"Sasuke-nii-san,"

Sasuke mendengar suara anak kecil yang memanggil namanya. Matanya masih terpejam, enggan untuk melihat apa yang terjadi. Ia terlalu malas untuk bangun. Ini masih terlalu pagi. Selanjutnya, ia merasa ada yang menarik-narik rambutnya.

"Rambutmu lucu, seperti pantat ayam. Hahahaha.."

Cukup. Untuk yang satu ini Sasuke benar-benar harus bangun. Ia tak rela ada orang yang mengomentari bentuk rambutnya.

Begitu Sasuke membuka matanya, ia langsung mendapati sesosok wajah anak kecil yang cukup imut dan berpipi gembul. Dengan muka innocent anak kecil tersebut masih saja bermain-main dengan rambut Sasuke.

"Apa yang kau lakukan, anak kecil?" ucap Sasuke datar. Ia segera duduk dan melepaskan genggaman anak kecil itu dari rambutnya. 'Berani-beraninya anak ini menyebut rambutku seperti pantat ayam!' batin Sasuke menahan rasa marahnya.

"Nii-san, ayo kita main," kata anak kecil itu sambil menarik-narik ujung baju Sasuke.

"Hhhh, apa kau tidak lihat, di luar masih gelap." Sasuke menunjuk ke jendela yang menampilkan pemandangan 'hitam'. Ya, ini masih terlalu pagi untuk si kecil bermain, ini baru jam 4 pagi. Apakah semua anak kecil suka bangun pagi-pagi seperti ini? Benar-benar mengganggu.

"Hiks hiks, haaaaa hwaaa…"

"Hey, jangan nangis, nanti kau menggaggu kakakmu." Sasuke mencoba menenangkan anak tersebut, namun anak itu justu menangis lebih keras.

"Hwaaa… aku mau main. Hwaaaa…"

"Arrrgh, apa yang harus kulakukan? Hei hei, diam. Suaramu itu bisa mengganggu orang lain," Sasuke makin bingung dan sebal. Ia tak tahu bagaimana caranya menghentikan tangisan anak kecil. Ia sudah mencoba menggendongnya, namun tetap tidak berhasil. Ia coba memberikan mainan, tidak ada yang berubah. Ia membungkam mulut (?) anak itu dengan tangannya, malah tangisannya semakin keras dan meronta-ronta. 'Kami-sama, kenapa aku harus mendapat misi seperti ini?' jerit Sasuke dalam hati.


Help Me

A Naruto Fanfiction by Fifi Violet

Naruto © Masashi Kishimoto


Hinata, Sai, dan Sasuke mendapat misi untuk merawat dan mengasuh tiga orang anak kecil. Orang tua anak-anak tersebut sedang pergi dan tak bisa membawa ketiga anaknya. Sebenarnya misi ini sangat tidak cocok untuk orang seperti Sasuke. Ini adalah misi pertamanya semenjak ia kembali ke Konoha. Awalnya Sasuke menolak misi ini, ia berpikir lebih baik menganggur dari pada mengerjakan misi yang aneh ini. Namun karena Hokage dan Sai memaksanya, akhirnya ia terima saja.

Saat ia tahu bahwa ia satu tim dengan Hinata, ada niat lain dalam benak Sasuke. Ia ingat kemarin Sai mengatakan bahwa Naruto menolak cinta Hinata. Ini adalah kesempatan yang bagus, selama beberapa hari ke depan mereka bertiga akan tinggal bersama untuk menjalankan misinya, ia jadi punya alasan untuk berada di dekat Hinata.

"Sanae-chan, Kaoru-chan, Ayumi-chan, ayo makan," ajak Hinata pada ketiga 'anak asuh'nya setelah selesai memasak dan menyiapkan makanan di meja makan.

Sanae dan Ayumi yang sedang bermain dengan Sai langsung berlari ke meja makan setelah mendengar seruan Hinata. Sai tersenyum aneh melihat tingkah kedua bocah perempuan itu seraya berjalan mengikuti mereka berdua. Sementara Kaoru masih enggan menuju meja makan. Ia masih asyik bermain dengan Sasuke. Entah apa yang membuat Kaoru begitu betah dengan Sasuke. Padahal ketika bermain dengan Kaoru, Sasuke hampir selalu menampakkan wajah datar di depan bocah itu.

