==PART SEBELUMNYA==

"Andai kau tak menghalangiku kau tidak akan seperti ini." Sasori meninggalkan Naruto yang terkapar dan terluka parah karena ulahnya.

Sakura berdiri diatas podium sambil terus melihat para wartawan yang ada didepannya. Mata Sakura tak sengaja melihat seseorang dilantai dua sedang menodongkan pistol kearah mereka. Sakura tahu kalau itu adalah Sasori, dia mengarahkan pistolnya tepat ke arah Sasuke. Ya Tuhan! tidak, ini tidak boleh terjadi, batin Sakura.

"SASUKE AWAS!"

DUAAARRRR!

PLEASE LOOK AT ME / CHAP 17 END

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Sasusaku

Rating : T

WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

~Penjelasan~

AKU MENGUPLOAD DUA CHAPTER SEKALIGUS KARENA BESOK SAYA SIBUK. TERIMA KASIH YA BUAT YANG MENSSUPORT SAYA, MENGHARGAI KARYA SAYA DAN MENASEHATI SAYA. AKU SANGAT BERTERMIKA KASIH. SEMOGA ENDING FF INI TIDAK MENGECEWAKAN KALIAN. MUNGKIN ENDING FF INI YA "GITU-GITU DOANK" ATAU MUNGKIN "MAKSA BANGET" hehehe. FEEL SASUSAKU AKAN SEMAKIN TERASA JIKA KALIAN MEMBACA FF INI SAMBIL MENDENGARKAN LAGU DARI "DAVID ARCHULETA - BROKEN". AKU AJA NULISNYA SAMPAI NANGIS

.

.

Tepat saat itu Sakura mendorong tubuh Sasuke. Sakura terjatuh, terjadi benturan keras antara perutnya dengan lantai podium. Semua orang berteriak dan panik serta berlarian kesana kemari. Sakura melihat Sasori yang berusaha melarikan diri. Untunglah seluruh keluarga Sasuke dan Shion baik-baik saja. Tak ada yang terkena tembaka, namun. Sakura merasakan sakit yang luar biasa diperutnya. Perut Sakura seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam.

"Sakura, Sakura apa kau baik-baik saja," tanya Sasuke panik,

"Sakit sekali, Sasuke tolong aku. Perutku sakit sekali" ucap Sakura. Sasuke menggerayangi saku celananya, tangannya gemetar. Sasuke berusaha menghubungi ambulance. Pipi Sasuke beruraikan air mata. Air mata kekhawatiran yang begitu mendalam.

"Ayah, ibu. Apa kalian baik-baik saja?" Orang tua Sasuke mengangguk dan bersembunyi dibawah meja.

"Sakura bertahanlah, ambulance akan segera datang, bertahanlah, aku mohon." Sasuke melihat-lihat keadaan disekitarnya. Orang-orang masih berhamburan kesana-kemari. Segorombolan security kantor menghampiri sasuke beserta keluarga dan mengamankan mereka.

"Aduuuh, Perutku sakit sekali!"

ooOOoo

Sasuke berlari menyusuri koridor rumah sakit diantara para perawat. Sakura terbaring sambil mengeluh kesakitan serta memegangi perutnya. Sasuke memegang tangan Sakura, air matanya tak bisa dibendung lagi, Sasuke tak bisa melihat Sakura seperti ini. Kenapa? Kenapa Sakura melakukan hal bodoh seperti itu. Lebih baik Sakura membiarkan dirinya mati tertembak. Sakura terus menangis kesakitan karena benturan luar biasa yang terjadi diperutnya Para perawat membawa Sakura ke ruang UGD namun mereka masih belum mengijinkan Sasuke untuk masuk.

"Tuan, lebih baik anda tunggu disini," kata salah satu seorang perawat.

Sasuke pasrah, dengan berat hati dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sakura. Sasuke memandang perih kepergian istrinya, air mata terus mengalir dipipinya yang putih. Sasuke memukul dinding begitu keras, sehingga membuat tangannya sedikit berdarah. Dia terkulai lemas dilantai. Sasuke tak mau terjadi sesuatu kepada Sakura maupun bayinya. Tak peduli apapun yang terjadi dengan perusahaannya nanti, dia akan tetap bersama Sakura bukan dengan Shion.

"Tuan Sasuke, bisakah anda menemani istri anda untuk melahirkan?" Sasuke terkejut. Dia bingung, bagaimana bisa Sakura melahirkan diusia kehamilan yang masih menginjak tujuh bulan.

"Bagaimana bisa? bukankan umur kehamilannya belum mencapai sembilan bulan?"

"Seharusnya begitu, tapi karena benturan diperutnya membuat bayi berkonstraksi lebih awal. Ini adalah kelahiran premature."

Tanpa bantahan apapun, Sasuke mengikuti kemana perawat itu pergi. Tak lupa dia memakai baju steril ketika memasuki ruangan. Disebuah ruangan, Sasuke melihat Sakura berusaha menahan sakit yang ia rasakan. Sakura menggeram kesakitan ketika ia berusaha mengeluarkan bayi dari perutnya. Sasuke mendekati Sakura dan mengenggam tangan Sakura sekuat tenaga.

"Sakura kuatlah, aku akan menemanimu disini," ujar Sasuke.

