"Arigatou gozaimasu," ucap kedua orang tua Sanae, Kaoru, dan Ayumi kepada ketiga ninja Konoha, Sasuke, Hinata, dan Sai sambil membungkukkan badan.
"Kami senang bisa membantu menjaga mereka. Mereka anak yang baik dan pintar," ujar Hinata. "Iya, itu benar. Tapi Kaoru sangat nakal," ucap Sai tanpa basa-basi. "Sai-kun, jangan bilang begitu," Hinata berbisik pada Sai. Sai hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ooh, begitu. Maaf ya, kalau merepotkan kalian," kata sang ibu.
"Tidak apa-apa," balas Hinata.
Hinata, Sasuke, dan Sai segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sayonara!" teriak Sanae sambil melambai-lambaikan tangannya, diikuti adiknya, Ayumi. Sementara Kaoru masih terdiam, matanya tampak berkaca-kaca.
"Onii-chan!" tiba-tiba Kaoru berteriak dan meronta-ronta ingin mengejar Sasuke namun ditahan oleh ibunya..
Sasuke, Hinata, dan Sai berhenti dan berbalik. Kaoru berlari dari dekapan ibunya menuju Sasuke. Sasuke berjongkok menyamakan tingginya dengan Kaoru.
"Kita akan bertemu lagi kan?" tanya Kaoru.
"Mungkin," jawab Sasuke singkat.
"Kalau begitu aku juga ingin menjadi shinobi seperti nii-chan,"
"Souka. Berjuanglah, mungkin saja nanti kita akan bertemu di akademi,"
"Hai."
Akhirnya Kaoru membiarkan ketiga ninja Konoha tersebut pergi. Ia tersenyum. Ia berjanji akan menjadi shinobi. Ya, ia pasti bisa menjadi shinobi dan bertemu lagi dengan Sasuke. Sementara Sasuke ragu-ragu dengan apa yang sudah diucapkannya tadi. 'Aku tak tahu apa kita bisa bertemu lagi, Kaoru. Aku masih belum tahu apakah aku akan dihukum mati atau tidak,' pikir Sasuke.
Help Me
A Naruto Fanfiction by Fifi Violet
Naruto © Masashi Kishimoto
"Kalian sudah menyelesaikan misi dengan baik. Ya, memang kurasa misi ini tidak ada apa-apanya bagi kalian," kata Tsunade.
Sasuke, Hinata, dan Sai melangkah pergi setelah melapor kepada Tsunade, namun tiba-tiba mereka berhenti ketika Tsunade berkata.
"Sasuke, para petinggi Desa Konoha sudah memutuskan hukuman untukmu. Lusa kau akan dihukum," ujar Tsunade.
Sasuke merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Darahnya berdesir. Walau ia tampak tenang, tapi di dalam hatinya ia benar-benar kalut.
"Maaf aku tak bisa membantumu, Sasuke," lanjut Tsunade. Dari raut wajah dan nada bicaranya, ia tampak menyesal.
Mata Hinata membulat. Ia juga merasakan hal yang buruk. 'Apakah Sasuke-san akan dihukum mati?' Hinata terus bertanya-tanya dalam hati. Jujur saja ia tak mau kehilangan Sasuke.
"Hokage-sama, apa maksud anda? Apa Sasuke-san…" Hinata tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Aku tak bisa memberitahu kalian. Lusa kalian datang saja,"
Sasuke menarik tangan Hinata dan membawanya keluar dari gedung Hokage diikuti Sai di belakangnya. Setelah mereka sampai di luar, Sasuke melepaskan genggaman tangannya.
"Sasuke-san, kenapa kau diam saja? Kau tak meminta penjelasan Hokage-sama?" tanya Hinata sambil sedikit berteriak. Suaranya sedikit serak seperti mau menangis.
"Sasuke-kun, kau tidak khawatir tentang hukuman itu?" tanya Sai.
Sasuke masih diam.
"Kau bisa saja dihukum mati, Sasuke-san. Apa kau baik-baik saja dengan semua itu?" air mata Hinata mulai menetes. Ia memegang lengan kiri Sasuke dari belakang. Sepertinya ia benar-benar tak mau kehilangan Sasuke.
"Aku tak tahu," jawab Sasuke singkat.
