If I saw you in Heaven
Jika aku melihatmu di surga...
Meskipun itu hanya mimpi...
Akankah kau akan membawaku ke tempat itu?
Aku ingin bersamamu...
Kemanapun kau berada, aku ingin bersamamu...
Aku meridukanmu...
Ibu...
Title : Tears in Heaven (Remake Version I'm Your Son)
Rated : T
Genre : Angst/Family
Main Character : Naruto, Minato, Sasuke
Disclaimed :
Tears in Heaven © Me
Naruto © Masashi Kishimoto
Tears in Heaven (Song) © Eric Clapton
Warning : Gaje, OOC, AU.
Chapter 2, If I saw You in Heaven
.
"...ruto...Naruto...Naruto-kun..." suara itu menyadarkannya dari tidur panjangnya. Ia mengejapkan matanya sejenak sebelum mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Ia menatap kearah seseorang yang memanggil namanya itu.
"Hinata-chan," Naruto hanya bisa tersenyum melihat sahabat kecilnya itu. Lalu, ia menyadari jika saat ini ia tidak berada dikamarnya melainkan di rumah sakit, "kenapa aku ada disini...?"
"Kau pingsan," Hinata terlihat cemas melihat keadaan Naruto, "aku benar-benar terkejut, nafasmu sempat terhenti sejenak. Untung saja kau tidak apa-apa..."
"Gomenne Hinata-chan..." Naruto hanya bisa tersenyum tipis dan mencoba menenangkan sahabatnya itu yang sekarang mulai menitikkan air mata, "oh iya," Naruto mencoba untuk bangkit dari tempatnya duduk, "jam berapa sekarang?"
"Jam 6 malam..." Hinata melihat jam tangannya.
"Gaaah, bagaimana ini yang lainnya pasti sudah pulang!" Naruto langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan cepat.
"N-Naruto, badanmu masih lemah!" Hinata mencoba untuk menghentikan Naruto. Tetapi tidak perlu repot, karena ia sedang sakit Naruto tidak bisa terlalu banyak bergerak dan ia langsung terjatuh kembali keatas tempat tidur.
"...pusing..."
"S-sudah aku bilang kan," Hinata hanya menghela nafas panjang melihat sahabatnya itu, "sebaiknya istirahat saja, aku akan mengambilkan teh hangat untukmu." Hinata berjalan meninggalkan Naruto yang hanya menghela nafas panjang saja.
'Kau belum mau mengirimku ketempatmu, ibu...?'
...TiH...
"Naruto, sudah aku katakan berulang kali untuk tidak memaksakan dirimu!" seorang perempuan dewasa dengan menggunakan jas putih dokter menghampiri Naruto dan langsung membentaknya.
"K-kenapa ada Tsunade Baa-chan disini!" Naruto yang masih ada diatas tempat tidurnya terkejut dengan kedatangan dokter perempuan itu, "bukankah kau bersama Jiraiya Jii-san?"
"Jiraiya yang menyuruhku untuk menemanimu, lagipula dengan kondisi tubuhmu yang seperti itu bagaimana mungkin kau bisa jauh dariku..." Tsunade hanya bisa berdecak kesal dan menatap kearah Naruto, "jangan memaksakan dirimu bodoh, penyakitmu itu semakin lama semakin parah... Lagipula kenapa tiba-tiba kau ingin pergi ke Konoha?"
"Baa-chan seperti tidak tahu apa alasanku saja..." Naruto mencoba untuk tersenyum dan melihat kearah Tsunade yang merupakan teman baik kakeknya, "aku hanya ingin mencari tahu keberadaan ayah... Hanya untuk terakhir kali saja..."
...
"Apakah Hinata-chan tahu tentang penyakitmu?" Naruto hanya menggeleng pelan dan melihat kearah Tsunade,"hanya baa-chan dan aku yang tahu tentang penyakit ini. Dan aku tidak ingin sampai semua orang tahu..."
"Aku mengerti perasaanmu," Tsunade hanya bisa menghela nafas dan melingkarkan tangannya di leher Naruto, "tetapi, jangan terlalu memaksakan dirimu... Walaupun ayahmu tidak menyayangimu, aku akan tetap menganggapmu sebagai anakku sendiri..."
