Akhirnya…. Fifi bangkit kembali huahahahaha *plak*
Oke, setelah sekian lama berhibernasi, Fifi bisa melanjutkan fic abal ini.. Huuraay.. XD
Chap kali ini mungkin agak datar dan kurang menarik, tapi ini adalah awal dari 'kebersamaan' SasuHina.
Thanks a lot untuk semuanya yang udah sudi mereview fic ini.
Thanks to UQ, AiforRish, Rozu Aiiru, akira, Shyoul lavaen, keiKo-buu89, Alya, n, Raira Teruhika, mery chan, , yuui-chan, hina-chan, hyyu chan, Chikuma new, Syana Uchiha, Ivory vega, shaniechan, NatsumiHyuuga, RikurohiYuki03, uchihyuu nagisa, Uchiateme, uchiha za chan, harunaru chan muach, Nerazzuri, fleeurr, Syana Uchiha, dan mEwluvLy-hiNano.
Yosh! Selamat membaca.. ^^
Help Me
A Naruto Fanfiction by FV
Naruto © Masashi Kishimoto
Semua terasa begitu sulit. Sulit mengubah persepsi masyarakat terhadap dirinya. Sulit untuk melupakan masa lalunya yang begitu buruk. Sulit pula untuk menerima kenyataan ini. Memang semua butuh waktu. Tapi seorang Uchiha Sasuke tak pernah nyaman dengan kata 'menunggu'. Sampai kapan? Tak ada kepastian untuknya. Dan dia tak suka dengan segala hal yang tak pasti.
Masih teringat jelas reaksi orang-orang saat berpapasan dengannya. Tak seperti dulu lagi. Sebagian besar merasa takut, juga meragukan perubahan yang Sasuke alami. Ya.. Sasuke memilih untuk kembali ke Konoha. Memang tak boleh sesorang berubah menjadi baik? Salahkah dia? Salahkah keputusannya itu?
Rekan-rekan ninja seangkatan dan juga para sensei-nya dengan senang hati menerima kehadiran Sasuke. Walaupun harus ada syarat yang harus ia penuhi, setidaknya tidak sulit untuk membangun kembali hubungan yang harmonis antara mereka. Berbeda dengan masyarakat. Reaksi mereka bermacam-macam. Ada yang mau menerimanya kembali, ada yang masih takut dengannya, dan tak sedikit pula yang meragukannya. Tak kenal. Itulah alasan mengapa penduduk Konoha bersikap seperti itu. Karena mereka tidak mengenal pribadi Sasuke. Mereka tak tahu kisah di balik kehidupan Sasuke yang dingin itu.
Biarlah.. Biarlah semua mengalir apa adanya. Sasuke tak akan memaksa mereka untuk mengakui keberadaannya kembali di Konoha. Terserah mereka mau berbuat dan berpikiran seperti apa. Yang jelas, Sasuke sudah mencoba untuk kembali menjadi rakyat Konoha yang baik.
Kesepian..
Sasuke sudah biasa dengan kata itu. Memang batinnya merasa kesepian, bertahun-tahun hidup tanpa seorang pun keluarga di sampingnya.
Menyedihkan..
Memang. Sasuke tak pernah menyangka bahwa banyak sekali hal-hal yang tidak ia ketahui. Kenyataan tentang latar belakang pembantaian klan Uchiha, kenyataan bahwa Itachi tak pernah sekali pun membencinya. Ia baru menyadari saat semua sudah terlambat.
Harapan..
Ia tak begitu percaya dengan harapan. Masihkan ia bisa berharap. Berharap akan kebangkitan klannya kembali. Tapi ia tak yakin bisa terus berharap demikian, karena hukuman yang akan dijatuhkan padanya belum resmi ditentukan. Tak menutup kemungkinan ia akan dihukum mati. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka Uchiha hanya akan tinggal sejarah. Sejarah yang buruk, bahwa Uchiha hancur dengan image yang buruk. Atau bahkan Uchiha hanya akan menjadi sampah sejarah. Uchiha perlahan akan menghilang ditelan masa.
Untuk kali ini Sasuke benar-benar ingin meminta pada Kami-sama, "Ijinkan aku membangkitkan klan Uchiha. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Itachi. Dia tidak membunuhku, karena dia ingin aku membangkitkan Uchiha kembali."
