Tap tap tap.

Hinata menyusuri lorong rumah sakit yang tidak ramai. Ada rasa ragu dalam hatinya untuk meneruskan langkah kakinya. Namun entah mengapa kakinya terus berjalan, seperti ada magnet yang menariknya untuk mendekati ruangan itu.

Tap.

Hinata menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu ruangan yang dituju. Kali ini ia ragu apakah ia harus masuk ke dalam. Ia menunduk memainkan jari tangannya, berpikir sejenak, mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya ia putuskan untuk masuk. Ia baru saja akan membuka pintu sebelum akhirnya ia mendengar percakapan renyah di dalam sana yang membuatnya tetap berdiri di tempat.

"Hora, Sasuke-kun. Kau harus makan," Hinata mendengar suara Sakura. Sepertinya Sakura sedang memberikan makanan untuk Sasuke.

"Ne Sakura-chan, kau tidak melihat wajah Sasuke? Sepertinya dia sudah kekenyangan," kali ini suara Sai yang didengarnya.

"Aaa begitu.. Gomen Sasuke-kun, aku terlalu bersemangat,"

"Sakura-chan, aku juga mau disuapin," suara cempreng ini, tentu saja suara Naruto. Ia membayangkan wajah Naruto yang sedang memasang wajah imut di depan Sakura. Dadanya kembali sesak. Ia tak percaya, sampai saat ini ia masih belum bisa melupakan Naruto.

"Aw!" Naruto berteriak.

"Baka! Kau kan tidak sedang sakit," sepertinya Sakura baru saja memukul Naruto.

"Tapi aku kan kekasihmu. Masa aku harus sakit dulu baru kau mau menyuapiku," Hinata sedikit cemburu mendengarnya. Jika saja Naruto bersamanya, ia akan bersedia menyiapkan makanan bahkan menyuapi Naruto setiap hari. Ups! Hinata menggelengkan kepalanya, memecah khayalannya yang hanya akan membuat lukanya terbuka lagi. Ia tak boleh cemburu. Untuk apa ia cemburu? Ia tidak berhak untuk cemburu. Naruto bukanlah siapa-siapanya. Ia hanya orang yang ia kagumi dan sempat menempati hatinya selama bertahun-tahun dan sekarang harus ia hilangkan dari pikirannya. Dan ia sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Naruto.

Sreet.

Hinata gelagapan saat pintu digeser dan menampakkan Sai di sana. Untung saja ia sudah menggeser dirinya ke samping sehingga ia tidak terlihat oleh Naruto, Sasuke, dan Sakura yang ada di dalam.

"Hinata-san?"


Help Me

A Naruto Fanfiction by Fifi Violet

Naruto © Masashi Kishimoto


Sakura membereskan peralatan makan Sasuke dengan cermat sementara Naruto melihatnya dengan malas. Entah kenapa akhir-akhir ini Naruto begitu cemburu pada Sasuke yang selalu diperhatikan oleh Sakura. Lihat saja bagaimana Sakura merawat Sasuke yang sedang sakit setelah kemarin ia babak belur dipukuli tanpa ada perlawanan sedikit pun. Sakura sudah terlihat seperti istri Sasuke saja. Tentu saja Naruto cemburu.

"Arigatou," tiba-tiba Sasuke mengeluarkan suaranya. Sakura menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah Sasuke, begitu pula Naruto.

Naruto berjalan mendekati Sasuke. Begitu tiba di samping Sasuke, dengan cengiran khasnya, ia menepuk punggung Sasuke, "Hey, kita semua kan teman."

"Apa yang kau lakukan Naruto? Kau memukul Sasuke-kun!" Sakura memarahi Naruto. Naruto baru sadar bahwa tepukannya tadi cukup keras, membuat Sasuke sedikit meringis.

"Ahahaha, gomen gomen, Sasuke," Naruto kembali mengeluarkan cengirannya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku akan memaafkanmu jika aku sudah menjadi Hokage," ucap Sasuke datar sambil melempar tatapan tajam ke arah Naruto.

"Heeeh?" Naruto terkejut. Yang benar saja Sasuke mau menjadi Hokage. Ia tidak terima. Sangat tidak terima. "Itu tidak akan terjadi, Sasuke. Akulah yang akan menjadi Hokage," kata Naruto.

"Bagaimana jika aku benar-benar menjadi Hokage?" tanya Sasuke yang ingin tahu ekspresi Naruto.

"Sebelum itu terjadi, kau harus berduel denganku secara jantan," ujar Naruto. Ia membuang muka.

"Aku akan terima tantanganmu," Sasuke menyeringai. Sepertinya ia senang mengganggu Naruto.

"Kau serius, Sasuke?" Naruto mencoba memastikan. Ia hanya menganggap bahwa ucapan Sasuke tadi hanyalah gurauan untuk membuatnya kesal. Namun ia tidak mendapat jawaban dari Sasuke. Sasuke justru menyeringai senang. 'Kena kau, Naruto!'

