Tuk.
Untuk kesekian kalinya kepala Sasuke dipukul oleh Lee dengan kertas skenario yang tergulung. Sasuke sedikit meringis. Giginya yang saling beradu menghasilnya bunyi gemeletuk. Tampak bahwa Sasuke marah namun ia tahan. Ia melirik tajam ke arah Lee dengan wajah tak suka. Cih. Ia sendiri juga tak tahu kenapa ia mengikuti kata-kata Lee untuk melakukan hal aneh yang disebut Lee sebagai "Kursus cinta" ini. Yang diterimanya di sini justru seperti sebuah penghinaan dan penyiksaan. Seorang Uchiha sepertinya harus merelakan kepalanya dipukul berkali-kali tanpa sempat membalas. Tch. Ini benar-benar memalukan bagi Sasuke.
Lee sendiri terduduk lesu sambil menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ternyata memang susah sekali membuat Sasuke untuk menuruti perintahnya. Ia menyuruh Sasuke untuk merayu, nada bicara Sasuke justru tedengar seperti sebuah ejekan. Kalau Sasuke seperti itu di depan Hinata, yang ada Sasuke justru ditinggal pergi oleh Hinata yang berurai air mata. Ia menyuruh Sasuke untuk sedikit berbasa basi tapi tetap saja Sasuke tidak mau. Ia memberikan draft berisi kata-kata pujian untuk Hinata malah membuat Sasuke bergidik ngeri saat membacanya. Bahkan beberapa kata tampaknya sukses membuat Sasuke mual dan ingin muntah.
"Ne, Sasuke-kun, kurasa kali ini kau butuh teman untuk praktek langsung," ujar Lee saat ia ingat sesuatu.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku mau menuruti perintah konyolmu lagi, huh?" kata Sasuke dengan kesal.
"Tenang saja, Sasuke-kun. Ini yang terakhir. Kau pasti bisa! Bersemangatlah!" Lee mencoba menghibur Sasuke. Tak lupa ia memberikan kedipan mata dan cengiran yang menampakkan kilauan bintang dan bunyi "ting" setelah menyelesaikan kalimatnya.
Help Me
A Naruto Fanfiction by Fifi Violet
Naruto © Masashi Kishimoto
Sekarang Sasuke berdiri di hadapan Lee, Neji, dan Tenten. Ia masih tidak mengerti untuk apa Lee memanggil kedua temannya itu. Padahal sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki Hyuuga di hadapannya itu yang menatapnya intens. Bukan takut atau semacamnya, hanya saja ia merasa bahwa si jenius Hyuuga itu selalu membuatnya risih karena ia merasa diawasi olehnya.
"Yosh. Sekarang kau harus berlatih bersama Neji. Anggap saja Neji adalah Hinata-chan. Mereka cukup mirip kan?" pungkas Lee.
'Mirip apanya, huh? Neji itu laki-laki dan Hinata itu perempuan. Mana mungkin aku melihat laku-laki Hyuuga itu sebagai seorang perempuan,' ujar Sasuke dalam hati. Ia melihat Neji dengan pandangan malas.
'Cih, kenapa lagi-lagi aku harus berperan sebagai seorang perempuan,' Neji balik memandang Sasuke dengan dingin.
"Tenten akan menjadi komentator. Kurasa ia akan cukup kritis dengan latihanmu kali ini," lanjut Lee. Tenten tersenyum pada Sasuke.
'Komentator? Memangnya dia pikir ini pertandingan yang harus dikomentari, huh?' lagi-lagi Sasuke mengumpat dalam hati.
Lee segera mengarahkan Sasuke dan Neji untuk segera memulai latihan yang kini disebut Lee sebagai "Misi penaklukan hati Hinata" dengan Tenten sebagai komentatornya. Sasuke dan Neji berdiri saling berhadapan.
"Hinata. Aku yakin kaulah bidadari yang dikirim oleh Kami-sama untukku," ucap Sasuke dengan datar. Dirinya yang lain yang ada di dalam sana sudah muntah-muntah akibat kata-kata rangkaian Lee yang terucap dari mulutnya. "Maukah kau…menjadi kekasihku?" Sasuke melanjutkan dialognya sambil menatap iris pucat milik si Hyuuga.
