==PART SEBELUMNYA==
Sakura tak menghiraukan Sasuke. Dia terus berjalan menuju kantin perusahaan. Sebenarnya berat bagi Sakura untuk tidak peduli dan bersikap sedikit kasar pada Sasuke. Tapi dia lakukan semua ini untuk mengontrol perasaanya, agar bisa mengurangi rasa cintanya pada Sasuke. Sakura terus melangkah, tiba-tiba ada seorang pria berhenti tepat didepannya. Si Pria mengenakan topi dan kaca mata hitam.
"Astaga!" Sakura terkejut setengah mati sambil memegang dadanya.
"Haruno Sakura!" ucapnya
"Si-siapa kau?" tanya Sakura pria itu tak menjawab. Dia hanya membuka kaca mata hitamnya. Sakura tak menyangka pria seperti dia mencarinya. "Sa-Sasori."
PLEASE LOOK AT ME / CHAP 13
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
.
Keterkejutan Sakura membuatnya mengeluarkan suara yang keras malah terkesan seperti berteriak. Orang yang berlalu lalang disekitarnya sontak menghadap kearah Sasori dan Sakura. Sakura benar-benar bingung kenapa seorang Sasori mencari dirinya? Memangnya dia sudah berganti selera sehingga mencari gadis super biasa seperti dirinya.
"Ssssstttt pelankan suaramu," pinta Sasori pada Sakura. Sejenak Sasori memakai kembali kaca mata hitamnya.
"Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Sakura ragu.
"Ayo ikut aku" Sasori menarik tangan Sakura tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. Langkah Sasori begitu panjang dan cepat, sehingga membuat Sakura sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkah kakinya dengan Sasori.
"Hei, kemana kita akan pergi?" ucap Sakura, namun Sasori sama sekali tidak menjawab.
Sakura pasrah tak berani mengatakan apapun. Dia melihat jari jemari Sasori menyentuh angka tujuh didinding lift. Sakura membelalakan mata, karena asori akan membawanya ke lantai paling atas dari gedung ini. Memang apa yang telah dia perbuat kepada Sasori sehingga mendadak Sasori ingin menemuinya?. Sakura berusaha mengingat hal-hal yang dia lakukan ketika bertemu Sasori dipesta ulangtahaun perusahaan Taka Group.
Susah payah Sakura mengingat namun Sakura sama sekali merasa tak pernah dia membuat kesalahan pada Sasori. Bagaimana mungkin bisa membuat kesalahan, bahkan pada saat itu bicara sepatah katapun pada Sasoripun tidak pernah. Perlahan pintu lift terbuka. Sasori keluar terlebih dahulu lalu kemudian disusul Sakura. Semakin jauhS asori melangkah, semakin jelas kalau dia membawa Sakura ke atas gedung.
"Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku? kenapa kau membawaku kesini?" tanya Sakura. Sebelum menjawab pertanyaan Sakura. Sasori melepaskan kaca mata hitamnya.
"Kau bernama Haruno Sakura, benarkan? kau juga adalah istri dari Uchiha Sasuke putra dari pemilik perusahaan in, benar kan?" ucapnya enteng.
"Dari mana kau tahu?"
"Sasuke menikahimu bukan karena dia mencintaimu namun karena dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat. Tapi sayang, dia mencintai wanita lain sedangkan cintamu hanya bertepuk sebelah tangan. Keluarga Sasuke memilih untuk membungkam pernikahan ini rapat-rapat agar image keluarga mereka diseluruh Jepang tetap menjadi keluarga yang sangat berwibawa dan berusaha menutupi kebusukan anaknya sendiri." Raut wajahSasori sangatlah santai dan kadang tersenyum sinis pada Sakura.
"Katakan padaku apa tujuanmu mencariku?" Sakura tahu ada sesuatu yang tidak beres dibalik semua ini.
" Tanpa kau sadari Sakura, kau dan aku memiliki suatu kesamaan bahkan keinginan yang sama."
"Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataanmu?"
"Kau mencintai Sasuke namun dia mencintai Shion. Aku mencintai Shion namun dia mencintai Sasuke. Persamaan kita adalah cinta kita sama-sama bertepuk sebelah tangan dengan orang yang begitu kita cintai. Aku tahu kau begitu sangat mencintai Sasuke. Aku hanya ingin mengajakmu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak kita."
"Apa yang kau katakan?" tanya Sakura singkat.