Itachi.. Mengingatnya membuat Sasuke merasa sesal yang teramat sangat. Terlintas dalam benak Sasuke bagaimana dulu ia bermain-main bersama Itachi, bagaimana dulu Sasuke sering digendong di punggung Itachi. Mengingatnya hanya membuat dada Sasuke makin sesak. Ia tak tahan. Benar-benar tak tahan dengan semua ini. "Baka, aniki!"
Setiap kali mengingatnya, Sasuke selalu tak bisa menahan air matanya. Ia benar-benar berubah menjadi begitu cengeng jika mengingat Itachi. Di rumah ini, mansion Uchiha yang begitu luas, namun sangat sepi, di sinilah Sasuke melewati hari-harinya setelah kepulangannya ke Konoha. Tapi terus-terusan berada di sini hanya akan membuatnya semakin gila.
Kreeet…
Sasuke menggeser pintu yang sudah agak susah untuk digerakkan. Ia melangkahkan kakinya keluar dari mansion tersebut. Tak tahu harus ke mana. Ia tak punya pekerjaan. Ia belum boleh diberi misi apapun.
'Hey, Itachi, menurutmu siapa yang pantas memberikan keturunan untuk Uchiha?' ucap Sasuke dalam hati sambil tersenyum miris.
-o0o-
"Nii-san, apakah mataku terlihat aneh?" tanya Hinata pada Neji. Mereka berdua sedang istirahat dari latihan rutin yang biasa mereka lakukan.
Sejenak Neji melihat keadaan Hinata, "Kurasa, anda hanya perlu beristirahat."
"Hanabi-chan, apa ada yang berbeda dengan wajahku?" Hinata bertanya pada Hanabi yang juga tengah berlatih di halaman belakang di depan Hinata dan Neji.
"Mungkin Nee-san butuh tidur," ucap Hanabi singkat yang langsung fokus kepada latihannya kembali.
Sebenarnya keadaan Hinata memang tidak seperti biasanya. Matanya terlihat sembab, ditambah dengan kantung mata yang menambah asumsi bahwa semalam Hinata menangis dan kurang tidur. Yah, karena apa lagi kalau bukan karena hubungan Naruto dan Sakura yang telah resmi sebagai sepasang kekasih. 'Lupakan Naruto-kun!' batin Hinata selalu meneriakkan kalimat itu. Ya, karena memang sudah tak ada harapan lagi baginya.
Hinata berdiri lalu melangkahkan kakinya, meninggalkan kedua saudaranya di halaman belakang.
"Tak usah memaksakan diri. Jika anda belum siap bertemu Naruto, lebih baik istirahat saja. Keadaanmu tak begitu baik," ucap Neji dengan dingin, seolah ia melarang Hinata untuk keluar rumah. Matanya masih menatap ke depan, memperhatikan Hanabi yang masih berlatih, namun ia tahu bahwa Hinata hendak pergi keluar.
Mendengar Neji angkat suara, Hinata menghentikan langkahnya. "A-aku.. sudah siap dengan situasi apapun. Tak usah mengkhawatirkanku," balas Hinata tanpa menengokkan kepala ke arah Neji. Begitu selesai bicara, Hinata langsung pergi dari tempat itu.
"Neji-nii-san, kau tidak menemani Hinata-nee?" kata Hanabi. Ia berjalan ke arah Neji, mengambil posisi di samping kanan Neji, lalu duduk sambil menyeka keringatnya dengan handuk yang sudah ia persiapkan dari tadi.
"Dia butuhwaktu untuk sendiri," ujar Neji yang langsung berdiri dan pergi begitu saja.
"Hey, kenapa semuanya jadi suka pergi seenaknya?" gerutu Hanabi seorang diri.
-o0o-
Siang ini Naruto sedang berjalan menuju kantor Hokage untuk menerima misi. Dia tak bersama rekannya –Sai- juga tidak sedang bersama kekasihnya –Sakura-. Naruto berjalan sambil bersiul-siul riang, tak ketinggalan pula cengiran khasnya saat berpapasan dengan orang-orang. Ah, entah kenapa hatinya begitu berbunga-bunga.
"Hinata-chan," sapa Naruto saat berpapasan dengannya.
Namun, Hinata tak menjawab, menengok pun tidak, ia juga tidak menghentikan langkahnya jika Naruto tidak menahan tangan kanannya.
