==PART SEBELUMNYA==

"Anak muda kau akan menyesal. Rasa penyesalanmu ada karena rasa gengsimu, keangkuhanmu dan hatimu yang tak mau menerima sesuatu yang baru. Kau berusaha mejaga sesuatu yang lama. Kelak kau akan menangis, menangis sehingga kau ingin mati karena kehilangan sesuatu itu," ucap Nenek. Sasuke ketakutan setengah mati. Setelah mengatakan hal yang aneh, nenek itupun menjauh pergi. Sasuke mencerna semua perkataan yang baru saja dia dengar.

"Hei, nenek sesuatu a…?" Sasuke berhenti berucap.

Nenek itu sudah tak ada di jalan lagi. Ini begitu aneh, terlalu aneh jika seorang nenek tua secepat itu berjalan dan menghilang. Sasuke tak mau ambil pusing, mungkin itu hanya perkataan nenek tua yang ngelantur. Sasuke merasakan ponselnya bergetar. Dia kemudian mengambil ponsel itu dari sakunya.

"Moshi-moshi—Iya sekertaris Akimoto—Apa? ayah jatuh pingsan?"

PLEASE LOOK AT ME / CHAP 10

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T

WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

.

.

Sakura berjalan girang kearah Sasuke dengan membawa dua minuman kaleng. Senyum Sakura memudar karena tahu wajah suaminya menjadi murung kembali. 'Ada masalah apa lagi ini? kenapa wajah Sasuke kembali sedih? apa ini karena Shion lagi?,' batin Sakura. Dia terus memperhatikan Sasuke yang sibuk menerima telfon.

"Di Tokyo hospital—iya Sekertatis Akimoto aku akan kesana—iya." Sasuke menutup ponsel lalu memandang Sakura sejenak.

"Ada apa? siapa yang dirumah sakit? apa dia Shion?," tanya Sakura polos.

"Bukan, ayah dirawat dirumah sakit."

"Apa? bagaimana mungkin ayah bisa sakit. Selama ini, beliau terlihat baik-baik saja."

"Entahlah, lebih baik kita cepat kerumah sakit," perintah Sasuke. Sakurapun mengangguk dan mengikuti kemana Sasuke pergi.

ooOOoo

Sesampainya dirumah sakit, Sakura beserta Sasuke berlari secepat mungkin menuju kamar ayahnya. Sasuke begitu cepat sehingga Sakura tak bisa menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah kaki Sasuke. Di depan kamar dimana ayah Sasuke dirawat, ada dua bodyguard berdiri dikedua sisi pintu. Pemandangan ini tak aneh lagi bagi Sakura mengingat ayah Sasuke adalah seorang pengusaha terkaya di negara ini. Sasuke segera memasuki ruangan yang diikuti oleh Sakura. Di dalam ruangan, sudah ada ibu Sasuke yang tak hentinya menangis beserta sekertaris Akimoto yang juga tampak sedih.

"Ibu, Kenapa ayah bisa seperti ini?," tanya Sasuke sambil mengenggam erat tangan ayahnya.

"Ayahmu terserang penyakit jantung koroner. Sebenarnya ayahmu ini sudah merasakan sakit pada jantungnya sejak lama, namun karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia tidak menghiraukan hal itu. Ibu benar-benar khawatir. Dokter menganjurkan, setelah sembuh nanti ayahmu harus istirahat selama beberapa bulan kedepan."

"Ibu, kau terlihat pucat dan sangat lelah. Lebih baik Ibu pulang biar aku dan Sasuke yang menjaga ayah," ucap Sakura pada ibu mertuanya.

"Tidak, aku masih ingin menemani suamiku."

"Ibu, jangan seperti ini. Nanti anda bisa sakit. Ayah akan sedih kalau melihat Ibu seperti ini. Aku dan Sasuke akan semakin sedih kalau Ibu juga jatuh sakit. Pulang dan istirahatlah." Bujuk Sakura dan sepertinya rayuan Sakura meluluhkan kekeras kepalaan ibu Sasuke.

