==PART SEBELUMNYA==
Sasuke melangkahkan kakinya kembali ke aula. Sakura terus mengikuti Sasuke, dia begitu terburu-buru sampai tidak tahu ada orang yang berjalan didepannya. Sakura memelankan langkah kakinya. Wajahnya berubah menjadi sedih. Sasuke terus saja melangkahkan kakinya, ketika dia sadar ada dua orang yang berjalan menuju arahnya, dia terdiam dan menghentikan langkahnya.
"Sasuke-kun," pekik gadis itu yang tak lain adalah Shion bersama dengan seorang actor muda yang terkenal Han Sasori. Mata Shion tertuju pada Sakura yang ada dibalik punggung Sasuke. Mendengar nama Sasuke membuat Sasori agak geram dan menatap Sasuke tajam.
"Apa yang kau lakukan disini? Ternyata kau bersama istrimu."
PLEASE LOOK AT ME / CHAP 12
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
.
"Aku mendapat undangan dari presedir perusahaan Taka ke acara ulang tahun perusahannya," jawab Sasuke datar.
"Apa semua orang tahu Sakura itu istrimu? tentu saja tidak kan. Kalau dia tak berkepentingan disini untuk apa dia datang?," Ucap Shion pedas sambil menatap Sakura.
"Dia sementara ini adalah sekertarisku di kantor."
"Ah, aku mengerti. Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa ayahmu. Dan pasti kau yang menggantikan beliau untuk memimpin perusahaan, benarkan?" tanya Shion santai matanya tak pernah berhenti menatap kearah Sakura.
"Kau sendiri untuk apa datang kesini?" tanya Sasuke.
"Apa kau tidak tahu kalau aku adalah cucu dari pemilik perusahaan Taka. Ahh tentu kau tidak tahu karena aku tidak pernah bercerita padamu."
Mata Sakura melihat seseorang yang ada disamping Shion secara seksama. Dia berpikir dan terus berpikir karena Sakura merasa, kalau wajah pria itu begitu familiar. Tak lama Sakura pun menyadari kalau pria itu adalah actor yang terkenal yaitu Sasori. Mungkin gossip yang beredar dimedia itu benar kalau Shion memang menjalin hubungan dengan Sasori.
"Sepertinya, aku tak punya banyak waktu untuk berbincanng denganmu. Aku harus pergi. Nikmatilah pestanya," ujar Sasuke sedikit sinis dan pergi meinggalkan Shion dan Sasori.
"Bukankah, pria yang ada disamping Shion itu adalah actor bernama Sasori?," tanya Sakura namun Sasuke tak menggubrisnya.
"Sudahlah, ayo kita masuk, acaranya akan segera berakhir." ajak Sasuke pada Sakura.
Shion tak percaya dengan tingkah Sasuke terhadapnya. Sejak dulu Sasuke tak pernah berlaku sinis padanya. Tatapannya Sasuke terhadapnya juga berbeda dari biasanya. Tatapan hangat yang selalu Sasuke perlihatkan kepada Shion sudah tak ada lagi. Kemarahan Shion semakin memuncak ketika ia melihat Sasuke menggandeng tangan Sakura.
"Sasuke-kun, entah bagaimanapun caranya aku akan merebutmu kembali," batin Shion.
ooOOoo
Saat didalam aula semua orang tertuju pada pemilik perusahaan Taka, diatas panggung yang didampingi oleh cucunya yang tak lain adalah Shion. Dengan dibalut gaun berwarna merah dan rambut yang terurai panjang sedikit bergelombang, membuat Shion terlihat sangat cantik. Sasuke meneguk beberapa anggur sambil sesekali melihat kearah Shion beserta presedir perusahaan Taka group. Sakura memandang aneh kearah Sasuke yang terus-terusan meminum anggur tanpa henti. Sakura berspekulasi sendiri, bahwa sikap Sasuke seperti ini karena melihat Shion dan Sasori. Ia juga paham bagaimanapun cinta Sasuke hanya untuk Shion. Mata Sakura tanpa sengaja melihat Sasori terus-terusan memandang kearah suaminya dengan tatapan tak suka. Namun Sakura tak mau ambil pusing dengan ini.
