AYAME
Bagian Dua
Tokoh-tokoh dalam Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto
Nama Ayame diambil setelah diskusi kecil bersama aicchan berbulan lalu XD. Arigato gozaimasu, Ai!
Semua yang berkaitan dengan leukemia Ambu ambil dari wikipedia dengan pengetahuan yang minim. Mohon bimbingannya! *lirik [at]aranthiea [at]sylviolin dan [at]3rdOrion*
-o0o-
"Teganya, kau hanya pulang seminggu, Ino!"
Ino tekekeh sambil terus menjilati eskrimnya. "Libur sih tiga minggu, tapi yang dua minggu kan mau dipakai latihan pementasan. Ini kan pementasan pertamaku, Sakura! Mestinya kau datang ke Otto!"
"Ya, pengen sih pengen, tapi tanggalnya bertepatan dengan ujian. Huwaa! Tujuh mata kuliah ujian dalam waktu dua minggu!"
"Aaah, aku percaya kau bisa! Dari SMA juga kan kau selalu rangking pertama!"
"Tapi di FK ini seolah-olah semua orang rangking pertama," Sakura memprotes, melipat plastik bungkus eskrimnya yang sudah habis dan melemparnya ke keranjang sampah terdekat.
"Seperti apa ya, kuliah bareng orang-orang jenius semua?" terawang Ino. Eskrimnya juga sudah habis, stick-nya masih dipegang, digoyang-goyangkan bagai konduktor memimpin orkestra, "—belajar, laboratorium, tutorial—itu saja terus sepanjang waktu—"
"Aaah! Tidak dong, Ino! Kami juga shopping, nonton, aku dan gang-ku kadang suka sleepover, pjama party. Dan baru saja kemarin kami fangirling—George Clooney itu sungguh unyuuuu!"
"Lah, George Clooney kan oom-oom?"
"Tapi oom-oom yang unyu!" Sakura berkeras, "Lagipula, entah kenapa, teman-teman satu gang-ku sukanya oom-oom semua, hihi!" Sakura cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Sekilas, tapi terlihat oleh Ino.
"Sakura—kau masih memakai cincin itu?"
Senyap sekejap.
Sakura tersenyum sendiri, memandangi jemari kirinya. "Iya. Cincinnya bagus, aku suka, jadi aku pakai terus—"
"Bukannya karena kau selalu ingat dia?"
Sakura berhenti berjalan. Berdiri diam. Membisu. Menutup mata. "Terutama itu, Ino. Aku selalu ingat dia—"
"Sakura—"
"Buat penyemangat, Ino. Kalau aku sedang bete, mengingat-ingat dia atau memandangi cincin ini, seolah dia ada. Seolah dia mengucapkan kata-kata penghibur. Mendorongku untuk maju—"
"Tapi kau harus ingat kalau dia sudah tak ada—"
Sakura mengangguk. "Aku tahu." Pendek. Tangannya menarik Ino, menyuruhnya ikut.
"Hei, Sakura aku mau dibawa ke mana?"
Sakura tetap diam, meminta Ino untuk tetap ikut. Berjalan menelusuri jalan setapak, memutar, menuruni tangga, menyeberang, dan baru Ino mafhum.
Taman Pemakaman Umum Konoha
Berjalan berdua, Sakura kemudian berhenti di jejeran tertentu. Makamnya bersih terawat. Ada sebuah buket di nisannya.
"Itachi-niisan pasti baru datang—" sahutnya pelan.
"Wow! Kau hapal?"
Sakura menggeleng. "Dulu sih tidak. Itachi-niisan kalau berkunjung, tak pernah bawa apa-apa. Tapi sejak menikah, istrinya Hana selalu bawa bunga kalau datang—"
"Kau bahkan hapal bahwa Itachi-niisan sudah menikah?"