"Arrrrrgggggghhhhh!"

Sakura terus mengerang dan berusaha mendorong bayinya. Saat Sakura mengerang Sasuke semakin mempererat genggamannya. Untuk kedua kalinya Sasuke menangis, bahkan air mata yang menetes dipipinya semakin deras. Sesekali tangan Sakura ia letakan dipipinya.

"Iya, sebentar lagi. Kepalanya sudah terlihat, dorong lebih kuat Nona." kata Dokter penuh kelembutan. Mendengar ucapan itu Sakura mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong bayinya agar cepat keluar.

"Ya Tuhan, pasien mengalami pendarahan. Cepat lakukan sesuatu, agar darah tidak banyak keluar. " Sasuke panik mendengar kata "Perndarahan". Apa itu maksudnya? Apa yang akan terjadi jika itu tak dapat diatasi?

"Dokter apa yang dimaksud dengan pendarahan? Apa itu bahaya?" tanya Sasuke

"Iya sangat bahaya. Jika pendarahan ini tidak dapat diatasi maka pasien bisa kehilangan nyawanya."

"Apa? tidak mungkin, dokter tolong bagaimanapun caranya hentikan pendarahan ini. Aku mohon," rengek Sasuke.

Sasuke terus mendampingi Sakura sebisa dan semampunya. Banyak darah yang ia lihat, hal itu membuat Sasuke ingin muntah, namun dia terus bertahan untuk menemani istrinya. Wajah Sakura terlihat semakin pucat dan keringat dingin keluar dari dahinya. Tuhan Tolong selamatkan Sakura. Semoga pendarahannya berhenti, jangan ambil nyawa Sakura secepat ini, doa Sasuke dalam hati. Detik demi detik telah berganti menit, setelah menjalani proses persalinan, akhirnya bayi yang ada diperut Sakura keluar dengan selamat dan sehat. Walaupun kondisi fisik bayi itu tidak senormal bayi yang lahir dalam masa usia kandungan sembilan bulan.

"Selamat, bayi anda berjenis kelamin laki-laki," ucap Dokter.

Sakura tersenyum puas dan sedikit menitikan air mata. Sasuke juga tertawa senang sambil menatap Sakura. Sakura melihat Sasuke penuh arti, tanpa kehdiran Sasuke, dia tidak akan sanggup melewati porses persalinan ini. Uluran hangat Sasuke memberi kekuatan tersendiri pada Sakura.

"Akhirnya kau berhasil melahirkan anak kita Sakura," ujar Sasuke penuh kebahagiaan. Sakura hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Suster berjalan mendekat dan memperlihatkan wajah bayi mereka. "Lihat dia sungguh tampan, matanya seperti matamu" ucap Sasuke lembut. Sakura melihat sang buah hati diselimuti kebahagiaan yang tak terkira, perjuangan selama berjam-jam tak sia-sia karena bayinya terlahir sehat.

"Dokter Ijinkan aku untuk mencium keningnya," ucap Sakura pelan. Dengan senang hati, dokter mendekatkan si jagoan kecil pada ibunya. Sakura mengecup kening putranya penuh kasih sayang.

"Baiklah nona, putra anda harus di letakkan didalam inkubator untuk sementara. Suster tolong bawalah." Sang dokter memerintahkan suster lainnya untuk membawa putra Sakura ke ruang Inkubator. Sedangkan satu suster lainnya masih berusaha menghentikan pendarahan Sakura. Saat putranya dibawa keluar, perasaan perih dan sedih menelusuri relung hati Sakura. Seolah dia tidak akan bisa bertemu dengan putranya lagi. Entah kenapa pikiran seperti ini ada di benaknya.

"Dokter, darah pasien ini terus keluar. Bagaimana ini?" ucap salah satu suster.

"Apa? dokter, tolong dokter, lakukan apapun untuk menghentikan proses pendarahan aku mohon padamu dokter!" ujar Sasuke sambil mengguncang-guncang pundak dokter yang menangani proses persalinan Sakura.

"Kami sudah berusaha tapi….."

"Aku tidak mau tahu dokter. Tolong lakukan semua yang kau bisa." Air mata Sasuke mengalir deras. Dia tidak bisa membendung rasa kecewa, marah dan sakit yang bergejolak di dalam dirinya.

"Sasuke, " panggil Sakura halus dan pelan. Sasuke langsung berpaling dan melihat Sakura. Lagi-lagi sasuke mengenggam tangan Sakura erat. "Sudahlah, jangan khawatir aku akan baik-baik saja."

"Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu Sakura. Aku tidak mau kau meninggalkan aku." Air mata Sasuke tak berhenti menetes. Semakin lama air mata itu semakin deras. Sakura menanggapi pertanyaan Sasuke hanya dengan senyuman manis.

"Dokter bisa kah aku tinggal berdua dengan suamiku?" pinta Sakura. Dokter itu enggan untuk pergi karena Sakura masih mengalami pendarahan yang hebat. "Aku mohon dokter. Aku ingin menghabiskan waktu dengan suamiku."

Tanpa banyak argument lagi, sang dokter menyutujui permintaan pasiennya yang ada didalam kondisi tak memungkinkan. Dokter dan suster pun pergi.

"Sakura, kenapa kau melakukan ini? Apa kau tahu kondisimu itu dalam keadaan tak baik."