"Ehehe..." Naruto hanya bisa terkekeh pelan mendengar kata-kata Tsunade dan membuatnya melepaskan pelukannya.
"Apa yang lucu?"
"Tidak, seperti bukan baa-chan saja mengatakan hal itu..." Naruto hanya terkekeh pelan melihat Tsunade yang sudah siap untuk menjitak kepalanya lagi, "tetapi, terima kasih... Baa-chan..."
...Konoha University...
Ki ni naru noni kikenai
Oyogitsukarete kimi made mukuchi ni naru
(Even though I worry about it, I can't ask
I'm tired of swimming, and even you have become shy)
Aetai noni ienai nami ni osarete
Mata sukoshi tooku naru
(I want to see you, but I never can, waves push us apart
Again, just a little more distance)
Suara piano itu memecahkan keheningan di ruang musik universitas Konoha. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, dan belum banyak orang yang datang kesana.
"..." Seseorang berambut hitam panjang dan bermata onyx masuk kedalam ruangan musik itu, mencoba untuk melihat kedalam. Uchiha Itachi, entah kenapa ia berada di kampus itu hari ini. Menatap rambut kuning yang ada disana, ia terpaku mendengar permainan yang dimainkannya. Dari melodi yang dimainkan hingga suaranya yang sagat merdu.
Tokirenai you ni keep it going baby
Onaji kimochi janai nara tell me
Muri wa shinai shuugi demo
Sukoshi nara shite mite mo ii yo
(We can't dismiss this if we want to keep it going baby
If you don't feel the same then tell me
Even if you see only the slightest chance,
Then it's okay to try for the big celebration)
I wanna be with you now
Futari de distance shijimete
Ima nara maniau kara
We can start over
Hitotsu ni wa narenai
Itsu no hi ka distance mo
Dakishimerareru you ni nareru yo
Yappari I wanna be with you
(I want to be with you now
Believe in us together through the distance
Now is the time
We can start over
Because I don't want to be alone
One day, even the distance
Will embrace me, but I'll get used to it
Because after all, I wanna be with you)
Mendengar seseorang ikut bernyanyi dibelakangnya, sang pemuda pemilik mata biru saphire itu menghentikan permainannya dan melihat sang penyanyi.
"Kenapa kau menghentikannya?" Itachi melihat kearah sang pemuda yang tidak lain adalah Naruto itu. Tersenyum sambil berjalan menuju kearah pemuda itu.
'Orang ini terlihat familiar...'
"Final Distance, kau bisa menyanyikan lagu yang seharusnya memakai suara perempuan... Itu, lagu yang diciptakan oleh-" menyadari sesuatu, Itachi menatap wajah Naruto dalam-dalam membuat wajah Naruto menjadi merah karena gugup. "Tunggu, kau Uzumaki Naruto bukan?"
"E-ehm... Begitulah..." Naruto hanya menggaruk dagunya yang tidak gatal, ia sedikit malu mengetahui kalau ternyata lagu yang ia ciptakan banyak dikenal beberapa orang.
"Jadi, kau yang dikatakan Sasuke?" Itachi melihat kearah Naruto dan ingat apa yang dikatakan oleh Sasuke tentang pengajarnya.
"Ah benar juga, kau mirip dengan teme!" Naruto menepuk tangannya mengingat wajah Itachi yang mirip dengan Sasuke.
"Sasuke pasti merepotkanmu... Dia memang adik yang menyebalkan, tetapi sebenarnya dia baik... Jadi, tolong jangan diambil hati perkataannya..." Itachi yang sudah bak orang tua Sasuke itu menundukkan kepalanya didepan Naruto.
"T-tidak usah sampai seperti itu uhm..."
"Itachi, Uchiha Itachi..."
"T-tidak usah sampai menunduk seperti itu Itachi-san, aku jauh lebih muda darimu..." Naruto merasa tidak enak melihat Itachi yang terlalu sopan dengannya.
"Kau berfikir usiaku berapa?"
"Mungkin 30 tahunan?"