Sakura tersenyum tipis. "Aku tiap minggu ke sini. Bahkan kalau sedang galau atau bete, bisa dua-tiga kali seminggu. Sering bertemu Itachi-niisan, kadang juga Fugaku-jisan dan Mikoto-basan—"
Keduanya terdiam di depan nisan. Sudah lebih dari tiga tahun. Sepertinya baru terjadi kemarin. Tiga tahun.
"Kau jangan terkungkung dengan masa lalu, Sakura—" Ino berkata hati-hati.
Sakura mengangguk. "Aku tahu. Itachi-niisan selalu bilang begitu. Bahkan Fugaku-jisan dan Mikoto-basan juga bilang begitu. Tapi, aku kan terus hidup, berteman dengan siapa saja, bergaul dan tertawa seperti biasa, tidak tertutup dan meratapi nasib—"
"Tapi kau tak membiarkan seorang laki-laki pun mampir di hatimu, kan?"
Hening.
"Aku—" Sakura seolah kehilangan kata, "—sulit sekali, Ino—"
Menarik napas panjang, melepasnya juga panjang.
"Aku juga ingin, aku juga tak ingin terikat dengannya terus, mungkin suatu waktu nanti, tapi aku tak tahu kapan—"
Ino memeluk Sakura, yang otomatis tersedu di bahunya.
.
.
.
.
Setelah beberapa saat, Sakura sudah tenang, baru Ino melepas pelukannya. "Kau tak apa-apa?"
Sakura menggeleng.
"Mau menemaniku?" Ino bertanya iseng.
"Ke mana?"
"Ketemu oom George Clooney—"
Keduanya tertawa.
"OK," Sakura mendekati nisannya. "Sasuke, kami pergi dulu ya! Nanti aku ke sini lagi!" tangannya membelai nisannya. Keduanya lalu beranjak dari situ.
"Oya, aku harus peringatkan, posternya seperti film action, tapi oom Clooney di sini nggak banyak action lho—"
"Justru itu yang aku tunggu. Ingat film One Fine Day? Nah, aku pengen yang seperti itu—"
Sayup-sayup celoteh mereka menjauh meninggalkan pemakaman.
-o0o-
"Sa-Sakura!"
Sakura menghentikan jalannya dan menoleh ke arah asal suara. Di belakangnya seorang gadis manis berambut panjang hitam kebiruan berlari ke arahnya.
"K-kau sudah menyelesaikan tugas Gaara-sensei?"
Sakura mengangkat tangannya, memperlihatkan makalah. "Kau sendiri?"
"Sudah dong—" dan ia juga memperlihatkan makalahnya. "Nan-nanti presentasi, siapa dulu yang maju ya? Duuuh, a-aku paling tidak siap kalau presentasi—"
Sakura tersenyum. "Hinata, makalahmu biasanya paling lengkap dan sistematis, mestinya kau pede dong!"
Hinata terpaksa tersenyum juga, "Wa-waktu di depan laptop sih aku pede, tapi di de-depan kelas—"
Salah satu teman terdekat Sakura ini selalu gugup kalau harus presentasi di depan kelas, padahal Sakura tahu, otaknya paling cemerlang. Entah apakah itu karena dulu dia homeschooling, hingga sekarang tak terbiasa bertemu dengan orang banyak; atau justru karena orangtuanya tahu dia gagap sehingga disekolahkan secara homeschooling? Tak tahu juga sih..
Mereka berdua masuk kelas. Baru ada sedikit, maklum masih pagi. Keduanya bergabung dengan yang lain, mendiskusikan makalah. Dosen kali ini memang sudah terkenal membuat gentar: dingin, dan tak segan-segan memberikan nilai yang menjatuhkan kalau perlu. Tak ada ampun.
Makanya anak-anak selalu datang pagi kalau ada kelasnya, bersiap semaksimal mungkin. Kelasnya selalu sepi kalau sedang kuliah, tak ada yang berani berbicara, kecuali saat disuruh bertanya, atau ditanya. Mahasiswi semacam Hinata sih, sudah deg-degan saja selama matakualiahnya, bukan karena bahannya, tapi karena sikapnya itu. Hinata bisa saja paling lengkap makalahnya, tapi ditatap sedikit saja, lenyap seluruh kosakata di benaknya.