"Aku tidak apa-apa Sasuke. Lihat aku masih bisa bicara padamu hehe," tawa Sakura.

"Jangan bercanda padaku Sakura."

"Apa kau baik-baik saja. Kau tidak tertembak kan?" Sasuke menggeleng lemah. "Syukurlah kalau begitu dan akhirnya bayiku lahir dengan selamat. Aku merasa menjadi ibu seutuhnya. Ehm Uchiha Shouta, bukankah itu nama yang bagus . Apa ayah dan ibuku akan datang kesini?" tanyanya.

"Iya mereka sekarang dalam perjalanan." Sasuke semakin sedih melihat kondisi gadis yang dicintainya.

"Tolong jaga Shouta Sasuke. Sepertinya aku tidak bisa ikut merawatnya. Aku ingin kau selalu ada disampingnya. Sayangi dia walau sebenarnya kau tidak begitu menginginkan kehadirannya. Tubuhku semakin lama terasa semakin lemah. Pendarahan yang terjadi padaku ini tidak bisa ditolong lagi, aku tahu itu."

"Sakura jangan hal seperti ini. Semuanya akan teratasi dengan baik. Kata siapa aku tidak menginginkan kehadirannya. Aku sangat menanti kehadirannya. Kau akan selamat percayalah."

"Kenapa kau sendiri menangis?" Sakura tersenyum tipis. "Jangan menangis, bagaimana bisa aku percaya padamu kalau semuanya akan baik-baik saja" Sakura meletakkan kedua telapak tangannya dipipi Sasuke lalu membasuh air matanya. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang begitu penting."

"Katakanlah," ucap Sasuke lemas.

"Aku sangat mencintaimu Sasuke. Sampai detik ini aku masih mencintaimu." Sakura meneteskan air mata yang sudah tak bisa ditahannya lagi. "Cintaku padamu akan abadi selamanya. Tak ada yang bisa menggantikanmu dihati ini. Aku sangat bahagia karena kau sudah baik dan peduli padaku."

"Aku, aku juga sangat mencintaimu Sakura. Setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan membatalkan semua acara pernikahanku dengan Shion. Aku tahu kalau aku harus bersamam, tak peduli apapun yang terjadi dengan perushaan ayah. Aku akan selalu ada disampingmu. Aku mencintaimu!" ucap Sasuke. Mulutnya bergetar hebat menahan tangis.

"Sasuke, tubuhku terasa dingin apa kau mau memelukku?" pinta Sakura.

Tanpa mengatakan apapun, Sasuke memeluk Sakura yang masih terbaring lemah. Semakin erat Sasuke memeluk Sakura namun Sakura sedikitpun tak merasakan kehangatan ditubuhnya. Sakura juga memperat tubuhnya. Untuk kesekian kalinya air mata mengalir deras dipipinya. Sakura ingin Tuhan menghentikan waktu sejenak, agar dia bisa merasakan pelukan Sasuke dalam waktu yang lama.

"Aku mencintaimu, aku sangat mencintamu" bisik Sakura ditelinga Sasuke.

Sasuke melepaskan pelukannya. Wajahnya beralih melihat wajah Sakura yang begitu pucat. Mata mereka yang sembab dan basah karena tangis saling beradu pandangan penuh arti. Ada hasrat yang kuat dalam diri Sasuke untuk mencium bibir Sakura. Mungkin dia adalah pria yang tak tahu aturan, mencium istrinya yang ada didalam keadaan kritis seperti ini. Sasuke hanya ingin menunjukan kasih sayang dan cintanya untuk Sakura. Wajah Sasuke semakin lama semakin dekat, ia pun menempelkan bibirnya dibibir Sakura.

Sasuke mencium lembut Sakura dengan segenap jiwanya. Begitupula Sakura membalas lembut ciuman Sasuke. Ciuman itu penuh tangisan. Entah kenapa perasaan begitu sedih yang luar biasa hadir ketika bibir mereka mulai bersentuhan. Seakan mereka akan kehilangan satu sama lain. Tubuh Sakura terasa semakin lemas, ujung kaki sampai kepalanya perlahan-lahan terasa dingin. Sakura tak sadarkan diri. Kecupan dibibir Sasuke pun berhenti. Hembusan nafas Sakura sudah tak bisa lagi ia rasakan . Sasuke membelalakan matanya. Tidak mungkin, Ini tidak mungkin batin Sasuke.

"Sakura, Sakura, Sakura!" Sasuke mengguncang-guncangkan tubuh Sakura sekuat tenaga "Sakura bangunlah, aku mohon bangunlah." Sasuke mulai panik. Dia memencet tombol darurat didinding. Tak lama Dokter yang menangani persalinan Sakura datang. Dokter meletakkan dua jarinya didenyut nadi tangan Sakura.

"Berikan aku alat kejut jantung!"

"Baik dokter!"