"Hey, Kaoru, sana makan dulu," ucap Sasuke masih dengan nada datarnya seperti biasa.

Setelah disuruh Sasuke, barulah Kaoru mau melangkahkan kakinya menuju meja makan. Sasuke berdiri hendak meninggalkan ruang makan jika saja Hinata tak bertanya padanya.

"Sasuke-san mau kemana? Tidak mau makan dulu?" tanya Hinata.

"Aku mau ke belakang. Kalian makan saja dulu," jawab Sasuke yang langsung pergi dari tempat tersebut.

Hinata, Sai, dan ketiga anak tersebut pun memulai sarapan pagi. Ayumi, si bungsu tidak mau makan sendiri, ia selalu minta disuap oleh Hinata. Sanae, kakak tertua dari tiga bersaudara itu makan sendiri di samping Sai. Sebenarnya Kaoru sudah bisa makan sendiri, akan tetapi entah kenapa ia belum menyentuh sendoknya.

"Kau kenapa, Kaoru? Ayo makan," ajak Sai.

"Nggak mau. Kaoru mau disuapin sama Sasuke-nii-chan," balas Kaoru sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kaoru-chan kan bisa makan sendiri. Ngapain minta disuapin?" kata Sanae.

"Ayumi aja disuapin sama Hinata-nee-chan , masa aku nggak boleh minta disuapin juga," ujar Kaoru sebal.

"Nanti Sasuke-nii-chan ke sini. Sekarang Kaoru-chan makan sendiri dulu ya. Atau mau disuapin sama Sai-nii-chan?" bujuk Hinata.

Sai mengambil makanan Kaoru, ia mencoba membujuk Kaoru agar mau makan.

"Ayo, buka mulutmu," kata Sai. Akhirnya Kaoru pun mau membuka mulutnya dan memakan sarapannya.


Sebagai seorang wanita, tentu saja Hinata lebih cakap dalam mengurus ketiga anak tersebut dibandingkan Sai apalagi Sasuke. Ya, lumayan kan untuk latihan sebelum benar-benar menjadi seorang ibu. Sai biasanya akan menggambar hewan yang nantinya bisa ditunggangi oleh Sanae, Kaoru, dan Ayumi saat bermain di halaman rumah. Sedangkan Sasuke, ia benar-benar tak punya bakat untuk mengasuh anak. Mimik mukanya saja selalu datar, tak menarik di mata anak-anak. Namun di luar dugaan, Kaoru malah sangat menyukai Sasuke. Saat bermain dengan Kaoru terkadang Sasuke hanya akan menggendong Kaoru di punggungnya, seperti yang Itachi lakukan dulu pada dirinya, mengingatkan dirinya akan masa lalunya.

"Nii-chan, ayo kita main ke luar!" ajak Kaoru pada Sasuke.

"Pergilah, Sasuke. Turuti saja permintaan anak itu," ucap Sai yang berada di samping Sasuke.

"Hhh, baiklah. Ayo," kata Sasuke.

Kaoru pun naik ke punggung Sasuke. Mereka pergi keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Saat Kaoru minta diajak untuk berlompatan di atas rumah-rumah penduduk, dengan sedikit terpaksa Sasuke menurutinya. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah dan bersantai di halaman belakang.

"Nii-chan, aku pengen punya kakak laki-laki," ucap Kaoru ketika ia dan Sasuke beristirahat di bawah pohon.

"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke yang berbaring di atas rumput di samping kanan Kaoru.

"Pengen aja. Pasti seru punya kakak laki-laki. Nii-chan punya kakak?" Kaoru menengok ke arah Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke. Matanya memandang kosong ke arah langit biru. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Itachi. Sontak dadanya terasa begitu sesak. Pikirannya kembali kalut.

"Nii-chan, ayo main kejar-kejaran," ajak Kaoru.

Sasuke pun menuruti permintaan Kaoru. Sebenarnya yang berlari hanya Kaoru, sedangkan Sasuke cukup dengan berjalan kaki saja untuk mengejar Kaoru. Ia sengaja tidak menangkap Kaoru dengan cepat. Hingga akhirnya, ia pun menangkap Kaoru. Kaoru berteriak-teriak saat tertangkap oleh Sasuke.