"Baiklah, aku akan pulang. Sakura, aku sangat senang punya menantu sepertimu yang begitu baik dan mengerti sekali dengan keadaan keluarga kami. Aku juga sangat berterima kasih kau sudah membujuk ayah Sasuke untuk mengembalikan warisan kepada putranya sendiri."
"Ibu jangan mengatakan hal itu lagi. Memang itu harus aku lakukan karena itu bukan hakku. Ibu cepatlah istirahat, ayah kan baik-baik saja bersama aku dan Sasuke."

"Iya, aku akan pulang. Sekali lagi terima kasih Sakura." Ibu Sasuke berjalan keluar, beliau dikawal oleh salah satu bodyguardnya.

Sasuke tak mengatakan apapun. Dia terdiam sambil terus memandangi ayahnya. Walaupun hubungan antara dia dan ayahnya tidak begitu baik, namun Sasuke masih sangat menyayangi ayahnya. Sakura melihat Sasuke penuh dengan rasa prihatin. Hatinya perih melihat Sasuke yang seperti ini. Sakura berpikir kalau beberapa bulan terakhir merupakan bulan terberat dalam menjalani hidupnya. Pernikahan mendadak Sasuke dengannya, Shion yang mempunyai kekasih lain dan meninggalkannya, sekarang ayahnya tiba-tiba jatuh sakit. Kehidupan ini benar-benar terasa sangat memuakan dan melelahkan baginya.

"Sasuke-kun, lebih baik kau pulanglah. Aku tahu kau merasa sangat lelah. Biar aku yang menjaga ayah."

"Tidak. Aku juga ingin menjaga ayah."

"Apa kau merasa haus? aku akan membelikan minuman untukmu," ujar Sakura. Sasuke menggeleng pelan. Sakura hanya bisa menghela nafas panjang.

Selang beberapa menit dokter bersama seorang susternya datang. Sakura tertegun seketika melihat Naruto ada didepan matanya. Sekilas Naruto melihat kearah Sakura dan tersenyum manis padanya. Sakura membalas senyuman itu sedangkan Naruto sibuk mendengarkan detak jantung ayah Sasuke dengan stetoskop. Sasuke terdiam melihat Naruto. Pandangan Sasuke terhadap dokter muda ini, terkesan sangat tidak bersahabat dan sama sekali tidak senang.

"Sejauh ini apa beliau sudah siuman?," tanya Naruto santai.

"Belum sama sekali dokter," jawab sekertaris Akimoto. Naruto memerintahkan susternya untuk meletakkan obat-obatan untuk ayah Sasuke.

"Baiklah, kalau beliau sudah siuman tolong hubungi aku," ujar Naruto sambil melepaskan stetoskop dari kupingnya.

"Kenapa kau ada disini?," tanya Sasuke tiba-tiba.

"Tentu saja karena ini adalah rumah sakit maka aku bekerja disini dan mulai sekarang aku yang menjadi dokter pribadi ayahmu. Ahh, dunia ini sempit sekali. Aku juga tidak menyangka kenapa ketua dokter mengutusku seperti itu." Naruto menjawab pertanyaan Sasuke santai. Matanya sekarang menatap Sakura senang. "Sakura, semakin hari kau terlihat semakin cantik. Apa aku bisa berbicara sebentar denganmu?".

" Kau terlalu berlebihan memujiku. Tentu saja bisa," ucap Sakura girang. Baru selangkah Sakura melangkahkan kakinya. Sasuke spontan memanggilnya.

"Hei, Sakura!," ujarnya dengan nada meninggi.

"Iya, ada apa?," tanya Sakura santai. Sasuke bingung sendiri apa yang harus ia katakan.

"Ti-tidak. Pergilah."

