==PART SEBELUMNYA==

"JANGAN PERGI!" teriak Sasuke. Untuk kedua kalinya Sakura terhenti dari langkahnya.

"Jangan pergi? Kenapa ? bukankah dari dulu kau menginginkan hal ini. Bukankah perceraian denganku adalah impian terbesarmu agar kau bisa menjalin hubungan dengan Shion. Enam bulan sudah aku mengandung bayi ini. Maaf aku melanggar surat perjanjian kita karena aku ingin perceraian ini lebih awal" Sakura tak banyak bicara, dia pun kembali melangkahkan kakinya.

"AKU MENCINTAIMU!" teriak Sasuke. Tubuh Sakura mendadak beku, seolah tak bisa di gerakan. "Aku mencintaimu, jadi aku mohon jangan pergi !".

PLEASE LOOK AT ME / CHAP 14

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T

WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

INSYALLAH FF INI KURANG DUA ATAU TIGA CHAPTER LAGI SUDAH END DAN JANGAN KHAWATIR FF INI BERAKHIR SEPERTI APA YANG READERS BAYANGKAN/HARAPKAN, WALAUPUN KONFLIKNYA SEDIKIT RIBET, RUMIT DAN NYINETRON BANGET Hehehe.

.

.

.

Setelah mendengarkan ucapan Sasuke, perasaan Sakura campur aduk antara bahagia dan sedih. Akhirnya setelah penantian yang lama, Sasuke menyatakan cinta padanya atau lebih tepatnya juga sudah mencintainya. Sakura perlahan membalikan badan. Matanya memandang Sasuke dengan tatapan tak percaya. Sasuke berharap, setelah dia menyatakan perasaannya Sakura akan kembali padanya, menjalani kehidupan rumah tangga yang normal seperti rumah tangga orang-orang lainnya.

"Terima kasih kau sudah menyatakan perasaanmu padaku, tapi ini semua sudah terlambat Sasuke" ucap Sakura dengan pipi yang berlinang air mata.

"Terlambat? tidak Sakura, tak ada yang terlambat untuk memulai semuanya dari awal!"

"Kau salah Sasuke, ini semua sudah terlambat. Apa kau lupa kalau perusahaan ayahmu jatuh ke tangan Taka group. Dalam waktu sedetik saja mereka bisa membuat hidupmu berubah drastis. Andai saja kau mengatakan ini sejak awal padaku maka hal ini tak kan terjadi. Ini adalah takdirku untuk tidak pernah memiliki dirimu. Dibalik ini semua pasti Tuhan akan menunjukan Hal yang terbaik buat semuanya."

"Aku akan bilang pada ayah kalau mereka semua akan baik-baik saja kalau aku tidak menikah dengan Shion. Aku akan berusaha semampuku untuk mempertahankan perusahaan."

"Apa kau yakin dengan itu? apa kau sudah tahu langkah apa yang akan kau ambil?" ujar Sakura. Sasuke tak bisa menjawab pertanyaan istrinya karena dia sendiri memang tidak tahu apa yang harus lakukan nanti. "Aku juga sangat mencintaimu. Inilah caraku untuk mencintaimu Sasuke, yaitu dengan membuat hidupmu dan keluargamu bahagia. Selama ini aku selalu membuatmu sedih, menderita dan tertekan. Mungkin takdir kamu sebenarnya adalah Shion bukan aku. Sampai Jumpa Sasuke."

