakura, maafkan aku yang saat itu kembali dengan ketidakberhasilan membawa Sasuke kembali. Tapi aku selalu berlatih dengan semangat untuk menjadi lebih kuat agar aku bisa memenuhi janji itu. Dan sekarang aku sudah berhasil, Sakura. Aku…aku berhasil membawa Sasuke pulang. Dan itu berarti aku telah memenuhi janjiku padamu, Sakura-chan,"

"Arigatou, Naruto,"

"Dengan memenuhi janji itu, kau tidak akan sedih lagi, Sakura-chan, karena Sasuke telah kembali. Aku tak ingin melihatmu bersedih lagi, karena aku sangat menyayangimu," kini Naruto berbalik arah, menghadap Sakura.

Sementara itu, 'para penonton' masih setia menyimak obrolan mereka. Mereka pun turut harap-harap cemas. Neji menengok kea rah kirinya, melihat reaksi Hinata. Sampai sejauh ini Hinata kelihatan biasa saja, malah ia tersenyum, tapi Neji rasa senyum itu hanya dibuat-buat untuk menutupi perasaannya.

Sakura sendiri masih membisu, kepalanya tertunduk. Ia benar-benar kehabisan kata-kata, ia tak tahu harus menjawab apa.

"Mungkin ini sudah kesekian kalinya kuucapkan. Aku… mencintaimu, Sakura-chan. Dan aku ingin jawaban yang sejujurnya darimu,"

"Naruto… Selama ini aku hanya menganggapmu teman. Tapi sejak dulu, sejak masuk di akademi hingga sekarang, kenyataannya hanya kau yang selalu berada disampingku. Dan semakin lama, aku jadi semakin cemas denganmu saat kau pergi melawan musuh yang kuat. Di saat-saat itulah, aku merasa sangat khawatir, karena aku..aku tak ingin kehilanganmu, Naruto. Aku selalu marah atas kebodohanmu yang sering tak menghiraukan keselamatanmu sendiri, karena aku tak ingin kehilanganmu.. Hiks..," air mata Sakura pun meleleh, menuruni pipinya yang putih. Tiba-tiba saja Sakura memeluk Naruto.

"Naruto… Arigatou," Naruto membalas pelukan Sakura.

"Arigaou, untuk membawa Sasuke kembali, dan untuk semua yang kau lakukan selama ini. Aku minta maaf juga atas semua yang telah kulakukan," kata Sakura di tengah isak tangisnya.

Hinata yang dengan seksama menyimak kata-kata Sakura merasa hatinya semakin tidak enak. Tanpa sadar ia meminjam tangan seseorang di samping kirinya untuk digandengnya kuat-kuat, agar ia bisa menahan diri untuk tidak menangis.

"Aku tak ingin kau pergi, Naruto.." lanjut Sakura setelah melepas pelukannya, ia mengusap air matanya.

"Tidak, Sakura-chan, aku tidak akan pergi. Aku akan selalu disampingmu untuk melindungmu, juga membuatmu bahagia. Dan itu berarti… kau…,"

"Ya," jawab Sakura sambil tersenyum seakan ia tahu apa yang ada di pikiran Naruto.

"Hwahaha, yay, horeee Sakura-chan menerimaku," Naruto berjingkrak-jingkrak kegirangan,kini jiwanya yang asli telah kembali. Sakura dan 'para penonton' pun langsung sweatdrop melihatnya, hingga Sakura mengarahkan kepalan tangannya ke kepala Naruto yang sukses membentuk sebuah benjolan yang cukup besar. "Sakura-chan… kau jahat sekali," Sakura hanya tersenyum kecil melihat kelakuan remaja yang kini resmi menjadi kekasihnya itu.

Dan 'para penonton' terlihat lega mendengar pernyataan Sakura, kecuali Hinata. Hinata mulai bercucuran air mata, ia terus menggenggam tangan seseorang di samping kanannya, erat dan lebih erat lagi begitu mendengar jawaban Sakura. "Tak kusangka Neji bisa lengah," kata Sai. "Apa maksudmu?" tanya Neji yang memang tidak paham dengan maksud Sai. "Lihatlah Hinata-chan," jawab Sai singkat. Neji pun langsung menoleh ke kiri, dilihatnya Hinata tengah menggenggam tangan seseorang. Yang membuat Neji benar-benar merasa kecurian adalah bahwa tangan yang digenggam Hinata adalah tangan Sasuke. Uchiha Sasuke? Hei, sejak kapan Sasuke ada di situ? Semua benar-benar larut dalam percakapan Naruto-Sakura hingga mereka tidak menyadari kehadiran pemuda Uchiha itu. Parahnya lagi, saat Neji menengok ke arah Hinata, Sasuke menyeringai penuh kemenangan kepada Neji. 'Apa maksud anak ini?' kata Neji dalam hati. Dengan cepat, Neji menarik Hinata dan melepaskan genggaman Hinata dari tangan Sasuke. "Ne-neji-nii, mmaaf," kata Hinata di sela tangisannya. "Tak apa," jawab Neji yang langsung menggenggan tangan kanan Hinata.