"Cut cut!" teriak Lee.
"Ne, Sasuke-kun. Kau tidak boleh mengucapkannya dengan nada datar dan dingin seperti itu," Tenten berkomentar. "Lembutlah sedikit, rileks, dan jangan tegang. Kau juga harus tersenyum dan mengimbanginya dengan gerak tubuhmu atau dengan memainkan tanganmu," lanjut Tenten.
"Kau dengar, Sasuke-kun. Ayo kita ulangi sekali lagi," pinta (baca: suruh) Lee.
"Hinata. Kali ini aku benar-benar yakin bahwa kau adalah bidadari yang dikirim oleh Kami-sama untukku," Sasuke mengulangi dialognya. Kali ini ia berusaha mengeluarkan senyumannya. Ia yakin dirinya yang lain saat ini sudah pingsan kehabisan cairan karena sudah dimuntahkan semua. Ia diam sejenak. Ia bisa melihat ekspresi Neji yang sungguh-sungguh tidak enak. Tentu saja Neji menatap Sasuke dengan aneh. Bagaimana tidak? Sasuke sedang mencoba untuk merayu. Walau kali ini suaranya lebih santai dari yang tadi, tapi senyuman yang coba diberikan oleh Sasuke justru tampak sangat-sangat aneh melebihi senyum palsu milik Sai.
"Hinata..maukah kau…menjadi kekasihku?" Sasuke kembali melanjutkan dialognya. Ia mengangkat tangannya dan mengulurkannya menuju wajah Neji. Satu detik kemudian telapak tangan Sasuke sudah menyentuh pipi kiri Neji. Neji masih diam, wajahnya masih saja datar. Ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sasuke selanjutnya. Sasuke menyibak rambut panjang Neji ke belakang, lalu meletakkan tangannya di belakang kepala Neji. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Neji sambil menarik kepala Neji mendekat dengan tangan kanannya tadi.
Lee dan Tenten yang melihat adegan itu terdiam. Entah mereka takjub, heran, atau apa. Tapi melihat adegan Sasuke dan Neji yang sepertinya akan berciuman adalah sesuatu yang "wah". Lee dan Tenten tidak berniat untuk menghentikan mereka. Sungguh. Mereka malah mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap mereka dengan mata penuh harap.
Bug!
Lee dan Tenten sweatdrop melihat adegan itu berhenti. Kilauan bintang di mata mereka sontak hilang sebgitu saja. Sementara Sasuke meringis kesakitan sambil memegangi pipi kirinya yang mungkin sudah biru lebam.
"Apa kau akan melakukan adegan seperti itu tadi dengan Hinata-sama, huh?" ucap Neji setelah berhasil meninju pipi kiri si Uchiha. "Apa kau pikir aku akan membiarkan Hinata-sama dirayu olehmu dengan wajah aneh seperti tadi, huh?" Neji menatap tajam Sasuke.
"Jangan salahkan aku. Lee yang menyuruh kita melakukan adegan itu tadi," Sasuke membela diri.
Lee dan Tenten saling berpandangan. Tenten berusaha mengatakan 'Mati kau, Lee. Kau bisa saja dihabisi oleh Sasuke dan Neji' dalam pandangannya itu.
"A-aa. Gomen," dengan cepat Lee membungkukkan badannya. Sepertinya dia paham dengan arti dari tatapan Tenten kepadanya tadi.
"Ha~ah. Lain kali aku pasti akan membalas perbuatanmu hari ini, Lee. Kau pikir kau bisa memukul-mukul kepalaku dengan gratis, dan membuatku dipukul Neji tanpa balas?" Sasuke melangkah pergi dari tempat latihan "Kursus cinta" itu.
'Kau benar-benar akan mati, Lee,' Tenten memandang Lee yang terdiam.
"S-Sasuke-kun, kau mau ke mana? Latihannya belum selesai," teriak Lee.
'Baka,' Tenten menepuk jidatnya melihat kelakuan Lee.
"Aku akan melakukannya dengan caraku. Aku tidak perlu menjadi orang lain," ujar Sasuke tanpa menghentikan langkahnya.
