==PART SEBELUMNYA==
Ditempat lain Sasori memandang gusar kearah televisi dengan berita yang beredar. Senyum sengak tersungging dibibirnya. Tangannya memutar-mutar garpu yang ia gunakan untuk memakan buah apel. Dia benar-benar tidak rela kalau Shion tak menjadi miliknya karena dia tergila-gila pada Shion. Bagaimanapun caranya dia harus memiliki Shion.
"Tak ada cara lain lagi dan aku tak bisa menunggu lama. Aku akan melakukannya sendiri namun terlebih dahulu aku harus bisa mendapatkan Sakura," ucap Sasori pada dirinya sendiri.
Sasori mengambil laptopnya. Dia melihat-lihat foto Sakura bersama Sasuke yang ia simpan didalam flashdisknya. Banyak sekali foto mereka berdua. Naruto membuka sebuah website dan menuliskan sebuah artikel tak lupa dia memasukan foto Sasuke dan Sakura didalammnya. Senyum Lucifer terpancar diwajah Sasori.
"Sebentar lagi aku akan memiliki Shion dan Sasuke kau akan hancur beserta keluargamu".
PLEASE LOOK AT ME / CHAP 15
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
~Penjelasan~
Kemarin ada komentar yang mengatakan FF ini berbelit-belit ceritanya. Aku akui emang konflik disini sangat complicated alias rumit, ribet dan sebagainya. Bagi yang masih suka sama FF ini saya sangat berterima kasih. Tapi kalau ada yang nggak suka sama FF ini ya tidak apa-apa. Itu hak masing-masing orang hehehe
.
.
Sakura terdiam. Matanya melihat kearah meja orang tuua Sasuke beserta Presdir Taka yang duduk bersebelahan. Pandangannya tak lepas dari Shion. Sakura memaklumi kenapa dulu Sasuke begitu mencintai Shion, karena dia benar-benar terlihat cantik. Sakura merasa dirinya tak ada apa-apanya dibandingkan Shion. Sakura teringat saat Sasuke menyatakan cinta padanya. Sebenarnya dia agak ragu dan tidak percaya dengan ucapan Sasuke kemarin. Benarkah seorang Sasuke menyukainya? Dari jauh Naruto berjalan menuju Sakura, samar-samar gadis berambut pink ini melihat Sasuke yang berjalan tak jauh dari Naruto. Sejenak Mata Sasuke dan Sakura bertemu, namun keduanya saling memalingkan wajah. Degupan Jantung Sakura seperti biasnya, selalu abnormal setiap kali dia memandang Sasuke. Bagaimanapun Sakura sangat menyukai Sasuke.
"Sakura, apa aku terlalu lama?" tnya Naruto.
" Ah sama sekali Tidak."
Sakura kembali melihat kearah gerombolan wartawan begitupula dengan Naruto. Para wartawan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka berenam. Pertanyaan wartawan pertama kali ditujukan kepada Presedir Taka. Ekspresi wajah kakek Shion benar-benar luar biasa. Beliau terlihat sangat bahagia.
"Pak presedir, seperti yang telah kami dengar sebelumnya, benarkah kalau konfrensi pers ini akan membicarakan pernikahan antara kedua belah pihak?" tanya seorang wartawan.
"Benar sekali, pertemun ini akan membahas rencana pernikahan cucuku dengan putra dari perusahaan Fourth Group," ujar presdir Taka.
"Apa ini ada kaitannya dengan bisinis kalian? Misalnya agar saham kalian meningkat drastis dipasar Global?" terlihat seorang wartawan wanita bertumbuh kurus sibuk mengajukan pertanyaan kepada mereka.
"Tidak sama sekali tidak. Pernikahan ini murni dari hubungan yang sudah terjalin lama antara putriku dan Sasuke. Bukankah begitu tuan Uchiha Fugaku?" tanya ayah Shion pada ayah Sasuke. Dari awal ayah Sasuke tidak begitu suka dengan pertemuan ini, beliau lebih banyak melamun. Lamunananya buyar ketika orang tua Shion bertanya sesuatu padanya.