"Usiaku 25 tahun..."
...
Mereka berdua terdiam, tidak ada yang berbicara satupun.
"E-eeeeh! Go-Gomennasai Itachi-san! A-aku tak bermaksud-" Naruto yang merasa bersalah karena mengatai Itachi yang terlihat *ahem* lebih tua daripada usia aslinya itu menundukkan kepala berkali-kali.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa..." Itachi hanya tertawa kecil melihat kelakuan Naruto yang menurutnya menjadikan wajahnya yang manis itu menjadi tambah manis...?
Tunggu, ia tidak pernah mengatakan manis kepada orang lain.
Keluarkan nama 'Uchiha Sasuke' adiknya dan 'Namikaze Minato' ayahnya dari list orang lain itu. Tetapi, entah kenapa baru kali itu Itachi menilai seseorang berwajah manis.
"La-lalu, ada apa Itachi-san pergi ke kampus ini?" Tanya Naruto sambil tetap merasa tidak enak dengan Itachi.
"Dua alasan, pertama aku adalah dekan di fakultas ini dan kedua aku ingin mengurus surat izin untuk Sasuke..." Itachi hanya menutup sebelah matanya sambil menghela nafas panjang.
"Eh surat izin untuk Sasuke? Memang dia kenapa?"
"Hn? Sepertinya setelah pergi dengan kalian Sasuke kehujanan dan demam tinggi..." Itachi hanya melihat kearah mata biru saphire milik Naruto itu. Saat itu pula, mata biru sapphire itu menunjukkan kekagetan dan juga kecemasan.
"E-eh, Teme sakit?" Itachi hanya mengangguk walaupun masih tidak mengerti nama panggilan yang diberikan Naruto pada Sasuke. "A-aku boleh menjenguknya?"
"Tentu saja tetapi bagaimana dengan-" Itachi memutuskan perkataannya ketika Naruto sudah menarik tangannya menuju ke luar kampus.
...Namikaze's Manshion (Sasuke's Room)...
"Bagaimana kau bisa demam seperti ini Sasuke-kun..." Laki-laki berambut kuning dan bermata biru itu hanya menghela nafas panjang melihat anak angkatnya itu tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur.
"Hn..." Hanya itu jawaban yang diterima Minato dari mulut anaknya itu.
"Kau tahu kalau tubuhmu sejak kecil lemah..." Minato melihat kearah jam tangannya, menunjukkan pukul 7 pagi. Ia harus menghadiri pertemuan pukul 8 pagi, tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan anaknya itu.
"Pergilah Otou-san... Aku tidak apa-apa..."
"Tetapi-"
"Aku bukan anak kecil lagi..." Sasuke hanya bisa sedikit menggumam kesal melihat sifat over protective ayahnya itu. Minato hanya tersenyum dan menatap kearah anaknya itu.
"Baiklah, Itachi akan datang sebentar lagi... Kalau ada apa-apa, hubungi ayah kapanpun..." Sasuke hanya menutup matanya dan mengangguk pelan. Tidak mendengarkan apapun kecuali pintu yang ditutup oleh ayahnya itu.
...Namikaze's Manshion Gate...
Saat ini, satu yang difikirkan oleh Naruto. Pantas saja seorang Uchiha Sasuke disegani oleh orang di kampus. Rumah yang megah dan juga mewah, beserta dengan wajah yang mendukung. Bagaimana tidak Sasuke menjadi incaran para mahasiswi disana.
"Ayo masuk Naruto..." Itachi membuka pintu rumahnya dan mempersilahkannya masuk. Naruto dengan segera masuk dan melihat sekelilingnya. "Aku akan memanggilkan Sasuke, kau tunggu saja di ruang tamu..."
"E-eh tidak apa-apa?"
"Dia hanya demam, kau jenguk saja sudah bagus..." Itachi hanya mengibaskan tangannya tanda Naruto tidak perlu masuk kedalam kamarnya.
"Baiklah..." Naruto hanya duduk dan melihat kesekelilingnya. Tidak banyak lukisan Itachi dan juga Sasuke. Walaupun rumah itu sangat luas, barang-barang tampak tidak banyak terlihat. Naruto berjalan dan melihat kesemua arah.