Sang suster memberikan alat kejut jantung kepada dokter. Dokter mulai menggesek-gesekan alat itu satu sama lain, lalu meletakkan sepasang alat kejut jantung didada Sakura. Suasana didalam ruangan benar-benar rumit. Setiap suster sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang memasang monitor pendeteksi denyut jantung serta menjepit telunjuk Sakura dengan sebuah alat. Ada juga yang memasang sebuah bingkisan seperti Infus namun berisikan darah, darah itu mengalir melalui selang-selang yang dihubungkan dengan jarum memasuki tubuh Sakura. Sang dokter terus berusaha untuk mengembalikan detak jantung Sakura. Tubuh sakura beberapa kali terangkat keatas setiap dokter menempelkan alat kejut jantung didadanya. Tit..tit..tit.., alat pendeteksi jantung mulai bereaksi. Monitor menunjukan garis statistik yang signifikan, bukan garis horizontal yang memanjang namun yang terlihat adalah garis yang tak beraturan. Sang dokter dan seluruh suster menghela nafas panjang. Sasuke tergeletak lemas dilantai, seolah batu raksasa yang ia bawa selama beberapa bulan terakhir ini meghilang.

"Syukurlah, nona Sakura bisa diselamatkan, pendaharannya juga berhenti. Untuk sementara ini nona Sakura tak sadarkan diri, saya tidak tahu sampai kapan dia akan seperti ini. Semoga ia cepat sadar."

ooOOoo

Dua hari berlalu. Sasuke duduk termenung, jari jemarinya terus mengusap pipi Sakura. Sasuke sangat telaten merawat istrinya yang masih tak sadarkan diri. Darah yang Sakura keluarkan terlalu banyak, sehingga membuat Sakura tak sadarkan diri. Wajah Sasuke terlihat lusuh, kantong mata menghitam karena tak bisa tidur selama dua hari terakhir. Orang tua Sakura maupun orang tua sudah berniat untuk menggantikan Sasuke untuk merawat Sakura, tapi Sasuke tidak mau. Ia ingin sepenuhnya merawat Sakura sampai gadis berambut pink ini sadarkan diri. Sesekali Sasuke juga menjenguk jagoan kecilnya diruang inkubator. Dia sangat bersyukur putranya baik-baik saja dan sehat. Sasuke marasakan kehadiran seseorang yang tak lain adalah Sekretris Akimoto.

"Sekretaris Akimoto, untuk apa anda datang kemari?"

"Saya juga ingin tahu bagaimana keadaan nona Sakura selain itu, saya juga ingin memberikan buku ini kepada anda. Saat saya dikantor dan membereskan barang-barang Nona Sakura, tanpa sengaja aku menemukan buku ini. saya pikir ini penting jadi saya berikan pada tuan."

Sasuke hanya mengangguk sesaat lalu ia meraih buku kecil pemberian Sekretaris Akimoto. Perlahan dia membuka lembaran demi lembaran diary yang ada ditangannya. Sasuke membaca setiap kalimat yang Sakura tuliskan disana. Di halaman pertama Sasuke melihat fotonya sendiri yang berseragam lengkap, duduk santai disebuah kursi didalam kelas dengan tersenyum manis. Sasuke ingat pada saat itu dia sedang bersendau gurau dengan temannya. Kalau tidak salah dia masih kelas satu. Dibawah foto Sasuke terdapat satu rangkaian kalimat dalam paragraph.

Tanggal, 21 Juli 2008

Mataku tak pernah lepas dari pria yang bernama Uchiha Sasuke namun dia sering dipanggil dengan sebutan Sasu. Dia anak dari seorang pengusaha sukses lebih tepatnya pewaris dari perusahaan fourth Group. Aku tidak Tahu sejak kapan aku mulai tertarik padanya atau lebih tepatnya mencintainya. Mungkin aku mulai mencintainya saat dia menolongku dari serbuan senpai-senpaiku secara tiba-tiba. Aku sendiri tidak tahu permasalahannya apa. Senyumnya merupakan obat dari kesepianku, dan tawa khasnya merupakan semangat dalam hidupku. Ingin sekali aku mengenal dirinya lebih dekat lagi tapi aku tak punya nyali karena aku hanya seorang gadis dari anak seorang yang sederhana."

Ekspresi Sasuke datar, dia terus mencoba membaca setiap kata yang ada didepan matanya walaupun rasa sakit yang ia rasakan begitu luar biasa didalam lubuk hatinya. Di halaman berikutnya dia melihat fotonya dan Shion sedang bergandengan tangan penuh dengan kebahagiaan.

"Tanggal, 29 Juli 2008
Hari ini aku melihat Sasuke sedang bergandengan mesra dengan seorang gadis yang sangat cantik. Namanya adalah Shion. Dia adalah gadis idaman semua pria di sekolah. Setelah aku menayankan hal ini ke semua temanku, mereka mengatakan bahwa Sasuke dan Shion baru saja menjalin hubungan bahkan diantara temanku sangat menyukai kedua pasanngan ini, karena menurut mereka, Sasuke dan Shion sangat serasi. Persaannku hancur berkeping-keping, aku hanya bisa menangis sendirian di dalam kamar. Hal ini membuatku tak nafsu makan. Ada perasaan menyesal yang begitu besar ketika aku mulai mengenal atau merasakan cinta untuk pertama kalinya. "Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu, jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu" Kata mutiara ini membuatku sadar apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyembuhkan luka ini."