"Yah, kurasa memang Sasuke-kun tidak pantas melakukan adegan tadi. Dia benar-benar OOC," kata Tenten.
"Aku juga ada urusan. Lain kali aku pasti akan membalasmu karena sudah menjadikanku sebagai peran wanita," ucap Neji. Ia pun berlalu dari tempat itu. Di belakangnya, tampak Lee yang mulai lemas, matanya membulat dan berwarna putih sepenuhnya, ia pun merosot ke tanah seperti makhluk tanpa tulang.
"Hah, malang sekali nasibmu, Lee. Kurasa aku harus menyiapkan bunga untuk kutaburkan di makammu sebentar lagi," ejek Tenten. Ia juga melenggang meninggalkan Lee sendirian.
"Tenten~ kau tega sekali meninggalkanku," Lee menangis.
.
.
.
Di tempat lain, Hinata, Kiba, dan Shino sedang beristirahat setelah tadi berlatih cukup lama, oh dan jangan lupakan Akamaru yang setia di samping Kiba. Mereka mengelap keringat yang ada di wajah, leher, dan tangan mereka. Pengecualian untuk Shino, ia tetap menggunakan pakaiannya yang sangat tertutup itu dan bahkan tidak mengelap keringatnya.
"Hinata," ucap Kiba setelah menenggak minumannya.
"Ya?" Hinata memfokuskan pandangannya kepada rekannya itu.
"Mengenai kemarin…tentang Sasuke, a-"
"Daijoubu desu," Hinata memotong pembicaraan Kiba. Wajahnya sedikit memerah.
"Apa kau tertarik padanya?" tanya Kiba.
Hinata menunduk. Kiba masih memperhatikan Hinata, menunggu jawaban darinya. Shino masih tetap diam, dia mendekati Hinata dan duduk di sampingnya. Kini posisi Hinata ada di antara Kiba dan Shino. Shino mengulurkan botol air minum pada Hinata. Hinata menerimanya, setelah berterima kasih ia pun meminumnya beberapa teguk.
"A-aku tidak tahu, Kiba-kun," kata Hinata.
"Sou desu ka. Aku, er, maksudku kami khawatir padamu,"
"Eh?"
"Ya,karena aku, er bukan bukan, maksudku kami menyayangimu,"
"Eh?"
"Iie iie. Bukan sayang seperti laki-laki pada perempuan, tapi yaa kami menyayangimu sebagai sahabat, teman kami yang berharga," Kiba buru-buru memperjelas maksudnya. "Kami khawatir kau disakiti oleh Sasuke," lanjut Kiba.
Sejenak mereka bertiga diam. Hanya ada suara "guk guk" dari akamaru selama mereka terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kiba sendiri masih belum bisa menerima sikap Sasuke yang seperti itu. Ia benar-benar takut kalau Hinata kecewa atau bahkan tersakiti karena Sasuke. Ia tidak terlalu mengenal Sasuke. Ia juga tahu bahwa Sasuke dan Hinata belum terlalu mengenal satu sama lain. Bukankah kekhawatirannya cukup beralasan? Sudah cukup baginya melihat Hinata menangis karena cintanya yang tak terbalas pada Naruto. Dulu mungkin ia memang sering menggoda Hinata karena Hinata menyukai Naruto. Tapi kini ia tak bisa lagi demikian karena Naruto sudah resmi jadi milik orang lain.
"A-arigatou, Kiba-kun, Shino-kun. Kalian tidak perlu khawatir," Hinata tersenyum.
Kiba ikut tersenyum, Shino pun demikian walau senyumnya tak terlihat. Setidaknya melihat senyum Hinata mampu membuat Kiba dan Shino sedikit tenang.
"Yosh! Ayo kita lanjut latihan!" seru Kiba.
"Guk, guk!" Akamaru menyahut.
Mereka pun berdiri dan bersiap melanjutkan latihan.
.
.
.