...Corridor...
Itachi berjalan menuju kekamar Sasuke perlahan. Beberapa pelayan yang
Melihatnya langsung menundukkan kepalanya memberi hormat padanya. Ketika itu ia melihat kearah depan dan menemukan ayahnya disana.
"Otou-san, bagaimana keadaan Sasuke-kun?"
"Ah Itachi, yah panasnya sudah turun..." Minato hanya tersenyum dan melihat Itachi. "Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku..."
"Baiklah Otou-san..." Itachi menundukkan kepalanya sedikit. "Ah, ada teman Sasuke dibawah jika ayah ingin menemuinya..."
"Siapa?"
"Itu, yang Sasuke katakan menjadi dosennya..." Jawab Itachi sambil menunjuk kearah ruang tamu.
"Mungkin ayah bisa menemuinya sebentar..." Jawab Minato sambil berjalan dan menjauhi Itachi. "Ah Itachi, kalau ada apa_apa dengan
Sasuke kau bisa menghubungi ayah kapanpun..."
"Tenang saja ayah, aku pasti akan menghubungimu..." Itachi hanya menatap ayahnya yang tersenyum dan berjalan menjauhi Itachi. Itachi segera masuk kedalam kamar Sasuke.
"Oi otoutou, bagaimana keadaanmu?" Itachi melihat adiknya yang hanya menutupi wajahnya dengan selimut.
"Aku tidak apa, sudahlah jangan menggangguku aku ingin istirahat..."
"Ada temanmu datang," Itachi duduk disebelah Sasuke dan menghela nafas panjang, "kau tidak mau menemuinya?"
"Tidak..."
"Hei, temuilah dia. Tidak baik kalau dosenmu menunggu lama..." Itachi menarik selimut yang menutupi Sasuke.
"Argh, jangan menggangguku! Kau bilang tadi temanku, sekarang dosenku!"
"Loh, dia memang dosenmu juga kan?" menyadari siapa yang dimaksud oleh Itachi, Sasuke langsung bangkit dan menatap kakaknya.
"Maksudmu Naruto?" Itachi hanya mengangguk, dan sedetik kemudian ia melihat adiknya yang sudah berlari kebawah.
...TiH...
Naruto berjalan sendirian dirumah itu sambil melihat sekelilingnya. Ia mencoba untuk menunggu Sasuke yang seharusnya ia temui dikamarnya. Mencoba untuk melihat-lihat semua piagam dan penghargaan yang diraih baik oleh Itachi maupun Sasuke.
"Benar-benar hebat," Naruto berdecak hebat dan terhenti kesebuah piala emas yang berbentuk partitur musik, "whoaaa, siapa yang memenangkan piala ini?"
Sementara itu, Minato yang turun untuk melihat Naruto mencoba untuk mencarinya. Ia melihat seseorang yang berada diruang tamu sedang membelakanginya yang berada didepan pintu.
"Mungkin dia," Minato hanya tersenyum dan akan membuka pintunya untuk menemui Naruto.
Trrrr... Trrrrr...
"Siapa disaat seperti ini," Minato melihat handphonenya yang berdering dan mengangkatnya sebelum sempat menghampiri Naruto.
"Ah, Sarutobi-sensei ada apa?" Minato berjalan menjauhi tempat itu untuk menjawab telpon yang ada ditangannya, mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Naruto.
Naruto sendiri sedang asik melihat beberapa partitur lagu yang dibingkai disana, tanpa tahu jika yang membuatnya adalah ayah kandungnya sendiri.
"Sepertinya ayah Teme juga musisi," Naruto menoleh kearah kumpulan foto-foto yang ada diatas meja, "aku jadi ingin lihat bagaimana ayah Sasuke, pastinya tidak seperti ayahku..."
Naruto mencoba untuk mengambil sebuah foto disana, foto Sasuke dan Itachi kecil bersama dengan seseorang yang tidak lain adalah ayah angkat Sasuke dan Itachi, serta ayah kandung Naruto.