"Baik, aku pergi." Sakura tersenyum manis padanya namun Sasuke berekspersi datar. Baru setelah Sakura dan Naruto pergi. Sasuke berulah dan mengumpaat pelan. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Sekertaris Akimoto terkikik pelan melihat tingkah Sasuke.

ooOOoo

Sakura dan Naruto duduk santai di taman rumah sakit. Lengkap dengan seragam dokternya, Naruto membawakan minuman kaleng dan memberikannya pada Sakura. Wajah Naruto terlihat sangat bersinar dan bahagia karena bisa bertemu dengan gadis pujaanya. Sudah lama dia tak melihat Sakura karena sibuk dengan pekerjaanya. Sakura menyeruput teh dingin dalam kaleng begitupula dengan Naruto. Naruto melihat Sakura sepenuh hati, dia merasa kalau Sakura terlihat gemuk dari sebelumnya. Tentu saja dia tahu kalau ini dipengaruhi oleh kehamilannya.

"Sakura, kau terlihat gemuk sekali," tanya Naruto.

"Iya, aku juga merasa seperti itu. Berat badanku naik lima kilogram," ujarnya sambil mengembungkan kedua pipinya. Naruto semakin gemas karena tingkah kawai dari Sakura.

"Bagaimana dengan kandunganmu? apa sejauh ini ada masalah?."

"Hn, sejauh ini baik-baik saja. Tapi kenapa aku belum merasakan dia menendang-nendang perutku?," ucap Sakura polos sambil memegangi perutnya.

"Ahahaha, tentu saja belum, karena usia kehamilanmu baru menginjak tiga bulan. Kau akan merasakan hal itu kalau kehamilanmu sudah menginjak tujuh bulan."

"Ahh benarkah?," tanyanya sekali lagi. Naruto mengangguk dan tersenyum.

"Apa kau baik-baik saja? apa pria itu membuatmu menangis lagi?"

"Tidak, tapi aku yang membuatnya menangis. Hidupnya berantakan karena aku. Aku juga telah menghancurkan cintanya. Ingin sekali aku secepatnya bercerai dan membiarkan hidupnya bahagia seperti dulu." Sakura sekarang memandang langit hitam penuh bintang.

"Kenapa kau tidak segera bercerai saja?."

"Aku sudah mengatakan hal itu padanya. Entah mengapa dia menolak pengajuan cerai dariku. Aku jadi serba salah."

Naruto berpikir sejenak, tak lama kemudian dia tersenyum hambar. Ada sebuah alasa kenapa Naruto tersenyum karena dia melihat Sasuke sedang mengawasi mereka dibalik korden ruangan ayahnya dirawat. Kebetulan tempat Sakura dan Naruto bersantai terletak tepat dibelakang kamar Ayah Sasuke. Datanglah ide Jahil datang dari Naruto. Sakura tak sengaja melihat Naruto tertawa kecil dan ini mengundang pertanyaan di otaknya.

"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?"

"Mungkin dia sudah mulai mencintaimu." ujar Naruto Tegas. Tak disangka Naruto merangkul Sakura, kemudian mencium keningnya. Sakura mematung dan terdiam karena tingkah Naruto, hal ini juga membuat Sakura sedikit salah tingkah.

"Hei, Naruto, kenapa kau lakukan ini? ayo lepaskan!"

"Tidak mau, bukankah kita dulu sering melakukan hal seperti ini."

Sakura tak bisa berkutik, benar apa kata Naruto, kalau dulu mereka berdua sering melakukan hal ini. Jadi kenapa Naruto harus melepaskan rangkulannya.

ooOOoo

Disisi Lain, Sasuke berdiri sambil sesekali dia membuka sedikt korden kamar ayahnya. Bibir Sasuke manyun karena melihat Sakura dan Naruto bermesraan di tempat yang sepi seperti itu. Sasuke kembali menutup kordennya, lalu membukanya, menutup, membukanya lagi. Entah kenapa dia merasa gelisah. Ingin sekali Sasuke memukul Naruto saat ini juga, terlebih dia juga melihat Naruto mencium kening istrinya. Sasuke tidak sadar kenapa dia gelisah seperti ini, mungkin karena Sakura itu istrinya makanya dia sebagai suami khawatir. Sasuke meyakinkan hatinya kalau ini hanya karena status bukan karena dia mulai menyukai Sakura. Ya benar ini hanya karena status,' batin Sasuke. Sasuke mondar-mandir tidak jelas. Dia tak sadar kalau sekertaris Akimoto sedari tadi melihat tingkahnya.