Tapi, Hinata bertekad terus maju. Soalnya, Gaara-sensei adalah dosen yang membawakan materi Hematologi. Sedang Hinata, ingin sekali menjadi dokter anak. Dokter anak, sedikit banyak harus menguasai masalah-masalah Hematologi.
Apalagi Sakura.
Untuk Sakura, tak ada dosen yang killer atau kejam. Semua akan diterabasnya. Pokoknya, cita-citanya spesialis Hemato-onkologi.
Dan untuk keheranannya yang sia-sia disembunyikan, Gaara-sensei memanggilnya di akhir perkualiahan.
"Kulihat makalahmu cukup baik. Bagaimana kalau disempurnakan lagi, dan nanti dipresentasikan di sebuah seminar?" Gaara-sensei menunjukkan sebuah undangan mengikuti seminar Hematologi untuk mahasiswa. "Aku akan mendampingi, tapi hanya sebatas mendampingi pada saat persiapan. Untuk tampil, berbicara, dan sebagainya, kau benar-benar harus sendiri—"
Sekilas Sakura membaca undangan itu. Jadi mahasiswa-mahasiswa Kedokteran dari daerah Suna, Otto, Ame, dan sebagainya, akan berkumpul. Tahun ini temanya Hematologi.
"Ta-tapi, apakah saya sudah cukup memenuhi syarat, Sensei?" setengah ingin ikut, tapi juga setengah takut mengecewakan Universitas Konoha.
"Masih ada waktu satu bulan. Kalau kau mau, kau akan kubimbing tiap hari sampai saatnya tiba—"
Gemetar Sakura mengangguk. Kesempatan yang baik! Semua kesempatan yang mendukungnya menjadi spesialis Hematologi, harus dimanfaatkan.
"Ha-i, Sensei. Saya akan berusaha—"
Gaara-sensei menyerahkan selembar jadwal. "Ini jadwal kuliahku. Di luar itu, kau bebas menemui untuk berdiskusi. Di ruanganku—"
"Terima kasih, Sensei—"
Gaara-sensei mengangguk, lalu berjalan keluar kelas.
Hinata sudah menunggunya, menepuk bahunya dengan girang, "Me-mewakili Universitas Konoha! Kau harus bangga, Sakura!"
"Iya bangga, tapi bagaimana kalau aku sampai mengecewakan Universitas Konoha?" Sakura setengah bingung.
Hinata tersenyum. "Kalau perlu bantuan, aku siap lho!"
Hinata selalu siap untuk membantu, kecuali kalau soal bicara di depan orang banyak!
-o0o-
Selama sebulan itu Sakura benar-benar mencurahkan perhatian. Kunjungannya ke makam Sasuke tetap seminggu sekali, tapi kali ini ia dengan antusias menceritakan kesibukannya.
"Kau tahu, Sasuke, ini jalanku untuk menjadi ahli Hematologi. Aku bersumpah, akan mengobati sebanyak mungkin pasien yang menderita penyakitmu. Bahkan, aku membaca dari jurnal-jurnal, sudah mulai terbuka jalan untuk kesembuhan. Pengobatan bukan hanya untuk mempertahankan kehidupan selama beberapa bulan, tetapi mengobati tuntas.
Kalau aku menjadi ahli Hematologi-Onkologi, aku akan berusaha keras untuk mewujudkan hal itu, Sasuke. Aku tak ingin ada lagi Sakura yang ditinggalkan, Sasuke. Aku ingin Sakura-Sakura yang lain, bisa tetap bahagia bersama Sasuke-Sasukenya—"
Sakura tercenung di depan makam agak lama.
Menjelang sore, baru ia beranjak.