Sakura menyeret kedua kopernya penuh dengan perasaan sedih. Tiba-tiba, Sakura merasakan seseorang mendekap tubuhnya dan sepasang tangan bergelayut dikedua sisi bahunya. Hangat, semua udara dingin yang menyentuh kulitnya berubah menjadi hangat. Hangat didalam pelukan Sasuke. Hal ini membuat Sakura semakin menangis dan rasa sakit yang teramat perih di hatinya. Keputusan Sakura sudah bulat untuk berpisah dengan Sasuke serta lebih mementingkan nasib perusahaan milik ayah pria yang dicintainya. Dengan pelan Sakura melepaskan tangan Sasuke dari bahunya lalu pergi meninggalkan suaminya. Air matanya terus mengucur deras dan jatuh di pipinya. Sasuke tak bisa berbuat apa-apa, posisinya serba tak mengenakan antara orang tua atau wanita yang dicintainya. Tentunya, orang tua lebih penting dibandingkan apapun yang ada didunia ini karena merekalah yang merawat dan menghidupi kita tanpa meminta imbalan. Sebagai anak satu-satunya, inilah saatnya dia untuk membalas semua kebaikan dan berkorban demi kehidupan serta kebahagiaan orang tuanya.

"Aku mencintaimu, Haruno Sakura. Sangat mencintaimu!" gumam Sasuke sambil melihat bayang-bayang Sakura yang semakin lama semakin Jauh dari dirinya.

ooOOoo

Sakura melihat pemandangan kota dari dalam Bis. Sudah jauh dia pergi dari Sasuke tapi dia masih terus mengingat wajah pria yang sangat dicintainya. Didalam bis hanya ada satu dua orang suami istri yang duduk disamping Sakura. Candaan sepasang suami istri itu membuat Sakura ingin melihat mereka. Sakura melihat jelas kalau istri dari laki-laki itu hamil. Sang suami begitu gembira dan bahagia dengan membelai perut istrinya yang berisi buah cinta mereka. Tangan sang suami menyentuh lembut perut istrinya dan merasakan gerakan bayinya. Senyum dan tawa gembira hadir dibibir sang suami ketika ia sudah bisa merasakan gerakan sang bayi. Saking bahagianya, sang pria itu mencium kening isitrinya. Melihat hal itu Sakura tersenyum tipis. Dia merasa iri dengan perempuan itu. Sakura iri karena disaat hamil perempuan itu bisa merasakan kasih sayang dari suaminya. Sakura juga ingin Sasuke membelai perutnya dan mengatakan "Anakku, ini adalah ayah". Namun sepertinya itu hanya angan-angan indah Sakura saja. Perlahan jari jemari Sakura membelai perutnya sendiri.

"Tetaplah bersama ibu. Jangan khawatir ibu akan selalu menjagamu walaupun tidak bersama ayahmu lagi." ucapnya pelan dan berurai air mata.

Beberapa puluh menit kemudian Sakura sampai disebuah rumah yang bercat serba putih dengan taman yang ada didepan rumahnya. Rumah ini terlihat sepi, seperti tak ada seorangpun yang tinggal dirumah. Namun Sakura mencoba untuk mengetuk pintu rumah minimalis itu. Tak lama kemudian munculah sosok yang ia cari disaat dia sedih yaitu sahabatnya Naruto. Naruto terkejut ketika Sakura tiba-tiba muncul didepan rumahnya beserta dua koper yang dia bawa.

"Kenapa kau ada disini? Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu?" tanya Naruto khawatir.

"Aku akan menceritakannya padamu nanti. Bolehkah aku masuk?"

"Tentu saja. Biar aku yang membawa kopermu."

Sakura berjalan masuk ke ruang tamu rumah Naruto. Naruto membawa kedua koper besar milik Sakura. Sakura duduk disofa dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis. Naruto memperhatikan gadis yang dicintainya itu dengan perasaan iba. Pasti Sasuke melakukan sesuatu yang membuat Sakura sampai seperti ini, batin Naruto.

"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau sampai pergi dari rumah seperti ini?"

"Aku akan bercerai dengan Sasuke Naruto. Ini sudah keputusanku sedangkan Sasuke sebentar lagi akan menikah dengan cucu dari perushaan Taka yaitu Shion. Dia dulu adalah kekasih Sasuke. Kalau dia tidak menikah dengan Shion maka perusahaan mereka akan bangkrut."
"Bangkrut? memang apa hubungannya dengan menikah atau tidak?" tanya Naruto bingung.
"Taka Group merupakan investor terbesar diperusahaan ayah Sasuke. Jika Sasuke menolak maka semua investasi dari mereka akan d tarik kembali. Jika itu terjadi kemungkinan besar perusahaan mereka akan mengalami kebangkrutan. Untuk menghilangkan perasaanku pada Sasuke maka aku memutuskan pergi dari rumah dan melatih diriku sendiri untuk tidak mencintainya," ucap Sakura dengan raut wajah yang sedih.