Pelupuk mata Sasuke mulai basah. Sekuat tenaga dia berusaha agar air mata tak lagi keluar dari pipinya. Sasuke tidak menyangka kalau Sakura begitu mencintainya. Sasuke kemudian melewati beberapa lembar tulisan dari diary itu. Kini dia membaca curahan hati Sakura saat dia sudah menikah dengannya. Ada foto pernikahan mereka dilembaran itu dan satu foto Sakura sendiri.

"Tanggal, 10 Agustus 2010
Hari ini adalah hari pernikahanku. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Apa aku harus bahagia atau juga bersedih. Jujur aku sangat bahagia dengan semua ini tapi tidak untuk Sasuke. Dia mengabaikanku, atau lebih tepatnya dia membenciku. Pernikahan ini terjadi karena sebuah accident yang tak terduga antara aku dan saat liburan sekolah. Aku sangat mencintainya sehingga aku tak bisa menolaknya. Aku tahu apa yang terjadi padaku kedepannya namun aku akan tetap bertahan karena aku mencintainya. Aku akan berusaha menjadi seorang istri yang bisa membahagiakan suaminya. Tak peduli Sasuke seperti apa padaku, tapi aku akan tetap berdiri disini untuk dirinya karena aku sangat mencintainya. Aku berharap dia bisa melihat betapa besarnya cintaku padanya dan ketulusanku."

Banyak sekali curahan hati Sakura yang tertuang dalam goresan penanya. Namun Sasuke tak sanggup untuk membaca lagi. Sasuke menutup kasar buku diary Sakura. Sasuke berdiri dengan nafas tersengal-sengal serta air mata yang mengucur deras. Untuk kesekian kalinya Sasuke terlarut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Sekretaris Akimito memegang pundak Sasuke dan berusaha menenangkannya. Kepala Sasuke tiba-tiba pusing, penglihatannya mulai tak jelas. Syyuuut, buugh! Sasuke jatuh pingsan dan tergeletak dilantai.

"Tuan muda, tuan muda!" teriak sekrearis Akimoto.

ooOOoo

Sasuke membuka matanya secara perlahan, didepan matanya terlihat sakura yang masih berbaring tak sadarkan diri. Tak hanya itu, Sasuke juga melihat kedua orang tua Sakura dan orang tuanya. Mereka begitu terlihat cemas, saat Sasuke bangun sang ibunda langsung memeluk putranya sambil menangis. Ia tak mau kehilangan putranya. Sasuke masih belum menyadari apa yang sudah tejadi.

"Akhirnya, kau bangun juga nak. Ibu sangat khawatir, sudah ibu pulang makanlah yang teratur agar kau tak sakit!"

"Memangnya aku kenapa ibu?"

"Kau tiba-tiba tak sadarkan diri, kata dokter kau kelelahan, kurang tidur dan tak ada asupan makanan sedikitipun yang ada ditubuhmu. Selama beberapa terakhir ini."

Sasuke tak mengatakan apapun, dia hanya diam. Kenapa dirinya yang harus bangun dan sadarkan diri, kenapa Tuhan tak mengijinkan Sakura untuk segera bangun. Sasuke memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.

"Sasuke, pelaku penembakan saat konfrensi pers sudah tertangkap" ujar ayah Sakura.

"Benarkah?" tanya Sakura.

Ayah Sakura mengangguk tanpa ragu. Sasuke ingin sekali menemui pelaku penembakan yang sudah menyebabkan Sakura seperti ini. Walaupun peluru tak mengenai Sakura, namun demi menyelematkan nyawanya, Sakura tak sadarkan diri selama beberapa hari. Siapapun itu Sasuke berharap pelaku dihukum setimpal.

ooOOoo

Esok harinya dipagi yang mendung, Sasuke menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobilnya terpakir disebuah lembaga penanganan narapidana. Sasuke berjalan masuk tanpa meggubris sekitranya, disana sudah ada skretaris Akimoto sebagai wakil dar keluarganya dalam urusan persidangan nanti. Amarah sudah menguasai dirinya, ingin rasanya Sasuke memukul bahkan membunuh pria itu sekarang. Tak jauh dia melihat sekertaris Akimoto sudah berdiri disamping pelaku. Sasuke terkejut setelah melihat wajah pelaku percobaan pembunuhan yang ditujukan padanya. Dia adalah orang yang begitu dikenal oleh masyarakat bahkan menjadi idola gadis-gadis di Jepang, dia tak lain adalah Sasori. Sasori memandang Sasuke lalu tertawa sinis. Hal ini memicu tindakan ekstrim yang dilakukan Sasuke. Sasuke spontan menarik kerah baju Sasori lalu memukulnya secara bertubi-tubi. Pinggiran bibirnya berdarah. Para polisi berusaha menjauhkan Sasuke dengan Sasori.

"Apa kau sudah puas membuat Sakura tak sadarkan diri selama beberapa hari? Memangnya apa yang kau inginkan dariku, brengsek! kenapa kau lakukan ini padaku!" teriak Sasuke. Sasori hanya terkekeh seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya.

"Karena aku menginginkan Shion. Aku benci jika dia harus menikah denganmu ahahahaha. Ternyata gadis itu lebih memilih menyelamatkan nyawamu daripada menuruti perintahku. Itu … itu akibatnya kalau dia tidak patuh padaku. Kalau dia membuat pengakuan di depan publik tentang hubungan kalian maka nyawamu akan selamat. Tapi jika tidak aku akan membunuhmu. Ternyata dia melanggarnya dan sekarang lihat pembalasannya ahahah!".