-o0o-
Prosesi wisuda memang melelahkan, tetapi paling tidak Sakura bisa bernapas lega. Sudah setengah jalan ditempuhnya, Sarjana Kedokteran. Tousan dan Kaasan mendampinginya selama wisuda dengan bangga.
"Setelah ini kau melanjutkan ke mana?" Kaasan mengusap rambut pink itu dengan sayang.
"Inginnya sih spesialisasi Hemato-Onkologi," sahut Sakura pasti, "tapi masih lama. Aku masih harus menjalani ko-as dulu—" Sakura melepas topi toga dan jubahnya. "Kaasan dan Tousan mau langsung pulang?"
"Kau sendiri?"
"Gaara-sensei meminta aku membahas kerangka jurnal yang mau dimuat hari ini. Mungkin aku pulang agak malam—"
"Oke. Jangan terlalu malam, Kaasan memasak spesial lho!"
"Okeee!" Sakura memeluk Tousan, memeluk dan mencium pipi Kaasan.
"Sini, toganya Tousan bawa pulang saja, biar kau tidak kerepotan—"
"Eheheh, Tousan tahu saja—" Sakura terkekeh tatkala dijitak Tousan-nya.
-o0o-
Melangkah ke ruang kerja Gaara-sensei, Sakura mengetuk pintu, seperti biasa. Semenjak kerjasama yang baik saat seminar di tahun ketiga itu, Gaara-sensei jadi lebih memperhatikannya. Mengetahui minatnya yang besar akan Hemato-Onkologi, Gaara-sensei menawarkan agar menjadi asistennya.
Dan di sinilah ia berada.
"Masuk, Sakura-sensei—"
Sa-Sakura-sensei?
"Ya, kau! Karena kau sudah lulus Sked, maka kau kupanggil Sakura-sensei. Tingkatanmu sudah tidak sama dengan mahasiswa biasa lagi—"
"H-Hai, sensei—"
Rasanya aneh. Dipanggil sensei oleh orang yang sangat dihormatinya—
—tapi tetap saja Gaara-sensei menuntut kesempurnaan kerja. Dan hasilnya ia pulang larut malam, malam itu.
-o0o-
Menjalani langkah-langkah selanjutnya dalam upayanya menjadi dokter, memang tak mudah. Apalagi setelah ia resmi menjadi asisten. Gaara-sensei menuntut kesempurnaan kerja tingkat tinggi.
"Kau tahu, Gaara-sensei menyamakan orang lain dengan dirinya. Ya jelas nggak bisa. Dia itu workaholic tingkat dewa—" gumam dokter muda, Kabuto, saat mereka sedang makan siang di kantin.
"Tapi kulihat Sakura-sensei bisa memenuhi demand-nya," sahut Shizune-sensei. "Kau tahu, Sakura, entah sudah berapa orang asistennya dulu yang mengundurkan diri, tak kuat menyamakan langkah—"
"Ah, benar?" Sakura tak percaya.
"Sudah kubilang, dia itu workaholic! Sepertinya dia nggak butuh makan atau tidur—" Kabuto-sensei menimpali.
Sepertinya, pikir Sakura dalam hati. Bekerja bersama dalam waktu yang lama, hampir setiap hari, membuatnya mulai merasa bisa menilai kebiasaan atau sifatnya. Seperti—dikejar obsesi. Workaholic, ingin terus bekerja, tak ingin berhenti. Sama persis seperti dirinya.
Tak terlihat, sebenarnya Sakura sendiri juga dikejar obsesi. Obsesi yang terus menerus diucapkannya saat ia sedang mengunjungi makam Sasuke. Ia harus berhasil jadi dokter, ia harus menemukan obatnya, ia harus bisa menyembuhkan pasien leukemia—
"Sebetulnya, kalian cocok. Kulihat, Sakura-sensei ini juga mulai tertular workaholic—" sahut Shizune-sensei sambil menepuk bahu Sakura main-main.