"Para tamu undangan sekalian aku ingin memperkenalkan cucuku yang cantik ini pada kalian. Namanya adalah Shion. Dia baru lulus dari sekolah menengah dan sekarang dia menjadi model papan karena kecantikannya ehehehe. Kebetulan sekali saat ulang tahun perusahaan ini juga bersamaan dengan ulang tahun cucuku. Jadi selain untuk merayakan ulang tahun perusahaan aku juga akan merayakan ulang tahun cucuku."
Sasuke berhenti meneguk anggurnya sesaat. Dia baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun Shion. Biasanya, dia tak pernah melupakan hari lahir gadis cantik satu ini namun kali ini ia benar-benar melupakannya. Sasuke merasa kalau ada yang salah dalam dirinya, akhir-akhir ini ia sering memikirkan Sakura dan hal itu membuat ia lupa perihal hari ulang tahun Shion. 'Apa Sakura sudah mulai merancuniku?', batin Sasuke.
Semua undangan bertepuk dengan antusias. Seorang pelayan membawa sebuah meja dorong lengkap dengan kue ulang tahun yang besar yang berhias lilin. Shion tersenyum senang dan melihat kearah para undangan. Serentak dan seirama semua undangan secara spontan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Dan disaat Shion meniup lilinnya, gemuruh tepuk tangan silih berganti. Shion kemudian memotong kue ulang tahunnya. Potongan kue pertama dia berikan kepada kakeknya. Sedangkan potongan kue kedua, Shion akan memberikan potongan kue itu kepada seseorang yang ia anggap special.
"Potongan kue kedua ini, akan aku persembahkan untuk seseorang yang special dalam hidupku. Aku berikan kue ini untuk Uchiha Sasuke wakil dari perusahaan Fourth Group." usai Shion mengatakan demikian, para undangan kembali bertepuk tangan.
Sasuke bingung bahkan dia juga kaget, karena tiba-tiba Shion memanggil namanya. Ini sama sekali diluar dugaanya. Sasuke memandang Sakura sejenak demikian juga dengan Sakura yang ikut memandangnya. Sasuke merasa sangat tak enak hati pada Sakura istrinya, ingin sekali dia menolak kue itu demi Sakura.
Sasuke tak langsung beranjak, para undanganpun menatap lurus kearahnya. Sasuke menggeleng kecil kearah Sakura. Sakura tak tahu maksud dari gelengan kecil itu, namun nama baik perusahaan ayah Sasuke dipertaruhkan disini. Tak lucu jika pengganti presedir Uchiha Fugaku mendapat imej angkuh dan sombong dimata pemimpian perushanaan lain.
"Sakuke-kun, pergilah, semua orang sudah menantimu untuk berada disana," ucap Sakura.
Pelan namun pasti, Sasuke mulai berjalan mendekat kearah Shion. Sakura menunduk menahan sakit yang ia rasakan. Disisi lain Sasori terlihat menahan amarah, karena Shion tak memilihnya. Sesampainya dipanggung Shion memberikan kue itu pada Sasuke, tak hanya itu saja, ia juga mencium kedua pipi Sasuke. Sasuke tak percaya Shion akan melakukan hal ini didepan umum. Jika melihat perjuangannya yang dulu untuk kembali kepada Shion, seharusnya Sasuke bahagia mala mini, namun kenyataannya dia tak merasa bahagia bahkan diotaknya sekarang hanya memikirkan Sakura dan kembali bersama istrinya.
"Ternyata kalian berdua saling kenal?" tanya kakek Shion.
"Iya kakek, hubungan kami lebih dari sekedar teman. Sasuke-kun adalah pacarku."
Sakura semakin merasakan sakit yang luar biasa. Bukankah Shion sudah memutuskan hubungan dengan Sasuke. Bukankah Shion sekarang sudah berpacaran dengan Sasori, tapi kenapa dia mengatakan hal macam itu didepan semua orang bahwa Sasuke adalah kekasihnya. Sasuke makin tak percaya dengan tindakan konyol yang dilakukan oleh Shion. Acara ini diliput oleh media masa, Sasuke tak bisa membayangkan bagaimana orang tua Sakura jika melihat ini semua di Televisi.