"Kenapa harus bingung tuan muda? kalau anda merasa gelisah dan khawatir atau mungkin cemburu, hampirilah istri anda. Tarik tangannya dan bilang kalau anda tidak suka melihat dia berduaan dengan pria lain," ucap sekertaris Akimoto santai sambil melihat berkas-berkas kantor garapan dari bawahannya.

"Cemburu? siapa yang cemburu? aku?." Sasuke menunjuk batang hidungnya. Sekertaris Akimoto mengangguk tanpa melihat kearah Sasuke. "Siapa yang cemburu? Aku gelisah bukan karena dia berduaan dengan pria lain. Aku gelisah karena Ayah belum siuman," ujar Sasuke dengan nada meninggi.

"Kalau karena pak presedir? kenapa anda bolak-balik membuka dan menutup korden. Terkadang anda mengumpat pelan melihat istri anda dengan pria itu?" 'Skak mate,' batin Sekertris Akimoto puas.

"Itu-itu karena … assh sudahlah aku haus. Aku mau beli minum." Sasuke berjalan menjauh dari sekertaris Akimoto. Sepeninggal Sasuke, sekertaris Akimoto tertawa terbahak-bahak.

"Ahahaha dasar anak muda."

Sasuke melangkahkan kakinya tanpa ragu menuju taman rumah sakit. Bukankah tadi dia mengatakan kepada sekertaris Akimoto untuk membeli minuman. Tapi kakinya sangat gatal jika tidak berjalan menuju taman. Dengan gaya sok keren, Sasuke bersiul, serta kedua tangannya berada didalam saku celana. Selang beberapa langkah dari tempat Sakura dan Naruto berada, Sasuke merentangkan kedua tangannya.

"Hah, udara dimalam hari sangatlah segar. Langit malam begitu indah," katanya dengan sedikit berteriak. Matanya melirik Sakura dan Naruto. Dia berpura-pura tidak tahu kalau ada dua orang disampingnya. Dalam hati Sasuke berkata, 'Aku yakin Sakura sebentar lagi akan memanggilku, satu…dua..Tiga...'

"Sasuke, sedang apa kau disini?," tanyanya. Sasuke tersenyum bahagia karena tebakannya benar.

"Ahh, ternyata kau Sakura. Aku disini untuk melihat bulan dan menghirup udara segar dimalam hari."

"Melihat bulan? tapi tidak bulan malam ini?," tanya Sakura polos. Sasuke memaki dalam hati karena dirinya begitu bodoh.

"Ohh, maksudku bintang bukan bulan hehehe." Sasuke merasa dirinya benar-benar bodoh.

"Baik, aku akan kembali bekerja. Sakura jaga dirimu baik-baik."

"Iya hati-hati Naruto-kun." Naruto berjalan menjauh dari Sakura dan semakin dekat dengan Sasuke. Naruto berhenti sejenak disamping Sasuke. Dia mendekatkan wajahnya dikuping Sasuke.

"Aku tahu kau dari tadi mengawasi kami," bisiknya pelan. Sasuke terbelalak mendengar ucapan Naruto namun, Naruto tersenyum tipis dan sedikit sinis lalu pergi.

"Sasuke, apa kau tidak kembali kedalam? Disini sangat dingin," Ajak Sakura.

"Hm masuklah dulu, aku harus membeli beberapa minuman," ujar Sasuke sedikit linglung.

"Baiklah, aku pergi dulu." Sepeninggal Sakura, Sasuke menepuk-nepuk keningnya karena malu.