"Hei kenapa kalian tidak menikah saja? Kalau kalian menikah, kalian bisa meneruskan penelitian kapan saja, di mana saja—" kekeh Kabuto-sensei menggoda. Sakura melempar sejawatnya ini dengan serbet.
"Eh, iya!" seru Shizune-sensei, "Gaara-sensei juga kan belum terlalu tua, kalian berbeda hanya 4-5 tahun saja! Kenapa tidak menikah saja?"
"Menikah kepalamu, memangnya seperti mencampur senyawa dalam cawan petri?" Sakura berdiri, pura-pura marah, tapi masih turut terkekeh. "Sudah ah, aku kembali bekerja—"
"Nah, kan, kubilang juga, worka—aduuuh—" Kabuto-sensei mengusap kepalanya yang disambit Sakura main-main oleh gulungan koran.
Kembali ke laboratorium, Gaara-sensei masih dalam posisi sama seperti tadi ditinggalkan. Bedanya ada seperangkat mangkok, peralatan makan, di sisinya. Sepertinya tadi ia makan di sini, di lab, dan belum membereskannya. Tapi sudah mulai bekerja lagi.
Sakura menghela napas. Gaara-sensei bahkan tak mau bersusah payah untuk pergi ke kantin untuk makan, yang bagi Sakura, selain untuk makan itu juga digunakannya untuk bersosialisasi.
Dibereskan peralatan makan itu, dibawa ke wastafel, dan dicucinya. Setelah itu, ia mencuci tangan, dan kembali mengenakan jas lab. Kembali bekerja.
Sepertinya Gaara-sensei baru menyadari bahwa mangkuk-mangkuknya sudah diberesi. "Sakura-sensei! Aku tak sadar bahwa—"
Sakura hanya tersenyum. "Sudahlah. Kembalilah bekerja." Dan ia pun kembali menekuni mikroskopnya.
Hari sudah larut malam ketika Gaara-sensei memberi isyarat bahwa pekerjaan hari ini sebaiknya disudahi saja.
Sakura membereskan pekerjaannya. Membuka jas labnya, dan menggantungnya di lemari. Gaara-sensei juga melakukan hal yang sama. Tapi tangannya terhenti. Ia tak menutup pintu lemarinya. Seperti—sedang memikirkan sesuatu. Atau, seperti akan membicarakan sesuatu?
"Sakura-sensei—"
"Ya?" Sakura sudah hendak mengalungkan tas tangannya.
"Apa pendapatmu—jika kita—jika kita menikah?"
-o0o-
Kantin Rumahsakit sepi di malam seperti ini. Buka 24 jam memang, tapi biasanya siapa yang mau makan pada jam 2 subuh seperti ini?
Gaara dan Sakura masih ada di sana.
"Aku tahu, ini tak masuk akal. Tiba-tiba saja terlintas. Jika saja kita menikah, maka kita bisa melakukan penelitian kapan saja, tak terbatas oleh jam malam seperti ini. Aku tahu, ini tak biasa. Menikah dengan pertimbangan pekerjaan, bukan karena—well, apakah itu cinta atau apapun—"
Sakura mengangguk.
"Aku mengerti."
Gaara menatapnya. "Kau mengerti?"
Sakura mengangguk. "Kau terobsesi dengan meneliti leukemia. Aku juga. Itu yang kutangkap. Karenanya, jika kita menikah, mungkin penelitian bisa lebih intensif—dan mungkin saja kita akan menemukan sesuatu—"
Kini Gaara yang mengangguk. "Itu yang kupikirkan. Aku sudah punya beberapa asisten sebelum kau, dan tak pernah terlintas di benakku. Tapi, punya asisten sepertimu, yang kupikirkan adalah terus bekerjasama dalam waktu yang tak terhingga—"
Terdiam beberapa saat.
"Jadi, kapan kau akan menemui orangtuaku?"
-o0o-
Pernikahan berlangsung meriah. Untuk keluarga Haruno, ini adalah pernikahan anak tunggal, jadi tentu saja harus semeriah mungkin. Bagi keluarga Sabaku, walau Gaara adalah anak bungsu, tetapi karena ia sendiri sudah punya kedudukan, punya relasi, maka sama saja harus semeriah mungkin.