"Eh, tentu saja ini tak ada kaitanya dengan perusahaan. Acara pernikahan ini kami lakukan karena rasa cinta yang timbul diantara mereka berdua". Senyum ayah Sasuke yang terlihat seperti dipaksakan.
"Lalu kami ingin sekali mendengar komentar dari kedua calon pengantin. Bagaimana prasaan kalian?" Wartawan itu menyodorkan micnya pada Shion. Shion tersnyum manis pada mereka dan mulai berkomentar.
"Tentuya aku sangat bahagia. Aku sudah memimpikan saat-saat seperti ini" ujar Shion.
"Lalu bagaimana dengan tuan Sasuke. Apa komentar anda?"
"Aku akan menjalaninya walaupun sebenarnya ini sulit bagiku," jawab Sasuke enteng. Semua orang terdiam sejenak dan saling memandang satu sama lain. Kakek Shion tahu ini adalah suasana yang tak mengenakan jadi beliau berusaha mencairkan.
"Ahahaha, tentu saja sulit karena kau harus menikah di usia muda," kata kakek Shion tiba-tiba.
"Kapan rencana tanggal pernikahannya?" tanya wartawan yang berusaha mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.
"Hari pernikahan jatuh pada tanggal 25 November. Dua minggu dari sekarang. Semua persiapan pernikahan sudah berjalan sekitar tujuh puluh lima persen. Aku sudah mempersiapkan semuanya hehehe," ucap kakek Shion santai.
Sasuke beserta orang tuanya saling pandang bahkan terkesan sedikit kaget. Seolah mereka tidak tahu menahu tentang jatuhnya tanggal pernikahan mereka. Beda sekali dengan orang rua Shion yang santai dan terkesan bahagia dengan semuanya. Sepertinya penentuan tanggal pernikahan adalah keputusan sepihak tanpa adanya pembicaraan bersama sebelumnya. Sasuke menghela nafas panjang. Dia benar-benar frustasi dengan semua yang ia hadapi sekarang. Sakura terkejut dan shock mendengar tanggal pernikahan Sasuke dan Shion. Naruto sekilas melihat kearah Sakura yang tampak sedih.
"Sakura, kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Sakura. Sakura diam lalu melihat kearah Naruto. "Naruto-kun apa kau mau mengantarku ke suatu tempat?"
"Kemana?"
"Ke konsultan perkawinan untuk mengajukan surat perceraian," ucap Sakura.
ooOOoo
Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi Sasuke. Banyaknya pekerjaan ditambah lagi pertemuan yang tidak penting baginya membuat tubuhnya seakan remuk dan tak bisa bergerak. Sasuke memandang jendela kamar yang langsung memperlihatkan pemandangan taman yang penuh dengan lampu warna-warni. Sesekali Sasuke meneguk teh hangat yang dibuatnya. Sasuke melihat jam yang melingka ditangannya. Sudah pukul Sembilan malam. Tak terasa hari sudah semalam ini.
Sasuke berjalan perlahan keluar dari kamar, entah kenapa ia begitu ingin berjalan menuju kamar yang ada disamping kamarnya. Dulu kamar ini adalah kamar Sakura. Sasuke duduk diatas ranjang yang biasa digunakan Sakura untuk tidur. Sasuke mengelus-elus sprei dan mengingat kembali moment saat dia pertama kali dia bertemu dengan Sakura. Senyum tipis terulas di bibir Sasuke.
"Sakura, kenapa kau pergi disaat aku mulai mencintaimu dan membutuhkanmu. Pulanglah, aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau memasakan pasta dan spageti untukku lagi."
Sasuke sangat menyesal dengan perbuatannya selama ini kepada Sakura. Tak pernah sedikitpun dia baik hati pada Sakura. Sasuke ingin memutar waktu ketika pertama kali dia bertemu dengan Sakura dibangku sekolah dan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta adalah Sakura bukan Shion. Sasuke ingin merubah takdir dalam dimensi waktu, namun sayang itu semua hanya bualan semata. Sekarang Sasuke tahu Sakura seratus kali lebih baik daripada Shion. Dia merasa bodoh karena dibutakan oleh kecantikan dan kemolekan tubuh seorang wanita yang wajahnya penuh dengan polesan make up. Ting..tong.. tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
"Siapa malam-malam berkunjung kesini?" gerutu Sasuke.