"Ahh, benarkah. Ahaha kakek benar-benar gembira karena cucu kakek memilih seseorang yang tepat," puji kakek Shion padanya.
Shion tersenyum bahagia. Lagi-lagi sasuke diam tak mengatakan apapun. Ini benar-benar tak pernah ada di bayangannya. Sehausnya dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena Shion sudah ingin menjalin hidup dengannya. Tapi yang ada perasaan bimbang dan bingung. Tatapan matanya tak lepas dari Sakura yang terus menunduk. Sasuke ingin melangkahkan kakinya kearah Sakura tapi urat sarafnya tak mau bergerak.
"Cium..cium…cium," sorak semua undangan.
Sakura melihat para undangan yang antusias bersorak untuk mereka berdua. Sakura melihat jelas kalau Shion benar-benar terlihat sangat bahagia. Matanya berbinar-binar memandang Sasuke. Sasuke juga ikut memandangnya. Waktu begitu pun cepat. Shion menempelkan bibirnya kebibir Sasuke dengan segenap perasaan. Sasuke terkejut setengah mati. Para undangan semakin menjadi-jadi bertepuk tangan untuk mereka. Sakura sudah tidak tahan. Secepat mungkin dia keluar dari aula.
Para wartawan yang hadir tak segan-segan untuk memotret moment yang penuh sensasi ini. Tak hanya Sakura yang keluar dari aula namun Sasori juga melakukan hal yang sama. Sasuke sedikit mendorong Shion, ciuman panas Shion pun berakhir. Sasuke tak mengatakan apa-apa, dia kemudian berlalu dan menjauh dari Shion.
Pria tampan yang satu ini berlari menyusuri jalan, hanya satu yang ada didalam pikirannya, yaitu Sakura. Entah kenapa ia ingin menjelaskan semua ini kepadanya. Sasuke akhirnya mengakui dan tak mau berbohong lagi pada hatinya kalau orang yang ia cintai sekarang adalah Sakura, bukan lagi Shion.
ooOOoo
Sakura menangis sendirian dihalte. Tangannya memegang dada yang terasa begitu sesak dan perih. Dia merasa sangat tak berdaya dan sakit hati, sehingga membuat Sakura tak bisa menahan tangisannya. Suara tangisan Sakura begitu keras. Dia sudah tak tahan lagi dengan semuanya, rasa sakit yang dideritanya karena Sasuke. Memang Sasuke tak pernah ditakdirkan untuknya. Seharusnya dari awal dia sudah harus melupakan Sasuke dan menjauh dari Sasuke bukan semakin dekat dengan Sasuke. Suara tangisan Sakura semakin lama semakin keras.
Naruto mengendarai mobilnya dengan santai. Dari jarak yang tak begitu jauh, dia melihat sosok wanita berbalut gaun hitam menangis dihalte. Semakin Naruto mendekati wanita itu, dia sadar jika gadis yang menangis itu adalah Sakura. Naruto segera turun dari mobil dan berjalan menuju Sakura.
"Sakura sedang apa kau disini? kenapa kau menangis?" tanyanya panik.
"Aku sudah tak tahan lagi Naruto. Aku benar-benar ingin menjauh darinya. Aku sudah tak bisa menahan sakit ini lagi. Aku sangat mencintai Sasuke Naruto, aku sangat mencintainya."
"Sakura tenanglah, lebih baik kau ikut denganku. Ceritakan semuanya ketika sampai dirumah," ujar Naruto tak banyak kata yang Sakura ucapkan dia hanya mengangguk saja.
Sakura menuruti ajakan Naruto untuk kerumahnya. Di dalam mobil Sakura terdiam sambil melihat pemandangan diluar jendela. Air mata Sakura tak henti-hentinya menetes. Sesekali tangan Sakura mengusap air matanya. Sakura tadi sempat bahagia karena Sasuke menciumnya tapi sekarang Sakura tahu kalau itu ciuman yang tak berarti. Sama seperti perkataan Sasuke, aku harus melupakan kejadian itu karena itu hanya lelucon.