"Sebelumnya aku juga sudah tahu tentang berita yang menceritakan Shion dan Sasuke. Jadi mereka mengorbankan dirimu demi kepentingan mereka sendiri!." pekik Naruto emosi.

"Tidak sama sekali tidak. Sebenarnya ayah Sasuke ingin mempertahankanku namun aku yang memaksa mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Naruto, bolehkah aku tinggal disini untuk sementara?"

"Tentu saja,jika kau mau, kau boleh tinggal bersamaku selamanya," kata Naruto serius namun Sakura hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Ayo ikut denganku. Ada satu kamar kosong kau bisa memakainya." Sakura mengikuti dimana Naruto membawanya. Tibalah dia disebuah kamar yang lumanayan besar dan rapi serta sangatlah bersih. "Kau bisa memakai kamar ini. Jika kau membutuhkan sesuatu panggilah aku. Aku akan datang padamu".
"Iya, Naruto-kun terima kasih," ujar Sakura.

"Tidak perlu seperti itu. Aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu. Istirahatlah". Ucap Naruto penuh kasih sayang.

Sakura hanya mengangguk dan tersenyum manis pada sahabatnya. Ketika Sakura sendirian, ia mulai membereskan bajunya. Satu persatu baju yang ia bawa, Sakura letakkan dilemari. Sakura sendiri tidak tahu sampai kapan dia harus tinggal dirumah Naruto. Dia tidak pulang kerumah karena Sakura tidak mau melihat orang tuanya semakin sedih melihat kehidupannya serta membuat mereka terlalu repot mengurusnya. Sakura terhent sejenak saat dia melihat buku hariannya sendiri. Sakura mengambilnya dan berjalan pelan menuju meja. Dia memulai membuka satu persatu tulisan yang ada di buku hariannya.

Dalam buku harian Sakura, terdapat banyak sekali foto Sasuke. Disamping foto itu terdapat juga kalimat yang mengungkapkan perasaannya pada Sasuke. Foto dari awal bertemu Sasuke sampai sekarang dia menjadi istrinya Sasuke. Sakura sering mencuri gambar Sasuke dari ponselnya secara diam-diam. Buku Harian Sakura berisi tentang perasaannya terhadap Sasuke selama ini. Sakura mengambil pena dan mulai menulis buku hariannya. Dia mencurahkan apa yang ia rasakan. Sejenak terbesit bayangan Sasuke yang menyatakan perasaannya. Sakura tersenyum tipis dan kembali menulis isi hatinya.

ooOOoo

Pagi hari menjelang. Sakura menjalani hari-harinya seperti biasa. Sakura berangkat kerja diantar oleh Naruto, ia tak lagi naik bis. Hari ini adalah hari yang berat buat Sakura, namun dia harus menjadi karyawan yang professional. Masalah pribadi tak boleh mempengaruhi kinerjanya. Sakura menatap penuh arti kantor yang ada dihadapannya. Pelan-pelan Sakura menarik nafas lelu menghembuskan nafasnya.

"Sakura, kau harus semangat. Kau pasti bisa!" katanya pada dirinya sendiri.

Sakura melangkah tanpa ragu menuju ruangan. Sakura bisa melihat jelas Sasuke sedang sibuk membaca laporan dari para karyawan yang belum ia selesaikan. Sakura masuk kedalam ruangan tanpa menyapa Sasuke sedikitpun. Dia mencoba untuk mengabaikan Sasuke dan menganggapnya tidak ada di depan matanya. Usaha Sakura sia-sia dan Sasukelah yang terlebih dahulu menyapanya.

"Kau sudah datang?" tanya Sasuke lembut.