Malam sudah larut tatkala mereka masuk kamar, lelah. Tamu sangat banyak, dan pestanya sukses.
Sakura masuk ke kamar mandi, berganti pakaian, menggosok gigi. Gantian dengan Gaara.
Kikuk.
Sakura duduk di tepi pembaringan, menyisir rambut pinknya, ketika Gaara keluar dari kamar mandi.
"Karena—karena kita sudah menikah—" ucapan Gaara tersendat—ia berlutut di hadapan Sakura. Satu tangannya menyusuri rahang Sakura, terus ke arah pipi. Dilengkapi dengan tangan yang lain, membingkai kedua pipi.
Dan bibirnya menangkap bibir Sakura. Lembut.
Sekian tahun tak pernah disentuh.
Sepertinya keduanya bahkan, tak pernah disentuh.
.
.
.
.
Sisir Sakura terjatuh begitu saja di sisi pembaringan.
-o0o-
"Jadi, kau terobsesi untuk meneliti leukemia, karena pamanmu?"
Keduanya berbaring di pembaringan, kepala pink Sakura dalam pelukan lengan Gaara.
Gaara mengangguk. Sakura tak bisa melihatnya, tapi ia bisa merasakannya.
"Kedua orangtuaku sudah tak ada, yang membesarkan kami itu Yashamaru-jisan. Dialah tumpuan kami. Ada banyak keluarga kami, kau lihat sendiri saat pesta, tapi yang benar-benar mengurusi kami itu Yashamaru-jisan. Karena itu, kami benar-benar kaget saat ia divonis leukemia. Kesehatannya memburuk dalam beberapa minggu, dan ia tak bisa bertahan—"
Entah kenapa, Sakura mendadak merasa lidahnya kelu. Ia ingin menceritakan obsesinya juga, tentang Sasuke, tapi apakah Gaara akan mengerti? Gaara suaminya, dan menceritakan tentang lelaki lain, akan seperti apakah perasaannya?
Maka ia menutup rapat-rapat obsesinya.
-o0o-
Mereka memang semakin kompak. Penelitian semakin menampakkan kemajuan berarti. Jika penelitian ini selesai diujicoba, maka akan ada harapan besar bagi penderita leukemia untuk tetap hidup, bukan semata pengobatan untuk memperpanjang usia dalam hitungan bulan.
Pasangan suami-istri itu kerap diundang mempresentasikan penelitian mereka, bukan hanya di Jepang, tetapi juga di negara-negara lain. Memang praktis, selesai acara mereka berdua masih bisa mendiskusikannya, bahkan di tempat tidur!
Dan Sakura hamil!
Gaara membatasi penelitian yang bisa dilakukan bersama. Juga membatasi kepergian ke luar negeri. Sakura merasakan, suaminya memang tidak romantis, tapi kasih sayangnya dicurahkan dengan cara lain—
-o0o-
"Napas—lepaskan—napas lagi—ya, satu-dua-tiga, dorooong—" bidan itu memberi instruksi. Sakura mengikuti. Sudah sepuluh menit, tapi belum ada kemajuan. Padahal menurut bidan, sudah bukaan sepuluh.
Pintu ruang bersalin terbuka. Gaara muncul terengah-engah, sudah dengan baju steril, "Maaf, Sakura, tadi terlambat. Ayo kita teruskan—" dan ia memegang tangan istrinya erat-erat.
Tadi pagi sebenarnya Gaara sudah enggan mengikuti workshop, tetapi itu workshop penting. Dengan pertimbangan, sudah saatnya, tapi belum ada bukaan, ditinggalkannya Sakura di rumah sakit. Banyak rekan, dan kalau ada apa-apa tinggal masuk ruang bersalin, begitu pemikiran praktisnya tadi.