Sedari tadi Neji membuntuti Sasuke masih belum nampak sesuatu yang aneh. Atau memang tidak ada sesuatu yang aneh? Sampai detik ini Neji masih belum mempercayai Sasuke. Tidak tidak. Bukan tidak percaya sebagai teman. Tapi ia tidak percaya bahwa Sasuke mendekati Hinata. Ia merasakan aroma keganjilan di balik semua itu. Sebelum ini Neji tidak pernah melihat, mendengar, atau tahu kalau Sasuke tertarik pada perempuan. Kenapa tiba-tiba setelah kembali ke desa Sasuke langsung mendekati Hinata? Ia takut kalau si Uchiha itu merencanakan sesuatu yang tidak-tidak pada Hinata-sama-nya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Maka dari itulah ia membuntuti Sasuke untuk mencari petunjuk.
"Kenapa tidak ada yang aneh?" ucap Neji lirih. Seharusnya ia bersyukur bahwa tidak ada yang aneh pada Sasuke. Sebenarnya ia sudah ingin menyudahi aksi pembuntutan itu, mengingat sampai saat ini ia tidak menemukan keganjilan apa pun. Tapi entah mengapa, dirinya yang lain memaksanya untuk terus mengikuti langkah Sasuke.
Ia melihat Sasuke berhenti. Sasuke menghempaskan tubuhnya di rerumputan. Matanya dipejamkan beberapa detik sambil merasakan hembusan angin yang membawa wangi khas rumput.
"Okaa-san, apakah aku memilih orang yang tepat?" ucap Sasuke pelan. Neji yang bersembunyi di balik pohon menajamkan pendengarannya. Ia tidak mau meninggalkan petunjuk ini. Sejak tadi ia mengikuti Sasuke, Sasuke baru membuka mulutnya sekarang.
"Otou-san, bagaimana kau dulu jatuh cinta pada Okaa-san?" Sasuke kembali memejamkan matanya.
"Ne, Itachi, aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa mencintai gadis itu," kata-kata ini membuat Neji yang bersembunyi mengepalkan tinjunya.
'Apa mau Sasuke? Bagaimana mungkin ia ingin menikahi Hinata-sama jika dia sendiri tidak yakin bisa mencintai Hinata-sama atau tidak?' ujar Neji dalam hati.
"Dasar kau!" tiba-tiba Neji sudah berada di depan Sasuke. Ia menarik kerah baju Sasuke dengan keras lalu melayangkan tinjunya –lagi- ke pipi kiri Sasuke.
Neji melepaskan Sasuke. Sasuke tidak membalas perbuatan Neji. Ia menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya. Nampaknya hari-harinya memang harus diisi dengan pukulan-pukulan. Baru beberapa hari yang lalu ia dihajar sampai babak belur di hadapan orang-orang, hari ini ia dipukul berkali-kali oleh Lee dan ditinju dua kali oleh Neji.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.
"Apa kau mau mempermainkan Hinata-sama, hah?" kali ini Neji mengarahkan tinjunya ke perut Sasuke.
"Ugh!" Sasuke sedikit kesakitan dengan tinju itu.
"Jika kau tidak yakin bisa mencintai Hinata-sama atau tidak, lalu kenapa kau begitu cepat mengatakan ingin menjadikan Hinata-sama sebagai kekasih atau bahkan istrimu?!"
Sasuke menyeringai. Seringainya itu justru membuat Neji menjadi lebih marah.
"Jika aku mengatakan ingin menjadikan Hinata sebagai kekasihku, maka aku akan melakukannya. Tak peduli apakah aku mencintainya atau tidak,"
"Kau ingin menyakiti Hinata-sama dengan sikapmu itu, hah?!"
"Aku membutuhkannya. Aku membutuhkan Hinata untuk hidupku. Terlebih setelah kami menjalankan misi bersama. Aku baru sadar bahwa sosok seperti Hinata lah yang aku butuhkan,"
"…"
"Lagi pula, saat ini Hinata juga sedang mencari tempat pelarian,"
"…"
"Aku rasa, saat ini rasa cinta tidaklah begitu penting. Ia bisa datang belakangan,"
"…"
"Tenang saja. Kau tak perlu khawatir. Aku serius dan sadar sepenuhnya dengan apa yang aku ucapkan," lagi-lagi Sasuke menyeringai di hadapan Neji.
"Baiklah. Tapi jika kau berani macam-macam dengan Hinata-sama, aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu dari dunia ini," tegas Neji.