"Oi dobe!" Suara Sasuke sukses membuatnya lagi-lagi tidak sempat melihat foto Sasuke bersama dengan ayahnya karena ia keburu dikejutkan dengan penampilan Sasuke yang berantakan dan wajahnya yang memerah karena demam.
"Teme, kau sudah baikan?"
"Tentu saja," Sasuke tampak sedikit limbung ketika berjalan dan memutuskan untuk duduk di sofa terdekat disana, "lalu, kenapa kau ada disini?"
"Karena kudengar kau sedang sakit, aku langsung menuju kemari dengan kakakmu," Naruto menatap Sasuke dengan bingung dan berjalan kesamping Sasuke, "kenapa kau bisa kehujanan?"
"Itu karena aku menunggu orang bodoh yang harusnya datang 2 hari yang lalu..." Sasuke hanya bisa menengadahkan kepalanya keatas dan berusaha untuk tidak merasakan pusingnya yang disebabkan karena demam itu.
"Ada beberapa alasan kenapa aku tidak datang," Naruto hanya menjulurkan lidahnya dan menggaruk kepala belakangnya, "lagipula kenapa kau tidak tinggalkan saja aku kalau terlambat?"
"Itu karena-!" Sasuke tidak bisa melanjutkan perkataannya karena memang ia tidak tahu harus mengatakan apa, "itu karena..."
"Karena apa?" Naruto mendekatkan wajahnya kearah Sasuke dan menatapnya dengan tatapan bingung. Sementara Sasuke, tidak sadar kalau saat ini wajahnya memerah bukan karena demam tetapi karena melihat wajah Naruto yang sangat dekat.
"Karena kau bodoh," Sasuke langsung mengatakan hal seperti itu sebelum ia berdiri dan berjalan kekamarnya.
"He?" Naruto yang tidak terima dengan jawaban Sasuke hanya bisa menaikkan alisnya sebelah dan berjalan mengikuti Sasuke, "hei, itu bukan jawaban pertanyaanku Teme!"
"Yang pasti, itu karena kau bodoh! Itu jawabanku."
"Tetapi-"
"Tidak ada sesi tanya jawab Dobe..."
"Kalau sesi tanya jawab sebagai dosen dan mahasiswa?"
"Tidak juga..."
"Dasar Teme!"
"Hn... Dobe..."
"Ayolah," Naruto masih bersikeras untuk mendapatkan jawaban dari Sasuke, "kenapa kau malah menungguku disana?"
"Jangan memaksaku Dobe..."
"Aku akan terus memaksamu sampai kau menjawabnya," Naruto menarik kerah belakang Sasuke untuk menghentikan langkahnya, tetapi karena sang Uchiha muda itu sedang sakit, dengan mudahnya tubuh itu oleng kebelakang dan menimpa Naruto.
"E-eh, Teme bangun dari atasku!" Naruto hanya bisa meronta ditimpa oleh tubuh Sasuke yang lebih besar itu. Ia bisa merasakan degupan jantungnya sendiri ketika ia merasakan nafas Sasuke langsung ditelinganya. Ia benar-benar kesal sekarang, kenapa ia tidak tinggi semampai seperti ayahnya ketika ia melihat didalam foto, atau seperti orang yang ada didepannya itu, "Itachi-san, tolong aku!"
"...ia pergi keluar..." Sasuke seakan-akan tidak memiliki tenaga untuk bangkit. Karena memang kenyataannya, tubuhnya bahkan terlalu lemah untuk berdiri dari posisinya.
"Teme, ayolah kalau kau masih sadar menjauh dariku!" Naruto bisa merasakan wajahnya yang memerah karena malu. Tetapi, ia juga merasakan tubuh Sasuke yang sangat panas.
...
"Dimana kamarmu!" Naruto dengan segenap tenaganya langsung bangkit dan memegang bahu Sasuke untuk menahannya agar tidak jatuh keatasnya lagi.
"Lantai... Tiga..." Naruto hanya bisa sweatdrop mendengarnya, bukan hanya karena ia harus menaiki tangga kelantai 3 dengan membawa atau disebut menyeret laki-laki ini, tetapi ia terkejut karena rumah ini bahkan memiliki 3 lantai, yang ia lihat bahwa 1 lantainya saja sudah sangat amat luas.