Mungkin Sasuke melakukan hal itu karena dia hilang kendali atau mungkin dia tak sengaja karena pada saat itu ruangan sangat gelap. 'Iya aku harus melupakannya,'batin Sakura. Naruto tak mengatakan apapun, sesekali dia melihat Sakura. Hati Naruto serasa perih dan sakit karena gadis yang dicintainya menangis dan terluka.
'Kenapa kau tidak mencintaiku Sakura, kalau kau mencintaiku kau pasti tidak akan merasakan sakit seperti ini. Hidupmu akan penuh kebahagiaan kalau kau juga mencintaiku,' ucap Naruto dalam hati. Tak lama kemudian sampailah mereka dirumah Naruto. Sakura duduk di sofa panjang, Naruto datang menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat.
"Minumlah, kau akan merasa lebih baik". Sakura meneguk tehnya tanpa ragu. Matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang ia keluarkan. "Sebenarnya kau kenapa?".
Naruto menyalakan TV dan tepat pada saat itu adalah berita tentang Sasuke dan Shion. Kalau bukan karena mereka anak dan cucu dari pengusaha terbesar di egeri ini mungkin kejadian seperti ini tak akan pernah diberitakan. Naruto terkejut, dia langsung mematikan televisinya sedangkan Sakura hanya menundukan kepalanya. Sekarang Naruto tahu apa masalah yang sebenarnya.
" Aku tahu seharusnya aku tidak boleh seperti ini karena dari awal aku tahu kalau Sasuke hanya mencintai Shion. Tapi kenapa aku merasa sakit hati melihat mereka berciuman. Aku tahu aku hanyalah duri bagi kehidupan mereka, seharusnya aku dari awal tidak ada dalam kehidupan Sasuke. Aku benar-benar mencintainya Naruto," ucapnya penuh tangis. Naruto mendekati Sakura lalu memeluknya erat.
"Sudahlah, menangislah sepuasmu. Kau sedang hamil jadi lebih baik jangan banyak pikiran."
"Naruto-kun, ijinkan aku untuk tidur disini," pinta Sakura.
"Tentu saja Sakura."
ooOOoo
Usai dari pesta, Sasuke dan Shion duduk didalam mobil Sasuke dan pergi disuatu tempat yang tak jauh dari sungai Shinano. Mereka berdua terdiam. Wajah Sasuke tampak tak senang sedangkan Shion terlihat santai bahkan senyum tipis tersungging di bibirnya. Sasuke sudah berusaha menemukan Sakura namun hasilnya nihil, mau tak mau dia harus kembali ke pesta karena acara belum selesai. Tak mungkin jika dia pergi begitu saja dipesta ulang tahun perusahaan yang merupakan pemegang investasi terbesar diperusahaan ayah Sasuke.
"Kenapa kau melakukan hal itu di depan umum?," tanya Sasuke seikit emosi.
"Kenapa? kau tidak menyukainya? aku melakukan itu, karena aku mencintaimu, dan biar seluruh orang Jepang tahu kalau putra anak dari pemilik fourth group adalah kekasih dari Uchiha Sasuke, Shion cucu dari pemilik perusahaan Taka group bukan suami dari Haruno Sakura."
"Bagaimana dengan hubunganmu dan Sasori?"
"Aku dan Sasori tak pernah ada hubungan spesial. Kami hanya berteman, tapi dia yang terus mengejarku dan ingin menjadikanku kekasihnya. Orang yang aku cintai adalah kau. Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
Sasuke tak langsung menjawab, dia diam sesaat dan memandang Shion penuh arti dan terbesit sedikit rasa bersalah. Sudah tak ada lagi gengsi atau kejujuran hati yang harus ia tutupi. Inilah yang ia rasakan sekarang, sebagai pria dia harus mengungkapkan perasaanya walaupun itu menyakiti orang lain.
"Aku sudah tidak mencintaimu Shion," jawab Sasuke lirih.
"Apa? kau sudah tidak mencintaiku lagi. Kenapa? apa salahku?"
"Kau tak mempunyai salah apapun, tapi hati ini sudah berubah. Lagipula kau mencampakanku dan lebih memilih karirmu bukan?"
"Jangan katakan kalau kau sekarang mencintai Sakura?"
"Jika memang itu benar kenapa?"
