==PART SEBELUMNYA==

Namun dipinggiran situs buatan negara Jepang sejenis google bernama Mixi dikolom "HOT NEWS". Terpampang fotonya bersama Sasuke. Foto dimana Sasuke memeluknya dari belakang dan Sakura membawa koper. Ia ingat moment ini adalah moment saat dia akan meninggalkan rumah Sasuke. Artikel itu berudul "UCHIHA SASUKE SANG PEWARIS DARI FOURTH GROUP SUDAH BERISTRI". Sakura membekap mulutnya. Sakura memberanikan diri untuk membuka link Hot news tersebut. Ternyata selain foto pelukan itu, masih banyak lagi foto Sakura yang lain bersama Sasuke saat menjalankan aktivitas dirumah, bahkan ada satu foto ciuman mereka disaat menghadiri pesta ulang tahun perusahaan kakek Shion.

"Kenapa Artikel semacam ini bisa menyebar? Bagaimana ini?"

PLEASE LOOK AT ME / CHAP 16

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T

WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

~Penjelasan~

AKU MENGUPLOAD DUA CHAPTER SEKALIGUS KARENA BESOK SAYA SIBUK. TERIMA KASIH YA BUAT YANG MENSSUPORT SAYA, MENGHARGAI KARYA SAYA DAN MENASEHATI SAYA. AKU SANGAT BERTERMIKA KASIH. SEMOGA ENDING FF INI TIDAK MENGECEWAKAN KALIAN. MUNGKIN ENDING FF INI YA "GITU-GITU DOANK" ATAU MUNGKIN "MAKSA BANGET" hehehe.

.

.

Sakura mengerti kenapa semua karyawan dikantor ini memandangnya aneh pagi ini. Sakura sama sekali tak memikirkan dampak artikel ini kepadanya namun dia lebih memikirkan dampak berita ini kepada Sasuke beserta keluarganya. Mereka akan berada diposisi sulit. Tak lama, Sasuke datang tanpa melihat maupun menyapanya. Sakura ingat dengan perkataan Sasuke tadi malam. dia meminta jangan sapa dia sedikitun walaupun Sasuke ada dihadapannya. Tapi dalam situasi gawat seperti ini, semua ucapan Sasuke tak berarti lagi. Apa Sasuke sudah tahu berita ini? batin Sakura. Sasuke duduk santai dikursinya, ia langsung sibuk mengecek laporan-laporan karyawan. Sakura semakin yakin kalau Sasuke tidak tahu apa-apa. Sekertaris Akimoto datang dengan langkah cepat dan gugup menuju Sasuke. Diruang Sasuke, sekertaris Akimoto menyalakan computer dan memperlihatkan sesuatu pada Sasuke. Sasuke terbelalak dan menatap Sekertaris Akimoto tajam. Kemudian sekertaris Akimoto berjalan menuju Sakura.

"Bagaimana menurut anda tuan?" tanya Sekertaris Akimoto.

"Syukurah, aku memang sudah memiliki istri. Biar semua warga Jepang tahu bahwa Haruno Sakura adalah istriku, walaupun sebentar lagi kami akan bercerai."

"Tuan muda kenapa anda setenang ini, masalah ini bukan masalah biasa. Ini menyangkut perusahaan ayah anda!" ucap Sekretaris Akimoto.

Sasuke sudah tak tahan lagi mendengar ocehan dan pertimbangan-pertimbangan sekretaris utama ayahnya ini. Sasuke membanting bukunya ke lantai. Berkas-berkas perusahaan pun berterbangan serta berserakan. Wajah Sasuke memerah karena menahan amarah mahadahsyat yang bersarang dalam dirinya.

"Kenapa kalian mengorbankan cinta dan hidupku demi kelangsungan perusahaan ini hah? Kenapa aku tak bisa hidup bahagia dengan Sakura? Sebenarnya apa salahku sehingga Tuhan mengujiku dengan hal serumit ini!"

Sekretaris Akimoto masih tak mengatakan apa-apa. Selama beberapa menit, beliau hanya memandang Sasuke dengan perasaan Iba. Dalam hati sekretaris Akimoto tahu bagaimana perasaan yang Sasuke rasakan. Memilih orang tua atau seseorang yang kita cintai, itu pilihan sulit. Hidup bagaikan buah Simalakama, memilih ini juga menyakitkan, itupun juga menyakitkan. Hal seperti ini pernah ia rasakan saat ia masih muda, orang tua adalah tempat terbaik didunia ini untuk kembali. Akimoto muda pun memilih orang tuanya daripada kekasihnya.