"Mmmm," jawab Sakura singkat. Dari Jauh terlihat sekertaris Akimoto berjalan mendekati Sasuke. Sekertaris Akimoto tersenyum ramah bahkan sedkit membungkuk saat menyapa Sakura. Sakurapun membalas sapaan sekertaris Han.

"Tuan muda. Saat ini juga anda harus menghadiri pertemuan dengan presdir Taka Group dan sedikit konfrensi pers."

"Apa? pertemuan ? Konfrensi pers? kenapa mendadak seperti ini? memangnya apa yang akan dibahas?"

"Ehmm beliau akan membahas hari pernikahan anda dengan cucunya. Selain Tuan muda, ayah dan ibu Tuan muda juga datang beserta orang tua Nona Shion," Ucap sekertaris Akimoto. Tubuh Sakura mendadak terasa panas karena menahan amarah mendengar ucapan dari sekertaris Akimoto. "Nona Haruno Sakura juga diharapkan ikut atas pertemuan ini."

"Eh, kenapa aku harus ikut?" tanya Sakura bingung.

"Karena setelah pertemuan ini. Perusahaan Taka, perusahaan kita dan Investor lain akan langsung mengadakan rapat ditempat yang sama Nona!" Senyum Sekertaris Akimoto padanya.

"Baiklah kalau begitu aku akan ikut". Sakura mengatakan hal ini dengan berat hati. Apa yang harus ia perbuat? Kira-kira apa yang akan ia rasakan jika mereka membicarakan perihal pernikahan tepat di depan matanya? Sakura benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dia perbuat.

"Aku tak mau menghadiri konfrensi pers!" tegas Sasuke.

"Tuan muda bagaimanapun anda harus melakukannya demi perusahaan ini. Sebenarnya presdir juga menolaknya namun kakek Shion marah bahkan sedikit mengancam." Sasuke memijit-mijit kepalanya. Dia pusing dan tak tahu harus bagaimana, tapi ia sudah memutuskan untuk menyetujuinya.

ooOOoo

Sampailah mereka berdua dihotel imperal palace. Hotel ini merupakan hotel termewah dan termegah di Jepang. Taka Group adalah pemilik hotel ini. Selama didalam mobil, Sakura dan Sasuke tak saling berbicara bahkan Sakura melihat Sasuke pun tidak. Selama perjalanan Sasuke ingin sekali berbicara kepada Sakura namun sikap Sakura yang dingin. Membuat Sasuke enggan untuk memulainya. Mereka berdua mulai masuk kedalam hotel. Tepat direstoran hotel tersebut banyak sekali wartawan yang siap untuk meliput mereka dan akan menjadi berita terhangat di Jepang untuk beberapa saat. Sebelum melakukan konfrensi pers, Sasuke, Sakura dan sekretaris Akmoto memasuki sebuah ruangan. Didalam ruangan itu banyak sekali orang-orang berdasi dari kalangan atas. Sebagai Sekretaris Sakura bertugas untuk mencatat hal-hal penting dalam rapat.

Dua jam berlalu, rapat diruangan tertutup dengan para pengusaha dan investor asing sudah selesai. Sasuke, Shion dan kedua keluarga pengusaha terkaya dinegeri ini berjalan perlahan menuju altar konfrensi persi. Akhirnya, hal seperti ini datang juga dan sebentar lagi Sasuke akan menjadi suami orang lain.

"Sakura-chan!" teriakan seorang pria membuyarkan lamunan Sakura.

"Naruto-kun sedang apa kau disini?" tanya Sakura

"Apa kau lupa, bahwa aku adalah dokter pribadi ayah Sasuke."

"Ah, benar jadi kau disini untuk mendampingi ayah Sasuke."

Shion terlihat sangat cantik dengan balutan busana berwarna putih dengan rambut yang tergerai bergelombang. Naruto juga sibuk melihat Sasuke yang terlihat ogah-ogahan menghadiri konfrensi pers. Ingin sekali Naruto memukul wajah Sasuke. Bagaimana bisa dia terlihat santai seperti itu, sedangkan Sakura duduk sedih melihatnya disini? Menurut Naruto ini sungguh keterlaluan. Sakura sama sema sekali tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Terlihat Sasuke beranjak dari tempat duduk dan pergi.