.o0o.

"Kenapa tidak masuk?" tanya Sai setelah dari tadi ia dan Hinata berjalan bersama dalam keheningan.

"Eh?"

"Iya, tadi kau mau menjenguk Sasuke-kun kan?" Sai menoleh ke arah Hinata.

"Ah. E-eto, aku merasa tidak enak. Sepertinya Tim 7 sedang asyik mengobrol. Aku tidak ingin mengganggu," ujar Hinata.

"Tim 7? Lagi-lagi kau melupakanku. Aku kan juga ada di sana," Sai memandang langit. Ia berekspresi. Kecewa. Ya, dia kecewa. Kenapa ia sering dilupakan? Kenapa pula ia sering kali diacuhkan? Sejak misi yang membuatnya satu kelompok dengan Hinata dan Sasuke, sepertinya Hinata hanya memperhatikan Sasuke dan sering kali mengabaikan keberadaannya.

Hinata melihat Sai. Tiba-tiba Hinata merasa bersalah.

"Err.. Maksudku Tim 7 dan Tim Kakashi," ucap Hinata yang berusaha membenarkan perkataannya tadi. Entah kata-kata yang dipilihnya sekarang tepat atau tidak.

Mereka masih terus berjalan berdampingan. Mereka kembali diselimuti keheningan. Begitu menemui kursi, mereka memutuskan untuk duduk barang sebentar. Tak enak rasanya jika mereka teus mengobrol sambil berjalan entah ke mana.

"Kenapa sendirian?" lagi-lagi Sai yang harus memecah keheningan dengan melontarkan pertanyaan.

"Sebenarnya tadi aku mau menemui Kiba-kun dan Shino-kun. Tapi saat lewat rumah sakit kurasa aku ingin mampir," kata Hinata.

"Kau mencari pelarian?" Sai terus memberikan pertanyaan seperti sedang menyelidiki Hinata saja. Pertanyaan Sai benar-benar to the point.

"Eh?" Hinata menengok ke arah Sai, mencoba meminta penjelasan apa maksud dari pertanyaan Sai itu.

"Kau mencoba melupakan Naruto-kun, dan sebagai pelariannya kau berusaha memperhatikan Sasuke-kun?" tebak Sai.

Hinata terdiam. Ia menelan ludahnya dengan agak susah. Kata-kata Sai benar-benar membuatnya tertohok. Ia ingin menyangkalnya. Tapi sepertinya kenyataannya memang demikian. Ia sendiri tidak begitu mengerti dengan kelakuannya saat ini yang hampir selalu memikirkan Sasuke. Mungkin saja memang benar yang dikatakan oleh Sai bahwa ia hanya mencari pelarian.

"Aku… aku tak tahu," suara Hinata sedikit serak. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Tidak apa," Sai meletakkan telapak tangan kirinya ke puncak kepala Hinata sambil memberinya usapan pelan. Hinata tersentak, ia menatap Sai yang mencoba tersenyum tulus padanya. "Tak ada yang salah denganmu. Jika kau mau menjadikanku pelarianmu aku tak akan keberatan," lanjut Sai.

Kali ini Hinata bingung. Apa maksud Sai yang tidak keberatan dijadikan tempat pelarian? Ia tak tahu apakah Sai benar-benar berkata serius. Mungkin saja ia berkata demikian hanya untuk menghibur Hinata.

"Oi Hinata!" teriak Kiba yang datang bersama Akamaru dan Shino. Mereka mendekati Sai dan Hinata yang masih duduk di kursi. Sai dan Hinata memandang mereka. Hinata menyeka air matanya.

"Kau membuat Hinata menangis, hah?!" tanya Kiba pada Sai. Bukannya menjawab, Sai justru memperlihatkan senyum palsunya yang membuat Kiba jengkel. "Apa maksud senyummu itu, Sai?"

Hinata berdiri. "Aku tidak apa-apa Kiba-kun. Gomen, membuat kalian harus mencariku. Kalian pasti sudah menungguku lama sekali," ujar Hinata dengan rasa bersalah. Jika sudah melihat Hinata demikian, tidak mungkin Kiba melanjutkan kekesalannya. Ia tahu akhir-akhir ini Hinata sedang banyak pikiran, ia tidak mau menambah masalah untuk Hinata.

"Ayo!" ajak Kiba.

"H-hai," balas Hinata. Ia berjalan mengikuti Kiba, Akamaru, dan Shino yang sudah berjalan duluan di depan. Namun sebelum jauh, ia berbalik lalu membungkukkan badannya, "Arigatou, Sai-kun."