Bidan tersenyum. "Ayo, nyonya Sabaku, kita bekerjasama! Anak Sabaku, ayahmu sudah datang, mari kita keluar—" dan ia kembali pada instruksinya yang tadi, "—napas—lepaskan—napas lagi—satu-dua-tiiii—ga," dan Sakura merasakan mulas yang amat sangat, nyeri yang amat sangat ketika ia berusaha mengejan, tapi sesuatu keluar dengan lancar, meluncur dengan mulus, dibarengi tangis yang nyaring—
"Perempuan, Nyonya—"
Titik keringat bercampur titik airmata bahagia memenuhi wajah Sakura saat bayi mungil itu dibungkus flanel dan diletakkan telungkup dekat payudaranya.
"Biarkan dia mencari puting susu, Nyonya Sabaku—" sahut bidan. Semua memandang tegang saat makhluk mungil itu seperti merayap, menemukan sumber makanan, dan melahapnya.
Bidan tersenyum. "Anak pintar," dan menepuk lembut si bayi.
Perlahan tempat tidur Sakura didorong ke kamar rawat, didampingi Gaara. Matanya tak lepas dari keajaiban mungil itu.
"Selamat beristirahat," sahut perawat, "jika perlu apa-apa, tinggal bel saja—"
Gaara mengangguk.
Ia berbalik pada Sakura. Bayi mungil tadi sudah berhenti menyusu, tapi masih menempel pada payudara.
"Kita beri nama apa?" Sakura bertanya.
"Ayame—"
"Ayame?"
"Kalau laki-laki, tadinya akan kau beri nama Sasuke, bukan? Sasuke adalah nama ninja terhebat. Karena dia perempuan, ninja perempuan terhebat adalah Ayame—"
.
.
.
.
.
.
—Sakura terpana.
"Gaara—"
"Kau sangat menginginkan itu, bukan?"
"Tapi, bagaimana kau tahu?"
Gaara mendekati Sakura, membungkuk dan berbisik, "—saat kau akan pingsan, saat Sasuke meninggal, kau ingat seorang ko-as menahanmu—"
Mata Sakura membesar, membulat. "Gaara? Jadi itu kau? Kau mendengarnya?"
Gaara mengangguk.
"Jadi selama ini—"
"Ya. Aku sangat gembira ketika tahu kau masuk kedokteran. Aku menduga kau akan mengambil spesialisasi Hematologi-Onkologi dan ternyata benar. Aku hanya—tak bisa mengungkapkannya—" ucap Gaara lirih.
Tangan Sakura yang satu menahan Ayame agar tetap di pelukan dan tangan yang satu lagi memeluk erat Gaara. Airmatanya meluncur lagi—
"Sakura, aku tahu dalam hatimu hanya ada Sasuke," bisik Gaara, "Aku hanya minta sedikit tempat saja—"
Rasanya sesak hati Sakura—
"Sasuke terus ada di hatiku, Gaara, ia ada di satu sudut. Dan ketiga sudut lainnya sudah penuh terisi olehmu—"
Sakura tak bisa meneruskannya lebih lanjut, saat bibir Gaara menangkapnya, melumatnya dan membawanya ke dalam hati.
-o0o-
"Kata Kaasan, aku dinamai sama denganmu. Tetapi kau laki-laki, dan aku perempuan. Maka Tousan memilihkan nama perempuan yang sama artinya untukku. Namaku Ayame, salam kenal, paman Sasuke!"
Anak perempuan kecil berkuncir dua itu meletakkan buket bunga di nisan, dan membungkuk dalam-dalam. Kemudian mundur, sejajar dengan Tousan dan Kaasan.
Udara cerah, bunga-bunga bermekaran, wanginya menyebar ke seluruh penjuru kota.
FIN
AN: Sepertinya alur terlalu cepat XP dan juga ada kemungkinan besar salah penempatan nama dan panggilan. Mohon koreksinya *membungkuk*
Otanjoubi Omedetou, Sabaku Gaara!