Sasuke mengecek kedatangan seseorang dimonitor kecil yang letaknya tak jauh dari pintu. Pria tampan ini membelalakan mata, ketika mengetahu Sakura seorang gadis yang dirindukannya sekarang ada didepan rumahnya. Sasuke meletakkan gelas tehnya disembarang tempat lalu merapikan rambutnya. Sasuke mengembuskan nafasnya dan mulai membuka pintu. Pertama kali yang Sasuke lakukan adalah teresnyum manis pada Sakura namun sayang gadis itu tak membalas senyumnya.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Sakura.
"Ten-tentu saja boleh," jawab Sasuke gelagapan.
Sakura berjalan mendahului Sasuke lalu kemudian duduk disofa. Sasuke diam dan berjalan mengikuti Sakura. Sasuke senang. akhirnya Sakura datang kembali. Menurut Sasuke, Sakura pasti akan tinggal disini bersama dirinya karena Sasuke tahu Sakura juga masih mencintainya dan merindukannya. Sasuke duduk tepat didepan Sakura.S asuke tak berani memulai pembicaraan namun dia menunggu Sakura yang berbicara. Bisa melihat Sakura sedekat ini lagi sungguh anugrah yang terindah buatnya. Sasuke melihat Sakura menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat panjang padanya.
"Bukalah?" tanya Sasuke polos.
"Bukalah kau akan tahu,"jawab Sakura.
Sasuke mulai membuka amplop dan membaca tulisan kertas yang ada didalamnya. Sasuke lemas dia, sudah tak bisa mengatakan apapun. Ingin sekali dia menangis namun sebisa mungkin dia menahannya. Sasuke tidak menyangka kalau Sakura benar-benar akan melakukan hal ini.
"Surat perceraian?" tanya Sasuke pada Sakura.
"Iya, aku ingin mempercepat perceraian kita. Lagipula dua minggu lagi kau akan menjadi suami orang lain tidak baik kalau kamu masih mempunyai istri. Jadi aku melakukan ini agar pernikahanmu berjalan lancar," ujar Sakura. Sasuke terdiam dan menundukan kepala.
"Kau benar-benar bercerai ingin denganku?" ucap Sasuke dengan berlinang air mata. Sakura kaget melihat Sasuke menangis, baru kali ini Sakura melihat Sasuke menangis untuknya. "Tak bisakah kau mempertimbangkannya lagi dan hidup bersamaku?"
Sakura diam sejenak. Pertanyaan Sasuke ini menusuk hatinya. Kalau boleh jujur dia ingin sekali hidup bersama Sasuke serta merawat bayi yang ia kandung berdua. Tapi Sakura tak mau egois karena cintanya, bagaimana nasib keluarga Sasuke jika dia tetap bersamanya. Sasuke tidak boleh hidup menderita demi dirrnya. Sakura lebih bahagia jika Sasuke tak hidup dengannya namun dia bisa hidup dengan aman serta nyaman tentunya juga penuh kebahagiaan.
"Ini sudah keputusanku Sasuke. Jadi jangan menolaknya, tolong tanda tangani berkas itu."
"Apa kau sudah tidak mencintaiku? apa karena Naruto kau melakukan ini?" tanya Sasuke.
"Naruto sama sekali tak ada hubungannya dengan ini Sasuke" bantah Sakura.
"Kalau itu maumu baiklah aku akan menandatanganinya."
Sakura bisa melihat jelas Sasuke mulai menggoreskan tinta hitam itu disurat ajuan cerainya. Sebentar lagi tinggal menjalani proses sidang perceraian, batin Sakura. Setelah Sasuke menandatang surat ajuan cerai, Sakura melipat dan memasukannya kedalam tas. Saat itu Juga Sakura berdiri untuk pergi.