"Tuan muda, Orang tua adalah tempat terbaik didunia ini untuk kembali. Orang tua adalah harta karun abadi dalam kehidupan kita. Hanya itu yang ingin aku sampaikan, selanjutnya terserah anda." Sekretaris Akimoto beranjak meninggalkan Sasuke. Sasuke meremas-remas kepalanya sambil berteriak.

"Arrghhhh, bagaimana cara mengatasi para wartawan yang akan mempertanyakan masalah ini? Apa aku harus menemui mereka."

"Lebih baik jangan tuan muda. Untuk Sementara kita jangan menanggapi masalah ini. Presedir Taka ingin sekali bertemu dengan anda untuk membahas masalah ini."

"Aku mengerti," jawab Sasuke singkat lalu pergi meninggalkan Sakura dan Sekretaris Akimoto.

"Lalu, bagaimana denganku? apa yang harus aku lakukan?" tanya Sakura.

"Lebih baik Nona Sakura disini saja."

"Baiklah."

Sekertaris Akimoto menyusul Sasuke. Didalam ruang yang yang besar Sakura sendirian dan memikirkan sesuatu untuk bisa mencari jalan keluar atas masalah ini. Tanpa sengaja Sakura mengingat seseorang, iya seseorang yang dulu mengajaknya bekerja sama untuk memisahkan Sasuke dan Shion. Sakura membekap mulutnya. Dia sadar kalau semua ini adalah perbuatan Sasori. Sakura merasakan getaran didalam tasnya. Nomor tak dikenal menghubunginya, tanpa ragu Sakura mengangkat panggilan misterius itu
" Halo?"
"Apa kau sudah melihat hot news hari ini. Bagaimana keadaan Sasuke?". Suara bass di seberang membuat Sakura terkejut. Sakura tahu orang ini, orang inilah yang membuat kekacauan. "Sudah aku bilang padamu, kau akan menyesal kalau kau tak mau bekerja sama denganku. Maaf kalau kau kulibatkan dalam rencanaku. Tapi memang ini cara terbaik," ucap pria itu.
"Kau..kau adalah Sasori, benar kan? jadi kau yang melakukan semua ini? Sudah aku bilang padamu jangan sentuh kehidupan Sasuke sedikitpun."

"Kau mengancamku? Sekarang datanglah di Apartemen Restro lantai 15 B. Temui aku disana kita akan membahas urusan kerja sama kita," ucap Sasori.

"Apa? sudah aku bilang aku tidak mau bekerja sama denganmu!"

"Kalau nyawa Sasuke sebagai taruhannya, apa kau masih bisa berbicara seperti itu?

"Ap—apa? aku pringatkan padamu jangan kau …"

"Lebih baik kau datang kemari, sebelum semuanya terlambat. Aku tunggu kau tiga puluh menit dari sekarang." Sambungan telfon putus. Sakura diam sejenak dan berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke apartemen yang dimaksud Sasori.

ooOOoo

Sakura berjalan cepat. Tak peduli orang memandang sinis, benci dan marah padanya yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa Sasuke. Sakura sama sekali tak menyangka Sasori akan melakukan hal sejauh ini. Ada yang aneh Sasori, Sakura tak tahu itu apa tapi sikap Sasori memiliki kejanggalan bahkan terkesan jahat dan brutal. Sesampainya didepan pintu keluar dan masuk perusahaan, Sakura melihat banyak sekali wartawan berjejer disana. Penjaga Keamanan berusaha mencegah mereka untuk masuk. Hembusan nafas panjang Keluar dari mulut Sakura. Sakura menerobos kerumunan wartawan. Tak lupa ia menutup wajahnya dengan tas. Upaya Sakura berhasil dan memberhentikan sebuah taksi.

"Pak, Apartemen Restro".