"Sakura-chan, terima kasih," kata Naruto sambil memegang kedua tangan Sakura. Kemudian Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Melihat hal itu, muncul semburat merah di pipi Sakura, namun seakan mengerti, Sakura pun menutup kedua matanya.

"Hinata-sama," Neji melihat Hinata yang semakin merasa sakit. Neji tahu ini tidak baik untuk Hinata. Maka Neji segera menarik Hinata ke dalam pelukannya agar ia tidak menyaksikan Naruto yang tengah mencium Sakura. "Lebih baik kita pergi sekarang," ajak Neji. Hinata hanya mengangguk dalam pelukan Neji. Akhirnya Neji membawa Hinata pergi dari tempat itu.

"Naruto …" kata Sakura setelah mereka berdua saling melepaskan diri. Naruto tersenyum. Tiba-tiba dari langit bunga-bunga bertebaran, menghujani mereka berdua. "Indah sekali.." kata Sakura. 'Pasti Shino yang melakukannya, terima kasih,' kata Naruto dalam Hati.

Sai mendekati Sasuke, "Ada hubungan apa kau dengan Hinata-chan?". "Hn, kau tidak perlu tahu," jawab Sasuke yang langsung pergi dari tempat itu. "Hmm, sepertinya akan ada yang menarik," kata Sai seorang diri sambil tersenyum palsu.

Tiba-tiba mereka semua, baik Naruto dan Sakura maupun 'para penonton' tadi (minus Hinata dan Neji), dikejutnya dengan suara sesuatu yang jatuh ditambah dengan teriakan seseorang. "Hei, Shikamaru! Pergi kau dari kakiku.." teriak Ino begitu melihat Shikamaru jatuh dari pohon karena tertidur dan sekarang kepalanya berada di atas kaki Ino. Gara-gara Shikamaru dan Ino, semuanya berkumpul di lokasi persembunyiannya. Dan… jeng jeng jeng… Ketahuan deh. -

"J-jadi, kalian melihat semuanya?" tanya Sakura kepada semua yang ada di situ. "Yah, tentu saja, selamat ya, Sakura," jawab Tenten sambil tersenyum manis. Wajah Sakura langsung merah, merah karena malu, juga karena marah, ia menoleh ke arah Naruto dengan tatapan mematikan. Mereka yang merasakan aura tidak enak langsung menjauh dari Naruto dan Sakura, tak terkecuali Ino serta Shikamaru yang baru bangun. "Naruto, kau tahu kalau dari tadi mereka ada di sini?" Sakura mencoba menahan diri. "Err.. emm, yah, begitulah," jawab Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya kesabaran Sakura sudah habis, ia benar-benar malu. "Narutoooo! Awas kau!" teriak Sakura seraya mengejar Naruto yang mulai berlari. "Maaf, Sakura-chan.. Shino.. terima kasih untuk bunga-bunganya tadi. Haha," teriak Naruto yang terus berlari menjauh. 'Berterimakasihlah pada Hinata-chan, bunga-bunga tadi adalah idenya,' kata Shino dalam hati. "Ya ampun, benar-benar merepotkan. Hoahm.." kata Shikamaru dengan wajah ngantuknya.

_TBC_

Yeah, akhirnya bisa nulis sampe sini. Oke, mungkin di chap depan, Sai akan tampil lebih banyak, tapi tentu saja tidak sebanyak Sasuke dan Hinata. Doakan saja, semoga Fifi bisa cepet nglanjutin cerita ini. Hehe

Emmm, pasti SasuHina lovers agak kecewa ya dengan chap ini, karena memang chap ini lebih fokus ke Naruto dan Sakura. Tapi insyaAlloh ini akan menjadi awal hubungan SasuHina.. Hehe, doakan saja. :D

Arigatou minna-san, yang udah mau membaca fic Fifi. Tapi jangan lupa untuk review ya.. ^^

Yosh, layangkan kritik dan saran anda ke…. link biru (REVIEW) di bawah ini.. Ok ok..!

Fifi tunggu loh.. Hehe

Arigatou Gozaimasu!

Jaa….! \^o^ *melambaikan tangan*