"Hei hei, kenapa jawabanmu seperti itu? Kau tidak seperti biasanya. Tidakkah kau ingin membela dirimu sendiri?" Sai menatap Sasuke.
"Sudah kubilang aku tidak tahu!" nada Sasuke meninggi. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan Sai dan Hinata dalam kebingungan.
"Kurasa dia sedang ingin menyendiri. Sebaiknya kita tidak mengganggunya sekarang. Hinata-san, kau pulanglah, sepertinya kau butuh beristirahat," ujar Sai.
"H-hai. Jaa Sai-kun," Hinata beranjak pulang.
Mata Sai terus mengikuti sosok Hinata yang semakin menjauh. Ia menatap nanar. Ia tahu apa yang dipikirkan Hinata. Sasuke. Ya, pikiran gadis Hyuuga itu sedang dipenuhi oleh Sasuke. Tepatnya tentang masa depan satu-satunya Uchiha itu, tentang hukuman apa yang akan ditimpakan untuk si rambut raven. Entah mengapa mengetahui kenyataan bahwa Hinata tengah memikirkan Sasuke membuatnya merasa aneh. Ia tak tahu rasa apa itu. Yang jelas ia seperti tak suka, terganggu, dan..tak rela.
-0-
Saat itu Hinata sedang menyelimuti Sanae dan Ayumi. Ia mengelus kepala anak-anak itu dengan penuh kasih sayang. Benar-benar keibuan. Kemudian Sasuke masuk ke kamar tersebut dengan Kaoru yang terlelap di gendongannya.
"Hati-hati Sasuke-san," ucap Hinata ketika Sasuke menurunkan Kaoru di futonnya.
Sai lewat dan melihat rekannya itu bersama dengan ketiga bocah di kamar. Mereka tampak seperti keluarga. Hinata seperti sosok ibu yang lembut dan penyayang. Juga Sasuke yang terlihat seperti sosok ayah yang dingin namun bertanggung jawab.
"Mereka sangat beruntung. Mereka tumbuh bersama di tengah hangatnya keluarga," ujar Sasuke. Hinata mengalihkan pandangannya kepada Sasuke. Sai berhenti dan duduk di balik pintu.
"Kau mengasuh mereka dengan baik, kau sangat dekat dengan anak-anak, sudah seperti ibu saja bagi mereka," Sasuke tersenyum. Hinata menunduk, pipinya merona. "Kelak kau pasti akan jadi ibu yang luar biasa," lanjutnya.
"Sasuke-san berlebihan. Aku tidak seperti itu kok. Sasuke-san juga sangat dekat dengan Kaoru, sudah seperti ayah juga baginya," Hinata mencoba membalikkan pujian.
'Hinata-san seperti ibu, Sasuke-kun seperti ayah? Apa mereka sadar seperti sedang menempatkan diri sebagai…orang tua' kata Sai perlahan di balik pintu. 'Heh, tunggu! Kalau Hinata-san adalah ibu, Sasuke-kun sebagai ayah, lalu keberadaanku di sini sebagai apa?' tiba-tiba Sai merasa sedikit kesal karena merasa terabaikan.
"Apa Sasuke-san merasa kesepian?" tanya Hinata.
Sasuke diam.
"A-ah, gomen," Hinata merasa telah menanyakan hal yang salah pada Sasuke.
"Kesepian ya? Aku bahkan tak tahu keadaan yang mana yang disebut sebagai kesepian. Kalau kau mengira aku kesepian karena aku sendirian maka kau salah," balas Sasuke.
'Aku setuju denganmu, Sasuke-kun. Aku juga tidak kesepian walau aku sendiri.' entah kenapa Sai masih saja nyaman di posisinya, duduk di balik pintu dan mencuri dengar pembicaraan Sasuke dengan Hinata.
"Tapi mungkin jika yang disebut kesepian itu adalah karena merindukan orang-orang, mungkin aku sedang kesepian," lanjut Sasuke.
"Sasuke-san," ucap Hinata pelan. Ia tahu, Sasuke pasti merindukan keluarganya juga klan Uchiha yang sempat menjadi klan terpandang di Konoha. Beban batin Sasuke pasti sangat berat. Ia tak bisa membayangkan, jika saja ia berada di posisi Sasuke. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana ia hidup tanpa klan Hyuuga, tanpa orang tua dan keluarga.