-o0o-
Sementara Sakura masih dalam perjalanannya menuju rumah sakit Konoha. Saat sampai di perempatan jalan, tak sengaja ia melihat Naruto yang tengah memegang tangan kanan Hinata. Ia segera memundurkan langkahnya hingga tidak terlihat dari tempat Naruto dan Hinata berada. Sakura menajamkan pendengarannya, ingin tahu apa yang akan Naruto bicarakan pada Hinata. Entahlah kenapa ia memilih bersembunyi, mungkin ia rasa pembicaraan Naruto dan Hinata cukup pribadi.
"Hinata, kau kenapa? Kau marah padaku?" tanya Naruto. Ia segera melepaskan genggamannya setelah ia yakin bahwa Hinata tak akan pergi. Tapi Hinata tetap diam, tak mau berhadapan dengannya. "Hinata, jawab aku," ujar Naruto sedikit serius sambil memegang kedua bahu Hinata agar Hinata berhadapan dengannya.
Naruto sedikit terkejut saat melihat pipi Hinata basah. Ya, Hinata menangis tanpa suara. Air matanya mengalir begitu saja. "K-kau kenapa, Hinata-chan? A-apa aku menyakitimu?" Naruto bingung dengan apa yang terjadi pada Hinata.
'Hinata menangis?' gumam Sakura di sisi pagar jalan tadi. Wajahnya berubah sendu, ia tahu pasti 'ini' akan menyakiti Hinata. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya.
"K-kenapa, Naruto? Kenapa kau meperlakukanku seperti ini?" tanya Hinata dengan suaranya yang sedikit serak. Panggilannya pada Naruto sudah tak seperti dulu lagi, ia tak memanggil Naruto dengan sebutan Naruto-kun seperti biasanya.
Naruto menurunkan tangannya. Ia menundukkan kepala. Rasanya ia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. "Aku… G-gomen, Hinata-chan. Apa hubunganku dengan Sakura membuatmu terluka?"
Hinata menggeleng lemah, "Bukan itu. A-aku senang, kau berhasil mendapatkan orang yang kau suka sejak dulu."
"Lalu kenapa-"
"Kau menggantungkanku." Hinata memotong kata-kata Naruto.
Keduanya, Naruto dan Sakura yang mendengarnya sontak merasa tertohok. Benar saja, dulu Hinata sempat mengutarakan perasaannya pada Naruto saat akan bertarung melawan Pein. Tapi sampai saat ini, Naruto belum atau tidak akan menjawab perasaan Hinata tersebut. Bahkan sampai saat Naruto resmi menjadi kekasih Sakura, tetap tidak ada jawaban. Memang benar, Naruto menggantungkan Hinata. Sakura merasa sangat bersalah. Walau bagaimana pun ia juga perempuan, ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Hinata yang digantungkan oleh orang yang disukainya yang kini justru menjalin hubungan dengan temannya sendiri. Sakit. Pasti Hinata sangat sakit. 'Gomen ne, Hinata-chan,' ucap Sakura dalam hati.
"A-aku.." jujur Naruto tak tahu harus berkata apa.
"Aku butuh jawaban, Naruto. Sekarang!" Hinata mencoba untuk menahan rasa sakitnya dengan berkata sedikit keras.
"Aku memang salah. Aku minta maaf,"
"Katakan padaku bahwa kau tidak mencintaiku, Naruto. Diammu hanya menambah rasa sakitku. Aku butuh kepastian sekarang."
"Aku.. aku minta maaf, aku tidak mencintaimu," sejenak Naruto memandang lawab bicaranya. Dilihatnya Hinata tengah mencoba tersenyum.
"Arigatou, Naruto-kun!" balas Hinata sambil tersenyum seadanya. Ia pun berlalu pergi.
Kini tinggal Naruto dan Sakura yang masih berdiri terpaku di tempat masing-masing. Mereka masih sibuk dengan pikirannya. Sementara di sisi lain sesosok pemuda yang dari tadi turut menguping hanya tersenyum palsu.
.o0o.
"Kau mencari apa, Uchiha?" tanya seorang penjaga toko kepada Sasuke yang tengah melihat-lihat buah tomat di toko tersebut
"Ini," Sasuke menyerahkan tomat yang sudah ia pilih kepada penjualnya.
"Aku tak yakin kau punya cukup uang untuk membeli ini. Ku dengar kau belum mendapat misi sekali pun," penjual tersebut berkata dengan nada sinis. Hampir saja Sasuke terpancing untuk menghajar penjual yang meremehkannya itu, kalau saja ia tidak menahan dirinya.
Tanpa basa-basi Sasuke langsung pergi dari tempat itu. Hatinya sangat dongkol. Yang benar saja, seorang Uchiha Sasuke dengan mudahnya diremehkan karena tidak punya uang. Sungguh tidak keren.