.
.
.
Hari sudah sore. Semburat oranye tampak menghiasi langit yang tadinya berwarna biru cerah. Beberapa kelompok burung terbang entah ke mana. Jalanan tidak terlalu ramai. Di sini, di jalan yang sepi ini Hinata berjalan pulang setelah tadi berpisah dengan Kiba, Akamaru, dan Shino di pertengahan jalan. Pikirannya benar-benar kalut. Tiba-tiba saja berbagai kenangan berputar di kepalanya. Tentang ia yang sedari kecil memendam rasa pada Naruto, memperhatikannya diam-diam, selalu menyemangatinya walau tanpa suara, selalu mendukungnya di tengah hinaan orang-orang, dan semuua hal tentang Naruto. Kembali ingatannya berputar saat ia merelakan nyawanya untuk melindungi Naruto dari serangan Pain. Lalu pada akhirnya ia harus merelakan Naruto dan melihatnya menjadi kekasih orang lain.
Hatinya hancur berantakan. Di saat-saat ia mengumpulkan kembali hati dan kepercayaan dirinya, tiba-tiba saja ada orang yang muncul di dekatnya. Uchiha Sasuke. Orang yang bahkan tidak pernah ia 'lihat' sebelumnya. Orang yang baginya cukup asing. Dan 'orang asing' itu tiba-tiba meminta bantuan padanya.
Tapi berkat misi yang diberikan pada mereka, setidaknya cukup untuk membuatnya mengenal Sasuke. Sasuke tidak seburuk yang ia pikirkan. Tapi sudah benarkah yang ia lakukan, menjadikannya sebagai tempat pelarian? Ia bahkan tak tahu apakah ia mempunyai rasa pada Uchiha terakhir itu.
"Kau mencari pelarian? Kau mencoba melupakan Naruto-kun, dan sebagai pelariannya kau berusaha memperhatikan Sasuke-kun?Tak ada yang salah denganmu. Jika kau mau menjadikanku pelarianmu aku tak akan keberatan,"
Ia teringat kata-kata Sai. Sepertinya memang benar ia mencari tempat pelarian. Dan lagi, apa pula maksud Sai tentang kesediaannya menjadi tempat pelarian itu? Walau Sai tampak berusaha bercanda, Hinata bisa melihat sesuatu yang lain di balik itu semua.
Hinata menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menyingkirkan berbagai hal yang mengganggu pikirannya itu. Sebentar lagi ia akan sampai di Mansion Hyuuga. Namun ia menajamkan pandangannya saat melihat seorang lelaki bersandar di tembok. Semakin dekat jarak mereka, ia sadar bahwa yang ada di depan itu adalah si Uchiha.
"Sasuke-kun?" Hinata memelankan langkahnya lalu berhenti sekitar satu meter dari tempat Sasuke bersandar.
"Hn," Sasuke menurunkan tangannya yang tadi ia lipat di depan dada. Ia pun berdiri sempurna lalu berhadapan dengan Hinata. Hinata tampak gelagapan, ia sedikit menunduk.
"Kau takut?" tanya Sasuke.
"I-ie. A-aku-" belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Sasuke langsung menarik pinggang Hinata agar lebih dekat padanya. Ia membawa Hinata pergi, meloncati atap-atap rumah warga. Hinata tentu sangat terkejut. Ia..sekarang berada di pelukan Sasuke. Berada sedekat ini membuatnya mampu mencium aroma maskulin tubuh Sasuke. Wajahnya benar-benar merah. Namun ia pasrah saja saat dibawa Sasuke, ia justru mengeratkan pegangannya pada Sasuke.
Sementara di bawah sana Neji melihat Hinata-sama-nya dibawa pergi oleh Uchiha. Namun ia diam saja sambil melihat keduanya berlalu menghilang dari pandangan. Ia tidak mengejarnya. Walau ia khawatir, ia berusaha percaya pada Sasuke, bahwa Sasuke tidak akan berbuat macam-macam pada Hinata-sama-nya.
"Are, itu kan Sasuke, dan..Hinata-chan?" Naruto heran saat melihat Sasuke membawa Hinata. Sakura yang ada di sampingnya turut mengalihkan pandangan ke arah pandangan Naruto.