"Hei, tunggu pembalasanku, brengsek. Aku akan membunuhmu. Aku benar-benar akan membunuhmu!" Sasuke diseret keluar oleh dua orang petugas kepolisian karena menimbulkan keributan.

Saat keluar dari kantor Sasuke melihat sosok Naruto yang dikawal oleh dua orang polisi. Sasuke bingung kenapa Naruto ada dikantor polisi. Naruto tahu apa yang dipikirkan Sasuke, dia berhenti didepan Sasuke sejenak.

"Aku saksi disini. Aku tahu bagaimana Sasori mengancam Sakura. Sakura melakukan semua ini demi kamu Sasuke. Dia benar-benar mencintaimu. Aku berjanji, aku akan membuat Sasori menyesal dengan semua keteranganku dikantor polisi. Ini semua karenamu. Dan sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkanmu. Demi menyelamatkan nyawamu Sakura melakukan segalanya," ucap Naruto dengan muka sangarnya lalu pergi menjauh menuju kantor polisi.

ooOOoo

Sasuke memasuki ruangan dimana Sakura dirawat. Sakura terbaring sendirian, mungkin ibu Sakura pergi kesuatu tempat karena tadi malam beliau masih ada disini. Sasuke memposisikan duduknya disamping Sakura yang masih tak sadarkan diri. Pria tampan berambut gelap ini mengambil ponselnya, ia kemudian memakai earphone kecil ditelinganya. Sasuke meletakkan satu bagian earphonenya ditelinga kanan Sakura. Sasuke memutar lagu kesukaan Sakura dan yang sering dinyanyikan Sakura disaat dia sendiri. David archuleta – broken, menggema dikedua gendang telinga mereka. Sasuke perlahan menyanyikan tiap bait lagu yang ia dengarkan.

I know you don't wanna say goodbye yet,
But she can't survive here with just a petal
You still have one wish but it'd be useless,
More than roses have died in this desert.

Child, it seems that younger and younger,
They start to wipe your minds clean.
But how, I wonder, just barely under,
Do your eyes continue sparkling?

And I-I never want to open up your eyes, everything's broken.
And I-I never want to open up your heart, everything's broken.

I don't understand why they are gone,
Or what reason there is to be strong.
I still try to love but I'm in a place where
Doing what's right is so wrong.

But if you see me ignore the gun,
We are still fighting for life.
Here's our wish just to exist
In more than our eyes.

And I-I never want to open up your eyes, everything's broken.
And I-I never want to open up your heart, everything's broken.

Do you see what I see? Do you feel what I feel?
It doesn't matter until we see broken lives heal
Do you see what I see? Do you feel what I feel?
It doesn't matter until we see broken lives heal

Sasuke mengenggam tangan Sakura, sesekali ia mencium tangan istrinya yang pucat. Sasuke termenung, entah kenapa ia ingin membisikkan beberapa kata untuk istrinya. Ia hanya ingin Sakura bangun dan hidup bahagia selamanya. Sasuke tidur dicelah sempit tempat tidur Sakura. Untung saja tempat tidur perawatan dirumah sakit lumayan luas walaupun Sasuke harus memiringkan tubuhnya agar cukup dan tidak mengenai tubuh Sakura. Alunan lagu broken masih menggema ditelingan mereka. Sasuke bisa melihat wajah Sakura begitu dekat, bahkan tailalat kecil diwajah Sakura bisa terlihat jelas oleh matanya. Sasuke mulai mengajak ngobrol Sakura, bibir Sasuke berhadapan langsung dengan telinga kiri Sakura. Telinga kanan sakura mendengar suara lagu kesukaannya sedangkan telinga kiri mendengar suara Sasuke.

"Sakura-chan, hari ini aku menemui seseorang yang berusaha membuatku celaka. Aku tak menyangka jika dia adalah Sasori. Aku harap dia mendapat hukuman yang setimpal. Sakura, apa kau disana tidak merindukanku, disini aku dan Shouta sangat merindukanmu. Setiap malam Shouta selalu menangis karena dia tak bisa tidur dengan ibunya. Dia butuh kasih sayang dan pelukan ibunya, Shouta hanya ingin hidup dalam pelukan ibunya. Sakura, jika nyawaku bisa ditukar, aku ingin Tuhan menukarnya dengan nyawamu. Aku ingin Shouta hidup bahagia denganmu. Tak apa jika aku yang meinggalkan dunia ini. Aku mohon Sakura kembalilah demi aku dan Shouta hiks…hiks… aku mohon kembalilah!"

ooOOoo

Disebuah tempat yang dipenuhi dengan cahaya putih bercampur jingga. Terlihat Sakura berbaju putih yang termenung sendirian dibwah pohon maple yang memerah dan menguning. Pandangannya kosoong, matanya seperti robot yang tak ada kehidupan. "Sakura-chan, aku mohon…kembalilah demi aku dan Shouta". Sakura terhenyak mendengar suara asing itu. Dia kembali tersadar dalam kegelapan hati yang menaungi dirinay. Dari jauh Sakura melihat sosok yang ia kenal, merentangkan kedua tangan untuknya. Uchiha Sasuke dengan seorang anak laki-laki berumur lima tahun tersenyum manis padanya. Cahaya yang mengitari Sasuke dan anak laki-laki kecil ini begitu bersinar.