"Tak ada yang salah dengan kerinduan. Justru orang yang tak pernah rindu itu adalah orang yang tak punya hati. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Sasuke-san bukanlah orang yang berhati batu. Sasuke-san tidak perlu memaksakan diri untuk melupakan semua kenangan itu. Orang-orang mungkin sudah tiada, tapi dengan terus mengingatnya, sesungguhnya mereka masih ada, mereka masih hidup, di sini," Hinata menyentuh dada Sasuke, meyakinkannya bahwa tak ada yang salah dengan dirinya.
Sasuke terpaku. Ia mengangkat tangannya lalu menggenggam tangan kanan Hinata yang masih menunjuk di dadanya.
"Hinata.. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku teringat sesuatu yang sangat tidak asing. Kurasa… ibuku ada di sini. Di hadapanku," ujar Sasuke. Melihat sosok Hinata entah kenapa membuatnya teringat pada ibunya.
Hinata kembali tersenyum. Ia mulai merasakan kehangatan sikap Sasuke. Perlahan namun pasti, dinding es yang menyelubungi Sasuke mulai mencair.
Kreek.. Pintu kamar terbuka. Sai berdiri di ambang pintu dan melihat "keluarga kecil" di hadapannya. Dengan latar anak-anak yang sedang tidur, Sasuke dan Hinata terlihat masih duduk, mereka berhadapan, dan tangan Sasuke masih menggenggam tangan Hinata.
"Aku merasakan kehangatan keluarga kecil yang bahagia di sini," kata Sai.
Hinata langsung saja menarik tangannya dari genggaman Sasuke. Sementara Sasuke yang memasang wajah stoicnya tidak merasa terganggu.
"Kalian jadikan aku apa di dalam drama keluarga ini?" tanya Sai. Ia berjalan mendekati keduanya lalu ikut duduk.
"M-maksud Sai-kun apa?" Hinata tidak mengerti dengan 'drama keluarga' yang dimaksud oleh Sai.
"Hinata-san ibu, Sasuke-kun ayah. Lalu aku?" Sai menunjuk Hinata, Sasuke, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah memelas dan ingin tahu. Wajah Hinata tiba-tiba menjadi sangat merah.
"Sejak kapan kau bersembunyi di balik pintu?" tanya Sasuke dingin.
"Hey hey, aku bertanya, dan aku butuh jawaban bukan pertanyaan," ujar Sai.
"A-ano, sebaiknya kita keluar. Nanti mengganggu anak-anak," kata Hinata. Ia pun keluar dari kamar, di belakangnya menyusul Sasuke dan Sai.
"Haaah.. Lagi-lagi aku dicuekin. Ah, mungkin saat seperti ini yang disebut dengan kesepian," ujar Sai yang berjalan paling belakang sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala.
-0-
"Okaerinasai, Hinata-sama," Neji menyambut kedatangan Hinata.
"Tadaima," ucap Hinata lemas.
Neji berjalan di belakang Hinata. Ia melihat keadaan Hinata tidak lebih baik dari beberapa hari yang lalu saat Naruto benar-benar menolak Hinata.
"Aa, Neji-nii-san, apa kau mendengar berita tentang hukuman untuk ee…S-sasuke-san?" Hinata tiba-tiba berbalik dan bertanya pada Neji.
"Kurasa berita itu sudah menyebar ke seluruh desa," balas Neji.
"Apa ada yang tau hukuman apa yang akan diberikan untuk Sasuke-san?"
"Sepertinya hal itu masih dirahasiakan,"
"Kuharap bukan sesuatu yang buruk," Hinata langsung masuk ke dalam rumah, seolah melupakan Neji yang barusan diajaknya berbicara.
Neji kembali menuju tempat latihannya. Ia sendiri pun berharap hukuman untuk Sasuke bukan hukuman mati. Walau ia tidak terlalu dekat dan kurang mengenal Sasuke, ia juga tak mau jika hal buruk itu terjadi. Ia dan teman-temannya sudah berjuang, turut membantu Naruto dan Sakura yang bersikeras membawa Sasuke pulang ke Konoha. Mereka tak mungkin lupa dengan janji Naruto yang diucapkan keras-keras bahwa ia pasti akan membawa Sasuke kembali. Tak adil rasanya jika perjuangan mereka sia-sia dengan dihukum matinya Sasuke. Sangat tidak adil.