"Aaa, tidak, jangan makan aku. Tidak tidak.." Kaoru berakting seakan ia tertangkap oleh monster besar yang akan memakannya hidup-hidup.

Sasuke tersenyum pada Kaoru yang memasang wajah sok takut. Ctik. Sasuke menyentil dahi Kaoru dengan jari telunjuknya.

"Ayo kembali ke rumah," kata Sasuke seraya mengangkat tubuh Kaoru dan menggendongnya. Ia membalikkan badannya dan menemukan sosok Hinata sedang tersenyum sambil melihat ke arahnya. Sasuke melangkahkan kakinya menuju ke rumah, mendekati Hinata yang duduk beristirahat.

"Sasuke-san, sepertinya kau sudah akrab dengan Kaoru-chan," ujar Hinata.

Sasuke menurunkan Kaoru, dengan gerakan kepala dan matanya ia mengisyaratkan Kaoru untuk masuk ke dalam rumah. Seakan tahu maksud Sasuke, Kaoru pun berlari dengan girang ke dalam rumah. Sasuke duduk di samping kiri Hinata. Setelah itu Hinata menyodorkan sebuah handuk ke arahnya. Sasuke menerimanya dan menyeka keringat di wajah dan lehernya.

Sekilas Hinata memperhatikan Sasuke. Tiba-tiba Hinata merasakan panas di wajahnya. Pipinya bersemu merah ketika melihat Sasuke menyeka wajah dan leher. Dengan cepat Hinata mengalihkan pandangannya ke bawah.

"Kau kenapa?" Sasuke menyeringai, ia tahu bahwa Hinata bertindak aneh. Ia melihat pipi Hinata yang memerah.

"A..ah, tidak apa-apa," jawab Hinata dengan gugup.

"Tadi Kaoru bilang, ia ingin punya kakak laki-laki. Memangnya punya kakak laki-laki itu menyenangkan ya?" tanya Sasuke, ia tersenyum miris sambil menatap burung-burung yang terbang di atas sana.

"O..oh itu.. Aku. Emm, Neji -nii-san.. Aku senang mempunyai kakak seperti dia. Walau pun pada awalnya nii-san sangat membenciku," Hinata menceritakan kisahnya dengan Neji. Sasuke menoleh, memperhatikan Hinata. Sepertinya ia tertarik dengan cerita Hinata.

'Neji pernah membenci Hinata,' ucap Sasuke dalam hati.

"Dulu aku hanyalah seorang souke yang lemah, yang ditakdirkan menjadi Heiress Hyuuga. Aku bahkan kalah saat melawan Hanabi. Dan Neji-nii-san yang kuat justru menjadi bunke yang ditugaskan untuk menjagaku. Ayahnya adalah saudara Otou-san, ia meninggal saat melindungi Tou-san. Gara-gara hal itu, nii-san jadi membenciku. Aku sudah mengewakan banyak orang di klan Hyuuga karena kelemahanku. Aku tidak pantas menjadi heiress Hyuuga," kata Hinata.

Sasuke teringat akan masa kecilnya. Saat itu ayahnya juga meragukan kekuatannya. Ia selalu dibanding-bandingkan dengan Itachi. Ia rasa ada sedikit kemiripan antara ia dan Hinata.

"Namun semuanya berubah setelah ujian Chunin. Aku harus berhadapan dengan Neji-nii-san. Saat itu aku hampir terbunuh olehnya. Tapi aku terus berjuang, salah satu yang menjadi semangatku adalah Naruto-kun. Ia terus menyemangatiku saat itu. Dan yang membantu Neji -nii-san terbebas dari rasa dendam atau apa pun itu yang membuatnya membenciku adalah Naruto-kun," lanjut Hinata. Entah kenapa setelah Hinata menyebut nama Naruto, Sasuke menjadi tidak suka. Tidak, bukan karena Sasuke membenci atau tidak suka pada Naruto. Tapi karena ia tidak suka jika Hinata terus menyebut dan mengingat nama Naruto. Apalagi Hinata terlihat senang saat menceritakan tentang Naruto. Mungkinkah ia cemburu?