"Dengar Sasuke-kun, aku akan merebutmu kembali bagaimanapun caranya walaupun itu harus menyakiti hati Istrimu. Dari awal kau adalah milikku. Sakura telah merebut apa yang seharusnya aku miliki!" Shion terbakar emosi. Dia keluar dari mobil Sasuke dan menutup pintu mobil Sasuke secara kasar.
"Aku peringatkan kau Shion, jangan melakukan hal-hal yang konyol lagi dan jangan coba untuk menyakiti hati Sakura."
"Apa? kau benar-benar pria …."
Sasuke menjalankan mobilnya dan mengabaikan Shion yang terus beriak kepadanya. Suara Shion sudah tak terdengar menggema lagi ditelinganya. Sasuke sama sekali tak menyesal dengan keputusannya ini. Sakura adalah tempatnya ia kembali.
ooOOoo
Sesampainya dirumah, tak ada seorangpun yang ada disana. Sasuke berjalan menuju kamar Sakura. Dia mengecek apakah Sakura sudah tidur, ternyata dia tidak mendapati apa-apa disana. Sasuke tahu Sakura belum pulang. Kemana perginya gadis itu? batinnya. Sasuke mencoba menelfon Sakura. Sejenak panggilannya tersambung namun tiba-tiba mati,dan ponsel Sakura tidak aktif. Sasuke tak menyerah dia mengirim pesan pada Sakura.
Dimana kau sekarang? Kenapa kau belum pulang? Sudah malam mengkhawairkanmu.
Sasuke menekan tombol send. Dia berjalan menuju ruang tamu untuk menunggu Sakura. Satu jam, dua jam, tiga jam Sakura tak kunjung pulang, hal ini membuat Sasuke mengantuk dan tanpa sadar dia sudah tertidur pulas disofa.
ooOOoo
Pagi harinya Sasuke terbangun dari tidurnya. Badannya serasa sakit karena posisi tidur yang tak enak. Bangun dari tidur, dia langsung mengcek kamar Sakura namun dia tak ada. Sekilas mata Sasuke melihat gaun malam yang dikenakan Sakura. Sasuke sedikit lega karena Sakura sudah pulang walaupun dia tidak tahu kemana sekarang perginya Sakura. Sasuke bergegas mandi dan segera berangkat ke kantor, karena ini adalah hari pertama dia menjadi pemimpin perusahaan. Sampainya dikantor, Sasuke didampingi oleh sekertaris Akimoto. Semua pegawai dan memberinya salam dengan penuh santun. Sasuke membalasnya dengan anggukan tanpa tersenyum. Saat dia naik lift, tanpa diduga, Sasuke bertemu dengan Sakura yang ternyata lebih dahulu tiba dikantor.
"Oh, Nona Sakura. Aku pikir anda tidak datang ternyata anda sudah ada disini".
"Iya, sekertaris Akimoto. Tentu saja aku datang dihari pertamaku bekerja. Mohon bimbingannya," ucap Sakura samba membungkuk Sembilan puluh derajat.
"Tentu, aku nanti akan mengajarkan tuan dan nona bagaimana kinerja diperusahaan."
Sasuke dan Sakura tak saling menyapa bahkan bertengkah seperti orang yang tak pernah Sakura. Sesekali Sasuke melihat Sakura namun Sakura tak sedikitpun melihatnya. Ini membuat Sasuke sedikit merasa sakit. Pintu liftpun terbuka. Dilantai tujuh, merupakan lantai yang ditempati pekerja inti yang bertugas untuk mengerjakan hal-hal penting. Melihat kedatangan mereka bertiga, membuat semua pegawai berbisik dan terkejut. Terdengar jelas di telinga Sasuke dan Sakura kalau mereka membicarakan Sasuke karena kejadian tadi malam yang sudah tersebar luas.
"Selamat pagi semuanya," Sapa sekertaris Akimoto.
"Selamat pagi," jawab semua karyawan.
"Saya akan mempekenalkan kepada kalian pengganti bapak presedir untuk sementara yaitu Tuan Uchiha Sasuke. Walaupun umurnya masih muda namun, dia sudah berpengalaman dan belajar banyak tentang bisnis dengan ayah beliau".