Hinata tidak tahu, bahwa setelah Hinata kembali berbalik dan berjalan, di belakangnya, wajah Sai sedikit bersemu. Tentu saja semburat merah itu sangat terlihat karena begitu kontras dengan wajahnya yang keterlaluan pucatnya. Tapi Sai bersyukur, Hinata tidak melihatnya dalam keadaan seperti itu. Sai pun tersenyum.

.o0o.

Shikamaru, Chouji, dan Ino menjenguk Sasuke di rumah sakit. Ino menyuruh Shikamaru dan Chouji membawakan kantong yang berisi makanan dan buah-buahan untuk Sasuke, sementara ia sendiri membawa sebuket bunga.

"Ugh, benar-benar merepotkan. Bukankah kita tidak harus membawa makanan sebanyak ini?" keluh Shikamaru.

"Sudahlah, kau diam dan bawa saja kantong itu. Dan kau…Chouji!" Ino terkejut ketika ia baru saja akan berbicara dengan Chouji justru melihat Chouji melahap beberapa bungkus makanan yang ada di dalam kantong yang dibawanya. "Chouji! Dari tadi aku sudah bilang, jangan sentuh makanan ini dan jangan kau pindahkan ke dalam perutmu!" Ino marah-marah pada Chouji.

"Ah gomen, kurasa Sasuke tidak akan bisa menghabiskan ini semua, jadi aku…" belum selesai Chouji menjelaskan, sebuah benjolan sudah muncul di kepalanya akibat pukulan dari rekan setimnya itu. "Baka!" Ino langsung merebut kantong yang dibawa Chouji. Memang benar, adalah hal yang salah untuk menyuruh Chouji membawa makanan. Ino mengeluarkan nafas berat.

"Ohayou~" teriak Ino ketika membuka pintu ruang perawatan Sasuke.

"Suaramu terlalu kencang, Ino!" Sakura membalas dengan teriakan.

"Heh, bahkan suaramu pun tak kalah kerasnya, Sakura," desis Shikamaru.

Shikamaru dan Ino meletakkan kantong dan bunganya tadi di meja. Shikamaru dan Chouji langsung menghempaskan diri ke tempat duduk yang ada di ruangan yang cukup luas itu. Sementara Ino mengeluarkan jeruk yang rencananya akan ia kupaskan untuk Sasuke.

"Sasuke-kun, aku kupaskan jeruk ya," ucap Ino dengan manis.

"Sasuke-kun sudah makan, dan tadi aku sudah menyuapkannya buah-buahan. Jadi kau tidak perlu repot-repot lagi mengupaskan jeruk untuknya. Sasuke-kun sudah kenyang," kata Sakura yang tak suka dengan wajah manis yang dibuat-buat oleh Ino itu. Sakura dan Ino pun adu pandang, beberapa kilatan warna biru dan kuning tampak menghubungkan mata Sakura dengan Ino.

"Hhh, wanita benar-benar merepotkan," ucap Shikamaru dengan malas. Ia menguap karena merasa bosan di dalam sana. Ruangan ini berisik oleh ocehan-ocehan Sakura dan Ino. Bahkan kedua kunoichi itu tidak melihat Sasuke yang sepertinya berada di antara hidup dan mati karena mendengar teriakan-teriakan mereka. Bagaimana tidak? Sakura ada di kiri Sasuke, dan di kanannya ada Ino, dan dijarak sedekat itu, Sakura dan Ino masih saja berteriak-teriak. Tentu saja Sasuke yang berada di antara mereka menjadi korbannya.

"Sakura, kau itu sudah punya Naruto. Jadi lepaskanlah Sasuke-kun untukku," ucap Ino. Naruto yang mendengarnya langsung menjadi cerah seakan setuju dengan perkataan Ino.

"Yaa memang. Tapi Sasuke-kun juga teman setimku," balas Sakura dengan sarkastik. Ino jengkel, ia pun memilih menghempaskan diri di kursi bersama yang lain.

"Aku tadi sempat mendengar pembicaraan kalian yang menarik tentang Hokage," ucap Shikamaru.

"Kau mendengarnya Shikamaru?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Suara Naruto yang cempreng itu cukup keras," kata Shikamaru. Naruto yang mendengarnya memasang wajah tersinggung.

"Jangan bilang kalau kau juga mau jadi Hokage, Shikamaru," Naruto memelototi Shikamaru. Shikamaru menatap malas Naruto.

"Aku tidak berniat untuk menjadi Hokage yang dipenuhi dengan berbagai hal yang merepotkan," kata Shikamaru. Hal ini membuat Naruto lega.

"Tapi jika aku dipilih menjadi Hokage, aku hanya perlu membuatnya menjadi sesuatu yang tidak merepotkan," sepertinya Shikamaru juga ingin menjahili Naruto.

"Nani?!" teriak Naruto. Ia stres karena hari ini dua temannya berbicara tentang menjadi hokage. Kalau seperti ini, perjalanannya untuk menjadi hokage akan semakin susah.