"Naruto memang sahabat yang luar biasa. Aku juga sangat beruntung ditolong Naruto. Ia mengeluarkanku dari lembah kegelapan. Ia membantuku membersihkan kemarahan dan dendam dari dalam tubuhku. Walau pun aku sudah sangat sangat dan sangat bersalah, Naruto tetap menerimaku, bahkan membawaku pulang kembali ke Konoha," ujar Sasuke. Hinata mengangkat kepalanya. Wajahnya sedikit berseri dan bersemangat ketika pembicaraan mereka mengarah ke Naruto. Satu yang tidak ia sangka adalah Sasuke yang mau menceritakan tentang dirinya.

"Lalu bagai mana dengan Neji?" Sasuke mengembalikan arah pembicaraan mereka.

"Emm, ya, setelah itu hubunganku dan Neji-nii-san berjalan baik. Ia selalu membantuku berlatih. Ia mengajarkan jurus-jurus yang belum aku kuasai, sehingga aku menjadi semakin kuat," kata Hinata. Hinata ingin menanyakan hubungan Sasuke dengan Itachi, namun ia mengurungkan niatnya. Ia takut membuat Sasuke marah.

"Begitu ya. Secara tidak langsung, Itachi juga membuatku menjadi lebih kuat. Tapi.."

"Cukup, Sasuke-san, tidak usah diteruskan," Hinata memotong pembicaraan Sasuke. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Sasuke. Ia tidak mau membuka luka lama Sasuke yang mungkin sudah hampir mengering.

Sasuke menatap Hinata dengan heran. Ia tersenyum, namun Hinata tak melihat senyumnya. Sasuke memegang kedua pundak Hinata sehingga mereka saling berhadapan. Hinata kaget dengan perlakuan Sasuke seperti itu, wajahnya kembali memerah.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata dengan perlahan. Ia memperhatikan wajah Hinata yang semakin merah. Ia tahu mungkin jika ia meneruskan niatnya, Hinata akan jatuh pingsan karena malu. Tapi Sasuke semakin memperkecil jarak di antara mereka.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku," bisik Sasuke di telinga kanan Hinata.

Hinata masih mematung dengan wajahnya yang sangat merah. Jujur saja Sasuke senang melihat Hinata bersemu karena dirinya.

"Oi oi, kalian sedang apa?" tanya Sai yang tiba-tiba ada di samping mereka.

Hinata mengalihkan pandangannya ke arah Sai dan mendapati Sai hanya mengenakan handuk. Sepertinya Sai merasa kepanasan sehingga ia mandi di siang hari.

Bruk. Hinata pingsan. Sasuke dan Sai saling berpandangan, seperti saling melemparkan pernyataan, 'ini gara-gara kau'.


-TBC-


Ayyee, akhirnya fic yang hampir lapuk di makan waktu ini tersentuh juga. Hohoho~

Gomenasai, Fifi sudah –selalu- menelantarkan fic ini, seakan tidak bertanggung jawab.


Balas review dulu ^^

sasuhina-caem: Salam kenal juga. Aduh Naruto-kun jangan ditabok deh, kasian hhe. Arigatou sudah baca dan review. :)

Mery chan: Gomen ya, lama updatenya. Ini udah diupdate ^^

n: Aa, jangan panggil senpai, ini masih dalam tahap belajar nulis juga. :)

Zae-Hime: Emm, maunya gimana? Sai jadi mak comblang aja apa suka juga sama Hintata? Jalan cerita masih bisa berubah. hehehe

UQ: Gomen kalo mengecewakan. Semoga yang ini nggak terlalu sedikit untuk dibaca :)

uchihyuu nagisa: Arigatou reviewnya, ini udah apdet lagi, semoga tidak mengecewakan ^^

RK-hime: Aduh dikroyok gara-gara ceritanya kedikitan nih *kabur. Sasu-chan mau bantuin Hinata-chan untuk melupakan Naruto-kun. :D

Sora Tsubameki: Arigatou, Sora-san. Mohon kritik dan sarannya ya, lagi belajar nulis nih. Ini udah apdet :)

Uchiha nadhira hanata: *ikutan jingkrak-jingkrak. Pengen ngedeketin SasuHina :D. Ini udah update

Scarlet: Gomen updatenya lama, lagi sibuk di dunia nyata. ehehehe. Ini udah update ^^


Yosh, arigatou gozaimasu, sudah sudi membaca, mereview, dan menunggu update-an fic ini. ^^