"Dengan keadaanmu seperti ini, seharusnya Sasuke lebih memperhatikanmu dan dia membesarkan anaknya bersamamu bukan hidup bahagia bersama dengan wanita lain. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan begitu juga dengan kau, bagaimana?" Sasori kelihatan tenang dan yang begitu panas dan angin yang berhembus kencang membuat Sakura agak sulit mendengarkan perkataan Sasori.
"Kau ingin mengajakku untuk berusaha memisahkan mereka berdua. Menjadikan Sasuke milikku dan Shion milikmu?"
"Tepat sekali. Aku akan melakukannya dan kau hanya membantuku sedikit saja. Aku akan membuatmu diakui oleh keluaraga Sasuke. Aku akan membuat seluruh Jepang tahu bahwa Sasuke sudah memiliki istri dan tidak seharusnya dia menjalin hubungan dengan Shion cucu dari pemilik perusahaan Taka Group . Jika ada wartawan yang mewancaraimu, kau tinggal mengatakan sejujurnya."
"Kau gila? aku tidak akan melakukan hal sepicik itu. Iya kau benar kalau aku menginginkan Sasuke, tapi bukan seperti ini caranya. Maaf jika aku menolak kerja sama denganmu. Aku bahagia kalau orang yang aku cintai itu bahagia. Aku akan mencintai Sasuke dengan caraku sendri. Aku peringatkan kau, jangan pernah kau mengusik kehidupan Sasuke. Mengerti"
"Wah ternyata Sakura yang lembut dan pendiam bisa marah kepadaku. Aku takut hehehe."
"Kau benar-benar gila. Dulu aku mengangumimu karena prestasi yang kau peroleh di dunia entertaint tapi ternyata sikap aslimu seperti ini. Kau benar-benar pintar beracting baik didalam drama maupun dalam kehidupan nyata. Aku pergi!" Sakura melangkahkan kakinya dan mulai menjauh dari Sasori.
"Aku harap kau tidak menyesal telah menolak ide dariku."
Sakura sama sekali tidak menghiraukan teriakan Sasori yang membuat kupingnya panas.
ooOOoo
Saat Sakura kembali menuju kantornya, Sakura merasa khawatir dengan perkataan Sasori. Yah, walaupun dia menolak ajakan Sasori namun dia masih bisa menjalankan rencananya sendiri. Mulai sekarang Sakura akan mewasapadai kegiatan Sasuke walaupun itu adalah hal kecil. Sakura terus berjalan cepat menuju kantor, karena dia harus menghadiri rapat perusahaan bersama dengan investor-investor perusahaan.
Dua jam mempelajari hal yang ada dikantor itu lebih dari cukup untuk menjalankan perusahaan atau bekerja dengan sungguh mulai detik ini. Ketika Sakura sampai diruangan yang kebetulan masih satu ruang dengan Sasuke, Sakura melihat Shion sudah ada disana. Perempuan santik itu sedang asyik berbincang dengan Sasuke. Sepertinya Shion juga tahu kalau ada Sakura disitu.
"Sakura-chan, ternyata kau satu ruangan dengan Sasuke?" tanyanya dengan nada ramah yang terkesan sedikit di paksakan.
"Tentu saja karena disini aku sebagai sekertarisnya" jawab Sakura singkat.
"Ya benar, sebagai sekertaris dan pastinya bukan sebagai istri Sasuke," ujar Shion. Sakura mencoba untuk menahan amarahnya sebisa mungkin. "Bisakah kau membuatkan secangkir kopi untuk aku dan Sasuke. Bukankan tugas sekertaris juga membuatkan kopi atasanya?"
"Baik, kalau begitu kau ingin kopi seperti apa?" tanya Sakura kesal.
"Aku ingin kopi dengan sedikit gula. Sasuke suka kopi manis jadi perbanyak gulanya mengerti?"
Sakura tak menjawab, dia lalu pergi meninggalkan mereka Sasuke dan Shion. Sasuke sedari tadi memperhatikan Sakura. Sebenarnya dia ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Sakura. Lamunannya buyar ketika Shion memanggilnya.
"Sasuke-kun, apa kau hari ini ada acara?"
"Iya, hari ini aku ada acara. Malam ini aku harus lembur untuk mengecek laporan dari para karyawan. Hari ini perusahaan kami juga mengadakan rapat dengan para investor asing."
"Hah sepertinya hari ini aku tidak bisa keluar denganmu. Sungguh menyebalkan".
"Lain kali saja kalau aku tidak sibuk kita pergi bersama."