"Kenapa Naruto bisa tahu? Asshh, ini benar-benar memalukan," gumamnya lirih lalu ia berjalan menuju toko terdekat untuk membeli minuman.

ooOOoo

Keesokan harinya menjelang petang, disebuah apartemen yang mewah terdapat dua orang yang berpenampilan menarik. Satu lagi sangat tampan dan satu lagi sangatlah cantik. Pria itu melihat keluar, banyak sekali wartawan yang mengepung apartemennya. Pria itu begitu panik dan bingung sedangkan si wanita itu begitu santai dengan sesekali meneguk tehnya.

"Hah, bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan Shion?," tanyanya panic.

"Kenapa nii-san harus panic? lebih baik nii-san diam saja jangan memberi komentar apapun. Aku pikir itu lebih aman. Kalau nii-san mengatakan tidak, para wartawan akan lebih mencari berita karena mereka tak percaya," ujar Shion.

"Ahhh, benar Shion, kau benar-benar gadis pintar," puji Sasori pada seorang gadis yang dicintainya. Dia beringsut duduk didepan Shion. Kecantikan Shionlah yang membuat actor tampan seperti dirinya jatuh hati dan takluk padanya. "Shion, karena semua publik tahu hubungan kita dan banyak yang mengira kau kekasihku. Bukankah sebaiknya kau benar-benar menjadi kekasihku?"

Shion menanggapi perkataan Sasori dengan santai. Dia sama sekali tak terkejut dengan pengakuan ptia yang ada didepannya, karena ini sudah kelima kalinya Sasori mengungkapkan isi hatinya.

"Sudah aku bilang padamu nii-san, kalau aku tak bisa menerimamu".

"Kenapa? apa karena pria itu? pria yang bernama Sasuke. Apa dia lebih tampan dariku?," tanya Sasori frustasi.

"Bukan begitu, sampai sekarang aku masih mencintainya."

"Walaupun dia sudah beristri dan menghamili gadis lain? apa dia sekarang peduli padamu?." Sasori mengatakan hal itu dengan penuh emosi.

"Sudahlah nii-san. Kau membuat moodku buruk".

Shion terdiam sedangkan Sasori uring-uringan. Tangan Sasori tak henti-hentinya merubah channel TV karena semua berita berisi tentang hubungannya dan Shion. Ini membuat pikirannya semakin buruk. Tak ada yang membuatnya merasa lebih baik apalagi penolakan Shion yang kelima kalinya.

"Nii-san, tunggu sebentar. Tolong ganti channel sebelumnya," perintah Shion.

Di beritakan bahwa pemilik perusahaan terkaya di Jepang mendadak jatuh sakit. Pihak dari beliau yang diwakilkan oleh putranya mengatakan bahwa ayahnya terserang penyakit jantung koroner. Berikut ini adalah keterangan Uchiha Sasuke putra dari Uchiha Fugaku.

"Dokter mengatakan kalau ayah memiliki penyakit jantung koroner. Jadi untuk sementara ini, ayah tidak bisa sepenuhnya mengawasi perusahaan."

"Apakah anda yang akan menggantikan beliau menjalankan perusahaan?"

"Untuk itu saya tidak tahu, dan tolong jangan bertanya tentang hal itu. Aku hanya ingin kalian mendoakan ayah saya agar cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti dulu. Terima kasih".

Shion melihat Sasuke meninggalkan para wartawaan, dia juga melihat jelas kalau Sasuke berjalan bersama dengan Sakura menuju ke dalam rumah sakit. Ini membuat hatinya semakin sedih dan ingin sekali dirinya bertemu dengan Sasuke. Dimata Shion, Sasuke sama sekali tak pernah berubah, dia masih saja tampan seperti pertama kali dia bertemu.

"Aku masih mencintaimu Sasuke-kun," ucapnya dalam hati.

ooOOoo

Sasuke dan Sakura sudah berada di dalam kamar ayahnya. Tak banyak orang yang menjenguk hanya ada seketaris Akimoto, ibu Sasuke dan ibu Sakura. Ayah Sasuke tersenyum pada putranya, beliau sudah siuman dari kemarin malam. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah ayahnya.

"Kau melakukannya dengan baik saat ditanya oleh wartawan. Kau benar-benar hebat."