"Ibu kembalilah," ucap anak laki-laki itu.

"Sakura-chan, kembalilah," ucap Sasuke.

Sakura tersenyum bahagia dan berlari menuju mereka. Sang anak kecil menggandeng Sasuke dan Sakura. Ia berada ditengah-tengah orang yang membuatnya ada didunia.

"Ayah… ibu…."

Jari jemari Sakura mulai bergerak, matanya mulai terbuka secara perlahan. Samar-samar ia mendengar alunan merdu yang menggema ditelinganya. Penglihatan mata Sakura tak begitu jelas namun lama kelamaan, Sakura bisa melihat secara normal. Bau obat langsung menyengat indra penciuman Sakura, ia tahu jika dirinya masih didalam rumah sakit.

"Sa…sasuke-kun" ucap sakura lirih. Sasuke tersentak ketika mendengar suara kecil Sakura memanggilnya. Sasuke beranjak dari tidurnya dan melihat Sakura. Sasuke benar-benar tak percaya, jika Sakura akan sadar dalam waktu yang sesingkat ini. Ini sungguh keajaiban.

"Sakura, akhirnya kau sadar. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kesehatanmu. Bertahanlah Sakura" Sasuke segera berlari menuju kantor dokter.

"Sakura-chan!" sang ibu berteriak tak percaya. Buah yang dibawa ibu Sakura jatuh berserakan dilantai. Beliau memeluk erat putrinya yang terbangun dalam tidur panjang.

"Ibu…." ucap Sakura sambil tersenyum.

ooOOoo

Sasuke dan ibu Sakura harap-harap cemas. Sang dokter memeriksa keadaan Sakura sambil tersenyum. Sasuke tak pernah mau melepaskan genggaman tangannya dari Sakura. Ia tak mau berpisah dengan Sakura walaupun hanya beberapa sentimeter saja.

"Keadaan nona Sakura sudah membaik. Tiga hari kemudian dia sudah diperbolehkan pulang" ucap dokter.

"Syukurlah, dokter bolehkah jika saya menjenguk putraku diruang inkubator."

"Tentu saja. Anda harus banyak jalan-jalan agar syaraf-syaraf otot anda bisa bekerja kembali dengan normal" ucap dokter member penjelasan.

ooOOoo

Sasuke menggandeng tangan Sakura, dia membawa tiang infus kemana-mana. Walaupun sembuh, Sakura harus diberi banyak nutrisi karena selama beberapa hari ini dia tidak makan. Sakura sudah tak sabar ingin melihat buah hatinya, apakah dia baik-baik saja dan berkembang dengan baik. Sakura dan Sasuke berhenti disebuah dinding kaca, Sasuke menunjukan dimana letak incubator yang menghangatkan tubuh Shouta. Senyum kebahagiaan terpancar dari bibir Sakura. Shouta terlihat begitu aktif, dia selalu menggerak-gerakan tangan dan kakinya. Putra pertamanya ini memang sangat tampan seperti ayahnya.

"Dia benar-benar tampan dan sehat," ucap Sakura.

"Tentu karena dia putraku hehehe," sahut Sasuke. "Aku rasa Shouta ingin sekali memiliki seorang adik, benar kan Sakura?"

"Assh, aku baru saja sembuh tapi kau sudah berpikir untuk memberikan seorang adik pada Shouta?"

"Hehehe iya, tapi tidak harus sekarang. Aku mencintaimu Sakura!" Sasuke memeluk erat Sakura dari belakang. Kepala Sasuke bersandar manja dibahu Istrinya.

"Aku juga mencintaimu. Sasuke-kun, bagaimana dengan rencana pernikahanmu dengan Shion?" tanya Sakura. Sasuke menghela nafas mendengar pertanyaan ini.

"Dibatalkan, Shion sendiri yang meminta kakeknya untuk membatalkan pernikahan kami berdua pasca tragedy penembakan. Dia lalu pergi ke paris untuk sekolah modeling dan desain. Kakek Shion juga meminta maaf pada publik atas pembatalan pernikahan itu. Beliau akan bekerja sama dengan ayah seperti semula tanpa mencampur adukan urusan bisnis dan pribadi. Sasori juga sudah ditangkap."

"Benarkah?" tanya Sakura.

"Hmm, banyak hal yang terjadi selama kau tak sadarkan diri. Sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita."

"Sakura-chan!" ucap seseorang yang tiba-tiba memanggilnya.

"Naruto-kun!"

ooOOoo

Disebuah taman rumah sakit yang asri dan sejuk, Sakura duduk kursi panjang yang ada ditaman. Sasuke mengawasi Sakura dan Naruto dari kejauhan, Naruto meminta sedikit waktu untuk berbicara empat mata dengan Sakura. Perasaan bahagia menyelubungi relung hati Naruto karena Sakura sudah sadar dari tidur panjang. Naruto baru bisa menjenguk Sakura sekarang karena Naruto dalam kondisi pemulihan, selain itu juga Naruto menjadi saksi dalam sidang yang mengakibatkan aktor terkenal Sasori. Test psikologis mengatakan bahwa Sasori adalah seorang psikopat. Stress berkepanjangan dan kesepian membuat Sasori memiliki kepribadian yang mengerikan. Surat kabar dan media elekteronik selama beberapa hari ini dipenuhi berita tentang Sasori dan aksi percobaan pembunuhannya terhadap putra uchiha Fugaku. Sakura teringat kembali dimana dia menerima pinangan Naruto. Sakura ingin menarik kembali kata-katanya. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama Sasuke.