"Kalau seperti itu seharusnya kau tidak usah turun tadi," Naruto hanya bisa menghela nafas dan mencoba untuk mengalihkan wajahnya yang memerah sambil menggendong Sasuke dipunggung, "kau berat sekali teme..."
"Hn..."
...TiH...
"Gah! Sampai juga!" Naruto langsung membanting tubuh Sasuke keatas tempat tidur dan duduk disebelah tempat tidur Sasuke. Ia bisa melihat kamar Sasuke yang dicat putih dengan dekorasi minimalis. Berbeda dengan diluar yang memakai dekorasi klasik yang mewah.
"Aku tidak menyangka ruangan minimalis seperti ini bisa didapatkan dirumah klasik mewah..." Naruto hanya sweatdrop melihat pemandangan itu.
"..." Naruto melihat Sasuke yang sepertinya sudah tertidur lagi, "kau ini bagaimana, enak saja tidur begitu saja sementara aku menggendongmu dengan susah payah!"
...
Hanya kesunyian yang didapatkan, tentu saja karena lawan bicaranya sedang tidur dan ia sendirian disana bersama dengan Sasuke.
"Hh..." Naruto menghela nafas panjang dan melihat kelangit-langit kamar itu, "sebaiknya aku menunggu Itachi-san pulang saja..." Naruto mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah foto ayahnya dengan ibunya dan ia yang baru berusia 2 tahun. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia bertemu langsung dengan ayahnya.
"Apakah aku harus menemuimu...?"
...TiH...
Sepuluh tahun yang lalu, seorang Uzumaki Naruto sedang berada disebuah sekolah di Paris. Ia tampak berbeda karena wajahnya yang merupakan wajah orang Jepang, berbeda dengan yang lainnya. Tetapi, itu bukan masalah karena teman-temannya menerima ia apa adanya.
Ketika itu, Naruto yang berusia 8 tahun tampak sendirian dengan setelah jas berwarna hitam. Ia menatap teman-temannya yang berfoto dengan orang tuanya, sedang ia tidak bisa melakukan itu.
"Naruto, kau ingin berfoto?" Seorang laki-laki berambut putih itu tampak tersenyum dan menunduk untuk melihat Naruto kecil.
"Aku ingin bertemu ibu dan ayah, dimana mereka Jiraiya Jii-san...?"
...
Hanya keheningan yang didapatkan oleh Naruto. Jiraiya, kakek dari Naruto yang merawatnya semenjak usianya 6 tahun ketika ibunya meninggal hanya bisa tersenyum dan menghela nafas.
"Kakek sudah katakan, ibumu melihatmu ditempat bernama surga," ia mengelus kepala Naruto dan tersenyum.
"Lalu, kenapa ayah tidak menemuiku? Aku hanya melihatnya dari TV..."
...
"Aku benci ayah," Naruto hanya bisa menundukkan kepalanya dan menatap kearah bawah, "padahal hari ini semua orang tua teman-temanku datang kecuali aku..."
"Naruto," Jiraiya menepuk pundak Naruto, "kau ingat pesan dari ibumu bukan? Jangan membenci ayahmu, apapun yang terjadi. Ia tidak pernah menelantarkanmu, dan tidak akan pernah..."
"...ya..."
"Bagus, itu baru anak baik!" Jiraiya mengacak rambut Naruto yang langsung cemberut karena kakeknya itu.
"Oi, Naruto!"
"Sudahlah itu temanmu memanggil!" Jiraiya menepuk cukup keras punggung Naruto membuatnya meringis kesakitan.
...TiH...
"Sasuke-kun?" Itachi yang sudah kembali dari urusan kampus mencoba untuk melihat kearah kamar Sasuke dan menemukan sang adik yang sudah tertidur. Dan ia juga melihat Naruto yang sepertinya tertidur disebelah tempat tidur Sasuke.
"Naruto-kun?" Itachi mencoba untuk membangunkan Naruto karena takut ia akan masuk angin jika disana, mengingat jendela juga dalam keadaan terbuka.