"Baik Nona," Sakura pun melesat pergi bersama taksi menuju apartemen Sasori.

ooOOoo

Di ruangan yang biasa digunakan rapat. Terlihat presdir Taka, Shion beserta orang tuanya duduk menahan amarah. Tak lupa juga orang tua Sasuke yang hadir. Sasuke duduk didekat ayahnya. Suasana sangatlah terasa canggung. Mata presdir menatap Sasuke beserta orang tuanya dengan tatapan menakutkan.

"Bagaimana bisa ada kabar seperti ini?!" tanya kakek Shion penuh amarah. "Benarkah yang dikatakn artikel ini kalau sudah memiliki seorang istri? Bukankah dia itu adalah sekertarismu!?" Nada suara beliau meninggi. Sejenak semuanya terdiam namun Sasuke memutuskan untuk berbicara.
"Yang ditulis oleh artikel itu benar. Aku sudah mempunyai istri dan dia adalah sekertarisku, Haruno Sakura. Umurku memang masih muda dan aku menikahinya karena untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku, tapi aku sekarang mencintainya" ucap Sasuke.

"Dia adalah anak dari sahabatku. Dia juga sudah aku anggap anak sendiri. Keluarga kami sangat menyayangi gadis itu. Sakura adalah gadis yang baik, berhati mulia, dan lemah lembut. Semua orang pasti akan merasa nyaman di sampingnya." Sekarang Ayah Sasuke yang angkat bicara.
"Lalu bagaimana sekarang? Semua orang sudah tah kalau dalam waktu dekat cucuku dan anakmu menikah. Apa pernikahan ini akan dibatalkan begitu saja?" kata kakek Shion.

"Jangan, jangan batalkan pernikahan ini, sebenarnya aku sudah tahu sejak dulu kalau Sasuke sudah memiliki istri. Namun aku tak begitu mempermasalahkan hal itu karena aku yakin Sasuke sebenarnya masih mencintaiku walaupun dia mengatakan juga mencintai Sakura. Hubungan ini sudah berlangsung lama. Walaupun akahir-akhir ini Sasuke sedikit berubah padaku namun aku masih mencintainya," ucap Shion penuh ketegasan.

"Tak ada jalan lain untuk mengatasi masalah ini. Kalian harus mengadakan konfrensi pers dan bilang pada para wartawan kalau itu sama sekali tidak benar," ujar peresedir enteng.
"Apa? kau menyuruh anakku untuk tidak mengakui istrinya. Apa-apaan ini?" Ibu Sasuke tak trima kalau anaknya harus berbohong di depan publik. "Ini semua tidak mungkin"
"Kalau kau menolaknya maka aku akan membuat perusahaanmu bangkrut detik ini juga."
"Baiklah aku akan melakukan konfrensi pers dan aku akan melakukan apa yang anda perintahkan."

"Hei, Sasuke!" bentak ayah Sasuke.

ooOOoo

Sakura berdiri disebuah pintu ruang apartemen. Tanpa ragu dia memencet tombol. Tak lama pintu itu terbuka dengan sendirinya. Sakura melihat-lihat didalam ruangan. Terdapat banyak sekali foto cantik Shion disebuah dinding. Sakura tahu kalau Sasori begitu mencintai Shion. Batang hidung Sasori masih belum terlihat. Mungkin dia dikamar mandi karena Sakura mendengar suara gemericik air disebuah ruangan. Pelan namun pasti Sakura melangkahkan kakinya, tak sengaja kakinya menginjak tumpukan kaset dvd yang bergenre kriminal atau lebih tepatnya film tentang pembunuhan sadis. Sakura bergidik ngeri melihat sampul kaset tersebut. Apa Sasori tak merasa risih dengan film seperti ini? Sakura duduk disofa. Untuk kesekian kalinya Sakura melihat satu fofo Sasuke terletak tepat ditengah papan panah.

"Kau sudah datang?" Suara Sasori membuat Sakura terkejut.

"Apa yang kau inginkan dariku Sasori? Katakan sekarang."

"Ini mudah sekali. Kau hanya perlu memberi kesaksian saat mereka mengadakan konferensi pers. Katakan padanya kalau kau adalah istri sah Sasuke dengan begitu Shion dan Sasuke tak jadi menikah."

"Begitu cintakah kau pada Shion sehingga kau melakukan apapun untuk bisa memilikinya." Sasori nyegir kuda menanggapi perkataan Sakura.