"Salam kenal, saya Uchiha Sasuke. Mohon bimbingan dari kalian," semua pegawai mengangguk dan tersnyum padanya.
"Dan yang kedua adalah Haruno Sakura, yang merupakan sekertaris dari Tuan Sasuke".
"Salam kenal, saya adalah Haruno Sakura. Mohon bimbingan dari kalian".
"Baiklah, kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan mendampingi mereka." Perintah sekertaris Akimoto penuh dengan ketegasan.
"Baik,"jJawab pegawai secara serempak.
Dan sejak saat itu,disebuah ruangan, sekertaris Akimoto mengajari Sakura dan Sasuke tentang kinerja perusahaan dan apa saja yang harus mereka lakukan. Dengan perut yang mulai membesar tak menghalangi Sakura untuk semangat mendengar ajaran dari sekertaris Akimoto. Sakura sama sekali tak melihat Sasuke sedikitpun. Dari awal berangkat kerja dia berkomitmen untuk tidak menganggap Sasuke ada. Lain halnya dengan Sasuke yang terus melihat kearah Sakura. Sudah hampir dua Jam sekertaris Han membimbing mereka berdua.
"Baiklah, saya rasa semuanya cukup sampai disini. Saya sudah memberikan semuanya pada anda tuan dan Nona harap melakukannya dengan baik. Saya pamit dulu."
"Iya, sekertaris Akimoto, hati-hati dijalan. Terma kasih sudah membimbing kami," kata Sakura
Sakura berdiri dan untuk kedua kalinya dia membungkuk kepada sekertaris Akimoto. Belaiu juga mengangguk dan tersnyum ramah padanya. Disebuah ruangan yang lumayan besar hanya ada dirinya dan Sasuke, Sakura membereskan kertas-kertas di dalam tasnya dan melangkah keluar tanpa menghiraukan Sasuke. Baru beberapa langkah dia mendengar Sasuke memanggil namanya.
"Haruno Sakura," panggil Sasuke Sehingga membuat Sakura berhenti. "Kemana kau semalaman? Kenapa kau tidak pulang kerumah."
"Kenapa? Apa kau khawatir padaku. Semalam kemana aku pergi itu bukan urusanmu. Aku pulang tadi pagi ketika kau tertidur".
"Masalah tadi malam. Aku sama sekali tidak tahu kalau Shion melakukan hal itu didepan umum. Aku benar-benar terkejut. Aku tidak….".
"Untuk apa kau menjelaskan hal itu padaku. Aku tidak tertarik untuk mendengarnya. Bukankah seharusnya kau bahagia karena Shion bisa kembali padamu. Pada akhirnya Haruno Sakura cepat atau lambat akan tersingkir. Tenang saja Sasuke, sampai ayahmu sembuh aku akan segera menghilang dari kehidupanmu. Maafkan aku kalau aku hanya menyusahkanmu selama ini. Semangatlah bekerja. Aku akan pergi untuk makan siang" Sakurapun pergi menjauh dari Sasuke. Baru beberapa langkah Sakura menghentikan langkahnya sejenak, "Oh ya, aku akan melupakan kejadian dipesta itu. Aku benar-benar akan melupakannya." Sakura pergi meinggalkan Sasuke.
"Hei, Sakura, tunggu!"
Sakura tak menghiraukan Sasuke. Dia terus berjalan dan terus berjalan menuju kantin perusahaan. Sebenarnya berat bagi Sakura untuk tidak peduli dan bersikap sedikit kasar pada Sasuke. Tapi ini dia lakukan untuk mengontrol perasaanya agar bisa mengurangi rasa cintanya pada Sasuke. Sakura terus melangkah dan tiba-tiba ada seorang pria berhenti tepat di depannya. Pria itu menggenakan kaca mata hitam serta topi.
"Astaga!" Sakura terkejut setengah mati sambil memegang dadanya.
"Haruno Sakura!" ucapnya
"Si-siapa kau?" tanya Sakura pria itu tak menjawab. Pria itu hanya membuka kaca mata hitamnya. Sakura tak menyangka pria seperti dia datang mencarinya. "Sa-Sasori."
TO BE CONTINUE