"...ou-san..." Itachi menghentikan gerakannya ketika mendengar igauan Naruto, "otou-san..."
...
Itachi melihat sebuah foto yang dipegang oleh Naruto dan secara perlahan menariknya dari tangan Naruto. Sebuah foto yang menampakkan sosok yang ia kenal, yang ia hormati. Ayahnya, bersama dengan perempuan yang ia kenal sebagai mantan istri ayahnya, dan seorang anak kecil.
Yang mirip sekali dengan Naruto...
Ia tercengang melihat semua itu, dan ingat dengan perkataan ayahnya ketika menceritakan keluarganya yang menghilang ketika ia berusia 14 tahun, tepat 1 tahun setelah ia dan Sasuke diadopsi Minato.
"Kau tahu Itachi, sebelum kalian hadir dikehidupanku, aku mengenal sebuah keluarga kecil yang aku bentuk. Hanya aku, istriku Kushina, dan anakku..."
"Lalu dimana mereka sekarang Otou-san?"
"Mereka- sudah meninggal..."
Ya, yang ia tahu seharusnya istri dan anak ayah angkatnya sudah meninggal. Semenjak mendengar cerita ayahnya, bahkan Itachi enggan memanggil Minato dengan sebutan Otou-san karena menyadari jika ia tidak akan bisa menggantikan posisi anak kandung ayahnya itu. Tetapi, kemiripan wajah Naruto dengan ayahnya, lalu foto itu.
Entah kenapa, ia benar-benar menebak jika Naruto adalah anak dari ayah angkatnya. Tetapi, kenapa ayahnya mengatakan kalau anaknya dan istrinya sudah meninggal?
...TiH...
"...nato...Minato...Minato!" seorang laki-laki berambut putih, dan berjanggut putih itu mengibaskan tangannya didepan sang musisi yang sedang melamun itu.
"E-eh, Sarutobi-sensei!"
"Apa yang kau fikirkan?" Sarutobi hanya menghela nafas panjang melihat muridnya yang tidak berkonsentrasi itu, "bagaimana dengan partitur lagu yang sedang kau buat itu?"
"Oh, masih belum selesai," Minato menatap kearah kertas yang ada dihadapannya, masih terisi 1/4 bagian saja, "sensei tahu sendiri kalau aku tidak bisa membuat lagu dengan cepat..."
"Ya, aku akan menunggunya tenang saja." Sarutobi berjalan menjauhi Minato, dan meninggalkannya sendirian dengan sebuah lirik lagu yang sedang Minato buat.
Mungkin pikiranku ini selalu tersiksa karena mencoba mengingatmu...
Aku bisa merasakan cintaku padamu,
Tetapi aku tidak bisa mengingatmu...
Walaupun begitu, aku harus selalu mencoba untuk kuat, dan bertahan...
Karena rasa cinta itu,
Tidak ingin aku lupakan juga...
Walau bagaimanapun...
~~~OoO~~~
G-Gomenne! Telat banget gw apdet! *emangnya ada ya yang nungguin?*
Gw lagi kerajingan sama fandom sebelah n sebelahnya lagi (?) Dan gw beneran terharu liat review yang pada bilang suka ma ni ffic ;w; makasih buat reviewan dari smuanya (_ _) dan lirik-lirik dari 'Tears in Heaven' mulai lirik Minato yang terakhir ga bakal disebutin langsung :)
Silahkan tebak sendiri itu lirik yang mana dari lagu Tears in Heaven x3
So~
R
N
R
Please~~
Kyuubi uzumaki Naruto
Makasih~
mikami
Maaf lama ;A;
Orange Naru
Maaf lama apdet ;^;
Meiko Namikaze
Ada alasan kenapa Minato Lupa sama anaknya~
Dan penyakit Naruto masih rahasia ya x)
Luce stellare of Hyuzura
Makasih xD maaf ya lama,
I-iya ini udah :3
hachii
Naru sakit... Masih rahasia xP kalau mau spoiler, penyakitnya sama kaya yang di 'I'm your son' kok ' 'a *namanya juga remake*