Sakura, Ino, dan Chouji tertawa, Sasuke menyeringai, Shikamaru tersenyum melihat ekspresi Naruto.

"Bagaimana kalau Sasuke-kun sudah sehat, kita mengadakan pesta perayaan. Bersama dengan teman-teman seangkatan kita," Ino memberikan ide.

"Aku ikut! Pasti akan menyenangkan," seru Naruto yang kembali bersemangat.

"Ada pesta, ada makanan. Tentu saja aku ikut," kata Chouji.

.o0o.

Mereka sudah berkumpul. Di salah satu kedai di Konoha, para ninja itu duduk mengelilingi sebuah meja panjang yang di atasnya sudah tersaji berbagai macam makanan. Sasuke yang menjadi tokoh utama dalam pesta ini duduk paling ujung, kemudian disamping kanannya berturut-turut ada Naruto, Sakura, Sai, Hinata, Neji, dan Tenten, di sebelah kirinya ada Shikamaru, Ino, Chouji, Kiba, Shino, dan Lee. Mereka menyantap makanan sambil sesekali bernostalgia tentang masa kecil mereka di akademi. Suara Naruto, Lee, Sakura, dan Ino lebih mendominasi suasana, yang lain hanya sesekali berbicara, selebihnya mereka hanya mengangguk, tertawa, atau pun tersenyum.

Begitu acara selesai, sebelum mereka bubar, Sasuke angkat bicara.

"Arigatou, minna. Kalian sudah mendukungku untuk bisa berada di sini," ujar Sasuke dengan ramah. Dalam hatinya ia tak suka harus memasang wajah ramah seperti itu. Ia merasa menjadi bukan dirinya karena memaksakan diri untuk berbicara ramah dan membuang wajah dinginnya. Jika bukan karena Itachi, ia tidak akan mau melakukan hal seperti ini.

"Gomen, aku sudah membuat banyak sekali masalah untuk kalian dan Desa Konoha. Hontou ni gomennasai," Sasuke berdiri lalu membungkukkan badannya.

"Sudahlah Sasuke, kau tidak perlu terlalu formal seperti itu," seru Naruto. Sasuke kembali duduk.

"Mulai sekarang, aku akan menjalani hidup baru dan memulai semuanya dari awal untuk membangkitkan kembali klan Uchiha," lanjut Sasuke. "Dan untuk itu…aku ingin meminta tolong pada..Hyuuga Hinata," Sasuke mengakhiri kata-katanya.

Tiba-tiba semua yang ada di situ terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"Bukankah itu artinya Sasuke-kun ingin menjadikan Hinata-san sebagai kekasih atau bahkan istrinya?" tanya Sai sekaligus memastikan. Pertanyaannya itu memecah keheningan.

Satu detik.

Dua detik.

"Heeeeh?" serentak yang lainnya terkejut. Melongo. Benarkah Sasuke menembak Hinata?

Hinata sendiri tidak kalah kagetnya. Wajahnya merah padam. Ia malu. Ia pun berdiri dan segera berlari meninggalkan kedai tersebut. Neji turut berdiri, ia harus mengejar Hinata. Namun sebelum Neji pergi, ia melangkah ke hadapan Sasuke.

"Kau.. Jangan macam-macam dengan Hinata-sama," ancam Neji. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke, memberi Sasuke deathglare. Sasuke pun meladeninya dengan balik memberikan deathglare. Tiba-tiba Sasuke memalingkan wajahnya. Ia tidak mau lama-lama meladeni deathglare si jenius Hyuuga itu. Ia tidak mau kejadian di akademi dulu terulang, sebuah ciuman yang berawal dari adu deathglare. Cukup pengalaman buruknya itu dengan Naruto dan jangan ditambah lagi dengan Neji, mengingatnya saja sudah membuatnya ingin muntah. Neji pun meninggalkan kedai itu dan menyusul Hinata.

"Kau terlalu terburu-buru Sasuke-kun," ujar Tenten yang sudah sepenuhnya sadar dengan situasi ini.

"A~~ah. Sasuke-kun, sepertinya kau tidak tahu cara berhadapan dengan wanita ya," kata Lee.

Yang lain masih diam. Mereka masih belum sadar, bingung dengan penafsiran dan khayalan masing-masing.

"Kurasa kau butuh semacam…kursus cinta," Lee mengedipkan matanya.

-To Be Continue-


Di sini Neji masih hidup, karena waktu pertama kali bikin fic ini, Neji masih hidup (dan author juga ga rela Neji mati). Jadi jangan bingung ya..

Okay, Arigatou, minna-san yang sudah mereview fic ini.

hinatauchiha69, hime, suhi yu, tia uchiha, sherinaru, CloverLeaf Ifa-chan, n, ariefafelov, dan Enrique.