"Aku pikir urusan kita sudah selesai. Aku pergi!" ujar Sakura
"Sakura." panggil Sasuke sambil mengusap air mata yang menetes dipipinya. Sakurapun berhenti. "Temani aku untuk terakhir kalinya. Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu aku mohon," rengek Sasuke. Sakuratak menanggapi ucapan Sasuke.
ooOOOoo
Derai angin berhembus keras menyapu kulit wajah Sasuke dan Sakura. Pori-pori mereka menyempit karena udara dingin yang menyentuhnya. Sasuke dan Sakura berdiri sambil meletakan tanganya diatas pembatas pagar sungai Tokyo. Pinggiran jembatan rainbow menyemprotkan air pelangi yang begitu indah dan menakjubkan. Keindahan atraksi air yang Jembatan Rainbow tunjukan sama sekali tak membuat suasana hati mereka lebih baik. Semuanya masuk kedalam kepedihannya masing-masing. Sasuke memandang Sakura tanpa henti dan mengatakan sesuatu.
"Kalau kita sudah berpisah nanti. Apa kau tetap akan mengingatku?" tanya Sasuke.
"Mungkin tidak, karena mulai sekarang aku akan berusaha menghilangkan perasaanku padamu. Kalau aku terus menjaga perasaan ini bagaimana nanti kalau aku melihat berita tentang kau dan istrimu ditelevisi. Itu pasti sangat menyakitkan bagiku."
"Jadi kau akan membuang semua kenangan tentangku?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk pelan.
"Bahkan terkadang aku ingin punya penyakit amnesia agar bisa lupa semua tentangmu."
Sasuke merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kalung berwarna keperakan. Kedua tangannya memegang pundak Sakura dan mengarahkan tubuh Sakura perlahan agar berhadapan dengannya. Sakura sedikit bingung. Apa yang akan Sasuke lakukan?
"Terima kasih kau sudah mengorbankan cintamu demi aku dan keluargaku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus katakan padamu untuk berterima kasih. Aku sangat mencintaimu. Aku menyesal telah memperlakukanmu secara buruk selama kau menjadi istriku. Aku benci pada diriku kenapa aku mencintaimu disaat-saat terakhir aku bersamamu. Aku sama sekali tak ingin kau jauh dariku. Aku ingin kau selalu ada disampingku, tapi karena kau menginginkan perpisahan ini aku akan melakukannya namun aku akan tetap mencintaimu Sakura-chan. "untuk kedua Sasuke kalinya meneteskan airmata didepan Sakura. Tak hanya Sasuke yang menangis tapi Sakura juga.
"Maafkan aku Sasuke-kun, ini untuk kebaikanmu dan orang tuamu," ucap Sakura.
"Aku ingin memberikan ini padamu." Sasuke memperlihatkan sebuah kalung, bergantung sebuah bintang yang berukuran sedang. Sasuke memakaikan kalung itu pada Sakura sambil terus menangis.
"Aku memilih gantungan bintang karena aku tahu kau selalu bercerita kepada bintang disaat sedih dan bahagia. Jika kau tak bisa menemukan bintangmu lagi dilangit maka lihatlah bintang yang ada dilehermu. Dia juga akan senantiasa mendengarkan curahan hatimu. Nama bintang ini adalah Sasu star, mungkin itu sedikit konyol. Tapi walau bukan aku yang bersamamu namun benda ini akan selalu menemanimu dan dia mewakili diriku."
Sakura tak bergeming sedikitpun. Pandangannya terus melihat kearah Sasuke. Air matanya semakin mengalir deras. Ingin dia memeluk Sasuke namun dia tak bisa karena dia harus melupakan Sasuke.
"Mulai detik ini kita akan benar-benar berpisah. Jangan sapa aku kalau kau melihatku. Karena aku tak ingin menambah rasa sakit yang ada dalam hatiku. Maafkan kesalahanku selama ini Sakura dan satu lagi, tolong jagalah anakku. Jika dia sudah besar Katakan padanya kalau dia masih punya seorang ayah yaitu aku." Sasuke mengelus perut Sakura yang sudah besar dengan lembut. Wajah Sasuke berada didepan perut Sakura. Kedua tangannya menyentuh perut wanita yang dicintainya.
"Sasuke-kun.." tangisan Sakura semakin menjadi-jadi.