"Ada apa, paman?" tanya sesosok gadis yang baru selesai memilih beberapa jenis sayuran kepada penjual tersebut.
"Oh, tadi ada Uchiha mau membeli ini, tapi ia tidak punya uang. Heeh, lucu sekali," jawabnya sambil mengangkat bungkusan yang berisi tomat.
"Ini, paman, sekalian tomat itu juga," gadis itu menyerahkan sayuran yang telah ia pilih.
"Tunggu sebentar ya, akan kubungkuskan dulu,"
.o0o.
"Uchiha-san!"
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Sasuke menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
'Gadis itu,'
"U-uchiha-san, ini tomatmu tadi," Hinata menyerahkan bungkusan yang berisi tomat kepada Sasuke.
Sasuke tak bergeming, ia menatap datar bungkusan tersebut.
"Hinata-san, ternyata kau di sini," Sai tiba-tiba saja datang. "Err, apa aku mengganggu kalian?"
"T-tidak kok, Sai -kun," jawab Hinata. "Ini milikmu, Uchiha-san. Tadi kau ingin membeli ini kan?"
"Aku tidak jadi membelinya," jawab Sasuke datar.
"Kurasa U-uchiha-san tadi ingin membelinya, tapi tidak jadi karena Uchiha-san tidak bisa membelinya,"
Sasuke mengambil bungkusan tersebut. "Aku bukan pengemis," dibuangnya bungkusan tersebut hingga tomat-tomat segar di dalamnya segera berhamburan ke tanah. Hinata cukup kaget melihatnya, sedangkan Sai hanya menatap biasa saja.
"G-gomen," Hinata membungkukkan badannya. Matanya terasa panas. Entah kenapa hatinya sakit saat Sasuke menolak kebaikannya tersebut.
"Sasuke, kau ini begitu jahat," ucap Sai.
"Tahu apa kau tentang aku,"
"Setidaknya terimalah kebaikan Hinata-san, kau lihat, kau membuat Hinata-san semakin terluka,"
Sai dan Sasuke menatap Hinata yang tengah menunduk.
"Tadi Naruto sudah menolak cintanya, sekarang kau pun menolak kebaikannya," dasar Sai sering berbicara tanpa memikirkan baik-baik. Apakah Sai tahu setelah mendengar ini Hinata jadi semakin galau? Hinata sakit, ia juga malu gara-gara ucapan Sai tadi, sebenarnya ia ingin memarahi Sai karena ia telah membicarakan hal pribadinya kepada orang lain.
'Sai-kun tahu hal itu?' ujar Hinata dalam hati.
'Naruto menolak Hinata,' pikir Sasuke.
"T-tak apa jika Sasuke-san t-tidak mau menerimanya," Hinata mencoba untuk tersenyum, "O ya, Sai-kun, t-tadi kenapa k-kau mencariku?"
"Kau dipanggil Hokage-sama, sepertinya akan ada misi untukmu," ucap Sai, tak ketinggalan dengan senyum anehnya itu.
"O-ooh, b-baiklah,"
-o0o-
"K-kumohon, Hokage-sama, beri Uchiha-san misi. Walaupun b-bukan ranking A atau B, s-saya rasa itu lebih baik daripada t-tidak mendapat misi,"
Tsunade tampak sedang berfikir, "Kenapa kau begitu menginginkan Sasuke mendapatkan misi, Hinata?"
"E-eh? Emm, s-sebagai seorang ninja, t-tidak diberi misi a-adalah hal yang m-menyedihkan, a-apalagi ninja sekuat U-uchiha-san," jawab Hinata.
"Sesuai permintaanmu kemarin bahwa kau ingin diberikan misi walaupun dengan ranking bawah maka kali ini kau kuberi misi bersama Sai dan.. Uchiha Sasuke."
Hinata memang meminta pada Hokage agar memberinya banyak misi, sekalipun misi itu adalah misi yang sangat mudah. Ia ingin disibukkan dengan banyak kegiatan agar ia bisa melupakan Naruto dan tidak memikirkannya terus.
"T-tapi, kenapa h-harus b-bersama Uchiha-san?" tanya Hinata.
"Bukankah tadi kau yang menginginkan agar Sasuke diberi misi?"
"B-baiklah, Hokage-sama."
-tbc-
Mohon kritik dan sarannya yach! ^^
Review please…