Sakura selesai membuatkan kopi untuk Shion dan Sasuke. Sakura meletakan dua cangkir kopi ke meja yang dekat dengan tempat duduk Sasuke. Shion memandang tajam kearah Sakura. Senyum sinis tersungging dari bibir Shion, seolah dia menemukan suatu ide cemerlang.
"Sasuke-kun, kapan kau akan menceraikan istrimu?" tanyanya dengan suara keras yang tak wajar. Pertanyaan Shion yang diajukan pada Sasuke membuat amarah Sakura semakin menjadi-jadi. Namun dalam hati Sakura, berharap Shion segera meminum kopi dengan "sedikit gula" buatannya. "Bukankah semua rakyat Jepang tahu kalau putra dari pengusaha terkaya di Jepang adalah pacar dari cucu seorang pengusaha terkaya nomer dua diJepang. Jika semua orang tahu tentu saja hal ini akan berdampak pada saham perusahaan ayahmu. Bukankah benar begitu Sakura?" tanya Shion senang. Sasuke terkejut mendengar ucapan Shion. Entah kenapa Sasuke merasa sakit dengan pertanyaan yang diajukan oleh Shion.
"Shion, kenapa kau …"
" Iya, benar sekali nona Shion. Aku akan segera meminta cerai pada Sasuke. Tidak usah menunggu Sasuke yang melakukannya namun aku yang akan memintanya. Tentunya Sasuke akan setuju dengan ide ceraiku ini. Dengan begitu kalian bisa hidup bersama dan bahagia tanpa adanya karang penghalang dalam hidup kalian" ucap Sakura penuh amarah. Shion mulai menyeruput kopi pesanannya sembari memamerkan senyum sinisnya. Brussh! Shion memuntahkan kembali kopi panas yang sudah mampir dimulutnya.
"Hoeek, asin sekali. Hei Sakura, kau menambahkan garam kedalam kopiku?!" ucap Shion murka. Tatapan membunuh ia perlihatkan pada Sakura.
"Kenapa, bukankah kau tidak menyukai gula?. Menurutku dengan sedikit tambahan garam, rasa kopi itu akan terasa lebih enak dan nikmat!" bantah Sakura tanpa takut sedikitpun. Sakura kemudian berjalan meninggalkan Shion. Disisi lain Sasuke terkikik menertawakan Shion.
"Huwaaa berani sekali dia" ucap Shion heran.
ooOOoo
Jam menunjukan pukul 22.00 waktu Jepang. Sakura mengusap-usap pundaknya. Sendirian dia duduk dihalte menunggu bis datang. Saat di kantor, sekertaris Akimoto mengatakan padanya kalau sepulang dari kerja, Sasuke dan dirinya harus menemui pak presedir. Katanya ada hal yang harus dibicarakan. Kalau Sakura tak salah menebak, beliau pasti akan menanyakan tentang pemberitaan di televisi tentang putranya.
Mata Sakura tertuju pada sebuah toko yang tak jauh dari Halte. Toko yang menjual perlengkapan bayi. Dia berjalan menuju toko dengan perasaan senang dan bahagia. Sakura tak menyadari kalau ada seorang pria yang mengikutinya dari kantor. Dari luar toko. terlihat Sasuke sedang memandang Sakura penuh arti yang sibuk memilih-milihpakaian bayi wanita. Hatinya tersayat melihat Sakura. Ingin sekali dia memeluk Sakura disaat sulit seperti ini namun dia tak bisa melakukannya.
Seperti yang Sakura bilang, jika Sakura akan mengajukan padanya, tak ada pilihan lain kalau dia harus menyetujuinya kalau itu memang terjadi dan demi kebahagiaan dan kenyamanan hidup merasa perceraian ini berat untuknya karena dia sadar, kalau dirinya mencintai Haruno Sakura. Sakura membeli satu stel pakaian bayi perempuan yang lucu. Sasuke tersenyum kecil melihat ulah istrinya. Dari mana dia tahu pasti kalau bayi yang di kandungnya adalah perempuan, batin Sasuke. Saat Sakura keluar dari toko Sasuke bersembunyi agar Sakura tak melihatnya.
Akhirnya bisa yang ditunggu oleh Sakura datang. Bis terlihat sangat sepi, hanya ada dia seorang diri yang duduk ditengah-tengah bis lalu kemudian disusul oleh seorang laki-laki tampan berjas masuk kedalam bis. Sakura terkejut, karena laki-laki itu adalah Sasuke. Wajah Sakura yang terlihat ceria sebelumnya berubah menjadi masam seketika. Bis perlahan berjalan, keadaan didalamnya pun sunyi senyap.