"Tentu saja aku begitu mencintainya. Kalau tidak mana mungkin aku berbuat sejauh ini."

"Kalau aku tidak mau melakukannya, apa yang akan kau lakukan?".

Sasori berjalan menuju sebuah meja Dia membuka laci dan mengambil sebuah pisau kecil. Sasori melemparkan pisau dipapan panah. Pisau itu menancap tepat ditengah-tengah fofo wajah Sasuke. Sakura tahu maksud dari Sasori melempar pisau itu.

"Seperti yang kau lihat tadi. Aku akan menyingkirkannya sendiri ."

"APA KAU GILA! AKU AKAN MELAPORKANMU KE KANTOR POLISI!"

Sasori mengambil sesuatu dibelakang punggungnya kemudia ia arahkan ke wajah Sakura. Sebuah pistol tepat berada didepan wajah cantik Sakura. Sakura tak berani bergerak, dia hanya diam serta menatap tajam Sasori.

"Apa kau tahu, pistol ini berisi peluru jika aku menarik pelatuknya maka peluru ini akan mengenai kepalamu. Jangan banyak bicara. Ikuti saja perintahku!".

Sasori sedikit menjauh namun tangannya masih menodongkan pistol itu ke kepala Sakura. Sasori menyalakan televisi dan mengganti-ganti chanel yang ada. Tepat pada sebuah berita breaking news terlihat Sasuke beserta orang tua Sasuke mengadakan sebuah konfrensi pers. Sasori meringis puas lalu pandangannya beralih ke Niocole.

"Kau ikut aku sekarang!".

"Kemana?!"

Sasori tak menanggapi pertanyaan Sakura. Dia mengenakan jaket hitam dan memakai topi. Usai mengenakan jaket dan topi, tangan Sasori merengkuh tangan Sakura dan Menggelandang kasar Sakura begitu saja.

"Hei, kita akan kemana!"

ooOOoo

Dalam Konfrensi pers, Sasuke merasa sangat gugup. Dia bingung apa yang harus pertama kali ia katakan. Sasuke menyemangati dirinya sendiri bahwa dirinya pasti bisa melewati masalah serumit ini. Blits kamera memenuhi ruangan membuat matanya sedikit sakit dan agak buram ketika melihat. Didepan Sasuke sudah berjejer para wartawan dimeja masing-masing. Tidak lupa mereka juga membawa laptop.

"Tuan Uchiha Sasuke, bisakah anda menjelaskan berita yang beredar saat ini. Benarkah anda sudah memiliki istri?" tanya wartawan berkepala botak dan berwajah tirus. Sasuke menghela nafas dalam-dalam. Ingin sekali dia mengatakan iya namun demi ayahnya dan keluarganya ia harus mengingkari itu semua.

"Tidak, artikel itu sama sekali tidak benar," jawab Sasuke singkat

"Lalu kalau begitu siapa gadis yang bersama anda?terlihat banyak sekali foto mesra anda dengannya beredar di Internet?"

"Dia adalah sekertaris saya. Aku tekankan lagi pada kalian kalau dia hanyalah sekertaris saya".

"Bagaimana dengan acara pernikahan anda? Apa pihak dari Taka Group membatalkan pernikahan ini? Bisakah anda menjelaskan pada kami tentang foto-foto itu."

Sasuke gelagapan dia tidak tahu alasan apa yang ia gunakan untuk menyangkal kalau itu hanyalah foto biasa. Tapi memang foto-foto melihatkan sesuatu jika Sasuke memiliki Hubungan spesial dengan Sakura.

"Ehh, mengenai foto itu aku…..".

"Itu semua Bohong!" suara Bass laki-laki memecah keseriusan wawancara disaat konfrensi Pers. Semua yang hadir dikonfrensi pers sontak melihat kearah pria bertopi hitam. "Dia berbohong, gadis itu adalah istrinya. Gadis yang bersama denganku adalah Haruno Sakura yang berada di foto itu. Aku sebagai keluarganya tidak terima dengan pernyataanmu itu!" ucap Sasori Bohong.