"Oi! Sa- mph-" Naruto baru saja akan berteriak memanggil Sasuke yang sudah hampir jauh sebelum akhirnya mulutnya dibekap oleh Sakura.
"Baka! Jangan ganggu mereka," ujar Sakura lalu melepaskan tangannya dari Naruto.
"A-a, gomen," ucap Naruto. Sakura melihat Sasuke dan Hinata yang semakin menjauh. Tatapannya sendu. Terbukti bahwa walau ia sudah menjadi Naruto, ia masih belum bisa melupakan Sasuke sepenuhnya. Jujur diakuinya ia sedikit cemburu pada Hinata.
"Ayo!" Sakura menarik tangan Naruto. Ia tepis semua pikiran buruk itu.
Sasuke masih terus saja melompat-lompat di atas sana dengan Hinata yang ada di dekapannya. Entah Hinata mau dibawa ke mana oleh si bungsu Uchiha. Kiba dan Shino yang juga melihat mereka, hanya tersenyum simpul. "Hinata.. Aku selalu mendoakan kebahagiaan untukmu," ujar Kiba lirih. Lalu saat mereka melewati Lee dan Tenten, Lee melihat mereka dengan semangat sambil mengacungkan jempolnya, Tenten tersenyum lembut. Sementara Shikamaru tersenyum dengan wajah malas, Chouji terkejut dan menjatuhkan bungkus snacknya, Ino tersenyum juga dengan tatapan sendu seperti halnya Sakura.
Tiba di suatu tempat, Sasuke menurunkan Hinata. Mereka berada di tempat yang tinggi. Di depan sana terlihat sunset dengan sinarnya yang hangat. Mereka berdiri berdampingan. Walau Hinata bingung, ia hanya diam sambil mengamati matahari yang akan terbenam itu.
"Hinata.. Aku sadar dengan semua yang kulakukan," kata Sasuke memecah keheningan.
"Eh?" Hinata memandang Sasuke.
"Sebelumnya aku tidak pernah membuka hatiku untuk perasaan semacam cinta,"
"..."
"Tapi aku sadar, bahwa cepat atau lambat aku harus membuka hatiku. Mengisinya dengan cinta untuk membuang semua kebencian,"
"..."
"Aku sedang berusaha. Aku sedang belajar," Sasuke balas memandang Hinata. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Sebagian wajah mereka yang disinari matahari sore membuat mereka saling memuji satu sama lain walau hanya di dalam hati. "Bantulah aku untuk membuka hatiku. Bantu aku untuk membangkitkan rasa sayang dan cinta. Dan bantu aku untuk membangkitkan klan Uchiha yang hampir hilang," lanjut Sasuke. Ia mengucapkannya dengan datar. Tapi Hinata bisa merasakan kehangatan kalimat itu di balik wajah datar Sasuke.
"Sasuke-kun. Aku tidak yakin bisa melakukannya atau tidak. Tapi..aku akan berusaha," balas Hinata.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hinata yang mulai memerah. Dengan latar sunset sore itu, akhirnya mereka berdua mengikrarkan kesungguhan masing-masing untuk saling melengkapi satu sama lain. Kini tak ada jarak antara mereka. Mereka saling merasakan kehangatan dan kelembutan.
Sementara itu sedikit jauh dari tempat mereka berdua, seseorang tak mau kehilangan momen berharga itu. Sai, yang melihat adegan itu mengabadikannya di kanvas putihnya. Ia melukis siluet dua orang yang akhirnya bersatu dengan latar cahaya orange yang begitu romantis.
Sasuke dan Hinata yang sama-sama merona tak tahu bahwa di sana ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka sambil tersenyum palsu seolah merasa turut bahagia padahal jauh di hatinya itu ada belati yang menusuknya.
.
.
~Owari~
.
.
Hwaa.. Gimana? Sepertinya chap ini paling panjang di antara yang lain. Ini adalah chap terakhir. Kalo nggak langsung ditamatin takutnya malah bingung mau diterusin gimana. Mohon kritik dan sarannya ya, minna-san.
Arigatou untuk semuanya yang sudah membaca dan mereview fic ini. ^^