"Bagaimana perasaanmu setelah satu hari bekerja?" tanya Sasuke memecahkan kesunyian.
"Cukup melelahkan tapi banyak pelajaran yang diambil hari ini."
"Ketika kau membantuku presentasi. Kau terlihat smart dan hebat heheh," puji Sasuke namun Sakura hanya membalasnya dengan senyuman kecil. "Apa yang kau bawa itu?" tanya Sasuke pura-pura tidak tahu.
"Ini adalah makanan ringan. Entah kenapa aku ingin memakan makanan seperti ini."Kata Sakura bohong. Sasuke tersenyum kecil mendengar kebohongan dari istrinya.
"Besok, ayah sudah bisa pulang tapi beliau harus beristirahat."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu".
"Sakura, apa kau sudah siap menghadapinya nanti?"
"Menghadapi apa?".
"Pertanyaan yang akan di cecarkan pada kita berdua saat dirumah sakit."
"Ohh itu. Tak ada jalan lain selain kau harus jujur dengan ayahmu, kunci semuanya adalah kau Sasuke"
"Aku mengerti. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan terhadap Shion itu hebat sekali,"ucap Sasuke singkat. Sakura hanya tersenyum mendengar ucapan Sasuke.
ooOOoo
Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah sakit. Sasuke dan Sakura berjalan berjauhan. Tak ada satu patah pun yang keluar dari mulut mereka. Sakura berjalan didepan Sasuke. Tangan kanannya asyik mengayun-ayunkan tasnya. Sasuke berjalan perlahan, matanya tak henti memandang Sakura dari belakang. Semakin hari Sakura semakin cantik dan terlihat anggun dengan balutan baju kerja. Langkah kaki mereka membawa dua insane ini ke kamar ayah Sasuke. Didalam ruangan tak hanya ada orang tua Sasuke , namun orang tua Sakura juga. Sepertinya akan ada pembicaraan yang serius.
"Kalian sudah datang?" tanya ibu Sakura ramah. Sasuke dan Sakura membungkuk kecil. Ayah Sasuke melihat putranya dengan tatapan tajam.
"Sasuke, bisakah kalian menjelaskan berita yang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini? Kenapa kau melakukan hal memalukan seperti itu?" tanya ayah Sasuke.
"Aku sama sekali tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti itu ayah."
"Sekarang bagaimana? Semua orang menganggap kalau Sasuke menjalin hubungan dengan cucu dari Presdir Taka. Banyak dari mereka yang menginginkan Sasuke dan gadis itu segera menikah. Bahkan presdir Taka sendiri menghubungiku dan memintaku untuk membahas hal ini."
"Apa? apa yang ayah maksudkan?" tanya Sasuke. Ayah Sasuke tak menjawab.
"Presedir Taka ingin sekali kau dan cucunya menikah. Beliau menghubungi ayahmu untuk membahas hal ini. Walaupun ayahmu sudah berusaha menolaknya namun beliau masih memaksa ayahmu. Bahkan peresedir Taka sedikit mengancam ayahmu," ucap Ibu Sasuke. Pandangan beliau beralih memandang Sakura dengan tatapan iba. Sasuke tak mengatakan apapun. Dia sendiri bingung dengan apa yang ia hadapi sekarang.
"Mengancam ayah?" tanya Sasuke ragu
"Sakura apa kau lelah? Kemarilah duduk dengan ibu," ajak Ibunya. Sakura berjalan lalu kemudian duduk didekat ibunya. Ibu Sakura membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Beliau merasa sakit tiap melihat putrinya. Sakura duduk tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Ya mengancamku. Perusahaan Taka adalah investor terbesar diperusahaan kita. Selain itu aku menjadi seorang pengusaha sukses seperti sekarang berkat pengajaran dari beliau. Kalau aku menolaknya maka dia akan menarik semua investasi dari perusahaan ayah. Kalau hal itu terjadi maka besar kemungkinan perusahaan kita akan bangkrut," ucap ayah Sasuke gelisah.
" Presedir Taka, tidak tahu kalau kau sudah menikah Sasuke," ucap Ibunya. Sasuke terdiam. Posisinya benar-benar sulit. Dia tidak mau berpisah dengan Sakura namun dia juga tidak mau membuat keluarganya menderita jika perusahaan mengalami kebangkrutan.