"Aku tidak melakukan apapun ayah, aku hanya sekedar menjawab pertanyaan wartawan." Uchiha fugaku akhirnya siuman setelah tertidur lumayan lama.

"Ayah, sangat mempercayaimu. Aku yakin kau mampu menjadi generasi penerusku. Sudah ayah putuskan, selama aku tak bisa mengawasi perusahaan, kaulah yang akan memimpin perusahaan ayah."

"Ap-apa?," tanya Sasuke tak percaya. "Ayah menyuruhku untuk memimpin perusahaan?"

"Suamiku kau…?" Ibu Sasuke tampak bahagia karena akhirnya suaminya mulai percaya dengan kemampuan Sasuke untuk menjalankan perusahaan.

"Jadi, tolong jangan kecewakan ayahmu ini. Berusahalah dengan keras dan untukmu Sakura, kau bisa menjadi sekertaris khusus untuk putraku."

"Apa? A-aku? ayah aku tidak bisa apa-apa. Aku.."

" Aku memilihmu bukan karena kau menantuku, tapi karena aku tahu kau siswa cerdas dan cekatan. Jangan khawatir kau akan dibimbing oleh sekertaris Akimoto. Aku juga yakin kau pasti bisa mebimbing Sasuke. Sekertaris Akimoto, bacakan apa jadwal hari ini," perintah ayah Sasuke enteng sedangkan Sasuke dan Sakura bingung mereka tak bisa mengatakan apapun.

"Hal yang harus tuan muda dan nona Sakura lakukan kali ini adalah menghadiri acara ulang tahun perusahaan yang sudah bekerja sama dengan perusahaan anda selama bertahun-tahun yaitu perusahaan Taka Group pukul tujuh malam."

"Baik terima kasih sekertaris Akimoto. Tak ada banyak waktu lagi ayo kalian siap-siap."
Tanpa mendapat persertujuan dari mereka berdua terlebih dahulu, dua bodyguard tiba-tiba menggandeng paksa Sakura dan Sasuke. Untuk kesekian kalinya mereka tak bisa mengatakan sepatah katapun. Mereka hanya bisa mengikuti alur yang sudah ada.

ooOOoo

Ditempat yang terpisah Sasuke di dandani oleh pengawal yang semua serba pria sedangkan Sakura di dandani oleh pengawal wanita. Dia sudah berada disebuah salon kecantikan ternama di Jepang . Rambut pendek Sakura disisir dan disanggul ke atas dengan balutan gaun hitam yang agak besar karena Sakura hamil jadi gaun-gaun besar yang dipilih. Dengan cekatan penata rias professional itu melukis wajah Sakura. Perlahan dia membuka mata. Tepat di depannya terdapat sosok gadis yang sangat cantik. Dia tidak percaya kalau itu adalah dirinya. Sakura meraba wajahnya sejenak dan benar itu adalah dirinya, Haruno Sakura yang tak pernah memperhatikan penampilan. Penata rias itu mempersilahkan Sakura untuk keluar. Di sana dia sudah ditunggu oleh para pengawal beserta Sasuke yang sudah selesai berdandan duluan. Peñata rias itu sengaja tak mengenakan Sakura high heels karena dia sedang hamil. Perlahan dan dengan langkah ragu, Sakura berjalan kearah kerumunan yang sudah menunggunya. Mata Sasuke terpana melihat perubahan Sakura, kecantikaannya malam ini sungguh luar biasa. Tak hanya Sasuke yang terpesona namun pengawal-pengawal Sasuke juga demikian, mereka semua tak berkedip memandang Sakura. Sasuke sadar dan dia berbalik melihat bawahannya seolah dia berkata, ' jangan lihat istriku seperti itu, yang boleh melihat dia secantik ini hanya aku.'

"Sial, malam ini dia begitu cantik ,"batin Sasuke.

==TBC==

TERIMA KASIH BUAT TEMAN SEMUA YANG REVIEW, FAV, FOLLOW FF INI. MAAF TIDAK BISA MEMBALAS SATU-SATU REVIEW KALIAN