"Mau kemana dia?" gumam Sakura pelan.

"Ehhm, Sakura-chan aku mau ke toilet sebentar," ucap Naruto.

"Iya, aku tunggu," kata Sakura sambil tersenyum.

Naruto secara berhati-hati saat ia mengikuti kemana Sasuke pergi. Sasuke berjalan menuju ke toilet. Tanpa takut dan ragu sedikitpun, Naruto menghampiri Sasuke yang sedang sibuk membersihkan wajah beserta tangannya. Dari kaca Sasuke hanya tersenyum sinis melihat kedatangan Naruto. Wajah Naruto garang sedangkan Sasuke terlihat sangat santai.

"Ternyata kau dari tadi mengikutiku," ucap Sasuke sambil terus membersihkan tangannya.

"Kenapa kau melakukan ini pada Sakura? tanya Naruto.

"Memangnya apa yang telah aku lakukan padanya?" tanya Sasuke santai.

Naruto tersulut emosinya karena Sasuke merasa tidak melakukan apapun. BUUK! Naruto memukul wajah Sasuke lalu kemudian menarik kerah kemeja Sasuke dengan kasar. Jarak antara Naruto dan Sasuke sangatlah dekat. Nafas Naruto memburu karena menahan amarah.

"Kau keterlaluan. Benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa kau bahagia dan tersenyum diatas penderitaan Sakura? Kau sama sekali tak punya hati. Kau telah merampas masa depan Sakura disaat usianya masih muda. Setelah kau mendapatkan yang berharga darinya dengan mudah kau mencampakannya Hah!"

"Apa? Mencampakannya? Siapa yang mencampakannya?"

"SIAPA LAGI KALAU BUKAN KAU! KAU INI BENAR-BENAR BRENGSEK. KAU…".

Naruto berniat meninjukan kembali kepalan tangannya diwajah Sasuke. Sasuke tak melawan dia hanya memejamkan mata menerima apa yang akan Naruto lakukan. Namun Naruto mengurungkan niatnya dan melepaskan cengkaraman tangannya dari kerah Sasuke secara kasar. Tanpa mengatakan apapun Naruto beranjak pergi.

"Aku mencintai Sakura. Aku sudah menyatakan perasaanku padanya namun Sakura yang menginginkan semua ini. Dia menginginkan perpisahan ini demi keselamatan perusahaan ayahku." Pernyataan Sasuke secara gamblang membuat langkah Naruto terhenti.

"Naruto, tolong jaga Sakura untukku. Aku yakin kau bisa membuatnya bahagia." Naruto terdiam dan pergi meninggalkan Sasuke.

ooOOOoo

Ditempat lain Sasori memandang gusar kearah televisi dengan berita yang beredar. Senyum sengak tersungging dibibirnya. Tangannya memutar-mutar garpu yang ia gunakan untuk memakan buah apel. Dia benar-benar tidak rela kalau Shion tak menjadi miliknya karena dia tergila-gila pada Shion. Bagaimanapun caranya dia harus memiliki Shion.

"Tak ada cara lain lagi dan aku tak bisa menunggu lama. Aku akan melakukannya sendiri namun terlebih dahulu aku harus bisa mendapatkan Sakura," ucap Sasori pada dirinya sendiri.

Sasori mengambil laptopnya. Dia melihat-lihat foto Sakura bersama Sasuke yang ia simpan didalam flashdisknya. Banyak sekali foto mereka berdua. Naruto membuka sebuah website dan menuliskan sebuah artikel tak lupa dia memasukan foto Sasuke dan Sakura didalammnya. Senyum Lucifer terpancar diwajah Sasori.

"Sebentar lagi aku akan memiliki Shion dan Sasuke kau akan hancur beserta keluargamu".

TO BE CONTINUE