"Anakku, Ini adalah Ayah. Jagalah ibumu, jangan buat ibumu kesakitan karenamu. Ayah akan pergi dan suatu saat nanti, ayah pasti akan mengunjungimu. Aku mencintaimu" ucapnya. Sasuke kembali berdiri dan melihat Sakura penuh kepedihan. "Maaf aku pergi."
Selangkah demi selangkah Sasuke memantapkan hatinya untuk menerima semuanya lalu mencoba pergi untuk selamanya dari sisi Sakura. Mungkin memang Tuhan tak akan pernah menyatukan Sakura dengannya. Mungkin juga ada ssesuatu yang lebih baik lagi dalam hidupnya.
"Sasuke-kun!" teriak Sakura, namun Sasuke sama sekali tak menggubris panggilan Sakura.
Sakura mengeluarkan suara tangisan yang keras. Dadanya terasa sesak menerima semua kenyataan ini. Sakura terduduk lemas ditrotoar. Matanya terus memandang bayang-bayang Sasuke yang semakin mengecil. Disisi lain Sasuke terus menjauh, matanya tak pernah berhenti mengalirkan air mata yang berasal dari kepedihan hatinya. Sasuke sudah tak bisa menahan tangis yang menyekat kerongkongannya.
"Aku mencintaimu."
ooOOoo
Naruto mondar-mandir diruang tamu sambil sesekali dia melihat jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam namun Sakura tak kunjung pulang. Naruto khawatir, sesuatu yang buruk terjadi pada Sakura. Tiba-tiba pintu rumah Naruto terbuka. Terlihat sosok Sakura dengan wajah masam dan lelah masuk kedalam rumahnya.
"Aku pulang," ujar Sakura pelan dan tak bersemangat.
"Apa yang terjadi padamu Sakura? kau tampak sedih, apa ada yang berbuat jahat padamu?"
"Tidak Naruto. Semuanya berjalan lancar dan dia sudah menandatangi ajuan ceraiku."
"Benarkah?" tanya Naruto, Sakura membalasnya dengan anggukan kecil. Naruto tidak munafk, dia merasa bahagia jika Sakura berpisah dengan Sasuke namun dia juga tidak senang melihat Sakura yang tampak sedih seperti ini.
"Aku ke kamar dulu," ucap Sakura.
"Ehm. Sakura-chan, aku sudah memasak makan malam untukmu. Jadi makanlah," ajak Naruto, lagi-lagi Sakura hanya membalasnya dengan aggukan dan beranjak pergi kekamar.
Setibanya dikamar, Sakura melempar tasnya ditempat tidur. Tangannya perlahan melepas kalung pemberian Sasuke dan melihatnya sejenak. Sakura bisa pastikan kalau kalung ini sangatlah mahal. Melihat kalung itu, Sakura jadi terinngat tentang kejadian yang ia alami dengan Sasuke barusan. Sakura menghembuskan nafas pelan, seolah dia tak bisa bernafas karena banyak tekanan yang harus ia terima.
"Aku tak boleh memakai ini karena aku harus melupakanmu." Sakura menyimpan kalung itu di meja dekat tempat tidurnya.
Di sisi lain, terlihat Naruto sibuk menata serangkaian bunga diatas meja makan. Ditengah bunga terdapat dua lilin berwarna merah. Selain bunga dan lilin terdapat juga dua buah anggur merah bergelas besar disisi meja. Ruang makan yang sederhana disulap oleh Naruto menjadi ruang makan yang romantis dan indah. Di bawah lantai terdapat lilin-lilin yang menyala terang. Sakura melangkahkan kakinya menuju tempat makan. Melihat banyak cahaya lilin, Sakura penasaran dan berjalan pelan. Sakura tak percaya melihat ini semua. Naruto hanya tersenyum manis pada sahabat kecilnya.
"Kau sudah datang. Silahkan duduk tuan putri hehehe," ujar Naruto.
"Naruto, apa ini?" tanya Sakura bingung.
"Makan malam spesial ini khusus untukmu. Bagaimana menurutmu? Apa kau suka?"
"Aku benar-benar suka dan ini sangatlah Indah," ucap Sakura penuh dengan senyuman.