-0-
Pagi hari itu desa Konoha tampak sepi. Jalanan lengang, toko-toko tutup. Tampak beberapa orang berlari-lari. Tapi di satu titik, berkumpul puluhan, bahkan ratusan orang. Mereka berkumpul mengelilingi sesuatu, seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan.
Hinata dan Neji berlari bersama menuju tempat itu. Kiba bersama Akamaru dan Shino, Shikamaru bersama Ino dan Chouji, Tenten, Lee dan Sai, mereka pun berlari tergesa-gesa.
"Hari ini Uchiha Sasuke akan dihukum mati karena kesalahannya yang tidak bisa dimaafkan," ujar salah satu petinggi Desa Konoha di tengah-tengah keramaian itu.
"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan itu!" teriak Naruto yang berada di depan kerumunan warga Konoha. Beberapa orang menahan Naruto yang meronta-ronta ingin membebaskan Sasuke yang diikat di depan.
"Kalian tidak berhak mengambil nyawa Sasuke-kun!" Sakura tak kalah histeris dengan air matanya yang terus keluar.
"Kau pikir laki-laki itu juga berhak mengambil nyawa orang-orang yang sudah dibunuhnya, hah?" teriak seorang laki-laki.
"Ya betul, Uchiha itu pantas dihukum mati!" beberapa orang tampak mulai terprovokasi.
Hinata, Neji, Kiba, Shino, Shikamaru, Ino, Chouji, Tenten, Lee, dan Sai menyerubut kerumunan untuk sampai di barisan depan. Mereka menyaksikan Sasuke yang tampak kusut dengan beberapa luka di wajahnya sedang terduduk dengan tangan yang diikat. Sasuke tak bergerak, ia menunduk, ia terlihat pasrah.
"Kalian pikir untuk apa aku dan teman-teman berjuang keras membawa Sasuke kembali kalau akhirnya kalian menghukum mati Sasuke, hah? Selama ini aku terus berlatih dan berusaha keras untuk menjadi lebih kuat agar aku bisa membawa Sasuke pulang! Kalian dengar itu?! Membawa Sasuke pulang! Bukan untuk dipertontonkan seperti ini!" teriak Naruto. Wajahnya merah, ia sangat marah. Ingin rasanya ia menghajar semua orang yang akan membunuh Sasuke. Ingin rasanya ia menyumpal mulut-mulut yang meneriakkan makian dan dukungan hukuman mati untuk Sasuke. Ia sangat ingin, tapi ia tidak boleh melakukan itu.
"Kumohon, bebaskan Sasuke-kun," Sakura terduduk dengan wajah penuh air mata.
'Apa ini? Sasuke-san akan dihukum mati?' Hinata masih terpaku di tempatnya. Air matanya mulai meleleh. Ia juga tidak bisa membiarkan Sasuke dihukum mati.
Hinata berlari ke depan, merentangkan tangan seolah ingin melindungi Sasuke. Teman-temannya terkejut saat melihatnya berada di depan.
"Sasuke-kun tidak boleh mati!" teriak Hinata.
Sasuke mengangkat kepalanya. Ia melihat Hinata berada di depannya, mencoba melindunginya. Ia juga mendengar tadi Hinata memanggilnya 'Sasuke-kun'.
Naruto melepaskan diri dari tangan-tangan yang menahannya, begitu pula Sakura. Mereka berdua juga berlari ke depan, berdiri dan merentangkan tangannya seperti yang dilakukan Hinata. Melihat itu, Sai, Neji, Kiba, Shino, Shikamaru, Ino, Chouji, Tenten, dan Lee melakukan hal serupa. Mereka berdiri mengelilingi Sasuke sambil merentangkan tangannya.
"Sasuke-kun adalah teman kami. Dengan semangat yang tinggi, kami tidak akan membiarkannya mati!" teriak Lee dengan penuh semangat.
"Naruto benar, kami berjuang untuk membawa Sasuke pulang, bukan untuk membiarkannya dihukum mati," ujar Neji.