Sejenak para wartawan terdiam. Ketika sadar, mereka mulai mengambil gambar Sakura. Semua wartawan bergumam pelan pada teman-temannya. Kalau Gadis yang ada dihadapan mereka sama persis dengan gadis yang ada difoto. Air mata Sakura mengalir, dia sudah tak tahan menerima tekanan-tekanan dari Sasori. Andai dia lebih kuat dari Sasori dia ingin sekali memukulnya sampai babak belur, Sasori tak sadar jika ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.

"Dekati Sasuke bersama keluarganya. Katakan apa yang aku perintahkan," desis Sasori.

"Aku tidak mau" ucap Sakura Pelan.

"Kalau kau menolak aku akan membunuh Sasuke sekarang!"

Sakura takut, akhirnya dia menuruti semua perkataan Sasori. Pelan-pelan Sakura berjalan menuju podium tempat Sasuke beserta keluarga duduk. Tatapan Sasuke dan Sakura saling beradu. Tangisan Sakura semakin menjadi-jadi ketika dirinya mulai dekat dengan orang yang ia cintai. Hatinya semakin sakit ketika melihat kedua orang tua Sasuke. Sakura ingin dirinya mati saja daripada dia harus melakukan hal ini. Sakura menghadap kearah semua wartawan. Mereka semua pernah mengambil gambar Sakura.

"Mengenai artikel itu aku akan memberikan penjelasan bahwa…".

Sepeninggal Sakura. Tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulut Sasori lalu menyeretnya ketempat yang sepi. Sasori memberontak namun Naruto sepenuh tenaga menahan tubuh Sasori dengan tangannya yang kekar.

"Apa yang kau lakukan terhadap Sakura hah, kenapa kau membawa pistol dan siapa kau?"

"Itu bukan urusanmu," ujar Sakura. Naruto semakin mengencangkan cengkramannya. Sasori pun mengerang kesakitan karena dia tak bisa bernafas.

"Siapa kau?" tanya Sasori.

"Aku adalah dokter pribadi tuan Uchiha Fugaku. Maka dari itu aku ada disini untuk menjaga beliau. Kau tega berbuat jahat pada mereka, terutama pada Sakura. Kau tega mengancam seorang ibu Hamil. Brengsek!".

Sasori berhasil melepaskan diri dari cengkraman Naruto. Sasori memukul Naruto, pria berambut kuning ini tersungkur. Naruto tak terima, dia membalas pukulan itu tepat di wajah Sasori. Sasori pun jatuh, pistol yang ia bawapun juga ikut terlempar jauh. Naruto mengambilnya lalu menodongkannya tepat didepan Sasori. Keduanya berdiri dalam diam dan hanya saling memandang garang. Sasori tak berkutik karena pistol itu ada tepat di depan kepalanya.

"Itu sama sekali tidak benar. Artikel itu bohong. Aku dan tuan Sasuke hanya berteman dan bekerja sama sebagai sekertaris tidak lebih. Jadi tolong jangan percaya dengan gossip yang beredar diInternet. Tuan Sasuke begitu mencintai calon istrinya jadi tak mungkin dia sudah memilliki istri."

Suara Sakura terdengar jelas dikoridor tempat dimana Naruto dan Sasori berkelahi. Hal ini membuat Naruto tak konsentrasi. Sasori menendang tangan Naruto dan berhasil mengambil pistol itu kembali. Kesempatan ini juga digunakan Sasori untuk memukuli Naruto habis-habisan. Naruto tak memiliki kesempatan untuk membalas, kepalanya pusing, bahkan pinggiran bibirnya sudah berlumuran darah, pipinya juga sudah membiru. Naruto lemas tak bisa berdiri sedikitpun.

"Andai kau tak menghalangiku kau tidak akan seperti ini." Sasori meninggalkan Naruto yang terkapar dan terluka parah karena ulahnya.

Sakura berdiri diatas podium sambil terus melihat para wartawan yang ada didepannya. Mata Sakura tak sengaja melihat seseorang dilantai dua sedang menodongkan pistol kearah mereka. Sakura tahu kalau itu adalah Sasori, dia mengarahkan pistolnya tepat ke arah Sasuke. Ya Tuhan! Tidak, ini tidak boleh terjadi, batin Sakura.

"SASUKE AWAS!"

DUAAARRRR!

TO BE CONTINUE

NAH LO SIAPA YANG TERTERMBAK, SAKURA ATAU SASUKE?