Tak disangka Naruto berlutut didepan Sakura. Untuk kedua kalinya Sakura tercengang dan bingung karena ulah Naruto. Naruto merogoh sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam. Pelan namun pasti Naruto membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian terpajang indah.
"Naruto, sebenarnya ada apa ini?"
"Sakura menikahlah denganku. Aku tahu sampai saat ini kau belm mencintaiku. Tapi aku ingin kau menjadi istriku. Aku ingin membuatmu bahagia selamanya bersamaku."
"Tapi Naruto aku…"
"Pikirkanlah anakmu Sakura. kalau anakmu lahir dia membutuhkan seorang ayah. Dia membutuhkan nama seorang ayah untuk mengurus semuanya. Apa kau mau anakmu terlahir tanpa kasih sayang seorang ayah dan bertanya siapa ayahnya. Sakura, aku mau menjadi ayah dari anakmu walaupun itu bukan darah dagingku. Jadi maukah kau menjadi istriku setelah kau resmi bercerai dengan Sasuke?"
Sakura bingung. Otaknya tak bisa memikirkan semua ini. Pertanyaan sederhana dari Naruto namun jawaban pertanyaan itu lebih menyulitkan daripada soal matematika, fisika maupn Kimia. Tapi ada benarnya juga ucapan Naruto tentang anaknya nanti. Ya seharusnya dia lebih memikirkan tentang masa depan anaknya dari pada kisah asmaranya.
"Masalah kau akan mencintaiku atau tidak biarlah waktu yang menjawabnya," kata Naruto. Jantung Naruto berdetak cepat berharap Sakura menerima lamarannya. Sakura memejamkan mata sejenak dan menghirup lalu menghembuskan udara yang ia terima.
"Baiklah Naruto. Aku akan mencoba memulai kehidupan baru denganmu."
"Benarkah?" tanya Naruto memastikan. Sakura mengangguk, Narutopun Girang dan melompat-lompat. "Terima kasih Sakura-chan, terima kasih!"
Naruto memeluk Sakura erat. Terkadang apa yang kita rencanakan sangat berbeda dengan rencana terbaik Tuhan. Mungkin Naruto adalah orang yang ditakdirkan untuknya. Mulai sekarang Sakura akan belajar mencintai Naruto.
ooOOOoo
Pagi harinya Sakura memulai aktivitas rutin sebagai skretaris dari bos perusahaan Fourth Group. Ada yang aneh hari ini dari pandangan mata semua karyawan. Mereka semua memandang Sakura dengan tatapan aneh, bahkan ada diantara mereka yang bisik-bisik. Namun Sakura tak mau ambil pusing dia tak peduli dengan tatapan aneh mereka. Sasuke belum datang, tak biasanya Sasuke datang terlambat. Sakura mengaktifkan PC'nya untuk mengetik laporan perusahaan yang sudah menjadi tugasnya. Sebelum memulai kerja, Sakura ingin sekali browsing sesuatu tentang ibu dan anak diinternet.
Namun dipinggiran situs buatan negara Jepang sejenis google bernama Mixi dikolom "HOT NEWS". Terpampang fotonya bersama Sasuke. Foto dimana Sasuke memeluknya dari belakang dan Sakura membawa koper. Ia ingat moment ini adalah moment saat dia akan meninggalkan rumah Sasuke. Artikel itu berudul "UCHIHA SASUKE SANG PEWARIS DARI FOURTH GROUP SUDAH BERISTRI". Sakura membekap mulutnya. Sakura memberanikan diri untuk membuka link Hot news tersebut. Ternyata selain foto pelukan itu, masih banyak lagi foto Sakura yang lain bersama Sasuke saat menjalankan aktivitas dirumah, bahkan ada satu foto ciuman mereka disaat menghadiri pesta ulang tahun perusahaan kakek Shion.
"Kenapa Artikel semacam ini bisa menyebar? Bagaimana ini?"
TO BE CONTINUE
KURANG DUA CHAPTER, FF INI TAMAT. SEJAUH INI AKU SANGAT BERTERIMA KASIH PADA KALIAN YANG TAK BOSAN DAN MENANTI FF INI.