"Walau pun akan merepotkan, tapi aku tidak akan membiarkan Sasuke di hukum mati," ucap Shikamaru.
"Oi, Sasuke-kun, jangan berwajah memelas seperti itu. Kau pun harus membela dirimu sendiri," kata Sai sambil menengok ke arah Sasuke.
"Sasuke tidak akan mati dengan cara seperti ini!" teriak Ino dan Tenten.
"Seperti kata Hinata, Sasuke tidak boleh mati," sahut Kiba dan Shino.
"Aku rela memberikan sebagian persediaan makananku pada orang lain asalkan Sasuke tidak dihukum mati," kali ini Chouji bersuara.
"Sudah kubilang, bebaskan saja Sasuke. Jika kalian menghukum mati Sasuke justru hal yang lebih buruk akan terjadi," ucap Kakashi.
Dukungan untuk Sasuke mengalir dari teman-temannya, para sensei, bahkan dari klan-klan terpandang di Konoha, termasuk klan Hyuuga.
"Kalian semua pasti sudah tahu tentang kisah klan Uchiha. Di sini Sasuke-kun adalah korban. Kalian tidak boleh menutup mata dan telinga agar terlihat tak tahu apa-apa. Sasuke-kun berhak melanjutkan hidupnya," kata Hinata.
"Ya, itu benar!" teriak pendukung yang lain.
"Aaargh! Kalian semua! Aku tidak akan mati seperti ini! Aku masih punya tugas untuk melanjutkan hidup! Aku harus mewujudkan keinginan Itachi! Aku akan hidup, aku akan lebih kuat, dan aku akan membangkitkan klan Uchiha! Kalian tak perlu ragu lagi denganku, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengabdi pada Konoha!" teriak Sasuke sambil terisak.
Semuanya terdiam. Beberapa detik semua diam tak bersuara. Sasuke kembali menunduk lemas dan meneteskan air mata. Bukan karena lemah. Ia bisa saja melepaskan diri, tapi ia sudah bertekad untuk tak lagi membuat masalah. Walau pun ia sendiri benci melihat posisinya yang menyedihkan sekarang ini, tidak ada cara lain untuk membuat masyarakat Konoha percaya lagi padanya. Teman-temannya juga masih tetap berdiri mengelilinginya, melindunginya. Jejak air mata dari Sakura, Hinata, dan Ino masih terlihat di wajah mereka. Mereka semua akan tetap di posisi itu, sampai ada keputusan. Mereka menunggu keputusan dari para petinggi Konoha. Tentunya 'kebebasan'lah yang mereka tunggu.
-to be continue-
Hontou ni gomennasai, minna-san.
Fifi baru bisa ngelanjutin fic ini. Huft, rasanya udah kayak kadaluarsa aja ini fanfic karena berbulan-bulan nggak tersentuh. Fifi juga udah ngerasa nggak enak banget sama tagihan dari para reader. Sekali lagi gomen..
Semoga chapter ini cukup untuk membayar tagihan-tagihan itu. hehe..
Balas Review
zae-hime: Gimana dengan SasuHinaSai yang sekarang? hhe
Axx-29: Gomen lama. Ini sudah lanjut ^^
Dewi Natalia: Ini chap 6nya :)
Echi Richi: Hmm, gimana perkembangan SasuHinaSai di sini? :D
alice9miwa: Arigatou sudah menunggu. Gomen updatenya lama. Untuk Sai, ikutin aja ceritanya nanti. hehe
lol: LOL juga ah :D
rura sun: Ini sudah update ^^
Guest: Ini update-nya ^^
: Sudah lanjut. Arigatou ^^
Ruki-chan SukiSuki'ssu: Ini sudah apdet Ruki-chan :)
indigohimeSNH: Iya, sedih kalo ingat Itachi :'(
lavender hime chan: Ini chap terbarunya ^^
ariefafelov: Gomen gomen, baru bisa nyelesain chap ini. Ini sudah update :)
Guest: Ini lanjutannya :)
rini andriani uchiga: Hehe.. Ini lanjutannya. Gomen lama..
hinahime7: Oke ^^
princess poetry: Ini sudah update :)
Hontou ni arogatou minna-san atas reviewnya. ^^