"Kalau begitu, segera urus ceraiku dengan Sasuke!" ucap Sakura tanpa ragu. Semua orang menatap Sakura heran. "Hanya ini satu-satunya cara agar perusahaan ayah mertua tetap aman. Lagi pula aku dan Sasuke sama sekali tak memiliki kecocokan. Kami selalu bertengkar dan jarang berbicara. Menjalani kehidupan rumah tangga seperti itu sangatlah sulit. Jadi lebih baik kita bercerai saja." Sakura mengatakan hal itu dengan berat hati namun ini jalan yang terbaik untuk semuanya.
"Iya benar sekali. Biarkan Sakura hidup bersama kami. Dari awal pernikahan ini tidak beres. Lagipula Sasuke melakukan hal itu bukan karena dia mencintai putriku tapi karena dia mabuk" kata Ibu Sakura.
"Benar sekali Uchiha Fugaku sahabatku. Perceraian adalah hal yang terbaik untuk semuanya. Kau bisa mempertahankan perusahaanmu dan menikahkan putramu dengan orang yang dicintainya. Dan putri kami hidup bahagia tanpa tekanan, benar kan? kata ayah Sakura penuh kewibawaan.
"Tapi Kizashi-san …" ucap ayah Sasuke pada ayah Sakura yang merupakan sahabat lamanya.
"Jangan korbankan kehidupanmu demi aku dan keluargaku. Kami sangat bersyukur kau sudah membantu hidup kami selama ini. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Putri kami akan baik-baik saja. Kami yang akan membesarkan cucu kami," ujar ayah Sakura.
"Ahhh, aku tidak tahu bagaimana cara membalas segala kebaikanmu padaku selama ini Hyuga Hiashi. Kau selalu membuat aku merasa bersalah padamu. Aku akan memberikan biaya padamu untuk membesarkan cucu kita. Maaf kan aku Hiashi-san," gumam ayah Sasuke.
"Tidak apa-apa, sudah saatnya kita pulang. Aku dan sekeluarga pamit. " Ayah, Ibu dan Sakura beranjak dari ruangan. Mereka berjalan perlahan. Sasuke merasa tak sanggup untuk menjalani semuanya. Dia tak bisa berpisah secepat itu dengan Sakura.
"Biarkan Sakura tinggal bersamaku sebelum kita resmi bercerai."
Semua orang memandang Sasuke begitu pula dengan Sakura. Sakura bingung namun terbesit sedikit rasa bahagia yang ia rasakan karena Sasuke mencegahnya pergi. Namun ini tak boleh terjadi padanya. Dia harus bisa segera menghilangkan perasaannya kepada Sasuke.
ooOOoo
Beberapa jam kemudian Sasuke dan Sakura sampai dirumah yang besar, indah dan mewah. Selama perjalanan Sakura tak mengatakan apapun. Dia langsung menuju kamar. Sakura mengeluarkan dua koper besar. Dia memasukan semua baju-bajunya. Disisi lain Sasuke duduk santai disofa panjang sambil menonton televisi. Tak lama kemudian Sakura muncul dengan dua koper yang diseretnya. Hal ini sontak membuat Sasuke bertanya-tanya dan kaget. Sakura tak menghiraukan Sasuke yang berdiri mematung sambil melihatnya.
"Mau kemana?" tanya Sasuke manja. Langkah Sakura terhenti.
"Tidak tahu, yang terpenting aku tak ada di rumah besar ini." Sakura berbicara tanpa melihat Sasuke.
"Bukankah aku sudah bilang pada orang tuamu kalau kau harus tinggal bersamaku sebelum kita resmi bercerai" ucap Sasuke.
"Sekarang atau nanti aku pergi dari sini sama saja, karena pada akhirnya suatu saat nanti aku akan keluar dari sini. Jadi untuk apa mengulur-ulur waktu tinggal disini." Sakura perlahan mulai melangkahkan kakinya.
"JANGAN PERGI!" teriak Sasuke. Untuk kedua kalinya Sakura terhenti dari langkahnya.
"Jangan pergi? Kenapa ? bukankah dari dulu kau menginginkan hal ini. Bukankah perceraian denganku adalah impian terbesarmu agar kau bisa menjalin hubungan dengan Shion. Enam bulan sudah aku mengandung bayi ini. Maaf aku melanggar surat perjanjian kita karena aku ingin perceraian ini lebih awal" Sakura tak banyak bicara, dia pun kembali melangkahkan kakinya.
"AKU MENCINTAIMU!" teriak Sasuke. Tubuh Sakura mendadak beku, seolah tak bisa di gerakan. "Aku mencintaimu, jadi aku mohon jangan pergi !".
TO BE CONTINUE
WAHHHHH AKHIRNYA SASUKE MENYATAKAN CINTANYA PADA SAKURA 0