"Naruto aku tidak bisa menikah denganmu!" ucap Sakura. Ia melepaskan cincin pemberian Naruto dan mengembalikan kepada pemiliki sebenarnya. "Maafkan aku, aku mohon."

"Aku datang memang untuk ini Sakura. Aku tahu kau tidak akan pernah mencintaiku, kau hanya mencintai Sasuke. Pernikahan seperti itu sama saja seperti sayur tanpa garam. Aku sama sekali tidak marah denganmu. Oh ya, aku harus kembali ke Amerika, aku diterima kerja disana. Jika aku pulang aku pasti akan menemuimu."

"Ke Amerika? Apa semuanya karena aku?"

"Tidak Sakura, aku memang sudah memutuskan ini dari dulu. Kau jangan berpikir macam-macam. Aku pergi dulu, baik-baiklah disini Sakura-chan!"

Sakura mengangguk, ia dan Naruto berjalan menuju Sasuke yang terlihat panik. Ia takut Naruto akan merebut istrinya kembali. Naruto tersenyum tipsi kepada Sasuke, ia maju beberapa langkah. Wajahnya sangatlah dekat dengan wajah Sasuke. Naruto memberi sebuah tinjuan kecil diperut Sasuke sebagai tanda kemarahannya selama ini karena Sasuke sudah membuat Sakura menderita. Sasuke memegang perutnya kesakitan karena tinju Naruto terasa panas dan perih. Pria berambut kuning ini kemudian berbisik pelan ditelinga Sasuke.

"Teme, jagalah Sakura. Jika tidak aku akan merebutnya kembali." Naruto menepuk-nepuk bahu Sasuke dan meninggalkan mereka berdua.

"Sasuke-kun kau tidak apa-apa. Ahhh, Naruto benar-benar keterlaluan!"

ooOOoo

Enam tahun kemudian,

Sasuke, Sakura dan Shouta duduk mengitari meja makan. Ayah dan anak ini memakan sarapan buatan Sakura dengan lahap. Tak ada yang enak didunia ini kecuali masakan Sakura. Shouta memakai seragam sekolah, dia sudah menginjak taman kanak-kanak dan sebentar lagi Shouta akan menuju sekolah dasar, sedangkan Sasuke memakai setelan jas yang rapi. Shouta memiliki kecerdasan diatas rata-rata seperti ayahnya.

"Ayah, ibu, teman-teman Shouta disekolah selalu bercelita tentang adiknya. Meleka seling belmain belsama, bahkan meleka bilang mempunyai adik itu mengasyikan. Ayah, ibu, aku jugan ingin punya adik sepelti mereka, apa ayah ibu bisa membelikan aku seorang adik?" tanya Shouta polos. Brusssh! Teh yang diminum Sasuke muncrat kemana-mana. Sakura juga salah tingkah mendengar pertanyaan Shouta. Adik itu bukan dibeli tapi dibuat, batin Sasuke.

"Aahahah, Shouta ayo cepat berangkat sekolah, nanti kau terlambat," ucap Sakura.

"Iya benar kata ibu, ayo berangkat Shouta," ajak Sasuke.

"Tapi ayah dan ibu akan membelikan Shouta adik kan?" tanya Shouta polos.

"Iya, nanti ayah dan ibu akan membelikanmu adik, jadi Shouta jangan khawatir," rayu Sasuke.

"Aku ingin adek yang besal."

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak percaya Shouta mengatakan hal demikian. Sasuke mengedipkan sebagian matanya kepada Sakura, dan mencium pipi istrinya manja. Sasuke kemudian berbisik keci ditelinga Sakura.

"Nanti malam kita akan membelikan Shouta adik," rayu sasuke.

Wajah Sakura memerah mendengar ucapan dan desahan nafas Sasuke yang terdengar begitu seksi ditelinganya. Akhirnya, kebahagiaan datang dalam hidupnya. Memiliki suami tampan, baik hati, penyanyang serta seorang putra yang cerdas dan lucu membuat Hidup Sakura benar-benar sempurna. seolah dunia ada digenggaman tangan Sakura.

Sebut saja keluarga itu suku, sebut saja keluarga itu jaringan, sebut saja keluarga itu rumpun bangsa, atau sebut saja keluarga tetap keluarga : apapun engkau menyebutnya, siapapun kamu, kamu butuh sebuah keluarga.

THE END

PERNAH MENDENGAR KISAH ORANG KOMA KEMBALI NORMAL SETELAH MENDENGARKAN LAGU-LAGU KESUKAANNYA ATAU ORANG KOMA YANG BISA HIDUP KEMBALI KARENA MENDENGAR SUARA DARI ORANG YANG DICINTAINYA. DARI KISAH MEREKA ITULAH FF CHAPTER INI TERINSPIRASI.